Pelangi Hanani

Pelangi Hanani
Part 88 Rumah Rakses


__ADS_3

Meski kedatangamu sepintas lalu.


Namun, baswara maknamu teramat berseru.


Ahlan wa Sahlan Ramadhan ✨


" Jangan pernah mencari pembenaran lain atas semua tindakan dosa yang kau perbuat."


...... " Pelangi Hanani 🌹"......


Izazpun mengantarkan Hana ke stasiun kereta api. Sebab, pergi ke Bukit Bintang lebih cepat sampai jika menggunakan Kereta api.


Sesampainya di kereta api.


Izazpun memberikan tiket kereta api Hana.


" Han ini tiket kamu." Ujar Izaz sembari menyodorkan tiketnya pada Hana.


" Ah, terima kasih bang Zaz." Ucap Hana seraya meraih tiketnya.


Izazpun tersenyum." Hubungi abang ya kalau sudah sampai di Bukit Bintang." Meski, Izaz merelakan kepergian Hana.


Tapi ia tetap berusaha memantau Hana dari kejauhan.


Hana mengangguk." Siap boss." Jawab Hana.


Dan tibalah jadwal keberangkatan Hana.


Segeralah Hana berpamitan pada Izaz.


Dengan berat hati pun Izaz melepas keberangkatan Hana.


" Berjanjilah untuk kembali dengan selamat." Titah Izaz pada Hana.


Tanpa tersadar air mata Izaz terjatuh membasahi pipinya.


Hanapun tersenyum padanya.


" Jangan khawatirkan Hana.


Hana ini wonder woman loh, Samsons versi cewek hehe."


Hana berusaha untuk menenangkan Izaz.


Agar tidak terlalu mengkhawatirkannya.


Bagaimana Izaz tidak khawatir ?


Bukit Bintang merupakan tempat yang jauh dari Pahang.


Sekaligus Bukit Bintang terdapat banyak tempat ekstrim.


Izazpun tersenyum melihat Hana.


" Fii amanillah Han." Ucapnya sebelum Hana melangkah menaiki kereta api.


Hana mengangguk.


" Hana berangkat Bang Zaz."


" Assalamu'alaikum." Ucap Hana pada Izaz.


" Waalaikumussalam." Jawab Izaz.


Terucapnya salam diantara mereka berdua, menjadi pemisah antara mereka.


Hana melangkah ke dalam kereta, dan Izaz melangkah keluar stasiun.


Hati Hana masih berdegup tak karuan, bukan merasa getaran cinta melainkan getaran rasa sedikit takut akan bertemu dengan sosok Def Rakses yang kerap kali dijuluki sebagai pembunuh bayaran.


Entahlah, kali ini musuh Hana cukup berat untuk dihadapinya.


Membunuh tiga puluh nyawa bukanlah yang biasa.


Melainkan sungguh luar binasa.


Bahkan juga bisa dikatakan ini tindakan tak berperikemanusiaan.


Hanya karena sebuah materi ia sanggup menghilangkan nyawa orang yang sama sekali tak berdosa.


" Ya Allah, Engkau yang maha kuasa.


Lindungi hamba dari segala mara bahaya ya Allah.


Tiada yang seperkasa diriMu ya Allah." Ucap Hana dalam hatinya.


Kurang lebih enam setengah jam dalam perjalanan, akhirnya Hana mendarat di tanah Bukit Bintang.


Kota ini sebenarnya tidak berada jauh dari pusat kota.


Hanya saja alamat rumah Rakseslah yang berada jauh dari pusat kota.


" Alhamdulillah." Ucap Hana merasa lega telah sampai.


Hana keluar dari Gedung Bandara, mencari keberadaan angkutan umum atau Taxi yang bisa mengantarkannya ke alamat rumah Rakses yang sudah di berikan oleh Abriz.


Lewatlah salah satu Taxi yang melintas di hadapan kami. Dengan sigap pun Hana memanggilnya.


" Pakci Taxi !! Ujarnya.


Beruntung supir taxi itu peka akan panggilan.


Ia pun memberhentikan mobilnya, dan menghampiri Hana.


" Taxi nak ? Tanyanya.


Hana mengangguk iya." Iya pak, ke alamat ini ya." Jawab Hana memberikan kertas berisi alamat tersebut.


Supir Taxi itupun terkejut saat membaca kertas berisi alamat yang Hana berikan.


" Nak awak yakin mau kesini ? Tanyanya lagi.


Hana mengangguk." Iya pak, saya yakin." Jawabnya.


Hahh..Supir itu menghela nafasnya.


" Baiklah, mari pakci antar." Dengan pasrah iya mau mengantar Hana.


Hana pun tersenyum dan segera memasuki mobil Taxinya.


Bukan tanpa sebab, supir taxi itu terkejut.


Melainkan ia tau, bahwa alamat yang Hana perlihatkan adalah Rumah Rakses sosok pembunuh sadis yang tak punya hati.


Alih-alih mobil terus berjalan, Hana pun mengajak supir taxi itu mengobrol agar, suasana menjadi hidup.


" Pakci kenapa ya, tadi pakci sedikit terkejut membaca alamat yang saya tunjukkan ? Tanyanya Hana yang penasaran padanya.


" Eh eh... itu nak.


Kamu tau itu alamat rumah siapa ? Bukannya menjawab ia mala justru bertanya balik.


" Tau pakcii.


Rumah tuan Dev Rakses kan." Jawab Hana.


Supir taxi itupun mengangguk." Kamu tau siapa dia ? Tanyanya lagi.


" Hm, pembunuh bayaran." Jawaban Hana membuat kening supir taxi ini berkerut.


" Kamu tau tentang itu, tapi untuk apa kamu nekat pergi kesana nak ? Tanyanya yang merasa bingung dengan Hana.


Hanapun tersenyum simpul." Ada sesuatu yang sedang saya perjuangkan disana pakci." Jawabnya tanpa sungkan.


Supir taxi itupun masih saja penasaran, namun ia lebih memilih mengangguk dan tidak lagi bertanya pada Hana, sebab dia takut Hana akan merasa tidak nyaman atas pertanyaannya kepo yang ia lontarkan nantinya.


" Ah begitu ya nak.


Selamat berjuang ya nak.


Pakci tidak tau apa yang sedang kamu perjuangankan, tapi pakci yakin kamu pasti sedang memperjuangkan sebuah kebenaran." Ujarnya pada Hana.


" Iya pakci.


Saya memang sedang memperjuangkan itu." Jawab Hana dengan anggukan.


Supir taxi itupun hanya tersenyum mendengar perkataan Hana.


Siapapun pasti sudah bisa menebak.


Bahwa hanya ada dua tujuan seseorang hendak ke rumah Rakses.


Antara ingin menyewanya sebagai pembunuh bayaran atau ingin berjuang untuk mencari bukti kebenaran.


Supir taxi itu semakin menambah kecepatannya.


Agar secepatnya mengantarkan Hana ke rumah

__ADS_1


Rakses.


Dan ya tak lama kemudian, sampailah mereka di sebuah Rumah bercatkan abu kelabu di kelilingi berbagai macam tanaman.


Bahkan juga terdapat pohon beringin di depan rumahnya.


" Kita sudah sampai nak." Ucap supir itu yang menghentikan mobilnya.


Hanapun memandang rumah yang bepagar hitam itu.


" Ah ini rumahnya pakci ? Tanya Hana.


" Iya nak."


Hanapun tersenyum dan meraih dompetnya untuk mengambil uang sebagai ongkos Taxinya.


" Ini pakci ongkos saya." Hana menyodorkan beberapa lembar uangnya.


" Ah ini kebanyakan nak." Tolaknya.


" Udah gak apa-apa pak.


Saya ikhlas kok, karena bapak sudah bersudi hati mengantarkan saya ke rumah ini." Ujar Hana.


Tetap saja supir taxi itu menolak.


Hana pun tetap bersikeras." Kalau pakci nolak, itu artinya pakci gak ngehargain saya loh."


" Loh bukan gitu nak, tapii..


Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Hana langsung memotong ucapan supir taxi itu.


" Udah pak ambil ya." Hana meletakkan uangnya di mobil Taxi itu.


" Doakan saya selamat disini pak." Teriak Hana yang mulai melangkah menuju rumah Rakses.


" Iya nak.


Senantiasa Allah melindungimu." Teriaknya pada Hana.


Hanapun tersenyum dan mengangguk.


Supir taxi itupun menstart mobilnya dan melajukannya.


Dan ya, tinggallah Hana sendiri.


Hana menatap lekat setiap sudut rumah Rakses dari celah-celah pagar.


Rumah Rakses ciri khasnya sangat menggambarkan sosok Rakses.


Ya, penuh dengan kegelapan.


Bunga-bunga yang ditanami juga kebanyakan bunga kaktus dan juga mawar merah kehitaman.


" Seperti tidak dihuni." Hana menatap sekeliling rumah ini.


Hana mengumpulkan keberanian dirinya, untuk memencet tombol bel rumah ini.


" Bismillah." Ucapnya.


Tinnong...


Tinnong..


Langsung saja ada sosok pengawal yang membuka pintu gerbang.


Pengawal itu melihat Hana yang ternyata memencet tombol bel ya." Apa yang anda cari ? Tanyanya dengan tatapan sinis.


" Eh eh.... saya mencari tuan Rakses." Jawab Hana yang mulai gugup.


Pengawal itupun terdiam dan menatap Hana mulai dari bawah sampai ke atas.


" Pergilah !!


Orang yang kau cari tidak ada disini." Usirnya seraya hendak menutup pintu gerbang.


" Eh pakci saya mohon !!


Izinkan saya bertemu tuan Rakses..." Teriak Hana padanya.


Namun sayang, pengawal itu tak menggubrisnya.


Mala justru menutup pintu gerbangnya.


" Ah keterlaluan sekali.


Akan tetapi, Hana tak menyerah begitu saja.


Ia kembali memencet tombol bel rumah ini.


Tinnong..


Tinnong..


Tinnong...Hana sengaja melakukannya, agar memancing keributan supaya pemilik rumah mau keluar.


" Sekali lagi kau memencet tombol bel itu.


Akan kupatahkan tanganmu." Ancam pengawal yang merasa geram dengan Hana.


Hana tetap memencet tombol bel..


Tinnong...


" Saya gak bakalan berhenti sebelum ketemu tuan Rakses." Teriak Hana dibalik pagar.


Benar saja.


Cara jitu yang Hana lakukan berhasil membuat sang pemilik rumah keluar.


" Siapa yang berani membuat onar di wilayahku ? Ucap pemuda berkemeja hitam berparas tampan itu.


" Ampun tuan..


Diluar ada seorang gadis yang melakukan hal tersebut.


Dia bersikeras untuk bertemu tuan Rakses." Jawab salah satu pengawalnya.


Pemuda berpostur tinggi semampai itupun bergegas melangkah menuju gerbang. Ingin mencari tau sosok gadis yang dikatakan pengawalnya.


" Aku ingin melihatnya." Ucapnya.


Pemuda bernama Haiko itu memerintahkan kepada pengawalnya untuk membuka pintu gerbang.


" Buka pintunya." Perintahnya.


Saat pintu terbuka.


Senyum Hanapun mengembang sempurna.


Seketika Haiko terpengarah melihat sosok gadis yang tersenyum manis dengan ransel yang berada dihadapannya.


Ya, siapapun yang melihat wajah Hana diawal pertemuan. Pasti mengalami hal yang sama.


Tak dapat terpungkiri wajah Hana memang termasuk kategori wanita cantik sekaligus manis.


" Assalamu'alaikum." Ucap Hana pada Haiko.


Haiko masih memandang Hana tanpa berkedip sama sekali. Membuat semuanya terheran melihatnya.


Tak biasa Haiko menatap perempuan seperti ini.


Deg... Jantung Haiko berdetak tak karuan.


Entah perasaan apa yang tiba dihatinya saat pertama kali bertemu Hana.


" Tuan ini gadis yang ingin bertemu tuan." Ujar Pengawal Haiko yang membuatnya tersadar.


Iapun segera memalingkan pandangannya.


" Ah jadi perempuan ini yang berbuat onar." Ia sedikit meninggi nada bicaranya.


" Iya tuan."


Ia menatap tajam Hana." Apa motif mu melakukan semua ini ? Tanyanya seraya mendekati Hana.


Hanapun melangkah mundur menjauhinya.


" Maaf sebelumnya karena saya melakukan hal ini.


Mungkin kalau saya tidak melakukan hal ini, kamu tidak akan keluar dari rumahmu." Jawab Hana.


Haikopun tersenyum masam." Aku tidak suka bertele-tele !! Katakan apa tujuanmu datang ke rumahku ? Tanyanya dengan tegas.


Hana tersenyum menatap tanah." Aku ingin bertemu tuan Dev Rakses." Ya, Hana mengatakan tujuannya.


" Pergilah !!

__ADS_1


Kau tidak akan pernah bisa bertemu dengan ayahku." Ya, lagi dan lagi Hana mendapatkan pengusiran.


Ayah ?


Ya, Haiko adalah putra tunggal dari Dev Rakses.


Yang memiliki kepribadian seperti Rakses, hanya saja Haiko bukanlah pembunuh bayaran.


Melainkan ia hanya akan menghabisi orang-orang yang bertindak jahat.


Rakses berbalik arah dari Hana, sembari melangkah kembali menuju rumahnya.


Dan memerintahkan kepada pengawalnya untuk mengusir Hana.


" Bawak pergi perempuan itu menjauh dari sini." Perintahnya.


Para pengawalnya pun menghampiri Hana.


Dan hendak menyentuh tangan Hana.


Namun, dengan cepat Hana menarik tangannya.


" JANGAN BERANI MENYENTUHKU !! Teriaknya dengan tegas.


Membuat langkah Haiko terhenti.


" Bahkan disentuh bara api jauh lebih baik untukku.


Dari pada disentuh oleh seseorang yang bukan halal bagiku !! Tegas Hana pada para pengawal itu.


Entah kenapa perkataan Hana membuat Haiko tersenyum dan entah dari mana arah mata angin menyapa.


Haiko berbalik kembali menghadap Hana.


Melihat Haiko berbalik ke arahnya, Hanapun menghampirinya.


" Apa kau ingin menyembunyikan sekaligus mendukung semua kedzaliman yang ayahmu perbuat ? Tanya Hana to the poin.


Haiko tersenyum simpul merespon Hana.


" Itu bukan urusanmu !! Sergahnya.


Hana mencoba bersabar menyikapi Haiko.


" Astaghfirullah, sabarkan hamba ya Allah." Batin Hana.


" Membunuh tiga puluh nyawa bukanlah dosa yang kecil, apa kau ingin ayahmu terus menyandang status hina sebagai pembunuh bayaran sampai akhir hayatnya ?


Hana memberanikan diri untuk mengungkapkannya.


Membuat rahang Haiko mengeras.


" KAU !! Teriaknya menunjuk Hana dengan telunjuknya.


Detik selanjutnya ia tersenyum devil menatap Hana.


" Jangan lupakan !!


Bahkan ada manusia yang membunuh lebih dari sembilan puluh sembilan nyawa yang jauh lebih sadis dari ayahku tapi dia menempati syurga nya Tuhan." Ucapnya pada Hana.


Mendengar jawaban itu Hana tertawa kecil..


Hahaha..


" Jangan pernah mencari pembenaran atas tindakan dosa yang telah ayahmu perbuat.


Kisah itu bukan dijadikan contoh untuk melakukan kedzaliman. Melainkan itu dijadikan iktibar untuk manusia agar senantiasa bertaubat kepada Allah." Sergah Hana dengan lantang.


Jawaban Hana sedikit menampar hati Haiko, iapun menunduk merasa malu dan merasa benar apa yang dikatakan Hana.


Iapun terdiam mematung tak menjawab perkataan Hana lagi


Hana pun tersenyum." Selagi masih ada waktu yang tersisa, pintu taubat Allah masih ternganga lebar untuk hambaNya." Ujar Hana padanya.


Haiko mengangkat kepalanya." Sudah terlambat."


Ucapnya dengan lirih.


Kening Hana berkerut." Kenapa terlambat ? Tanyanya.


Haikopun melangkah." Kau ingin bertemu ayahku kan ?


Tanyanya yang dijawab anggukan oleh Hana.


" Biar aku pertemukan dirimu dengan ayahku."


Haikopun mengajak Hana memasuki wilayah rumahnya.


Bukannya memasuki rumahnya, mala justru beranjak ke pekarangan belakang. Hanapun merasa heran dengan jalan yang di tunjukkan oleh Haiko.


" Sebenarnya kita mau kemana ya ? Bukannya masuk ke dalam rumah kamu ? Tanya Hana penasaran.


Haiko tak menjawab sama sekali pertanyaan Hana.


Ia terus membawa Hana berjalan ke pekarangan belakang.


Issshh Hana berdengus kesal.


" Pria ini !! Bukannya menjawab mala jutek gitu." Upat Hana pelan, namun masih saja bisa terdengar


di telinga Haiko.


Sampailah di sebuah makam relief berukuran sedang.


Dengan nisan berkeramikan putih.


Dan dengan nisan yang bertuliskan


" Dev Rakses bin Jamal Rakses."


Benar saja, Rakses sudah meninggal tepat setahun yang lalu. Ia dibunuh oleh anak dari pria yang pernah menjadi target pembunuhannyaa.


" Saya ingin bertemu ayah kamu loh.


Lah kenapa dibawak ketemuan sama beginian." Protes Hana yang masih belum mengetahui makam siapa ini.


Haiko menatap Hana melas.


" Kamu gak bisa baca ya ? Atau mata sudah buta !!


" Bisa kok." Jawab Hana.


Haikopun menunjuk nisan ayahnya." Coba kamu baca !! Ujarnya.


Hanapun membaca nisan tersebut.


Dan ya, Hana terkejut ternyata satu-satunya orang yang bisa menjadi bukti di persidangan sudah meninggal dunia.


Refleks Hana tertunduk lemah di tanah dekat makam Rakses. Dadanya terasa bergemuruh, kesesakan dan keperihan mulai menghampiri.


Haiko terkejut melihat Hana seperti itu.


" Eh kamu kenapa ? Tanyanya mendekati Hana.


Hana mengangkat tangannya, memberi kode untuk Haiko tidak mendekat." Akkkuuu tidak apa-apa."


Haiko pun berhenti melangkah.


" Kenapa cewek ini terduduk lemah seperti ini." Benak Haiko bertanya-tanya.


Sosok Argapun terlintas di benak Hana.


Mengingat senyum Arga, air mata Arga membuat Hana semakin merasa sakit di dadanya.


Ia menggenggam erat dadanya yang terasa berat dan sesak." Arga maafkan aku !! Aku kalah Ga." Ucap Hana lirih.


Air mata Hanapun tertumpa ruah jua.


" Kita kalah Ga.. Hikss...Hikss...


Melihat Hana menangis senduh seperti ini, membuat Haiko semakin bingung, harus melakukan apa menenangkan Hana.


" Arga siapa pria yang cewek ini sebut ? Apa Arga itu seseorang yang berarti untuknya.


Sehingga dia sangat terluka seperti ini ? Pertanyaan mulai merambat dalam pikiran Haiko.


Jujur saja, Haiko kerap kali bertemu dengan banyak gadis. Namun, entah kenapa perasaannya berbeda saat bertemu dengan Hana.


Tanpa persetujuannya dadanya berdegup kencang, bahkan anggota badannya sekita terpaku saat berada di sisi Hana.


Bersambung....


Sevimli 12 April 2021


Salam hangat dari Author 🌹


Jangan lupa untuk like and Votenya :)

__ADS_1


__ADS_2