
" Allah berikan kita akal untuk berpikir, dan hati untuk mencerna apa-apa yang baik dan buruk, sudah sepantasnya dengan dua organ itu. Kita tidak punya alasan untuk membangkang terhadap perintah Allah."
......" Pelangi Hanani 🌹"......
Tak terasa mereka sudah sampai di KNO..
Arga, Hana dan Ranti turun dari mobil travel yang mereka tumpangi itu.
Cukup senang, bisa bertemu dengan sosok yang baik hati seperti Pak Zaid ini.
" Pak, terima kasih ya.
Senantiasa Allah selalu memberkahi setiap langkah bapak. Senang bisa bertemu bapak."
Kata Arga dengan ramah pada pak Zaid.
Pak Zaid tersenyum manis membalas ucapan Arga. Senang juga bisa bertemu dengan anak-anak baik hati seperti mereka bertiga.
" Iya nak, bapak juga senang bisa bertemu dengan kalian.
Jaga diri kalian baik-baik ya, semoga takdir mempertemukan kita kembali dilain waktu.
" Bapak adalah hamba terbaik pilihan Allah.
Bersyukur bisa bertemu orang hebat seperti bapak. Senantiasa kami bisa mengikuti jejak kebaikan dan ketaatan bapak." Ucapan ini terlontar dari mulut Hana dengan begitu jujur tanpa unsur apapun.
" Terima kasih pak, telah mengajarkan kebaikan." Sambung Ranti.
Pak Zaid merasa senang atas respon mereka bertiga yang ingin menjadi orang baik.
" Allah berikan kita akal untuk berpikir, dan hati untuk mencerna apa-apa yang baik dan buruk. Sudah sepantasnya dengan dua organ tubuh itu tidak ada alasan untuk kita menjadi orang yang membangkang pada perintah Allah." Kata-kata yang berselimutkan kebaikan lagi-lagi terucap dari mulut pak Zaid.
" Insya Allah pak." Jawab mereka bertiga dengan serentak.
" Bapak pamit ya.
Assalamu'alaikum."
" Waalaikumussalam..
Hati-hati pak."
Pak Zaidpun melajukan mobilnya meninggalkan mereka bertiga di KNO.
" Kalau saja banyak pejabat yang sejujur Pak Zaid. Pasti sebuah negara akan maju." Ungkap Hana.
Arga mengangguk setuju.
" Bener banget Han."
Ranti juga tersenyum, mengangguk setuju dengan perkataan mereka.
Ya, diantara seribu pejabat hanya ada sekian persen yang seperti Pak Zaid.
Mereka bertiga melangkah menelusuri Bandara Kualanamu Airport, dengan handle koper yang mereka genggam.
Sebelum menuju area terminal keberangkatan.
Mereka memutuskan untuk sejenak beristirahat di sebuah mini market dekat Bandara.
Membeli kebutuhan yang belum mereka sediakan dari rumah Hana.
Seperti bingkisan sebagai buah tangan untuk Rayhan.
Dan juga beragam cemilan untuk bekal mereka nantinya.
Tak memakan waktu yang lama, mereka pun kembali melangkah menuju terminal keberangkatan.
Untuk menunggu jadwal penerbangan.
Ya, sekitar lima belas menit lagi jadwal keberangkatan mereka.
Hana memandang lekat terminal keberangkatan ini.
Yang menyimpan kenangan dirinya dengan sosok pemuda protestan.
Memorinya kembali beranjak pada poros waktu tiga minggu yang lalu.
Dimana dirinya kembali menginjakkan kaki ke Indonesia dan sekaligus menjadi perpisahan antara dirinya dengan Anugrah, yang berangkat ke Canada saat itu.
Seperti ibu yang kehilangan anak.
Berjalan kesana kemari, berteriak, bahkan tanpa sungkan air mata ikut terjatuh.
Harapan bertemu saat itu hampir pupus, langkah yang terhentak-hentak juga hampir putus. Dan menyalahkan takdir saat itu adalah hal yang timbul dalam benaknya.
Namun, ternyata takdir tak sekejam pemikirannya.
Bandara Kualanamu ternyata mengizinkan mereka untuk saling bertemu di atas lantainya.
Ya, kerinduan yang terkemas akhirnya terlepas.
Cairan hangat yang tercurah akhirnya ditemani dengan senyuman di wajah.
Sosok Anugrah Pota Mendrofa masih sama seperti yang pertama kalinya Hana bertemu dengannya.
Tidak ada yang berubah.
Stylistnya, senyumannya, suara baritonnya.
Bahkan juga perasaannya pada Hana.
Yang tak memudar sedikitpun.
Satu hal lagi perlu diingat, bahwa lelaki Protestan itu ternyata diam-diam telah jatuh hati pada Islam.
Dan step by step telah ia tempuh untuk lebih mendekat dengan Islam.
Namun sayang, semesta terus menerus bersikeras mempersulitnya menggapai dua kalimat agung itu.
" Senantiasa Allah selalu mengiringi langkah perjuanganmu menggapai Islam Grah." Ujar Hana menatap lekat lantai yang menjadi tempat perpisahan dirinya dengan Anugrah.
Tak dapat terpungkiri, meski Arga mulai masuk dalam hati Hana.
Namun, Anugrah belum bisa sepenuhnya enyah dari hatinya.
Arga menatap Hana yang terdiam membisu, memandangi lantai bandara itu.
Sudah bisa Arga tebak, bahwa Hana pasti tengah mengingat moment dirinya dan Anugrah tiga minggu yang lalu.
Arga tersenyum samar, tak ingin menegur Hana. Sebab, ia sadar tak punya hak untuk menghentikan Hana mengingat momen dirinya dengan sosok lelaki yang bertahta dihatinya.
Arga memilih kembali memainkan ponselnya.
Dan membiarkan Hana larut dalam lamunannya.
Sampai pada akhirnya.
Tergemalah di seluruh sudut ruangan, mengenai keberangkatan KNO-IATA.
" Han, ayo.
Jadwal kita udah tiba." Ujar Ranti yang menyadarkan Hana dari lamunannya.
" Ah iya.
Ayo Ran." Hana pun mengikuti langkah Ranti.
Hana dan Ranti berada duduk bersebelahan.
Sementara Arga, berada di depan mereka.
Tak banyak bicara,ketiga memilih sibuk dengan ponselnya masing-masing.
Perjalanan menuju Jakarta kali ini, tampaknya cuaca cukup mendukung.
Tidak terlalu cerah dan tidak juga terlalu gelap.
Senantiasa Allah melindungi perjalanan mereka.
Hanya butuh kurang lebih tiga jam untuk bisa sampai di Jakarta.
Argapun segera menghubungi Rayhan untuk menjemput mereka di Bandara.
You are my Hero... Sambungan dering handphone Rayhan.
" Arga." Ujarnya, kemudian mengangkat panggilan Arga.
" Hallo, udah dimana Lo ? Tanya Rayhan, melupakan salam di awal pembuka.
" Assalamu'alaikum, di tujuh tanjakan." Cibir Arga.
__ADS_1
Haha... Rayhan menertawakan kelupaannya.
" Waalaikumussalam, pohon pisang sekebon." Jawabnya.
" Lo buruan jemput kita di Bandara, sekitar setengah jam lagi kita bakalan mendarat di sana."
Rayhan pun manggut mengerti, segera menyambar jaketnya." Oke-oke, gua otw ni." Ujarnya.
" Naik apa Lo ?
" Burok." Asal Rayhan, membuat Arga berdecak kesal.
" Cihh, serah dah."
" Pertanyaan Lo gak berbobot banget sih.
Ya, bawak mobillah gua.
Kan kalian ada bertiga, iya kali gua bawak becak." Lontar Rayhan dengan tawanya.
" Oh, yaudah hati-hati Lo.
Jangan sampai kenape-nape mobil bokap Lo."
Rayhan mengerutkan keningnya, dan menyebikkan bibirnya.
Bisa-bisanya yang dikhawatirkan Arga mobil bokapnya bukan dirinya.
" Gila Lo ya !
Lebih peduli benda mati, dari pada sahabat sendiri." Upat Rayhan padanya.
" Bodoh amat.
Bye, assalamu'alaikum." Tutup Arga tanpa merasa bersalah pada Rayhan wkwk.
.
.
" Dasar pohon pisang !!
Mentang-mentang musim pisang, kambuh lagi tu sawan pohon pisang." Rayhan semakin kesal melihat tindakan Arga yang selalu seenak jidatnya.
Namun, meski begitu hanya Argalah satu-satunya teman ia di Malaysia.
Yang memang benar-benar mau menerimanya dengan suka rela.
Bukan, seperti yang lain.
Yang selalu memandang kasta kehidupan.
Rayhan dengan cepat meraih kunci mobilnya, dan berlari ke garasi untuk secepat mungkin melajukan mobilnya.
Dengan gesit akhirnya Rayhan melajukan mobilnya menuju Bandara Soekarno-Hatta.
Meski laju, Rayhan tetap berhati-hati.
.
.
" Kamu udah hubungi Rayhan kan, Arga ?
Tanya Ranti di belakang Arga.
" Udah, Rayhan lagi Otw ke Bandara." Jawab Arga.
" Oh alhamdulilah kalau gitu." Rantipun senang akan di jemput oleh Rayhan, yang sudah beberapa minggu tidak ia temui.
" Senang benget sih yang mau ketemu gebetan." Ledek Hana di sebelah Ranti.
Ranti menoleh ke sebelahnya." Apaan sih, biasa aja kok." Elaknya.
Hana tersenyum mengangguk." Biasa aja sampe senyum-senyum gak karuan ya." Hana kembali menggoda Ranti.
" Ya, aku senyum karena aku senang bakal dapatan jemputan gratis. Jadi gak perlu keluar duit." Ranti memang selalu bisa membuat alasan yang masuk akal.
Hana hanya tersenyum pura-pura percaya,
bila teruskan juga. Ranti pasti selalu saja bisa menghindar.
Tak terasa, pesawat yang mereka tumpangi
akhirnya mendarat di Bandara Soekarno-Hatta.
" Alhamdulillah sampai juga." Ucap Hana dan Ranti bersamaan.
Mereka akhirnya turun dari pesawat.
Dan melangkah menuju Bandara.
Ya, Bandara yang cukup luas dan tak kalah keren dari Bandara Kualanamu dan juga Bandara KUL, Malaysia.
Ya, ternyata sosok Rayhan sudah tiba disana.
Dengan senyuman mengembang ia menghampiri mereka bertiga.
" Wellcome to Jakarta brayy." Ujar Rayhan seraya mengangkat tangannya pada Arga.
Sebagai tossan anak masa kini.
Ya, bukan Arga namanya.
Kalau gak pernah sama sekali dingin terhadap temannya.
Arga sama sekali tak menggubris tossan Rayhan.
" Mana mobil Lo, buruan bawak gua ke rumah Lo. Capek gua." Ujarnya pada Rayhan.
Rayhan memandang sinis Arga, kemudian tersenyum devil.
" Bodoh amat." Ketusnya, kemudian Rayhan memilih menyapa Hana dan Ranti.
" Assalamu'alaikum Hana, Ranti." Ucapnya sopan pada mereka.
Sementara Arga berdengus kesal, gantian tak di gubris oleh Rayhan.
" Waalaikumussalam." Jawab Hana dan Ranti serempak.
" Selamat datang di Jakarta.
Dari pada kita buang waktu, buruan masuk ke mobil yok.
Kita langsung ke rumahku aja, entar sore baru kita jalan-jalan kelilingin Jakarta." Ajak Rayhan dengan senyum manisnya.
Hana dan Ranti membalas dengan senyuman.
" Terima kasih Ray, maaf ya jadi ngerepotin kamu." Hana merasa sungkan telah merepotkan Rayhan.
Rayhan tersenyum menggeleng." Han, Han macam tak berkawan tokow haha.." Ucap Rayhan dengan aksen ala anak Medan.
Yang mengundang tawa diantara mereka.
" Wkwk keknya ada yang bakal diangkat ni sama bang Mael." Ledek Hana padanya.
" Rayhan ni bukan kaleng-kaleng."
" Kalian mau ngobrol sampai malam disini ya ? Cibir Arga dengan nada sinisnya.
Ranti dan Hana memutar melas bola mata mereka.
Merasa kesal dengan sikap Arga yang berubah-ubah secepat kilat.
" Yaelah elu mah.
Bilang aja Jeleous kan Lo, gua deketin Hana."
Kali ini Rayhan tanpa sungkan mencibir Arga.
Arga melototkan kedua matanya.
Menjadi salah tingkah saat Rayhan melontarkan tuduhan, yang sebenarnya benar adanya.
Untuk tetap menjaga Imagenya yang tak mau luntur dari tahtanya, Arga langsung membuang mukanya dari Hana." Hallo, dalam skenario seorang Arga, Jeleous hanya dapat bersanding pada orang-orang yang kurang berbobot hidupnya." Kata Arga dengan angkuhnya.
Detik selanjutnya ia berlalu keluar dari gedung bandara. Dan mengenakan maskernya.
" Lo kriteria orang yang gak cocok buat berakting sebagai pembohong ogeb !! Teriak Rayhan padanya.
" Serah Lo ngomong apaan !! Arga tak memperdulikan Sahabatnya itu.
__ADS_1
Tetap melangkah mencari mobil Rayhan, meski ia tak tau yang mana mobilnya.
Rayhan, Ranti dan Hanapun menyusul langkah Arga yang keluar dari gedung bandara.
Menuju parkiran.
" Mobil si Ray, yang mana ya ? Arga kebingungan mencari mobil Rayhan.
Ada sebuah mobil BMW yang diyakini Arga adalah mobil Rayhan.
" Nah, ini deh kayaknya mobilnya." Arga sedikit yakin dengan mobil ini.
Belum sempat Arga menyentuh mobil itu.
Tiba-tiba saja ada sosok ibu-ibu yang memergokinya.
" Hey, mau apa kamu dengan mobil saya ? Tanyanya mendekati Arga.
" Mau maling Lo ya ? Tuduh putrinya pada Arga.
Bagaimana tidak di tuduh, kalau dilihat dari gerak-geriknya Arga memang saat ini kelihatan seperti yang dituduhkan.
Akibat sikap sok kepintarannya, ia akhirnya mendapat balasannya.
" Ngaku Lo !! Teriaknya lagi pada Arga.
Hana, Ranti dan Rayhan yang melihat Arga diperlakukan seperti itu tak dapat menahan tawanya.
Haha... Haha...
" Nasib orang sombong ! Teriak Rayhan yang terdengar oleh telinga Arga.
Arga membuka Maskernya.
Ya, jujur saja.
Ibu dan anaknya yang ngedumeli Arga tadi terdiam, menatap wajah Arga.
Ya, cukup membuat jantung mereka berdebar.
Wajah tampan Arga seketika menghipnotis mereka.
" Gila ganteng banget ni cowok." Ucap anaknya terkesima.
" Gua minta maaf, gua kira ini mobil temen gua. Soalnya gua gak tau mobilnya yang mana. Gua asal nebak aja tadi. Sorry, ya!" Kata Arga diiringi dengan senyum manisnya.
Anak perempuannya pun langsung mendekati Arga." Eh, kagak ape-ape kok kak.
Santai aje hehe." Ucapnya cengengesan, dan berkedip sedetikpun melihat Arga.
" Iya nak, gak apa-apa.
Kami yang seharusnya minta maaf, udah nuduh kamu, maafin ya." Lanjut ibunya meminta maaf pada Arga.
Arga pun mengerutkan keningnya,merasa bingung atmosfer apa yang sedang berotasi, sehingga dua perempuan yang tadinya ngedumel dirinya habis-habisan, kini menjadi hangat padanya.
" Eh gak perlu minta maaf tan, saya yang salah."
Hana, Ranti dan Rayhan paham akan perubahan sikap dua perempuan itu.
Ya, perubahannya karena terpesona akan ketempatan Arga.
" Buset dah, enak bener ya jadi orang ganteng.
Bisa ngehipnotis orang." Rayhan geleng-geleng.
" Bener deh Ray.
Mana tu cewek pada terpesona gitu sama Arga.
Haha.... Matanya mungkin kurang vitamin LCG kali." Sahut Ranti yang juga tak habis pikir dengan dua perempuan itu.
Hana dan Rayhan saling tatap, mengekspresikan, vitamin LCG apaan ?
" Kurang vitamin LCG ?
" Emang vitamin LCG apa Ran ? Tanya Rayhan yang memang tidak tau apa yang vitamin dimaksud Ranti.
" Ya elah, elu pada vitamin LCG doang kagak tau.. Norak lu pada."
Hana semakin penasaran dengan Ranti.
" Ya emang kita pada gak tau, yang kamu maksud Ran." Sahutnya.
Ranti menatap Hana." Vitamin LCG itu, vitamin L lihat, C cowok, G ganteng haha.." Jawab Ranti dengan tawanya.
Astaga... Hana dan Rayhan saling tatap.
Dan saling menepuk jidat mereka sendiri.
Mereka sudah serius penasaran dengan Vitamin LCG yang kedengarannya sangat penting. Eh ternyata, bisa-bisanya Ranti buat ramuan vitamin bengek gitu Hyung..
" Astaghfirullah Ran, aku kira apaan tau." Hana menepuk pundak Ranti.
Hahaha....
" Hadeh, cantik-cantik kok eror." Ledek Rayhan padanya.
Ranti hanya berekspresi tanpa dosa.
" Biarin !! Bodoh amat mah gua."
Hana dan Rayhan geleng-geleng melihat Ranti, yang emang selalu punya jawaban untuk mengeles.
Arga masih di tawan oleh kedua perempuan itu. Mengobrolkan hal yang tak penting sih sebenarnya, namun ya namanya juga caper taulah ya. Tapi, bukan Arga namanya, kalau sikap kutubnya gak keluar.
" Masalahnya udah kelarkan ? Tanya Arga dengan dingin.
Dua perempuan itu terdiam, saling menatap.
Tak tau harus menjawab apa.
Arga yang tak mendapat jawaban pun, merasa masalah sudah selesai.
" Kalau gitu saya permisi dulu." Ujarnya, dan beranjak meninggalkan mereka.
" Eehhh kak, boleh poto bareng gak ? Pinta Perempuan itu.
Arga kembali berbalik ke arah mereka.
Dan mengangguk sebagai jawabannya.
Sang ibu anak perempuan itupun, memotret anaknya.
Cissshhh...
Seusai anaknya, sang ibu pun tak mau kalah.
Ia juga ikut berpoto dengan Arga.
" Sekarang mama dulu." Katanya pada anaknya.
Rayhan, Ranti dan Hana yang melihat mereka seperti itu hanya tertawa kecil.
Hahaha....
" Astaga, anak sama emak ganjennya gak ada bedanya."
" Berasa artis mah si Arga."
Hana hanya tersenyum menatap Arga yang dimintai Poto oleh kedua perempuan itu.
Ya, wajar saja mereka seperti itu.
Siapapun yang melihat wajah Arga untuk kali pertamanya, pasti juga akan merasakan hal yang sama.
Wajahnya yang tampan, tubuh yang ideal, senyumnya yang menawan dan tampak begitu manis seakan-akan mengajak untuk berumah tangga wkwk.
Maka sudah pasti, hanya perempuan yang kecantikannya kelas ataslah yang pantas bersanding dengan Arga.
Ya, kayak Neelofa lah misalnya hehe...
" Masya Allah.." Ucap Hana.
Bersambung...
Sevimli 15 Februari 2021
Salam hangat dari Author 🌹
Jangan lupa like and Votenya :)
__ADS_1