
" Sekeras apapun takdir mempersulit diriku untuk melafadzkan dua kalimat syahadat.
Senantiasa hatiku dengan cahaya Islam semakin dekat."
...... " Pelangi Hanani š¹"......
Anugrah dan Sanju melangkah menuju kelas,
Anugrah ingin berpamitan kepada teman-teman sekelasnya.
" Guys Anugrah mau ngomong ni." Ucap Sanju.
Semua seketika diam dengan tertib di bangku masing-masing.
" Terima kasih sebelumnya untuk waktunya." Ucap Anugrah sebelum mengucapkan kalimat perpisahan.
Semua yang ada di kelas sudah tau mengenai kabar kepindahan Anugrah keluar negri.
Dan mereka juga tau pasti kali ini Anugrah ingin berpamitan pada mereka.
Sebab itu, pandangan mereka saat ini fokus pada Anugrah.
" Kalian pasti sudah taukan kabar kepindahan aku ? Tanyanya yang di jawab anggukkan oleh teman-temannya.
" Maka dari itu,mungkin ini kali terakhirnya aku speak up di kelas ini...
Anugrah menjeda sejenak ucapannya, ia mengatur nafasnya yang mulai tak beraturan.
" Teman-teman selama satu tahun setengah ini aku menjabat sebagai ketua kelas di Kelas ini, secelah ruang kesalahan setiap harinya pasti ada yang aku perbuat..
Maaf sering buat kalian jengkel, marah-marah ke kalian, buat kalian juga marah, buat kalian kecewa, udah maksa-maksa kalian buat lakuin sesuatu untuk kelas kita...
Maaf belum bisa jadi ketua kelas yang baik untuk kalian...
Aku juga gak nyangka bahwa keinginan hatiku untuk berjuang selama tiga tahun bersama kalian mencapai gerbang kesuksesan hanya akan sampai di separuh perjalanan...
Aku minta maaf ya ke kalian semua, sebagai ketua kelas sekaligus sebagai sahabat kalian.." Ucap Anugrah dengan buliran hangat keluar dari sudut matanya.
Semua teman-teman cowok Anugrah beranjak mendekatinya.
Dan memeluknya secara bersamaan.
" Kamu gak pantas minta maaf bro, kamu gak punya salah apapun." Ucap mereka.
" Kamu baik-baik disana ya, jangan pernah lupain kita Boy !!
" Sejauh apapun jarak di antara kita, itu takkan pernah mengubah status pertemanan kita." Ujar Anugrah dengan tangisan bahagianya.
Suara tangis mereka yang menyatu, membuat sesiapun yang melihatnya ikut terhanyut di dalamnya.
" Ka, aku titip kelas kita ya..
Aku yakin kamu bisa megang amanat ini." Anugrah melepaskan jabatan ketua kelas kepada Razka yang merupakan wakilnya sembari menepuk pundaknya.
" Insya Allah Nug, aku bakal jaga baik amanat yang kamu berikan." Jawab Razka dengan senyuman.
" Terima kasih." Ucap Anugrah yang di jawab anggukkan serta senyuman oleh Razka.
" Kapan kamu ke Canada Nug ? Tanya mereka.
" Dua hari lagi guys." Jawabnya.
" Oh, safe flight ya Nug." Ucap mereka yang dijawab dengan senyuman serta anggukkan oleh Anugrah.
.
.
Seusai Anugrah berpamitan dengan teman-teman sekelasnya, iapun memutuskan kembali ke asrama, untuk membereskan semua barang-barangnya yang tertinggal di sana.
Kali ini dia datang bukan hanya sekedar untuk pergi, melainkan juga datang untuk tidak kembali lagi.
Ini untuk kesekian kalinya Anugrah tak dapat membendung air matanya.
Air matanya mengalir bersama lajunya kendaraan yang ia jalankan, membasahi helm yang menutupi wajahnya.
" Sekeras apapun takdir mempersulit diriku untuk melafadzkan dua kalimat syahadat.
Senantiasa hatiku dengan cahaya Islam semakin dekat." Ucapnya di balik helmnya dengan buliran hangat dari matanya.
.
.
Di tempat lain ( Malaysia ).
Tepat di Istana Nazhanul Hakim.
Rintikan hujan mulai mengunjungi bumi,
di balik jendela ada sosok gadis berjilbab Coklat, tengah fokus menatap rintikan hujan tersebut.
" Han, kita jadi balik ke Indo dua hari lagikan ? Tanya Ranti membuyarkan pandangan Hana.
" Ranti, bikin kaget aja ! Protesnya.
Ha-ha-ha.. Ranti tertawa kecil.
" Habis kamu sih, ngelamun Mulu." Ledek Ranti.
" Atau jangan-jangan lagi mikirin Arga ya." Goda Ranti.
Mata Hana langsung membulat sempurna.
Petak... Hana menyentil jidat Ranti.
" Aduh, apaan sih Han.
Sakit tau." Protes Ranti pada Hana.
" Makanya kalau punya mulut di jaga !! Ketus Hana tak mau kalah.
" Ceilah, iya deh dasar sensi !!
Jadikan dua hari lagi kita ke Indo ? Tanya Ranti lagi.
Hana mengangguk."Iya, dua hari lagi, kamu udah packing kan ?
" Udah dong."
" Bagus deh."
" Eh, Arga jadi ikut gak ? Tanya Ranti tiba-tiba.
Hana menggeleng tidak tau pasti dengan keputusan Arga." Entahlah Ran, aku kurang tau pasti dia jadi ikut atau tidak."
Ranti hanya manggut-manggut." Hm, kenapa kita gak tanya orangnya langsung aja." Usul Ranti dan menarik tangan Hana untuk mencari keberadaan Arga.
" Ih, kita mau kemana Ran ? Tanya Hana.
Ranti tak menggubris pertanyaan Hana, ia terus membawa Hana menuju Istana.
Tak sampai mereka menginjakkan kaki di Istana, mereka sudah menemukan sosok Arga di taman sedang terduduk menung menatap langit.
Ranti mengajak Hana untuk menghampiri Arga.
" Hallo Arga." Sapa Ranti.
Arga menoleh ke arah Ranti dan juga Hana, ia hanya menunjukkan sikap datar tanpa ekspresi.
" Kenapa Arga jadi dingin gini ya ? Batin Hana.
Arga kembali menatap ke depan.
__ADS_1
Sedikitpun tak menghiraukan dua makhluk yang berada di sebelahnya.
" Woy !! Balik lagi sikap kutub Lo." Ujar Ranti.
Arga tak menggubris perkataan Ranti, justru Arga beranjak pergi meninggalkan Hana dan Ranti.
" Cih sombong banget loh, kutub !! Ketus Ranti.
Sementara Hana hanya menatap punggung Arga yang sudah menjauh dari mereka.
Tak menyangka hanya dalam beberapa hari, sikap Arga bisa berubah kembali menjadi dingin seperti awal.
" Aku salah apa ya sama Arga ? Sampai dia bersikap seperti itu sama aku." Hana terus menerka-nerka dalam benaknya.
.
.
" Maafkan aku Han, aku hanya ingin mengikis perasaan ini." Ucap Arga dengan lirih.
Ranti yang melihat Hana masih memandang Arga meski sudah jauh dari mereka.
Ia langsung menarik tangan Hana, mengajak kembali ke rumah.
" Udah ah, gak usah dipikirin.
Emang aneh tu kutub, moodnya musiman kali Han. Ayok balik." Ajak Ranti.
Hana mengikut Ranti untuk kembali ke rumah. Sebab lama-lama di sini juga akan membuatnya membuang-buang waktu.
" Kenapa sesakit ini ya di dinginin Arga kayak tadi." Hana merasa sakit hati dengan sikap dingin Arga.
Sikap kutubnya kembali seperti awal Hana datang ke Malaysia, bahkan jauh lebih dingin dari sebelumnya.
Entahlah, padahal Kemarin-kemarin sikap Arga sangat hangat pada Hana.
Bahkan tak jarang bukan Arga selalu menggombal Hana.
Angin malam yang berhembus membuat tirai kamar Arga melambai tenang. Ia sengaja membiarkan jendela kamarnya terbuka, agar udara nan sejuk malam menerpa setiap sudut ruangannya.
Arga beranjak dari kursi belajarnya, melangkah keluar, menuju teras kamarnya untuk menatap langit malam, yang sudah amat lama ia rindukan.
Kelap-kelip bintang menghiasi pemandangan malam kali ini, seulas senyuman terbit di wajahnya.
Menatap tenang ke arah langit yang sedang menyapanya.
Seulas ingatan kembali dibenaknya saat dimana dirinya dan Hana bersamaan tanpa sengaja memandang langit yang sama saat itu.
Sama-sama merindukan seseorang, sama-sama sedang merindukan ketenangan,
dan bahkan melakukan hal yang sama untuk mendamaikan hati.
" Jihan, apa kau tau bagaimana hatiku saat ini ? Tanya Arga pada benda angkasa yang seolah-olah ia sedang bertanya langsung dengan Jihan.
Tak ada jawaban yang ia dapatkan.
Arga tersenyum." Hati ku saat ini terpatah untuk kedua kalinya hehe."
" Kau tau bukan dia yang salah. Tapi aku salah terlalu cepat hatiku terjatuh...
Entahlah Jihan, aku juga pernah patah bahkan sampai nyaris tak berbentuk lagi.
Hingga membuat Arga yang ramah tamah, hangat serta care ke setiap orang, berubah menjadi Arga yang kutub, Arga yang cuek, dan lebih dingin dari kulkas 2 pintu..
Dan setelah itu, ada sosok gadis yang tiba di kehidupanku, dari waktu ke waktu, perlahan demi perlahan tanpa secara langsung dapat mengubah sifat kutubku dengan segala keunikan dirinya..
Hingga akhirnya hatiku terjatuh padanya,
Aku mulai merasakan degupan abnormal di hatiku tiap kali bertemu dengannya.
Ada debaran bentuk bunga di hatiku setiap kala melihat senyumannya...
Bahkan aku mulai Melirikkan namanya dalam untaian doaku..
Maaf Jihan, aku telah berbuat jahat sampai sejauh ini padamu..
Sampai aku jatuh sampai sedalam ini..
Jihan !! Maafkan aku ya..
Izinkan aku bangkit dari kejatuhan ini..
Izinkan aku bisa berdiri dari kursi
kesakitan ini..
Maaf bila aku mengecewakan mu.." Kata demi kata yang Arga luapkan mendorong buliran hangat tercurah dari sudut matanya.
Semakin deras air mata yang tercurah, semakin mengeluarkan sesak yang ia rasakan.
Ingin teriak agar hatinya lebih lega, namun niatnya ia urungkan, sebab ini sudah larut malam.
Ia tak ingin mengganggu ketenangan orang-orang yang sudah terlelap..
Arga mengembangkan senyumnya." Aku yakin, aku bisa melepas perasaan ini dengan seikhlas-ikhlasnya."
Detik selanjutnya Arga beranjak dari teras kamarnya, merebahkan tubuhnya di kasur empuk kepunyaannya.
Berharap ketika bangun nanti, semua beban kepedihan lenyap tanpa sisa...
Di sisi yang berbeda, ada sosok gadis yang tengah sibuk dengan pikirannya.
Ia memilih memurajah hafalannya, seraya menatap langit dari jendela kamar yang terbuka.
" Tabarakasmu rabbika żil-jalÄli wal-ikrÄm."
" Shodaqohllahul Adzim." Tutup Hana.
" Alhamdulillah selesai juga." Ucapnya.
Kini Hana terdiam memikirkan apa yang tengah menghampiri Arga, sampai ia kembali bersikap sedingin itu padanya.
Ia tak tau, kenapa hatinya terasa sesak mendapatkan perlakuan seperti itu dari Arga.
" Arga, pria kutub yang pertama kali aku temui saat menginjakkan kaki di negri Ziran ini.
Ya, kata-katanya yang dingin.
Tingkah lakunya yang dingin sekaligus cuek.
Ekspresinya yang serasa kulkas 2 pintu..
Membuat aku penasaran dengan dirinya..
Setelah beberapa lama aku mengenalnya lebih jauh, aku melihat sisi kebijaksanaan dalam dirinya, sisi kebaikan yang tak terujung, serta sisi sejuta pesona iman..
Perlahan-lahan aku mulai memahaminya dan last aku juga melihat perubahan sikapnya yang dingin berubah menjadi hangat..
Entahlah kata Ranti itu semua karena diriku..
Aku tak percaya sepenuhnya dengan itu..
Yang terpenting aku senang dia bisa berubah menjadi hangat.
Eh entah angin dari sebelah mana datang menerpa, dirinya kembali membeku kembali menjadi kutub.. Ha-ha-ha..
Bahkan dinginnya bukannya menyejukkan hati, mala justru membuat hati terasa sesak..
Entahlah aku tidak mengerti dengan semua sikapnya..
Sangat sulit untuk ditebak, apalagi di jawab." Ucapnya Hana tak habis pikir dengan semua yang terjadi.
" Jujur sih walaupun tingkahnya nyebelin tapi itu ngangenin..
__ADS_1
Arga aku lebih suka kamu yang hangat,
bukan yang dingin seperti dulu.." Hana menatap lekat peredaran bintang di langit malam..
" Astaghfirullah, istighfar Hana come on jangan terlalu larut memikirkan dia yang bukan mahram kamu..." Hana tersadar apa yang saat ini ia tengah rasakan sudah terlalu jauh.
" Biarkan semuanya berjalan seperti biasa, kamu jangan terlalu memikirkan cowok Hana." Hana mengupat kebodohan dirinya.
Hembusan angin malam yang semakin kencang membuat kantuk Hana semakin menyeruak, akhirnya Hana memutuskan untuk menutup jendela kamar, menenggelamkan diri dalam selimut tidurnya..
Berharap semuanya akan usai dengan baik-baik saja di esok hari.
Kedua insan yang sedang dilanda gundah gulana itu kini terlelap di tempat yang berbeda...
.
.
.
Keesokan harinya, di pagi-pagi buta Hana mengajak Ranti untuk pergi jogging ke sekitaran Istana.
Dengan wajah yang malas Ranti terpaksa menuruti permintaan sepupunya.
" Buruan Ran !!
Keburu siang..
Entar yang ada bukannya mala sehat !!
Mala justru buat hitam lagi." Upat Hana yang hanya di balas dengan ekspresi datar oleh Ranti.
" Bodoh amat." Ujarnya berlari meninggalkan Hana.
" Ranti !! Teriak Hana sembari mengejar Ranti.
Kini keduanya berlarian satu sama lain, keluar wilayah Istana.
Seketika Hana teringat bahwa dirinya lusa akan kembali ke Indonesia.
Ia ingin membawa sesuatu untuk keluarganya.
" Ranti kita jogging sampai ke Central Market terdekat yuk." Ajak Hana.
Ranti membalikkan badannya, mengerutkan keningnya." Ngapain coba pagi-pagi kesana ?
Terus masa iya kita kesana pakaian begini doang ? Lagian itu jauh Hana."
" Aku mau beli sesuatu untuk keluargaku,
kan satu hari lagi kita bakal ke Indo, ya gak masalah kali, orang kita jugakan nutup aurat. Sesekali juga, entar balik kita naik Taxi ya please." Mohon Hana pada Ranti.
Ranti yang mengerti dengan jawaban Hana akhirnya terpaksa mengangguk setuju dengan ajakannya.
Mereka berdua mempercepat lari mereka, agar segera sampai di Central Market.
Sesampai di Central Market, Hana mengajak Ranti ke sebuah tempat penjualan oleh-oleh khas Malaysia.
Ranti yang kehabisan tenaga, dengan nafas yang ngos-ngosan memilih istirahat sebentar di angkringan Jus.
" Ran, cepetan dong jalannya." Ucap Hana tanpa melihat ke belakang.
Tak ada jawaban yang Hana dapatkan, iapun menoleh ke belakang.
Dan ya dirinya melihat Ranti tengah meneguk segelas juz jeruk di angkringan yang mereka lewati tadi.
" Astaghfirullah, pantesan gak nyahut orangnya udah disono." Hana menghampiri Ranti.
....
" Woy !! Pekik Hana.
" Astaghfirullah, buat kaget aja sih.
Untung jantung aku gak bermasalah Han." Protes Ranti.
" Rasain." Ketus Hana.
" Ye, punya sepupu gini amat ya." Upat Ranti.
" Cepetan habisin, biar kita ke tempat Souvernir khas malay Ran." Ajak Hana.
Rantipun menghela nafasnya." Sabar napa, baru juga lima menit aku istirahat di sini Han, capek tau lari dari Istana ke mari."
Hanapun tertawa mendengar protes sepupunya yang memang benar adanya.
Hanapun memutuskan untuk beristirahat sejenak bersama Ranti di angkringan Jus tersebut.
Setelah lima belas menit berlalu, akhirnya Hana dan Ranti memasuki Central Market,
ada banyak barang-barang etnik serta beragam barang unik yang di jajakan didalamnya.
Hana melihat beragam gantungan kunci khas Malaysia yang beragam bentuk, akhirnya tertarik untuk membawakan tiga buah untuk adiknya dan juga Sanju sahabatnya.
" Ran, aku beli gantungan kunci yang bentuk menara twin tower aja deh." Ujarnya menunjukkan gantungan kuncinya pada Ranti.
" Wah, iya Han bagus kok." Kata Ranti setuju dengan Hana.
Seusai mereka membeli gantungan kunci, Hana terterik untuk membelikan sang ibu kain yang bercorak khas Malay tepat dengan warna kesukaan ibunya.
Dan membelikan sendal khas Malay untuk Bapaknya.
Semuanya menggunakan uang yang ia miliki, dari uang jajan harian pemberian pamannya yang ia tabungkan setiap harinya.
Di Central Market pagi ini, sudah ramai yang mengunjungi.
Tak jarang diantar pengunjung itu adalah para wisatawan yang sedang berlibur di Malay dan sedang mencari oleh-oleh untuk di bawah pulang.
Central Market cukup luas, bahkan bisa menampung banyak orang.
Jangan khawatir kepanasan, karena di kawasan Central Market ini seluruh areanya sudah di fasilitasi AC.
Yang membuat udara sejuk tetap terjaga sepanjang hari.
Untuk memudahkan para pengunjung yang sedang berwisata, disarankan untuk mereka menggunakan Light Rain Transit ( LTR ), dan berhenti di Stasiun pasar Seni, agar bisa sampai dengan mudah di Central Market.
Seusai membeli barang-barang etnik, Hana pun memutuskan untuk membeli coklat durian dan Milo khas Malay untuk keluarganya di Indo.
Begitu juga dengan Ranti tak mau kalah, dirinya juga berbelanja untuk oleh-oleh yang akan ia bawak untuk Uncle dan Aunty nya serta adik sepupunya Rahmet.
Beberapa menit berlalu akhirnya mereka selesai dengan urusan oleh-oleh mereka.
Mereka keluar dari Central Market menuju Stasiun pasar Seni untuk menunggu Taxi yang akan mereka pesan.
Setengah dari perjalanan menuju Stasiun pasar Seni, ada sebuah mobil yang melintas di depan mereka.
Stttt... Mobil itu berhenti tepat didepan mereka membuat Hana dan Ranti terkejut.
" Astaghfirullahaladzim." Ucap mereka.
" Woy kalau awak tak pandai bawak kereta elok macam ni ! Tak payahlah bawak
macam ni." Upat Ranti.
Hana mencoba menenangkan Ranti dengan menggenggam tangan nya.
Ceklek..Yang empunya mobil turun menghampiri mereka.
Membuat mereka tercengang." Arga." Ucap mereka bersamaan.
Bersambung...
Sevimli 27 Desember 2020
__ADS_1
Salam hangat dari Author š¹
Jangan lupa Like dan Votenya ya :)