
" Sebesar apapun kebencian yang kau miliki, pada akhirnya akan hilang, ketika kau menyadari arti kehilangan sesungguhnya."
......" Pelangi Hanani 🌹"......
Saat ini Hana disekap di sebuah gubuk di daerah yang berdekatan dengan Ghost Hill.
Tangan, serta kaki Hana di ikat oleh para penjahat itu.
Sementara mulutnya masih dalam keadaan di lakban.
" Ini balasan untuk kau, yang macam-macam sama kami." Kata penjahat itu pada Hana.
Ingin sekali Hana membejek-bejek habis-habisan para penjahat itu, namun apalah daya Hana tak bisa berbuat apapun dengan tangan serta kakinya yang di ikat.
" Hey, coba call bos, budak ni nak kite apekan." Ujar si botak.
Salah satu dari mereka menghubungi nomor bos yang dimaksud.
Titt..
" Hallo." Ucap orang di sebrang sana.
" Hallo bos,budak ni nak di sekap je Kat gubuk ni atau macam mane ? Tanyanya.
" Korang dah berhasil bawak die kat sane ?
Bagus-bagus, kejap aku akan datang Kat sane." Jawabnya pada anak buahnya.
" Baik bos." Mereka menutup panggilannya.
" Tunggu kejap, kejap lagi Bos datang." Ucapnya pada temannya.
Hana semakin penasaran dengan sosok bos yang menyuruh mereka.
Mau apa dia menculik Hana ?
Kalau dia mau memeras, maka dia salah orang, sebab Hana bukanlah anak orang kaya yang orang tuanya dapat di peras.
Atau mungkin dia ingin menjual Hana ?
Atau ingin menjadikannya budak ?
Atau jangan-jangan ini semua berhubungan dengan pengkhianat itu ?
Entahlah kini Hana disibukkan oleh pikirannya sendiri.
Tak membutuhkan waktu lama, bos mereka akhirnya datang dengan mobilnya.
Ia menepikan mobilnya tepat di depan gubuk.
Kemudian ia turun dan melangkah menuju gubuk.
" Hallo bos." Sapa mereka padanya.
Ketika mendengar kata bos Hana mengangkat kepalanya, dan menoleh ke arah bos yang mereka maksud.
Jleb, Hana tersentak kaget dengan pemandangan orang yang di hadapannya.
Ya, benar saja bos mereka adalah sang pengkhianat.
Lebih tepatnya Pejabat Pengkhianat yang satu hari lalu mereka pergokin.
Hana membeliakkan matanya, detik selanjutnya ia menatap tajam pejabat berengsek itu.
" Iblis." Upat Hana yang tak kedengaran jelas dari mulutnya yang di lakban.
Pejabat itupun tertawa renyah melihat Hana,
" Hahaha.'
" Jangan pura-pura kaget nak !!
Ini bukan pertama kalinya kau bertemu denganku." Ujarnya pada Hana dengan senyum devilnya.
Hana masih dengan sorot mata tajamnya.
" Kalau bukan karena kaki, dan tanganku di ikat kau sudah ku Smack down Pejabat laknat." Upat Hana dalam hatinya.
" Aku akui kau memang Perempuan smart, berani, dan jago dalam bela diri."
" Tapi kau terlalu bodoh !! Menjatuhkan dirimu ke dalam jurang lembah yang kelam." Ucapnya kemudian ia kembali tertawa.
" Tak ada gunanya kau membantunya ! Kau ini bukan kewarganegaraan Malaysia. Jadi jangan sok ikut campur urusan negara ini." Ia mulai membentak Hana.
Bukannya takut, Hana mala justru menunjukkan ekspresi angkuhnya.
" Kau yang terlalu bodoh ! Mau di kendalikan oleh amarahmu." Ucap Hana.
Ya, walaupun takkan kedengaran jelas pada mereka.
Pejabat itu mendekati Hana, sontak saja Hana menolaknya. Tapi apalah daya Hana tak dapat menjauh dengan keadaannya saat ini.
Pejabat itupun membuka lakban yang melekat di mulut Hana.
" Bicaralah ! Apa yang ingin kau sampaikan."
Ia menjeda sejenak ucapannya.
" Karena sebentar lagi bukan hanya mulutmu yang diam. Tapi juga seluruh anggota tubuhmu." Ancamnya pada Hana.
" Iblis !! Kata-kata pertama yang Hana lontarkan.
Sementara Arga terus melajukan motornya ke arah yang telah di perlihatkan Jps ponsel Hana.
Tak lama kemudian Arga tiba ditempat yang telah di tunjukkan Jps ponsel Hana.
Stttt.. Arga menghentikan motornya.
Tepat di depan gubuk penyekapan Hana.
Ia melihat ada mobil Jeep terparkir di sana, dan juga mobil milik pejabat berengsek itu.
" Berengsek !! Ternyata kau yang menculik Hana." Upat Arga dengan penuh amarah.
Ia bergegas masuk ke dalam gubuk.
" Keparat !! Kali ini aku takkan lepaskan ku." Arga sudah diselimuti amarah.
Plakk.
Sang pengkhianat itupun menampar wajah Hana dengan keras.
" Ape kau cakap Iblis ?
" Apa kau tau kenapa aku lakukan semua ni ha ? " Bentaknya pada Hana.
" Sebab kau tak punya iman ! Ketus Hana padanya.
Mereka semua semakin tertawa atas perkataan Hana. Pengkhianat itu terus mendekati Hana.
" Kau tau macam mana rasenya tak dianggap ?
Kau tau bagaimana rasanya tak di hargai sama sekali ha ? Jawab !! " Bentaknya pada Hana.
Hana mulai mencerna semua perkataan pengkhianat itu. Tak dihargai ? Tak dianggap ?
" Gak di anggap ? Gak di hargai ? Apa maksudnya Uncle ni ?
Hana mulai menerka-nerka maksud perkataannya.
__ADS_1
" Apa jangan-jangan yang dia maksud bahwa dirinya gak dianggap Uncle Naz ? Dan juga gak di hargai di Istana ? Pikir Hana.
" Et tapi bukannya masa ni Uncle ni Pejabat di Istana." Pikiran Hana kini tak luput dari itu semua.
Hana menarik nafas sejenak kemudian memberanikan diri untuk menjawab perkataannya.
" Uncle tak dianggap seseorang tu memanglah sakit, tapi kita tak boleh shudzan dulu, sebab kita tak tau sebenarnya apa yang terjadi dengan dia. Bisa jadi bukan die tak anggap kite, melainkan kite yang terlalu berharap dengan die.
Begitu juga dengan tak di hargai seseorang memanglah sakit, tapi cobalah berpikir positif terlebih dahulu. Mungkin saja usaha kita yang kurang tampak Uncle.
Aku paham Uncle bahwa kau adalah orang baik, hanya saja kau sudah terlanjur sakit hati pada seseorang. Yang letak kesakitanmu itu sudah berada di titik terlemahnya. Sehingga kesakitan yang mendalam itu berakar menjadi sebuah kebencian.
Bahkan terpupuk oleh rasa dendam di hati. Sekilas itu adalah hal yang wajar Uncle, namun apa kau tau Uncle bahwa benci, dan dendam bukanlah satu-satunya cara membalas rasa sakit itu Uncle, benci dan dendam hanya akan mempersulit semuanya." Ujar Hana dengan tegas pada pengkhianat itu.
Sejenak keheningan menyelimuti mereka, tak satupun yang bicara lagi.
Pengkhianat itu menatap intens Hana, ia mulai mencerna semua perkataan Hana.
Detik selanjutnya Hana menarik nafasnya, kemudian dengan perlahan ia keluarkan.
" Uncle, ku mohon hentikan semuanya. Percayalah kau takkan mendapatkan apapun dari kebencian dan dendam mu itu. Justru kau akan kehilangan semuanya.
Kasih sayang, kepercayaan, kesetiaan, rasa cinta dari orang sekitarmu yang mencintaimu, kehilangan sahabat, kehilangan segalanya Uncle.
Bahkan kau juga akan bisa kehilangan kepercayaan dari Tuhan. " Ucap Hana dengan lirih padanya.
Perkataan Hana berhasil membuat ia tertunduk di lantai. Menatap lantai dengan tatapannya, yang kini pikirannya mulai bereksplorasi dengan perkataan Hana.
Ke empat anak buahnya pun, mendekati dirinya. Untuk melihat apa terjadi padanya.
" Bos, oke tak ? Ucap salah satu.
Tak ada jawaban sedikit pun darinya.
Ia masih terdiam dengan sorot matanya yang berkaca-kaca.
Ia mengingat kembali semua kejadian dirinya dengan Nazhanul Hakim.
Ia tersenyum mengingat semua kebaikan Nazhanul Hakim.
Detik selanjutnya ia mengingat sosok lelaki asing yang entah darimana asalnya. Tiba-tiba saja bisa mengambil posisi dirinya sebagai sahabat Nazhanul. Awalnya mereka hanya bertiga, ya dirinya, Nazhanul, dan juga Robert.
Entah gerangan apa yang terjadi seusai Robert pergi meninggalkan Istana, datanglah lelaki asing itu dengan waktu yang singkat bisa menjadi Gubernur di Istana. Bahkan kehadiran lelaki asing itu membuat Nazhanul tak lagi menghiraukan dirinya.
" Bang Naz, saye dah buat strategi yang akan berhasil taklukkan penjahat kat sane." Ujarnya pada Nazhanul.
" Tengok dah berhasil melumpuhkan musuh kite, terlebih dahulu dari pada awak. Awak dah lambat dah." Ucap Nazhanul.
Seketika perasaannya seperti tertampar keras oleh perkataan Nazhanul, ya seakan-akan usahanya untuk memikirkan strategi itu, tak dihargai sama sekali oleh Nazhanul.
Sejak itulah awal dirinya tak lagi di anggap, bahkan tak dihargai oleh Nazhanul.
Seakan-akan kehadirannya di Istana hanyalah sebagai figuran saja.
Cukup lama ia bertahan dalam situasi yang membatin itu.
Sampai membuat dirinya terus menerus dikekang oleh rasa sakit, hatinya selalu saja tersayat dengan sikap cuek Nazhanul terhadapnya.
Dan setelah rasa sakit telah terbendung begitu dalam, terkemas rapi menjadi sebuah rasa dendam dalam hati.
Ya, pada akhirnya rasa benci pun mulai bersarang di hatinya.
Sejak saat itu hanya ada sorot mata kebencian yang ia miliki, hanya ada wajah penuh dendam yang menyelimuti dirinya.
Dan sampai saat ini benci dan dendam itu masih tetap berakar dihatinya.
" Tidak, aku tidak boleh lemah seperti ini, Naz tetaplah musuhku. Semua rasa sakit di dadaku ini tidak akan pernah pudar ! Sekalipun ia mati nantinya." Ujarnya dalam hati.
Ia bangun dari tunduknya, berdiri menghampiri Hana kembali.
" Uncle, ku mohon berhentilah menjadi pembenci dan pendendam." Ujar Hana seraya menangkupkan tangannya yang terikat, memohon sepenuhnya pada pengkhianat itu.
Seraya tertawa renyah.
" Uncle lepas ! Jangan sentuh saya." Kata Hana yang merintih kesakitan dengan cengkramannya.
" Hahaha, kau cakap aku hentikan ?
Kau pikir kau siape ha ? Suruh aku hentikan.
Sebelum aku melihat Nazhanul berada di titik penderitaannya yang tertinggi.
Aku takkan hentikan semuanya. Paham tak !! Ia berteriak seraya melepaskan cengkraman nya dengan kasar dari Hana.
" Kau tidak berhak untuk balas dendam kat Uncle Naz ! Sebab alasan sakit hatimu itu tak berbobot sama sekali." Teriak Hana padanya.
Teriakan Hana itu, semakin membuat telinga panas, semakin membuat emosinya memuncak.
Ia mengeraskan rahangnya, kemudian kembali mencengkram tangan Hana.
" Kau cakap tak berbobot.
Asal kau tau bukan hanya itu alasanku membenci dirinya!! Abahku dan abahnya berteman baik."
Ia menjeda beberapa detik ucapannya.
" Abahku selalu saja membandingkan ku dengan dia. Abahku selalu saja memujinya di hadapanku, abahku selalu membanggakannya di hadapanku, sementara aku selalu saja dihina, abahku cakap aku ni budak bodoh, tak gune, aku selalu saja merasa terbuang dan bahkan tak dianggap ada oleh abahku sendiri.
Dan juga kasih sayang abahku jauh lebih besar padanya daripada aku.
Apakah pernah mengalami apa yang aku alami ya ? " Bentaknya pada Hana, semakin mengeratkan cengkraman pada Hana.
Hana merintih kesakitan, namun apa daya kaki dan tangan Hana kini terikat, yang membuat dirinya tak bisa melawan pengkhianat itu.
" Lepaskan aku Uncle." Ucap Hana.
" Tenanglah, sebentar lagi kau akan lepas beserta nyawamu juga." Jawabnya pada Hana dengan sorot mata tajamnya.
Dirinya beserta anak buahnya tertawa puas rencana mereka sedikit lagi, akan mencapai puncaknya.
" Aku yakin Uncle, sebesar apapun kebencian mu, sedalam apapun dendam mu, pada akhirnya akan hilang ketika kau menyadari arti kehilangan sesungguhnya."
Dan aku berharap agar masa itu tiba sebelum penyelesaian menyapamu." Ujar Hana padanya.
Tawa mereka hilang beberapa detik, keheningan mulai menemani.
Detik selanjutnya pengkhianat itu meraih sebuah pisau, kemudian mendekati Hana.
" Ape mulutmu masih nak berdongeng lagi ke ? Tanya pada Hana sembari menyodorkan pisau tersebut pada Hana.
Hana tak habis pikir, bahwa permainan pejabat alias pengkhianat ini sampai begini kejamnya.
Tubuh Hana bergetar hebat, lidahnya keluh untuk berkata, seketika ia diam mematung, ada rasa takut sekaligus cemas dihatinya, saat pisau itu di sodorkan tepat di wajahnya, bahkan tak ada jarak sama sekali.
Sedikit saja Hana bergerak maka pisau itu akan melukai wajahnya.
" Hahaha kenapa kau diam ha ? Ia semakin mendekatkan pisau itu pada Hana.
" Ya Allah aku tak tau harus bagaimana lagi agar bisa membukakan mata hati Uncle ini. Hanya Engkau sang Maha pembolak balik hati manusia ya Allah, ku mohon ya Allah." Ucap Hana dalam hatinya.
Ia menatap binar benda tajam yang menghunus di wajahnya.
"Kenapa kau diam ? Tadi kau punya banyak dongeng ! Ayo ceritakan lagi.
" Cepat ! Bentaknya lagi pada Hana.
" Uncle jangan macam budak Kecik, lepas benda tajam tu Uncle." Akhirnya Hana kembali bersuara.
Tak terima di bilang budak Kecik, ia melayangkan satu tamparan untuk Hana.
__ADS_1
Plaakk..
" Budak Kecil ya ? Kau tengok macam mana AKU AKAN MENCABIK-CABIK MUKAMU !! Dengan pisauku ini." Ucapnya dengan penuh penekanan.
Membuat Hana semakin khawatir, bagaimana caranya biar bisa melepas ikatan ini adalah pertanyaan yang mendominasi dalam pikirannya.
" Uncle, istighfar ! Jangan lakukan ini, semuanya gak guna sama sekali, semuanya bisa di selesaikan dengan cara baik-baik Uncle, Allah gak suka ngelihat hambaNya yang dikendalikan dendam dan benci Uncle.
Rasulullah saja yang dakwahnya di tolak oleh kaum kafir Quraisy, yang dimana beliau di caci-maki, bahkan beliau di lempari kotoran dan batu gak ada sedikitpun Ia benci pada mereka yang mendzaliminya.
Apa Uncle tak bisa belajar dari beliau ? Tanya Hana yang kini tak dapat lagi membendung air mata.
Sebuah tamparan keras untuk si pejabat, sejenak pertanyaan Hana berhasil membungkam pejabat itu.
" Aku yakin Uncle, diantara seratus titik kebencian yang kau miliki, ada satu titik kasih yang menyelinap di dalamnya." Ujar Hana dengan linangan air mata beserta senyumannya.
Pengkhianat itu masih terdiam dan mulai menurunkan pisaunya dari wajah Hana.
Tiba-tiba saja.
Bukhh..
Bukhh..
Ya, Arga datang dan menendang keras anak buah pengkhianat itu.
" Arga." Teriak Hana.
Sentak saja pengkhianat itu menoleh kearah Hana menatap.
Satu sudut bibirnya tertarik ke atas.
" Bedebah !! Maki Arga padanya.
Ketika Arga hendak melayangkan pukulannya pada pengkhianat itu, sentak saja anak buahnya menghalanginya.
" Baiklah kalian akan aku jadikan santapan buaya hari ini." Ujar Arga pada mereka.
Bukh..
Bukhh.. Arga terus menyerang anak buahnya.
" Dasar Pengecut !! Beraninya hanya mengandalkan anak buah saja." Sembari memukul mereka Arga tak henti-hentinya memaki pengkhianat itu.
" Diam kau budak Kecik." Kata Mereka serentak.
" Kalian yang harusnya diam !! Ucap Arga
dan menghajar mereka dengan penuh ambisi.
Bukh..
Bukhh..
Bukhhh...
" Biadab !! Maki Arga.
Tentu saja, mereka bukanlah lawan Arga yang berat. Dengan amat mudah Arga mengalahkan mereka.
Ke empat anak buahnya kini terkapar lemah di lantai, kini giliran pengkhianat itu yang akan di habisi Arga.
Dengan amarah yang berkobar, Arga melangkah mendekati si pejabat yang telah mengkhianati Ayahnya.
Baru saja Arga hendak melayangkan tendangannya. Dengan sigap pejabat itu meraih Hana dan menyodorkan pisau tepat di leher Hana.
Arga terkejut dengan tindakan nekad pejabat itu.
Sementara Hana yang nyawanya sedang terancam, hanya bisa menatap intens benda tajam yang berada di lehernya.
" Arga." Ucapnya dengan tangisan.
" Brengsek !!
Dasar Iblis !! Maki Arga dengan penuh emosi.
Pejabat itu menyunggingkan senyumnya.
" Selangkah saja kau berani mendekat, pisau ini akan menjadi saksi curahnya darah kekasihmu ini." Ancamnya pada Arga.
Arga tetap melangkah, tak menggubris ancamannya.
Serttt.. Pisau itu sedikit menggores leher Hana.
Sedikit demi sedikit darah Hana menetes ke Lantai.
" Astaghfirullah, Uncle hentikan." Ucap Hana yang kini kesakitan dengan sayatan luka di lehernya.
" Biadab!! Maki Arga, kini amarah Arga semakin menyeruak, dengan kepalan tangan yang siap menghantam, Arga mencoba mendekat kembali.
Ia tak tahan melihat Hana, gadis yang ia cintai terluka oleh orang berengsek sepertinya.
" Haha aku dah cakap, berani kau selangkah mendekat, pisau ini akan menjadi saksi curahnya darah kekasih tercintamu ini." Ya, benar saja ancamannya kali ini tidak main-main.
Arga terdiam, tak melanjutkan langkahnya. Bukan karena ia takut pada pejabat itu, melainkan ia takut pejabat berengsek itu, yang tampaknya serius dengan ancamannya akan melukai Hana lagi.
" Apa mau ? Lepaskan Hana.
Dia tidak ada urusan dengan missi pengkhianatan mu." Kata Arga padanya.
" Haha, tidak ada ? Tentu ada kekasihmu yang sok menjadi pahlawan ini telah mencampuri rencanaku menghancurkan ayahmu." Jawab pejabat itu dengan lantang.
" Iblis !! Hana tidak terlibat apapun. Aku cakap Lepaskan dia." Tekan Arga padanya.
Pejabat itu kembali tertawa, seakan-akan merasa lucu dengan semua perkataan Arga.
" Hahaha, aku akan lepaskan die dengan satu syarat." Pejabat itu memberi tawaran pada Arga.
" Tak usah banyak cerita. Cakap cepat ! Teriak Arga padanya.
Sang Pejabat itu tersenyum kemenangan, satu jebakan telah berhasil ia laksanakan.
" Tanda tangani sebuah surat yang telah aku persiapkan khusus untukmu." Jawabnya dengan licik pada Arga.
Arga mengerutkan keningnya, bingung dengan surat yang di maksud pejabat itu.
" Surat ape ? Tanya Arga.
" Kau akan tau nantinye lepas kau tanda tangani." Jawab pejabat itu.
" Adif cepat bawakan suratnya." Ujarnya pada anak buahnya.
Hana menggeleng tidak setuju dengan persyaratan itu, karena Hana tau pasti surat itu sebuah jebakan.
" Arga jangan !! Jangan hiraukan aku.
Jangan tanda tangani itu, Ga." Ujarnya pada Arga.
Arga menatap intens Hana, sorot matanya menunjukkan kekhawatirannya yang besar pada Hana.
" Aku akan tanggung resiko apapun itu Han, demi menyelamatkanmu." Ucap Arga dengan tulus pada Hana.
Lagi dan lagi pejabat tu tersenyum kemenangan, tak sia-sia ia menyusun rencana sebagus ini.
Sevimli 15 November 2020
Salam hangat dari Author 🌹
Maaf ya suka telat Upnya.
__ADS_1
Tapi aku mau kalian tetap stay tune di Karyaku 😁