Pelangi Hanani

Pelangi Hanani
Part 131 Sidang Pertama


__ADS_3

"Apakah salah, jika seorang perempuan membela dirinya dari pemerkosa yang b*jingan?"


....." Pelangi Hanani 🌹".....


Sudah seminggu berlalu, kondisi Emrin belum ada perkembangan sama sekali. Luka tusukan pada tubuhnya cukup dalam dan tepat mengenai bagian dadanya, hampir mengenai jantungnya.


Hal itulah yang membuatnya mengalami koma selama seminggu ini. Hafga, sang putra tercintanya telah membawa kasus ini ke ranah hukum. Membuat Hisya akan terjerat hukum yang berat.


"Mbak Hisya!" Hana memanggil Hisya yang berdiri termenung di pinggir jembatan kota Alexandria.


"Mbak!


Sebesar apapun masalah kita, kuasa Allah jauh lebih besar darinya." ujar Hana, menepuk pelan pundak Hisya.


Hisya tersenyum tipis mendengar perkataan Hana.


Tatapannya mungkin terlihat kosong, tapi pikiran tengah riuh bahkan sampai mau pecah.


"Besok sidang pertama akan digelar." ucapnya, senyumnya seketika hilang.


Hana menatap iba wajah sendu Hisya, ia tau ada banyak luka yang tengah tersimpan di hati gadis disebelahnya ini.


"Aku akan bersaksi untuk membela mbak." kata Hana, dengan mantap.


Hisya menoleh memandangnya, kemudian kembali dengan senyum tipisnya.


"Kesaksianmu tidak akan berguna,Han."imbuhnya, tidak yakin dengan hal itu.


"Kita akan cari pengacara yang bisa membela kebenaran, mbak."


"Pengacara?


Uang dari mana?" tanyanya, sedikit berteriak pada Hana.


"Allah pasti kasih jalan,mbak." jawab Hana.


"Jangan berbicara omong kosong.


Sudahlah apapun yang terjadi, aku memang tidak layak untuk sebuah kebebasan dan kebahagiaan." ucap Hisya, kemudian berjalan meninggalkan Hana.


"Mbak!" Hana melangkah mengejar Hisya.


"Mbak, tunggu Hana!" teriak Hana, namun Hisya tetap mempercepat langkahnya.


Cukup lama mereka berjalan, sampai pada akhirnya Hisya menghentikan langkahnya di sebuah pelantaran parkiran Masjid. Sosok pria turun dari motor sport menjadi titik fokus pandangannya.


"Gasyah" ucapnya, mengingat sosok pria yang sudah begitu lama tak ia temui.


"Mbak!" panggil Hana.


Pandangan Hisya masih fokus pada pria itu.


Membuat Hana mengikuti sorot mata Hisya.


"Nggak ada siapa-siapa." sayangnya pria itu sudah memasuki Masjid.


"Mbak!" Hana melambaikan tangannya di wajah Hisya, untuk menyadarkan gadis itu.


"Ah, Han." ucapnya, tersadar.


"Mbak lihat siapa?" tanya Hana penasaran.


"Hm, masa lalu."jawab Hisya, kemudian kembali melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda tadi.


"Masa lalu?" kening Hana berkerut, masih ada beberapa pertanyaan di benaknya


"Iya, aku masih mencintai pria yang kucintai enam tahun yang lalu."ungkap Hisya dengan jujur.


"Bukannya mbak sangat membenci laki-laki?"


Hisya mengangguk."Tapi, tidak dengan dia. Dia satu-satunya pria yang mempercayaiku disaat dunia menutup mata dan telinga untuk mendengar penjelasan keluargaku." Hisya mengingat sekali bagaimana saat itu tak ada satupun yang percaya dan mau mendengarkan ayahnya di Pengadilan.


"Karena dia tau bagaimana sosok ayahku dan keluargaku sebab itu dia percaya sepenuhnya kepada keluargaku, tapi sayang tidak dengan yang lain."


Hisya diam sejenak, menarik nafas dan membuangnya


"Meski saat itu usia kami masih belum matang, dia sudah mampu mencari bukti untuk meringankan hukuman ayahku." lanjut Hisya.


Hana mendengar Hisya dengan serius pun mulai membayangkan sosok pria yang begitu luar biasa yang diceritakan Hisya.


"Mbak beruntung bertemu dengannya."ujar Hana.


Hisya tersenyum."Sangat beruntung."sahutnya.


Hana melihat senyuman itu begitu lepas, bahkan tak terlihat beban sama sekali.


"Baru kali ini mbak Hisya tersenyum lepas gini." batin Hana. Ia ikut tersenyum bersama Hisya.


"Mbak berharap bertemu dengannya lagi?" tanya Hana.


Hisya mengangguk."Meski itu sangat sulit."


"Semoga Allah mempertemukan kalian kembali,mbak." kata Hana, mengelus pelan pundak Hisya.


Hisya hanya mengangguk, berharap sekali memang ada pertemuan antara dirinya dengan Gasyah.


"Mbak! Hana mendengar suara adzan yang mulai berkumandang." Udah dzuhur, kita ke Masjid yuk." ajak Hana.


Beberapa menit Hisya terdiam tak menjawab ajakan Hana. Namun, Hana masih setia menunggu jawabannya.


"Mbak, masih marah sama Allah?" tanya Hana, hati-hati.


Hisya tersenyum tipis mendengar pertanyaan yang menohok dirinya itu. Ia juga tak tau harus menjawab apa. Hati terdalamnya memang merasa bahwa Tuhan tidak berlaku adil padanya, namun di ruang lainnya ia masih mempercayai kasih sayang Tuhan, meski itu hanya setitik.


"Aku akan menemanimu." hanya kalimat itu yang keluar dari mulutnya.


"Mbak!" Hana mencoba membujuk Hisya.


"Keputusanku sudah tetap, tidak akan berubah." tegasnya pada Hana, kemudian pergi meninggalkan Hana.


Melihat Hisya melangkah terlebih dahulu, Hana pun pergi menyusul langkahnya.


Sesampai di Masjid, Hisya memilih tidak masuk Kel dalam melainkan ia memilih duduk di teras Masjid.


Hana hanya mengulum senyumannya, tidak bisa memaksa Hisya lebih.

__ADS_1


Ia pun masuk dan segera mengikuti salat berjamaah.


Mata Hisya melirik ke dalam Masjid, jujur saja ia merindukan Tuhannya. Ingin rasanya ia menemui-Nya, namun sayang, rasa bencinya pada kehidupan belum padam seutuhnya.


"Aku tidak akan sebenci ini pada-Mu, kalau kehidupan tidak semenyedihkan ini." ucap Hisya, setetes buliran hangat membersamainya.


Beberapa menit kemudian, salat dan dzikir telah usai.


Hana pun kembali menghampiri Hisya.


"Ayo, mbak!" ajaknya.


Hisya pun mengangguk."Kita balik?" tanya Hisya.


"Iya,mbak.


Tu mereka udah ada di depan gerbang." Hana menunjuk ke arah beberapa anak buah Emrin yang sudah bersiap menjemput mereka.


"Han! panggil Hisya.


"Iya, mbak."sahut Hana.


Hisya menarik sejenak nafasnya seraya memejamkan matanya, menenangkan dirinya dari kisah pahit ini, buliran-buliran kristal tengah menghujani pipinya.


"Mbak!" panggil Hana, kemudian mengelus lembut punggung Hisya untuk memberikan kekuatan.


"Hahhh!" Hisya menghela nafasnya kasar.


"Apa aku bisa menjalani ini semua?" tanyanya lirih.


Hana tersenyum hangat pada Hisya, ia mengusap air mata di wajah gadis di hadapannya itu.


"Mbak pasti bisa menjalaninya.


Bahkan mbak sudah menjalani hal lebih berat dari ini dengan begitu baik dan tanpa kata menyerah." Hana membawa Hisya ke dalam pelukannya.


"Kita jalani sama-sama ya, mbak.


Kita pasti menang dalam kasus ini, Allah nggak akan biarkan orang sebejat Emrin akan menang." ucap Hana, menyakini bahwa Allah akan bersama mereka.


Melihat drama yang begitu lama berlangsung, membuat para anak buah Emrin muak menunggu. Mereka pun memilih menghampiri kedua gadis yang tengah berpelukan itu.


"Kalian mau kami tarik atau mau jalan sendiri?" ketusnya.


Sentak membuat Hana dan Hisya melepaskan pelukannya. Dan mengangguk seraya menatap dengan kesal pria kepala plontosan itu.


"Kami masih sanggup jalan sendiri." ucap Hana dengan tegas.


"Cepat jalan!" bentak pria itu pada Hana.


Dengan wajah penuh amarah, Hana dan Hisya berjalan menuju mobil tahanan yang telah disediakan untuk membawa mereka kembali ke kediaman Trixtal Bar.


Memakan waktu sekitar satu jam, mereka pun sampai di Trixtal Bar. Sosok Hafga sudah berdiri tegak dengan amplop coklat di tangannya.


"Waktu kalian untuk mencari bukti sudah habis.


Dan silahkan kembali ke tempat kalian semula." ucapnya pada Hana dan Hisya.


"Tempat kami semula adalah rumah kami bukan di tempat menjijikkan ini." cetus Hana, dengan dada dipenuhi amarah.


"Jangan banyak bicara, buktikan di pengadilan besok." balas Hafga, menatap remeh Hana.


"Allah nggak akan biarkan orang-orang bejat kayak kalian bakalan menang." timpal Hana.


Merasa muak melihat wajah Hafga, Hana menarik tangan Hisya dan membawanya pergi meninggalkan pria pengecut itu.


"Entah kenapa ?


Setiap kali memandang gadis berwajah sendu itu, membuat rasa bersalah tiba di dadaku." kata Hafga dalam hatinya.


...🍂🍂🍂...


Malam mulai tiba.


Membuat sang bintang tiba ke peraduannya.


Dua pria yang sudah tiba di Alexandria, tengah sibuk mencari-cari lokasi Trixtal Bar. Berharap dengan mereka dengan segera dapat menemukannya.


Agar lekas membawa Hana pulang bersama mereka.


"Ray!


Lo yakin ini jalannya udah bener, kan?" tanya Arga, memastikan.


"Iya, Ga.


Udah pas kok, sama mapsnya."jawab Rayhan, yang duduk di sebelah Arga.


"Awas aja kalau salah.


Gua jorokin lo di tengah jalan." ancam Arga serius.


"Widih.


Enak banget mulut lo ngomong, ******!" kesal Rayhan, pada Arga yang selalu meragukan dirinya.


"Ya, kan lo emang selalu sesat!" ucap Arga dengan entengnya.


"Anjir!


Lo kira gua sekte satanis, ****** lo!" ketus Rayhan, kelewat kesal pada Arga.


Sementara Arga, hanya tersenyum tipis berhasil membuat kesal Rayhan si bobrok itu.


Arga terus melajukan mobilnya sesuai dengan arahan maps yang mereka lihat tadi, hari semakin larut membuat Rayhan memilih tidur sejenak, sebelum dirinya bergantian dengan Arga menyetir.


Sementara Arga, pikirannya hanya dipenuhi dengan sosok gadis yang kerap kali ia sapa dengan Hana.


"Han!


Aku rindu, Han." ucapnya.


...🍂🍂🍂...


Mentari telah menyeruakkan berkasnya, sampai mengilaukan mata yang memandangnya.

__ADS_1


Gadis dengan dress mocca telah bersiap untuk berangkat ke Pengadilan Negri Alexandria. Meski rasa takut dan gugup tengah menyelimutinya, ia tetap berusaha untuk berani menghadapi kenyataan.


"Bismillah, aja mbak!" ujar Hana, sudah berada di sebelah Hisya.


Hisya tak menjawab dengan suara, ia hanya menganggukkan kepalanya.


"Aku serahkan semuanya padaMu, Tuhan yang orang-orang sebut Maha adil." kata Hisya dalam hatinya, sebab lidahnya kelu untuk mengucapkannya.


Dengan helaan nafas yang teramat panjang, Hisya pun melangkahkan kakinya berjalan bersama Hana memasuki mobil.


Meskipun, Hafga melaporkan kasus ini ke pihak yang berwenang. Ia tetap berlaku lembut pada Hana dan Hisya dan tak pernah melayangkan tangannya.


Selama dalam perjalanan menuju ke Pengadilan, Hana terus menatap Hisya yang menatap kosong keluar jendela mobil. Mata yang berkantung lelah, itu dapat membuktikan bahwa gadis itu pasti terus menerus mengeluarkan air matanya.


Hana tak mengucapkan sepatah katapun, ia hanya menggenggam erat tangan Hisya untuk menguatkan Hisya.


Seperkian menit kemudian, mobil mereka pun tiba di Pengadilan Negri Alexandria.Rasa gugup dan gemetaran menghigapi diri Hisya.


"La tahzan, innallaha ma'ana." ujar Hana pada Hisya.


Hisya mengangguk dan menggenggam tangan Hana lebih erat seolah meminta Hana untuk menguatkannya.


Dengan kekuatan Basmallah, mereka pun melangkah memasuki gedung pengadilan dan memasuki ruang persidangan.


Ini kali keduanya untuk Hana menginjakkan kaki di Pengadilan untuk menghadiri kasus yang berbeda namun hampir sama seperti yang ia pernah lewati saat di Malaysia.


Gedung pengadilan itu sudah dipenuhi dengan beberapa wartawan yang langsung mendekati Hisya dan Hana, bahkan langsung menerjang mereka dengan beberapa pertanyaan. Hal itu semakin membuat Hisya takut, dengan cepat Hana langsung menghalau mereka untuk menyodorkan mic-nya pada Hisya.


"Mbak!


Bagaimana bisa kamu dengan begitu berani menodongkan pisau pada sosok Emrin?" tanya salah satu wartawan itu.


"Saya mohon untuk saat ini, biarkan kami masuk.


Tolong hargai, kami." ucap Hana, dan membawa Hisya masuk dan meninggalkan kerumunan wartawan itu.


Barisan paling depan sebelah kanan sudah penuh diisi oleh pihak keluarga Emrin, pihak penuntut.


Hafga menatap lekat Hana, tanpa sebuah senyuman.


Begitu juga dengan Hana, ia hanya melayangkan tatapan tidak sukanya pada Hafga.


Hana memilih duduk di sebelah kiri tak berminat bergabung dengan keluarga Hafga.


Sementara Hisya sudah diintruksikan duduk di kursi terdakwa.


Ia menatap ke jajaran kursi Hakim, yang masih kosong belum diisi oleh para Hakim.


Para petugas mengamankan jalannya persidangan, dan mengungkapkan peraturan kepada para tamu yang hadir di persidangan agar mematuhi peraturan yang ada.


Setelah Jaksa penuntut masuk dan duduk di tempat yang telah disediakan, sidang pun dimulai tepat pukul sepuluh pagi. Ketiga Hakim telah tiba di ruangan, para hadirin berdiri menyambut kehadiran mereka, kemudian duduk kembali setelah ketiga Hakim duduk di kursi kebanggaannya.


Sidang pun dimulai sesuai dengan peraturan yang berlaku, terdakwa dan penuntut telah ditanyai perihal kasus yang mereka ajukan.


"Kepada terdakwa dimohonkan untuk berdiri." ucap Hakim ketua ketika hendak membuka kasus persidangan.


"Kepada terdakwa Hisya binti Hammer telah terbukti melakukan tindak pidana hak atau melawan hukum menodongkan senjata tajam kepada Emrin bin Zatashfan, yang hampir saja menyebabkan hilangnya nyawa saudara Emrin bin Zatashfan." ucap sang Hakim ketua, menatap Hisya di kursi terdakwa.


Hisya hanya bisa berdiam diri, tak punya harapan apapun lagi untuk menguatkannya.


"Atas bukti-bukti yang terkumpul dan dari beberapa pihak saksi yang telah menyatakan saksinya, telah menitikberatkan saudara bersalah sepenuhnya.


Apakah anda tidak ada pembelaan diri?" kata Hakim ketua, mempersilahkan Hisya.


Hana menatap Hisya penuh harap bahwa Hisya akan membuka suaranya.


"Ayo mbak!" ucapnya.


Suasana sidang hening sejenak, hanya ada suara isakan yang mulai terdengar samar dari kursi terdakwa.


Ya, Hisya tak dapat menahan air matanya bahkan ia menutup mulutnya untuk menahan isakannya.


"Kepada terdakwa!" tegur Hakim ketua.


Dengan cepat Hana berdiri dari kursinya dan menghadap hakim ketua.


Melihat hal itu, para petugas dengan cepat menghampiri Hana. Dan hendak menarik tangan Hana.


"Jangan berani sentuh, saya!" ucap Hana, memperingati pria yang berstatus sebagai petugas itu.


"Izinkan saya untuk berbicara, Hakim ketua." pinta Hana dengan sopan.


Hakim ketua pun menganggukkan kepala, mengisyaratkan kepada petugas untuk membiarkan Hana mengungkapkan apa yang ingin ia ungkapkan.


Hafga menatap tak percaya Hana seberani ini ternyata. Ia pun langsung berdiri dan hendak menghampiri Hana, namun sang ibunya menarik tangannya dan menyuruhnya kembali duduk.


"Benar apa yang terjadi bahwa seorang gadis bernama Hisya telah menodongkan senjata tajam kepada tuan Emrin dan mengakibatkan laki-laki itu terbaring koma di rumah sakit. Tapi, apa pernah kalian bertanya atas dasar apa gadis itu melakukannya?"ucap Hana, menatap Hisya menangis di kursi terdakwa


"Kalian tau kenapa gadis itu melakukannya?" suasana hening, tak ada satupun yang menjawab pertanyaan Hana


"Kalian pikir dia melakukannya tanpa alasan?" kini pandangan Hana tertuju pada Hafga, tajam bahkan sangat tajam


"Gadis itu melakukannya untuk melindungi dirinya dan wanita yang hampir saja diperkosa oleh pria b*jingan yang bernama Emrin itu." ungkap Hana mulai meluapkan emosi yang menyesakkan dadanya.


"Astaghfirullah." para tamu sidang terkejut mendengar perkataan Hana


Hana pergi menghampiri Hisya di kursi terdakwa. Hisya langsung mendekap Hana, tubuhnya lemah tak berdaya. Hana mengusap punggung Hisya, memberikan kekuatan pada Hisya


"Apa salah jika seorang perempuan melakukan kekerasan pada pria yang berniat bejat padanya? Apa salah jika seorang perempuan membela dirinya dari pemerkosa b*jingan?" lirih Hana, mengucapkan perkataan menyakitkan itu


Semuanya terdiam, termasuk para penuduh yang habis-habisan menghakimi Hisya.


Hakim ketua menatap lekat Hana, ia tengah mencari sesuatu di binar mata Hana. Ia merasa bahwa tak ada kebohongan dari mata Hana, melainkan ada sebuah ketulusan dan kejujuran di sana


Ia pun berbisik pada bawahannya untuk berdiskusi dengan masalah ini


"Maaf hakim ketua, kalau hanya sekedar berbicara seperti itu tanpa bukti dan saksi, apakah itu akan berlaku." ujar pengacara Hafga mulai memainkan perannya.


Hana mendongakkan kepalanya, dan menatap tajam pria yang memiliki suara itu.


"Allah adalah saksi untuk kebrengsekan Emrin." teriak Hana dengan lantang.


Bersambung...


Sevimli, 26 Desember 2021

__ADS_1


Salam hangat dari Author 🌹


__ADS_2