Pelangi Hanani

Pelangi Hanani
Part 55 Kepasrahan Anugrah


__ADS_3

" Kenapa kau jatuhkan hatiku pada Islam Tuhan ?


Kalau pada akhirnya Kau yang akan mempersempit jalanku menggapainya."


...... " Pelangi Hanani 🌹"......


Sesampainya di Rumah sakit, William langsung di angkat ke Ruangan IGD.


Ia tak sadarkan diri.


Ia terlalu syok mendengar perkataan Anugrah yang seperti anak panah yang menancap pada tubuhnya.


Ya, hati ayah mana yang tidak terluka saat putranya sendiri menyebutnya sebagai ayah yang buruk ?


Meski kebenarannya seperti itu.


Anugrah melihat samar dari pintu IGD sosok ayahnya terbaring tak sadarkan diri di ranjang Pasien.


Ia tertunduk lemah di lantai, mengacak-acak rambutnya.


Rasa bersalah mulai menyelimutinya.


" Arghhhhh." Teriaknya frustasi.


Kanaya yang melihat putranya seperti itu, langsung saja ia menghampirinya.


" Nak, jangan seperti ini nak !! Ini bukan Anugrah yang mamah kenal." Ucapnya.


" Anugrah putra mamah itu selalu semangat menghadapi apapun, tak pernah putus asa seperti ini." Anugrah melihat raut wajah mamahnya yang tak kalah khawatir darinya.


Anugrah menggenggam tangan erat tangan Kanaya." Mah, ayah pasti baik-baik ajakan ?


Kanaya mengangguk." Insya Allah nak, sekarang yang ayah butuhkan adalah doa Anugrah bukan raungan Anugrah seperti ini."


Kanaya mencoba memberikan nasehat pada putranya agar tak kehilangan arah.


Anugrah melepaskan genggamannya, berdiri dan melangkahkan kakinya menuju tempat yang terlintas dalam benaknya.


" Nak kamu mau kemana ? Tanya Kanaya.


" Anugrah mau nenangin diri mah." Jawabnya tanpa mengubah pandangannya.


" Jangan lakukan hal yang membuatmu merugi nak, mamah mohon." Pinta Kanaya.


Anugrah mengangguk menuruti permintaan mamahnya.


Anugrah mempercepat langkahnya, menuju parkiran, dan melajukannya motornya ke suatu tempat yang bahkan sangat jarang ia kunjungi.


Lima belas menit perjalanan yang ia tempuh, Anugrah sampai juga di sebuah pemakaman Protestan terbesar di Nias.


Ya, makam Ayah William adalah tujuannya.


Ia beranjak turun dari motornya menelusuri setiap makam yang ada disana.


Dan ya Anugrah menemukan makam Kakeknya.


" Kek, masih ingat sama Anugrah ? Anugrah berbicara dengan nisan berbentuk salib itu.


Tak ada jawaban yang ia dapatkan.


Hanya ada suara kicauan burung yang berterbangan.


" Kek, kenapa kakek marah pada Ayah ketika ia telah menemukan jati diri dari sebuah kedamaian ?


" Kenapa kakek mengekang Ayah dalam rasa penyesalan kek ?


Apa kakek tau sekarang siapa yang menjadi korban selanjutnya ?


Anugrah terus menghujani pertanyaan pada nisan itu.


Sejenak ia menarik nafasnya kasar.


" Ha-ha-ha." Detik selanjutnya ia tertawa nyaring.


.


.


.


" Aku korban selanjutnya kek." Ucapnya.


Aku yang menderita kek !!


Aku yang terluka kek !!


Aku yang terkekang kek !!


Kakek dengar akukan." Teriak Anugrah yang mulai emosi.


Anugrah menggenggam kuat nisan yang berdiri tegak diatas makam Kakeknya.


Ingin sekali dia mematahkannya saat ini juga,


namun, pikirannya masih bisa ia jernihkan.


Setetes buliran hangat jatuh membasahi pipinya. Bukan karena ia lelaki lemah, namun takdirlah yang terlalu mahir mempermainkannya.


" Kakek EGOIS !! Ucapnya menekan intonasinya di akhir kata.


Akhir-akhir ini ada banyak batuan Padas yang datang menerjal Anugrah.


Membuat hatinya yang teguh mulai rapuh.


Membuat pertahanannya yang kokoh menjadi roboh.


Ya, tak sampai dalam satu hari Anugrah menginjakkan kaki di tanah kelahirannya.


Kedamaiannya telah teregas oleh luka lama yang di alami ayahnya.


" Tuhan semesta seolah mencabik-cabik ketenangan ku !!


" Aku benci kehidupan ini !! BENCI." Anugrah merobohkan tubuhnya di atas makam Kakeknya.


Buliran hangat terus menghujani wajah tampannya.


You are my baby...Dering handphone Anugrah Tiba-tiba berbunyi.


Anugrah merogoh kantungnya, meraih Handphonenya.


Terterah nama kontak " Kak Jasmine " dilayarnya.


" Kak Jasmine, nelpon." Anugrah menggeser lambang hijau pada layarnya.


" Kamu dimana Anugrah ? Tanyanya.


" Anugrah lagiii..." Ia bingung harus menjawab apa.


" Anugrah lagi di warteg beli air mineral." Anugrah terpaksa berbohong, sebab tak mungkin ia mengatakan bahwa sebenarnya dirinya tengah di Makam Kakeknya.


" Cepatlah kembali !! Kamu itu harusnya tidak kemana-mana. Kamu tau kondisi ayah semakin lemah !! Ucap Jasmine yang mulai sedikit terisak.


Mendengar perkataan Jasmine, Anugrah terdiam beberapa detik.


Detak jantungnya seakan berhenti bergerak.


Dadanya mulai terasa sesak.


Tingkat ketegangan pada tubuhnya mulai meningkat.


Anugrah tak menyangka bahwa protesnya pada perintah ayahnya, akan mengancam nyawa ayahnya.


" Ini salah Anugrah kak." Pungkasnya dengan lirih.


' Iya ini emang salah kamu !! Sekarang kamu cepetan kemari !! Tegas Jasmine padanya, kemudian memutuskan panggilan.


" Arggghh ! Anugrah menjambak kasar rambutnya.

__ADS_1


Ia kembali menggenggam nisan kakeknya.


Kemudian menekannya dengan kuat.


" Kek lihatkan anakmu sekarang semakin lemah !! Apa ini juga yang pernah terjadi padamu saat ayah melakukan hal yang sama sepertiku ??


Kek, kenapa Tuhan itu gak adil ya ? Kenapa dia jatuhin hatiku ke Islam. Tapi pada akhirnya ia juga yang mempersempit jalanku menggapainya ??


Kenapa Kek ? Kenapa ? Salah Anugrah apa kek ? Jawab kek !! Jangan diam aja." Anugrah seperti orang gila yang berbicara pada benda mati itu.


Tak lama kemudian Anugrah menghapus air matanya, dan berdiri dari makam Kakeknya.


" Tuhan selamatkan ayahku." Pintanya, kemudian ia berlari meraih motornya.


Anugrah mengemudikan motornya dengan kecepatan di atas rata-rata.


Bruummm......


Brummmmm...


.


.


.


.


Tak butuh waktu lama Anugrah sampai di Rumah sakit.


Ya, dengan keadaan sedikit berantakan dari sebelumnya.


Di celananya ada noda tanah yang menempel saat ini terduduk lemah di makam Kakeknya.


Rambut cepaknya yang rapi, kini acak-acakan.


Ya, Anugrah yang biasanya selalu tampak rapi, kini tampak sedikit frustasi.


Anugrah berlari melewati koridor rumah sakit, menuju ruangan Ayahnya di rawat.


Ruang IGD..


Di depan ruangan ini sudah ada Kanaya, Jasmine dan para anak buah William.


" Gimana keadaan ayah kak ? Tanyanya pada Jasmine.


Plakk...


Satu tamparan mendarat keras di Wajah senduh Anugrah.


" Jasmine !! Teriak Kanaya.


Sentak saja tamparan itu membuat Anugrah terheran, apa mungkin Jasmine telah mengetahui semuanya.


" Kau memang anak durhaka !! Jasmine menatap penuh amarah adiknya.


" Kenapa kau melakukan itu Anugrah !! Kenapa Dek ? Jasmine menarik kera baju Anugrah.


Rasa bersalah pada Anugrah kembali menyelimuti hatinya. Ia tertunduk lemah di hadapan Jasmine.


Tak sedikitpun terlintas di hatinya menginginkan hal ini terjadi.


" Anugrah salah kak, maafin Anugrah kak !! Berlutut memohon pada Jasmine.


Kanaya hendak menarik tubuh putranya untuk berdiri, namun tangan Jasmine menghentikan langkahnya, sembari menggeleng pada Kanaya.


" Nug, kakak mohon turuti permintaan ayah dek !! Kakak minta tolong ya." Ucapnya menggenggam tangan Anugrah.


Sejenak Anugrah terdiam membeku, tenggorokannya tercekat, tak tau harus menjawab apa atas permintaan Jasmine yang seperti Belatih untuknya.


Ceklek... Tiba-tiba pintu Ruang IGD terbuka.


Seorang Dokter muda keluar.


Jasmine, Kanaya, serta Anugrah beranjak dari tunduknya menghampiri dokter muda itu.


" Ayah kami baik-baik aja-kan Dok ? Lanjut Anugrah.


Dokter muda yang kerap disapa Dr.Adit itu memasang raut wajah lesuh, entah apa yang terjadi dengan William.


" Pasien atas nama William diagnosis medis Arteri koroner atau biasa kita sebut dengan Penyakit jantung Koroner.


Hal ini disebabkan tekanan darah tinggi pasien naik serta kolesterol pada tubuh Pasien juga meningkat.


Saat ini kondisi Pasien masih lemah, belum ada perkembangan sama sekali." Jelas Dokter Adit.


" DOKTER ADIT, PASIEN WILLIAM IGD KRITIS." Teriak suster yang keluar dari ruangan William.


Tanpa kata pamit, langsung saja Dokter Adit berlari memasuki ruangan William.


" Kritis " kata itu membuat Anugrah, Kanaya dan Jasmine terbelalak.


Membungkam setiap gerakan tubuh mereka.


Mereka bertiga kini membeku.


Perkataan Suster itu seolah-olah seperti busur panah yang tertancap di tubuh, kemudian di tarik secara paksa.


Ya, rasanya sangat sakit, perih, pedih bahkan seperti tertusuk ribuan belatih.


Anugrah menunduk lemah, tangannya gemetaran, jantungnya berdegup tak karuan, rasa takut menyelimuti sekujur tubuhnya.


Anugrah berharap semuanya hanya ilusi semata bukan nyata.


" Anugrah tak ingin ayah pergi !! Batinnya.


Jasmine ikut menunduk bersama Anugrah, sembari menangkupkan kedua tangannya.


" DEMI TUHAN ANUGRAH TURUTI KEINGINAN AYAH !! Pintanya memohon pada Anugrah.


Anugrah mengangkat kepalanya, menatap lekat Jasmine." Tapi Anugrah gak...


" JADI KAU LEBIH MEMILIH KEMATIAN AYAH DARI PADA KAU TENGGELAM DALAM KETERPAKSAAN BEGITU ? Jasmine mencengkram kedua tangan Anugrah.


Anugrah menggeleng, bukan itu yang dia inginkan. Entahlah, kedua pilihan itu sama-sama seperti bom atom yang menghantam keras hati Anugrah.


" Semesta apa yang kau titipkan padaku Tuhan ? Protes Anugrah.


" Berkorbanlah demi keselamatan ayah Anugrah !! Pinta Jasmine dengan lirih.


Anugrah terdiam beberapa detik, menghela nafasnya kasar. Setetes buliran hangat menghujani wajahnya.


" Baiklah Aku akan berangkat ke Canada sesuai dengan keinginan ayah." Ucapnya.


Anugrah kini pasrah, tak ada pilihan selain keselamatan ayahnya.


Perihal hatinya yang terpaksa dengan keinginan ayahnya, biarlah menjadi luka yang akan ia tanggung nantinya.


Seulas senyuman terbit di wajah Jasmine.


" Terima kasih dek." Ucapnya.


Anugrah hanya tersenyum simpul.


Sementara Kanaya tercekat kaku melihat semesta yang tak berhentinya menghujani belatih pada putranya.


Kanaya mendekati putranya, mengangkat berdiri dari duduknya." Nak, biarkan takdir Tuhan yang berkerja untuk segalanya."


Anugrah memeluk tubuh Kanaya dengan erat.


" Mah, ayah pasti baik-baik sajakan ?


Kanaya mengangguk." Insya Allah ayah baik-baik saja."


" Yang perlu Anugrah lakukan saat ini adalah berdoa untuk kesembuhan ayah ya nak." Kanaya mengusap lembut kepala putranya.


Mencoba menyalurkan kehangatan.

__ADS_1


Jasmine ikut memeluk Kanaya." Mah, Jasmine gak salahkan minta Anugrah turutin kemauan ayah ? Tiba-tiba saja pertanyaan itu terlontar darinya.


Kanaya tersenyum." Hm, ada kala-nya perkataan terlontar tanpa pertimbangan di saat situasi genting."


Kanaya menjeda Perkataannya beberpa detik.


Jasmine masih menatap Kanaya, menunggu Kanaya melanjutkan perkataannya.


" Apapun yang terjadi saat ini, semua atas kehendak Allah.


Tak perlu menyalahkan takdir atas apa yang terjadi nak, semua telah tertulis berjuta-juta tahun yang lalu sebelum semesta tercipta."


Ucap Kanaya.


" Apa yang Jasmine permohonankan demi kebaikan ayah itu tidak salah nak.


Untuk Anugrah mamah yakin, jikalau Allah mengizinkan kamu untuk menggapai kalimat agung itu. Sekeras apapun takdir menyodorkan kesulitan untukmu, maka yakinlah pasti ada kemudahan yang Allah limpahkan." Kanaya berusaha menenangkan hati putranya.


Ya, tentu saja Kanaya memang selalu berhasil membuat Anugrah memahami segalanya dari berbagai sudut.


" Aamiin." Ucapnya yang mulai sedikit tenang.


Jasmine ikut tersenyum, sebenarnya jujur di hati kecilnya. Ia juga tak ingin adiknya berada dalam situasi yang menyesakkan ini.


Akan tetapi untuk sekarang, inilah yang terbaik demi keselamatan ayahnya.


" Maafin kakak Anugrah."


Anugrah menggeleng." Gak perlu kak, kakak gak salah. Mungkin memang sudah seperti ini garisan tangan Anugrah."


Ada sedikit ketenangan di hati Kanaya, melihat putra-putrinya kini telah berdamai dengan baik.


Meski saat ini Putranya harus mengorbankan kedamaiannya.


" Kamu adalah putra terbaik mamah nak, mamah akan selalu mendoakan agar senantiasa hidayah Allah selalu bersamamu." Batin Kanaya yang sebenarnya ingin sekali putra-putrinya memeluk keyakinannya.


Para anak buah William yang menyaksikan keharuan Keluarga majikannya, ikut meneteskan air mata.


Ikut terhanyut dalam kepiluhan itu.


" Semoga Tuan William baik-baik saja." Ucap Jeef.


" Iya Jeef." Sambung John.


Di dalam Ruangan IGD.


" DEFID." Pekik Dokter Adit. Suster itu langsung menarik defibrillator, dan memberikannya pada Dokter Adit.


Dokter Adit langsung melakukan kejut jantung pada William. Namun tak ada perubahan sedikitpun.


Ia terus mengulangi beberapa kali, hanya setitik kenaikannya. Ia merasa kejut jantung saja tak cukup.


" Sus, tolong suntikan Antapra Bhatara pada Pasien." Titahnya pada Suster.


Langsung saja Suster menyambar Antapra Bhatara dan menyuntikkannya pada William sesuai dengan titah Dokter Adit.


Dokter Adit melanjutkan kejut jantung pada William.


Detik selanjutnya ia menjeda beberapa detik aktivitasnya, berharap ada sebuah keajaiban yang menghampiri William


" Huffhh." Dokter Adit menghela nafas.


" Kita telah berusaha semaksimal mungkin, selebihnya Allah punya kuasa." Ucapnya pasrah pada kehendak Allah.


Ia meletakkan Defibrillator di atas meja peralatan medis kamar itu.


Ia berniat keluar untuk mencari obat jantung lain yang siapa tau bisa membatu William.


Titt_titt..... Bunyi Mesin Elektrodiogram.


" Dokter, detak jantung pasien mulai normal dokter lihatlah." Teriak suster itu yang menghentikan langkah Dokter Adit.


Langsung saja Dokter Adit berbalik arah, dan menatap mesin Elektrodiogram itu.


Benar saja tanda-tanda vital William berangsur naik, ya nadinya kini menunjukkan penaikan. Respriration rate-nya mulai normal.


Gambar grafik pada jantung William sudah mulai normal.


" Alhamdulillah." Ucap Dokter Adit yang lega melihat mesin Elektrodiogram milik William.


" Keadaan ada sedikit perkembangan yang terjadi pada pasien."


" Sungguh ini sebuah keajaiban yang telah Allah datangkan." Ucapnya lagi.


Suster itu tersenyum ikut senang melihat William membaik. " Alhamdulillah dok."


" Baik sus, tolong perhatikan pasien agar dia tetap terjaga ya Sus, saya izin keluar dulu untuk memberitahu Keluarga pasien mengenai kabar baik ini." Dokter Adit Kemabli beranjak keluar.


" Baik, silahkan dokter." Ucap Suster.


Ceklek... Dokter Adit membuka pintu.


Anugrah, Kanaya, Jasmine sentak mendekati Dokter Adit.


" Dok gimana keadaan ayah saya ? Apa beliau masih kritis dok ? Tanya Anugrah dengan mata berkaca-kaca.


" Ayo jawab Dokter !! Pekik Jasmine yang terlalu khawatir pada William.


Dokter Adit hanya menerbitkan senyumnya.


Anugrah, Jasmine, dan Kanaya bingung dengan Dokter muda satu ini.


Ditanya bukannya menjawab mala justru senyum gak jelas.


" Dokter kalau di tanya itu dijawab bukan mala senyum gak jelas gitu !! Ketus Jasmine.


" Baik-baik saya akan beritahu kabar baik untuk kalian." Akhirnya Dokter Adit membuka suara.


" Kabar baik apa Dok ? Tanya Anugrah.


" Alhamdulillah, Pak William sudah ada perkembangan." Jawabnya. Membuat Anugrah, Kanaya dan Jasmine dapat bernafas lega.


" Alhamdulillah." Ucap Anugrah spontan.


Ya, meski Anugrah protestan akan tetapi kata Alhamdulillah sudah kerap kali keluar dari mulutnya.


" Terima kasih Tuhan." Berbeda dengan Jasmine yang melontarkan kata-kata ini.


" Alhamdulillah." Susul Kanaya.


" Awalnya tak ada perubahan yang terjadi pada Pak William, padahal kami sudah melakukan usaha semaksimal mungkin.


Ketika saya hendak keluar mencari obat lainnya, di detik saat itu juga keajaiban Allah menyapa Pak William." Ucapnya.


" Say Masya Allah ini sungguh luar biasa."


Dokter Adit yang sudah bekerja beberapa tahun menangani pasien diagnosis jantung, ini untuk kedua kalinya sebuah keajaiban yang ia lihat.


Sudut bibir Anugrah tertarik membentuk ulasan senyuman." Boleh kami masuk dok ? Tanyanya.


" Maaf dek, untuk saat ini pasien masih di perhatikan agar tetap selalu terjaga. Jadi sesiapapun belum ada yang bisa masuk ya." Jawabnya sopan.


" Oh baiklah Dok." Anugrah manggut-manggut paham dengan perkataan Dokter Adit.


" Kalau begitu, saya permisi dulu ya." Pamit Dokter Adit.


" Silahkan Dok, dan terima kasih Dok telah berjuang untuk ayah saya." Ucap Anugrah.


" Sudah kewajiban saya." Adit beranjak meninggalkan mereka.


Ya, suasana pilu yang menyesakkan dada tadi kini akhirnya lenyap.


Tangisan mereka kini menyatu bukan lagi dengan raut wajah senduh melainkan dengan seuntaian senyuman yang tulus.


Bersambung...


Sevimli 15 November 2020

__ADS_1


Salam hangat dari Author 🌹


__ADS_2