Pelangi Hanani

Pelangi Hanani
Part 44 Pejabat Pengkhianat


__ADS_3

" Ku harap kelak Allah akan sandingkan kau dengan diriku, untuk bersama-sama berjuang menuju JannahNya."


....." Pelangi Hanani 🌹".....


Sesampainya di Istana.


Arga berlari dengan cepat untuk mencari sosok gadis, yang seharusnya ia jemput di Rumah Sakit.


Namun, karena sibuk mengurus pengacau di Terengganu, ia lupa akan hal itu.


Tempat yang pertama kali ia datangi adalah taman, sebab ia tau tempat itu adalah tempat biasa Hana untuk menenangkan diri.


Dengan langkah penuh semangat, serta hati yang berdegup tak kalah cepat, disempurnakan dengan senyum manis merekat di wajah.


Yap, benar saja.


Gadis yang kerap disapa Hana itu berada di sana. Ia terduduk manis di bangku taman, memandang langit dengan senyuman khas miliknya.


Arga menghampirinya." Assalamu'alaikum." Ucapnya.


Ya, berhasil membuat Hana terkaget bukan main.


" Astaghfirullah, Arga kamuu." Pekiknya.


Arga tertawa, detik selanjutnya ia kembali bicara." Amboy, kalau orang ucap salam itu di jawablah." Cibirnya.


Hana melototkan kedua matanya, berdengus kesal dengan pria yang berada di hadapannya.


" Waalaikumussalam." Jawabnya.


" Dasar jelangkung !! Datang gak di undang, pulang gak di antar." Ketus Hana pada Arga.


Arga tertawa mendengar ledekan Hana.


" Hahaha." Detik selanjutnya ia menepuk kepala Hana, dengan satu bungkus Silverqueen.


Puk,puk,puk. Pukulnya sebanyak tiga kali, selayaknya seperti hakim mengetuk palu.


Hana bertambah kesal dengan tingkah Arga, yang seenak jidatnya, memukul kepalanya.


" Ihh, awak ni !! Awak pikir kepala saye ni untuk acara ketuk palu, pake-pake di timpuk ha." Hana tak dapat lagi menahan kekesalannya.


" Kalau mau nimpuk pake palu, noh di sono diacara sidangan." Ketus Hana.


Sejenak Arga tertawa dengan perkataan Hana, sekaligus ekspresinya.


" Haha, memanglah saye nak sidang." Ucapnya.


Hana menatap heran pria aneh dihadapannya.


" Dasar gak nyambung." Ucap Hana.


Arga tertawa lagi." Betullah, saye ni memang nak sidang." Jawabnya.


Hana bingung, kenapa pria bodoh di hadapannya ini, sepertinya serius.


" Sidang ape ? Tanya Hana.


" Sidang mengkhitbah kamu, untuk jadi ibu dari anak-anakku." Jawabnya sembari mengedipkan mata pada Hana.


Jawaban aneh itu, berhasil membuat Hana susah menelan salivahnya. Seakan-akan tenggorokannya tercekat.


Hatinya kini berdentum dengan nada ritmik tak beraturan.


Seketika tubuhnya bergetar, dan rona merah di wajah mulai menghiasinya.


Masih menatap Arga dengan ekspresi bingung.


Hana kini layaknya patung, sama sekali tak berkutik.


" Amboy, aku taulah aku ni tampan sangat. Tapi, boleh tak ? Jangan pandang aku macam tu." Ujar Arga dengan tawa kecilnya.


Hana langsung menoleh ke arah lain.


" Astaghfirullah Hana !! Ingat zina mata !! Dia itu gak halal untukmu." Ucapnya pada batinnya.


" Awas nanti jatuh cinta.


Cinta kepada diriku.


Jangan-jangan kau jodohku." Ucap Arga dengan nada lagu armada.


" Hm, apaan sih !! Pede banget.


Ngeselin banget tau gak." Upat Hana.


" Haha, ngeselin tapi ngangenin kan ? Goda Arga lagi.


Hana menunjukkan ekspresi ilfiel pada Arga, tak ingin lebih lama di buat kesal oleh Arga, Hana beranjak pergi dari taman.


" Eh, nak kemana sih ? Buru-buru amat." Belum sempat Hana melangkah, Arga sudah mengatakan hal itu.


" Ngapain juga di sini ? Lama-lama di sini buat jamuran." Ketus Hana tetap melangkah meninggalkan Arga.


Arga tertawa mendengarnya, dan detik selanjutnya ia menyusul Hana berlari.


" Tungguin dong Han !! Cepat benget jalannya, macam nak di kerja ferguso pula." Ucap Arga asal.


Perkataan Arga berhasil menghentikan langkah Hana, " Ferguso ", bagaimana bisa Arga tau kosa kata bahasa Indonesia itu." Pikir Hana.


" Eh, awak !! Kenapa tau Ferguso ? Siape yang bagi tau? Tanya Hana penasaran.


Arga tersenyum miring." Amboy, aku kan punya kawan budak Jakarta mestilah tau." Jawab Arga.


" Budak Jakarta ? Rayhan maksudnya ? Tanya Hana.


" Iye, aku , Rayhan, Ranti always pakai bahasa Jakarta, ngerti kagak lu ? Ujar Arga.


Hana baru sadar belakangan ini, memang Arga, ataupun Izaz kalau berbicara bahasa Malaynya tak sekental akhir-akhir ini.


Dan kemungkinan faktor yang mendorongnya adalah Rayhan, Ranti dan juga Hana.


Yang juga sering berbicara dengan bahasa Indonesia.


" Oh, pantesan." Ucap Hana.

__ADS_1


" Eh, pantesan apa ? Tanya Arga.


" Pantesan kamu bisa bahasa Jakarta akhir-akhir ini." Jawab Hana.


Arga menganggukkan kepalanya, sembari tersenyum manis.


" Iya, bosen soalnya pake bahasa Malay terus." Jujur Arga.


Hana hanya mengedikkan bahunya, sebagai ekspresi mengatakan." Terserah deh."


Kemudian, Hana lanjut melangkah menuju Rumah Ranti.


Arga sedikit bingung dengan Hana, yang bersikap tidak care padanya.


" Eh, kamu gak mau nanyain gitu kenapa, aku gak jemput kamu ke rumah sakit ? Tanya Arga.


" Udah tau, gak penting juga !! Ketus Hana.


Arga tersentak kaget dong, dengar jawaban Hana.


" Gak penting gimana maksudnya ?? Kamu tau gak siapa yang jadi lawan aku." Ujarnya mencoba mencari perhatian Hana.


" Emang siapa ? Tanya Hana.


Arga tersenyum akhirnya Hana bertanya padanya.


" Banyak bangetlah anak buahnya, dan juga Andrea." Jawab Arga.


Hana menghela nafas sejenak.


" Maksud aku emang siapa yang peduli." Ujar Hana dengan ekspresi masa bodohnya.


" Amboy sombongnya awak ni !! Semenjak naik pangkat belaguk banget elo jadi orang." Kata Arga dengan logat ala-ala anak Jakarta.


Hana tertawa, sebab berhasil membalas Arga, yang kini tengah kesal.


" Terserah gua dong !! Bodoh amat." Ucap Hana terus melangkah menjauh dari Arga.


Arga tambah kesal dengan jawaban Hana." Ye, katanya mau nyelesaikan pertikaian. Giliran gua mau cerita masalah ini aja, elu mah cabut." Ungkap Arga begitu saja.


Sejenak perkataan itu seperti tamparan kecil untuk Hana.


" Eh iya juga ya. Seharusnya aku dengerin dia aja dulu. Bagaimana juga dia itu bijak sana, sangat tau bagaimana cara menuntaskan kasus ini." Batin Hana.


Hana berbalik dan menatap Arga.


" Hm, emang tadi gimana jadinya ? Kamu kalah ? Tanya Hana.


" Kalah ? Sejak kapan Arga bisa di kalahkan." Jawabnya dengan sombong.


Hana menaikkan sebelah bibirnya." Songong banget jadi orang." Cibir Hana.


" Hahaha, orang tampan mah bebas." Balasnya.


Hana semakin kesal, dan merasa bodoh, kenapa masih saja meladeni pria gila di hadapannya ini.


" Hm, sabar Hana dahlah buang waktu aja tau gak ngomong sama ni orang." Ucap Hana dalam hati.


Hana melangkah pergi meninggalkan Arga.


Arga yang menyusul Hanapun, ikut melihat pejabat tersebut.


" Kenapa boleh macam tu ha? Kau ni memang tak gune, lawan budak kecik macam Argapun kau tak mampu." Ucapnya.


Hana bertanya pada Arga dengan bahasa isyarat, agar tidak ketahuan olehnya.


Arga hanya berdelik pura-pura tidak tau, sebab dia ingin Hana mengetahuinya sendiri.


Wajah pejabat itu belum terlihat, dikarenakan dirinya membelakangi Arga dan Hana.


Tepat ketika ia berbalik, spontan saja Arga menarik lengan baju tangan Hana.


Agar bersembunyi dibalik tembok.


Hana yang di sentuh tangannya. Langsung saja naik pitam.


" Beraninya kau." Suara Hana mulai meninggi.


Arga mencoba menyuruh Hana diam, jika Hana terus-menerus seperti itu, bisa jadi mereka ketahuan.


" Kau boleh diam tak." Ucap Arga pelan pada Hana.


" Gak, kau tau dosanya itu gimana kalau kita nyentuh yang bukan muhrim kita ha? Lontar Hana yang sudah emosi.


Arga berdecak kesal, dengan Hana yang sangat keras kepala ini.


" Is, aku tau dosanya, tapi boleh tak jangan buka mimbar di waktu dan tempat yang salah." Ujar Arga dengan penekanan.


" Gak." Ketus Hana.


" Kalau kita ketahuan sama pengkhianat itu macam mane ? Spontan saja Arga kecoplosan mengatakan pejabat itu dengan panggilan " Pengkhianat."


" Pengkhianat ?? Maksudnya die tu pengkhianat selama ini yang kita cari ??


" Ala mak, mulut ni tak bisa kompromi sikit. Kan dah ketahuan." Batin Arga.


Arga tak bisa lagi menutupi hal ini pada Hana.


Akhirnya iapun mengangguk membenarkan kata Hana.


Alih-alih sibuk berdebat di balik tembok, akhirnya pejabat itupun mendengar suara bising dari balik tembok.


Karena penasaran akhirnya ia memutuskan untuk melihatnya.


" Dasar batu." Ledek Arga.


" Eh, dasar modus." Balas Hana.


" Dasar cerewet." Ucap Arga lagi tak mau kalah.


" Ish, dasar patung." Balas Hana.


Posisi pejabat itu saat ini tepat berada di hadapan mereka.


" Arga, Hana." Ucapnya.

__ADS_1


Jleb, yang empunya nama tersentak kaget, kala orang yang mereka pantau berada di hadapan mereka.


Ya, Hana terkejut melihat sosok


Orang yang selama ini tampaknya begitu baik, ramah dan juga sangat dekat dengan Raja. Ternyata adalah orang yang berperan utama ingin menghancurkan Raja. Seperti itulah terkadang, orang terdekat kita bisa menjadi musuh, bahkan itu jauh lebih sulit untuk menghancurkannya. Sebab keberadaannya tak ia tampakkan secara langsung. Kata lainnya menusuk dari belakang. Sulit untuk diketahui gerak-geriknya.


Berbeda dengan musuh nyata, yang secara langsung menusuk dari depan. Sedikit banyak kita tau gerak-geriknya.


" Astaghfirullah Uncle." Ucap Hana.


Berbeda dengan Arga, yang sudah mengetahuinya sejak lama. Dirinya tetap bersikap biasa.


Dan memberi isyarat pada Hana agar bersikap biasa saja, jangan panik apalagi takut. Agar mereka tidak ketahuan.


" Eh, Uncle." Sapa Arga.


Pejabat itupun mulai curiga pada mereka, apakah mereka mendengar pembicaraannya tadi atau tidak.


" Korang berdua, nak buat ape kat sini ? Tanya dengan ekspresi curiga.


" Eh eh kite berdua tengah rebutan coklat." Jawab Arga, untung saja Arga teringat dengan coklat yang ia genggam.


" Iye, Uncle kite lagi rebutan coklat sebab coklatnya tinggal satu." Sambung Hana.


" Uncle mau ? Tanya Arga basa-basi.


Pejabat Istana itu menggeleng, dengan ekspresi tidak percaya pada mereka.


" Tak, saye tak makan coklat." Jawabnya sembari pergi meninggalkan mereka.


" Alhamdulillah." Ucap mereka serentak.


Menghela nafas, sebab lega pejabat sialan itu telah pergi.


Hana yang masih tidak percaya bahwa dia seorang pejabat sekaligus pengkhianat.


" Arga, kamu udah tau lama kalau Uncle itu pengkhianat ? Tanya Hana.


Arga mengangguk, detik selanjutnya ia membuka suara." Aku sudah tau sejak satu setengah tahun lalu, saat dia datang menemui penjahat itu. Entah kenapa saat itu ban motorku bocor, bertepatan di bengkel aku nempelin ban, ada sebuah Caffe.


Dan dari pada aku nganggur nungguin motor di bengkel, aku memilih nongkrong sejenak ke Caffe itu. Dan di sanalah aku bertemu pejabat berengsek itu bertemu dengan penjahat itu." Jelas Arga pada Hana.


" Aku sempat mendengar apa yang mereka bincangkan, salah satunya kekuasan ayahku. Pejabat sialan itu inginkan kekuasaan ayahku.


Mengenai fitnah yang mereka jatuhkan pada Ayah dan keluarga Jihan.


Dan aku dengar dengan telinga dan mata ku sendiri ngeliat bahwa pejabat sialan itu, memberi upah atas semua yang telah pria itu lakukan sesuai perintahnya. Dan kekacauan antara Penang dan Terengganu juga adalah ulahnya.


Detik selanjutnya Arga tertawa. Hana yang melihat Arga tertawa merasa bingung.


" Kenapa kau tertawa ? Tanya Hana.


" Aku menertawakan kebodohannya mereka, yang telah membiarkan ku mengetahui semuanya." Jawa Arga.


" Dan aku akan balas semua kejahatan dan kedzaliman yang dia perbuat, sekaligus menghentikan semua rencana buruknya." Ucap Arga dengan tegas, seakan-akan ingin menghabisi Pejabat sialan itu.


Hana menghela nafas." Hu, jangan sampai ada dendam yang terkemas di hatimu Arga, yang takutnya akan membuatmu terjatuh dan menjadikan pribadi yang dikendalikan oleh dendam dan amarah, Ga." Kata Hana mencoba untuk memperingatkan Arga.


Arga tersenyum pada Hana." Insya Allah tidak Han, aku hanya ingin memberantas kejahatan. Dan aku ingin melihat negeriku aman dan damai, tanpa adanya pengkhianat." Ucap Arga dengan tatapan jujurnya.


Hana membalas senyuman Arga. Kini kedua mata mereka tengah bertemu, seketika hati Hana berdetak tak karuan, tubuhnya menjadi salah tingkah saat di tatap oleh Arga. Detik selanjutnya ia menolehkan pandangannya ke arah lain. Karena dia tak ingin terjerumus pada Zina mata lebih lama.


" Astaghfirullah Hana, ingat dosa Hana." Ucapnya pelan.


Sementara Arga masih saja menatapnya dengan intens. Detik selanjutnya ia memberikan coklat yang di genggamnya sejak tadi pada Hana.


" Coklat." Tawarkan nya.


" Hm, bo--leeh." Ucap Hana grogi kemudian meraih coklat pemberian Arga.


Arga menertawakan kegrogian Hana." Gak usah grogi kali, gak lagi acara nikahan juga." Ucapnya sembari mengedipkan matanya pada Hana.


Hana membeliakkan matanya, lagi dan lagi pemuda aneh dihadapannya kembali membuatnya kesal.


" Entar di saat yang tepat kita bakalan nikah kok, entah itu aku dan kau yang menjadi pengantinnya atau justru salah satu dari kita menjadi tamu undangan. Namun, ku harap kelak Allah akan menyandingkan kau denganku, bersama-sama berjuang menuju JannahNya." Ucapan yang Arga ucapkan kedengaran sangat serius.


Arga masih saja menatap Hana dengan tatapan intensnya. Membuat Hana terdiam membisu, bahkan kini degupan jantung semakin keras memberontak.


" Ya Allah, ku mohon jangan buat hatiku jatuh secepatnya ini, luka lama saja belum sepenuhnya sembuh. Ku mohon jauhkan aku dari cinta yang salah ya Allah." Ucap Hana dalam hatinya.


Beberapa detik mereka di selimuti keheningan. Tak ada pembicaraan di antara mereka lagi.


Membuat suasana semakin canggung.


Dan bahkan keduanya saling salah tingkah.


Hana yang ingin beranjak pergi ke kanan, mala justru pergi ke kiri.


" Arga aku permisi luan ya." Ucapnya kemudian pergi ke arah kiri.


Arga yang mengetahui Hana tengah di selimuti kegugupan pun tertawa.


" Bukannya rumah Ranti arah ke kanan ya ? Ujarnya.


Hana yang mendengar perkataan Arga, baru sadar bahwa dirinya salah arah.


" Aduh kenapa jadi gak fokus gini." Ucap Hana pelan kemudian berbalik pergi ke arah Kanan.


" Hehe, jangan gara-gara gak fokus kamu nabrak tembok loh." Kata Arga lagi.


" Ih, nyebelin." Upat Hana dengan ekspresi kesalnya.


Arga tertawa bahkan terbahak melihat Hana yang salah tingkah.


Sementara sejak tadi ada sosok yang tengah memantau mereka.


" Hm, kau memang pintar Arga. Usiamu masih muda tapi pemikiran mu sangat luar biasa. Bahkan jiwa kepemimpinan terletak pada dirimu, kau tak ada bedanya dengan Nazhanul Hakim." Ujarnya.


" Hahah, tapi sayang kau memang pintar tapi aku bisa jauh lebih licik. Lihat saja permainan akan segera di mulai." Dirinya kini menertawakan Arga dari kejauhan.


" Dan kau Hana, gadis yang sangat pintar tapi sayang karena kesok beranian dan sok kepedulian mu itu terhadap negri ini, kau jatuh pada lembah yang curam, karena telah mencampuri urusan." Ucapnya dengan penuh keseriusan.


Ya, sosok itu adalah Pejabat yang telah berkhianat pada Nazhanul.


Sevimli 6 November 2020

__ADS_1


Salam hangat dari Author 🌹


__ADS_2