Pelangi Hanani

Pelangi Hanani
Part 84 Bertemu dengan orang baik


__ADS_3

" Jangan pernah ragu melangkah di terminal keberangkatan.


Meski setiap guncangan datang menerpa.


Meski setiap guyuran kesakitan menyapa.


Itu jauh lebih baik, daripada harus berada dalam ketidakbenaran."


......" Pelangi Hanani 🌹"......


Keesokan harinya.


Pagi-pagi sekali Hana dan Ranti sudah standby untuk berangkat menuju Bandara.


Mereka berdua mengambil jadwal penerbangan pagi yaitu sekitar pukul 08.15 Wib.


Hana dan Ranti berpamitan pada Bapak dan Ibu Hana dan juga dengan si bungsu Rahmet.


" Pak, Ibu Hana pamit ya.." Kata Hana pada kedua orang tuanya.


Kedua orang tua Hana memeluknya.


Sang ibu mengusap lembut kepala Hana.


Kepergian Hana kembali membuat keduanya bersedih.


Ya, putri satu-satunya ini baru saja sebulan yang lalu kembali ke rumah. Kini harus pergi lagi ke Malaysia.


" Kamu baik-baik di Malaysia ya nang." Air mata Tameer akhirnya menetes juga.


Hana sudah menceritakan semuanya pada kedua orang tuanya.


Ia tak ingin menyembunyikan apapun.


Oleh sebab itu, untuk mempermudah langkahnya. Ia meminta izin kedua orang tuanya untuk ikut memperjuangkan kasus ini.


Hana tersenyum dan melepaskan pelukan keduanya." Bapak gak boleh nangis loh.


Hana kan bakalan balik lagi kesini." Hana menghapus air Tameer.


Ibu Hana juga tak dapat menahan air matanya.


" Doa ibu menyertaimu nak." Ujar sang ibu.


Hana meraih tangan ibunya dan menciumnya.


" Berjanjilah nak.


Untuk kembali ke rumah, bapak yakin kalian semua adalah generasi penerus pejuang Islam." Tameer mengembangkan senyumnya.


" Insya Allah atas izin Allah, Hana akan kembali sebagai pemenang." Hana tak ingin kedua orang tuanya khawatir akan dirinya.


" Bagaimanapun besarnya peluang ketidakbenaran berdiri, tetap saja kebenaran akan selalu tersedia untuk menyingkirkannya.


Meski berat memperjuangkannya, bukan berarti tidak bisa membaswarakannya. Jangan pernah biarkan deranamu luntur oleh apapun nak." Nasehat Tameer pada putrinya Hana.


Hana tersenyum memahami apa yang Bapaknya ucapkan.


Meski hanya sekedar ucapan, namun itu bisa dijadikan cambuk untuk diri kita.


Tin...


Tinnn.. Bunyi klekson mobil travel yang mereka pesan.


" Ah, mobilnya udah datang pak.


Hana dan Ranti izin berangkat ya Pak." Hana menyalim kedua tangannya orang tuanya bergantian.


Begitu juga dengan Ranti, melakukan hal yang sama pada paman dan bibinya.


" Ranti pamit ya aunty.


Paman." Ujarnya pada keduanya.


Detik selanjutnya, Rahmet menyalim tangan Hana.


" Kak titip salam sama kak Arga." Kata Rahmet pada tahun.


Hana mengangguk." Kamu jangan lupa doakan orang kakak ya, agar senantiasa Allah permudah langkah orang kakak dalam menyelesaikan kasus ini." Pinta Hana pada Rahmet.


Rahmetpun mengangguk seraya menaikkan jari kelingkingnya." Insya Allah kak."


Rahmetpun menyalim tangan Ranti." Rahmet tau pasti mereka bisa kalah dibuat mulut kakak yang judes hehe." Ucapnya pada Ranti.


Yang mengundang tawa di antara mereka.


" Rahmet kamu ini, gak boleh gitu." Tegur sang ibu.


Haha...


" Tenang met, bila perlu kejudesan kakak naikin level lagi biar mereka pada tepar." Ya, bukan Ranti namanya, kalau tidak begini.


" Kamu ini ada-ada saja.


Sudah berangkat sekarang, supirnya udah nungguin dari tadi." Kata Tameer yang memperhatikan mobil travel itu.


Hana dan Rantipun melangkah meninggalkan rumah Hana.


" Assalamu'alaikum." Ucap mereka serentak.


" Waalaikumussalam."


Sudah melangkah keluar, tiba-tiba Hana kembali dan memeluk sang ibu.


" Hana." Refleks ibunya terkaget.


Hana mendekap erat tubuh ibunya.


Air matanya ikut mengalir cukup deras.


" Ibu doakan Hana ya, doakan kami bisa membebaskan Arga dari tuduhan ini."


Entahlah, Hana tidak tau bagaimana ke depannya.


Akankah mereka berhasil ?


Atau justru gagal ?


Sang ibu melepaskan pelukannya dan mengusap air mata Hana." Hey, tadi siapa yang nyuruh bapak gak boleh nangis ? Kenapa sekarang Hana mala nangis.


Dengar ibu baik-baik.


Jangan pernah ragu untuk melangkah di terminal kebenaran..


Meski setiap guncangan datang menerpa.


Meski setiap guyuran kesakitan menyapa.


Dan membuat kita berada di antara dua pilihan antara hidup dan mati, jika mati sebagai pejuang kebenaran dan hidup sebagai pengkhianat kebenaran.


Maka, mati sebagai pejuang kebenaran jauh lebih baik dari apapun." Ucapnya menyakinkan putrinya.


Hana tersenyum, merasakan ketenangan saat ibunya melontarkan kata-kata bijak itu.


" Terima kasih bu, pak."


Hana kembali melanjutkan langkahnya menuju mobil travel itu.


" Bismillahi tawakkaltu Alallahi, lahaula wa laquwata Illah Billah." Ucapnya dan melangkahkan kakinya.


Hana pun memasukan kopernya dan selanjutnya ia memasuki mobil.


Seusai Hana naik, supirpun melajukan mobil.


Brummm....


Hana melambaikan tangannya pada keluarganya.


Perlahan-lahan mobilpun menjauh dari rumah Hana. Membuat rumah Hana sudah tidak terlihat lagi.


" Han !! Panggil Ranti.


Hana menoleh." Iya ?


Ranti mengeluarkan ponselnya.

__ADS_1


" Sebaiknya kita hubungi Rayhan gak sih ?


Ngasih tau hal ini ? Tanya Ranti pada Hana.


" Ah iya juga ya Ran.


Sedikit banyak Rayhan juga terlibat dalam kasus ini.." Jawab Hana.


" Bener Han.


Aku hubungi sekarang ya." Kata Ranti.


Rantipun menghubungi nomor Rayhan.


Tittt .. Titt.. Panggilan tersambung.


Jakarta..


" Siapa sih pagi-pagi gini udah ngecall gua aja."


Ya, pria satu ini masih sibuk dengan bantal dan kasurnya.


Sudah menjadi kebiasaannya, setelah sholat shubuh kembali tertidur.


Rayhan meraih ponselnya dan ya, melihat ada panggilan dari " Ranti Sayang."


Ih, menjijikkan sekali bukan ? Wkwk.


" Ah Ranti, pasti deh dia kangen ini mah." Rayhan sotoy pun tersenyum lebar.


Rayhan menggulir tombol hijau dilayar ponselnya." Assalamu'alaikum, kangen ya ?


Ucapnya pada Ranti.


" Waalaikumussalam, ih apaan sih lebay !!


Aku nelpon kamu mau bilang sesuatu." Ujar Ranti disebrang telpon.


Rayhan di bodohpun tersenyum lagi.


" Oh mau bilang I love you pastikan ?


Astaga benar-benar ni anak otaknya udah ngeres.


Isshhh... Ranti berdengus kesal.


Merasa menyesal telah jatuh hati pada pria bodoh satu ini.


" Kamu serius sesekali bisa gak sih ?


Udah deh to the poin aja ni, Arga ditahan di Istana." Kata Ranti tak ingin memperpanjang perdebatan.


Ha ? Rayhan terkejut mendengarnya.


" Ditahan ? Seriusan Ran ? Membuat Rayhan bangkit dari kasurnya.


" Iya, makanya aku hubungi kamu.


Biar bantuin kita nyari bukti buat ngebebasin Arga dari tuduhan ini." Rayhan mengangguk mengerti.


" Dua hari yang lalu sidang pertama udah Arga lewati, dan minggu depan sidang kedua Arga." Jelaskan Ranti pada Rayhan.


" Ya Allah, bagaimana mungkin temanku yang sombong itu bisa kalah. Apa dia tidak memancarkan kesombongannya di persidangan ? Ya Allah, mana bisa orang sombong bertahan semenit aja di sel tahanan."


Manusia satu ini, meski temannya lagi terpuruk. Tidak akan membuatnya berhenti mengupat Arga.


" Rayhannnn..." Teriak Ranti yang mulai kesal dengan Rayhan.


" Hehehe iyaiya..


Tenang Ran, besok gua bakalan terbang ke Malay.. Apapun ceritanya sahabat gua bukan pengkhianat, gua bakal berjuang sampai titik darah penghabisan." Kata Rayhan dengan mantap.


" Alhamdulillah kalau gitu..


Yaudah aku tutup dulu ya.


Aku lagi dijalan menuju Bandara.


Udah ya assalamu'alaikum."


Besok gua kabarin kalau gua udah mau sampai, Waalaikumussalam." Seusai Rayhan mengatakan itu, panggilanpun berakhir.


Dengan cepat Rayhan beranjak ke Kamar mandi untuk membersihkan diri.


Pria bertubuh tinggi kurus itupun, tak ingin membuang-buang waktunya.


.


.


Tak sampai sepuluh menit ia sudah rapi dengan kaus oblong, celana training serta jaketnya.


Rayhan meraih kunci motornya.


Menuruni tangga rumahnya, mampir ke dapur hanya mengambil sepotong roti.


" Ray sarapan dulu hey.." Ujar sang mama.


Rayhan mengunyah rotinya sambil berjalan.


" Gak sempat ma." Jawabnya.


Mama Rayhanpun bingung dengan putranya, tumben sekali pagi-pagi udah keluar rumah.


Ia pun menghampiri sang putra.


" Kamu mau kemana emangnya ? Tanyanya.


" Ray mau mesan tiket pesawat ma." Jawabnya seraya mengeluarkan motornya dari garasi.


Kening berkerut timbul diwajah mamanya.


" Tiket ? Emang kamu mau kemana ? Tanyanya lagi.


Rayhanpun meletakkan motornya dan memanjakannya terlebih dahulu.


Baru ia menghampiri sang mama.


" Ray izin ke Malay ya ma.


Arga di fitnah sama pejabat brengsek itu.


Dan sekarang, Arga ditahan ma." Kelusuhanpun tiba diwajah Rayhan.


" Astaghfirullah..


Kenapa bisa seperti itu nak ?


Sepengetahuan mama Arga itu anak yang baik dan sopan santun." Mama Ray terkejut mendengar perkataan putranya.


Rayhan tersenyum, menggengam tangan sang mama." Ceritanya panjang kali lebar mama.


Setelah kasus ini selesai Ray bakalan ceritakan semuanya ke mama ya.


Sekarang mama ridhokan anak mama yang ganteng ini berjuang untuk Arga." Pinta Rayhan pada mamanya.


Mamanya pun mengangguk, mengizinkan putranya berjuang.


" Apapun itu selagi dirimu berada dalam kebenaran, ridho mama akan selalu bersanding dengan langkahmu nak." Jawab sang mama mengelus kepala putranya.


Rayhan tersenyum melihat kebesaran hati mamanya.


" Makasih ya ma.


Ray pergi dulu ya, assalamu'alaikum." Rayhan mencium telapak tangan mamanya sebelum ia berangkat menuju pembelian tiket.


" Waalaikumussalam, hati-hati Ray."


Rayhanpun melajukan motornya dengan gesit, agar dengan cepat sampai.


.


.


Hana dan Ranti yang masih berada di Taxi travel merasa heran sudah satu jam berlalu, kenapa mereka belum sampai juga.

__ADS_1


" Om kok kita belum sampai-sampai ya ?


Udah satu jam loh om, biasanya juga gak sampai satu jam udah nongol tu Bandara." Tanya Ranti pada supir taxi.


" Iya om, om gak tau jalannya atau gimana ya om ? Sambung Hana.


Sang supir taxipun tersenyum devil..


Ia memberhentikan mobilnya.


Dan dengan cepat ia membuka pintu mobil bagian Hana dan Ranti.


Hana dan Ranti merasa heran melihat supir taxi ini. Apa hendak dilakukannya ?


" Cepat kalian keluar !! Bentaknya, seraya menarik kasar tangan Ranti.


Hana dan Ranti terkejut melihat tingkah laku supir taxi ini.


Bisa-bisanya ada supir gila seperti ini.


" Apaan sih om !! Narik-narik bukan mahrom om !! Gak pernah belajar fiqih kan om pasti !! Teriak Ranti yang tak terima dengan supir taxi yang seenak jidat menariknya.


" Diam kau !! Bentaknya lagi.


Hana yang melihat kejadian inipun tak tinggal diam,ia langsung beranjak keluar dan refleks menendang supir taxi itu.


Bukhhh...Supir taxi itu hampir saja terjatuh.


" Jangan pernah kasar sama perempuan !! Sergah Hana, dan menarik Ranti untuk menjauh darinya.


Hahaha...


" Boleh juga tendanganmu." Ujarnya mendekati Hana dan Ranti.


Hana menganggukkan kepalanya sebagai kode untuk Ranti, melayangkan kopernya pada sang supir gila ini.


" Hiyaaaa..." Rantipun melayangkan kopernya tepat ke arah perut supir gila ini.


Bukhhh...


"Aaakkkkk....


Supir taxi itupun merasakan sakit dibagian perutnya.


" M*ampus Lo !! Ledek Ranti.


" Ran, ayo kita pergi !!


Waktu kita tinggal satu jam lagi Ran." Teriak Hana pada Ranti.


Rantipun mengangguk dan meraih kembali kopernya." Dasar supir gila !! Ketusnya pada Supir yang kesakitan itu.


Hana dan Ranti pun berlari seraya membawa koper mereka. Untuk sebisa mungkin menjauh dari supir itu.


Bukan karena Hana tidak bisa melawannya, melainkan Hana tidak ingin membuang-buang waktunya, dari pada berantem dengan supir gila itu, lebih baik ia mencari taxi lain yang bisa membawa mereka sampai ke Bandara.


" Han supir taxi itu kenapa sih ? Tanya Ranti, masih dalam posisi berlarian.


" Kalau menurut aku sih Ran, dia itu pasti suruhan uncle Vachry..


Sebab dia tau kalau kita mau ke Malay buat nyari bukti-bukti untuk mengungkapkan kedzalimannya." Jawab Hana sesuai instingnya.


" Hm iya juga ya Han.


Benar-benar gila tu orang.


Masih juga di Indo, kita udah dibuat gak bernafas gini." Kesal Ranti.


" Terus kita mau kemana ni Han ?


Capek banget tau gak." Keluh Ranti yang sudah mulai lelah berlari.


Hana pun berhenti." Kita nyari taxi atau angkot yang mau ke Bandara aja ya, aku juga udah capek ni, mana bawaan berat banget lagi." Hana juga sudah merasa lelah.


Rantipun melakukan hal yang sama dengan Hana." Yaudah Han."


Hana pun menghampiri seorang pedagan kaki lima yang jaraknya dekat dengan mereka.


" Permisi pak !!


Mau tanya dari sini ke Bandara ada gak taxi atau angkot pak ? Tanya Hana dengan sopan.


" Oh ada nak tapi sekitar jam setengah sembilan munculnya." Jawaban sang bapak ini membuat Hana dan Ranti langsung lunglai.


" Astaga, gak ada yang lebih cepat ? Ranti memasang wajah sedikit frustasi.


" Gak ada neng, kalau mau mah naik becak aja." Jawab sang Bapak.


" Ah naik becak ya Pak ?


Pangkalan becak sekitar sini dimana ya pak ? Tanya Hana lagi.


" Kalian lurus aja kedepan, nanti ada perempatan, kalian belok kanan nah, disebelah situlah pangkalan becaknya nak." Bapak pedagang kaki lima ini benar-benar baik sekali, masih mau merespon Hana dengan baik.


" Ah makasih banyak ya pak.


Maaf udah ganggu bapak." Hana merasa tidak enakan dengan sang Bapak pedagang ini.


" Ah eneng mah, gak apa-apa nak.


Kan Allah juga bilang neng bahwa


" Dan saling tolong menolonglah kamu dalam kebaikan." Lantas punya alasan apa kita untuk menolaknya neng hehe..." Ujar sang Bapak pada Hana.


Hana dan Ranti terharu melihat pedagang kaki lima yang berhati mulia ini.


Sangat jarang sekali ada yang seperti beliau ini.


Kebanyakan pedagang itu tidak mau diganggu waktunya, meski hanya seperempat menit.


" Masya Allah, senantiasa Allah balas semua kebaikan bapak." Kata Hana dengan tulus padanya.


Rantipun mengeluarkan pundi rupiah dari dompetnya." Pak ini untuk bapak." Ranti memberikan pundi rupiah tersebut padanya.


" Eh gak usah neng, orang cuma jawab gitu doang kok hehe." Tolaknya seraya mengembalikan uang Ranti.


" Kalau bapak nolak, berarti bapak gak percaya sama kita hm."


" Eh bukan gitu neng tap....


" Udah ya pak ini sebagai rezeki dari Allah untuk bapak yang berhati mulia.


Dan rasa terima kasih kami, karena bapak sudah mau berada dalam lingkaran kebaikan." Tutur Ranti padanya.


Bapak itupun tersenyum.


" Terima kasih ya neng.


Senantiasa Allah permudahkan urusan eneng berdua." Ucapnya.


" Insya Allah pak, kalau gitu kita permisi ya pak.


Assalamu'alaikum.." Pamit mereka serempak.


" Iya neng, waalaikumussalam."


Hana dan Ranti pun beranjak pergi menuju pangkalan becak yang dimaksud sang pedagang kaki lima tersebut.


Benar saja, dibalik adanya kejadian buruk pasti ada hikmah yang bisa dipetik.


Seperti halnya Hana dan Ranti, bertemu dengan supir taxi yang tidak bertanggung jawab itu, bisa menjadi pelajaran untuk mereka ke depan.


Agar lebih berhati-hati lagi dalam mempercayai seseorang.


Dan hal yang paling pentingnya, meski keterpurukan datang menyapa, tindakan yang perlu diambil bukanlah menyerah melainkan terus berusaha sampai puncak usaha itu terhenti oleh waktu.


Atas izin Allah, setelah bertemu dengan orang yang berhati dzolim, mereka bertemu dengan pedagang kaki lima yang berhati mulia.


Terima kasih sudah menjadi orang baik :)


Bersambung...


Sevimli 24 Maret 2021


Salam hangat dari Author 🌹

__ADS_1


__ADS_2