Pelangi Hanani

Pelangi Hanani
Part 40 Kau bukan Abdul Ashku


__ADS_3

" Berhentilah mengungkit harapan yang telah lebur bersama kenangan."


........... Pelangi Hanani 🌹.........


Suara yang selama ini Hana rindukan, namun selalu saja ingin ia hindari, sebab ia tak ingin lagi terjebak pada cinta pertamanya yang salah.


Ada kelegaan di hati Hana mendengar suara bariton itu, rasa rindunya telah terluap, hanya dengan mendengar say Hallo dari Anugrah.


Jantungku kembali berdegub, hatiku kembali berdentum dengan irama yang tak beraturan.


Allah, perasaan apa ini. " Pikir Hana.


" Han ? " Panggil Anugrah via telepon.


" Ah, Anugrah." Spontan Hana memanggil namanya.


Arga yang sedang menyantap sarapannya, tersedak begitu saja, mendengar Hana mengucapkan nama Anugrah.


" Uhuk-uhuk..."


" Apa benar itu Anugrah." Batin Arga.


Hana melirik ke Arga, ada sedikit kekhawatiran yang terbesit di hatinya.


" Kamu gak apa-apa, Ga ? Tanya Hana.


Arga hanya menggeleng, kemudian meneguk segelas air.


Ranti paham apa yang terjadi pada hati Arga, ia tertawa telak.


" Buahhahaha, Hana masih nyebutin nama Anugrah aja, kamu udah keseleknya kebangetan gitu !!


Gimana kalau Anugrah nyebutin nama Hana di akad ya ?? Buahhahaha.." Ucap Ranti yang berniat membuat Arga kesal.


Arga membeliakkan matanya pada Ranti, dengan ekspresi kesalnya.


Ingin rasanya Arga membogem, habis-habisan Ranti dengan kedua tangannya.


Hati Arga sedikit mencoblos saat Ranti mengucapkan itu, tak terima bila Anugrah bersanding dengan Hana.


" Tak, itu tak akan pernah terjadi !! Tancapnya di batinnya.


Arga berusah sebisa mungkin untuk bersikap biasa saja, dan tetap stay cool.


Sementara Hana mencubit lengan Ranti.


" Awww..." Ranti meringis kesakitan.


" Hana, kamu apa-apaan sih nyubit aku !! Sakit tau !! " Upat Ranti.


Arga tertawa melihat Ranti kesakitan.


" Buahaha, rasain !! Ucapnya.


" Makanya kalau punya mulut itu jangan suka ngasal !! Hana juga ikut tertawa.


Telepon masih terhubung.


Sedikit banyaknya, Anugrah mendengar perkataan di antara mereka bertiga.


" Apa ada pria disana ya ? Anugrah mulai menerka-nerka.


" Han, kamu masih di sana kan ? Tanya Anugrah.


" Astaghfirullah, aku lupa." Hana menepuk jidatnya.


" Ohiya, tolong kasihin handphonenya sama Sanju bisa ? Aku mau bicara sama Sanju, urgent ni." Pinta Hana.


" Bisa, tapi Sanju masih di toilet dan nitipin handphonenya ke aku." Jujur Anugrah.


" Ah, yaudah nanti kalau Sanju udah balik, suruh dia telpon aku ya,Grah !! Pinta Hana kembali.


" Hm, kamu mau putus telponnya ya ? Tiba-tiba Anugrah menanyakan hal itu, seolah-olah dia tau Hana sedang menghindarinya.


" Hm." Hanya itu yang Hana ucap.


Anugrah tersenyum tipis di balik Handphone Sanju." Kamu gak mau nanya kabar aku ? Tanya Anugrah.


Hana menggigit bibir bawahnya, tangannya bergetar hebat, seakan-akan ada sengatan listrik yang menghambat gerakan tubuhnya.


" Ya Allah, tolong kontrol hatiku. Jangan buat aku terjatuh pada cinta yang salah lagi, hanya Kau pemilik hati ini ya Allah." Hana mencoba menguatkan dirinya.


Dengan mulutnya yang bergetar Hana menangkis perkataan Anugrah." Gak, g--aaak penting juga !! Ucapnya dengan terbata.


Anugrah kembali tersenyum tipis." Kamu gak kangen aku ? Tanyanya lagi.


" Aku kangen kamu, Grah !! Aku ingin menanyakan kabar mu tapi, aku gak ingin ada harapan lagi di antara kita berdua." Ucap Hana yang hatinya kini berkecemuk.


Hana mencoba menahan bulir hangat, agar tak terjatuh membasahi pipinya.


Ranti menggenggam kedua bahu Hana, mencoba menenangkan Hana.


Sementara Anugrah tak percaya dengan apa yang terjadi pada Hana, hanya dengan mendengar suara Anugrah. Hana bisa sampai sesenduh itu.


" Apa segitu besarnya perasaanmu pada Anugrah, Han ? Apa aku tak bisa menggeser posisinya di hatimu ? Seperti kau menggeser posisi Jihan di hatiku ? " Batin Arga kini terasa sesak, seakan-akan ia kekurangan pasokan oksigen.


Hana menguatkan tekadnya untuk menepis semua rasa yang telah lama berlalu. Ia tak ingin lagi menabur luka, pada hati yang belum sembuh sepenuhnya.


" Gak sama sekali !! Pungkas Hana.


" Hahaha." Anugrah tertawa renyah.


" Han, kamu itu gak pintar memerankan tokoh pembohong !! Ujarnya.


" Aku gak bohong !! Ketus Hana.


" Hm, apa iya ?? Aku gak percaya sih." Timpal Anugrah.


" Han, kamu tau kan gurun pasir itu gersang ? Tapi yang lebih harus kamu tau. Hatiku jauh lebih gersang !! Ucapnya dengan lengkungan senyuman di wajahnya.


" Han, kamu tau sungai Eufrat udah mulai mengering ? Yang lebih harus kamu tau bahwa hatiku jauh lebih kering Han !!


Bahkan hatiku sudah seperti lautan bedanya hatiku gak ada fase pasangnya, yang hanya ada surutnya !! Ucap Anugrah dengan lirih.


Hana tersentak mendengar perkataan Anugrah. Ada rasa bersalah yang mendalam di hatinya.


Buliran hangat yang sedari tadi ia tahan, kini akhirnya tertumpah tanpa sisa.

__ADS_1


" Sudah cukup, Anugrah !! Jangan mengukit harapan yang telah lebur bersama kenangan. Biarkan semuanya terukir manis di dalam kenangan, yang akan kelak kita ceritakan pada anak-anak kita masing-masing !! Ujar Hana pada Anugrah.


Ranti terus mengelus bahu Hana, menguatkannya. Arga hanya terdiam membisu di sudut ruangan.


Ingin sekali tangan Arga menjadi penghapus air mata Hana, menjadi penghibur Hana untuk menukar buliran hangat menjadi sebuah senyuman. Namun Arga tau bahwa batasan antara yang bukan mahrom dalam Islam.


Ia hanya bisa berdiam diri, sembari memohon pada Allah agar menenangkan hati Hana.


Kini mereka terjeda oleh keheningan beberapa detik, yang terdengar hanya deruh nafas yang tak beraturan. Setelahnya Anugrah kambali bersuara. Namun telah di dahului Hana.


" Perasan ini salah!! Cukup Anugrah !! Cukup !! Ucap Hana dengan melemah.


" Perasaan gak pernah salah Han !! Pungkas Anugrah.


" Ya, kamu benar !! Aku yang salah, telah jatuh hati pada orang yang salah." Hana tertawa, mentertawakan kebodohannya.


" Hm, maaf ya aku menjadi orang yang salah dan tidak tepat untuk hatimu berlabuh." Suara Anugrah mulai terdengar melemah.


" Kamu gak salah !! Cinta itu fitrah, takkan pernah tau akan berlabuh pada kapal yang mana. Namun kita masih bisa mengontrolnya, sebisa mungkin selalu melibatkan Allah di dalamnya." Ucap Hana dengan senyum gentirnya. Terdiam sejenak.


" Han, apa kamu tidak mau menjadi Zainabku ? Tanyanya dengan desiran getar di nada suaranya.


Hana terkejut, kala mendengar perkataan Anugrah. Bagaimana dia tau mengenai Zainab putri Rasulullah.


" Wanita sholeha yang menunggu Abdul Ash untuk mengucapkan dua kalimat syahadat ?


Perkataannya terjeda beberapa detik.


" Dan Yang berjuang menemaninya untuk menjemput hidayah Allah ? Ucapnya dengan intonasi yang terdengar lirih.


Hati Hana terhantam keras, mendengar semua penuturan kata yang Anugrah lontarkan.


Tenggorokan Hana tercekat tak bisa lagi berkata-kata. Ritmik hatinya berdentum tak karuan. Lidahnya keluh tak berasa sama kali.


Getaran di tangannya kini menjalar ke kakinya, bahkan ke seluruh tubuhnya. Buliran hangat terus mengalir tanpa jeda. Isakan Hana mulai terdengar pecah.


Hana menepuk dada, seakan-akan ingin mengeluarkan sesak yang menyiksanya. Dengan deruh nafas yang tak beraturan, Hana memantapkan diri untuk menjawab pertanyaan Anugrah.


" Maaf kamu tidak pantas menjadi Abdul Ash ku !! Aku memang senang jika kelak kau akan menyebutkan dua kalimat syahadat, tapi aku tak berniat sama sekali untuk menemanimu berjuang untuk menjemput hidayah Allah !! Ucap Hana dengan nada bergetar, sekaligus sembari terus mengeluarkan buliran hangat.


Anugrah kembali tertawa mendengar jawaban Hana, ia tau bahwa Hana kini berbohong padanya.


" Hebat sekali Han !!


Hebat, kau bahkan mampu membohongi perasaanmu sendiri !! Ucap Anugrah dengan penekanannya.


Hana menarik nafas dengan kasar, " Kenapa kau keras kepala sekali Anugrah !! Batin Hana.


" Aku tidak berbohong !! Kamu memang tidak pantas bersanding denganku !! Sebab kamu terlalu Nauzubillah untuk aku yang Masya Allah !! Tegas Hana untuk menyakiti Anugrah.


Dengan begitu perasaan Anugrah terhadap Hana, akan berubah menjadi benci.


Jleb, hati Anugrah seperti tengah benturan dengan benda keras. Sesak, sakit dan juga perih itulah yang saat ini hatinya rasakan.


Tak habis pikir, Hana yang ia kenal amat begitu tawadhu bisa berubah menjadi angkuh.


Begitu juga dengan Ranti dan Arga, baru kali mereka mendengar Hana, melirikkan perkataan yang menyombongkan dirinya.


" Langit tetaplah langit !! Dan tanah akan tetap menjadi tanah." Sambung Hana dengan nada tegasnya.


" Hm, iya Han maaf ya aku yang nauzubillah ini telah lancang mencintaimu !!


Ucapannya terjeda sekian detik, kemudian Anugrah mengatur nafasnya, melanjutkan perkataannya.


" Aku pikir tanah akan dapat menggapai langit, dengan deruh nafas yang ia sematkan di dalam doa. Sebab ia pikir tak ada yang tak mungkin, jika Tuhan berkehendak. Namun sayang ternyata langit terlalu meninggikan angkuhnya yang membuat tanah sadar akan posisinya.


Bahwa tanah akan tetap menjadi tempat untuk injakan tidak akan pernah berubah posisi." Anugrah melafalkan setiap bait perkataannya dengan senyuman sembari meneteskan air mata satu, dua tetes sampai tak terhitung lagi dengan jari.


Hana semakin merasakan nyeri di hatinya.


Kenapa di fase saat ia sedikit demi sedikit, bisa melupakan Anugrah. Di saat bersamaan pula, semesta datang kembali mengingatkannya pada sosok Anugrah.


Sanju tiba di depan Anugrah. Ia melihat sosok Anugrah yang gagah kini tengah terengah.


Senyuman yang selalu melengkung di wajahnya, kini telah berganti dengan tangisan.


Ia memandang Anugrah tengah menggenggam handphonenya dan meletakkannya di pipinya. Bisa ia tebak pasti Hana yang sedang berbicara dengannya via telepon.


" Grah !! Panggilnya. Anugrah menghapus air matanya, kemudian menoleh ke arah Sanju, menunjukkan senyum palsunya.


" Kamu masih sanggup ?? Tanya Sanju yang seakan-akan mengerti hati Arga saat ini.


Anugrah mengangguk iya, dan mengembangkan senyumnya.


Sanju hanya tersenyum, tak dapat menghentikan Anugrah. Bukan karena cemburu melainkan Sanju tak ingin melihat Anugrah lebih terisak lagi, apalagi terluka terlalu dalam lagi, sampai Anugrah akan sulit nantinya untuk bangkit.


Hana mendengar sekilas suara Sanju." San, kamu di samping Anugrahkan ? Tanya Hana.


" Iya Han !!


Selesaikan lah secara baik-baik dengan Anugrah !! Tanpa harus saling menyakiti ! Ucap Sanju.


Hana mencerna perkataan Sanju, sebenarnya Hana tak ingin melukai Anugrah, dengan perkataannya yang begitu tajam, namun ia hanya ingin perasaan Anugrah berubah menjadi benci.


Masih dengan deraiaan air mata, Hana menghapus kasar air mata yang menari di wajahnya.


" Anugrah, sudah cukup ya !! Izinkan perasaan yang selalu membuat hatiku terhempas ini terlepas ya !! Izinkan perasaan yang menyiksa batinku ini lenyap tanpa tangisan !! Aku mohon ya, permudah aku melupakan kisah kita." Pinta Hana dengan lembut pada Anugrah.


" Hm, jika bisa akan ku usahakan ! Jawab Anugrah mencoba berpura-pura tegar.


Yang padahal hatinya tak sanggup, menyanggupi yang Hana pinta.


Sudut bibir Hana tertarik membentuk lekungan. " Terima kasih." Ucapnya.


" Sama-sama, jangan nangis entar ingus kamu keluar masuk lagi !! Ledek Anugrah.


Hana membeliakkan matanya, timbul raut kesal di wajahnya.


" Tuhkan mulai lagi deh sikap nyebelinnya."


hati Hana mengupat Anugrah.


" Ih, aku bukan anak kecil tau !! Aku gak lagi ingusan sama sekali !! Ketus Hana.


Anugrah tertawa di balik layar, senang mendengar nada ketus Hana." Iya deh, yang udah gede. " Ucapnya sembari tertawa.


" Iyalah !!

__ADS_1


Dengan keberanian sepenuh hati Hana kembali melanjutkan perkataannya.


" Anugrah." panggilnya.


" Iya Han ? Jawab Anugrah.


" Kamu juga ya, harus bisa ngelupain aku, harus bisa ngilangin perasaan kamu ke aku ya. Aku yakin kamu pasti bisa jika kamu melibatkan Allah di dalamnya." cercah Hana pada Anugrah.


Anugrah tersenyum lirih mendengarnya.


" Maaf Han, aku sepertinya tidak mampu menyanggupi permintaanmu yang ini." jujur Anugrah.


" Sampai kapan kamu mau menyakiti hatimu Anugrah ? tanya Hana.


" Entahlah, mungkin sampai kamu mau menjadi Zainabku. Atau mungkin sampai tamat riwayat hidupku." ucap Anugrah disebrang telpon.


" Maaf Nug, aku bukanlah wanita yang Allah kirimkan untuk menjadi Zainab binti Muhammadmu." Hana tersenyum masam, menggenggam getir ponselnya.


" Hm, kamu taukan ?


Kalau Tuhan itu satu. Tapi sayangnya, kaca mata kita dalam memandang Tuhan yang tak sama. Kalau kacamata tentang Tuhan saja kita berbeda, bagaimana mungkin kita bisa bersama ?


Dengan dentuman lonceng di gereja kamu memulai ibadahmu. Sementara aku, dengan berkumandangnya adzan adalah awal aku memulai ibadahku. Kamu berdoa dengan menyatukan kedua tangan. Sementara aku berdoa menengadahkan tangan. Kalimat Rosario yang tertancap didalam lisanmu, takkan pernah menyatu dengan kalimat tasbih yang membasahi lisanku."


Sejenak Hana menjeda ucapannya, menghembuskan pelan nafasnya, mencoba menenangkan dirinya, kemudian menyerka air matanya yang tengah mengalir membasahi pipinya.


" Aku rasa itu cukup menjadi batas di antara kita, dan juga cukup menjadi jurang kenyataannya untuk menyadarkan kita, bahwa kita memang tak bisa satu, dan takkan pernah menyatu.


Jikapun kelak kamu memeluk Islam, mungkin aku bukanlah wanita yang menjadi Zainab binti Muhammadmu." ungkap Hana meski ini menyakitkan hatinya, ia tetap berusaha tegar saat berkata.


Anugrah hanya tersenyum kecut menanggapi semua perkataan Hana, ia mengakui bahwa apa yang di katakan Hana benar adanya.


Namun, bukan berarti perbedaan itu berhak merampas perasaannya pada Hana.


" Tenang Han, aku selalu ingat akan hal itu." Ujarnya.


" Kita sudah baikan bukan ? Tanya Anugrah.


" Iya, tak ada lagi perdebatan di antara kita." Jawab Hana.


Anugrah tersenyum." Baiklah, apakah kita tidak bisa menjadi teman ? " Ini untuk kesekian kalinya Anugrah mananyakan hal ini.


Hati Hana ingin berteriak setuju, namun pikirnya tak selaras dengan itu. Ia mulai meremukkan hal itu pada hati dan juga akalnya. Akankah benteng prinsip yang Hana pegang selama ini akan roboh ?


Entahlah hanya dia yang tau akan hal itu.


Terjeda sejenak, Hana mencerna baik-baik permintaan Anugrah.


Ketika Hana hendak berbicara, Anugrah lebih awal menikungnya.


" Setidaknya jika kamu tidak bisa menjadi Zainabku, jadilah temanku !! Tidak salahkan ? Tanyanya kembali.


Hana kembali bimbang mengambil keputusan, ia tak tau harus menjawab apa.


Kemudian Ranti menganggukkan kepalanya.


Seraya berkata." Mana yang lebih mendominasi antara hati dan akalmu, maka itulah yang harus kau ikutin Han." Ujar Ranti dengan bijak.


Hana memejamkan matanya sejenak, merilekskan tubuhnya, menarik nafasnya dengan hati-hati, kemudian memberikan jawaban pada Anugrah.


" Maaf Anugrah !! Aku gak bisa menjadi temanmu." Ucapnya dengan singkat namun sangat menyakitkan hati.


Anugrah tersentak kaget, sudah sekeras ini ia berusaha, namun hasilnya nihil. Ia memang berhasil menempatkan dirinya di hati Hana, namun ia tak pernah berhasil menjadikan dirinya sebagai teman untuk Hana.


" Huuu !!


Baiklah Han, tidak masalah hehe." Ucapnya mencoba tegar.


" Maaf, ku mohon jangan tanyakan pertanyaan itu lagi, jika kamu sudah tau jelas jawabannya akan melukaimu!!


" Aku yakin ada wanita yang lebih pantas untuk cintamu !! Ada wanita yang lebih tepat untuk kasihmu dan maaf itu bukan aku, Grah !! Aku berharap ini untuk terakhir kalinya kita berbincang, tidak ada lagi untuk selanjutnya !! Kata Hana pada Anugrah.


" Hanya kau yang pantas untuk itu Han,


bukan yang lain.


Semoga saja tidak Han, aku harap Tuhan mengizinkan kita untuk berbicara lagi, lagi dan lagi !! Jawab Anugrah.


" Hm, aku titip Sanju ya, selama aku tidak berada di sampingnya tolong gantiin posisi aku ya. Jangan pernah sakitin dia ! Kamu harus selalu ada di saat dia suka mau duka !!


Pinta Hana pada Anugrah.


" Tenang Han, kami sudah menjadi sahabat kok." Jawab Anugrah dengan pedenya.


"Alhamdulillah kalau gitu, dan untuk Sanju tolong cariin dia wanita yang baik ya San, biar dia gak menggilaiku lagi hehe." Ujar Hana asal pada Sanju.


" Hahaha, Han aku akan tetap menjadi laila majnun mu." Jawab Anugrah dengan serius pada Hana.


Mereka tertawa bersama. Merasa lucu dengan ucapan masing-masing. Setelah mereka puas tertawa,tidak lama


kemudian Hana pamit memutuskan telponnya.


" Udah ya, aku pamit San, Grah !! Aku tutup Assalamu'alaikum, sebulan lagi aku pulang ke Indo." Ucap Hana.


Sanju menjawab salam Hana." Waalaikumussalam Hana. Benarkah ? Tanya Sanju kembali.


" Iya benar San, tunggu aku ya. See you." Ujar Hana.


"Baiklah akan ku tunggu. See you too." Jawab Sanju.


Hana memeluk erat tubuh Ranti, ada kelegaan yang ia rasakan, sebab semua telah terpecahkan dengan baik.


Ibarat bisul yang terpecah, ya sakit bukan ? Namun, sakitnya hanya sesaat selebihnya akan jauh lebih baik.


Walau sangat sulit, Hana tetap berusaha keras untuk menjalaninya.


Ia tak mengerti bahwa pertemuannya dengan Anugrah, yang hanya sehari akan berujung menyiksanya sampai detik ini, mungkin semua ini terjadi karena dirinya telah melibatkan hati, Pikirnya.


Bersambung...


Sevimli, 26 Oktober 2020


Salam hangat dari Author 🌹


Mana ni suaranya, tim Hana-Arga ?


Dan tim Hana-Anugrah ? 😁

__ADS_1


__ADS_2