Pelangi Hanani

Pelangi Hanani
Part 125 Kabar kehilangan Hana


__ADS_3

" Neraka adalah tempat yang paling tepat untuk mengadili manusia-manusia brengsek."


..... " Pelangi Hanani 🌹".....


Sudah hampir seminggu.


Sosok Hana tidak kelihatan di Asrama dan juga Kampus.


Hal ini, menyita perhatian para temannya dan juga Mahasiswi Al Azhar lainnya.


Kabar kehilangan Hana, sudah disebar baik melalui media ataupun secara langsung.


Nima dan Raisa adalah orang-orang pertama yang resah dengan kehilangan Hana.


Kedua perempuan itu tak hentinya mencari kabar tentang Hana. Bahkan setiap harinya, mereka mencari Hana di Sungai Nil, bahkan sampai ke Alexandria.


Namun sayang, hasilnya nihil.


Tidak ada sama sekali.


" Sa !


Kemana lah si Hana ini dah ?


Kalau dapatku dia kumarahi dia nanti.


Palak kali aku, gak tau dia kita disini udah kangen diceramahi sama dia ha ?


Setetes air mata mulai keluar dari sudut mata Nima. Raisa yang melihat itu, langsung memeluk Nima.


" Kita berdoa aja ya, Nim.


Semoga Hana gak kenapa napa." ucapnya.


Nima membalas pelukannya.


" Khawatir aku sama Hana, Sa.


Udah makannya dia disana ?


Udah kekmana ya dia disana ?


Nima merasa terpukul sekali dengan hilangnya Hana, tanpa kabar.


Raisa terus mengelus punggung Nima, untuk menguatkan Nima.


" Besok kita cari Hana lagi, ya." ujarnya.


" Sekarang kita pulang dulu ya, Nim. Udah larut malam soalnya."


Nima pun mengangguk menuruti ajakan Raisa.


Kedua gadis itu pun kembali masuk ke Asrama masing-masing.


Berharap esok hari ada keajaiban yang akan mempertemukan mereka dengan Hana.


...🍂🍂🍂...


Kabar kehilangan Hana telah tersebar dimana-mana. Bahkan PPPI dunia juga sudah mengekspos kabar tersebut.


Ting..


Ada sebuah notifikasi muncul di ponsel Rayhan.


" Apa ni ?


Tumben PPPI dunia ada notif."


Rayhan yang penasaran langsung, mengklik untuk melihat ada berita apa disana.


" Ha ? mata Rayhan terbelalak saat membaca kabar tersebut.


Dengan cepat Rayhan keluar dari kamar apartemennya, dan beranjak ke kamar Arga.


" Gila !


Kok bisa-bisanya ini terjadi."


Rayhan lari dengan hati yang penuh khawatir.


Ia tak lagi peduli dengan kaus oblong dan celana pendek yang ia kenakan. Yang ia inginkan saat ini, bisa segera memberikan kabar ini pada Arga.


Sesampai di depan pintu kamar Arga.


Rayhan langsung menggedor keras pintunya.


Tokk..


Tokk..


" Wey Arga !


Buruan bukain." teriaknya.


Masih tak ada jawaban dari bilik apartemen itu.


" Arga kampret !


Buruan ! teriaknya lebih kencang.


Arga yang sedang sibuk mengerjakan proyek kuliahnya, berdecak kesal dengan orang yang membuat kekacauan di depan kamarnya.


" Ck !


Rayhan si bodoh ini, mengganggu saja." kesal Arga.


Arga pun beranjak dari bangkunya dan melangkah untuk membukakan pintu.


" Arga bre--


Ceklek..


Pintu terbuka.


" Lo kira kamar gua hutan rimba apa ?


Bising lo !


Rayhan pun segera memperlihatkan apa yang ada di ponselnya pada Arga.


" Lo baca ini pake mata lo ! ujarnya.


Dengan melas Arga pun enggan membacanya.


" Basi !


Paling juga lo mau nunjukin gosip cewek saweran." tolaknya.


Rayhan melotot kesal dengan manusia yang berada di hadapannya ini.


" Iya cewek saweran, puas lo ! timpalnya, menzoom berita itu dan memaparkannya ke wajah Arga.


Niat tidak niat, kabar itupun terbaca juga oleh Arga. Ekspresinya tak kalah terkejut dari ekspresi Rayhan tadi.

__ADS_1


" Hana hilang ?


Takut, khawatir dan cemas terpadu seketika di relung hatinya.


" Ray !


Gua harus ke Mesir sekarang !


Gua harus cari Hana sampe ketemu."


Arga langsung mengambil kopernya.


Dan mengisinya dengan beberapa pakaian di dalamnya.


Rayhan pun mengikuti langkah Arga.


" Gua tau lo cemas sama Hana.


Gua juga sebagai sahabat Hana merasakan hal yang sama. Tapi, kalau lo mau ke Mesir ga bisa dalam sekejap bro ! Masih banyak yang harus lo urus. Mana lo bentar lagi mau sidang." ucap Rayhan mengingatkan Arga.


" Gua gak peduli sama sidang itu.


Kalau gua ngulang tahun depan, biarin aja.


Yang penting gua segera nemuin Hana."


Arga sudah penuh tekad akan mencari Hana.


Rayhan pun memahami akan hal itu.


" Kita cari Hana sama-sama." sahut Rayhan dengan senyumannya.


Arga pun tersenyum.


" Gua yakin, Hana gak mungkin hilang gitu aja, pasti Hana terlibat sesuatu."


Arga mengingat bahwa Hana pernah bercerita mengenai pertemuannya dengan perempuan misterius yang ditarik paksa oleh seorang pria. Kemungkinan besar, Hana dengan rasa penasaran sekaligus ibanya. Nekad untuk mencari perempuan itu.


" Sesuatu apa, Ga ? tanya Rayhan mendekat.


" Hana pernah cerita, kalau dia pernah ketemu sama cewek misterius, si cewek itu ditarik paksa gitu sama cowok tegap tinggi."


Arga beralih ke jendela kamarnya.


Dan membuka tirai itu, tampaklah malam dengan segala perniknya.


" Lo taukan gimana Hana.


Rasa simpati dan pedulinya terhadap orang lain itu besar banget, sekalipun orang itu gak dia kenal sama sekali."


Rayhan mengangguk membenarkan perkataan Arga.


" Menurut gua.


Bisa jadi Hana nyari tu cewek dan akhirnya terjadilah peristiwa kehilangan dirinya.


Gua yakin, cowok yang nyeret cewek itu dalang dibalik ini semua." ucap Arga dengan keyakinan penuh.


Rayhan menggeleng kagum pada sosok Arga.


Ia tak menyangka bahwa kecepatan daya tangkap Arga di atas rata-rata. Dia bisa menghubungkan antara peristiwa yang satu dengan yang lainnya. Pantas saja belum sampai empat tahun, ia telah hampir menyelesaikan gelar sarjananya.


" Gila.


Otak lo kok bisa encer gitu, ya.


Otak gua yang pas-pasan gini, jadi iri." sahut Rayhan.


Arga melirik Rayhan dengan sedikit sinis.


" Siap."


Arga pun kembali menutup tirai jendela, dan meraih ponselnya. Membuat fitur galeri disana.


Poto seorang gadis berjilbab Olive sedang tersenyum dengan setangkai bunga di tangannya. Menjadi titik fokus tatapan Arga.


Tatapan mata yang teramat sendu.


Tengah terbendung air mata di sana.


Rayhan menepuk pelan pundak Arga.


" Hana gadis yang kuat.


Dia pasti baik-baik aja."


Malam itu menjadi malam paling berkecemuk untuk mereka. Bahkan mata Arga sulit untuk terpejam meski sedetik saja.


Berulangkali tubuhnya ia ajak rebahan, berulangkali pula tubuhnya mengajaknya bangkit.


" Astaghfirullah ! ucap Arga, mengusap kasar wajahnya.


Dari pada terus berselimutkan resah, Arga pun bergegas ke kamar mandi, untuk mengambil wudhu dan melaksanakan salat qiyamullail.


Dua rakaat yang ia laksanakan dengan kusyuk, disertai dengan dzikir seusainya.


Nama Hana menjadi prioritas dalam doanya saat ini.


Bukan lagi tentang mempersatukannya dengan Hana, melainkan tentang mempertemukannya dengan Hana secepatnya.


Dengan segenap hati, ia menuangkan segalanya dalam syair doanya.


Ia percaya bahwa Allah selalu melindungi hambaNya seperti Hana.


" Kamu hamba terbaikNya.


Ia tidak akan mungkin membiarkanmu terluka, Hanani Syaufa." ucap Arga.


Sesuai melaksanakan sunah itu, Arga memilih untuk mencari teman-teman Hana melalui media sosial Hana.


Dari Facebook, Arga beralih pada Instragram.


Arga membuka feed Hana, dan muncullah ada poto dirinya bersama Nima dan Raisa di Pantai Alexandria.


Dengan caption


" Gak butuh holiday, butuhnya Allah, every day."


Hana men-tag akun instagram Nima dan Raisa.


Hal itu pun menyita perhatian Arga, dengan cepat jari Arga mengklik akun instagram Raisa.


Dan mencari-cari nomor ponselnya di info.


Beruntung Raisa, mencantumkan nomornya disana. Kalau tidak, Arga tidak akan menemukannya.


" Ini dia nomornya.


Semoga aja bisa." ucap Arga.


Arga pun mengetik nomornya dan melakukan panggilan pada nomor tersebut. Tak peduli sudah selarut apa ini.


Tuttt....

__ADS_1


Panggilan masuk.


Pikiran Raisa yang masih mengkhawatirkan Hana, mengalami hal yang sama. Tidak dapat tertidur nyenyak. Sesekali matanya tertutup, sesekali pula terbuka.


Ia mendengar suara ponselnya berbunyi.


" Siapa ya ?


Menghubungi tengah malam gini ? "


Raisa pun meraih ponselnya dan melihat pada layar ponselnya ada nomor panggilan baru dari nomor baru.


" Nomor baru ?


Siapa ini ? Mana nelpon tengah malam lagi ?


Raisa awalnya menolak untuk mengangkatnya karena merasa malas menanggapi nomor yang tidak ia kenal.


" Tapi, kalau ini mengenai Hana ? " pikirnya.


Raisa pun menggulir tombol hijau di ponselnya.


Mengangkatnya hati-hati ke telinganya.


" Hallo ini siapa, ya ? " tanya Raisa to the point.


" Assalamu'alaikum." ucap Arga.


" Waalaikumussalam." jawab Raisa.


Ini siapa ? " tanyanya lagi.


" Lo temannya Hana, kan ? " interogasi Arga.


" Iya, ada apa ?


" Gua Arga teman aliyahnya, Hana."


Gua mau tanya sama lo, ma--


" Eh bentar deh.


Kita kan gak kenal, dapat nomor saya dari mana ?


" Gak penting !


Gua mau nanya, lo ingat kemana Hana terakhir kalinya pergi ? "


Raisa mencoba berpikir sejenak, tengah mengingatnya.


" Terakhir kali, kita barengan pulang dari Kampus, tapi kemarin itu Hana gak langsung balik ke Asrama, dia pergi lagi deh."


Ya, Raisa ingat saat itu, dia dan Nima yang terlebih kembali ke Asrama, sementara Hana masih ada sesuatu urusan.


" Lo tau tempat yang sering Hana cari ? "


" Sungai Nil, Hana hampir setiap hari kesana." jawab Raisa yakin.


" Sungai Nil ?


Ngapain dia kesana ?


" Eee...."


Raisa merasa bingung, haruskah dia memberitahu bahwa Hana kesana, ingin bertemu dengan gadis Trixtal Bar itu.


" Ngapain ?


Hahhh...


Raisa merilekskan dirinya.


" Hana kesana ingin bertemu dengan gadis Trixtal Bar." jujur Raisa.


" Siapa itu, gadis Trixtal Bar ?


" Wanita malam."


Jleb.


Mendengarkan Raisa mengucapkan itu, Arga pun mulai menghubungkannya dengan perihal Hana bertemu dengan gadis yang ditarik paksa oleh seorang pria itu.


Apa mungkin itu orang yang sama ?


Begitulah kira-kira benak Arga.


" Apa gadis itu adalah gadis yang sama dengan gadis yang diceritakan Hana ?


Kalau seperti itu Hana dalam keadaan bahaya."


" Ahiya, insya Allah soon gua ke Mesir.


Gua minta kerja sama lo, buat ngasih tau tempat-tempat mana yang sering Hana kunjungi." ujar Arga pada Raisa.


" Lo tenang aja.


Gua bakal bantuin kalau itu menyangkut Hana." ucap Raisa.


" Bagus.


Gua tutup, assalamu'alaikum." Arga mengakhiri panggilan.


" Waalaikumussalam."


Setelah selesai berbicara dengan Raisa.


Arga langsung mengalihkan jarinya ke fitur Google untuk mencari tau mengenai Trixtal Bar itu.


Setelah pencarian berhasil.


Terlihatlah sebuah bangunan mewah di daerah Alexanderia di layar ponselnya.


" Alexandria.


Daerahnya jauh dari keramaian, bahkan juga sulit untuk dijangkau banyak orang.


Ini kayaknya emang salah satu Bar terbesar di Mesir deh."


Arga pun mulai membaca-baca artikel mengenai tempat itu, dan ternyata benar Trixtal Bar, merupakan Bar nomor dua terbesar di Mesir yang sudah berdiri hampir 9 tahun.


Dan pemiliknya bernama Emrin Alyvsa.


" Pria brengsek ! " upat Arga, saat poto Emrin keluar di layar ponselnya.


" Neraka adalah tempat yang paling tepat untuk mengadili para manusia BRENGSEK kayak lo."


Brak...


Saking kesalnya Arga melihat Emrin, Arga membanting ponselnya.


Bersambung....


Sevimli 27 September 2021

__ADS_1


Salam hangat dari Author 🌹


__ADS_2