
" Cinta itu datang tanpa dipinta, dan juga pergi tanpa pamit. Oleh sebab itu, kita tidak bisa mengatur perasaan seseorang."
......" Pelangi Hanani 🌹"......
Satu hari lagi sidang kedua Arga akan dimulai.
Hana masih saja terdiam, tak bergeming sama sekali.
Matanya kian bengkak, menangis meluapkan kesesakan di dadanya.
Haruskah ia menikah dengan Haiko ?
Agar bisa menyelamatkan Arga.
Berat.
Ya, pilihan yang sangat berat.
Dari remaja Hana sudah mengimpikan akan menikah dengan sosok lelaki yang memiliki pengetahuan agama yang luas, memiliki hafalan yang memadai dan juga berakhlak mulia.
Kini, mimpinya harus ia kubur dalam-dalam.
Sebab, dengan terpaksa ia harus menikahi Haiko.
Sosok pemuda keras kepala, bengis dan tak ada manis-manisnya.
" Menikah secepat ini kah ?
Dan haruskah dengan lelaki yang jauh dari kriteriaku idaman ku ?
Hana memandang lesuh keluar jendela.
Menatap langit yang cerah namun, tak secerah harinya.
Ceklek... Pintu terbuka.
" Ini waktunya kamu memutuskan pilihan mu ! Titah Haiko.
Hana tak merubah sama sekali posisinya.
Ia tetap menatap keluar jendela.
Tak mendapatkan jawaban dari Hana, membuat Haiko menggeram. Ia pun menghampiri Hana.
" Apa kamu tuli ? Bentaknya.
Air mata Hana kembali menetes.
" Haruskah kita menikah ? Tanyanya dengan mata berbinar.
" Iya, jika kau ingin menyelamatkan temanmu itu."
" Aku tidak mencintaimu, aku bahkan sangat membencimu !!
" Tapi, aku mencintaimu."
Hana memasang muka masamnya.
" Bulshit !!
Bagaimana bisa kau mencintai wanita yang sama sekali belum kau tau asal usulnya ?
Haiko tetap memasang wajah cool nya, agar tetap terlihat berwibawa.
" Cinta itu datang tanpa dipinta, dan juga pergi tanpa diusir. Ketaatanmu pada Tuhanmu, kau menjaga dirimu, serta kegigihan dan keberanianmu lah yang membuatku jatuh hati padamu." Jawab Haiko dengan jujur.
" Apa kau meragukan Tuhan sang maha membolak balikkan hati manusia ?
Hana terdiam menatap Haiko, dan sedetik kemudian ia memalingkan wajahnya. Air matanya tertumpah hanya dengan satu kedipan.
" Kita tak bisa mengatur perasaan seseorang.
Kau tak bisa memaksaku tidak mencintaimu, dan aku juga tidak bisa memaksamu mencintaiku." Lanjut Haiko.
Membuat Hana menyerka air matanya, dan menarik nafas dalam-dalam. Kemudian membuangnya.
Huhhh...
Gemuruh dalam dadanya kian semakin memarak.
Sesak, perih, sakit bersatu padu.
Hana memejamkan matanya. Dan mulai membuka mulutnya.
" Baiklah, aku akan memilih pergi pilihan pertama.
Menikah denganmu dan berikan berkas data bukti itu."
Dengan berat hati Hana mengucapkannya.
Berbeda dengan Haiko, yang sumringah tersenyum merasa menang kali ini.
" Pilihan yang bagus ! Sahutnya.
" Tapi aku mengajukan syarat padamu." Protes Hana.
" Apa ?
" Jikalau pun kita sudah menikah.
Aku akan tetap melanjutkan pendidikanku, oleh sebab itu sebelum pendidikanku selesai kita tidak tinggal di rumah yang sama." Ungkap Hana padanya.
" Tapi...
" Jika kau ingin menikahiku maka turuti persyaratanku ! Pangkas Hana.
Haiko menatap tajam gadis keras kepala di hadapannya ini.
Ingin sekali ia memakinya sekarang juga.
Namun, ia tersadar jika itu terjadi, ia akan semakin memperkeruh suasana.
" Baiklah.
Hari ini aku akan mengantarmu kembali ke Istana Royal, Pahang. Dan jangan khawatir aku akan datang di hari persidangan temanmu nanti." Ungkap Haiko, kemudian ia melangkah meninggalkan Hana.
Hana tau tau haruskah ia bersedih atau bahagia ?
Ia seharusnya bahagia bisa membawakan bukti untuk membebaskan Arga. Namun, sisi lainnya ia juga harus merasakan luka dalam, karena akan menikahi seorang pria asing yang sama sekali tidak termasuk kategori pria idamanku.
" Argghhhhhhhhh." Hana berteriak sekeras-kerasnya.
" Aku benci kamu Haikoooo."
Hana menenggelamkan wajahnya di kedua sisi lututnya. Menangis sesenggukan meluapkan segala keperihannya.
Bahkan luka ini jauh lebih sakit, dari pada luka-luka tubuhnya yang disebabkan oleh semak belukar ataupun tumpukan kaca itu.
Hikss...Hikss...Hikss..
" Ya Allah haruskah serumit ini ?
Haruskah hamba yang mengalami ini ?
Batin Hana terus menerus bertanya.
...🍂🍂🍂...
Izaz sudah selesai dengan misinya untuk meluruskan kesalah pahaman yang terjadi di Penang.
Meski sulit untuk meyakinkan masyarakat Penang, Izaz tak menyerah begitu saja, sampai pada akhirnya ia berhasil membuat masyarakat Penang, mempercayainya.
Izaz berjalan menyelusuri koridor Istana, sudah pasti ia melangkah menuju sel tahanan di mana sang adiknya di tempatkan.
Sementara Rayhan dan Ranti, masih berada di Terengganu untuk menemui Afnan dan Kakeknya sesuai dengan permintaan Arga.
Sesampai di Ruang bawah tanah.
Izaz meminta pada mereka untuk membukakan pintu untuknya.
" Aku ingin bertemu dengan adikku ! Tegasnya dengan sorot mata tajam.
Membuat pengawal itu mengerti, mereka pun membuka pintu dan mempersilahkan Izaz masuk.
" Bagus."
Izaz memasuki sel tahanan.
Terlihatlah keempat pria yang sedang terduduk menatap kosong lantai tahanan.
Izaz tersenyum." Assalamu'alaikum." Ucapnnya.
__ADS_1
Semua menoleh padanya." Waalaikumussalam."
Semuanya berdiri menghampiri Izaz dibalik jeruji besi.
" Bang Zaz, bagaimana ? Tanyanya dengan mimik sedikit gugup.
" Alhamdulillah, Terengganu sudah aman.
Abang sudah berhasil mengambil ahlinya." Jawab Izaz.
" Alhamdulillah." Jawab mereka serempak.
Izaz mulai berpikir, bukti yang mereka miliki belumlah sempurna untuk menjadi bahan pertimbangan di Persidangan nanti.
Izaz pun mengingat kejadian yang menimpa Hana dan Arga saat di Ghost Hill, Penang.
" Ga ! Panggilnya.
" Iya."
" Waktu kamu dan Hana di jebak di Ghost Hill, Penang
Kan kalian terluka parah ?
Terus yang nolongin kalian siapa ? Tanya Izaz.
Dia bisa kita jadikan saksi di persidangan nanti.
Bodoh.. Arga menepuk kepalanya.
Ia merasa bodoh, kenapa dia tidak menyadari hal itu.
" Bundanya dokter Nashrun bang.
Iya dia yang menolong kami dan membawa kami ke rumah sakit." Jawab Arga.
" Baiklah.
Abang akan temui dokter Nashrun di Hospital Island, dan meminta bantuannya untuk menjadi saksi di persidanganmu satu hari lagi."
Arga mengangguk dan berharap bunda dan dokter Nashrun berbaik hati meluangkan waktunya untuk di persidangan Arga nanti.
Tiba-tiba saja Arga mengingat sosok gadis.
Ya, gadis yang akhir-akhir ini menghantui pikiran Arga.
Ah, bukan akhir-akhir ini.
Lebih tepatnya setiap harinya.
Arga mengkhawatirkan Hana, sebab sampai detik ini Hana belum kunjung kembali.
" Bang, Hana kenapa belum kembali ya ? Tanya Arga khawatir.
Izazpun baru menyadari hal itu baru ini.
" Ah iya Ga, abang baru menyadarinya.
Terakhir kali abang hubungi nomornya tidak diangkat."
" Hana gak kenapa-kenapa kan, bang ? Arga mulai tegang.
" Hm insya Allah, Ga.
Hana gadis yang kuat, abang yakin dia tidak kenapa-kenapa." Izaz coba menenangkan Arga.
" Iya bro !!
Lo gak boleh pesimis kayak gini." Sahut Andrea.
Namun, tetap saja kekhawatiran Arga semakin membuncah.
Tangannya mencengkram erat jeruji besi itu.
Menatap tajam lurus ke depan.
" Kalau saja Hana tidak datang ke tanah ini.
Ia takkan terluka sejauh ini." Ucap Arga dengan lirih.
Ia benci dengan keadaan ini, ia benci dirinya.
Benci karena sudah melibatkan Hana dalam perjuangannya.
Abang akan kembali ke sana, dan membawa Hana kembali." Izaz meyakinkan Arga.
Arga memejamkan matanya, mencoba untuk merilekskan dirinya.
" Hati-hati bang." Ucapnya.
Selepas perbincangan terakhir itu, Izaz pun cabut segera pergi ke Bukit Bintang.
Menjemput sosok gadis yang sedang berjuang disana.
.
.
Izaz melajukannya dengan begitu cepat, membelah kemacetan kota bahkan juga menerobos dengan sangat lihai.
Saat ini ia tak peduli dengan keselamatannya, yang ia ingat hanyalah ingin bertemu cepat dengan Hana.
Di tempat lainnya, Rayhan dan Ranti sudah mendapatkan alamat tempat tinggal Afnan, sosok remaja perempuan yang Arga maksud.
" Benar ini alamat ya Ray ? Tanya Ranti, jari telunjuknya menuju ke arah sebuah rumah papan pernis yang minimalis.
" Iya Ran, sesuai dengan petunjuk bapak yang kita tanya tadi."
" Hm, yaudah ayuk kita kesana." Ajak Ranti.
Mereka pun melangkah menghampiri rumah itu.
" Assalamu'alaikum." Salam mereka serempak.
" Waalaikumussalam." Sahut sang pemilik rumah.
Keluarlah sosok Afnan, remaja yang masih duduk dan kelas tujuh Tsanawiyah.
" Ada apa ya kak ? Dahi Afnan mengernyit.
" Ah, maaf sebelumnya.
Boleh kami masuk terlebih dahulu ? Tanya Ranti dengan sopan.
" Ah iya, silahkan kak."
Rayhan dan Ranti pun memasuki rumah Afnan.
" Kamu Afnan yang tinggal bersama seorang kakek ya ? Yang sering di kunjungi sama bang Arga ? Tanya Rayhan To the poin.
" Iya.
Abang kok bisa tau ? Tanyanya.
Rayhan dan Ranti tersenyum dan saling menatap satu sama lain." Alhamdulillah."
" Kami sahabatnya bang Arga.
Kami disuruh sama dia buat nyariin kamu." Kali ini Ranti yang menyahut.
Afnan pun manggut-manggut." Oh gitu ya kak."
" Kakek kamu dimana ? Tanya Ranti.
Pertanyaan Ranti membuat gadis remaja itu tertunduk menatap lantai.
Tampaklah sorot matanya tengah menahan air matanya.
Ranti pun mendekati Afnan dan memeluknya.
" Kamu kenapa jadi sedih gini ?
Maaf ya kalau pertanyaan kakak ada yang salah."
Meski Ranti bar-bar, ia tetap memiliki sifat kelembutan dalam dirinya.
Afnan melepaskan pelukan Ranti, dan mengusap matanya.
" Kakek sudah meninggal sebulan yang lalu." Jawab Afnan dengan sedikit terisak.
" Innalilahi wa inalillahi Raji'un."
__ADS_1
Ranti kembali memeluk Afnan, dan mengusap punggungnya. Menyalurkan kehangatan untuk gadis remaja yang sedang terpukul itu.
Rayhan curiga apa ini ulah dari anak buahnya Vachry.
Benaknya.
" Apa yang membuat kakek meninggal Afnan ? Tanya Rayhan.
Gadis itu masih menangis terisak dipelukan Ranti.
" Ray !!
Jangan tanyakan itu dulu." Pekik Ranti, yang tak mau membuat Afnan semakin terpukul.
" Tapii ituu..
" Ray !! Sergah Ranti melemparkan tatapan tajamnya pada Rayhan.
Rayhan pun terdiam tak berkutik.
Dan memilih untuk menyimpan rasa penasarannya saat ini.
Cukup lama Afnan menangis di pelukan Ranti, sampai pada akhirnya ia melepaskan pelukan Ranti.
" Sebulan yang lalu, beberapa pemberontak datang kerumah ini. Mereka meminta kami untuk pergi jauh meninggalkan tempat ini." Afnan mulai menceritakan kronologisnya.
Ranti terbelalak mendengar cerita Afnan.
Berbeda dengan Rayhan yang sedari tadi sudah menebak ada sesuatu yang tidak beres dengan kematian kakek Afnan.
" Kami menolak untuk pergi, dan salah satu dari mereka menarik paksa kakek sampai akhirnya kakek terbaring lemah di lantai." Buliran hangat ikut menemani ucapan Afnan.
Rayhan meraih ponselnya dan membuka picture Poto pada ponselnya.
" Apa ini orangnya ? Tanya Rayhan memperlihatkan poto Vachry.
Afnan mengangguk." Dia bosnya."
" B*ngsat !! Upat Rayhan yang geram melihat tindakan brengsek Vachry.
" Ray !! Teriak Ranti.
Dengan amarah yang menggumpal, Rayhan melangkah menuju keluar.
" Ray kontrol emosi ! Tegas Ranti.
Membuat langkah Rayhan terdiam.
" Gimana gua gak emosi Ran ?
Bisa-bisanya si brengsek itu menindas orang yang lemah Ran ?
Gua gak bolehin manusia Dajjal itu hidup Ran."
" Gua tau Ray !! Tapi kamu sabaran sikit Ray.
" Kalau sampai Arga tau kabar ini, dia pasti bakalan terpukul banget Ran."
Rayhan mengingat betul bagaimana Arga sudah menganggap Afnan dan Kakeknya seperti saudaranya sendiri.
" Bang.
Kenapa bang Arga gak pernah kesini lagi ? Pertanyaan ini terlontar dari Afnan.
Deg... Rayhan dan Ranti saling menatap.
Seakan-akan berdiskusi untuk memberikan jawaban dari Pertanyaan Afnan.
Ini bukan saat yang tepat untuk Afnan mengetahui keberadaan Arga di penjara. Bisa-bisa gadis remaja itu semakin terpukul.
" Ah bang Arga lagi keluar negri menemani abangnya untuk mengurus perkuliahan abangnya."
Beruntung otak Rayhan encer untuk mencari alasan meski harus terpaksa berbohong.
" Oh seperti itu.
Jangan beritahu bang Arga kalau Kakek sudah meninggal ya kak. Afnan gak mau bang Arga bersedih nantinya." Pinta Afnan.
Rayhan dan Ranti kembali saling menatap satu sama lain.
Berpikir bahwa meski usia Afnan belum dewasa, ia sudah bisa bersikap sedewasa ini.
Rayhan dan Ranti mengangguk berat menuruti permohonan Afnan.
" Terima kasih kak, bang." Ucap Afnan.
Rayhan dan Ranti meminta izin pada Afnan untuk menziarahi makam Kakeknya.
Afnan pun mengantarkan mereka berdua ke pemakaman kakeknya yang tau jauh dari rumahnya.
Rayhan dan Ranti melihat betapa terpuruknya Afnan saat berada dimakam sang kakek.
" Afnan anak yang kuatkan." Ujar Ranti dan mendekapnya.
Rayhan juga merasa iba melihat gadis remaja itu harus tinggal sebatangkara.
Ingin rasanya mereka membawa Afnan ke Istana untuk tinggal bersama.
Namun, melihat situasi yang masih rumit ini, tidak memungkinkan untuk hal itu.
Selesai dari pemakaman dan selesai berbincang panjang lebar dengan Afnan.
Rayhan dan Ranti berpamitan untuk kembali ke Istana.
" Afnan !
Ini gunakan untuk keperluan Afnan." Ranti memberikan beberapa lembar Ringgit.
" Gak usah kak.
Tabungan yang dikasih bang Arga ke Afnan masih cukup kok memenuhi kebutuhan Afnan." Tolak Afnan.
Rayhan dan Ranti tersentuh saat mendengar perkataan yang barusan Afnan lontarkan.
Sedermawan itukah Arga ?
" Arga memang pantas di gelar manusia paling bijaksana." Ucap Rayhan bangga mempunyai sahabat seperti Arga.
" Itukan dari bang Arga.
Nah ini dari kakak, jangan di tolak kakak mohon secara paksa." Kata Ranti pada Afnan.
Dengan terpaksa Afnan pun menerima lembaran uang yang Ranti berikan." Terima kasih ya kak."
" Iya sama-sama.
Kakak sama abang kembali ke rumah dulu ya.
Jaga diri Afnan baik-baik, kalau ada apa-apa telpon nomor kakak ya."
" Iya kak."
" Assalamu'alaikum." Tutup Rayhan dan Ranti.
" Waalaikumussalam kak, bang."
Rayhan dan Ranti pun kembali ke mobil.
Dengan sigap Rayhan melajukan mobilnya.
Sepanjang perjalanan tak ada percakapan antara keduanya.
Hanya ada suara kendaraan yang melaju yang menemani mereka.
Sampai pada akhirnya Rayhan memecah keheningan.
" Ran !! Panggilnya.
" Hm.."
" Bukannya kasus Afnan ini bisa kita jadikan sebagai bukti di persidangan nanti." Ungkap Rayhan.
" Jangan gila kamu Ray !!
Bisa-bisa Arga semakin terpuruk kalau dia tau kabar ini, begitu juga dengan Afnan.Dia juga akan terpukul kalau dia tau Arga di penjara." Tolak Ranti.
Rayhan menggeleng." Kalau menurutku, jika Afnan tau Arga di Penjara karena dia difitnah, Afnan pasti justru bakalan mau jadi saksi buat berusaha membela Arga di Persidangan." Pungkas.
Bersambung..
Sevimli 4 April 2021
__ADS_1
Salam hangat dari Author 🌹
Maaf telat Updatenya guys 🙏🏻