Pelangi Hanani

Pelangi Hanani
Part 100 Pendaftaran Al Azhar


__ADS_3

" Jika aku adalah mubtadanya, kamu adalah khobar sebagai pelengkapnya. Dan jika kelak Allah izinkan kita merajut kasih dalam ikatan pernikahan, maka takkan kubiarkan Amil Nawasih merusak hubungan kita."


....... " Pelangi Hanani 🌹"......


Rintikan hujan yang membasahi bumi, tampak begitu teduh dikala senja datang menghampiri.


Terjadi pembiasan sinar mentari dengan curah air hujan menerbitkan warna-warni dilangit jingga.


Ya, apalagi kalau bukan Pelangi.


Hari ini Hana dan Ranti pergi ke sekolah untuk mengambil hasil kelulusan sekolah, sekaligus pengumuman siswa mana yang lulus bersaing di Perguruan tinggi luar negeri.


Hana hanya bisa tersenyum simpul.


Menerima keadaan bahwa ekspektasinya berbeda dengan dunia nyata.


Keinginannya untuk berkuliah di universitas Al Azhar, Mesir. Harus ia kubur dalam-dalam, sebab otaknya bisa saja bersaing disana namun, kastanya tak mampu membuatnya berpijak di tanah Pyramid itu.


" Gak apa-apa, Han.


Ada hikmah dibalik ini semua." Batin Hana.


Selesai mereka mengambil hasil kelulusan, mereka pun dibariskan di lapangan. Mendengarkan sebuah pengumuman penting.


" Sudah baris semua ? tanya Bu Kiran dengan suara yang menggema di mic.


" Sudah cikgu." Jawab siswa-siswi serempak.


" Baik, Cikgu akan umumkan siswa-siswi yang terpilih untuk bersaing di Universitas Luar negeri, yang pastinya mereka yang berhak, memanglah punyei nilai yang mencapai kapasitas akademik ketentuan Universitas Luar negeri."


Semua siswa-siswi tegang mendengarkan satu persatu nama yang lulus dipanggil.


Terutama mereka yang sudah benar-benar berniat kuliah di luar negeri. Berharap penuh mulut Buk Kiran akan menyebutkan namanya.


" Argasyah Nazhanul Hakim di Universitas Sakarya, Turkey."


Ya, dari dulu berkuliah di Negri dua benua itu adalah impian besar Arga.


Ia ingin selalu menikmati poros keindahan dunia, saking indahnya Negeri Sultan Al Fatih itu, ada yang bilang kalaulah dunia memiliki ibu kota maka Turkeylay yang cocok untuk menjadi ibu kotanya.


Masya Allah.


Bahkan bukan hanya itu Arga ingin melihat bagaimana tempat itu menjadi pusat peradaban Islam pada masanya, pusat pengetahuan, pusat kejayaan Islam.


Dan masih banyak lagi yang ingin di gali di Negri Tulip itu.


Hana memandang Arga dengan seuntaian senyuman.


Dan mengucapkan selamat dari jauh untuk Arga melalui gerakannya.


" Selamat."


Arga pun tersenyum dan mengangguk sebagai ucapan terima kasihnya.


" Namamu juga akan dipanggil Han." ucap Arga yang tidak terdengar oleh Hana.


Sudah lebih dari lima puluh nama siswa yang disebutkan oleh Bu Kiran.


Yang disebutkan namanya pun bersorak gembira, dan yang belum disebutkan hanya bisa tersenyum simpul.


Dan yang lainnya, mengucapkan ucapan selamat dan juga semangat untuk yang belum berhasil.


" Baik anak-anak.


Harap tenang !!


Ada satu siswi terbaik lagi yang selalu membuat harum nama sekolah kita. Meski dia berasal dari Indonesia, ia tak kalah bersaing dengan kita disini."


Indonesia ? Ha.


Hana tercengang saat negerinya disebutkan oleh Bu Kiran.


" Han, Han.


Orang Indo yang sekolah disini banyak kali, Han." Hana tak ingin terlalu berharap.


" Lagian ya Han.


Kamu kan gak ada daftar disana.


Wake up Hana tidurmu kepinggiran." Hana menepuk-nepuk pelan wajahnya untuk menyadarkan dirinya.


" Aku yakin itu pasti kamu, Han." ujar Ranti.


Hana hanya memandang Ranti dengan senyum simpul, tidak membenarkan perkataan Ranti.


" Siapa sih orangnya, cikgu ? sorak siswa penasaran.


" Hanani Syaufa di Universitas Al Azhar, Mesir." ucap Bu Kiran.


Ha ? Hana mengkaget.


Seketika tubuhnya lemas, saat namanya disebutkan oleh Bu Kiran.


Bagaimana bisa ini terjadi ? Bahkan dia tidak pernah mengirim file apapun ke Universitas itu.


Hana menggeleng.


" Gak, gak ! Gak !! Aku pasti salah dengar." tolak Hana.


" Yeee, selamat Hana." sahut Ranti dengan ceria.


Hana hanya diam tak bergeming, tidak mempercayai apapun yang terjadi saat ini.


" Han !! Kamu emang sepupu aku yang paling the best,


wah entar kamu bakalan ketemu Fir'aun dong, ketemu mumi, seru tu Han."


Ranti ajib emang dah.


Hana hanya memandang bingung, apa benar dia bisa lanjut seleksi ujian masuk universitas Al Azhar ?


Siapa yang mendaftarkan namanya disana ?


Bagaimana bisa namanya tercantum ?


Ada banyak pertanyaan yang tercokol di kepala Hana.


Satu orang yang ia curigai biang dari ini semua.


Ya, Arga. Arga yang tau bahwa Hana sangat ingin sekali bisa kuliah di Al Azhar.


Hana menatap tajam Arga yang berada di barisan laki-laki. Dan tanpa sengaja Arga juga melihatnya, mendapatkan pelototan dari Hana membuat Arga mengerti bahwa Hana sedang mengintimidasi dirinya.


Hana mengangkat tangannya dan menggerakkannya tepat dilehernya, sambil memaju mundurkannya.


Ya, selayaknya jari jemarinya itu adalah pisau yang menggolok pohon.


Arga hanya bisa tersenyum melihat ekspresi Hana, yang begitu menggemaskan menurutnya.


Selesai pengumuman.


Mereka pun sudah diperkenankan untuk kembali ke rumah masing-masing.


Hana beranjak pergi menyusul Bu Kiran untuk menanyakan terkait hal kuliah di luar negeri ini.


" Assalamu'alaikum, cikgu." ujar Hana.


" Eh nak Hana.


Waalaikumussalam, tahniah ya nak."


" Ee--hh maaf sebelumnya cikgu Kiran.


Saya tidak pernah mendaftarkan diri di Universitas Al Azhar. Tidak pernah mengirimkan CV, atau berkas-berkas lain. Kok bisa nama saya terdaftar disana, cikgu ? tanya Hana dengan penuh rasa penasaran.


Kiran tersenyum melihat siswinya yang bernama Hanani Syaufa ini.


" Nak ada orang baik yang melakukan itu semua.


Dia ingin kamu terus menggapai impianmu.


Dia tau kamu berhak untuk mendapatkannya.


Sekali lagi, tahniah ya nak.


Sentiasa Allah lancarkan segalanya."


Hana hanya tercengang mendengarkannya.

__ADS_1


" Ee--hh iya cikgu.


Makasih banyak, tapi kalau boleh tau siapa ya cikgu orangnya ?


Kiranpun mengangkat telunjuknya dan mengarahkan pada sosok lelaki yang berdiri di lapangan basket.


" Itu orangnya." jawab Kiran.


" Arga." ya, benar tebakan Hana.


" Cikgu permisi dulu, ye." pamit Kiran.


" Ah iya cikgu, silahkan."


Hana pun berjalan menghampiri sosok pemuda yang sedang sibuk bermain basket sendirian di lapangan.


Bola yang dimainkan oleh pemuda itu bergelinding tepat didepan Hana berpijak.


Hana pun menunduk untuk mengambilnya.


Kemudian pemuda itu tersenyum, dan meminta bolanya pada Hana.


" Lempar Han." ujarnya dengan tangannya yang sudah siap menangkap.


Hana tak merespon, mala justru berjalan ke bangku yang berada tidak jauh dari lapangan.


" Ya elah Hana.


Dikacangin."


Arga pun ikut menyusul Hana.


Dan duduk di sebelah Hana dengan jarak yang cukup jauh.


" Kenapa kamu lakukan itu ? tanya Hana, pandangannya masih lurus ke depan.


Arga tersenyum, sudah ia tebak Hana pasti menanyakan hal itu padanya.


" Kamu berhak mendapatkannya."


Hana tersenyum masam mendengarkan kata berhak itu." Orang miskin tidak pernah pantas untuk berkuliah di universitas high class." cetus Hana.


" Lagi lagi kamu meragukan Tuhan Han.


Hanya karena sebuah persoalan harta."


Hana menggeleng tidak setuju dengan Arga.


" Ini bukan soal keyakinan hati.


Melainkan ini realitanya, ini faktanya."


" Dan realitanya ada banyak orang miskin yang berkuliah di universitas terbaik di dunia."


Ya, keduanya saling berdebat, mempertahankan pendapat masing-masing.


" Aku gak punya biaya untuk berkuliah disana, Ga.


Kalaupun aku dapat beasiswa full disana.


Uang untuk kebutuhanku sehari-hari, uang makan, tempat tinggal, kebutuhan kuliah. Mau dapat dari mana ? Ngamen di jalan ? Jadi kernek bus disana ?


Arga tertawa kecil mendengarnya.


Astaga ternyata ini yang ada dibenak Hana. Pikir Arga.


Hana yang mendapatkan tawa dari Arga merasa kesal.


" Ih kok mala ketawa sih ? Aku seriusloh."


Arga pun meredakan tawanya." Lucu aja gitu, ternyata itu yang kamu pikirkan. Tapi boleh juga tu idenya kamu Han jadi kernek bus, widih keren tu."


" Ledek aja terus, ledek."


" Hehe iyaiya gak lagi.


Ini serius deh.


Ayah yang bakal biayain semuanya Han, sebagai tanda terima kasih atas perjuangan kamu selama tiga tahun ini Han. Kami banyak berhutang budi dan jasa sama seorang gadis yang bernama Hanani Syaufa." jelas Arga.


" Itu bukan jasa ataupun budi, Ga.


Arga tersenyum kagum menatap Hana.


Ia tak salah meletakkan hatinya terjatuh pada gadis seperti Hana. Ya, pelangi yang selalu cerah mewarnai kehidupan semua orang.


Rela mengorbankan apapun demi melihat semua orang tersenyum.


Gadis yang hebat.


Gadis yang kuat.


" Kita bakalan terpisah dengan jarak yang jauh, dan waktu yang cukup lama."


Hana menatap Arga yang juga menatapnya.


Membuat keduanya saling menatap.


" Turkey dan Mesir."


Hana langsung memalingkan pandangannya dari Arga.


Tidak dengan Arga yang masih meletakkan tatapan pada gadis di sebelahnya itu.


Sudut bibirnya yang melengkung membentuk senyuman itu tak kian luntur dari wajahnya.


" Bakalan ada kalimat fa'ala yaf'ulu, I love you.


Massa yamassu, I Miss you."


Beh gini ni, kalau anak tashrif udah ngeluarin kata-kata aestheticnya wkwk.


Ucapan yang terlontar dari bibir Arga, membuat ritmik dentuman jantung Hana tak karuan.


Berdegup lebih kencang dari biasanya, rona merah pun merekah di wajahnya.


" Astaghfirullah, Hana wake up !! Gerut Hana.


" Aku adalah mubtadanya dan kamu adalah khobar sebagai pelengkapnya. Dan jika kelak Allah mengizinkan kita merajut kasih dalam ikatan sebuah pernikahan. Maka takkan kubiarkan Amil Nawasih merusak hubungan kita."


Degg... lagi dan lagi.


Jantung Hana serasa mau copot dari tempatnya.


Membuatnya melotot sempurna, Hana diam tak bergeming, kemudian menelan pelan salivanya.


" Arga pohon pisang !!


Hana sadar !! batin Hana mencoba menetralkan dirinya.


Arga yang melihat Hana terdiam dan blushing.


Semakin mengembangkan senyumnya.


" Nafas Han." ujarnya.


Hana pun menatap tajam pria gila disebelahnya.


" Fa'ala yaf'ulu, Fala lu." cetus Hana dengan wajah juteknya.


Bukannya mala romantis, mala bengek gini wkwk


Membuat Arga mengkaget.


Bisa-bisanya kalimat romantisnya dibalas sama Hana kayak gitu. Udah capek-capek ngerangkai kata-kata aesthetic gitu juga.


" Dasar srigala ! cibir Hana.


Bukhh.. Dan ya Hana melemparkan bola itu ke Arga, mengenai wajah tampan Arga.


" Aww.


Bar-bar banget sih jadi cewek."


" Bomat !!


Gombal aja tu bola." Hana pun pergi melangkah meninggalkan Arga ya, pastinya dengan senyuman malu-malu.


Arga terkekeh kecil menatap punggung Hana yang mulai menjauh darinya.

__ADS_1


" Emang beda dari yang lain.


Gua udah capek juga nyusun kata-katanya, eh tetep aja dibar-barin, dasar !!


Arga pun mengembalikan bola basket itu pada tempatnya, dan kemudian berlari mengejar Hana yang sudah mulai keluar gerbang sekolah.


" Han !!


Tungguin." teriaknya yang tak direspon oleh Hana.


Hana terus saja berjalan dan menghampiri Ranti, yang sejak tadi sudah menunggu Hana untuk pulang bersama.


" Kamu habis dari mana aja sih ? Katanya bentar.


Aku udah nungguin setengah jam disini tau gak." kesal Ranti.


Hana pun menangkup wajah oriental Ranti dah mencubitnya." Maaf-maaf.


Aku tadi cuma ngobrol bentar sama buk Kiran.


Eh tiba-tiba aja ada Abu modusy yang ngeluarin kata-kata buayanya."


" Abu Modusy ? Haha pasti si pohon pisangkan." tebak Ranti.


Yang mengundang tawa diantara keduanya.


Siapa sangka orang yang mereka maksud sudah tiba dihadapan mereka.


" Abu Modusy ya ? Pohon pisang ? sahutnya.


Membuat tawa Hana dan Ranti terhenti.


Keduanya terdiam saling menatap.


" Ee--hh Arga lo kok disini ?


Gak ngambil motor lo, noh diparkiran !! ujar Ranti ingin mengalihkan pembicaraan.


" Gak, gua mau naik Taxi."


Arga pun duduk di bangku tunggu yang telah tersedia di depan sekolah mereka.


Yang memang dibuat khusus untuk siswa-siswi yang menunggu jemputan, atau menunggu bus dan lainnya.


" Lah, motor kamu gimana ? tanya Hana.


Arga memandang Hana dengan senyuman angkuhnya.


" Entar suruhan gua yang ngambil.


Gampangkan ?


" Ya tapi, kamu naik Taxi sendirian ?


Gak bareng kitakan ? Wanti-wanti Hana.


" Kalau gua mau satu Taxi sama kalian, gimana ?


" Gak boleh !! tolak mereka serempak.


" Idih !!


Siapa juga yang mau satu Taxi sama cewek bar-bar kayak kalian berdua." cibir Arga.


Ah ? Bar-bar.


Hana dan Ranti pun menyebikkan bibirnya, merasa kesal dengan pohon pisang yang sudah beranak Pinak dihadapan mereka.


" Kita juga gak mau satu Taxi sama pohon pisang kayak lo, yang ada entar getah lo ngenai kita lagi." timpal Ranti tak mau kalah.


" Pohon pisang sama kuntilanak itu udah satu paket. Dimana ada pohon pisang pasti ada kuntilanak.


Haha yaudah naik Taxi bareng mbak Kunti aja sana." lanjut Ranti dengan entengnya.


Membuat Arga memelas bola matanya.


Ranti emang paling ahli dalam ledek-meledek.


Tak pernah kehabisan kata untuk membalas ledekan orang lain.


" Mulut lo ya !!


Belum dikasih Vaksin jenglot kali ya.


" Fix canda.. Jangan baperan dong."


Hana pun menarik tangan Ranti, dan meminta Ranti untuk berhenti berkata-kata, bukannya apa-apa masalahnya ini di tempat umum.


Malu kalau ada yang dengar.


" Ranti udah jangan dibalas lagi." ujar Hana.


" Hehe iyaiya Han.


Ranti mau dilawan, mana bisa wekk." ledek Ranti lagi pada Arga.


Membuat Arga semakin kesal dengan Ranti.


" Awas aja lo !!


Gua bilangin lo ke Rayhan."


" Bodoh amat.


Wak jualan tomat aja gak peduli." sahut Ranti lagi.


Tin-tinn. sebuah Taxi datang menghampiri mereka.


Ya, itu taxi pesanan Ranti.


" Papay !!


Kami duluan, selamat menanti." kata Ranti pada Arga kemudian berjalan memasuki Taxi mobil itu.


Arga yang tanganya sudah terkepal hanya bisa melayangkan pada angin yang berhembus.


Mengundang tawa di wajah Hana.


" Udah-udah jangan emosi.


Maafin Ranti ya, maklumin aja, Ga.


Rindu kali dia sama Rayhan makanya gitu hehe."


Arga tau Ranti hanya bercanda, namun tetep saja dia kesal pada cewek yang sudah membuat sahabatnya Rayhan jatuh cinta.


" Bilangin tu Han sama sepupu lo yang mulutnya kayak ulekan sambel. Dikurang-kurangin takarannya, kasihan Rayhan entar punya bini judes kayak gitu."


Meski Ranti sudah masuk ke dalam mobil, ucapan Arga masih sampai ke telinganya.


" Bodoh !!


Hana hanya bisa terkekeh melihat tingkah keduanya.


Sudah dewasa tapi sikapnya, masih saja seperti anak kecil yang kalau udah ketemu bakalan terjadi series tom and jarry versi manusia.


" Udah ah, ngalah Ga sama cewek.


Udah ya, banyak istighfar.


Kita balik luan ya, assalamu'alaikum." pamit Hana.


" Hm waalaikumussalam, hati-hati." jawab Arga sedikit kesal.


Dan ya, Taxi yang mereka tumpangi pun melaju meninggalkan sekolah.


Kini tinggal Arga yang menunggu Taxi yang sudah ia pesan.


Bersambung..


Sevimli 26 Mei 2021


Salam hangat dari Author 🌹


Maaf ya suka lama Up nya soalnya Author lagi banyak tugas hehe.


Pengen dikomen ni.


Gimana sih ceritanya ? Bosenin ya ?

__ADS_1


__ADS_2