
Jangan lupa like and Votenya.
Dan mampir yuk ke Selaksa Rasa, ceritanya juga gak kalah kece 🤗
" Jika kau ragu akan keadilan Tuhan.
Itu artinya masih ada kepercayaan lima puluh persen dari keraguan itu."
....." Pelangi Hanani 🌹".....
Bulan purnama menjadi pemanis gelapnya malam. Meneduhkan tatapan dan juga menenangkan pikiran.
Hana dan wanita lainnya masih terkurung di ruang bawah tanah. Sementara Hisya sudah bersiap untuk melaksanakan pekerjaannya.
Pakaian yang begitu elegan dan juga sedikit polesan make up di wajahnya, menambah aura kecantikan pada dirinya.
Ceklek...
Hisya membuka pintu ruang bawah tanah.
Semua mata tertuju padanya.
" Mbak Hisya." panggil Hana.
Hisya hanya menatapnya datar tanpa senyum sedikitpun.
" Kau bersiaplah.
Tuan Emrin sudah menunggumu." ujarnya.
Kening Hana berkerut, tidak mengerti dengan ujaran Hisya.
" Mbak.
Maksudnya tuan Emrin sudah menunggu apa ?
Hana mendekati Hisya yang terus melangkah pergi." Mbak ! Jelasin ke Hana." pinta Hana.
Langkah Hisya pun terhenti, ia membalikkan tubuhnya, berhadapan dengan Hana.
" Malam ini kau menemaninya bermain di Trixtal Bar." jelas Hisya singkat.
Mata Hana terbelalak mendengar, terkejut dengan jawaban Hisya.
"Nggak mbak! Aku nggak mau, aku bukan wanita murahan yang seenaknya bisa diberlakukan seperti itu!" tolak Hana.
Hisya tersenyum masam mendengarnya.
"Kau tidak mau kan?" Hana mengangguk
"Aku juga tidak mau.
Tapi, Dia yang kau anggap Tuhan telah menempatkanku di bangsat ini!" teriak Hisya, menggelegar ke seluruh ruangan
Bahkan teriakan itu berhasil menarik perhatian semua orang yang ada di Ruangan bawah tanah. Dengan cepat Hana menggenggam tangan Hisya
"Mbak!
Mungkin mbak merasa hal ini berat, tapi Tuh-
"Tuhan apa?
Tidak pernah berlaku adil padaku?
Tidak pernah menolongku?" pangkas Hisya
"Tuhan itu adil mbak.
Tuhan selalu menolong mbak, jangan pernah berpikir yang buruk tentang Tuhan mbak.
Tuhan sesuai prasangka hamba-Nya."
Hana mencoba untuk memberikan pengertian pada Hisya. Ia menggenggam erat tangan Hisya, namun sayang ditepis kasar oleh Hisya.
Hisya duduk memeluk lututnya, menenggelamkan wajahnya di kedua sisi lengannya. Lagi dan lagi air matanya mengalir begitu deras, menandakan betapa lelah dirinya. Semesta seolah tak pernah bosan mempermainkannya
Air mata Hana juga ikut menetes melihat Hisya. Meski ia tak pernah merasakan apa yang Hisya rasakan, setidaknya ia tau besarnya luka itu
"Mbak!" panggil Hana
"Kau tidak pernah merasakan apa yang kurasakan. Oleh sebab itu, kau menganggap Tuhan adil dalam hidupmu." ucap Hisya di antara tangisnya
" Mbak Allah selalu bersama mbak." lirih Hana.
" Dia tidak pernah menolongku, Han."
" Hembusan nafas mbak sampai detik ini adalah bukti bahwa Allah menolong mbak.
Iyaa, Dia selalu menolong mbak.
Sampai di titik ini, Ia terus mengungatkan mbak melalui semua ujian-ujian yang Ia limpahkan pada mbak." Hana mengelus lembut pucuk kepala Hisya.
" Seperkian detik kesakitan yang mbak rasakan akan Ia gantikan di Yaumil kelak, dengan nikmat yang luar biasa, bahkan tak tertandingi dengan nikmat apapun, mbak. Percaya ya mbak, Allah selalu bersama hambaNya, mbak kuat. Bisa bertahan sejauh ini."
Tangisan Hiysa mulai mereda, ia mendongakkan kepalanya, dan menatap Hana dengan tatapan sendu. Senggugukan keluar dari kerongkongannya.
" Mbak."
Hana meraih tubuh Hisya dan segera memeluknya. Tak ada penolakan dari Hiysa.
Ia mala justru membalas pelukan itu.
" Aku capek Han.
Aku udah gak tahan dengan kehidupan ini.
Aku lelah jika hidup hanya untuk sekedar memuaskan n*fsu birahi para b*jingan itu." lirihnya pada Hana.
Perkataannya membuat Hana tak dapat menahan tangisnya, tangis Hana tumpah di pelukan Hisya.
" Mbak kuat, mbak.
Kita cari jalan sama-sama ya, biar kita bisa keluar dari sini untuk selamanya bukan sementara." ucap Hana dengan tekad bulatnya.
Hisya menggeleng." Aku ragu untuk itu, Han."
" Jika mbak ragu, itu artinya masih ada kepercayaan lima puluh persen dibalik keraguan itu, mbak. Insya Allah kita bakalan bisa lakuinnya." Hana menyakinkan Hisya, seraya melepaskan pelukannya dan mengusap air mata Hisya.
Hisya hanya mengangguk menyetujui perkataan Hana. Berharap itu semua akan terjadi.
" Mbak udah tenang ? Hisya mengangguk.
" Alhamdulillah, mbak tadi bilang saya harus menemani Emrin bermain kartu di Trixtal Bar ?
" Iya, Han."
" Hanya menemani, tidak lebihkan ?
Hisya mengangguk menjawab pertanyaannya.
" Baiklah.
Untuk saat ini aku akan ikuti permainannya.
Untuk selanjutnya, dia yang harus mengikuti permainanku." cetus Hana, tengah membulatkan tekad untuk mencari cara melumpuhkan Emrin.
Hisya menatap Hana tak percaya, ia tak menyangka bahwa Hana seberani ini.
__ADS_1
Bisa dilihat dari sorot matanya yang tak main-main dalam berucap.
" Han !
Kau yakin dengan niatmu, itu ?
" Insya Allah, mbak.
Hana akan susun strategi untuk menghancurkan Trixtal Bar, tempat yang menjadi sarang bahagianya setan ini.
Hahh... Hisya menghela nafasnya.
" Semoga berhasil, Han." jawabnya pasrah.
" Mbak malam ini juga mau itu ? tanya Hana.
" Bagaimana lagi.
Jika tidak mau aku akan dicambuk sampai mati."
" Mbak.
Kenapa mbak gak masukin pil tidur ke dalam minuman pria itu, biar dia tidur dan mbak cukup berdiam diri saja. Dan setelah pria itu bangun berpura-pura saja seolah baru selesai melakukannya." saran Hana pada Hisya.
" Boleh juga, Han.
Tapi, pil tidurnya ?
Hana pun membisikkan sesuatu ke telinga Hisya, membuat Hisya mengerti dengan intruksi Hana.
" Terima kasih Han.
Perlahan pikiranku mulai terbuka." ucapnya dengan senyum ramah.
" Iya, mbak.
Jangan selalu merasa sendiri mbak.
Mbak punya Allah untuk yang selalu nguatin mbak." balas Hana dengan senyumannya.
Hisya hanya diam, menatap wajah Hana dengan sorot mata sendu.
" Aku pergi dulu, Han.
Kau bersiaplah." ujarnya pada Hana.
" Iya, mbak."
Hisya pun melangkah pergi meninggalkan Hana. Sementara Hana menunggu sosok yang akan membawanya berhadapan dengan Emrin.
" Ya Allah, bagaimana ini ? Hana mundar-mandir tengah mencari solusi agar tidak menemani Emrin ke Trixtal Bar.
Seperkian detik selanjutnya, muncul sebuah ide di otak Hana.
" Gimana kalau aku pura-pura sakit aja.
Atau pingsan, biar gak dibawa sama dia." gumam Hana pelan, tidak ingin siapapun mendengarnya.
Ceklek...
Seorang gadis datang membuka pintu, dan membawa sebuah gaun di tangannya.
" Apa anda yang bernama Hanani Syaufa ? tanya gadis itu, menunjuk Hana.
Hana menganggukkan kepalanya." Iya."
" Ikut aku, untuk bersiap bertemu tuan Emrin." titahnya pada Hana.
Hana pun dengan cepat melakukan aksinya.
" Aduh mbak.
Maaf mbak, perut saya sakit sekali." keluh Hana, berakting seolah benaran.
Gadis yang diperintahkan untuk memanggil Hana itupun, mendekati Hana.
" Kau sedang tidak berpura-pura, kan ? tanyanya mencurigai Hana.
Hana menggeleng cepat." Gak mbak."
Gadis itu menatap Hana dengan tatapan interogasi, ia pun meraih tangan Hana dan menyeretnya.
" Cepat ikut saya !
Jangan coba-coba untuk bohongi saya !
Hana mencoba untuk tetap tenang, agar tidak keliatan gugup.
" Tapi beneran mbak, buat apa saya bohong ?
Gadis itu tetap menarik kasar tangan Hana untuk segera berganti pakaian dan juga berdandan.
" Maafkan aku mbak, aku tidak punya pilihan lain." gumam Hana.
Bughh...
Hana melayangkan tendangannya pada gadis ini, membuat gadis ini berhasil tersungkur ke lantai.
" Maafkan mbak." ucap Hana, segera melangkah meninggalkannya.
" Kurang ajar ! upatnya.
" Awww, sakit juga ni kaki." keluhnya.
Hana terus berlari, meski ia tak tau dimana pintu untuk jalan keluar.
" Dimana pintu jalan keluarnya ?
Bangunan ini sangat luas, membingungkan sekali." kesal Hana, yang sudah dari tadi berlari mencari jalan keluar.
" Hey ! suara teriakan dari sosok pria
Hana menoleh ke asal suara, terlihatlah sosok pria berwajah arabian blasteran asia, bertubuh tegap dan tinggi.
" Apa dia si Emrin ? tebak Hana.
Pria itu mendekati Hana, bersama beberapa anak buahnya. Hana pun mundur sampai tubuhnya tersandar pada sebuah lemari.
" Kau sudah tidak bisa kemana-mana."
Mereka menertawakan Hana seorang diri.
Hana mulai takut dengan jarak diantara dirinya dengan mereka semakin terkikis.
" Ya Allah, tolong hamba." batin Hana.
Hana menoleh pada lemari itu, ada sebuah guci disana. Dengan cepat Hana mengambil guci itu tanpa sepengetahuan mereka, kemudian meramasnya sekuat tenaga, sampai akhirnya pecah. Membuat tangan Hana terluka, barulah ia melepaskannya.
Meski rasanya sakit, Hana tetap berusaha kuat menahan rasa sakit itu.
" Semoga dengan cara ini berhasil." ucap Hana pelan.
Mereka sudah sangat dekat dengan Hana, bahkan hanya tersisa jarak lima senti antara Emrin dan Hana. Membuat Hana semakin risih sekaligus benci dengan keadaan ini.
" Kau harus menemaniku malam ini." ucap Emrin penuh penekanan.
Hana pun menatapnya tajam.
__ADS_1
" Kau sungguh kejam.
Jika kau sampai membawa gadis dalam keadaan terluka." kata Hana, seraya mengangkat tangannya yang sudah dipenuhi darah segar.
Emrin dan anak buahnya menatap tangan Hana.
" Bagaimana bisa itu terjadi ?
Tadi itu tidak ada disana ? tanya Emrin pada anak buahnya.
Hana pun tersenyum kecut, berharap rencananya berjalan dengan lancar.
" Iya bos.
Kita juga gak tau, kenapa tangan gadis itu bisa berdarah gitu bos."
Emrin pun menatap Hana, yang masih menunduk wajahnya.
" Sudahlah.
Panggil pelayan wanita, suruh mereka obati luka gadis ini." perintah Emrin, kemudian ia melangkah meninggalkan Hana.
" Baik bos."
Hahh...
Hana bernafas lega.
" Alhamdulillah, ya Allah." ucap Hana lega.
" Lasmi ! teriakan anak buah Emrin.
" Iya ketua." sahut sosok yang dipanggil.
Ia pun segera memenuhi panggilan itu.
" Ada apa ketua ?
Seorang wanita seusia Hana, datang menghampiri mereka.
" Cepat obati gadis ini." perintahnya pada Lasmi.
" Baik tuan."
" Ayo nak, ikut ibu." ucap Lasmi pada Hana, seraya menuntunnya berjalan.
Hana pun mengangguk, dan mengikuti langkah Lasmi. Menuju ke sebuah ruangan yang cukup besar dan juga elite.
Ceklek..
Lasmi membuka pintunya.
" Ayo mbak, masuk."
Hana pun masuk ke ruangan itu.
Jujur saja, Hana terkagum melihat ruangan yang berisikan banyak koleksi galery itu.
Sepertinya, ruangan ini ditempati seorang pemuda. Terlihat dari model galerynya.
" Ibu.
Ini kamar ya ? tanya Hana.
" Dulunya ini emang kamar, nak.
Lebih tepatnya kamar den Hafga.
Tapi, sekarang mereka sudah tidak tinggal disini lagi, ya ruangan ini sudah hampir empat tahun tidak di pakai lagi." jelas Lasmi pada Hana.
" Hafga siapa, bu ? tanya Hana.
" Anak tuan Emrin, nak." jawab Lasmi.
Hana pun mengangguk dan tidak bertanya lagi takut Lasmi merasa risih dengan pertanyaan-pertanyaannya.
" Udah bu.
Saya bisa ngobatinnya sendiri."
" Eh gak usah, nak.
Biar ibu aja, tangan kamu kan terluka.
Gimana bisa kamu ngobatinnya coba ?
Lasmi tetap mengobati luka Hana.
Sementara Hana hanya bisa pasrah menerimanya.
Cukup memakan waktu sepuluh menit, Lasmi sudah selesai mengobati sekaligus memerban luka Hana.
" Udah selesai, nak." ucapnya.
" Makasih ya, buk." kata Hana sopan.
" Sama-sama.
Ohiya nak, kamu dari mana ?
Kok ibu baru lihat kamu kali ini ? Sebelumnya ibu gak pernah lihat." Lasmi baru menyadari akan hal itu.
" Saya sebenarnya Mahasiswi di Al Azhar, buk.
Saya juga gak tau kenapa mereka membawa saya kesini." ucap Hana.
" Hm, kok aneh ya nak.
Biasanya perempuan yang dibawa kesini itu, ya perempuan yang udah dibeli dari pencomblang nya."
" Pencomblang nya ? ulang Hana.
" Iya nak.
Tapi, kamu kok gak ya."
Lasmi memperhatikan Hana mulai dari atas sampai bawah. Seperkian detik ia memperhatikan Hana, baru ia menyadari sesuatu.
" Ibu tau kenapa kamu dibawa kesini." ungkapnya.
" Apa mungkin karena aku sering mencoba membantu mbak Hisya untuk keluar dari sini ? Hana menerka-nerka.
" Kamu itu sangat cantik nak.
Makanya tuan Emrin terpikat untuk menjadikan kamu bagian dari Trixtal Bar." kata Lasmi berpendapat.
Hana mencerna kata-kata Lasmi.
Apa benar yang dikatakan perempuan ini ?
Entahlah apapun itu, Hana berharap agar segera keluar dari sini.
Bersambung..
Sevimli 12 September 2021
Salam hangat dari Author 🌹
__ADS_1