Pelangi Hanani

Pelangi Hanani
Part 134 "Perjuangan."


__ADS_3

"Baik menang atau kalah kita tetap pemenangnya. Jika sudah berada di barisan Allah."


....." Pelangi Hanani 🌹".....


Wajah Arga berubah mimik, matanya tak hentinya menatap sosok yang sudah amat lama tak hadir di hadapannya.


Jihan Alhisya.


Ya, wanita yang pertama kalinya yang mampu meluluhkan hatinya, menggetarkan dadanya.


Sosok PSK Alexanderia yang Hana tolong selama ini ternyata adalah cinta pertama. Wanita yang membuatnya mampu berubah, yang sudah divonis meninggal dunia, ternyata masih hidup dengan penuh luka.


"Gasyah." ucap Hisya, melihat sosok Arga di hadapannya.


Hisya tak berkedip menatap Arga, kakinya melangkah menghampiri Arga. Sementara Arga hanya diam tak bergeming.


Sudah hampir 8 tahun Hisya tak menatap netra pria yang mampu meluluhkan hatinya itu. Rindu yang menggebu bahkan rasa cinta yang tak lekas pergi dari hatinya pun tengah meronta-ronta.


Hana tersenyum tipis, menatap Arga dan Hisya bergantian. Sedikit bingung ada apa dengan mereka berdua, pikir Hana.


"Gasyah?"tanya Hana.


"Apa Arga, pria yang dimaksud mbak Hisya ?" pikir Hana.


Jarak antara Arga dan Hisya kian mengikis, tanpa disadari Hisya mengangkat tangan hendak menyentuh wajah pria yang sudah amat lama ia rindukan bahkan ia tanpa sungkan hendak memeluknya.


"Gasyah!"sekali lagi panggilnya.


Belum tersentuh oleh tangan Hisya, Arga langsung menjauhkan wajah dan tubuhnya dari Hisya.


"Maaf!"ucapnya.


Hisya alias Jihan sontak menurunkan tangannya.


Dan menatap sendu wajah Arga, sedikit merasakan nyeri di hatinya. Tapi, ia tetap mengembangkan senyumnya.


"Apa kabar?"pertanyaan itu terlontar dari mulut Arga.


Hisya terbitkan sebuah senyuman simpul.


Ya, pasti saja pertanyaan itu sungguh menyakitkan baginya.


"Lihat saja!Aku sedang tidak baik-baik saja."ucap Hisya mengalihkan pandangannya pada bergol di tangannya.


"Aku akan membebaskanmu, tenanglah Jihan!" Arga tersenyum manis pada Hisya.


Hisya menganggukkan kepalanya."Aku akan menunggunya." jawab Hisya.


Dua netra yang sudah lama tidak saling menyapa itu, sedikit canggung untuk menatap. Arga yang hatinya kini dimiliki oleh Hana, tetap saja kehadiran Hisya masih mampu menggetarkan hatinya.


Hana tersenyum dan mendekati Hisya.


"Sebentar lagi mbak Hisya akan bebas." seru Hana sedikit girang.


Hisya menganggukkan kepalanya." Han! kau tau?" tanya Hisya, Hana menggelengkan kepalanya.


"Pria ini adalah Gasyah yang kumaksud." lirikan mata Hisya tertuju pada Arga.


Deg..


Benar dugaan Hana.


Entah kenapa pernyataan Hisya mampu membuat hentakan pada dada Hana. ..


Meski terasa sakit di dada, Hana tetap berusaha tenang dan mengembangkan senyumnya pada Hisya.


"Akhirnya kalian bertemu." ujar Hana, menggenggam tangan Hisya ikut senang dengan keadaan ini.


"Iya, Han. Lukaku sedikit reda melihat kehadirannya disini, Han." ucap Hisya, menatap binar Arga yang juga sedang menatap mereka berdua.


"Entah kenapa ? Meski perasaanku pada Hisya telah pudar, tapi getaran hati ini masih tetap ada saat melihat wajahnya." gumam Arga, tak mengerti dengan perasaannya.


"Arga akan bantu kita menyelesaikan ini." kata Hana, menganggukkan kepalanya pada Arga.


Arga pun ikut mengangguk."Aku janji, tempat ini tidak akan kau pijak beberapa hari kedepan." tekad bulat Arga untuk menenangkan hati Hisya.


Hisya tersenyum manis mendengar perkataan Arga, debaran jantungnya berdetak kencang membuatnya tak karuan lagi.


"Maaf! Waktu kunjung sudah selesai!" ucap salah satu petugas yang datang menghampiri mereka.


Hana pun mengangguk, perlahan melepaskan genggamannya pada Hisya."Bersabarlah! Sedikit lagi!" ujarnya, mengelus lembut rambut Hisya.


"Kita balik dulu, Han!" pamit Arga.


Hana menatap kaget Arga, karena Han itu biasa panggilan Arga untuk dirinya.


"Hati-hati, Gasyah!" ucap Hisya meski sedikit kecewa melihat sikap Arga tidak sama seperti dulu terhadapnya.


"Assalamu'alaikum, Hisya!" kata Hana serentak dengan Rayhan.


"Waalaikumussalam." jawab Hisya.


Setelah mendengar jawaban dari Hisya, mereka melangkah keluar dari lembaga tahanan Hisya.


Hana terus berjalan menatap ujung gamisnya yang bergoyang seiras dengan jalannya.

__ADS_1


"Sudah lama kenal dengan dia?" tiba-tiba pertanyaan itu Arga ungkapkan.


Hana menghentikan langkahnya, tanpa menoleh pada Arga.


"Dia siapa?" tanyanya.


"Jihan Alhisya." jawab Arga.


Hana menganggukkan kepalanya.


"Sudah setahun lebih." begitulah jawaban Hana.


Arga mengangguk sambil memikirkan sesuatu di kepalanya. Sama halnya dengan Rayhan, ia juga tengah memikirkan sesuatu.


"Berarti Hisya bisa sampai disini akibat ulah dari tantenya, ya? Bisa ya, keponakan sendiri begitu!" Rayhan sedikit kesal.


"Begitulah, semua manusia bisa berubah akibat uang." sahut Hana.


"Bener." Rayhan melirik Arga yang tengah berdiam diri tanpa ikut menimbrung dengan mereka.


"Kenapa?


Bingung milih Jihan atau Hana?" ledek Rayhan.


Hana menatap Arga yang sudah menatap tajam Rayhan.


"Gua bogem lo!" ketus Arga.


Rayhan tertawa melihat tingkah Arga.


"Udahlah kalau bisa dua, ngapain satu." cibir Rayhan lagi, sebelum Arga melemparkan pukulannya Rayhan pun berlari menjauhi Arga.


"B*ngke lo!" maki Arga.


"Udah, Ga! Tahan emosi kamu!" ujar Hana, yang juga ikut menyusul langkah Rayhan.


Arga hanya bisa terdiam menatap Hana yang sudah memperlebar jarak mereka.


"Kenapa gua jadi aneh gini, ya?" Arga juga tidak mengerti apa yang tengah ia rasakan.


"Apa bener gua belum move on sepenuhnya dari Jihan?" Arga menggaruk tengkuknya, merasa pusing dengan keadaan ini.


...🍂🍂🍂...


Palestina


"Nug jangan nekat!" teriak Fian, ia menarik tangan Anugrah mencegatnya, berlari mendekati lokasi pengeboman Zionis Israel, tapi sayang Anugrah menghempaskan tangan Fian.


Ia terus berlari, takkala mendengar kabar bahwa Zyanab, gadis kecil Palestina yang ia temui di Palestina meninggal gugur di Medan Perang. Beberapa bulan yang lalu, ayahnya yang gugur dan sekarang ia ikut menyusul ayahnya. Sungguh surga tempat keduanya.


"Innalilahi wa innailaihi rojiun." ucap warga serempak, melihat tubuh Zyanab sudah diselimuti darah.


"Excusme!" ucap Anugrah.


Jleb..


Mata Anugrah memerah takkala melihat tubuh Zyanab tergeletak penuh dengan buliran darah. Perlahan ia menutup mata berharap ini semua hanyalah mimpi.


Tangannya bergetar, gemetaran menjalar ke seluruh tubuhnya.


"Hah!" ucapnya membuka kembali matanya.


Benar, ini tidak mimpi Zyanab sudah tiada.


"Zyanab!" ucap Anugrah, ia menghampiri jasad Zyanab, dan langsung mendekapnya erat.


"Namamu tercatat sebagai salah satu syahidah agung, dik! Sekarang kau bisa berjumpa dengan ayahmu." kata Anugrah, kemudian ia mengelus tangan mungil Zyanab.


"Zyanab!" panggil Fian yang tiba di dekatnya.


Fian juga merasakan hal sama, ia merasakan perih di dadanya, ia tak menyangka gadis kecil itu akan pergi meninggalkan dirinya. Ia duduk di sebelah Anugrah membelai rambut gadis mungil itu.


"Dafahana Qariban!" seru salah satu warga Palestina. Seruan itu, menyadarkan Fian.


Ia menganggukkan kepalanya."Toyyib." jawabnya.


Ia mendekati Anugrah yang sedang memangku jenazah Zyanab. Dengan pelan, Fian menyentuh pundak Anugrah.


"Nug! Ikhlaskan!


Zyanab sudah mendapat gelar Syahidahnya." ujarnya, mencoba membuat Anugrah mengerti.


Anugrah menatap Fian dengan mata sembab yang masih dipenuhi dengan derai air matanya. Meski berat rasanya, Anugrah menganggukkan kepalanya.


Ia pun mengangkat tubuh mungil gadis keturunan Palestina itu, masih terngiang di ingatan Anugrah saat gadis kecil itu berlari mendekati zionis Israel dengan bongkahan batu di tangannya hendak melayangkan perlawanan, beruntung Anugrah mampu membawanya jauh menghindari tembakan dari zionisme.


Tapi kali ini, Anugrah tidak hadir bersama Zyanab saat satu lucutan tembakan berhasil menembus dada mungil Zyanab. La Ilaha Illallah menjadi kalimat penutup hembusan nafas Zyanab.


Biad*b memang, Zionis Israel.


Bahkan mereka tak membiarkan umat islam sedetikpun tenang bahkan saat melaksanakan ibadah salat sekalipun.


"Aku akan ikut bergabung di barisan Intifada!" ucap Anugrah, amarah di dadanya tengah berkobar.


"Nug!" pekik Fian terkejut.

__ADS_1


"Nggak perlu takut sama musuh Allah, baik menang atau kalah, kita tetap pemenangnya." ungkap Anugrah.


"Tapi lo belum masuk Islam, Nug!" tegur Fian.


"Untuk itu bawa aku ke Baitul Maqdis, biarkan kau dan ia menjadi saksi nyata atas keIslamanku." Anugrah menatap tajam Fian, bukan tengah membenci melainkan ia tidak main-main dengan ucapannya.


Fian tercengang kala mendengar kalimat itu terucap dari mulut seorang pemuda beragama Protestan itu. 3 tahun mereka bersama, 2 tahun di Mesir dan 1 tahun di Palestina, cukup lama Fian menantikan kalimat itu terucap dari mulut sahabatnya, pemilik nama Anugrah Pota Mendrofa itu. Tanpa sadar ia menetaskan air mata, bahunya bergetar menatap keseriusan Anugrah.


Ia menganggukkan kepalanya, menyetujui permintaan Anugrah menjadi saksi nyata atas keIslaman Anugrah.


Anugrah dan Fian berserta rombongan sampai di tenda medis. Jenazah Zyanab pun dibersihkan dan segera dilakukan fardhu kifayahnya.


Tak memakan waktu lama, jenazah Zyanab pun selesai salat di makamkan berdekatan dengan makam sang ayah. Nisan kayu atas tertancap di gundukan tanah itu, membuat air mata Anugrah kembali jatuh.


"Senantiasa kita bisa bertemu kembali dengan Zyanab, di Yaumil kelak di barisan para syuhada." ucap Anugrah, mengusap nisan kayu tanpa nama milik Zyanab.


"Allahumma aamiin." sahut Fian.


Setelah proses pemakaman mereka pun kembali ke tenda pengungsian.


...🍂🍂🍂...


Satu hari berlalu.


Setelah mendapatkan alamat rumah Hafga.


Pagi ini, Hana, Arga dan Rayhan bergegas mendatangi rumah dari Hafga putra satu-satunya Emrin, untuk menuntaskan segalanya.


Dengan kecepatan tinggi, Arga berhasil menerobos kemacetan kota Alexandria. Ya, Arga tak ingin membuang-buang waktu.


Stttttt..


Mobil Arga mendarat di kediaman Hafga.


"Gila emang, ya. Hoki emang beda." cibir Rayhan.


Arga tak menggubris, ia segera membuka pintu mobil dan turun melangkah menuju rumah Hafga.


Melihat Arga bergerak cepat, Hana pun ikut menyusul.


"Ye, ni orang berdua ya.


Suka banget ninggalin." kesal Rayhan, ia pun ikut menyusul.


Arga memencet bel yang berada di luar gerbang rumah Hafga. Sekali, dua kali tak kunjung ada jawaban. Terpaksa Arga mengeluarkan tenaga dalamnya.


Bughhh.. Arga menendang gerbang rumah Hafga.


"Astaghfirullah." pekik Anugrah terkejut.


"Satpamnya budek kali ya? Iya kali ga gini doang ga denger?" Rayhan menatap satpam yang berdiri tidak jauh dari mereka.


"Siapa kalian?" bentaknya, saat melihat Arga menendang gerbang rumah Hafga.


"Bukain gerbangnya!" titah Arga.


"Kalian tidak punya hak memerintah saya!" tolaknya.


"Gua nggak ada urusan sama lo!


Gua mau ketemu Hafga! Mana dia?" bentak Arga, tanpa takut.


"Kurang ajar! Tidak punya malu!


Pergi kalian dari sini! Atau saya akan mengusir kalian dengan kasar!" ancamnya.


"Ga! Kalau bisa baik-baik jangan pakai kasar!" Hana memperingati Arga, ia tak ingin apa-apa itu langsung diselesaikan dengan tindakan kekerasan.


"Dia yang nyolot, harus dijabani!" sergah Arga.


Bughhh.. Arga kembali menendang gerbang rumah Hafga. Tak tinggal diam, satpam serta pengawal Hafga pun membuka gerbang, melangkah keluar dan menghampiri Arga.


"Kau pikir kau sudah sehebat apa?" ketusnya, menatap tajam Arga. Arga tak takut ia justru menaikkan sebelah bibirnya.


"Berlaku baik, tidak berlaku untuk manusia-manusia seperti kalian!"


Tanpa beban, Arga langsung melayangkan pukulan mautnya. Berhasil membuat Satpam itu tersungkur di lantai. Melihat satpam terjatuh, pengwal tak tinggal diam, ia mengepalkan tangannya melayangkan tinjunya pada Arga. Namun ia kalah cepat, Arga sudah lebih dulu menendang perutnya. Sama halnya dengan temannya, ia juga tersungkur di lantai.


Mendengar keributan di luar, menyita perhatian Hafga. Ia pun keluar dari rumah dan menghampiri lokasi asal suara keributan.


"Ada apa ini?" ucapnya saat melihat anggotanya sudah terkapar di lantai. Kemudian bergantian ia melihat sosok Arga berdiri di hadapannya.


"Arga!" ucapnya.


"Hafga!" ucap Arga juga, saat melihat wajah Hafga.


Hana dan Rayhan saling menatap.


Bingung, bagaimana bisa mereka sama-sama tau nama mereka.


Bersambung..


Sevimli, 20 April 2022


Salam hangat dari Author 🌹

__ADS_1


Semangat puasanya ygy :)


__ADS_2