
" Di sudut dunia lain, ada banyak manusia yang kekurangan, justru diriku mala membuang kelebihan."
......" Pelangi Hanani 🌹"......
Sesampainya Arga dan Rahmet di rumah.
Merekapun memutuskan untuk sarapan bersama.
Ini kali pertama untuk Arga sarapan bersama dengan keluarga Hana.
Tak ada kursi makan mewah dengan ukiran Jepara, apalagi meja makan.
Ya, hanya tersedia karpet berukuran sedang sebagai alas duduk. Lebih tepatnya lesehan,
makanan di hidangkan dengan amat sederhana.
Ada lele goreng, tempe goreng dan daun ubi gulai yang menyempurnakan masakan Ibu Hana.
Arga yang terbiasa dengan kemewahan, tak mempermasalahkan hal itu.
Ia dengan amat senang hati mencoba menyesuaikan dirinya dengan keadaan di rumah Hana.
Sementara Hana masih saja memandang pria tampan itu. Khawatir ia tidak berselera dengan hidangan di rumah Hana.
" Ini nak, untuk Arga." Tawarkan Ibu Hana pada Arga.
Arga tersenyum sembari meraih piring yang diberikan ibu Hana." Terima kasih aunty."
Tanpa sengaja pandangan Arga beralih pada Hana, membuat pandangan mereka saling bertemu.
Arga tersenyum sembari mengedipkan matanya pada Hana.
Refleks Hana membuang muka dari Arga.
Getaran di hati Hana membuat rona di wajah Hana memerah.
" Astaghfirullah Hana, sadar !! Jangan sampai terperanjat dalam lingkar benang syeitan." Ucap Hana dalam hatinya.
Sementara pelaku pembuat rona merah di wajah Hana, hanya tersenyum puas melihatnya.
.
.
Seusai mereka sarapan, bapak Hana bergegas menuju sawah.
Rahmet berangkat ke sekolah.
Sementara Hana memutuskan mengajak Ranti dan Arga untuk ikut ke sawah.
Menikmati panorama keindahan di sana.
" Kalian mau gak ke sawah ? Ajak Hana.
Dengan girang Ranti menjawab." Mau banget."
Ranti menarik tangan Hana untuk segera berangkat ke sawah.
Sementara Arga hanya tersenyum, sembari mengikuti langkah mereka.
Mereka memutuskan untuk berjalan kaki, sebab hanya ada satu motor di rumah Hana, itupun sudah di pakai oleh Rahmet untuk sekolah.
Perjalanan menuju sawah tidak terlalu jauh, hanya membutuhkan sekitar lima belas menit atau lebih untuk berjalan kaki.
.
.
Tak lama kemudian, sampailah di persawahan.
Sawah yang terbentang luas dengan indah.
Di tambah lagi dengan aliran-aliran air kecil di setiap tepinya.
Bukan hanya itu, sungai dengan pancuran kecil menambah nuansa keindahan di persawahan.
" Akhirnya kita sampai." Ujar Hana.
Sejuk.
Ya, bahkan sangat sejuk.
Jauh dari polusi udara, jauh dari pencemaran lingkungan.
Masih tertaut dengan kata asri.
Angin sepoi-sepoi yang berhembus, membuat jilbab Hana melambai tenang.
Arga meraih ponselnya di saku, mengabadikan momen di tempat ini.
Memotret beberapa objek yang memikat dirinya.
Cekrekk...
" Cantik." Ucapnya.
Ada beberapa potret yang berhasil Arga jebret.
Setelah selanjutnya.
Arga memenjamkan matanya, membiarkan angin menyelimuti tubuhnya.
Jujur saja Arga, sudah amat lama ia tak pernah merasakan kesejukan di persawahan.
Mungkin ini untuk kali pertamanya lagi, kembali menghirup oksigen di bumi persawahan.
Perlahan Arga membuka matanya, tampaklah sosok gadis berjilbab green tea tersenyum manis memandang langit.
" Cantik." Gumamnya.
Arga beranjak menghampiri Hana.
Mengikis jarak di antara mereka.
Refleks Hana menjauh darinya.
Namun, semakin Hana menjauh semakin Arga mendekat pula.
" Is, jauh sana !!
Ngapain sih dekat-dekat." Ketus Hana.
Arga tertawa tak menggubris perkataan Hana.
Ia tetap melangkah mendekati Hana.
Hingga akhirnya Hana terjatuh ke sawah.
Bukhh....
" Allahu Akbar.." Ucap Hana yang tengah tersungkur di sawah.
Arga tertawa melihat Hana terjatuh, detik selanjutnya bukannya ia menolong Hana untuk bangkit berdiri.
Justru ia melangkah pergi menuju sungai.
" Kalau jalan pakai mata bukan pakai hati." Ledeknya pada Hana sembari beranjak meninggalkan Hana yang terjatuh.
Hana menyebikkan bibirnya." Argaaaaa gak punya hati !! Pohon pisang, pohon jengkol,
Arga kutub." Cercah Hana habis-habisan.
Hana berusaha bangkit berdiri, dengan kekesalan yang memuncak.
Bagaimana tidak ?
Bisa-bisanya Pria patung yang membuat dirinya terjatuh bukannya menolong mala justru meledeknya.
Ranti yang tersadar melihat Hana terjatuh, langsung membantunya, mengulurkan kedua tangannya." Hana kok bisa jatuh sih ?
Hana mengeram kesal." Arga patung gak punya hati itu yang udah buat aku jatuh." Kesalnya.
Refleks Ranti tertawa renyah.
Ha-ha-ha.
" Ternyata Arga penyebabnya."
__ADS_1
Hana menatap heran sepupunya, bisa-bisanya tertawa di saat dirinya sedang kesulitan.
Pukh..." Hana menepuk kepala Ranti.
" Aduh, sakit tau !!
Hana tukang bogem." Ketus Ranti.
" Bodoh." Ucap Hana tak kalah ketus, sembari pergi meninggalkan Ranti.
Hana melangkah menghampiri Tameer yang tengah sibuk menanam benih.
" Assalamu'alaikum Pak."
Tameer menoleh." Waalaikumussalam." Jawabnya.
Hana menatap bingung Bapaknya, yang menanam benih di sebelah Kanan.
Secara kebiasaannya Bapaknya selalu menang benih di sudut sebelah kiri.
" Pak, kok nanamnya di sebelah sini ?
Kan biasanya sebelah sudut kiri." Tanya Hana penasaran.
Tameer terdiam, bingung harus menjawab apa. Sebab, selama Hana ke Malaysia ada beberapa ujian silih berganti menghampiri keluarganya.
" Apa yang harus ku jawab ya Allah." Batin Tameer.
" Pak kok diam sih ? Tanya Hana, menyadarkan Tameer.
" Ah, sebelah sudut kiri sudah tidak punya kita lagi nak." Jawabnya jujur.
" Ha ? Hana terkejut bukan main.
Bapak gak bercanda kan ? Mencari kebenaran lewat sorot mata Tameer.
Namun, tak ada kebohongan dari sorot mata Tameer. Ia terdiam menatap senduh putrinya.
" Pak kenapa bapak jual pak ? Kenapa ? Tanya Hana.
Lagi-lagi Tameer terdiam, tak menjawab pertanyaan Hana.
" Bapak gak pernah gini loh, kalau Hana tanya gak di jawab gini." Kata Hana.
" Hahh." Tameer menghela nafasnya.
" Tanahnya udah sita sama Pak Mazran nak."
Jawab Tameer lesuh.
Ya, Mazran salah satu orang terpandang di daerah sini.
Yang terkenal dengan uang beranaknya.
Alias meminjamkan uang dengan jumlah bunga yang cukup terbilang banyak.
" Astaghfirullah, bapak ngutang pak ? Hana tak habis pikir.
Tameer hanya mengangguk, menjawab pertanyaan Hana.
Deg, hati Hana terasa sakit mendengar dan mengetahui semua hal ini.
Ia tak menyangka bahwa selama ia tinggal di Malaysia, ada banyak hal yang tengah menimpa keluarganya.
Bahkan sampai mengharuskan Bapaknya meminjam uang pada rantenir itu.
Hana tertunduk lemas si sawah, tak menghiraukan lumpur yang melekat di pakaiannya.
Tameer yang melihat putrinya seperti itu, segera mengangkatnya.
" Nak bangun !! Jangan seperti ini nak." Ujarnya pada Hana.
Hana menatap lekat wajah Tameer, buliran-buliran hangat mulai membasahi wajahnya.
" Berapa jumlah uang yang bapak pinjam ? Tanya Hana lagi.
" Sudah nak.
Jangan di pikirkan lagi masalah itu." Tameer enggan memberitau Hana.
Tameer ikut tertunduk dengan Hana, tak dapat lagi menahan kepedihannya, cairan bening itu akhirnya lolos dari sepasang mata milik Tameer.
" Hahh..hahh..
Bapak minjam Rp.16.000.000 nak." Jawabnya dengan tangisnya.
Jleb, dada Hana terasa sesak mendengar jumlah rupiah yang di pinjam bapaknya.
Di gunakan untuk apa uang sebanyak itu oleh bapaknya ??
Tanda tanya mulai menyelimuti Hana.
" Kenapa bisa sebanyak itu pak ?
" Bapaaakkk nabrak orang nak, empat bulan yang lalu.." Jawab Tameer yang berusaha menetralkan dirinya.
Hana semakin terkejut dengan hal yang tengah menghampiri bapaknya.
" Innalilahi wa innailaihi rojiun..
Jadi orang yang bapak tabrak gimana Pak ?
Tameer menghela nafasnya yang mulai berat.
Mengingat kejadian empat bulan lalu.
" Dia harus di operasi karena bagian tulang kakinya terjadi penggeseran sendi.
Dan mau tidak mau bapak harus bertanggung jawab atas biaya pengobatannya..
Dan jumlah biayanya sebesar Rp.9.000.000, dan belum lagi biaya nginapnya, lain sebagainya. Jika di totalkan semuanya kena Rp.11.000.000 nak, bapak gak punya sebanyak itu. Tapi bapak juga gak mungkin kabur, karena itu kesalahan bapak nak.
Dan jalan terakhir yang akhirnya bapak ambil adalah meminjam uang pada Pak Mazran.
Dan sisanya bapak buat untuk perbaikan sawah kita yang kena hama nak dan juga memperbaiki motor kita ke bengkel." Tameer mulai terisak, mengingat takdir yang amat begitu menguras dirinya empat bulan lalu.
Hana menggenggam tangan bapaknya, berusaha menenangkan bapaknya.
Ia ikut terisak dengan segala kepedihan yang silih berganti menghampiri keluarganya.
Entahlah,mendengar semua ujian yang tengah menyapa keluarganya.
Haruskah ia bersabar ?
Atau mala justru menyalahkan takdir yang cukup kejam pada kehidupannya ?
" Pak maafin Hana ya.
Hana gak tau, beban yang bapak pikul seberat ini. Maafin Hana gak ada di saat bapak kesulitan..
Maafin Hana pak lebih memilih kemauan Hana dari pada membantu bapak di sini, Hana egois pak, Hana emang anak yang buruk pak." Ucap Hana yang menyesali keputusannya untuk pergi ke Malay demi cita-citanya.
Tameer menggeleng, sembari mengusap kepala putrinya." Gak nak. Hana itu tetap menjadi kebanggaan bapak.
Hana gak boleh ngomong gitu ya.
Hana itu anak paling terbaik di dunia." Ujar Tameer mengembangkan senyumnya pada Hana.
Hiks...Hikss..Hikss..
" Gak pak, Hana anak yang buruk."
" Hana, sudah nak.
Ayo kita ke pondok ya, jangan nangis lagi !!
Lihat tu ingus kamu jadi keluar masuk, gak malu sama orang-orangan sawah."
Hana tersenyum mendengar bapaknya yang mencoba menghiburnya.
Tiba-tiba saja Arga datang menghampiri mereka. Melihat Hana terisak seperti itu, membuat timbul pertanyaan di benak Arga.
" Loh, kenapa nangis Han ? Tanyanya.
Hana menoleh ke arah Arga, dan menyerka dengan cepat air matanya.
" Nah tu, udahan nangisnya.
__ADS_1
Gak malu di lihatin Arga, si calon imam idaman." Goda bapaknya.
Hana melototkan matanya, tak percaya dengan perkataan bapaknya barusan.
" Bapak !! Apaan sih.
Dia bukan calon Hana." Sergah Hana.
Arga dan Tameer tertawa mendengar Hana.
" Yang bilang dia calon kamu siapa ? "
Ya, benar saja Tameer tak mengatakan bahwa Arga adalah calon imamnya.
Hana mencoba mengingat kembali perkataan bapaknya." Tadiii..
" Calon imam idaman." Potong Arga dengan mengedipkan matanya pada Hana.
Hana merasa malu, karena amat pedenya dengan pendiriannya yang salah.
Tameer pun tertawa melihat putrinya yang sedang kesal itu." Udah-udah cepat beberes !! Waktu dzhuhur sebentar lagi.
Biar kita pulang." Ujar Tameer.
Arga masih saja meledek Hana dengan tawanya." Jadi perempuan jangan mudah baper dong." Ledeknya sembari meninggalkan Hana.
Hana semakin kesal dengan Arga, refleks mencopot sendalnya dari kakinya kemudian melayangkannya pada Arga.
Bukhh.. Hana salah sasaran.
Arga berhasil menghindar." Gak kena haha."
" Arga !!!! Teriak Hana.
Ya, Arga memang selalu berhasil membuat Hana meneriakinya, memakinya dan membuat Hana semakin kesal padanya.
Sebab dengan seperti itu, ada kesenangan tersendiri baginya..
Begitu juga dengan Hana, walau sering di buat kesal oleh Arga, ia lebih suka dengan keadaan itu.
Dari pada harus menghadapi sikap kutubnya Arga.
.
.
Sesampai di rumah Arga, Tameer, Hana dan Ranti secara bergantian membersihkan diri di kamar mandi.
Sebab, hanya ada satu kamar mandi di rumah Hana.
Tameer dan Arga memutuskan sholat dzuhur berjamaah di masjid.
Sementara Hana, Ranti dan ibu Hana sholat dzuhur berjamaah di rumah.
.
.
Seusai sholat dzuhur, mereka seperti biasa makan siang bersama dengan lauk seadanya.
Walaupun begitu, jika melakukannya bersama-sama maka, hal itu jauh lebih indah dan menyenangkan.
Arga tersenyum melihat keharmonisan di dalam keluarga Hana.
Meski mereka berkehidupan jauh dari kata mampu. Keluarga Hana selalu menunjukkan rasa syukur dan tak pernah mengeluh dengan takdir yang mereka jalani.
Tetap taat pada Allah, bahkan tak sedikitpun mereka berkeluh kesah. Senyum ikhlas selalu terpancar dari keluarga ini.
Tak ada raut kegelisahan sedikitpun.
Arga semakin merasa menyesal, karena terkadang ia masih mau membuang-buang uang untuk membeli barang yang sebenarnya tidak terlalu penting.
" Ya Allah, disudut dunia lain, ada banyak hambaMu yang kekurangan. Justru hamba mala membuang-buang kelebihan." Batin Arga menyesali perbuatannya.
...
Empat jam telah berlalu.
Rahmet kembali dari sekolahnya, tepat pukul 16.30 Wib.
Ya, karena Rahmet sudah berada di bangku kelas tiga.
Sekolahnya sudah mengadakan bimbel untuk persiapan ujian-ujian berstandar Nasional.
Hal itulah membuat Rahmet lama pulang, sebab, sepulang sekolah mereka on time lanjut bimbel.
" Assalamu'alaikum." Salam Rahmet.
" Waalaikumussalam." Ucap penghuni rumah.
Arga menghampiri Rahmet.
Refleks Rahmet menyalim tangan Arga.
Arga tersenyum mendapatkan perlakuan seperti itu dari Rahmet.
" Adik ipar yang baik." Ujarnya.
Hana menyebikkan bibirnya, melihat kedua orang konyol yang sedang berdrama di hadapannya.
Tak ingin lebih merasa kesal, Hana memutuskan untuk pergi ke danau permai.
Menenangkan diri dengan masalah yang dia baru saja hadapi.
Mungkin dengan mensejukkan pandangan di danau permai, pikirannya akan sedikit tenang.
Hana berjalan sendirian, tak mengajak sesiapapun.
Ia menatap setiap jalan menuju danau permai, tak banyak perubahan.
Hanya ada penambahan bunga-bunga brastagi di tepi jejalanan. Dan juga pepohonan bonsai yang di tata sedemikian rupa.
Hana tersenyum." Alhamdulillah, Allah masih kasih kesempatan untuk mata ini melihat keindahan ini."
Hana terus melangkah, step by step akhirnya ia sampai di Danau permai.
Ya, di sore hari seperti ini danau permai memang tempat yang banyak di kunjungi warga setempat.
Ada yang bermain futsal di lapang rerumputan.
Ada beberapa anak kecil juga yang bermain ayunan secara tertib bergantian.
Ada yang memilih dutay di tepi danau atau pun di bangku taman yang di sediakan.
Bukan hanya itu, ada beberapa orang yang juga memilih memanjakan diri dengan pancingnya.
Dua sudut bibir Hana terangkat, membentuk ulasan senyuman. Suasana sudah amat lama tak ia lihat.
Ada kerinduan tersendiri untuk Hana akan suasana ini.
Dan sekarang, akhirnya rindu itu juga.
Hana memilih duduk di bangku taman sebelah sudut kiri, karena hanya bangku itu yang kosong.
Hana menyandarkan punggungnya ke sanggahan bangku.
Memenjamkan matanya, dan menarik nafasnya perlahan.
Kemudian membuangnya secara pelan.
Untuk merilekskan dirinya.
" Huuhhh.." Hana menghembuskan nafasnya sembari membuka matanya.
" Boleh aku duduk disini ? Tanya sosok pria yang muncul di hadapan Hana..
Hana melotot kaget dengan sosok pria yang berhadapan dengannya..
Bersambung.....
Sevimli 9 Desember 2021
Salam hangat dari Author 🌹
Jangan lupa like and Votenya
ya teman-teman 🙂
__ADS_1