
Senantiasa Kejadian Isra' Wal Mi'raj semakin membuat iman kita naik terus dan taqwa kita semakin terurus :)
" Bukan hukuman mati yang aku takutkan.
Bukan gelar pengkhianat yang sedang ku sandang yang membuat dadaku sesak.
Melainkan ayahku tak bersudi hati mendengarkanku. Dan bahkan ia sama sekali tak mempercayaiku.
Tak ada yang lebih menyakitkan dari pada benci oleh ayah sendiri."
......" Pelangi Hanani 🌹"......
Situasi semakin mencengkram saat Andrea dengan lantang mengatakan bahwa Nazhanul adalah ayah yang brengsek.
Namun, kata-kata itu cukup menampar Nazhanul.
Bagaimana tidak ?
Meski hatinya menentang bahwa Arga adalah pengkhianat, berbeda dengan lidahnya yang tak keluh untuk mengucapkan hal itu.
Nazhanul mendekati Andrea.
" Berikan bukti bahwa dia adalah pengkhianatnya bukan Arga." Tegasnya pada Andrea.
Mendengarkan hal itu, pejabat itu tersenyum penuh kemenangan.
Sebab, ia tau bahwa tak ada bukti yang dapat mengatakan dirinya dalang di balik semua konspirasi ini.
Sejenak Andrea diam, tak tau harus menunjukkan bukti apa.
Karena pada dasarnya, mereka memang tidak punya bukti fisik yang menyatakan Pejabat ini pengkhianat.
" Kenapa kau diam ?
Cepat perlihatkan padaku !! Bentak Nazhanul padanya.
Andrea melirik ke Arga, sorot matanya menanyakan apa yang harus ia jawab.
Arga hanya terdiam bisu, ia menatap senduh punggung ayahnya.
Yang lebih mempercayai pria brengsek itu dari pada dirinya.
" Aa-aakkuu memang tidakk.."
" Kau tidak memiliki buktikan ? Potong Pejabat yang mendekati keduanya.
Serentak membuat semuanya menoleh ke arahnya.
" Jangan bicara sembarangan kalau kau tidak punya bukti anak muda." Ucapnya dengan tatapan liciknya.
Mendengarkan perkataan Pejabat itu, membuat Andrea semakin panas, semakin muak dengannya.
Andrea mengeratkan rahangnya, mengepal erat jari-jemarinya.
Bukhhh... Andrea melayangkan pukulannya pada Pejabat itu.
" BRENGSEK.." Makinya..
Bukhhh..
Bukhhh..Andrea melayangkan pukulannya kembali.
" Hey hentikan !! Teriak Nazhanul padanya, seraya menarik Andrea menjauh dari Pejabat itu.
" Jangan halau aku menghabisi si brengsek ini !! Teriak Andrea yang mencoba melepaskan diri dari Nazhanul.
" Sudah ku katakan padamu !! Kalau kau punya bukti cepat tunjukkan !! Ujar Nazhanul padanya.
Sejenak ujaran itu membuat Andrea terdiam.
Yang ia lakukan hanya menatap Nazhanul dengan tatapan tajamnya.
" Aku hanya akan berpihak pada fakta dan bukti yang nyata." Tekan Nazhanul padanya.
Membuat semua terpengarah.
Terutama Arga, perlahan langkahnya mulai mendekati ayahnya.
Begitu juga Robert dan Abriz.
Meski tidak memiliki bukti, mereka tetap berusaha untuk menyakinkan Nazhanul, bahwa Arga bukanlah pengkhianat.
" Yah !! Panggil Arga.
" Jika kau merasa dirimu tidak bersalah.
Maka buktikan itu padaku !! Tekan Nazhanul pada Arga tanpa sedikitpun menoleh.
Arga berhenti dilangkahnya.
Ia hanya mengembangkan senyumnya, mendengar permintaan bukti sang ayah.
" Nazh !! Panggil pria yang pernah menjadi sahabat Nazhanul.
Nazhanul menoleh kearahnya, dan menatapnya dengan pandangan masam.
" Sebelumnya, aku meminta maaf atas segala kedzaliman yang ku perbuat.
Tapi percayalah Nazh, aku melakukannya karena aku telah salah paham pada mu, dan juga terbujuk oleh pria yang datang bersama mu ini Nazh !!
Nazhanul masih berdiam, ingin mendengar penjelasan lanjutan dari Robert.
" Delapan belas tahun yang lalu, aku mengirimkan pesan pada mu, mengenai Andhara, namun sayang kau tidak membawa ponselmu kan ? Tapi pastinya kau telah membacanya selesai dari Medan pertempuran.
Kau tau apa yang aku kirim setelah mengirim pesan itu ? Aku menghubungi pria ini!" Jari telunjuk Robert mengarah pada pejabat itu.
"Aku menyampaikan padanya, bahwa aku izin ke hospital sebab Andhara melahirkan.
Tapi sayang, dia tidak mengatakan hal sedetail itukan? Kau tau kenapa ? Karena dia ingin kita berpecah Nazh !! Seperti yang saat ini terjadi Nazh." Air mata Robert ikut mengalir saat mengungkapkan isi hatinya.
Pejabat itu mulai panik.
Takut Nazhanul percaya pada Robert.
Bagaimana juga Robert masih menjadi orang yang berarti untuk Nazhanul.
" Punya bukti apa kau ha? Protesnya pejabat negeri. "Bang Nazh bukankah aku sudah menyampaikannya padamu! Dan apa yang di sampaikan itulah yang sebenarnya bukan yang dia katakan bang Nazh!" Ia mencoba menyakinkan Nazhanul.
Nazhanul masih menatap Robert yang berada dihadapannya.
" Tuan Nazh yang terhormat." Kali ini Abriz ikut angkat bicara.
Nazh menoleh nya." Bukankah kau pembunuh bayaran Hammer kan ? Nazhanul mengingat pria yang pernah hendak membunuhnya dua setengah tahun yang lalu.
Abriz melangkah lebih mendekat padanya.
" Kau masih ingat aku Tuan ? Ujarnya.
Nazhanul tersenyum masam padanya.
Nazhanul menaikkan sebelah bibirnya, terlihat keangkuhan disana.
" Bagaimana mungkin aku melupakan manusia rendah seperti mu." Ketusnya.
Detik selanjutnya, dengan tangan terkepal Nazhanul berniat melayangkan pukulan pada Abriz.
" Jangan buang tenagamu untuk memukulku Tuan Nazh !! Ujaran Abriz membuat Nazhanul mengundurkan niatnya.
Abriz tersenyum devil pada pejabat itu.
Dan menariknya dengan kuat untuk berhadapan dengan Nazhanul.
" Orang yang menyuruhku untuk memitnah almarhum Hammer adalah manusia yang kau BANGGA-BANGGAKAN ini !! Abriz mencengkram erat tangan Pejabat.
Nazhanul terbelalak mendengar perkataan semuanya yang menyudutkan Pejabatnya,
mulai dari Andrea, Robert dan sekarang Abriz.
Nazhanul tak tau harus berpihak pada siapa, namun bukti yang ada padanya telah menyatakan Argalah dalang dibalik semuanya.
Hahaha.... Tawa itu keluar dari pengkhianat cumlaude ini.
__ADS_1
Ia melepaskan cengkraman Abriz.
" Hebat sekali kalian..
Melemparkan semua tuduhan padaku..
Hahaha.."
Kemudian ia mendekati Arga.
" Wah nak, usiamu memang masih belia.
Tapi ternyata otakmu sangat jenius sampai bisa mengelabui semua orang." Ya, jangan pernah lupakan bahwa dia adalah pejabat Cumlaude, yang pastinya sangat pandai bersandiwara.
Arga menatap tajam pria brengsek di hadapannya.
Yang pandai sekali memutar balikkan fakta.
Dan pandai memanfaatkan keadaan.
Andrea sosok pria yang mudah marah, langsung menghampiri pejabat itu.
" Breng...." Namun, Robert menarik tangan putranya.
" Ayah biarkan aa..
" Biarkan Arga yang menghadapinya, ayah tau Arga adalah anak yang bijaksana." Ya, Robert percaya bahwa Arga, bukanlah anak yang tak bisa menyelesaikan sebuah masalah dengan bijaksana.
Arga mengembangkan senyumnya sebagai respon untuk perkataan Pejabat ini.
Nazhanul masih menatap keduanya dengan seksama.
" Apa aku tidak salah dengar paman ?
Bukannya dirimu yang telah mengelabui mereka ? Cibir Arga dengan lantang padanya.
Seketika, pejabat itu gugup untuk bergerak.
Namun, ia percaya bahwa Nazhanul akan berpihak padanya dengan bukti yang dia miliki.
" Ah, sudahlah nak Arga..
Kau ini punya bukti apa ?
Jangan memitnah orang lain nak.
Ingat fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan."
Wah, hebat sekali pejabat satu ini.
Padahal dialah pemitnah sesungguhnya.
Arga kembali tersenyum kecut menanggapinya.
" Jangan maling teriak maling paman." sindir Arga.
" Arga." Panggil sang Raja.
Arga menoleh pada Nazhanul." Iya ayah."
" Buktikan kalau memang kau bukanlah pengkhianat Istana !! Tegas Nazhanul padanya.
Membuat Arga kembali terdiam, menatap senduh ayahnya. Yang lagi-lagi meminta bukti fisik untuk menyatakan dirinya tidak bersalah.
" Jawab ayah nak, tunjukkan pada ayah bahwa kau tidak bersalah." Batin Nazhanul yang berharap Arga akan membela dirinya dengan bukti fisik.
Cukup lama mereka dalam keadaan hening.
Sebelum akhirnya Nazhanul kembali membuka suara.
" Diammu telah membuktikan bahwa kau memang dalang dibalik ini semua." Sorot mata Nazhanul tampak begitu dipenuhi amarah sekaligus kekecewakan.
" Nazh." Panggil Robert yang tak percaya dengan perkataan Nazhanul.
Pejabat itu tersenyum penuh kemenangan, akhirnya Raja lebih mempercayai dirinya.
Buliran-buliran hangat menetes tulus dari kelopak matanya. Nazhanul berbalik arah dari Arga, hendak melangkah pergi.
" Apa hanya karena Arga tidak punya bukti.
Itu membuktikan Arga bersalah ?
Ayah percaya bahwa Arga berkhianat pada Ayah ? Nazhanul masih terdiam dengan air matanya.
" Apa hati ayah yakin Arga sanggup berbuat sekotor ini ? Ayah yakin putra yang ayah didik dengan mengedepankan akhlak bisa berbuat sehina ini ? Perkataan Arga semakin membuat air mata Nazhanul mengalir deras.
" Bisa saja bang Nazh, nak Arga melakukan hal itu sebab dia iri pada Izaz yang telah Tuan tetapkan sebagai putra mahkota." Pejabat berengsek ini memang sangat pandai dalam hal menghasut.
" Dasar syeitan !! Menghasut dan memitnah orang lain memanglah hobbymu." Cibir Andrea padanya.
" Perlu kau catat baik-baik dalam otakmu !!
Bahwa aku bukan iblis sepertimu yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekuasaan.
Bahkan dalam angan sekalipun aku tak pernah berniat menguasai kekuasaan itu." Tegas Arga padanya.
Seketika pejabat itu terdiam.
Selanjutnya Robert menghampiri Nazhanul.
" Nazh." Robert mendekatinya.
" Apa kau tidak ingat bagaimana putra terbaikmu ini ingin menghabisiku, saat aku menghajarmu di Istana ? Robert mengingat betapa cintanya Arga pada Nazhanul terlihat saat itu, terlihat kemarahan Arga saat ayah dan bundanya di pukul orang lain.
Memory itu terputar kembali pada ingatan Nazhanul.
" Jangan pernah berani kau sentuh ayahku.
Sehelai rambut ayahku saja kau sentuh, kau akan ku jadikan santapan harimau." Perkataan Arga ini kembali bercocok logi pada Nazhanul.
Ia terduduk lemah, tak tau harus bagaimana.
Hatinya percaya bahwa Arga bukanlah pengkhianat. Namun, bukti-bukti yang ada tak bisa memungkiri semuanya.
Arga ikut terduduk bersama Nazhanul.
" Arga percaya bahwa hati ayah tidak berpihak pada bukti palsu itukan ? Tanya Arga yang mencoba tersenyum dengan keadaan pahit ini.
Haaahhh.... Nazhanul menari kasar rambutnya.
Kemudian tangannya merogoh kantongnya, untuk meraih sebuah surah disana.
Ia mengeluarkannya, kemudian menyerahkannya pada Arga.
Belum membuka surat itu, Arga sudah bisa menebak itu pasti surat yang ia tanda tangani saat di Ghost Hill.
" Ayah percaya dengan ini ? Tanya Arga dengan lirih.
" Potomu dengan para pengkhianat. Dan dengan kau bersama mereka bertiga disini, semakin membuat bukti itu kuat." Ucap Nazhanul tak sedikitpun menoleh ke putranya.
" Aku menyesal telah beranggapan, bahwa kau putra terbaikku. Namun nyatanya aku bahkan tak berniat memiliki putra sebaj*ngan dirimu." Nazhanul beranjak berdiri dari lantai Caffe.
Deg.. Perkataan terakhir yang keluar dari mulut Nazhanul.
Mampu mencabik-cabik hati Arga.
Seperti kejatuhan bom atom pada dirinya.
Sesak...
Sakit...
Bahkan perih tengah menghampiri dadanya.
Ia tak pernah menyangka bahwa ayahnya akan mengatakan hal menyakitkan itu padanya.
Bahkan sekalipun dalam mimpi.
Air matanya tertumpah ruah dalam sekali kedipan. Menatap ayahnya yang mulai melangkah meninggalkan Caffe.
Arga memejamkan matanya.
__ADS_1
Ia berharap bahwa semua ini adalah mimpi, bukan kenyataan.
Namun sayang, saat ia perlahan membuka matanya. Ternyata semuanya memang benar-benar nyata terjadi.
Robert, Abriz dan Andrea mendekati Arga.
Mencoba memberikan kekuatan padanya.
" Ayah ku bilang aku anak b*jingan paman." Aduh Arga pada Robert.
Robert menggenggam tangan Arga yang bergetar." Hey nak, tidak nak.
Nazh hanya sedang salah paham, percayalah sebentar lagi semuanya akan membaik.
Dia akan kembali mendekapmu seraya mengusap punggungmu dan berkata kau putra terhebatnya." Robert mencoba menenangkan Arga.
Ia memahami bagaimana perasaan Arga saat ini. Pasti hancur berkeping-keping, bahkan seperti tertusuk ribuan belatih.
Bagaimana tidak ?
Seorang ayah dengan lantang mengatakan putranya adalah seorang baj*ngan.
Sungguh perkataan itu sangat menusuk hati.
" Kenapa kau jadi bodoh seperti ini ha ? Teriak Andrea pada Arga.
" Dimana kemampuan bela diri mu ? Kenapa kau tidak menghabisi si brengsek itu tadi ha ?
Protes Andrea yang melihat Arga berdiam diri tak memukul Pejabat itu.
" Andrea sudah nak, tahan emosimu." Sergah Robert padanya.
Andrea berdengus kesal, menuruti permintaan ayahnya.
Tiba-tiba saja, Nazhanul kembali menghampiri mereka.
Arga yang melihat ayahnya kembali menghampiri mereka, tersenyum manis.
"Ayah..
Arga yakin ayah pasti percaya bahwa Arga bukan pengkhianat." Arga dengan keyakinan yang tinggi.
Namun sayang.
" Mulai sekarang aku bukan ayahmu !! Ujarnya dengan tegas pada Arga.
Mulut Arga terkatup, mendengar perkataan tajam yang kembali merobek-robek hatinya.
Sekujur tubuhnya tercekat, sangat sulit untuk bergerak.
" Nazh cukup." Teriak Robert yang sudah mulai kesal dengan Nazhanul.
" Aku kembali hanya ingin mengatakan bahwa kalian berempat kembali ke Istana.
Bukan sebagai tamu, melainkan sebagai tahanan." Tegas Nazhanul tanpa adanya senyuman.
Nazhanul melangkah, namun detik selanjutnya.
Ia berbalik kembali." Jangan pernah lupakan hukuman apa yang akan di dapatkan untuk pengkhianat seperti kalian." Camnya pada mereka berempat.
Kali ini Nazhanul tidak main-main dengan perkataannya. Itu terlihat jelas dari mimik bicara, wajah serta tatapannya.
Arga hanya bisa terdiam, mengahadapi nasib yang akan datang menyapanya kedepan.
Ya, apalagi kalau bukan hukuman mati.
Adalah hukuman yang akan dijatuhkan pada pengkhianat kerajaan.
Bukhh... Arga terjatuh di lantai Caffe.
Sekejam ini takdir mempermainkannya.
Arga menggengam dadanya yang terasa sesak.
Hahh...
Hahh... Nafasnya mulai berhembus tak beraturan. Sebab, sudah terlalu banyak kesesakan yang ia pendam.
Air matanya kini berbondong-bondong meluapkan keperihan di dadanya.
Pejabat licik itu tersenyum angkuh pada mereka berempat.
" Sudah ku katakan, jangan pernah melawanku !! Kalau saja kau tidak sok pintar mencampuri urusanku, curam kelam ini takkan menghampirimu anak muda." Ucapnya dengan sombong.
Hahaha..
" Bersiaplah menerima maut kalian."
Membuat Andrea mengeratkan rahangnya, mengeraskan kepalan tangannya.
" Brengsek." Teriaknya.
Kepergian ayahnya, membuat Arga semakin terasa sakit.
Apa segitu mudahkan semesta berpihak pada kejahatan ?
Kenapa mereka yang berada di jalan kebenaran, yang kerap kali menyapa kekalahan ?
Inikah keadilan itu ?
" Arga..
Tenanglah nak, Allah akan selalu berada bersama orang-orang yang benar, jangan khawatir nak." Ujarnya pada Arga.
" Jikapun nanti kita mati dalam perjuangan ini. Kita sudah termasuk syahid dalam kebenaran nak." Kata Abriz pada Arga.
Arga tersenyum lirih dengan cucuran air mata menghujani wajahnya.
"Bukan hukuman mati yang kutakutkan.
Bukan fitnah yang menjadikanku menyandang gelar pengkhianat yang membuat dadaku sesak." Arga menyentuh dadanya yang terasa sesak.
"Melainkan aku rasanya hancur melebur, saat ayahku tidak bersudi hati mendengarkanku.
Dan lebih mempercayai orang lain dari pada diriku. Tak ada yang lebih menyakitkan dari pada dibenci oleh ayah sendiri." Arga tertunduk lemah dilantai. Air matanya berbondong-bondong terjun, meluapkan segala keperihannya.
Membuat Andrea, Robert, dan Abriz ikut simpati padanya.
Bahkan mereka juga ikut merasakan apa yang Arga rasakan.
" Nak, La tahzan innalaha ma a' na." Kata Robert seraya mendekap Arga.
Andrea juga ikut menepuk pundak Arga untuk menguatkannya.
Begitu juga Abriz, pria beranak satu itu.
Mengusap-usap kepala Arga.
" Kau tidak sendiri nak.
Kami juga ada berada bersamamu."
Meski demikian, kesesakan dihati Arga masih tak berkurang sedikitpun.
Akan tetapi, ia bersyukur sebab saat ini ia masih di temani orang-orang baik seperti mereka.
Arga teringat pada sosok gadis yang juga ikut andil dalam perjuangan ini.
Ia merasa bersalah, karena apa yang terjadi saat ini. Pasti membuat hati gadis itu sakit bahkan juga kecewa.
" Kita kalah Han.
Maafkan aku Han, perjuangan kita sampai disini Han." Ucap Arga dalam hatinya.
Bersambung...
Sevimli 11 Maret 2021
Salam hangat dari Author 🌹
Jangan lupa like and Votenya ya :)
__ADS_1