Pelangi Hanani

Pelangi Hanani
Part 54 " Kau bukan Ayah yang baik "


__ADS_3

" Jikalau langit menutup semua pintunya untuk doamu, percayalah nak ada doa mamah yang senantiasa selalu menjadi kunci untuk membukanya."


......" Pelangi Hanani 🌹"......


Kanaya mengusap pelan rambut putranya, menyalurkan kehangatan untuknya.


Ia melihat jelas manik mata putranya menyimpan banyak kepedihan.


" Nak, apa yang sebenarnya terjadi ? Tanya lembut.


Anugrah melepas pelukannya." Ayah akan mengirim Anugrah ke Canada mah." Ucapnya senduh.


Kanaya terkejut mendengar jawaban putranya.


" Bagaimana bisa ayah mengirimmu ke tempat jauh itu ? Apa alasannya nak ?


Anugrah menghela nafasnya." Ayah menemukan buku-buku Islami yang Anugrah simpan mah, pas Anugrah memasuki rumah ayah sudah di selimuti amarahnya, bahkan ayah menampar keras Anugrah mah." Jawabnya.


Kanaya tau benar bahwa hati putranya kini berlabuh pada keyakinannya.


" Nak, maafin mamah ya gak ada di sana untuk membela kamu, tapi kamu mesti sabar ya nak. Kamu harus bisa pahami sifat ayah kamu mungkin dia lagi ada masalah, makanya pikirannya kacau jadi kebawak emosi nak."


Anugrah menggeleng, dan menggenggam tangan Kanaya." Gak mah, mamah selalu ada untuk Anugrah.


Anugrah sudah selalu untuk bisa memahami ayah mah, semua yang ayah minta Anugrah turutin, ayah larang ini, larang itu, harus begini, harus begitu, semuanya Anugrah dengarkan mah."


" Tapi bisa gak sekali saja ayah ngertiin perasaan Anugrah ? Beri Anugrah celah untuk bisa bebas nentuin kehidupan Anugrah ?


Sekali saja mah !! " Air mata yang Anugrah bendung sedari tadi akhirnya tertuang juga.


" Anugrah capek mah sama semua kemauan ayah !! " Pungkasnya.


Kanaya menggeleng." Gak nak, mamah yakin ayah kamu pasti ngertiin kamu, hanya saja dia belum nunjukin sepenuh ke kamu nak."


" Mah kenapa Anugrah gak terlahir sebagai seorang muslim sih mah ? Tanyanya.


Sentak kaget batin Kanaya ketika mendengar putranya menanyakan hal itu.


Ia meramas ujung bajunya, untuk menghilangkan ketegangan tubuhnya.


" Hm, nak ada hal yang seharusnya perlu kamu tau. Bahwa setiap bayi yang terlahir ke dunia ini pada dasarnya dalam keadaan fitrah. Ya, suci tanpa terkecuali nak, namun yang menjadi ia Nasrani atau beriman adalah orangtuanya."


" Sebelum Ayah menikahi mamah, ia telah menyandang status muallaf, beberapa bulan kemudian bertemu di suatu taklim, sekitar satu bulan kemudian Ayah melamar mamah,


Akhirnya kami menikah tanpa pengetahuan Oppungmu." Kanaya mengingat kisah cintanya dengan William.


" Singkat cerita setelah kak Jasmine berusia lima tahun, dan kamu berusia tiga tahun, Oppungmu mengetahui pernikahan kami, ia syok bahkan sampai masuk IGD sebab jantungnya saat itu melemah, tak lama dari itu ia mengatakan bahwa dirinya, sangat kecewa sekali dengan ayahmu. Dan memintanya kembali ke Protestan sebagai permintaan terakhirnya." Jelas Kanaya dengan buliran air hangat yang menetes dari matanya.


Anugrah menatap lekat wajah mamahnya.


" Jadi Anugrah sebenarnya terlahir sebagai muslim mah ? Tanyanya.


Kanaya mengangguk dan tersenyum.


" Namun, setelah kakekmu meninggal ayahmu membawa kamu dan kakakmu untuk kembali ke Protestan. Ayahmu memberikan dua pilihan pada mamah, yaitu pilihan pertama Jika ingin bersama anak-anak mamah, maka mamah harus murtad.


Dan pilihan yang kedua jika ingin tetap pada keyakinan mamah, maka mamah harus berpisah dengan kalian." Kanaya mulai terisak mengingat kejadian kelam itu.


Anugrah mengusap air mata mamahnya.


" Mah, jangan nangis mah."


" Maafin mamah ya, lebih memilih mempertahankan keyakinan mamah dari pada kalian." Merasa bersalah pada Anugrah.


Anugrah mendongakkan kepalanya pada Kanaya seraya menangkup kedua pipi Kanaya." Mamah gak salah mah, apa yang mamah lakukan itu benar."


" Mah, kembalikan Anugrah ke Islam lagi mah." Pintanya dengan lirih.


Pertanyaan itu benar-benar menohok hati Kanaya, ada sedikit kesesakan dihatinya mendengar pertanyaan putranya.


Jujur saja sangat mudah untuk memuallafkan Anugrah, apalagi dia sudah memiliki bekal yang cukup mengenai Islam.


Namun, Kanaya tau betul apa yang akan terjadi pada putranya ketika William mengetahui Anugrah telah pindah keyakinan.


" Nak, kamu tau Paman Rasullullah yang bernama Abi Thalib ? " Tanyanya.


Anugrah mengangguk sebagai jawaban.


" Beliau itu sangat mendukung perjuangan Dakwah Rasulullah, bahkan dia juga ikut serta mempermudah Rasulullah berdakwah.


Dia selalu berada di sisi Rasulullah, tentu saja sedikit banyaknya dia akan mengenal cahaya Islam bukan ?


Anugrah mendengar perkataan Kanaya dengan serius.


Beberapa detik Kanaya terdiam, sementara Anugrah menunggu kelanjutan ucapan Kanaya.


" Tapi kebenarannya, beliau tidak di takdirkan sebagai seorang muslim hingga akhir hayatnya."


" Tidak mungkinkah dia tidak dapat menggapai hidayah Allah ? Sementara ia selalu bersama Rasulullah.


Anugrah merasa apa yang dikatakan Kanaya adalah sebuah kebenaran.


Ya, Abi Thalib sosok paman Rasullullah yang berpihak padanya namun, sayang sekali hingga akhir hayatnya, ia tak kunjung mengucapkan dua kalimat agung itu.


" Hidayah Allah sedang tidak berpihak padanya nak." Lanjutnya mencoba membuat putranya paham.


" Berbeda dengan kamu, hidayah Allah selalu berpihak padamu, tapi semesta selalu saja mempersulit mu, begitukan ? Tanyanya pada putranya.


Anugrah mengangguk iya.


Memang benar semestalah yang mempersempit jalannya, menggapai Islam.


" Itu artinya Allah ingin kamu lebih keras lagi, lebih berjuang lagi menggapai dua kalimat agung itu nak." Tuturnya dengan senyumannya.


Perkataan yang terlontar dari perempuan berjilbab motif bunga itu, bagaikan sebuah golden tiket untuk Anugrah meraih Islam.


Ya, Kanaya memang selalu memberikan lampu hijau, motivasi bahkan semangat untuk Putranya.

__ADS_1


Ya, disaat putranya sedang berada di fase lemah dialah wanita pertama yang akan menguatkan tekad putranya.


Memiliki wanita bak lentera dikala kegelapan menghampiri adalah sebuah keajaiban yang tak terhingga untuk seorang Anugrah.


Anugrah bersyukur dikala hujan datang menghadang, ada sosok Kanaya yang menawarkan tempat berteduh untuknya.


Di kala terik matahari datang menyilaukan pandangannya, ada sosok Kanaya yang bersedia menjadi tempat persembunyian untuk putranya.


Anugrah menitihkan air mata yang sudah sedari tadi ia tahan, kesal, sedih, benci dan bahagia menyatu padu menjadi satu.


Ia tak peduli di katai cengeng, lemah atau sebagainya, yang saat ini dia inginkan ialah sebuah pelukan, rangkulan, dan sandaran.


Untuk dia melepaskan segala kesesakan, untuknya meluapkan segala keperihan, untuknya membuang segala kepiluhan, agar ia dapat menghirup kelegaan dan bebas mengekspresikan dirinya tanpa keterpaksaan.


Hal itu ia dapatkan dari sosok Kanaya, mama tercintanya.


" Jika langit menggembok semua pintunya untuk doamu nak. Percayalah nak ada doa mama yang senantiasa selalu menjadi kunci untuk membukanya." Kanaya mengucapkan dengan pancaran wajah ketulusan seorang ibu.


Sebuah lekungan senyuman ikut mewarnai tangisan di wajah Anugrah." Anugrah bersyukur memiliki malaikat seperti mama."


Kanaya tersenyum, mengelus lembut kepala putranya yang berada dipelukannya.


" Bicarakan baik-baik dengan Ayahmu nak, rendahkan Intonasi suaramu. Lemah lembut padanya. Insya Allah dengan begitu secara perlahan hatinya sedikit luluh." Saran Kanaya pada putranya.


Anugrah menggeleng." Gak mah, ayah itu keras kepala. Apapun yang dikatakannya di awal takkan pernah bisa di ganggu gugat." Anugrah pasrah pada keras kepala ayahnya.


Kanaya setuju dengan yang dikatakan Anugrah, sebab mantan suaminya itu memanglah sangat keras kepala.


" Hm, ayahmu memang seperti itu. Tapi percayalah nak hati ayahmu juga pernah terjatuh pada Islam. Mamah yakin setitik kecil Islam masih ada di hatinya."


Kanaya menjeda beberapa detik perkataannya, Anugrah melepas pelukannya.


Penasaran dengan kelanjutan perkataan Kanaya.


" Lanjutkan mah." Pintanya.


" Ayahmu hanya sedang terbelenggu oleh rasa bersalahnya pada ayahnya." Ucap Kanaya.


Ya, benar saja bahkan William selalu menyalahkan dirinya atas kematian ayahnya.


Mungkin hari ini yang terjadi merupakan penebusan dosa dari penyesalan pada ayahnya.


William bahkan menginginkan putranya untuk menjadi seorang Aktivis Protestan.


Namun sayang, keinginannya itu harus lupakan, sebab kenyataannya hati putranya telah jatuh pada Islam.


Anugrah memahami perkataan Kanaya, ia bertekad akan membuka belenggu itu.


Agar ayahnya kembali mengenal Islam.


" Anugrah mengerti dengan perkataan mama.


Jangan khawatir mah, Anugralah yang melepaskannya nanti." Ucapnya.


Kruttt... Perut keroncong Anugrah berbunyi.


Anugrah tersenyum dengan deretan giginya.


" Pantesan cacing kamu udah ngedemo gitu." Ledeknya.


" Iya mah, dari tadi pagi Anugrah belum makan."


Benar saja mulai dari ia turun ke Pelabuhan, sampai di rumahnya jangankan untuk makan, bahkan duduk saja ia tidak ditawarkan. Mala justru tamparan, serta makian yang di suguhkan untuknya.


Kanaya beranjak pergi ke dapur untuk mengambilkan makanan putranya yang sudah kelaparan buta itu.


Ia membawakan makanan, buah dan juga jus jeruk untuk putranya.


Anugrah yang sudah kelaparan itu, tanpa aba-aba dari Kanaya ia langsung meraih makanan yang di genggam Kanaya.


Detik selanjutnya ia melahap cepat makanan itu. Bak kesetanan Anugrah dengan cepat menghabiskannya tanpa sisa.


Groaak... Anugrah bersendawa.


" Astaghfirullah Anugrah, pelan-pelan nak !!


Gak boleh makan seperti itu." Kanaya melihat Anugrah yang melahap dengan cepat itu khawatir Putranya keselek atau bahkan sampai muntah.


"He-he-he.. Maaf mah habis Anugrah lapar." Ucapnya.


" Ini kami minum dulu." Kanaya memberikan jus jeruknya pada putranya.


Anugrah meraih jus jeruknya dari tangan Kanaya, dan meneguknya dengan sekali teguk.


" Wah Anugrah kenyang mah, terima kasih mah." Ucapnya dengan manis.


Kanaya tak habis pikir dengan putranya, tidak sampai lima menit putranya sudah melahap habis semuanya.


" Kamu ini belum makan dari pagi atau dari sebulan yang lalu sih ? Tanya Kanaya menggelengkan kepalanya.


Anugrah terkekeh dengan pertanyaan Kanaya yang sebenarnya kalimat Ironi untuknya.


" Aduh mamah makin jelek deh kalau marah-marah terus. Senyum dong He-he-he."


Kanaya...


Kanaya....


Tiba-tiba ada seorang lelaki yang berteriak memanggil Kanaya dari luar.


" Siapa sih mah, berisik amat." Anugrah beranjak keluar berniat melihatnya.


" Itu sepertinya suara bang William." Kanaya hafal persis suara mantan suaminya itu.


Anugrah membuka pintu, dan ya, langkahnya terperanjat saat ia melihat sosok William sudah berada tepat di hadapannya.


" Ayah." Ucapnya.

__ADS_1


" Pulang sekarang juga." William menarik tangan Anugrah.


Anugrah memberontak melepaskan tangannya." Gak !! Anugrah mau tinggal di sini sama mamah." Tolaknya.


William mengeraskan rahangnya." Jangan melawan Anugrah !! Atau aku akan...


" Atau apa Ayah ? Mengirim ku ke Canada ?


Membaktis ku kembali ? Atau apaaa ha ?


Anugrah mulai meluapkan kekesalannya yang sudah tertahan lama.


" Siapa yang membuatmu semakin lancang seperti ini ha ? Bentak William mencengkram tangan Anugrah.


Kanaya yang mendengar keributan antara ayah dan anak itupun, berlari keluar.


" Bang William." Ucapnya ketika melihat sosok mantan suaminya.


" Perempuan ini yang membuatmu jadi pembangkang ya ? Tunjuk William pada Kanaya.


Anugrah mengeratkan rahangnya, merasa kesal dengan tuduhan yang dilontarkan pada Kanaya.


" Jangan berani-berani menuduh mamahku seperti itu !! Anugrah menghempaskan tangan William.


" Mamahku yang selalu mengerti aku, mamahku yang selalu ada untukku, dia selalu menjadi penyejuk untukku dikala aku diselimuti kesesakan, dia selalu menjadi arah mata angin saat aku tersesat, ia selalu menyuguhkan kehangatan dikala aku kedinginan. Ya, dia wanita terhebat yang aku miliki, asal kau tau itu." Ucap Anugrah, setetes cairan hangat terjun dari matanya.


Perkataan Anugrah seolah-olah seperti bom atom untuk William.


Apakah William bukan ayah yang baik untuknya, sehingga ia berkata seperti itu ingin menyudutkan William.


Bukankah sudah lima belas tahun lamanya, Anugrah tinggal bersama William. Itu bukan berarti apa-apa untuk Anugrah putranya ?


" Pikir William.


Ya, dari segi kebutuhan jasmani William memang sudah memberikan yang terbaik untuk Anugrah, akan tetapi kebutuhan rohani seperti kasih sayang, kepedulian, dan quality time untuk anak-anaknya William tak punya waktu.


Dirinya selalu sibuk untuk pekerjaan proyeknya sebagai Arsitek. Ditambah lagi William selalu memaksakan kehendaknya pada anak-anaknya. Hal itulah membuat Anugrah tidak betah dengannya.


Dan karena itulah Kanaya selalu menyambut hangat putra-putrinya dikala mereka butuh sosok orang tua. Kanaya selalu mencoba memahami putra-putrinya.


Selalu memberikan nasehat yang positif.


Bahkan tak jarang juga Kanaya mengajarkan tentang Islam pada Anugrah.


" Apa aku bukan ayah yang baik ? Tanya William, matanya mulai memerah.


Anugrah mengangguk iya." Iya, kau bukan ayah yang baik." Ucap Anugrah dengan lirih.


William tertunduk mendengar jawaban yang tak diharapkannya." Jadi aku ayah yang buruk ? Tanyanya lagi.


" Kau memang ayah yang buruk, selalu memaksakan kehendakmu padaku, selalu membuatku terkekang, selalu saja membuat berada dalam keterpaksaan. Aku muak dengan itu semua." Anugrah ikut tertunduk di lantai.


Kanaya memegang pundak putranya, mencoba membuatnya tenang, agar emosi tak mengendalikan dirinya." Nak pelan suaramu, hargai ayahmu."


Satu tetes air mata mengalir dari sudut mata William. Ia tak menyangka bahwa putranya menganggapnya adalah ayah yang buruk.


" Kau bukan ayah yang baik !! Kau bukan ayah yang baik Ayah."


Hekkk..... Penyakit jantung William kambuh..


Heeekkkk...


Hekkk...


" Ayah." Sentak Anugrah terkaget melihat kondisi ayahnya.


" Bang William."


" Ayah kenapa Mah ? Anugrah khawatir dengan kondisi ayahnya.


" Nak, mama rasa penyakit jantung ayahmu kambuh nak, kita harus segera membawanya ke Rumah Sakit." Kanaya memang tau bahwa William memiliki penyakit yang sama dengan oppung Anugrah.


" Iya mah, Ayah kita ke rumah sakit ya." Anugrah memapah ayahnya ke dalam mobil.


" Pak Jeep tolong bukakan pintu mobil." Pinta Anugrah.


" Tuan William kenapa nak ? Jeep membuka pintu mobil.


Anugrah mengangkat ayahnya kedalam mobil, Kanaya menyusul mereka.


" Nanti kita cerita pak Jeep sekarang kita ke Rumah Sakit pak."


Jeep melajukan mobil sesuai dengan perintah Anugrah.


Terbesik rasa bersalah di hati Anugrah, sebab bentakannya tadi ayahnya menjadi seperti ini kondisinya.


" Ayah maafin Anugrah ayah." Ucapnya menggenggam tangan William.


" Ayah Anugrah janji gak bakal bentak ayah lagi, tapi tolong ayah jangan buat Anugrah khawatir Yah." Anugrah mencoba membangunkan William.


" Nak, serahkan semuanya pada yang maha kuasa. Dia yang memiliki semua kehendak." Ujar Kanaya pada putranya.


" Ini semua salah Anugrah mah, Anugrah memang anak durhaka mah." Anugrah terus-menerus menyalahkan dirinya.


Kanaya menggeleng tidak setuju dengan perkataan putranya." Gak, ini bukan salah kamu ya nak. Kamu tenang ya jangan panik gini !!


Kalau kamu nyalahin diri kamu gini, ayah bakalan makin sedih ngelihatnya. Insya Allah semua baik-baik saja nak." Kanaya mencoba menenangkan putranya.


Anugrah mencoba menenangkan dirinya sesuai dengan perkataan mamahnya.


Ia juga sadar jikalau terus larut dalam situasi bodoh ini takkan mengubah apapun.


Bersambung.....


Sevimli 12 Desember 2020


Mabruk Alfa mabruk untuk Ayahku 🙂

__ADS_1


Salam hangat dari Author 🌹


__ADS_2