Pelangi Hanani

Pelangi Hanani
Part 82 Hukuman.


__ADS_3

Guys aku mau ngomong kalau part Aiskha yang diatas itu aku salah Up ya 😂 Seriusan itu part Novel aku Seniseviyorum Aishka.


Kemaren itu iseng-iseng ngetik eh terpublikasikan. Aku kaget dong, Nah dengan cepat aku ngapus tu part.


Alhamdulillah, bisa dihapus di draft naskah ku.


Eh tiba ngecek di yang terupload ternyata masih ada. Seriusan ga tau lagi gimana cara ngapusnya 😭.


Jadi maaf ya guys part diatas itu salah server :)


Di skip aja.


" Dunia mungkin tidak punya bukti atas semua kejahatanmu.


Namun ingatlah, bahwa Allah punya malaikat yang merekam dengan detail apapun yang kau lakukan."


Jangan lupa Follow Ig Author hehe


@andinidalimunthe__


......" Pelangi Hanani 🌹"......


Keesokan harinya.


Robert, Abriz, Andrea dan Arga sudah sampaikan di Istana.


Tak ada penyambutan manis yang menyapa mereka.


Melainkan hanya ada tatapan sinis.


Serta cibiran pedas.


" Tengok tu.


Sanggup pulakan berontak ayah sendiri." Cibir salah satu pengawal Istana.


Arga hanya tersenyum simpul, merespon pengawal tersebut.


" Udah pernah kenak bogem gak mulut Lo ?


Ketus Andrea pada mereka.


Dengan cepat Arga menarik Andrea menjauh dari para pengawal itu.


Hanya ada satu pengawal yang masih memberlakukan Arga dengan baik.


" Silahkan masuk nak." Sambutnya.


Arga tersenyum, merasa haru melihat sosok Pak Raiden masih bersikap baik padanya.


" Pakci yakin, Arga bukan dalang dibalik ini semua. Nak Arga itu adalah pemuda terbaik yang pernah pakci jumpa.


Tak payah risau ye, insya Allah akan ada jalan keluar yang Allah tunjukkan." Nasehatnya pada Arga.


Arga mengangguk, dan melanjutkan langkahnya.


Ia melihat ke sekeliling Istana, mencari keberadaan ayahnya.


Ya, sudah pasti Nazhanul berada di ruang perkumpulan.


Salah satu dari pengawal itupun, menginstruksikan untuk segera melangkah ke ruang sidang Istana.


Ada hal yang ingin Raja sampaikan.


Tak perlu berpikir panjang.


Apalagi yang akan disampaikan.


Kalau bukan hukuman yang akan mereka dapatkan ?


Arga memejamkan matanya, menghela nafasnya kasar.


Mencoba serilekspun.


Dengan langkah yang gemetar, Argapun mengajak mereka bertiga ke ruang sidang.


" Ga, rileks aja.


Gak usah takut..


Lo gak sendiri kok." Andrea menepuk pundak Arga.


Arga mengangguk dan tersenyum.


Dengan penuh keberanian mereka berempat pun memasuki ruang sidang.


Meski ribuan badai tengah menghampiri mereka, lengkungan senyuman tetap terukir di wajah mereka.


Di ruang sidang Istana.


Sudah berkumpul semua orang.


Baik dari kalangan keluarga, pejabat dan juga pekerja yang ditugaskan.


Wajah yang pertama kali Arga lihat adalah wajah sang Ibunda yang teramat senduh menghampirinya.


" Putraku." Wardah mendekap erat putranya.


Bagaimana dirinya tidak senduh ?


Sosok putra yang ia lahirkan kini di vonis sebagai pengkhianat Istana.


Dan pastinya akan di jatuhkan hukuman yang berat.


Air matanya tak sungkan-sungkan untuk mengalir deras..


Hiks..Hikss..Hikss..


" Bunda, kenapa nangis bun ? Arga melepas dekapan bundanya.


Dan meraih kedua pipi bundanya, menghampus segala tetesan hangat milik bundanya.


" Nak, jelaskan pada ayahmu bahwa kau bukan pengkhianat nak !! Bunda yakin itu nak.


Bunda yang melahirkanmu, bunda yang merawatmu dengan begitu penuh kelembutan dan kehangatan. Bagaimana bisa kau melakukan hal sekotor ini nak." Ucap Wardah dengan derai air matanya.


Pemandangan anak dan sang Bunda itu menjadi sorotan di ruang persidangan.


Ada banyak orang yang ikut terhenyak dengan pemandangan senduh itu.


Termasuk salah satunya Nazhanul.


Meski bukti telah mengatakan putranya adalah pengkhianat.


Namun, jujur dalam lubuk hatinya.


Hatinya tercabik-cabik melihat sosok putranya, yang akan mendapatkan hukuman mati atau gantung nantinya. Jika tuduhan itu benar-benar terbukti.


Berat sekali rasanya.


Akan tetapi sudah menjadi resiko menjadi seorang pemimpin.


Yang harus menegakkan hukum dengan adil.


Dan sesiapapun yang tidak menaatinya, maka harus di beri hukuman yang sesuai.


Tidak ada pengecualian, sekalipun seseorang itu adalah putranya.


Air matanya Nazhanul ikut menetes melihat istri dan putranya.


Tanpa sadar Arga melihat dirinya.


Arga tersenyum, ia yakin meski lidah ayahnya mengatakan dirinya pengkhianat.


Akan tetapi, pasti ada secuil kepercayaan dalam hati sang ayah bahwa dirinya bukan pengkhianat.


Nazhanul menatap Arga, Yang juga melihat dirinya.


Kini dua netra itu bertemu dalam kesenduhan.


Senyum Arga semakin mengembang seiring mengalirnya air mata.


Begitu juga dengan Nazhanul, raut wajahnya semakin sedih menatap sang putranya.


" Ayah." Panggil Arga.


Sentak panggilan itu membuat Nazhanul tersadar, dan segera memalingkan pandangannya dari Arga.


Kekecewaannya terhadap Arga, membuatnya sedikit kembali membenci Arga.


Arga hanya bisa pasrah melihat sorot kebencian yang mulai terkumpul pada tatapan ayahnya.


" Wardah tolong kembali ke tempat duduk awak, sidang hendak di mulai.


Biarkan tersangka berada di kursi terdakwa." Ujar Nazhanul.


Membuat Wardah dan Arga menoleh ke arahnya.


Wardah pun perlahan melangkah mendekati Nazhanul.


" PUTRAKU BUKAN PENGKHIANAT !! Teriaknya dengan lantang.


Semuanya terfokus pada teriakan Wardah.


Arga menatap intens bundanya, sosok bunda yang selalu mengelus kepalanya.

__ADS_1


Menghapus lembut air matanya, yang selalu bertutur kata lemah lembut.


Detik ini dengan lantang membelanya didepan semua orang yang memvonisnya sebagai pengkhianat.


Arga mendekati bundanya, ia ingin mendekap erat wanita berkerudung hitam itu.


" Putraku tak pantas berada di kursi terdakwa !!


PUTRAKU BUKAN PENGKHIANAT !! Teriak Wardah lebih lantang di hadapan semuanya.


" Jangan pernah lancang menyuruh putraku duduk di kursi terdakwa itu." Wardah menekan perkataannya.


Wardah tertunduk lemah dilantai ruang sidang, air matanya mengalir deras membasahi ruang itu. Batinnya sangat terpukul keras ketika melihat putranya berada di posisi ini.


" Bunda." Arga menghampiri Wardah, dan mencoba menenangkannya.


" Terima kasih untuk segalanya Bun." Ujarnya.


Ia mencium tangan Wardah yang sudah penuh getaran." Arga akan baik-baik saja, bunda jangan khawatir ya." Ucapnya menghapus lembut air mata Wardah.


Robert, Abriz dan Andrea ikut meneteskan air mata. Ikut merasakan kepedihan yang sedang dialami Arga.


Mereka menjadi saksi nyata bahwa Arga bukanlah pengkhianat.


Melainkan justru Argalah sosok yang selama ini kerap kali bijaksana menuntaskan kasus ini.


Bahkan Raja belum menjatuhkan hukuman apapun, akan tetapi suasana di ruang sidang kali ini sudah cukup menguras air mata.


Ya, siapa yang tidak kenal Argasyah ?


Sosok remaja beranjak dewasa yang penuh tanggung jawab dan penuh kebijaksanaan.


Ramah, sopan serta dermawan.


Yang kerap kali membantu orang lain.


Bagaimana mungkin ?


Dirinya adalah sosok pengkhianat yang meresahkan selama ini.


Para pejabat, pekerja Istana dan semua penghuni Istana juga tidak mudah percaya dengan yang terjadi saat ini.


Izaz yang baru datang ke ruang sidang, langsung menghampiri Arga.


" Abang percaya.


Arga bukan pengkhianat." Ungkapnya memeluk Arga dan juga Wardah.


Ketiganya kini berpelukan untuk saling memberikan kekuatan dan kehangatan.


Sedikit membuat Arga merasa tenang, meski dunia kini memandangnya sebagai pengkhianat.


Tapi tidak dengan abang dan bundanya.


Nazhanul beranjak berdiri dari singgasananya, melangkah hendak menghampiri keluarga kecilnya itu.


" Bang Nazh.


Kapan sidangnya dimulai ?


Ya, langkah Nazhanul terhenti.


Saat pengkhianat asli melontarkan kalimat itu.


Nazhanul pun kembali duduk dan menghapus air matanya.


" Segera kembali ke tempat kalian masing-masing." Tegasnya pada semuanya.


Wardah menggeleng tidak mau membiarkan Arga sendirian. Apalagi berada di kursi terdakwa.


" Bang Zaz, tolong bawak bunda ke sana." Pinta Arga pada Izaz.


Izazpun mengangguk dan mencoba perlahan membawa Wardah kembali duduk di tempat yang di sediakan." Bun, percaya ya.


Izaz akan cari bukti sekeras mungkin.


Untuk membuktikan bahwa Arga bukan pengkhianat."


Dengan berat hati, Wardah pun menuruti permintaan Izaz.


Mereka duduk di sebelah Nazhanul.


Sementara Arga, duduk di kursi terdakwa.


Pejabat licik itupun tersenyum puas, melihat keluarga Nazhanul sehancur ini.


" Ini belum ada apa-apanya..


Kita lihat bagaimana hancurnya kau Nazh.


Nazhanul menginstruksikan kepada penasehatnya untuk membuka persidangan.


Sang penasehatpun membuka persidangan.


Di mulai dari kasus Abriz terlebih dahulu.


Ada banyak pertanyaan yang mengintimidasi dirinya.


Meski tanpa pengacara dan bukti.


Abriz tetap berani berkata jujur dari awal kronologis kejadian.


Bahwa dirinya adalah suruhan Pejabat Vachry.


Ya, sang gubernur Istana.


Beliaulah pengkhianat sesungguhnya.


Semua orang menatap tak menyangka bahwa pejabat yang begitu terlihat loyalitas pada Istana. Ternyata seorang pengkhianat.


Nazhanul menatap lekat wajah Vachry, mencari kebenaran disana.


Sedikit gugup, namun si brengsek ini mencoba tetap tenang. Sebab, ia yakin bahwa mereka tak punya bukti apapun.


" Kau punya bukti ? Tanya penasehat.


Abriz menunduk kalah." Aku tidak punya bukti." Ucapnya.


" Kalau kau tidak punya bukti, maka pernyataanmu tertolak." Jawab penasehat Istana.


Abrizpun pasrah akan takdirnya.


Kalau saja waktu bisa di putar, dia takkan sudi melakukan hal bodoh yang telah ia perbuat dua setengah tahun yang lalu.


Selanjutnya, membahas kronologi kasus Robert dan Andrea.


Penasehat kembali melontarkan beberapa pertanyaan.


Ya, jujur saja.


Meski karena kesalahpahaman, tetap saja Robert dan Andrea akan menerima hukuman sesuai dengan perbuatannya.


" Aku tidak punya bukti untuk mengungkapkan kedzalimanmu Vachry.


Tapi Tuhan punya malaikat yang mencatat segalanya tanpa tertinggal secuilpun." Kalimat penutup yang Robert lontarkan.


Deg...Hati Vachry sedikit tertampar.


Kakinya sedikit gemetar.


Benar kata Robert, meski dunia tidak melihat kejahatan yang kita perbuat.


Tapi, Allah punya rekaman jejak yang akan diperhitungkan diakhir kelak.


Seusai giliran Robert dan Andrea.


Tibalah giliran Arga.


Ini kasus yang terberatnya.


Abriz tervonis sebagai pelaku tindak pembunuhan berencana pada sang penguasa.


Robert dan Andrea tervonis sebagai pengacau negara.


Kalau Arga tervonis sebagai pelaku pengkhianat negara.


Sekuat mungkin Arga mencoba berdiri untuk menghadapi sidang ini.


Senyumnya tetap terpancar, dan tangannya tetap tampak berwibawa terlipat di atas dada.


" Bismillah." Ucapnya.


" Sesuai dengan bukti yang telah terdata.


Saudara Arga telah dinyatakan sebagai terdakwa yang melakukan tindak pengkhianatan terhadap Istana.


Ini merupakan kesalahan terfatal, merencanakan sesuatu untuk menghancurkan sang penguasa dari belakang.


Saya memberikan anda waktu untuk berbicara memperjelas semua kejadian kronologis dari pengkhianatan yang anda lakukan." Persilahkannya pada Arga.


Huhh...


Arga menghembuskan nafasnya.


Memulai berbicara untuk membela dan membantah semua tuduhan yang sedang menyudutkannya.

__ADS_1


Mulai dari poto dia bersama sosok penjahat yang pernah merusuh di Istana.


Sampai pada surat kontrak kerja sama yang telah ia tanda tangani secara paksa, demi menyelamatkan Hanani.


Sang gadis yang bertahta dihatinya.


" Mengenai surat kontrak kerja sama itu.


Semuanya adalah rekayasa seseorang yang telah menjebak ku bersama Hana.


Tetap beberapa bulan yang lalu, pagi itu aku sudah berangkat ke Sekolah, akan tetapi buku yang berisikan tugasku tertinggal di rumah. Sebab itu, aku putar kembali ke rumah.


Namun, sebelum sampai di rumah aku menemukan sesuatu yang janggal pada mobil Jeep yang berselisih denganku.


Dan karena penasaran akupun mengikutinya.


Berawal dari tas Hana yang terjatuh dari mobil itu. Akupun mulai memahami bahwa Hana sedang dibawak oleh sekelompok manusia iblis.


Dan ternyata tujuan mereka bukan Hana.


Melainkan menjebakku untuk menandatangani. surat itu.


Hana di sekap, bahkan juga lehernya di lukai dengan belatih."


" Innalilahi." Semua orang terkejut mendengar cerita Arga.


Kecuali Vachry, yang sudah mulai cemas dengan semua cerita Arga.


" Dia mengancamku dan membuatku berada dalam pilihan menandatangani surat itu atau melihat Hana terbunuh olehnya.


Bukan aku tidak bisa melawan saat itu, akan tetapi Hana sudah berada dalam genggamannya. Dan ya, aku tidak bisa berbuat apa-apa selain memilih menandatangani surat itu. Dan benar itu adalah tanda tanganku yang diambil secara paksa." Jelaskan Arga secara singkat tanpa menyebutkan nama pelaku.


" Apa kau punya bukti ? Tanya penasehat.


Arga tersenyum sudah bisa menebak, bahwa itu akan ditanyakan pada dirinya.


Arga menggeleng." Aku tidak punya bukti fisik, hanya ada Hana yang saat itu juga tengah merasakan kejadian itu bersamaku." Jawab Arga.


Vachry tersenyum dan menatap Arga sinis.


" Berbicaralah sesuka hatimu.


Karena tidak akan ada bukti yang menyudutkanku. Aku sudah menghapus secara detail jejak kejahatanku." Ucapnya dalam hatinya.


" Baiklah, jika kau belum bisa membuktikan apa yang kau nyatakan. Itu artinya belum bisa dijadikan sebagai data dalam pembantahan kasus ini." Ujar sang penasehat.


Membuat Wardah semakin lemah.


Tangisnya semakin deras, meski tanpa suara.


Bagaimana tidak ?


Ibu mana yang tak bersedih hati saat sang putra di fitnah sebagai pengkhianat.


Arga tersenyum melihat sang bunda, berusaha terlihat setegar mungkin. Sebagai isyarat pada bundanya. Bahwa dirinya baik-baik saja.


Begitu juga dengan Nazhanul, ia rasanya tidak sanggup melihat putranya berada di kursi terdakwa.


Di tambah lagi, semua bukti telah valid.


Dan Arga juga tidak memiliki apapun sebagai bahan untuk pembantahan kasus yang menimpanya.


Meski wajahnya terlihat berwibawa.


Namun, berbeda dengan hatinya yang ikut hancur melihat sang putranya akan dijatuhkan hukuman gantung untuk kasus ini.


" Satu hari yang lalu, kau bertemu dengan ketiga orang itu di Caffe.


Benar ? Dijawab anggukan oleh Arga.


" Untuk hal apa ? Tanyanya lagi mengintimidasi Arga.


" Untuk membicarakan tentang sosok pengkhianat sesungguhnya.


Mereka bertiga dikibulin olehnya, dan dijadikan alat untuk kedzaliman serta pembalasan dendam yang merekat pada dirinya." Penasehat itu menatap Arga lekat.


" Kau mau menanyakan buktikan ? Kata Arga.


Penasehat itu mengangguk.


" Malaikat Raqib dan Atid adalah saksinya." Jawab Arga dengan mantap.


Kemudian Arga kembali duduk di kursi terdakwa.


Membuat seisi ruangan sidang tersenyum padanya. Ada banyak orang yang percaya bahwa Arga bukanlah pengkhianat.


Pasti ada seseorang yang menjebaknya sesuai dengan penjelasannya tadi.


Tok.. Tokk..


Penasehat mengetuk palu.


" Berdasarkan semua bukti yang telah terdata.


Dan mohon maaf penjelasan yang telah kalian kemukakan tertolak, karena tidak adanya bukti yang valid." Ungkapnya pada persidangan.


Arga menatap Nazhanul yang telah tertunduk di singgasana.


Berharap sang ayah angkat bicara membelanya.


Namun sayang, itu tak terjadi sama sekali.


" Sesuai prosedur hukum yang berlaku.


Kalian akan diberikan waktu sepekan untuk mencari bukti yang membenarkan semua pernyataan saudara-saudara sekalian..


Jika dalam waktu sepekan kalian tidak menunjukkan bukti di persidangan kedua.


Untuk saudara Abriz hukuman gantung akan dijatuhkan pada saudara atas kejahatan pembunuhan berencana pada sang Raja."


Abriz hanya tersenyum simpul merespon hukuman mati yang dijatuhkan padanya.


Mau bagaimana lagi ?


Nasi sudah menjadi bubur.


" Selanjutnya untuk Robert dan Andrea.


Atas tindakan kriminalitas, pengadu dombaan antara daerah Terengganu dan Penang. Serta kerusuhan dan kerusakan yang telah dilakukan dalam negri.


Maka pihak Istana menjatuhkan hukuman delapan tahun mendekam di penjara." Tutur penasehat hukum Istana.


" Dan terakhir untuk ananda Argasyah yang terdakwa melakukan tindakan pengkhianatan terhadap Istana." Ia menjeda ucapannya, merasa tidak sanggup menjatuhkan hukuman seberat ini pada Arga.


" Penasehat lanjutkan." Perintah Nazhanul.


" Maka untuk kasus ini.


Ananda divonis hukuman gantung sesuai dengan pasal 23 ayat 4." Pernyataan terakhir ini tampak berat untuk diucapkan oleh penasehat hukum Istana.


Hatinya juga sulit untuk menerima kenyataan bahwa Arga adalah pengkhianat.


" Persidangan pertama kita cukupkan sampai


di sini dan akan dilanjutkan pada sidang kedua pekan yang akan datang.


Akhirul kalam, assalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh.'


Tokk..


Tokk.. Tutupnya dengan ketukan palu.


Dengan berakhirnya persidangan.


Para pejabat dan hadirin yang berada di ruang sidang di persilahkan meninggalkan tempat.


Begitu juga keempat terdakwa dibawak ke dalam sel tahanan sebagai tahanan. Dengan borgolan ditangan mereka.


Deg.. pernyataan terakhir dari penasehat hukum itu refleks membuat Wardah terjatuh dari kursinya.


Hah..


Hahh... Dadanya terasa sesak berkecemuk.


Ia menatap Nazhanul penuh harap untuk menarik hukuman gantung itu.


Ia yakin dengan sepenuh hati bahwa Arga bukan dalang dibalik semuanya.


Air matanya mengalir deras membasahi pipinya. Disaat melihat borgol melekat ditangan putranya.


Izaz yang melihat sang bunda seperti ini, segera mengangkatnya.


" Bun tenang ya.


Kita masih punya waktu sepekan lagi untuk mencari bukti.


Izaz janji akan bawak bukti untuk membebaskan Arga dari kasus ini." Ujarnya menenangkan sang bunda.


Bersambung..


Sevimli 16 Maret 2021.


Salam hangat dari Author 🌹


Jangan lupa like and Votenya ya :)

__ADS_1


__ADS_2