Pelangi Hanani

Pelangi Hanani
Part 115 Pahitnya Takdir.


__ADS_3

" Kau tidak tau sepahit apa takdir yang Dia berikan padaku, dan kau juga tidak tau sehebat apa takdir mempermainkanku ?


..... " Pelangi Hanani 🌹"......


Ini tahun ke empat Hana berada di Mesir.


Insya Allah, jika semuanya lancar.


Ia akan wisuda tahun ini.


Hari ahad Hana lebih memilih bepergian ke Sungai Nil, dari pada berdiam diri di asrama.


Karena baginya, bukannya hanya tubuhnya yang perlu rileks melainkan juga pikirannya.


Seperti saat ini, ia tengah merilekskan pikirannya, dengan memandang kekuasaan Tuhan yang begitu menakjubkan.


Sungai Nil.


Merupakan sumber mata air sekaligus sumber kehidupan bagi penduduk Mesir.


Atas berkat Tuhan, Sungai Nil tak pernah surut dari masa ke masa.


" Ini tahun terakhirku di negri Pyramid ini.


Akan banyak hal yang bakalan aku rindukan." ucap Hana.


Terik mentari semakin menyeruak ke permukaan.Bahkan panasnya kini bukan lagi baik untuk kesehatan, sebab sudah memasuki tengah hari.


Merasa sudah cukup untuk hari ini.


Hana pun melangkah pergi meninggalkan Sungai Nil dan kembali ke Asramanya.


Seperjalanan pulang.


Tanpa sengaja Hana melihat sosok perempuan yang tengah berdiri diatas jembatan Qasr El Nil.


Dengan penampilan acak-acakan dan juga tengah menangis menatap sungai yang berada jauh dibawahnya.


Melihat gadis itu.


Mengingatkan Hana pada kejadian beberapa tahun lalu, saat ia berada di Malaysia.


Tepatnya, ketika berbelanja di supermarket.


Ada seorang wanita yang hendak bunuh diri di atas Rooftop supermarket. Ya, bunuh diri karena menanggung aib atas perbuatan dosanya.


" Tidak !


Perempuan itu mau bunuh diri." terka Hana.


Dengan cepat Hana pun berlari ke atas jembatan.


Tak peduli lagi dengan kendaraan yang berlalu-lalang disana. Yang ia hanya pikirkan berhasil membawa gadis itu untuk menjauh dari sana.


Selarinya Hana.


Gadis itupun mulai menurunkan salah satu kakinya.


Hal itu membuat Hana semakin panik, ia pun terus mempercepat larinya.


" Ya Allah hentikan langkah gadis itu." pinta Hana.


Beberapa detik kemudian.


Perempuan itupun menurunkan kembali kakinya.


Membuat tubuhnya terjun ke bawah.


" Mbak ! teriak Hana panik, berhasil menangkap tangan gadis itu.


Gadis itu menatap tajam Hana, merasa tidak senang aktivitasnya dicampuri.


" Singkirkan tanganmu itu ! ketusnya.


Hana menggeleng." Gak mbak." tolaknya.


" Mbak gak boleh lakukan ini, mbak.


Bunuh diri bukanlah jalan terbaik untuk masalah mbak." Hana terus berusaha keras menarik tubuh gadis itu untuk naik ke atas.


Namun sayang, gadis itu terus meronta, menepis tangan Hana dari tangannya.


" Diam kau ! Jangan ikut campur ! teriaknya.


Hana semakin menggenggam erat tangannya dan menariknya sekuat tenaga untuk bisa naik ke atas.


" Bismillah." ucap Hana seraya mengeluarkan semua tenaganya.


Dan akhirnya, Hana berhasil membawa gadis ini naik ke atas.


Hahhh....


Hahhh... terdengar nafas Hana tersengal-sengal.


" Alhamdulillah, mbak selamat." ucapnya lega.


" Kenapa kau ikut campur urusanku ha ?


Kenapa kau menghentikanku ha ? Seharusnya kau biarkan saja aku mati dibawah sana ! teriaknya pada Hana.


Kini sorot mata tajam itu berubah menjadi senduh.


Ada banyak keperihan yang tersimpan disana.


Bahkan sesaat kemudian, gadis itu menenggelamkan wajahnya diantara lututnya. Menangis meluapkan kesesakan di dadanya.


Hana tak tau masalah sebesar apa yang tengah menimpa gadis ini. Rasa sakit apa yang tengah menghantam batinnya, sampai membuatnya nekat ingin mengakhiri hidupnya.


Hana menatapnya penuh dengan rasa iba.


Merasa ikut tersakiti, sebagai sesama perempuan.


Pasti memiliki rasa empat yang besar.


" Mbak ! mati-matian Hana mengumpulkan keberaniannya, untuk memanggil gadis yang sedang terisak itu.


Gadis itu masih saja menangis sejadi-jadinya.


Hana yang sudah mengangkat tangannya untuk mengelus kepala gadis itu, menarik kembali tangannya dan mengurungkan niatnya.


Cukup lama gadis itu dengan posisi seperti itu. Dan Hana tetap setia menunggunya, karena ia tau menangis adalah salah satu cara untuk menumpahkan segala kesesakan yang ada.


" Mbak." panggil Hana kembali.


Gadis itupun mendongakkan kepalanya, kemudian menatap Hana dengan mata elangnya. Hal itu tak membuat Hana takut, ia justru semakin mendekati gadis itu.


" Pergilah ! Jangan mendekat ! teriak gadis itu.


" Mbak !


Setiap dari kita punya porsi masalahnya masing-masing. Dan pilihan terbaiknya adalah menghadapinya dan mengakhirinya mbak. Tapi, bukan dengan cara bunuh diri. Itu bukan solusi, mbak."


Perkataan Hana membuat sudut bibirnya tertarik sebelah. Masih dengan sorot mata tajamnya memandang.


" Tau apa kau tentang hidupku ha ?


Apa kau tau sepahit apa hidup yang Dia berikan padaku ha ? Apa kau tau sehebat apa takdir mempermainkanku ha ? teriaknya di antara isak tangisnya.

__ADS_1


Hana terdiam menatap gadis yang dihadapannya, yang kini penuh derai air mata.


" KENAPA KAU DIAM HA ? ia mencengkram erat bahu Hana." Karena kau tidak pernah merasakannya dalam HIDUPMU KAN ? teriaknya histeris.


" AKU MEMBENCINYA ! AKU BENCI HIDUPKU !


Hana merasakan sakit dibahunya, saat kuku tajam gadis itu sedikit mencakar bahunya.


Namun, Hana tetap membiarkan gadis itu, sampai ia sedikit tenang.


" Mau sampai kapan mbak memaki takdir ?


Mau sampai kapan mbak terus membenci Tuhan ? ujar Hana padanya.


Ia pun terdiam, bukan enggan menjawab.


Melainkan ia benci ketika mendengar sesuatu yang berkaitan dengan Tuhan.


" Percayalah mbak.


Allah menakdirkan takdir yang berat untukmu, karena Dia percaya dan yakin sepenuhnya bahwa mbak adalah hambaNya yang hebat dan kuat." Hana mencoba untuk memberi pengertian padanya.


Hana menggengam tangannya lembut, seraya tersenyum menatap wajahnya.


" Bulshit !! teriaknya tak setuju.


Ia mencoba menepis tangan Hana. Namun, Hana semakin mengeratkan genggamannya.


" Kalau mbak punya tekad yang kuat dan besar untuk bunuh diri ini, kenapa tekad kuat dan besar itu gak mbak gunakan untuk menyelesaikan masalah mbak ?


Gadis itu terdiam sejenak, tidak membenarkan perkataan Hana, dan juga tidak menyalahkannya.


Ia menatap lekat wajah Hana yang sedang tersenyum padanya.


" Percayalah mbak.


Bahwa ujian sudah rapi tertakar.


Begitu juga takdir, ia takkan pernah tertukar.


Mbak pasti bisa melalui semuanya." ucap Hana dengan senyumannya.


Tanpa sungkan Hana pun memeluk gadis itu.


Dan mengusap lembut punggungnya untuk menyalurkan kekuatan pada gadis yang mengalami luka terdalam itu.


Sejenak gadis itu sempat luluh dengan perlakuan Hana. Namun, tak lama kemudian iapun mendorong kasa tubuh Hana untuk menjauh darinya.


" Jangan pernah ikut campur dengan kehidupanku ! tukasnya, kemudian ia berdiri dan berlari meninggalkan Hana.


" Mbak ! Hanapun berdiri dan berniat untuk mengejarnya.


Tuuttt..


Tiba-tiba saja ponsel Hana berbunyi.


" Ya Allah siapa sih ? keluhnya.


Ia pun mengambil ponselnya dari kantungnya.


Dan terteralah nama sang Sanju disana.


" Sanju." Hanapun menggulir tombol hijau di layar ponselnya.


" Assalamu'alaikum, san ada apa ? tanyanya.


Hana masih saja berlari mengejar gadis itu.


" Waalaikumussalam, ya Allah gitu amat pertanyaan dari sahabatku Hanani Syaufa ini."


Tanpa sengaja Rayhan mendengar Zafirah mengucapkan nama Hana dengan lengkap.


Apa jangan-jangan, mereka sahabatan ? otak Rayhan berpikir keras.


Karena buru-buru ia pun memilih untuk menanyakan hal itu nanti saja. Setelah urusannya beres.


" Ah, entar aja deh gua nanya ke Hana.


Lagi buru-buru ni, bisa-bisa nilai c gua kalau telat sama kelas si Samsons."


Rayhan pun tak ambil pusing, ia terus melangkah menuju kelasnya. Takut terlambat masuk kelas dosen killernya.


Hana dan Sanju pun tengah asyik mengobrol sampai-sampai Hana kehilangan jejak gadis itu.


" Astaghfirullah..


Aku kehilangan jejak gadis itu." kesalnya.


" Ha ? Apa Han ? tanya Hana disebrang telpon.


" Ah gak San.


Itu tadi bisnya, cepat banget perginya." alibi Hana.


" Kirain apaan.


Yaudah aku tutup dulu ya, Han.


Bye assalamu'alaikum." tutup Sanju.


" Iya San.


Waalaikumussalam." balas Hana.


Hana pun memasukkan kembali ponselnya ke kantungnya.


" Kemana ya gadis itu ? pikiran Hana masih saja, diselimuti gadis itu.


Hana terus mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Berharap menemukan kembali gadis itu.


Ya, bukan Hana namanya.


Kalau ambisi dan juga rasa ingin taunya besar sekali.


" Aku penasaran sebesar apa masalahnya.


Sampai ia terlihat membenci Tuhan seperti itu."


Hana melirik jamnya, ternyata setengah jam lagi waktu dzuhur akan tiba.


Ia pun memilih pulang ke Asramanya dan akan kembali ke Sunagi Nil ini, siapa tau ia bertemu lagi dengan gadis itu.


Hana pun berjalan mencari bis yang akan membawanya pulang.


Beberapa menit kemudian.


Bis tempat tujuan Hana tiba, dengan cepat Hana pun masuk ke dalam bis dan memilih bangku yang ia rasa nyaman untuk ditempati.


.


.


.


Hanya memakan waktu setengah jam.


Hana sudah tiba di Asramanya.

__ADS_1


" Dari mana aja kau Han ? tanya Nima yang melihat Hana baru tiba di gerbang Asrama.


" Dari Sungai Nil, Nim.


Refreshing otak biar gak pecah." jawab Hana.


" Kau ini.


Otakmu itu sudah pintar mana butuh refreshing. Kalau otakku sama si Raisa baru buntu yang butuh refreshing biar gak tambah peak." ucap Nima dengan khas Medannya.


Hana tertawa kecil mendengarnya.


Cukup terhibur setelah pikirannya riweh memikirkan gadis tadi.


" Ah kamu ada-ada aja, Nim.


Yaudah kalau gitu aku masuk dulu ya, aku belum dzuhur ni." kata Hana pamit pada Nima.


Dengan senang hati, Nima pun mempersilahkan Hana.


" Oh yaudah.


Masuklah kau sana, jangan lupa kau doakan aku ini biar kayak garuda ya." pinta Nima pada Hana.


Kening Hana berkerut, apa hubungannya dengan Garuda ? pikirnya.


" Ha ? Hubungan kamu sama Garuda apa, Nim ? tanya Hana penasaran.


" Kau tau Garuda.


Garuda itu sangat rendah hati, Han.


Kemanapun dia terbang, sejauh apapun dia terbang tetap saja dia akan menjadi pilus.


Rendah hati kan ? jawab Nima dengan santainya.


" Astaghfirullah.


Bisa-bisanya kamu mikir gitu, Nim hehe.


Tapi, aku terhiburloh, yaudah entar aku doain." kata Hana dengan senyumannya.


Punya teman seperti Nima, adalah salah satu kebahagiaan bagi Hana.


Mesti, terkadang Nima kalau ngomong mulutnya sedikit pedas, namun Nima juga ikut berperan menghibur Hana dan Raisa dengan tingkahnya kesehariannya.


" Makanya jangan galau-galau kau."


" Siap bos." kata Hana menghormat pada Nima.


Detik selanjutnya, Hana pun menaiki anak tangga melangkah menuju kamarnya.


Untuk segera mungkin melaksanakan kewajibannya sebagai seorang hamba Allah.


Mengambil wudhu, kemudian memakai mukenanya dan memulai sholatnya dengan basmalah.


Gerakan demi gerakan sholat membawa Hana hanyut dalam ketenangan.


Terutama saat sujud, hatinya merasa damai dan tenang. Semua hal yang tadinya tengah mengguncang dirinya, seketika lenyap begitu saja.


Ada banyak permintaan yang Hana sematkan di sujudnya, mulai dari perihal keluarga sampai perihal gadis yang baru saja ia temui.


" Assalamu'alaikum warahmatullah." salam penutup sholat Hana.


Terucapnya salam dari bibir Hana, maka berakhirlah sholatnya. Setelahnya, Hanapun mengangkat jari jemarinya dan membuka mulutnya untuk berdzikir kepada Allah.


Hanya memakan waktu lima menit, selepasnya Hana pun menengadahkan tangannya, kembali meminta kepada Sang pemilik alam semesta.


" Han ! Han ! teriak Raisa tiba-tiba datang ke kamar Hana.


Mendengar teriakan Raisa, Hana pun bangkit dari duduknya dan segera melepas dan melipat mukenanya.


Ceklek..


" Ada apa, Sa ? Kok teriak-teriak sih ? tanya Hana.


" Han, lo tadi habis darimana ? Lo ada ketemu sama cewek di jembatan sungai Nil gak, Han ? tanya Raisa tergesa-gesa.


Ha ? Darimana Raisa tau, pikir Hana.


" Sa ! Coba kamu tenang dulu.


Jangan panik gini deh." kata Hana mencoba menenangkan Raisa.


" Coba tarik nafas dulu, baru buang perlahan.


Biar kamu sedikit rileks." instruksi Hana pada Raisa.


Hahhh...


Raisapun menghembuskan nafasnya perlahan, mengikuti instruksi Hana.


Setelah melihat Raisa sedikit tenang.


Barulah Hana bersuara.


" Udah tenang ? tanya Hana, Raisa mengangguk.


" Oke, aku jawab ya.


Iya aku tadi ketemu gadis di jembatan Qasr El Nil, plus hentiin dia buat bunuh diri." jawab Hana jujur.


Raisa menggeleng cepat, tak percaya bahwa dugaannya benar.


" Han !


Gua minta sama lo, kalau lo ketemu tu cewek lagi, jangan pernah berurusan sama dia, Han.


Please ya Han, gua gak mau lo dalam masalah." pinta Raisa pada Hana.


Hana mengerutkan keningnya.


Untuk apa Raisa meminta hal itu padanya.


" Tapi kenapa, Sa ?


Gimana kalau dia mau bunuh diri lagi ?


" Pokoknya, gua bilang jangan berurusan lagi sama tu cewek, Han. Bahaya, Han !


" Bahayanya apa, Sa ?


Kasihan dia, Sa. Dia itu butuh orang-orang untuk ngesupport dia, kenapa mala harus kita jauhi." tolak Hana, tidak setuju dengan Raisa.


" Karena dia pelacur di Trixtal Bar.


Dan kalau lo berhubungan dengan dia, bisa-bisa Emrin bakal incar lo, jadi mangsanya." ungkap Raisa dengan sesungguhnya.


Hana terkejut mendengar perkataan Raisa.


Satu hal mulai Hana pahami, mengapa gadis itu seperti itu. Ternyata, ini luka terdalam yang dirasakan oleh gadis itu.


Bersambung..


Sevimli 10 Agustus 2021


Salam hangat dari Author 🌹

__ADS_1


Jangan lupa like and Votenya.


__ADS_2