Pelangi Hanani

Pelangi Hanani
76 Satu kebenaran lagi


__ADS_3

" Sebrengsek-brengsek apapun seorang ayah, keberadaannya tetap sangat berarti untuk putra-putrinya."


......" Pelangi Hanani 🌹"......


Masih dengan memaksimalkan kecepatannya, Arga terus mengejar sosok pembunuh bayaran itu.


Dan ya, benar saja Rayhan tak berhentinya mengupat di belakang.


Secepat kilat Arga melajukannya, sepanjang itu pulalah Rayhan mengupat.


Brummm..


Arga menggas full motornya. Tidak ingin kehilangan jejak pembunuh bayaran itu.


"Sumpah Ga !! Gua gak mau mati muda.


Tapi kalau nikah muda gua mau syeitan !! Maki Rayhan pada Arga.


Arga masih fokus mengejar pembunuh bayaran itu, sampai-sampai ia tak mengindahkan lalu lintas.


Menerobos lampu merah tepatnya.


"Woy gila, Lo! Lampu merah ogeb." teriak Rayhan.


Arga tak mendengar perkataan Rayhan.


Tiba-tiba saja ada beberapa polisi yang berada di depan mereka.


"M*mpus! Polisi, Ga." ujar Rayhan menepuk-nepuk bahu Arga.


Arga mengerutkan keningnya "Terus kalau polisi gua cium tangan gitu."


Bugh..


Rayhan menampol kepala Arga yang dibalut dengan helm


"Polisi Malay beda sama Polisi Indo, nggak usah elo samain! Polisi Indo ada uang adek sayang, nggak ada uang abang adek tendang!" kata Rayhan, sedikit resah dengan kondisi mereka saat ini


Ya, pasalnya Rayhan baru sampai di Indonesia dua hari lalu setelah 3 tahun lamanya ia study di Malaysia. Otomatis sama sekali belum sempat mengurus surat izin mengemudi


"Sialan! Ga, elo buruan putar balek cungu!" titah Rayhan pada Arga.


Namun, Arga sama sekali tidak menggubris Rayhan. Bahkan tanpa ragu ia terus menerjang maju ke depan melewati beberapa polisi itu.


"Sumpah ya Ga, gua nggak tau jalan pikiran elo gimana." Rayhan sudah pasrah


Sementara Arga tidak ada rasa takut sedikitpun. Ia justru tersenyum lebar


"Udah deh pasrah gua."


Benar saja, ia tersenyum kepada beberapa polisi yang mereka lewati.


Yang membuat lebih terkejut polisi yang berkumis tebal itupun membalas senyuman Arga.


Rayhan menganga lebar melihat ekspresi polisi-polisi itu.


Bisa-bisanya mereka tersenyum pada Arga.


Ternyata selain menghipnotis perempuan dengan pesona wajahnya, Arga juga bisa menghipnotis para pria dengan senyumannya.


" Astaga kesambet apaan ni polisi, kok pada senyum begini."


" Lo pakai Jimat apa sih Ga ?


" Cihh, Lo kira gua dukun apa."


" Ya kali aja Lo pakai Jimat."


" Elo kalau ngomong sekali lagi.


Gua jorokin Lo ke Got."


" Et dah, motor-motor gua.


Kok gua yang mau dijorokin..GILA Lo.."


" Berisik Lo !!


Lo lupa apa kalau punya temen anak Raja." Ujar Arga mengingat kedudukannya pada Rayhan.


Rayhan melotot kaget, kesambet apa ni orang tumben banget mau mengakui status yang biasanya tak pernah di bahas.


" Hm iya deh iya..


Gua anak bawahan, gua diam."


Sssttt..... Tiba-tiba saja Arga merem mendadak..


Bukhh.. Kepala Rayhan terantuk dengan kepala Arga.


Detik selanjutnya Arga menepikan motornya.


Dan turun mengikuti langkah Pembunuh bayaran yang juga menepikan motornya.


" Astaga...


Ga, Lo kalau mau bunuh gua gak gini juga caranya BRENGSEK..." Upat Rayhan yang merasa kesakitan pada kepala sekaligus punggungnya.


Arga terus mengikuti langkah Pembunuh bayaran itu, mau tak mau Rayhan juga ikut menyusul Arga.


" Astaghfirullah, apes banget sih.


Tau gini tadi gak usah ngajak ni orang." Keluh Rayhan.


Pembunuh bayaran itu memasuki sebuah rumah yang tampaknya sudah cukup lama tidak berpenghuni.


Arga mengikuti langkahnya mengendap-endap. Agar tidak ketahuan.


Begitu juga Rayhan, ia melakukan hal yang sama.


Di dalam rumah tersebut, tak ada gerak-gerik mencurigakan yang dilakukan oleh pembunuh itu.


Ya, ia hanya sekedar ke kamar mandi..


Dan keluar dengan wajah yang basah, tangan yang basah serta kaki yang basah..


Ia kemudian meraih sajadahnya, dan menggelarnya dengan rapi..


Tunggu-tunggu, sajadah ?


Apa pria ini mau sholat ?


Arga dan Rayhan yang memperhatikan dirinya, ikut bingung..


Ya, ternyata disisi lain keburukannya.


Ia ternyata melaksanakan ibadah juga.


" Ga, ni orang sholat juga ?


Arga mengangguk." Hm, kebaikan berpadu pada kejahatan."


" Imbang banget hidupnya..


Ibarat makanan ni ya, empat sehat lima sempurna." Kata Rayhan pada Arga..


Selang beberapa menit, akhirnya pembunuh bayaran itupun selesai dengan urusan ibadahnya.


Langsung saja Arga melangkah mendekatinya, tanpa ragu.


Arga masih ingat bagaimana pria ini memitnah ayah Jihan..


Sampai ayah Jihan diusir dari Istana.


Bahkan juga mengalami kecelakaan, yang merenggut nyawa Jihan serta keluarganya..


Darah Arga mulai mendidih...


Emosinya mulai meluap..


Rasa kesesakan yang mendominasi, membuatnya sudah tidak tahan ingin menghabisi pria ini..


Dengan tangan mengepal..


Gigi mengeras...


Bukhh... Arga melayangkan pukulan padanya.


" BRENGSEK !!! Maki Arga.


Pria itu pun terkejut melihat keberadaan orang yang ia hindari, bisa berada di hadapannya..

__ADS_1


" Kau.." Menatap Arga dengan penuh keterkejutan.


Bukhh...


Bukhhh... Arga terus mendaratkan pukulannya.


Ia meraih sudut bibirnya yang ternyata sudah berdarah, akibat pukulan Arga.


" B*ngsat !! Upatnya pada Arga.


Kali ini ia tak berdiam diri.


Bukhhh... Ia membalas pukulan Arga..


Tepatnya mengenai sudut bibir Arga juga.


Arga menyentuh bibirnya, dan yang meninggalkan darah di tangannya..


" HAHAHA..


Boleh juga.." Arga pun tak mau kalah langsung membalasnya..


Bukhhh...


" Kenapa kau melakukan hal keji !!


Tapi disisi lain kau melakukan hal baik..."


" Bukan urusan mu !! Bentaknya pada Arga.


Bukhh.... Arga semakin emosi kembali memukul pria itu dan mengunci setiap gerakannya..


Bukhhh..


" Karena kau aku kehilangan Jihan.."


Bukhhh...


" Aku akan membunuhmu sekarang juga.."


Bukhhh...


Bukhh...


Pria yang dibabak belur habis-habisan oleh Arga, sudah tampak tak berdaya untuk melawan..


Rayhan yang melihat kejadian itu, menghampiri mereka.


" Ga, udah ga !!


Lo jangan jadi pembunuh, Ga !! Ujar Rayhan yang mengkhawatirkan hal yang tidak diinginkan akan terjadi.


Bukhh..


Arga yang sudah terselimuti amarah, tak menghiraukan Rayhan..


Terus memukul pria itu..


Bukhhh...


Pria itu tersungkur ke lantai.


" HAHAHA... Tawa lepas terdengar dari mulut pria itu.


Rayhan yang sudah melihat Arga tak dapat mengontrol emosinya, pun menariknya Arga menghentikan pukulan-pukulannya.


" Ga, udah Ga.." Ucapnya.


" Kau tau tak kenape aku lakukan semua ni ?


Meski terbaring lemah pria itu masih sanggup untuk berbicara.


" Aku melakukan semuanya karena uang..


HAHAHA...


Mendengar jawaban dan tawa pria itu, membuat Arga semakin memanas..


Ya, bagaimana tidak ?


Bisa-bisanya pria brengsek ini tertawa atas pria laku keji yang ia lakukan..


" B*NGSAT..."


Bukhh...


Satu hal yang saat ini terlintas di benaknya, ia ingin menghabisi pria ini sekarang juga..


"Bisa-bisanya kau tertawa setelah menghilangkan nyawa orang !!


B*IADAP !!! Setan !!!


Bukhhh...


Bukhhh...


Bukhh...


Pukulan demi pukulan yang Arga layangkan membuat pria itu tak berdaya lagi sama sekali..


Bahkan jangankan untuk berbicara, menggerakkan jari jemarinya saja ia susah..


"Ga udah Ga! Tahan emosi Lo!


Jangan mau di tawan oleh emosi Lo sendiri !! Kata Rayhan yang mencoba menghentikan Arga.


" Lepasin gua !!


Biarin gua bunuh si brengsek ini." Arga menolak Rayhan dengan keras..


Bukhh...


Tetap memukul pria itu, meski pria itu tak dapat melawan lagi..


" Karena kau AKU KEHILANGAN JIHAN..


BRENGSEK !!


"Ga! Udah, Ga!"


Jangan sampe lo ngebunuh orang, Ga!


Jangan mau dikuasai setan, Ga! Kontrol emosi lo! Minta perlindungan Allah!" ujar Rayhan yang kembali menarik Arga untuk berhenti memukuli pria yang sudah membunuh ayah Jihan.


Bukhhh..


Bukannya mendengar perkataan Rayhan, Arga justru melayangkan pukulannya pada Rayhan.


"DIAM Lo!


Gak usah ikut campur!" kini Arga sudah diselimuti emosi yang tidak memadam..


Rayhan menyentuh bibirnya yang berdarah.


"BRENGSEK!" upat Rayhan.


Bukhh...


Rayhan membalas pukulan Arga.


"Gua tau gimana hancurnya!


Gua tau sesakit apa dan sesesak apa dada Lo! Tapi bisa nggak sih! Elo nggak usah mau di kuasai sama emosi Lo! BISA NGGAK SIH ELO KONTROL EMOSI LO B*JING!" teriak Rayhan sudah tidak tahan lagi melihat Arga.


Arga terduduk lemah di lantai, buliran-buliran hangat mulai menghujani pipinya.


"Gua cuma mau balas semua yang udah lakuin ke keluarga gua, Ray!" lirihnya.


"Ga! Dia emang brengsek. Tapi, lo ingat 1 hal, dia masih punya putri yang usianya balita, Ga.


Sebrengsek-brengsek apapun seorang ayah, putrinya tetap membutuhkan keberadaannya Ga, jadi elo nggak boleh egois mau ngebunuh dia!" Rayhan berjongkok di depan Arga.


"Dengan lo ingin menghabisi pria brengsek ini, sama aja elo mau buat luka terdalam untuk putrinya, Ga." kali ini Rayhan tampak dewasa dengan perkataannya.


Arga menatap intens Rayhan..


Begitu juga dengan pria itu menatap senduh Rayhan, meski dengan samar-samar.


Benar apa yang dikatakan Rayhan.


Sekeji apapun seorang lelaki yang sudah berstatus ayah, keberadaannya sangat berarti untuk putra-putrinya..

__ADS_1


" Udah ya Ga !!


Ini bukan Arga sahabat gua..


Arga sahabat gua itu, gak pernah mukul orang saat keadaan orang itu lemah..


Gua gak mau Lo ngotori tangan Lo, buat bunuh si brengsek ini Ga !!


"Gua tau elo mau beri keadilan untuk keluarga lo dan keluarga Jihan. Tapi tolong ya, Ga! Jangan dengan cara elo menyandang status pembunuh. Najis berat gua! Tercemar nama gua kalau berteman sama pembunuh. Nggak sudi gua berteman sama pembunuh, entar gua bakalan turun kasta anjir!" Kata Rayhan dengan tawa yang diselimuti mata yang berkaca-kaca.


"Setan lo!" upat Arga yang juga ikut tertawa dibalik isaknya.


Detik selanjutnya Rayhan mendekati pria yang sudah terbaring tak berdaya itu.


Ya, dapat diakui Rayhan memang kerap kali menunjukkan kebobrokannya, namun, jauh dari itu semua Rayhan sebenarnya mempunyai kedewasaan yang tinggi.


Dan ya, kedewasaannya akan tiba di waktu yang tepat.


" Uncle !!


Saya tau ada sebab sesuatu hal yang membuat Uncle melakukan semua ini." Kata Rayhan padanya.


Arga melotot, melihat Rayhan mengajak pria itu berbicara.


" Uncle pernah tak terpikir ?


Apa yang Uncle lakukan itu sebenarnya salah ?


Rayhan tersenyum masam padanya..


Dan pria itu pun berusaha bangkit dari baringnya.


Namun, tetap saja ia tak mampu untuk bangkit.


Rayhan pun mengulurkan tangannya, untuk membantu pria itu.


Dengan terpaksa pria itu pun menerima uluran tangan dari Rayhan.


Pria itu pun berhasil bangkit, dengan posisi duduk.


" Uncle pernah tak ? Menyesali semua perbuatan kejam yang Uncle lakukan ? Sambung Rayhan lagi padanya.


Pria itu menunduk, tak tau harus menjawab apa untuk pertanyaan-pertanyaan yang Rayhan layangkan padanya.


Jujur, dari hati kecilnya.


Penyesalan memang kerap kali menghampirinya.


" Saya tau uncle..


Jauh dari lubuk hati Uncle yang paling dalam, Uncle sebenarnya sangat menyesal dan mengutuk perbuatan uncle." Kata-kata Rayhan kali berhasil membuat pria itu perlahan menitihkan air matanya.


Hikss...


Hikss...Hikss ...


" Jujur saye sebenarnya rase menyesal kerap kali menghampiri saye..


Rase bersalah selalu saja datang singgah Kat saye..


Bahkan almarhum juga tak segan-segan menghampiri saye kat mimpi.


Saye nak keluar dari masalah ni, tapi saye dah terlanjur masuk dalam jurang permainan ini."


Ucapnya dengan lirih dan penuh kejujuran.


Arga terhenyak mendengarnya, begitu juga Rayhan ia menepuk pundak pria itu.


" Boleh saye tanya satu soalan ? Tanya Rayhan dengan serius.


Pria itu mengangguk dalam tunduknya.


" Ape yang sebenarnya terjadi sehingga uncle lakukan benda ni ?


Pria itu mengangkat kepalanya, memandang Rayhan." Masa tu lelaki tu cakap bahwa Raja Nazh bakalan melakukan tindak diskriminasi dengan care nak mengangkat harkat dah martabat para pendatang dari Indonesia.


Awalnya saye tak percaya..


Namun, entah kenapa perlahan demi perlahan seraya ia selalu mengatakan hal itu..


Masa tu bukti juge always berpihak pade apa yang dia kate..


Ye, salah satunya almarhum yang diangkat sebagai Gubernur Istana.


Tak lama kemudia ada juge asal Indonesia yang diangkat juga sebagai staff Istana. Dan die juge cakap kalau dirinya tengah turun jabatan.


Dari situlah saya mulai percaya dengan ape yang dia cakap..Rasa marah dan bencipun mulai mendominasi hati saye..


Sampai pada akhirnya die mengajak saye melakukan planning itu. Dan saye yang masa tu dibutakan amarah pun, tanpa pikir panjang saye lakukan ape yang die lakukan..


Saye menyesal karena sudah terhasut olehnya..


Saye menyesal nak.." Pria itu menceritakan apa yang sebenarnya membuatnya berada dalam rencana keji ini.


Cairan hangat mulai terbendung di mata Arga..


Mungkin hanya dengan satu kali kedipan cairan itu akan tertumpah ruah.


Begitu juga dengan Rayhan, ia tersenyum haru melihat kejujuran pria di hadapannya ini.


Sorot matanya tak terlihat menunjukkan sedikit kebohongan pun.


" Apa hanya karena itu tidak ada hal lain ? Tanya Rayhan yang seakan-akan menebak sesuatu.


" Awak benar, situasi masa tu juge memaksakan saye melakukan hal brengsek itu..


Saye butuh uang sebab, istri saye nak melahirkan tapi tak dapat lahirkan dengan normal kena operasi.. Biaya masa tu boleh cakap mahal sangat. Saye tak tau lagi harus cari kat mane uang sebanyak itu. Dan akhirnya saye pun melakukan hal yang ia perintahkan.


Hikss.. Hikss... Saye pembunuh !! Saye pemitnah !! Saye pembunuh nak.." Teriaknya pada Rayhan.


Rayhan menggengam pundaknya.


" Kalau memang uncle merasa bersalah, inilah saatnya uncle harus bertanggung jawab atas semuanya.. Selesaikan dengan gentle uncle, jangan lari macam ni." Nasehat Rayhan padanya.


Pria itu menggeleng." Saye bukan nak melarikan diri, melainkan die yang mengancam saye kalau saye tak pergi jauh dari Malay, istri dan putri sayelah yang akan mendapat balasannya..Saye tak nak terjadi hal buruk kat mereka, dengan pakse hati saye pun pergi kat Indonesia dengan putri dan istri saye."


Terlintas rasa bersalah di hati Arga, ternyata selama ini, pria yang kerap ia gelar pembunuh bayaran melakukan semuanya karena terhimpit oleh keadaan.


Buliran-buliran hangat yang Arga tahan, kini terjatuh membasahi wajah tampannya.


Ia tak tau sesulit ini ternyata pria ini, sebab itu melakukan hal bodoh ini.


Arga mendekatinya, ia mengusap air matanya.


Kemudian ia menggerakkan pundak pria itu.


" Uncle maafin saye.." Ucapnya menangkupkan kedua tangannya.


Mereka berdua menatap dalam kesalahan.


Tangis mereka mulai pecah...


" Awak tak layak minta maaf, ape yang awak lakukan itu benar bahkan sangat benar...


Saye memang pantas mendapat balasan atas perbuatan keji saya." Tolaknya pada Arga dan menurunkan tangan Arga.


" Uncel ketahuilah, Raja Nazh itu adalah Raja yang baik dan bijaksana.


Ia tak pernah sikitpun nak berat sebelah kasihnya. Percayalah !!


Bukti nyata dari semua kebaikannya itu tertanam sepenuhnya pada pria yang berada di hadapanmu ini.." Ujar Rayhan seraya tersenyum hangat pada Arga.


Pria itu menatap Arga dengan senduh, ia tak memperdulikan luka-luka yang Arga layangkan padanya.


Ia mengangguk setuju dengan perkataan Rayhan.


" Uncle !! Jika hati kecilmu mengatakan sepenuhnya bahwa apa yang ku katakan ini benar adanya, maka kembalilah ke Malay, cari semua kebenaran yang telah jauh dari pandangan mu. Selepas itu ikut andillah dalam menegakkan kebenaran !!


Terkadang kebenaran itu akan tertutupi, ketika kita telah terfokus pada satu titik yang terlebih dahulu menghampiri kita ketimbang kebenaran."


Ya, sumpah kali ini Rayhan dengan kata-kata bijak harus di ajungin sepuluh jempol.


Ternyata sedewasa ini pria yang telah menarik hati Ranti.


Benar bukan jikalau kita telah terfokus pada satu titik yang datang sebelum sesuatu hal yang berkaitan dengan kebenaran.. Maka kita takkan pernah menoleh pada kebenaran tersebut. Selama tidak ada yang menyadarkan kita. Minim rasanya untuk kita tersadar.


Bersambung..


Sevimli 19 Februari 2021


Salam hangat dari Author 🌹

__ADS_1


Jangan lupa untuk like and Votenya :)


__ADS_2