Pelangi Hanani

Pelangi Hanani
Part 102 Mulut pedas Arga


__ADS_3

" Sejauh apapun kita meninggalkan Allah, kasih sayang Allah tetap akan terbuka lebar untuk hambaNya yang mau mendekat kembali ke padaNya."


...... " Pelangi Hanani 🌹" ......


Hari berlalu begitu cepat.


Duduk sejenak sudah menjadi siang.


Berbaring sejenak sudah menjadi malam.


Kilau mentari sudah menampilkan wajahnya.


Mengawal pagi penduduk bumi dengan penuh suka ria.


Sepagi ini Hana sudah beberes untuk keberangkatannya besok hari ke Indonesia.


Ya, setelah ia melaksanakan ujian tes masuk Universitas Al Azhar. Dengan izin Allah, Hana dinyatakan lulus untuk menempuh pendidikan disana.


Untuk urusan biaya Nazhanul Hakim sudah berbicara pada Hana dan orang tuanya. Bahwa ia lah yang akan membiayai Hana selama disana sampai Hana menyelesaikan Pendidikannya.


Kalimat tasbih tak pernah berhenti berbunyi dari mulutnya. Ia bersyukur atas nikmat yang berkali-kali Allah hujani padanya.


" Pesawatmu jam berapa besok, Han ?


Hana menoleh." Jam 08.10 am, Han."


Ranti pun mengangguk." Aku antar ya sampe Bandara."


Hana mengangguk." Terima kasih ya, Ran."


Ranti mengangguk dan merentangkan kedua tangannya, mengizinkan Hana untuk memeluknya.


Dengan cepat Hana memeluk Ranti.


" Kita bakal pisah, Han." ujar Ranti.


Hana mengangguk." Bagaimana bisa aku menjalani hidupku tanpa adanya kekonyolanmu, Ran ?


Ranti terkekeh kecil." Sudah ku bilang, semua orang akan merindukanku." Ranti mengelus punggung Hana.


Begitu juga dengan Hana, ia mengelus lembut pucuk kepala Ranti.


" Jaga dirimu baik-baik disana ya.


Aku gak bisa lagi jagain kamu, kayak disini."


Setetes air matapun tercurah dari sudut matanya.


Hana menghapus lembut air mata itu dengan jari jemarinya.


" Ada Allah yang jagain aku.


Jangan takut ya, kamu juga jaga diri baik-baik ya di Brunei, jadi apoteker yang baik ya, yang suka nolongin orang." Ranti mengangguk seraya menggengam tangan Hana.


" Ih jadi melow gini kan." sebel Hana.


" Haha iya ni, hilang deh cantiknya."


Keduanya saling tersenyum satu sama lain.


Kemudian kembali mendekap erat satu sama lain.


" Empat tahun.


Kita pasti bisa." kata Ranti.


" Iya. Kita sering telponan ya, VC-an.


Biar ngilangin rasa rindu.


.


.


.


Seusai sholat ashar Hana memutuskan untuk pergi keluar sebentar, ada sesuatu yang ingin ia beli untuk oleh-oleh khas Malaysia.


" Maaf ya Han.


Aku gak bisa nemenin kamu, soalnya aku lagi tes online ni." permohonan maaf Ranti.


" Iya gak apa-apa.


Aku pergi sendiri aja, semangat tesnya.


Assalamu'alaikum." ucap Hana.


" Sip..


Hati-hati Han, waalaikumussalam."


Hana pun menghidupkan mesin motor matic Scoopy punya Ranti, dan melajukannya. Menuju mini market tempat penjualan khusus oleh-oleh Malaysia.


Teppp.. Tongkat motor Matic terpakir depan mini market.


" Sampai juga." lega Hana.


Beranjak dari motornya, dan melangkah memasuki minimarket. Keadaan mini market kali ini cukup ramai.


Bahkan Hana sampai kesulitan untuk berjalan menuju tempat jajanan khas Malaysia.


" Padat juga ternyata.


Gimana mau lewat kalau gini ceritanya."


Bughh... tiba-tiba saja ada tubuh yang menyenggol lengan Hana.


" Astaghfirullah." ucap Hana.


" Eh awak ni kan ? Kalau jalan tu kenalah betul-betul." ketusnya pada Hana.


Ha ? Bukannya dia yang nyenggol aku ? benak Hana.


Hana pun menerbitkan senyum simpulnya.


" Maaf ye.


Bukannya awak yang tabrak saya ? Jalan tak gune mata elok-elok ? Saya kat sini diam je tak de gerak sikitpun. Awak tiba-tiba datang tabrak saya, terus salahkan saya ke ha ?


Pria itu pun terdiam, dengan tatapan tajamnya memandang Hana.


" Betul tu.


Awak yang salah bukan anak dara ni." sahut salah satu pengunjung.


" Awas kau !! ucap pria yang menyenggol Hana, sebelum ia pergi meninggalkan Hana.


Setelah kepergian pria itu, Hana pun dapat bernafas lega." Alhamdulillah, kok ada sih cowok gila kayak gitu, moga aja gak ketemu lagi."


Hana pun melanjutkan kegiatannya membeli oleh-oleh untuk ia bawakan kepada keluarganya.


Setelah keranjang Hana penuh diisi dengan berbagai jajanan Malaysia. Hana pun mengantri di kasir untuk menunggu gilirannya membayar biaya belanjanya.


Karena bingung sekaligus banyak yang ia beli, waktu yang ia pakai di mini market memakan hampir satu jam.


" Masya Allah, lama banget aku udah disini." ujarnya baru menyadarinya.


Drttt.. Ponsel Hana berbunyi.


Hana pun meraih ponselnya.


Ada panggilan masuk dari Arga.


" Arga." Hana menggulir tombol hijau.


" Assalamu'alaikum, ada apa Ga ?


" Waalaikumussalam, kamu lagi dimana ? tanya Arga.


" Aku lagi di Mini market, Pahang." jawab Hana.


" Ohiyaiya, aku susul kamu deh.

__ADS_1


Takut kamu kenapa-kenapa."


" Ih aku bisa jaga diri kali, Ga.


Kamu luka aku ini cewek strong ? Hehe.


" Hm, iyaiya.


Tapi, pokoknya aku tetep susul kamu." kekeuh Arga.


" Terserah deh.


Assalamu'alaikum."


" Waalaikumussalam."


Panggilan berakhir.


Hana pun memasukkan kembali ponselnya.


" Next." kata kasirnya mempersilahkan Hana, kini gilirannya.


" Ah iya kak."


Hana pun menyerahkan belanjaan agar dihitung biayanya.


" Semuanye 120 Ringgit." total belanja Hana.


Hana pun mengeluarkan beberapa lembar uang Ringgit dari tas slingbadnya.


" Ini kak." membayar biaya belanjanya.


" Ah pas ye.


Thank you, selamat menikmati."


Hana pun meraih kantung plastik yang berisikan belanjanya, kemudian keluar dari mini market tersebut.


Saat Hana melihat motornya, ada hal yang membuatnya bingung. Ya ban motornya bocor bagian belakang.


" Loh, bannya kok bisa bocor."


Hana memeriksa bannya, ternyata benar bannya bocor. Hana pun melihat ke sekeliling jalanan, adakah tempel ban terdekat ?


" Mana tempel ban gak ada lagi, yang deketan dari sini, ya Allah gimana ini ?


Hana pun memilih duduk di tepi teras mini market, mengutak-atik ponselnya. Mencari tempel ban terdekat.


Namun sayang, tak ada satupun yang terdekat dari tempatnya berpijak." Haaahh.." Hana menghembuskan nafasnya.


Dan mendongakkan kepalanya kepalanya keatas, melihat langit yang mulai menggelap, namun pandangan Hana bukannya terfokus pada langit, melainkan terfokus pada sosok perempuan yang berdiri di atas gedung mini market berlantaikan tiga itu.


" Astaghfirullah..


mbak itu mau ngapain." Hana mulai panik.


Tak berpikir lama, Hana pun meletakkan belanjaan di motornya, dan berlari kembali masuk ke mini market.


" Mbak, tangga mau ke atas darimana ya ? tanya Hana ke salah satu karyawan mini market.


Saking paniknya Hana menggunakan bahasanya.


" Oh kat sane, sebelah kanan ye.


Kalau mau tau nak buat ape ye ? tanyanya pada Hana.


" Ada seseorang yang harus saya tolong diatas." Hana pun berlari menuju ke tangga yang dimaksud.


Dengan langkah yang cepat, Hana tak lagi peduli dengan dirinya. Yang hanya ada dibenaknya adalah menggagalkan perempuan itu untuk bunuh diri.


" Hahhh


Hahhh.. " Hana sampai juga dilantai luar paling atas dengan nafas ngos-ngosan.


Hana pun melihat sosok perempuan yang sudah siap untuk melakukan bunuh diri itu.


Perempuan itu memegangi perutnya yang cukup membuncit, dengan penuh linangan air mata.


Hana pun melangkah dengan perlahan-lahan, tak ingin suara langkahnya terdengar oleh perempuan itu. Setelah jarak Hana dengan perempuan itu hanya beberapa senti.


" Lebih baik aku mati !! ucap perempuan itu dan menjatuhkan tubuhnya.


" Mbak." Dengan cepat Hana menarik tangannya sekuat tenaga. Membuat perempuan yang sudah berada di tepi bangunan itu terkejut.


" Lepasin aku !! Biarin aku mati !! teriaknya pada Hana.


Hana enggan melepaskan tangannya, ia justru lebih erat lagi menggengam tangan perempuan itu dan berusaha menariknya kembali Ka atas.


" Mbak jangan lakuin ini mbak ! ucap Hana.


Perempuan itu berusaha untuk melepaskan tangannya dari Hana." Lepasin !! Kamu gak tau seberapa berat hidupku. Aku lebih baik mati daripada hidup dengan semua kesakitan yang ku alami !!


" Mbak pikir dengan bunuh diri solusinya ha ?


Bahkan diakhirat semuanya jauh lebih sulit mbak, kalau mbak mengakhiri semuanya dengan bunuh diri."


Hana terus menarik tangan perempuan itu.


Mendengar perkataan Hana, membuat perempuan itu terdiam sejenak. Ia merasa tertampar dengan perkataan Hana.


Namun, ingatannya pada lelaki bejat itu pun kembali berputar, membuat keinginannya untuk mati tetap menggebu.


" Lepasin." ia berusaha melapaskan tangan Hana.


Membuat genggaman Hana perlahan merenggang.


" Mbak jangan lakuin ini, mbak.


Setiap masalah punya porsi penyelesaian, mbak."


Hana sudah tidak kuat lagi, untuk menarik tubuh perempuan ini.


Genggaman itupun terlepas.


" Mbakkkkkkk !! teriak Hana yang memejamkan matanya. Tidak sanggup melihat perempuan itu terjatuh ke bawah dengan ketinggian yang cukup tinggi.


" Kenapa kamu menolongku !! teriak perempuan itu pada sosok pria yang berhasil menarik tubuhnya kembali ke atas bangunanan.


Teriakan itu membuat Hana membuka matanya.


Ia menatap pria yang menolong perempuan itu.


" Arga."


Ya, Arga yang berhasil menarik perempuan itu.


Arga tersenyum pada Hana.


" Gua gak nolongin lo ! Tapi gua cuma gak mau bayi dalam kandungan lo jadi korban dari kebodohan lo !! ketus Arga tanpa menoleh pada perempuan yang hendak bunuh diri itu.


Perempuan itu mendekati Arga dan meraih kerah jaket kulit Arga." Apa kau tau bagaimana malunya aku karena bayi ini ? Apa kau tau bagaimana orang-orang memandangku hina karena bayi sialan ini ha ? teriaknya histeris pada Arga.


Arga hanya tersenyum simpul meresponnya.


Sementara Hana mendekati perempuan itu, berusaha untuk menenangkannya." Mbak, kita istirahat dulu ya mbak." Hana mengajaknya duduk, namun sayang perempuan ini justru mendorong Hana.


" Jangan sentuh aku !! teriaknya.


Membuat Arga sentak sedikit emosi." Lo jangan dorong Hana kayak gitu, BRENGSEK !! tidak terima dengan perlakuan perempuan gila ini pada Hana.


" Arga." panggil Hana menggeleng, berusaha membuat Arga menahan emosinya.


Arga pun menurunkan tangannya yang terkepal.


" Kenapa lo baru sadar sekarang ha ? Sebelum lo ngelakuinnya kenapa otak lo yang minim itu gak mikirin konsekuensinya ke depan ? Lo jelas-jelas udah taukan kenapa Allah ngelarang ngelakuin zina ? Lo mau bunuh bayi lo ? Itu sama aja lo lebih kejam dari Fir'aun !! Fir'aun itu bunuh anak yang bukan darah dagingnya, sementara lo mau bunuh darah daging lo ?


Perempuan itu tertunduk, menatap lantai dengan tatapan penuh air mata." Dia bilang akan bertanggung jawab apapun yang terjadi, setelah kami melakukannya. Tapi nyat--- " lirihnya diantara isak tangisnya.


" Hahaha... Arga tertawa renyah, menatap remeh perempuan bodoh dihadapannya.


" Basi tau gak !!


Entah berapa ratus kali lagi harus dijelaskan sama lo kalau kebanyakan laki-laki yang ngomong kayak gitu adalah laki-laki b*jingan !! tekan Arga.

__ADS_1


Hana pun mendekati Arga dan menyuruhnya untuk tidak terus menyudutkan perempuan ini, melalui sorot matanya." Arga."


Tapi, bukan Arga namanya kalau belum semua yang ada di hatinya keluar, ia takkan mau berhenti.


" Gua ngatain semua hal ini, agar mata hati lo itu kebuka buat minta ampun sama Allah !


Lo itu udah berbuat dosa, gak seharusnya lo itu mala ngungkit takdir. Karena bukan takdir yang kejam ke elo, tapi lo yang udah ngebentuk takdir semenyedihkan ini ke hidup lo." kata Arga dan selanjutnya ia melangkah menjauhi perempuan itu.


Perempuan itu semakin terisak, menangis tersedu-sedu mendengar perkataan pedas Arga.


Sementara Hana justru mendekap perempuan itu.


" Mbak, Allah itu maha penyayang kok mbak.


Pintu ampunan selalu terbuka untuk hambaNya yang mau bertaubat ke jalanNya.


Mbak sudah tau berbuat kesalahan seharusnya mbak memperbaikinya, bukan mala menyesalinya dan menganggap bunuh diri sebagai jalannya, mbak.


Hana menjeda beberapa detik ucapan, kemudian melanjutkannya kembali.


" Kembali kepada Allah adalah jalan terbaiknya,mbak.


Sejauh apapun kita meninggalkan Allah, kasih sayang Allah tetap akan terbuka untuk hambaNya yang mau kembali mendekatkan diri kepadaNya." Hana mengelus lembut punggung perempuan ini.


Membuat perempuan ini, sedikit nyaman dalam pelukan Hana." Apa aku masih disebut sebagai hambaNya ? ucapnya.


Hana mengangguk." Semua yang ada dimuka bumi ini pada dasarnya terlahir sebagai hamba Allah mbak, namun, yang menjadikan ia sebagai Islam atau tidak adalah kedua orang tuanya. Akan tetapi, ada juga manusia-manusia terpilih yang Allah anugrahi hidayah untuk memeluk agama yang Allah ridhoi."


Mendengar perkataan Hana, semakin membuat perempuan ini tenang. Ia melepaskan pelukannya dan menggenggam tangan Hana.


" Terima kasih telah mengetuk hati saya." ucapnya.


Hana tersenyum." Bukan saya yang mengetuknya mbak, tapi Allah lah yang mengetuknya."


" Tira." ia memperkenalkan dirinya dan menjabat tangan Hana.


" Hana." Hana membalas jabatan tangannya.


" Kamu mau kan membantuku untuk berubah menjadi lebih baik lagi ?


Hana tersenyum." Insya Allah, kak."


Senyuman di wajah Tira pun mengembang, namun detik selanjutnya, senyuman itu kian menghilang.


" Loh, kok murung lagi kak ? tanya Hana.


Tira menatap langit yang sudah menggelap.


" Apa aku bisa melakukannya ? Sepertinya akan terlalu berat." putus asanya.


" Mbak niatkan semuanya pada Allah, tiga mbak adalah berusaha semaksimal mungkin untuk mencapai pintu taubatnya, dah urusan selebihnya serahkan pada Allah, mbak, yakinlah dengan begitu Allah akan mempermudah segalanya."


Tira pun mengangguk dan berusaha menyakinkan dirinya, bahwa apa yang dikatakan Hana benar adanya.


Ia memegang perutnya yang cukup membuncit itu, dan air matanya kembali menetes.


" Maafkan aku ya, yang menyalahkanmu atas segala dosa yang kuperbuat." ucapnya. seraya mengelusnya.


Hana menunjukkan sebuah kontak di ponselnya.


" Mbak bisa hubungi ummi Dijah, insya Allah ditempatnya mbak akan dibimbing dengan baik." ujar Hana.


" Kenapa bukan kamu yang membimbing saya ? tanyanya.


Hana tersenyum." Besok saya kembali ke Jakarta, mbak dan akan kembali enam hari lagi kesini, tapi setelah itu saya sudah harus berangkat ke Mesir untuk belajar di sana mbak." jelas Hana.


Tira pun mengangguk, dan mencoba untuk memahami keadaan Hana." Ya, sudah saya simpan kontaknya ya." ia pun menyimpan kontak Ummi Dijah di ponselnya.


Benarkan ? Perkataan Hana kerap kali dapat meneduhkan hati siapapun yang mendengarnya.


Seusai semuanya membaik, keduanya pun turun ke bawah dan mengambil kendaraannya masing-masing.


Tira dengan mobil Lamborghininya, dan Hana dengan motor maticnya.


Namun, Hana tak melihat motor maticnya lagi di parkiran." Loh motornya kemana ? ia mencarinya.


Sstttt... Ada mobil yang berhenti dihadapannya.


Dan pemilik mobil pun keluar.


" Cepetan masuk !


Udah mau magrib." ketus Arga.


" Tapi motornya mana ? tanya Hana.


" Udah dibawa ke bengkel."


Hahh.. Hana bernafas lega.


" Kiran hilang."


Tira yang masih melihat Hana berdiri pun menghampirinya." Ada apa Han ? tanyanya.


" Ah, gak mbak.


Ini motor Hana tadi bocor nah, sekarang udah dibawa ke bengkel." jawab Hana.


" Terus kamu balik naik apa ? Biar kakak antar yuk." tawar Tira.


" Eh gak usah,mbak.


Saya sama temen saya aja, searah kok rumahnya." tolak Hana.


Tira melirik Arga." Oh sama calon kamu."


Ha ? Calon ?


Hiyakkkss...


" Dia bukan calon saya mbak, kita cuma temenan kok. Iyakan, Ga."


Tira tersenyum." Hm, gak apa-apa lagi.


Lagian kalian cocok kok, kamu yang semangat kuliahnya di Mesir biar dia cepat-cepat bisa ngelamar kamu." goda Tira.


" Ih mbak apaan sih !!


Masih kecil juga udah bicarin nikahan." kesal Hana.


Tak ingin semakin jengkel, Hana pun memilih masuk ke dalam mobil.


Sementara Arga hanya tersenyum, menatap Hana.


Sedikit senang sih, dengan semua perkataan Tira.


" Terima kasih ya, sudah menolong saya.


Dan tolong jaga baik-baik adik saya itu ya." ucap Tira pada Arga.


Arga pun mengangguk." Maaf ya kak, kalau ucapan saya menyakitkan kakak." ucapnya.


" Tidak masalah, justru ucapan pedasmu lah yang menyadarkan saya."


" Senantiasa Allah mempermudahkan segala urusan kakak." ucap Arga seraya melangkah meninggalkan Tira.


Tinn.. Tinn.. Klekson dari mobil Arga yang melaju meninggalkan Tira.


Tira pun tersenyum, seraya mengucap syukur dalam hatinya, sebab hari ini Allah telah mempertemukan dirinya dengan orang-orang hebat seperti Arga dan Hana.


Bersambung..


Sevimli 10 June 2021


Salam hangat dari Author 🌹


Maaf ya akhir-akhir ini, suka telat up-nya jujur banget lagi ngedown, pikiran berantakan, bahkan sempat terlintas kayaknya udahan aja deh lanjutkan cerita ini.


Soalnya suka mikir gini " Kayaknya gak ada yang minat, apa ceritanya kurang seru ya ? Ngebosenin atau apa ya ? Beda sama cerita yang lain yang banyak viewsnya, peminatnya, lah ceritaku mah gini-gini terus, tapi aku ngeliat masih ada yang mau baca cerita aku.


Eh masa iya berhenti sih ? Itu sama aja aku gak ngehargain Readers aku dong. Dan karena itulah aku tetap ngelanjutin cerita ini.


Makasih ya untuk kamu yang setia sama ceritaku 💙

__ADS_1


__ADS_2