
" Allah itu ada meski tidak terlihat akan tetapi, bisa dirasakan kehadirannya."
....." Pelangi Hanani 🌹".....
• Florida, Amerika.
Sosok Anugrah tengah berdiri menghadap patung Tuhan di agamanya.
Menatap lekat-lekat Tuhannya penuh dengan harapan dan juga tanya. Harapan Tuhan memudahkan segala urusannya dan tanda tanya mengapa Tuhan menjatuhkan hatinya pada Islam kalau pada akhirnya, ia dipersulit untuk memeluknya.
" Tuhan !
Entah aku yang egois atau memang seperti inilah kecaman takdirku ?
" Aku tak pernah menyangka bahwa hatiku akan berpaling dari agama ini, namun aku juga tak bisa pungkiri bahwa hatiku memang benar terpikat pada Islam.
Tuhan !
Apakah ini memang benar keputusan takdir terbaikku ? Atau hanya sebagai pengujian keimanan ?
"Antara iman dan hati keduanya saling terikat!" ujar pria yang berada di belakang Anugrah.
Anugrah berbalik ke belakang.
Dan ya, sosok pria penjaga Gereja datang.
Ia mendekati Anugrah.
" Ketika kau menautkan antara iman dan hatimu. Maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan, diragukan sebab itulah semutlak-mutlak nya jawaban."
nasehatnya pada Anugrah...
Anugrah hanya terdiam, melirik pemuda itu dengan senyuman khas miliknya.
" Ya benar.
Iman terletak di dalam hati oleh sebab itu, ia terikat dengan hati." sahut Anugrah.
Pria itu menghampiri Anugrah, tanpa segan ia menyentuh pelan pundak Anugrah.
" Aku dulu juga pernah berada diposisi ini.
Jatuh hati pada Islam dan juga jatuh cinta pada seorang wanita muslim. Selama setahun aku mempelajari Islam. Benar saja, aku memang mendapati kebenaran itu bahkan aku juga tengah merasakan kehangatan saat belajar Islam.
Aku berpikir aku akan menjadi seorang muslim." pria itu menjeda beberapa detik ucapannya.
Matanya mulai berkaca-kaca.
Anugrah yang menyadari hal itu, bertanya-tanya dalam benaknya.
" Tapi ternyata sampai sekarang aku tetaplah seorang pria Protestan. Saat aku hendak memuallafkan diriku, disaat itu jugalah wanita muslim yang kucintai menikah dengan pria pilihan orang tuanya.
Saat itu aku hancur sehancur-hancurnya, bahkan sejak saat itu, aku menjauhi Islam dan memutuskan untuk tetap menjadi Protestan. Aku mulai menyadari bahwa hatiku memang terpikat pada Islam tapi belum sepenuhnya.
Padahal sudah banyak hal yang menyakinkan hatiku untuk memeluk Islam, but bibirku belum kunjung juga tergerak untuk mengucapkan syahadat. Ternyata niatku lah yang belum lurus sempurna."
Masa lalu yang ia ceritakan pada Anugrah mengingatkan Anugrah pada Hanani Syaufa.
Apakah ia juga ingin masuk Islam, karena gadis itu ?
pikirannya sejenak.
" Ya, Hidayah Allah.
Sekeras apapun dunia telah membuktikan bahwa Islamlah agama yang benar. Hati dan pikiran kita telah mengakui bahwa Islamlah agama yang lurus. Jika Allah belum menghendaki nikmat Islam itu pada kita maka, tetap saja kita tidak akan bergerak untuk memeluknya."
" Merenunglah!
Tata lebih rapi lagi niatmu, nak!
Jangan sampai hal yang sama terjadi pada dirimu. Yakinkan dirimu! Jika memang hatimu tengah terjatuh pada Islam, makanya genggamlah erat hatimu pupuk ia dengan dakwah Islam. Tuhan memberkatimu nak ! ucapnya seraya menepuk pelan pundak Anugrah.
Setelahnya, pria itu pergi meninggalkan Anugrah yang masih terdiam paku menatap punggungnya.
" Terima kasih nasehatnya, pak." teriak Anugrah yang diangguki oleh pria itu.
Anugrah pun kembali menghadap Tuhannya, mencoba mencari-cari jawaban.
Apakah benar dia memang sepenuhnya ingin memeluk Islam karena Allah ?
Atau hanya karena terpikat sesaat ?
" Tinggal setitik lagi.
Aku akan menuntaskannya, maaf Tuhan jika aku akan mengkhianatimu." ucap Anugrah melangkah meninggalkan Gereja.
Ia pun pergi ke halte bus, menunggu bus untuk kembali ke Apartemennya.
Ya, kali ini ia terpaksa naik bus.
Dikarenakan, mobilnya dipinjam oleh temannya Jekfan.
Bughh...
Tiba-tiba saja seorang pria yang tanpa sengaja menabrak Anugrah.
" Ehhh sorry, I accidentaly." ucapnya pada Anugrah.
Anugrah pun menggeleng, dan menoleh padanya. Yups, betapa terkejutnya Anugrah.
Saat melihat sosok yang berada di hadapannya ternyata adalah pemuda muslim yang pernah ia temui saat di Canada dulu.
" Kamu ! pekik Anugrah terkejut.
" Bang ! ia juga terkejut saat melihat Anugrah.
Keduanya pun tersenyum, kemudian saling menjabat tangan. Keduanya pun mencari tempat duduk yang nyaman untuk mengobrol. Ya, di bangku halte bus adalah pilihannya.
" Gimana kabarnya bang ? tanyanya pada Anugrah.
" Baik, kamu ?
" Alhamdulillah, baik bang." jawabnya.
__ADS_1
" Hm, baguslah.
Ahiya, kamu disini kuliah juga ? tanya Anugrah.
" Alhamdulillah, iya bang.
Abang sendiri juga kuliah disini ?
Anugrah mengangguk.
" Di Universitas of south Florida.
Kalau kamu ? tanya Anugrah balik.
" Oh, kalau saya di Universitas of Central Florida, bang." jawabnya.
" Ahiyaiya saya tau."
Beberapa detik tak percakapan diantara keduanya, saling sibuk dengan ponsel masing-masing.
Sampai akhirnya, ada sebuah pertanyaan yang tercokol di kepala Anugrah.
" Hm, kemarin saya puas dengan jawaban kamu. Kali ini ada hal yang ingin saya tanyakan lagi padamu." ucapnya.
Pemuda itu pun tersenyum.
" Hm, nama saya Alkan mundzar, panggil Alkan aja bang. Asing rasanya kalau kita ngobrol tapi gak kenal satu sama lain." ucapnya memperkenalkan dirinya.
Anugrah pun tersenyum simpul.
" Ahiya juga saya Anugrah Pota Mendrofa, panggil aja Anugrah."
" Apa yang ingin bang Anugrah tanyakan ?
Insya Allah saya akan jawab semampu saya."
" Bagaimana bisa kita percaya bahwa Tuhan itu ada sementara wujudnya tidak ada ?
Dan bukankah ? Dalam ajaran Islam Iblis terbuat dari api, lantas ia akan menjadi bahan bakar di api neraka.
Apakah mungkin dia akan merasakan sakit sementara antara dirinya dan neraka terbuat dari dzat yang sama ? tanya Anugrah.
Pemuda muslim itu tersenyum, mendengar pertanyaan hebat dari Anugrah.
Bughhh...
Tidak ada angin, tidak ada hujan tiba-tiba saja pemuda ini menginjak kaki Anugrah.
" Hei !
Kenapa kamu menginjak kaki saya ? lontar Anugrah tidak terima dengan tindakan pemuda, di sebelahnya ini.
" Bagaimana rasanya bang ? Sakit ?
Bukannya minta maaf, pemuda bernama Alkan ini justru menanyakan hal itu. Anugrah menatapnya kesal.
" Sakitlah." jawabnya ketus.
" Perlihatkan bentuk rasa sakit yang saya rasakan maksudmu ? Pemuda itu mengangguk.
" Mana bisa saya perlihatkan bentuk dari nyeri dikaki saya yang kamu injak tadi." kata Anugrah.
Senyum Alkan melebar.
" Tidak bisakah abang tunjukkan ?
Seperti itulah analogi jawaban dari pertanyaan abang, rasa sakit itu ada dan bisa kita rasakan akan tetapi, tidak bisa diperlihatkan bentuk dan wujudnya.
Begitu juga dengan Tuhan, meski wujudnya tidak terlihat oleh kita tapi, kita dapat merasakan kehadiranNya." ujarnya pada Anugrah.
Anugrah terdiam, mulai mencerna kata demi kata yang Alkan ucapkan.
" Sakitkan bang rasanya ?
Padahal sepatu kita ini terbuat dari bahan yang sama. Akan tetapi, abang tetap merasakan sakit ?
Anugrah menganggukkan kepalanya, mulai memahami maksud perkataan Alkan.
" Begitu juga dengan Iblis.
Meski dirinya dan neraka terbuat dari dzat yang sama, ia akan tetap merasakan sakit dan tersiksa didalam neraka." tutup pemuda itu dengan senyumannya.
Jleb...
Jawaban yang dapat di terima akal.
Anugrah tersenyum mendengar jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang tercokol di kepalanya.
Lagi dan lagi pemuda ini tuntas menjawab pertanyaannya.
" Jawabanmu tak pernah mengecewakan diriku.
Terima kasih Alkan." ucap Anugrah.
" Atas izin Allah, bang.
Sama-sama." jawab Alkan.
Tinnnn...
Suara Klekson bus ke Tampa Florida berbunyi.
Menyadarkan keduanya.
" Ah bang.
Bus saya sudah datang, saya pamit dulu ya." ujarnya pada Anugrah.
Anugrah mengangguk.
" Iya hati-hati.
Aku harap kita akan bertemu lagi, supaya aku bisa bertanya lebih banyak hal lagi padamu." kata Anugrah.
__ADS_1
Hahaha... Alkan terkekeh kecil.
" Siap bang.
Biarkan Allah yang mengatur pertemuan kita.
Next time bang, kita lanjutkan." pamitnya seraya melangkah menuju bus.
" Oke." sahut Anugrah.
Setelah para penumpang naik, bus pun melaju membawa penumpang ke tempat tujuan masing-masing.
" Aku harus menyakinkan terus bahwa aku ingin masuk Islam karena Allah, bukan karena seorang gadis muslim." ucapnya dengan mantap.
Ia pun meraih buku islami yang berada didalam tasnya. Sembari menunggu bus datang Anugrah memilih untuk membaca buku islami yang berjudul Maaf Tuhan aku hampir menyerah, by AlfiGhazi.
Salah satu buku best seller dikalangan semua orang.
Mulai dari milenial, bahkan sampai orang tua.
" Bukunya kane banget buat healing." gumam Anugrah.
Ia bahkan terlalu fokus membaca buku itu, sampai kehilangan fokus pada bus yang kan ia naiki.
Tinnnn... tinnn.
Bus menuju daerah apartemennya tiba di halte.
" Astaga ! Keasyikan jadi ga sadar ! gerutnya.
Anugrah pun memasukkan kembali, bukunya ke dalam tasnya, kemudian melangkah untuk naik ke dalam bus.
Ia memilih duduk di bangku paling pinggir sebelah kanan berdekatan dengan cendela bus.
Ia tersenyum lebar, pertanyaan-pertanyaaan yang kian tercokol di kepalanya kini perlahan-lahan terjawab juga.
" Bulan depan aku akan pergi ke tempat tujuanku." ucapnya mantap tanpa ragu.
Anugrah.
Ia ingin menuntaskan segalanya.
Tak ingin adanya lagi keraguan, ataupun kekhwatiran nantinya. Atau bahkan ia juga sedang mencari-cari jawaban, sebenarnya karena apa ia ingin memeluk Islam ? Karena memang ia mencintai Islam atau justru karena kehadiran muslimah yang ia cintai ?
Oleh sebab itu, untuk mendapatkan jawabannya ia terus-menerus belajar hal-hal yang berkaitan dengan ajaran Islam.
" Meluruskan niat adalah hal yang utama, Nug. Tuntaskan semua keraguanmu, Nug.
Luruskan niatmu dengan sempurna, dan minta petunjuk pada sang pemilik semesta." ia mencoba menyakinkan dirinya.
Bus terus melaju, membelah kemacetan di balai kota Florida agar membawa pulang penumpang tepat waktu di tempat yang tujuan.
Sekitar setengah jam lagi, Anugrah akan sampai di apartemennya.
.
.
.
• Pahang, Malaysia.
Sosok Nazhanul tengah berdiri di sebelah makam mantan gubernur di Istananya.
Doa sederhana tengah ia sampaikan pada mantan sahabatnya itu.
Penyesalan yang kian menulusuk hatinya, membuat rasa bersalahnya kian membesar.
Bahkan ia tak hentinya menyalahkan diri atas apa yang terjadi pada keluarga Hammer.
" Ham !
Aku telah gagal menjadi seorang pemimpin bahkan juga seorang sahabat." setetes cairan hangat keluar dari sudut matanya.
Wardah yang berada di sebelahnya, menggenggam tangan suaminya untuk memberikan kekuatan.
" Seharusnya saya mencari lebih lanjut lagi permasalahan yang terjadi di masa tu, Hamm maafkan aku Hamm ! ucap Nazhanul dengan lirih.
" Bang !
Semua bukan salah abang, ini semua kehendak Allah.
Dah dah masa ni yang Almarhum bang Hammer dan keluarganya perlukan adalah doa dari orang-orang yang sayang kat die kan ? Nah, jadikanlah doa tu sebagai penebus rasa bersalah abang."
Wardah mencoba menenangkan suaminya.
Mengelus pelan tangan suaminya yang tengah dirundung kesedihan yang mendalam.
Nazhanul tersenyum, merasa bersyukur memiliki istri seperti Wardah yang kerap kali menjadi kekuatan untuknya disaat ia terjatuh, bahkan tengah terhantam badai.
" Terima kasih selalu ada di sampingku, sayang." ucapnya sembari memeluk tubuh istrinya.
" Sudah kewajiban Wardah bang, untuk selalu menemani abang disaat apapun itu."
Keduanya saling mendekap satu sama lain.
Saling menguatkan satu sama lain, memberikan kehangatan dalam bentuk dekapan.
Ya, saling melengkapi dan menerima satu sama lain.
Meski terkadang Nazhanul keras kepala, Wardah selalu saja berusaha untuk melunakkannya dengan kelembutan hatinya.
Sebab, jika keduanya sama-sama keras kepala maka yang terjadi hanyalah perpecahan.
Oleh, sebab itu dalam rumah tangga dibutuhkannya saling memahami satu sama lain.
Agar senantiasa, keharmonisan di rumah tangga terjaga.
Sevimli 23 July 2021
Salam hangat dari Author 🌹
Jangan lupa like and Votenya :)
__ADS_1