
" Berbicara tentang PSK.
Kita tak pernah tau seberat apa beban yang mereka pikul, sekeras apa kehidupannya, sebanyak apa masalahnya, sehingga memaksanya untuk terjun ke dalam jurang curam itu. Kebanyakan dari kita hanya melihatnya sebagai wanita penghibur, wanita kotor bahkan tak punya malu, dengan mudahnya kita menghina bahkan mengucilkan, dan menganggap rendah mereka.
Bukannya mala membantu mereka keluar dari jurang curam itu. Adilkah itu bagi mereka ?
..... " Pelangi Hanani 🌹".....
Tak terasa sudah beberapa jam berlalu mereka berada di Alexandria. Bahkan merah-merah kejinggaan kini tengah menyeruak di permukaan langit.
Hana pun mengajak Nima dan Raisa untuk kembali ke Asrama segera, agar mereka tidak ketinggalan bus.
" Nim, Sa balik yuk ! ajaknya.
Raisa dan Nima yang tengah asyik bermain istana pasir pun menoleh.
" Yah, tanggung Han.
Lagi seru-serunya ni." ucap Nima.
" Iya ni, Han." sahut Raisa.
Hana pun berdiri melangkah menghampiri kedua temannya itu.
" Iya tau.
Tapi, kalau kita terus disini entar kita ketinggalan bus.
Mau pulang naik apa ? Nyeker ?
Raisa dan Nima pun saling menatap, detik selanjutnya keduanya melihat jam yang berada di ponselnya.
Benar sudah jam setengah lima sore ternyata.
" Astaghfirullah." keduanya terkejut saat melihat jam menunjukkan angka 16 : 30.
Dengan cepat keduanya berdiri dan membersihkan diri dari gumpalan pasir yang lengket di tubuh mereka.
" Dah selesai." ucap Nima.
" Ayo Raisa !
Jangan lelet kali kau jadi orang ! teriak Nima pada Raisa.
Raisa pun menatap melas Nima.
" Dih !
Aku juga udah beres kali." jawabnya.
" Yaudah buruan kita berangkat biar kita gak ketinggalan bus." ajak Hana.
Mereka pun mengambil barang-barang terlebih dahulu, dan memastikan tidak ada yang tertinggal satupun.
" Dah bereskan ?
Gak ada lagi yang tinggal ? tanya Hana memastikan.
" Udah Han.
Beres ! jawab Raisa.
" Oke."
Ketiganya pun berjalan menuju tepian jalanan, untuk menunggu bus yang akan berlalu disana.
Bugghh...
Tiba-tiba saja seorang perempuan tidak sengaja menabrak Hana.
" I am sorry." ucapnya gemetar.
" Ahiya, no problem Miss." jawab Hana.
" Kau ini kalau jalan itu pakai mata ! teriak Nima pada gadis itu.
Gadis itu terus melanjutkan langkahnya, ya seperti sedang melarikan diri dari seseorang.
" Idih ni orang main lari aje ! kesal Raisa.
Dan ya, benar saja tak lama kemudian datanglah sosok lelaki tinggi tegap, bersama kedua bodyguard di belakangnya sepertinya mengejar perempuan itu."
" Stop your step b*tch ! teriak pria itu.
Hal itupun menyita perhatian Hana, Raisa dan Nima.
" Eh bentar deh.
Kayaknya cewek itu dikejar deh sama mereka." ucap Hana berpendapat.
" B*tch ? Pelacur.
Kenapa pria itu mengatakan gadis itu pelacur ? tanda tanya memenuhi otak Hana.
" Rasaku pun iya woy, orang itu ngejar cewek itu." sahut Nima.
Tanpa aba-aba, Hana langsung berlari mengikuti mereka. Namun, dengan cepat Raisa menarik tangannya.
" Berhenti Han ! ucapnya.
Hana berusaha menepis tangan Raisa.
" Lepas Sa !
Gadis itu butuh pertolongan."
" Dengerin gua Han.
Pria yang ngejar dia itu bukan orang sembarangan Han. Pria itu salah satu orang yang paling berbahaya di Mesir Han." Raisa mencoba memberi pengertian pada Hana alasan apa dia menghentikan Hana.
Hana pun terdiam menatap Raisa penuh tanda tanya.
" Berbahaya ?
Sa, apa yang kamu ketahui tentang pria itu ? tanya Hana pemasaran.
Hahhhh... Raisa menghela nafas.
" Pria itu adalah pendiri Trixtal Bar di Alexandria.
__ADS_1
Ya, salah satu Bar terbesar di Mesir. Gua pernah lihat potonya waktu gua lagi nyari-nyari info tentang wisata di Alexandria dan gak sengaja pria itu nongol di pencarian itu." jawab Raisa.
Hana dan Nima terkejut saat mendengar jawaban Raisa. Hana pun semakin bertekad untuk menyelamatkan gadis itu.
" Kita harus selamatin gadis itu, Nim, Sa." ucap Hana.
" Han dengerin gua, Han." Raisa menarik tangan Hana.
" Jangan pernah berurusan sama pria itu Han, nyawa lo jadi taruhannya. Pria itu bakalan habisi orang-orang yang ikut campur dengan urusannya."
Hana menggeleng, tetap berniat menolong gadis itu.
Ia menepis kasar tangan Raisa yang berusaha menghentikan langkahnya.
" Han !
Untuk kali ini aja berhenti nurutin keras kepala lo. Asal lo tau Han, gadis yang lo mau tolongin itu adalah salah satu wanita malam di Trixtal Bar, Mesir Han." teriak Raisa.
Teriakan Raisa itu berhasil menghentikan langkah Hana. Ia berbalik menghadap Raisa, dengan raut penuh kecemasan pada gadis itu.
" Han.
Itu pilihan dia, dia yang memutuskan untuk menjadi pelacur Han, please Han ! Jangan ikut campur Han. Itu bisa membahayakan diri lo." ucap Raisa khawatir.
" Gak ada perempuan di dunia ini yang mau jadi Pelacur, gak ada ! Kalau bukan karena dipaksa keadaan, Sa." sergah Hana seraya mendekati Raisa.
" Kita gak tau seberat apa beban yang dia pikul, sekeras apa kehidupannya, sebanyak apa masalahnya, sehingga memaksanya untuk terjun ke dalam jurang curam itu. Kebanyakan dari kita hanya melihatnya sebagai wanita penghibur, wanita kotor bahkan tak punya malu, dengan mudahnya kita menghina bahkan mengucilkan, dan menganggap rendah mereka.
Bukannya mala membantu mereka keluar dari jurang curam itu. Adilkah itu bagi mereka, Sa ?
Air mata Hana ikut menemani kata demi kata yang ia ucapkan. Tangannya bahkan ikut bergetar menggenggam bahu Raisa.
Raisa diam tak bergeming sama sekali.
Ia menatap lekat Hana yang tengah menitihkan air mata.
" Sa !
Kalau pelacur kaya, punya cukup uang dia juga gak bakalan mau menjajahkan tubuhnya hanya untuk secercah rupiah. Begitu juga dengan pencuri, dia juga gak bakalan mau mencuri kalau mereka kaya, punya banyak uang, Sa."
" Betul itu.
Kalau pencuri orang kaya masih mau mencuri, itu mah namanya Koruptor." sahut Nima yang datang menghampiri mereka.
" Gua tau Han.
Menolong orang yang sedang dalam bahaya adalah sebuah keharusan. Tapi, Han kita ini perantau, kita cuma bertiga disini, gak punya saudara, apalagi keluarga Han. Please Han, jangan ngorbanin diri lo untuk nyelamatin orang lain." ungkap Raisa yang mengkhawatirkan Hana, jika ia pergi mencoba menolong gadis itu.
Sejenak Hana terdiam, mencerna baik-baik perkataan Raisa. Benar saja, kalau terjadi sesuatu pada mereka.
Siapa yang akan menolong mereka ?
Merantau ke Negeri orang bahkan tanpa adanya saudara disana.
Hana melepaskan genggamannya dari bahu Raisa.
Kembali melihat ke arah gadis tadi berlari, yang kini tak terlihat lagi olehnya.
Raisa memegang pelan pundak Hana.
" Han !
Kenapa sih lo selalu berusaha ngorbanin diri lo, hanya untuk menjadi pelangi yang selalu membahagiakan orang lain ?
Karena bagi Hana tidak ada yang lebih menyenangkan.
Dari pada menjadi sebanyak-banyaknya manfaat.
Raisa pun langsung memeluk Hana.
Merasa terharu memiliki teman sebaik dan semulia Hana.
" Lo emang manusia paling baik yang pernah gua temuin, Han." puji Raisa.
Bughhh..
Nima pun ikut menghamburkan dirinya.
" Aduh.
Gila lo ya, Nim sakit badan gua." keluh Raisa pada Nima.
" Hehe maaf.
Habisnya aku ikut sedih nengok kelen nangis sambil pelukan kek gini."
Hana pun tersenyum.
" Udah-udah, ah jangan berantem." ujarnya pada kedua sahabatnya.
Mata Hana masih saja tertuju pada arah dimana gadis itu berlari, Raisa yang menyadari hal itupun menggenggam tangan Hana.
" Han.
Gua yakin cewek itu pasti baik-baik aja.
Gua yakin mereka gak bakal nyakitin cewek itu, karena kalau mereka nyakitin cewek itu, itu bakalan buat fisik cewek itu luka dan ya, mereka gak bakal mau kalau itu sampai terjadi. Bisa-bisa mereka bakalan kehilangan berlian mereka." Raisa mencoba menenangkan Hana.
" Iya, Han.
Sekarang kita pulanglah dulu, kita pikirkan gimana cara membebaskan cewek itu. Kita susun dulu rencana yang masak, kita kumpul dulu pihak-pihak yang berwenang, baru kita pergi ke Trixtal Bar itu Han." Nima pun ikut menenangkan Hana.
Hana pun tersenyum dan mengangguk menyetujui perkataan kedua temannya itu.
" Kita pulang ya ! ajak Raisa dengan lembut.
Hana pun mengangguk.
Akhirnya mereka bertiga pun kembali melangkah ke tepian jalan untuk menunggu bus menuju Cairo disana.
Setengah jam berlalu, barulah bus yang mereka nantikan akhirnya tiba juga.
" Alhamdulillah, akhirnya datang juga bang Ucok ini."
lega Nima saat melihat kernek bus menyeru pada mereka.
" Bang Ucok ?
Ada-ada aja lo, Nim." ucap Raisa sedikit terkekeh.
__ADS_1
" Hm, udah ah buruan naik.
Udah ditunggu bang Ucok kita." sahut Hana.
Mereka bertiga pun naik ke bus yang akan membawa mereka kembali ke Asrama.
Lega rasanya, akhirnya ada bus yang lewat, kalau saja tidak aja. Maka pasti mereka akan terlantar di Alexandria. Tak tau harus kemana tinggal sampai besok pagi, kembali menunggu bus datang.
Bus pun melaju dengan cepat, membawa para penumpang ke tempat tujuan masing-masing.
.
.
.
• Sakarya, Turki.
Hari-hari Arga di Turki disibukkan dengan penuh aktivitas. Mulai dari persentase, rapat antar fakultas dan masih banyak kegiatan lainnya.
Seperti saat ini, ia baru selesai persentase.
Beruntung Allah, menganugrahinya tak yang cerdas sehingga itu memudahkan segalanya.
" Alhamdulillah, kelar juga gua Ray." ucap Arga menghampiri Rayhan di taman kampusnya.
" Hm, elo mah enak udah kelar.
Lah, gua mulai aja belum ngab."
Ya, Rayhan juga fakultasnya bakal ngadain pertunjukan malam nanti. Sebab itulah, kepala Rayhan pening tujuh keliling buat persiapan pertunjukan seni nanti malam.
" Ini buat kamu." sosok gadis menyodorkan botol yogurt pada Arga.
Arga pun mendongakkan kepalanya, untuk melihat sosok pemilik tangan tersebut.
" Zafirah." kata Arga, saat melihat gadis pemilik tangan itu ternyata adalah Zafirah.
Sementara Rayhan hanya memasang muka melasnya.
" Aih, lo lagi lo lagi." ucap Rayhan dengan sedikit ketus.
Bukannya Rayhan membenci Zafirah, permasalahannya akhir-akhir ini Zafirah sering banget nyari perhatian ke Arga. Bahkan tak segan-segan nempel mulu ke si Arga. Inilah penyebab Rayhan berbicara ketus seperti itu pada Zafirah.
" Ray ! tegur Arga.
Zafirah hanya bisa tersenyum simpul mendengar Rayhan.
" Maafin Rayhan ya." permohonan maaf Arga, merasa tidak enak pada Zafirah.
" Ahiya, gak apa-apa.
Tapi, minumnya diambil dulu."
Arga pun tersenyum dan meraih botol minuman pemberian Zafirah." Makasih ya." ucapnya.
" Iya sama-sama.
By the way, kamu keren banget lo tadi persentasenya." puji Zafirah. Membuat sudut bibir Arga melengkung membentuk senyuman.
" Oh my God, dia senyum semanis itu.
Please jantungku rasanya mau copot." batin Zafirah kegirangan, ia tak berkedip sedetikpun menatap Arga.
Rayhan yang menyadari hal itu, tersenyum smirk.
" Ada ya cewek kayak lo." gumamnya pelan.
" Ga !
Udah mau Ashar ni, ke Masjid yuk." ajak Rayhan.
Sengaja Rayhan mengajak Arga ke Masjid, agar ia bisa menjauhkan Arga dari gadis kecentilan ini.
Arga pun melirik jamnya, yang memang sekitar dua puluh menit lagi memasuki waktu Ashar.
" Hm, iya ni.
Tapi bentar deh, tumben banget lo ngajakin ke Masjid buru-buru gini gak biasanya."
" Udah deh gak usah bacot !
Buruan ! Rayhan langsung menarik tangan Arga.
" Eh sabar napa sih." Arga melepaskan tangan Rayhan.
" Ahiya Zaf.
Gua sama Rayhan mau ke Masjid ni.
Lo gak mau ikutan ? tanya Arga.
" Astaga, gua sengaja ngajak lo ke Masjid biar cewek ini jauh dari lo, eh mala Lo ajak lagi." gerut Rayhan dalam hati.
Zafirah pun tersenyum, dan mengembangkan kepalanya." Aku lagi cuty soalnya mamnu' Ga."
Mendengar jawaban Zafirah, Arga pun mengangguk paham.
" Ah yaudah kalau gitu, kita Luan ya.
Assalamu'alaikum." pamit Arga.
" Iya, wa'alaikumussalam." jawab Zafirah.
Arga dan Rayhan pun melangkah menuju Masjid meninggalkan Zafirah yang masih berdiri menatap kepergian mereka.
" Untuk cinta pertama gua bisa ngalah.
Tapi untuk yang kali keduanya, gua gak bakal kalah dan gua bakal perjuangin sampai Arga jatuh cinta ke gua." ucap Zafirah yang penuh tekad untuk merebut hati Arga.
Bersambung...
Sevimli 21 July 2021
Salam hangat dari Author 🌹
Jangan lupa like and Votenya :)
Eid Adha Mubarak ✨
__ADS_1
Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail adalah bentuk nyata dari definisi loyalitas. Ketaatan kepada Allah melampaui segalanya.
Sudah sepantasnya kita juga meloyalitaskan diri kita sepenuhnya pada Sang Pemilik Jagat Raya 🍂