
Assalamu'alaikum readers Pelangi Hanani :)
Aku mau ucapin makasih yang sebesar-besarnya untuk kalian yang masih stay di cerita ini. Plus aku minta maaf karena sering telat updatenya, percayalah hal itu bukanlah hal yang ku sengaja
Aku udah semester tua
So, jadi sibuk-sibuknya nugas kuliah.
Mohon di maklumi ya hehe
" Mereka yang hebat.
Tumbuh diantara luka yang berat."
..... " Pelangi Hanani 🌹".....
Adzan magrib bergema ke seluruh penjuru Alexandria. Membuat siapa pun yang mendengarnya bergegas untuk melaksanakan fardhu ain tersebut.
" Mbak !" panggil Hana.
" Iya." sahut Hisya, yang sudah berdandan dengan rapi.
" Hana salat dulu, ya." pamit Hana.
" Hmm." hanya jawaban itu yang keluar dari mulut Hisya.
Dengan cepat, Hana pergi menuju kamar mandi untuk berwudhu.
Namun, entah kenapa Hana merasa ada yang mengikuti langkahnya dari belakang.
" Kayak ada yang ngikutin." ucapnya, seraya melirik ke belakang untuk memastikan.
" Tolong !
Siapa pun kamu jangan ikutin saya !" teriak Hana.
Setelah mengucapkan kalimat itu, Hana langsung berlari ke kamar mandi.
Brakk..
Terdengar gubrakan pintu yang begitu keras.
" Gua gak bakal lepasin lo cewek murahan !" ucap seorang dari balik tembok.
Ia pun memutuskan untuk pergi meninggalkan Hana.
Setelah selesai berwudhu, Hana pun segera pergi ke kamarnya. Tanpa memikirkan lagi siapa sosok yang mengikutinya.
" Kau kenapa terburu-buru seperti ini ?" tanya Hisya, yang tiba di belakang Hana.
" Ha ?
Astaghfirullah, mbak Hisya." pekik Hana, terkejut dengan kehadiran Hisya di belakangnya.
" Ah, itu mbak." Hana tengah mencari-cari alasan.
Tiga detik Hana berpikir untuk mencari jawaban, membuat Hisya semakin penasaran.
" Apa ?" tanyanya, mendekati Hana.
" Ada yang mengikuti Hana, mbak." jujur Hana.
" Ha ?
Mengikat ?
Cowok ?" tanyanya.
" Iya deh, kayaknya mbak." jawab Hana.
" Hm, mungkin itu anak buah Emrin." terka Hisya.
" Ahiya, juga ya mbak.
Kenapa aku nggak kepikiran kesana." kata Hana, menyadari akan hal itu.
" Hm, yaudah.
Sekarang kamu salat sana !
Setelah itu kita berangkat ke Bar." ujar Hisya.
Hana pun mengangguk menuruti perkataan Hisya.
Beberapa menit kemudian, setelah selesai melaksanakan salat. Hana pun segera memakai sendalnya pergi menyusul Hisya.
Namun, belum sampai di Bar.
Tangan kekar menarik paksa tangan Hana dari belakang.
" Lepas !" teriak Hana padanya.
Pria itu tak menghiraukan Hana, justru ia semakin mengeratkan genggamannya pada Hana.
" Gua mau buat perhitungan sama lo !" ucapnya, menatap tajam Hana penuh kebencian.
" Perhitungan ?
Apa maksudmu ?" Hana sungguh tak mengerti dengan pria asing ini.
Ia terus menarik tangan Hana, sampai pada akhirnya ia membawa Hana ke sebuah ruangan yang merupakan gudang dari bangunan ini.
" Duduk !" titahnya pada Hana.
" Lepasin saya !" teriak Hana.
" Jangan sampai tangan ku turut tangan !" ancamnya pada Hana.
" Kau pikir aku takut ?" cibir Hana menatap remeh pria di hadapannya ini.
Pria itu tersenyum devil, mendengar kata yang baru saja terlontar dari bibir ranum Hana.
Ia pun menarik kasar jilbab Hana.
" Jangan menguji kesabaran ku !" bisiknya.
" Jauhkan tubuhmu dariku !" teriak Hana lantang.
Nafas Hana memburu, tengah menyimpan rasa amarah dalam hati. Ia memang paling benci dengan lelaki yang berani menyentuhnya tanpa izinnya.
Bughh..
Satu pukulan Hana layangkan tepat pada wajah Pria asing ini.
Satu pukulan itu, mampu membuat pria itu sedikit tersungkur. Ia menyentuh sudut bibirnya. terdapat bercak darah di sana.
" Lumayan juga pukulan mu nona." ucapnya, seraya mendekati Hana.
" Aku tidak tau kau siapa.
Dan juga ada urusan apa dengan saya ?" Hana memberanikan diri untuk bertanya.
" Aku yang seharusnya bertanya padamu.
Kenapa kau begitu murahan sampai mau dengan pria yang sudah beristri." ucapnya, dengan tatapan penuh amarah.
" Murahan ?
Pria beristri ?
Apa maksudmu ?" Hana tak mengerti maksud pria ini mengatakan hal itu.
Pria itu tertawa keras, melihat Hana berpura-pura tidak mengerti maksud dirinya.
" Nggak usah pura-pura deh !" ketusnya.
" Aku tidak sedang berpura-pura." sahut Hana, tak kalah lantang.
__ADS_1
Pria itu semakin mengeraskan rahangnya, amarahnya semakin terkuak mendengar jawaban dari Hana.
Ia merogoh sakunya, mengambil benda persegi dari sana. Setelah menemukannya, ia pun mengutak-atik ponselnya untuk menemukan sesuatu disana.
Beberapa detik kemudian, ia menemukannya.
Ia pun menyodorkan nya pada Hana.
" Lihat ini." ucapnya.
Hana pun menatap layar ponsel pria itu, terdapat poto nya tengah mendampingi Emrin saat bermain kartu di Bar.
Haaa...
Hana menghela nafasnya.
Menutup sejenak matanya.
" Ya Allah, hamba terkena fitnah ini." batin Hana.
" Kau gadis yang cantik.
Kenapa kau mau dengan ayahku ha ?" tanyanya pada Hana masih bernada kan datar.
Hana sentak membuka matanya, menatap pria ini dengan banyak pertanyaan dalam benaknya.
" Ayah ?
Emrin ayahmu ?" ulang Hana, untuk mencari jawaban.
" Iya.
Dia adalah ayahku." jawabnya.
Hana tersenyum tipis mendengar jawaban pria itu.
" Jadi tuan Emrin adalah ayahmu ?
Tapi, kau tidak tau apa yang telah ayahmu lakukan di tempat ini ?" tanya Hana mengintimidasi.
" Aku tau, ayahku sedang berselingkuh dengan wanita murahan seperti mu." jawabnya, menyudutkan Hana.
Plak...
Satu tamparan Hana layangkan padanya.
" Jaga mulutmu !" teriak Hana, tak terima dengan tuduhan pria asing ini.
Pria asing itu memegangi wajahnya yang baru saja Hana tampar.
" Kau pikir tamparan mu itu bisa merubah derajat mu !"
Hana semakin mengembangkan senyumnya.
Sedikit menjauh dari pria asing itu.
" Aku bukan wanita simpanan ayahmu !
Kau tau kenapa aku tampak bersama ayahmu ?"
" Karena aku menjadi sandraan ayahmu !
Dan perlu kau ketahui bahwa ayahmu yang b*jingan itu telah membuat tempat maksiat sebesar ini." Hana tak tahan lagi dengan tuduhan pria itu, ia pun membuka kedok Emrin.
Plak..
Satu tamparan mendarat di wajah gadis berjilbab Olive itu.
" Jaga bicara mu !
Jangan pernah bicara buruk mengenai ayahku !" ucapnya menggelegar ke seluruh sudut ruangan.
Tamparan keras itu cukup terasa panas di wajah Hana.
" Kau harus tau ada banyak hal yang ayahmu sembunyikan dari mu dan keluargamu." ujar Hana, menatap binar bening netra pria bernama Hafga itu.
Kau jangan mencoba untuk menipuku !" Hafga tak percaya dengan perkataan Hana.
" Jika kau masih tidak percaya akan apa yang ku katakan, ikutlah bersamaku agar kau melihat dengan mata kepala mu sendiri."
Hafga menatap tajam Hana, tengah mencari-cari ada kebohongan dari bilik mata gadis itu.
" Sudah berapa kali ayahku menyentuhmu ?"
tiba-tiba saja, pertanyaan itu terlontar dari mulutnya.
Hana menggelengkan kepalanya.
" Belum, tapi hampir saja." jujurnya.
" Maksud mu ?" Hafga tak mengerti.
" Sebulan yang lalu, ayahmu memberikan obat pada minumanku. Bertujuan untuk membuatku tidak sadarkan diri, dan dia bisa meniduri ku.
Beruntung aku mengetahui akan hal itu, dengan cepat aku mengambil kesempatan untuk menukar minumanku dengan minumannya.
Dan akhirnya, ayahmu yang pingsan.
Bukan aku, singkatnya seperti itulah." jelas Hana, menceritakan kejadian sebulan yang lalu.
Hafga terperanjat terkejut mendengar cerita tentang buruknya ayah yang selama ini ia banggakan.
Bughh...
Lutut Hafga terjatuh ke lantai.
Sebuah pernyataan yang begitu menyakitkan.
Ia tak pernah berpikir sedetik pun ayahnya akan melakukan itu. Sebab, ia tau bahwa ayahnya sangat menyayangi keluarganya, terutama dirinya.
" Apa kau tidak sedang berbohong padaku ?" tanya Hafga, nada suaranya berubah lirih.
" Demi Allah, apapun yang kukatakan padamu.
Benar adanya." Hana berulangkali menyakinkan Hafga.
Hafga menatap Hana.
Ia melihat tak ada kebohongan dari netra coklat Hana.
Namun, ia masih tak percaya bahwa ayahnya adalah seorang b*jingan.
" Argghhh !" teriaknya, menjambak kasar rambutnya.
" Apa ayah benar-benar menyembunyikan hal sebesar ini pada ku ?" ia menatap Hana, matanya penuh buliran-buliran kristal.
Hana menganggukkan kepalanya, dengan senyuman.
" Ikutlah bersamaku.
Hari ini ayahmu sedang melakukan kegiatan yang biasa ia lakukan." ajak Hana.
Hana bangkit berdiri, begitu juga Hafga.
Ia pun berdiri menuruti Hana.
Hana melangkah menuju ruangan Bar, dan diikuti Hafga di belakangnya.
Hanya butuh tujuh menit berjalan, mereka sampai di sebuah Ruangan.
Sorak riuhnya tawa, terdengar jelas dari ruangan itu. Bahkan ruangan itu terdengar sangat bising.
" Ini ruangannya." ujar Hana.
Hafga mengangguk mengerti, dengan hati-hati ia membuka pintu ruangan itu.
Terlihat jelas, sosok Emrin tengah bermain kartu bersama teman-temannya. Tak tinggal pula, sebotol bir di tangan kanannya, dan seorang wanita seksi di sampingnya.
__ADS_1
" Ayah." Hafga terkejut melihat dengan mata kepalanya sendiri, ayahnya tengah sibuk bermesraan dengan wanita itu.
Amarah mulai menelusuri dirinya.
Rahangnya mengeras, tangannya tengah terkepal erat.
" B*jingan !" upatnya.
Hafga melangkah masuk ke dalam, berniat untuk menghampiri ayahnya.
Dengan cepat, Hana menarik tangan Hafga dan mencegahnya untuk pergi kesana.
" Kenapa kau menghentikan langkah ku ?" teriaknya pada Hana.
" Hustt !!
Hana meletakkan jari telunjuknya pada bibirnya, mengisyaratkan pada Hafga untuk tidak bersuara.
" Ada hal lain lagi, yang ingin ku perlihatkan padamu, dan ini bukan waktu yang tepat untuk mu membongkar pertahanan kebohongan ayahmu." kata Hana, mencoba membuat Hafga memahami situasi.
Hafga pun mengangguk mengerti.
" Bawa aku ke tempat yang ingin kau tunjukkan kebenarannya." ucapnya pada Hana.
Hana menganggukkan kepalanya, seraya melangkah mengajak Hafga pergi menuju ruang bawah tanah. Tempat para gadis di sekap.
Terlihatlah sebuah pintu berukuran besar di hadapan mereka. Yang bertuliskan " Girl Trixtal Bar."
" Tempat apa, ini ?" kening Hafga berkerut.
" Tempat para gadis tahanan ayahmu." jawab Hana.
Ceklek...
Hana membuka pintu.
" Masuklah." ajak Hana.
Hafga pun masuk ke dalam.
Untuk melihat kebenarannya di sana.
" Hey !
Tuan Hafga, kenapa bisa ada disini ?" salah satu dari gadis di sana mengenali Hafga.
Hafga menatap ke sekeliling, untuk kesekian kalinya ia berhasil dikejutkan oleh fakta menyakitkan mengenai ayahnya.
" Apa benar kalian ini wanita penghibur ?" sentak Hafga bertanya.
Sejenak tak ada jawaban dari mulut para gadis itu, mereka hanya diam saja.
" Jika iya.
Aku akan bebaskan kalian." Hafga menatap serius mereka.
" Benar.
Kami adalah gadis penghibur.
Yang terpaksa melakukan hal terkeji, karena orang tua kami tidak mampu membayar hutang pada ayahmu."
Salma.
Ya, gadis bernama Salma.
Dengan lantang menyuarakan hal yang selama ini ia pendam.
" Apa kau tidak tau perbuatan ayahmu selama ini, tuan ?"sambung lainnya.
Hafga ikut iba, melihat satu persatu dari mereka mulai menitihkan air mata.
" Maafkan aku.
Tenanglah, beberapa hari dari hari ini kalian akan keluar dari penjara ini." tekad Hafga, sepenuh hati.
Hana tersenyum tipis mendengar perkataan Hafga. Ia sangat berharap Hafga segera bisa menghancurkan tempat maksiat sebesar ini.
Dengan rasa penuh amarah berpadu sendu, Hafga pergi meninggalkan ruang bawah tanah.
" Aku membencinya." ucapnya.
Hana tak pergi menyusul langkah Hafga.
Sebab ia tau, bahwa Hafga butuh waktu untuk menerima kebenaran ini, butuh waktu untuk berdamai dengan keadaan ini.
" Hana ! panggil Salma.
Hana menoleh." Iya Salma." sahutnya.
" Kau selalu berusaha untuk mengeluarkan kita dari tempat menjijikkan ini, terima kasih."
ucapnya pada Hana.
Hana mengangguk sambil tersenyum.
" Kita harus keluar dari tempat ini, secepatnya.
Dan manusia brengsek itu akan mendapatkan balasan atas perbuatannya." tukas Hana.
" Terima kasih, Hana." ucap mereka serentak.
" Terima kasih untuk kita, telah bertahan sejauh ini. Telah sekuat ini dan setabah ini." ucap Hana, menghampiri Salma dan memeluknya.
Salma pun membalas pelukan hangat dari Hana. Gadis lain yang melihat mereka berpelukan pun ikut berpelukan.
" Kita kuat, kita bukan gadis yang lemah."
ucap mereka serentak.
Cukup lama mereka berpelukan.
Sampai akhirnya, seseorang datang membuka pintu.
Ceklek.
Sentak saja, mereka melepaskan pelukan.
Dan kembali ke posisi masing-masing.
Dua pria berotot langsung saja, menarik paksa tangan Hana ikut bersama mereka.
" Ikut kami."
" Lepas !
Saya bisa berjalan sendiri." protes Hana.
Kedua pria berotot besar itu tak mendengarkan Hana.
" Hana !
" Hana mau dibawa kemana ?" mereka khawatir melihat Hana ditarik paksa seperti itu.
" Sal !
" Hana gadis yang kuat.
Aku yakin keberuntungan kerap kali datang menyapanya.Tuhan akan selalu melindunginya."
Salma mencoba yakin akan kuasa Tuhan.
Bersambung..
Sevimli 23 November 2021
Salam hangat dari Author 🌹
__ADS_1