Pelangi Hanani

Pelangi Hanani
Part 97 Ujung selaksa


__ADS_3

"Aku tidak tau.


Akankah aku yang akan terlebih dahulu melamarmu dan melantunkan surah Muhammad sebagai mahar pertama, sesuai permintaanmu.


Atau justru akulah yang akan dilamar malaikat maut dan kau yang akan melantunkan surah Yasin serta terdengar Isak tangismu sebagai salam perpisahan di hari kematianku."


...... " Pelangi Hanani 🌹"......


Arga masih berada dalam pangkuan Nazhanul. Semua merasakan sakit, perih, seperti tertusuk ribuan belatih.


Terutama Wardah sekerasnya ia berteriak, sederas itu pulalah air matanya bercucuran.


Ibu mana yang tak merasakan kepedihan ?


Saat melihat sang anak tertusuk di depan matanya sendiri.


"Bunda pasti kuatkan." Arga masih berusaha menghibur bundanya dibalik rasa sakitnya.


"Sayang!


Kamu juga putra bunda yang kuat, bertahan ya nak."


Dengan cepat Nashrun memanggil Ambulance dari rumah sakit terdekat.


Ia pun mendekati Arga, untuk memeriksa kondisinya sementara.


Namun sebelum hal itu terjadi.


Arga memanggil Hana, sang gadis yang terdiam mematung memandangnya dengan buliran-buliran air mata.


" Hanani Syaufa !! Panggilnya.


Membuat Hana tersadar, dengan cepat Hana mendekati Arga yang terbaring lemah berlumurkan darah.


" Arga bertahanlah !! Sahutnya.


Membuat Arga tersenyum.


" Aku gak tau Han.


Apakah aku yang akan melamarmu terlebih dahulu dan melantunkan surah Muhammad sebagai mahar pertama sesuai permintaanmu. Atau justru akulah yang akan dilamar malaikat maut dan kau yang akan melantunkan surah Yasin serta terdengar isak tangismu sebagai salam perpisahan dihari kematia....


Belum sempat Arga menyelesaikan perkataannya, Hana langsung memangkasnya.


"Gak!


Kamu udah janji bakalan jadi Abu Darda untukku! Kamu gak boleh ninggalin aku." sergah Hana dibalik Isak tangisnya.


Membuat senyum Arga semakin mengembang,meski pandangannya mulai memburam.


"Kini aku tau Han.


Bahwa akulah pria beruntung yang sedang menempati hati gadis yang dijuluki Nusaibah binti Ka'ab, yang bernama Hanani Syaufa binti Tameer, benarkan?"


Hiksss..hiksss... Tangis Hana semakin pecah.


Hana mengangguk membenarkan perkataan Arga.


"Aku akan berjuang sekali lagi Han.


Doakan aku ya! Biarkan Allah yang menentukan jalan cerita kita."


Haiko mengerti bahwa memang Argalah pria yang mendapatkan hati Hana.


Meski sakit, Haiko berusaha untuk tegar menerima kenyataan ini.


Perkataan Arga ini lagi-lagi membuat Hana, ah bukan hanya Hana tapi juga semuanya semakin terpukul.


"Nak!


Kamu putra terbaik ayah.


Ayah tidak izinkan kamu pergi meninggalkan ayah." kata Nazhanul yang tercampur dengan air matanya.


" Ayah.


Hidup Arga milik Allah.


Biarkan Allah yang nentuin ya yah." Sahut Arga. yang nafasnya mulai tersengal-sengal.


"Apa kisahku sudah seperti Sayydina Husein ayah? Yang mati di tengah perjuangannya membela kebenaran?"


Ucapan Arga membuat hati Nazhanul tercabik-cabik. Putra yang ia anggap sebagai pengkhianat, adalah sosok pejuang kebenaran.


"Iya nak." Nazhanul memenjamkan matanya, mengingat betapa sakitnya hati putranya saat ia tidak mempercayai putranya.


Seketika Wardah mengingat kembali kejadian di saat Arga berusia sembilan tahun.


Wardah pernah bercerita pada putra bungsunya itu, mengenai cucunya Rasulullah bernama Sayyidina Husein, terjadi di Karbala tepatnya 10 Muharram. Dimana peristiwa itu Sayyidina Husein tengah berperang.


Lebih mirisnya pasukan sayyidina Husein kalah jauh jumlahnya dari jumlah pasukan lawannya. Kepala Sayyidina Husein terpukul oleh pedang musuhnya, dengan cepat Sayyidina Husein merobek kain jubahnya dan membalutkannya pada lehernya. Dan seketika itu juga robekan kain jubah itu berlumurkan darah. Meski demikian musuhnya tak memberinya kesempatan, mereka kembali melayangkan anak panahnya dan menyerangnya dari segala penjuru membuat kepala Husein terpisah dengan tubuhnya.


Hingga tercabutlah nyawa beliau.


Wardah menceritakan kisah ini pada putranya Arga dengan derai air mata. Begitu juga dengan Arga meski masih berusia sembilan tahun, ia ikut menitihkan air mata seraya berkata.


"Aku ingin seperti Sayyidina Husein bun.


Yang mati di Medan perang untuk menegakkan kebenaran. Meski kepala dengan badanku terpisah." seusai Arga mengatakan hal itu, dengan cepat Wardah mendekap putranya itu.


Dan ya, saat ini ucapan Arga benar terjadi.


Nyawanya kini sedang ada diambang kematian.


Ia berjuang mati-matian untuk menegakkan kebenaran. Hanya saja berbeda medannya.


Air mata Wardah semakin deras mengalir, mengingat perkataan putranya di saat usia sembilan tahun.


Ia mengelus kedua pipi putranya dengan jari jemarinya, sebisa mungkin ia tersenyum manis untuk menyemangati putranya.


Ia sangat bahagia jika putranya Syahid dijalan Allah, akan tetapi tak terpungkiri itu sangat menyakitkan baginya.


Rasa sakit akibat tusukan pisau tajam itu semakin membuat Arga melemah, pandangannya sudah menggelap. Sebelum ia menutup kembali matanya. Pandangan terakhirnya terjatuh pada bundanya yang tak hentinya menangis.


"Bunda jangan nangis ya.


Nyawa Arga milik Allah kan, bun." Kalimat terakhirnya sebelum ia mengucapkan tahlil.


Wardah menggeleng, semakin terisak ketika melihat mata putranya terpejam.


"Lailahaillallah." Tutupnya.


Mendengar kalimat yang Arga ucapkan membuat isak tangis mereka semakin pecah.


Wardah, jantung perempuan itu seakan-akan berhenti berdetak. sekujur tubuhnya bergetar hebat.


Bahkan perihnya kenyataan ini membuatnya lupa cara bernafas.


" Arga !!


Semua orang panik melihat Arga yang sudah menutup matanya. Bahkan Izaz yang sedari tadi sibuk menghajar Vachry menghentikan aktivitasnya.


Ia berlari mendekati adiknya.

__ADS_1


"Arga! Teriaknya menggoyangkan tubuh Arga.


"Bangun, Ga!


Kita menang! Lo udah berhasil ngebersihin nama keluarga Jihan, Ga."


Namun sayang, sang adik tak kunjung membuka matanya.


"Buka mata lo!


Kalau lo gak sadar, lo bukan adik gua lagi." Izaz mulai tak bisa mengendalikan dirinya.


Wardah mendekap putra sulungnya, dan mengelus lembut kepalanya, menenangkan putranya.


"Arga pasti baik-baik aja kan, bun ?


Wardah mengangguk meski berat, rasanya.


" Permisi !!


Izinkan saya memeriksa kondisi Arga." Ujar Nashrun.


Mereka pun mempersilahkan Nashrun memeriksanya.


Melihat ekspresi lesuh Nashrun saat memeriksa Arga, membuat semuanya tengah berpikir buruk.


" Gimana keadaannya, dok ? Tanya mereka.


" Hm, kita langsung bawa Arga ke rumah sakit. Keadaan Arga bisa dikatakan kritis. Pendarahan yang terjadi padanya cukup fatal.


Oleh sebab itu, ia membutuhkan pendonor darah."


Liu...liuu.. Liu..


Sebuah mobil putih dengan lambang tambah di mobilnya terpakir dihalaman Istana.


Ya, ambulance.


" Ambulance sudah datang.


Biar pihak yang bertugas yang menanganinya." Ujar Nashrun.


Semuanya berusaha menahan diri dan mendengarkan perkataan Nashrun.


" Ah dok ?


Tadi dokter ngomong kalau Arga butuh pendonor ?" Nashrun mengangguk." Iya."


" Saya aja dok." Tawar Izaz.


Nashrun mengangguk iya.


Dengan cepat Arga dibawa ke dalam mobil ambulance, ditemani oleh Izaz, dan Wardah.


" Tuan silahkan naik." Ujar pengawal Nazhanul mempersilahkan Nazhanul menaiki mobil Nazhanul.


Nazhanul menatapnya tajam.


" Kau pikir aku butuh mobil ini!" teriak Nazhanul padanya.


pengawal itu tersentak mendengarnya.


" Aku ikut dengan putraku menggunakan ambulance. Urus B*JINGAN itu! ujar Nazhanul.


Pengawal pribadinya pun mengangguk dan segera melaksanakan perintah Nazhanul.


Sementara yang lainnya, menyusul menggunakan mobil lainnya.


Selama perjalanan suara deruh mesin mobil bahkan kalah oleh Isak tangisnya Wardah.


.


.


Kursi besi putih yang dingin, menjadi tempat untuk mereka menunggu Arga, yang tengah berjuang di ruang IGD.


Sudah hampir tiga jam berlalu, kondisi Arga belum ada kemajuan. Izaz yang sudah mendonorkan darahnya kini juga terbaring di ranjang pasien.


Rayhan dan Ranti menemaninya di ruangan itu.


Hana terduduk di lantai rumah sakit.


Diam tak bergeming, hanya ada cairan hangat yang keluar dari sudut matanya.


Ia berharap sang pemilik kehidupan menyelamatkan lelaki yang berada di ruang IGD itu.


" Selamatkan Arga, ya Allah."


Wardah yang sudah tak berdaya, menangis tanpa suara.Raut wajahnya dipenuhi dengan rasa takut yang begitu besar. Hatinya tak pernah lepas untuk memohon keselamatan putranya. Kali ini Wardah memang benar-benar takut putranya tidak terselamatkan.


Sebagai suami, Nazhanul mendekap Wardah dan mengusap lembut kepalanya. Untuk menenangkan istrinya." Allah yang punya kehidupan putra kita.


Arga anugrah yang Allah titipkan untuk kita. Jika Dia masih menitipkan pada kita, itu artinya Allah masih ingin kita menjaganya lebih baik lagi. Akan tetapi, jika Allah menyudahi masa titipan itu kita harus ikhlas Wardah."


Meski berat dan menyakitkan.


Wardah berusaha memahami perkataan suaminya.


Pandangan mereka semua tertuju pada Ruang IGD yang tak kunjung terbuka.


Suhu kekhawatiran merambat dikalangan mereka. Tak henti-hentinya merapalkan do'a untuk sang Argasyah Nazhanul Hakim.


Nazhanul orang yang paling terpukul dalam situasi ini. Manusia terangkuh yang telah menempatkan putranya ke jeruji besi.


Manusia teregois yang menjadikan putranya di kursi terdakwa. Dan hampir saja tervonis hukuman mati.


Air mata yang jarang sekali tercurah bahkan hampir tak pernah keluar. Kini air mata itu keluar tanpa izinnya menguasai setiap sudut pipinya.


Jika waktu bisa di putar kembali.


Ia akan selalu mempercayai putranya, bahkan ia akan selalu mendekapnya dalam pelukannya.


Namun sayang, waktu hanya bisa berputar kedepan, takkan pernah bisa di putar kembali ke belakang. Kini, hanya ada sebuah rasa penyesalan yang menguasai hatinya.


" Wardah.


Aku bukan ayah yang baik dan tak pantas menjadi ayah Arga." ucapnya lirih pada istrinya.


Wardah mendongakkan kepalanya, menatap wajah suaminya yang senduh. Ia mengusap air mata dipipi suaminya.


" Bang !


Abang hanya salah paham saja.


Ini tak sepenuhnya salah abang ya."


Wardah mencoba menenangkan suaminya, agar tidak terus-menerus larut dengan rasa bersalahnya. Ia tau meski sedikit banyak ini termasuk kesalahan suaminya. Namun ia tau suaminya tengah terprovokasi oleh Vachry yang merupakan orang terdekat suaminya.


.


.


.

__ADS_1


Izaz yang sudah tidak tahan berbaring di ranjang pasien, memilih untuk beranjak pergi menuju ruangan IGD.


Sudah tiga jam berlalu.


Barulah sosok dokter dengan postur tubuh yang cukup tinggi keluar dari Ruangan IGD.


Ceklek...


Semuanya mendekat, menghampiri sosok dokter yang menangani Arga.


" Dok !!


Gimana kondisi putra saya ? Tanya Wardah.


" Baik-baik saja kan dok ? Sambung Izaz.


Meski kondisinya sedikit lemah, ia tak peduli dengan kondisinya.


Yang pedulikan saat ini adalah keselamatan adiknya Argasyah Nazhanul Hakim.


Hah... Dokter itu menghembuskan nafasnya.


" Kami sudah melakukan usaha dengan semaksimal mungkin.Tapi Allah belum izinkan pasien bernama Argasyah belum siuman juga." Ujar sang dokter.


Wardah hampir saja terjatuh.


Beruntung dengan cepat Nazhanul menangkap tubuhnya.


" Bang !!


Nazhanul mengusap punggung istrinya, menyalurkan kehangatan untuk menenangkan istrinya.


" Allah selalu menjaga putra kita, Wardah."


" Tusukan pisau itu mengenai bagian perutnya menyebabkan pendarahan masif dengan syok yang dialami bahkan bisa saja menyebabkan kematian."


Membuat semuanya semakin terisak.


Aliran darah di sekujur tubuh mereka, seakan-akan berhenti mengalir.


" Akan tetapi, atas izin Allah Arga masih bisa diselamatkan walau hanya kecil harapannya." Lanjutnya.


Entahlah, mereka tak tau haruskah lega atau justru semakin takut mendengar perkataan terakhir dokter yang berpostur tinggi ini.


" Tugas kita saat ini.


Perbanyak berdoa agar senantiasa pemilik kehidupan membuat Arga bisa melewati masa kritisnya."


" Saya permisi dulu." Pamit sang dokter.


Belum sempat datang dokter itu menjauh dari mereka. Izaz berteriak." Dok ! Boleh kami masuk menjenguk Arga ?


Dokter itu berbalik dan kembali menghampiri mereka.


" Ah, maaf untuk saat ini kondisi pasien masih kritis. Jadi belum diizinkan untuk menjenguknya. Insya Allah, jika sekitar lima jam ke depan ada kemajuan. Maka dipersilahkan untuk menjenguknya."


Jawab dokter yang menangani Arga, kemudian ia berlalu meninggalkan mereka.


Jawaban dokter membuat mereka semakin senduh. Semakin merobohkan pertahanan mereka. 5 jam?


Bahkan Arga sudah berada di rumah sakit sekitar lima jam, dan ditambah lagi lima jam? Itu pun kalau ada kemajuan pada kondisi Arga.


Entahlah, kalau saja waktu bisa diputar kembali. Ingin rasanya Izaz memperbaiki keadaan. Agar saudara laki-lakinya itu tidak akan merasakan hal sesakit ini.


Wardah terlungkai dilantai.


Isak tangisnya semakin terdengar.


Ia meramas erat ujung bajunya, untuk meluapkan kesesakannya.


Pandangannya lurus, pada pintu ruang IGD.


Berharap sosok pemuda tampan, postur tubuh tinggi, putih, keluar dari ruangan itu.


Tak sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.


Hanya ada Isak tangis yang tergema keseluruh Ruangan. Nazhanul ikut terduduk di lantai bersama istrinya.


Ia memejamkan matanya, tak sanggup melihat Wardah sesedih dan sesenduh ini.


Rasanya hatinya seperti tertusuk ribuan belatih, bahkan kewibawaan yang kerap kali ia perlihatkan kini tercabik-cabik oleh pedihnya keadaan yang harus dilewati oleh putranya.


Dan itupun,karena kesalahannya.


Ranti yang melihat Hana juga menangis tanpa suara, segera mendekatinya dan memeluknya.


" Arga pasti baik-baik aja kok." Ucapnya.


Hana membalas pelukan Ranti, dan memeluknya erat.


" Arga pasti baik-baik ajakan, Ran ? Ulang Hana.


Ranti hanya mengangguk dan mengelus lembut kepala Hana yang berbalutkan jilbab berwarna violet itu.


Suasana rumah sakit tampak begitu menyedihkan.


Hening ?


Tidak sama sekali.


Bahkan suara hembusan angin yang berhembus kencang tak ada apa-apanya di bandingkan suara yang berasal dari depan kamar IGD itu.


Membuat mereka yang berlalu-lalang juga ikut perihatin melihatnya.


Argasyah Nazhanul Hakim, sosok putra bungsu dari Nazhanul Hakim kini terbaring lemah di ranjang pasien.


Beberapa hari lalu ia baru saja berada di balik jeruji besi. Dan kini ia pula harus berada di ranjang pasien.


Kehilangan sahabat sekaligus cinta pertamanya.


Dibenci oleh ayahnya karena sebuah kesalahpahaman.


Dan hampir divonis hukuman mati, karena fitnah yang dituduhkan kepadanya.


Dan kini nyawa sedang berada diambang kematian. karena menyelamatkan ayah yang telah membencinya.


Menyedihkan bukan ?


Terlalu berat bukan menjadi Arga ?


Akankah Arga bisa melewati masa kritisnya ?


Akankah Arga bisa menjadi Abu Darda untuk sosok Hana ?


Atau akankah ia bisa mendengar Nazhanul kembali memanggilnya dengan sebutan Putraku ?


Bersambung..


Sevimli 15 April 2021


Salam hangat dari Author 🌹


Minal Aidin Wal Faidzin ya.

__ADS_1


Mohon maaf lahir batin ✨


Kita kirim Alfatihah yuk bareng-bareng buat keselamatan Arga :)


__ADS_2