Pelangi Hanani

Pelangi Hanani
Part 108 Ekstensi kehidupan


__ADS_3

" Aku ingin mencintai Islam sepenuhnya, tanpa ada sedikitpun keraguan.


Aku yakin semakin aku mengetahui seluk-beluk Islam.


Hal itu akan membuat hatiku lebih leluasa untuk bergerak memeluknya."


....." Pelangi Hanani 🌹".....


Setelah menempuh waktu dua jam perjalanan.


Akhirnya, Anugrah sampai di kediaman Kanaya.


Tep... Anugrah menongkatkan motornya.


Dan berjalan memasuki rumah Kanaya.


Tokk..


Tokk...


" Mah.


Ini Anugrah." teriaknya.


Sang perempuan berjilbab olive pun keluar dari rumah.


Anugrah langsung mencium telapak tangan perempuan itu.


" Anugrah.


Kok gak ngomong kalau kamu mau kesini,nak ? tanya Kanaya sembari mengajak masuk putranya.


Anugrah duduk di sofa berseberangan dengan Kanaya.


Mata teduh Anugrah, membuat Kanaya memahami bahwa putranya itu sedang ada masalah.


Ya, apalagi kalau bukan dengan mantan suaminya.


" Masih bertengkar sama ayahmu ? tanya Kanaya.


Anugrah mengangguk, kemudian memeluk Kanaya.


" Anugrah dipaksa lanjut ke perguruan tinggi di USA." ucapnya.


Kanaya mengelus pucuk kepala putranya.


Dan tersenyum.


" Nak, itu artinya ayah ingin yang terbaik untuk Anugrah, bukan hal yang lain."


Anugrah menggeleng." Gak, ma." protesnya.


" Emang Anugrah mau lanjut dimana ? tanyanya.


" Anugrah bakal pergi ke salah satu Negri dimana peradaban Islam dimulai." jawabnya.


Kanaya sentak kaget mendengar jawaban putranya.


Ia melepaskan pelukannya dari Anugrah dan beralih menggenggam tangan putranya.


" Untuk apa, nak ? tanyanya kembali.


" Anugrah ingin mencintai Islam sepenuhnya, ma. Sehingga nantinya tak ada lagi keraguan dihati Anugrah.


Dan Anugrah yakin semakin Anugrah mendalami seluk beluk Islam, maka pasti hati Anugrah akan lebih leluasa untuk bergerak memeluknya


Gak ada perjalanan lebih indahkan ? Selain perjalanan menuju dekat dengan Allah ?


jawaban Anugrah membuat Kanaya meneteskan air matanya. Ia menangkup wajah putranya dengan kedua telapak tangannya, kemudian mengelusnya lembut.


" Mama meridhoimu nak.


Akan tetapi, bagaimana dengah ayahmu ?


Kanaya mengkhawatirkan keadaan mantan suaminya, yang memiliki riwayat penyakit jantung.


Anugrah tersenyum, mencoba menenangkan Kanaya.


" Anugrah akan tetap pergi ke USA, setelah beberapa bulan disana, Anugrah akan langsung terbang ke tempat tujuan Anugrah, ma. Dengan begitu, ayah tidak akan mengetahuinya." jelas Anugrah.


Kanaya pun manggut mengerti.


" Tunggu sebentar." ujar Kanaya, kemudian ia berjalan menuju kamarnya.


Anugrah yang bingung dengan mamanya pun, langsung saja mengikutinya.


" Kenapa, ma ? tanyanya.


Kanaya meraih sebuah kotak dari lemarinya, kemudian memberikannya pada Anugrah.


" Apa ini, ma ? tanyanya, menerima kotak itu.


" Itu gelang mama.


Juallah nak, untuk memenuhi kebutuhan disana nanti." jawab Kanaya.


" Tapi ma in---


" Mata-mata ayah mu pasti mengintai mu di USA nak, dan mama takut sewaktu-waktu kamu ketahuan pergi dari sana ayahmu akan memblokir semua akses keuangannya padamu."


Ya, pemikiran dan perasaan seorang ibu memang jauh lebih luas dalam mempertimbangkan keamanan anaknya.


Anugrah langsung memeluk Kanaya, menumpahkan air mata bahagianya dipelukan sang mama.


" Lagi dan lagi, Tuhan selalu berikan cahayanya melalui mama." ucapnya.


" Anugrah putra mama.


Harus selalu bahagia, nak."


Keduanya saling berpelukan, menumpahkan segalanya dan juga saling memberikan kekuatan.


Sampai akhirnya, pelukan itu meregang ketika adzan magrib berkumandang.


Allahu Akbar..


Allahu Akbar...


" Ah, sudah adzan.


Mama sholat dulu, ya." ucapnya pada Anugrah.


Anugrah pun mengangguk, mengizinkan.


Meski berbeda keyakinan, keduanya selalu saling memahami satu sama lain, bahkan tak pernah sesekali berdebat mempermasalahkan keyakinan.


Indahnya toleransi, diantara mereka ?


.


.


...🍂🍂🍂...


Tiga hari berturut-turut sudah Hana dalam perjalanan, kini akhirnya ia tiba di Bandara Cairo International airport.


Bandara yang megah dengan desain khas tersendiri.


Bahkan sangat luas dapat menampung banyak orang.


Berluaskan 37 kilometer persegi, bandara ini adalah bandara tersibuk kedua di Afrika, setelah bandara International OR Tambo di Johannesburg.


Terdiri dari empat terminal didalamnya.


" Masya Allah.


Megah sekali." ucap Hana memandangi langit-langit bandara.


Tak ingin ketinggalan, Hana pun mengabadikan bangunan megah ini di camera ponselnya.


Cekrek..


cekrek...


Entah kali berapa take ia lakukan untuk hasil yang maksimal.


" Cantik " sumringahnya.


Hana terus berjalan menelusuri koridor bandara.


Bahkan saking jauhnya ia mengelilingi bandara, tak jarang ia bertemu dengan orang Indonesia disana.


Hana pun melambaikan tangannya sebagai tegur sapa. Beruntung mereka yang disapa mau membalas tangan Hana.


" Ternyata banyak juga ya, orang Indonesia disini." gumamnya.


Hana kembali melanjutkan langkahnya sampai di terminal utama, yang terletak di antara terminal dua dan tiga. Merupakan bagian integral dari jembatan yang menghubungkan dua terminal.


Sementara di depan terminal tiga ada sebuah hotel bintang lima mewah dengan tiga ratus lima puluh unit kamar. Bagi para wisatawan yang ingin menginap, baik itu wisatawan lokal ataupun manca negara.


Senyuman manis tak pernah luput dari wajah Hana.


Kakinya terus melangkah, rasa penasaran yang menggebu menariknya untuk terus menelusuri koridor bandara.


Hana mengambil ponselnya dari tas slingbadnya.


Kembali mengabadikan bangunan ini dengan camera ponselnya.


Cekrek..


Cekrek...


Bugh....


Tiba-tiba saja, ada seorang wanita yang menabrak Hana. Hampir saja, ponsel Hana terjatuh, beruntung dengan sigap ia menangkapnya.

__ADS_1


" I am sorry." ucap perempuan yang kepalanya dibalut jilbab hitam.


Hana menggeleng, seraya tersenyum.


" Its oke.


No problem." ucap Hana.


Gadis ini tampaknya seperti sedang menghindari sesuatu atau bahkan sedang berlari menjauhi seseorang. Sebab, sedari tadi sorot matanya terus menerus mencari seseorang.


Wajahnya tampak sedikit ketakutan, bahkan tangannya tak hentinya bergetar.


Hal itu menyita perhatian Hana.


Hana pun melihat arah kemana mata gadis itu tertuju.


" Kenapa dia seperti berlari dari seseorang ?


Bahkan dia tampak seperti ketakutan." batin Hana.


" Come here." tiba-tiba sosok pria berpostur tinggi dan gagah menarik tangan gadis itu.


Gadis berjilbab hitam itu semakin terlihat ketakutan, bahkan ia menggeleng saat pria itu menarik tangannya. Ia mencoba untuk melepaskan tangannya dari pria ini.


Membuat Hana mencurigai sesuatu.


" Excuse me ! ucap Hana.


" Who are you ? tanya Hana dengan berani.


Pria itu pun menoleh, menatap tajam Hana.


" She is my wife." jawabnya.


Kemudian ia kembali menarik kasar gadis ini.


Sementara gadis itu, terus menatap Hana dengan tatapan penuh permohonan.


Mendengar bahwa gadis ini adalah istrinya, Hana tak ingin ikut campur lagi, sebab itu menjadi urusan mereka.


Akan tetapi, otak Hana terus berotasi, memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada gadis ini.


Yang membuat Hana bingung, kalau pria itu suaminya, tampaknya terlihat tua sekali.


Sementara, gadis berjilbab hitam itu kelihatannya seusia Hana.


" Apa mungkin gadis itu dipaksa menikah dengan pria tua itu ? gumam Hana.


Merasakan ada sesuatu yang tidak beres, Hana pun segera melangkah mengikuti kearah mana mereka pergi, sebelum Hana kehilangan jejak.


Pria itu membawa gadis itu keluar dari gedung bandara menuju parkiran mobil.


Ada beberapa anak buah yang siap siaga menjaga mobilnya.


" Masuk !! titahnya pada gadis itu.


Hana yang melihat itu, membuatnya memahami satu hal lagi. Bahwa pria ini kemungkinan adalah orang kaya di Mesir. Terlihat dari merk mobilnya, dan juga pengawalnya.


Hana pun mengambil poto nomor plat mobilnya.


Sewaktu-waktu, siapa tau akan penting untuknya.


Setelah gadis itu masuk ke mobil.


Kini gantian, pria tua itu yang memasuki mobil.


Pria itu merasa ada orang yang mengikutinya.


Ia pun menoleh ke belakang, untuk melihatnya.


Langsung saja, Hana bersembunyi dibalik pot bunga berukuran besar yang berada di parkiran.


" Gak ada siapa-siapa." ucap pria itu.


Ia pun masuk, dan memerintahkan supirnya untuk melajukan mobilnya dengan cepat.


Hana keluar dari persembunyiannya.


Dan masih memandang kearah mana mobil itu melaju.


" Bagaimana mencari tau tentang mereka ya ?


Aku saja baru sampai disini."


Tutttt.....


Tiba-tiba saja, ponsel Hana bergetar dan menyadarkan Hana. Ia pun melihat ponselnya, ada panggilan masuk dari Arga.


Hana menggulir tombol hijau, menerima panggilannya.


" Assalamu'alaikum.


Iya, ada apa Ga ?


" Waalaikumussalam." jawab Arga.


" Alhamdulillah, udah.


Empat puluh lima menit yang lalu." jawab Hana melihat jam di ponselnya." Kamu, udah sampai ?


Arga pun tersenyum di balik ponselnya.


" Alhamdulillah, udah dari dua jam yang lalu.


Ini udah sampai apartement." jawab Arga.


" Alhamdulillah."


Hana pun berpikir sejenak, untuk memberi taukan Arga atau tidak tentang apa yang ia alami barusan.


" Aku cerita aja deh ke Arga." batinnya.


" Han !!


Masih disanakan ? tanya Arga.


Hana mengangguk.


" Iya.


Ga, ada kejadian aneh yang baru aja aku alami." ujar Hana, membuat Arga penasaran sekaligus khawatir terjadi sesuatu pada Hana.


" Kejadian apa, Han ?


" Aku tadi keliling Bandara, terus sibuk ngambil beberapa gambar bangunan disekitar bandara.


Nah, gak sengaja ada cewek yang nabrak aku, dia minta maaf, seperkian detik kemudian tiba-tiba datang cowok tegap, kayaknya usianya empat puluhan gitu deh narik kasar tangan dia, nah itu yang buat aku gak terima langsung deh aku sosor." cerita Hana.


" Astaghfirullah Han.


Please Han, kamu boleh nolongin siapapun tapi pikirin juga keselamatan kamu. Kamu disana gak punya siapa-siapa lo. Please Han, jangan lakuin gitu lagi.


Kamu bisa aja dalam bahaya, Han." omel Arga pada Hana.


Sudut bibir Hana melengkung, ia tau bahwa pria yang sedang berbicara dengannya, mengkhawatirkan dirinya.


" Dengerin dulu lanjutannya."


" Nah, aku nanya ke dia.


Kamu itu siapa gadis ini, terus pria itu jawab dia istri saya. Dia lanjut tu narik si cewek sampai masuk ke mobilnya. Nah, karena aku rasa ada yang aneh diantara mereka, aku ikutin deh tapi cuma sampai parkiran doang, plus aku moto nomor plat mobilnya." lanjut Hana.


Arga sedikit lega, sebab Hana tidak jauh terlibat dengan orang-orang aneh itu.


" Aku pengen cari tau informasi tentang mereka melalui nomor plat mobilnya, itu bisa gak sih ?


" Hmmm, bisa sih.


Tapi hanya orang-orang yang ahli IT yang bisa melakukannya. Entar aku hubungi temen aku yang ahli IT Han." sahut Arga.


Hana pun tersenyum senang, melihat Arga mau membantunya.


" Oke, Ga."


" Han, aku cuma mau bilang sama kamu.


Kamu kesana buat nempuh pendidikan, Han.


Jangan korbankan diri kamu buat orang-orang yang gak kamu kenal. Iya aku tau menolong orang itu adalah keharusan. Tapi, kamu juga harus mikirin diri kamu dulu baru orang lain. Aku gak mau kamu terluka lagi, cukup yang lalu aku lihat kamu terluka tidak itu detik ini, besok atau kapanpun." ungkap Arga yang memang benar-benar mengkhawatirkan keadaan Hana.


Ia mengenali perempuan bernama Hana itu.


Yang kerap kali membantu orang lain, sekalipun itu membahayakan dirinya, ia akan tetap lakukan.


Hana tertawa kecil mendengarnya.


" Iyaiya bawel.


Atas izin Allah, aku bisa jaga diri." ucap Hana.


" Hm, yaudah.


Kalau gitu, kamu naik Taxi aja ke asrama kamu ya."


" Iya, ini lagi nyari."


" Hati-hati.


Assalamu'alaikum."


" Waalaikumussalam."


Panggilan pun berakhir.


Hana mengembalikan ponselnya ke tas slingbadnya.

__ADS_1


Dan, melangkah mencari bus ataupun Taxi sekitar ia berada.


Tak lama kemudian, datanglah sebuah bus berukuran besar berhenti tepat di hadapannya.


Beberapa orang disekitar Hana naik ke bus tersebut.


Hana melihat ada perempuan berwajah Asia yang juga ingin masuk ke dalam bus.


Dengan cepat Hana menghampirinya.


" Excuse me." ucap Hana.


Perempuan itu menoleh pada Hana.


" Any problem ? tanyanya pada Hana.


" Can you speak Indonesia ? tanya Hana.


Perempuan itu tersenyum, kemudian mengangguk.


" Of course, Iam from Bandung." jawabnya.


Hana pun langsung tersenyum lega mendengarnya.


" Alhamdulillah, saya dari Sumut." Hana menjabat tangannya.


" Boleh nanya gak ?


Ini bus mau kemana, ya ? tanya Hana.


" Oh, ini bus mau ke Alexandria ukhti." jawabnya.


" Ah, bukan mau ke asrama dua putri ya.


Kalau bus atau Taxi mau ke Sifaroh Hidayah datangnya sekitar jam berapa ya biasanya ? tanya Hana lagi.


" Ah sekitar setengah jam lagi insya Allah bakalan lewat ukhti." jawabnya.


" Ah, terima kasih.


Sebelumnya, saya Hana ukh."


" Sama-sama.


Saya Kiara, ukhti Maba Al Azhar ya ? tanyanya.


Hana mengangguk.


" Iya ukh.


Makanya belum tau apa-apa hehe."


" Oh pantesan.


Saya Mahasiswa semester enam di Al Azhar."


Tin... tin tiba-tiba saja Klekson bus berbunyi.


Menyadakan Kiara, bahwa ia harus segera naik ke dalam bus, jika tidak ingin ketinggalan.


" Ah yaudah.


Tunggu aja disini Ukhti, saya duluan ya.


Assalamu'alaikum " ucapnya pada Hana.


Kemudian ia berjalan menuju bus dan meninggalkan Hana dengan melambaikan tangan.


" Sampai ketemu lagi." ucapnya.


" Ah iya.


Waalaikumussalam, hati-hati ukhti." teriak Hana


Hana pun memilih duduk trotoar jalan yang cukup nyaman untuk tempat ia duduk.


Tidak terlalu kotor, hal itu tidak akan mengotori gamisnya.


Hana membuka ponselnya.


Sembari menunggu, ia pun membuka aplikasi Wanya dan melihat-lihat story di kontaknya.


" Dasar Rayhan ! ucap Hana dengan tawa kecil melihat status Rayhan yang sedang memamerkan keindahan Turkey.


Dan kini Hana beralih pada status Haiko.


Ya, manusia nyebelin yang takkan pernah bisa Hana lupakan.


" Malang." hanya ada caption itu di storynya dan beserta monumen tugu Malang.


" Haiko pergi ke Malang." gumam Hana.


Mengingat Haiko, Hana menyadari sesuatu.


Ya, ia ingat bahwa Haiko bukanlah orang biasa.


Temannya itu merupakan salah satu orang yang bergabung dalam dunia hitam. Meski, sekarang ia sudah risegnt sepengetahuan Hana.


" Haiko pasti bisa mencari tau informasi mengenai pria tadi melalui nomor plat ini.


Haiko kan cukup ahli di bidang IT."


Hana langsung menghubungi nomor Haiko.


Tittt... tittt...


" Ayo dong angkat, Ko." harap Hana.


Di tempat lain sosok yang Hana hubungi baru saja selesai mandi.


Haiko mendengar ponselnya berdering.


" Siapa sih yang nelpon ?


Ia pun meraih ponselnya, melihat nama Hana tertera di ponselnya membuat senyuman seketika tiba di wajah dinginnya.


" Hana." tanpa pikir panjang ia langsung mengangkatnya.


" Hallo Han.


Rindu lo ? ujarnya dengan pede.


Isshhhh.. Hana bergedik kesal.


" Assalamu'alaikum, pede."


" Waalaikumussalam.


Kalau gak rindu apa dong ? Haiko tertawaan kecil.


" Ko.


Aku bisa minta tolong sama kamu."


" Tolongin apa ?


" Tolong lacak dong nomor plat mobil ini.


Bentar ya, aku kirim ke kamu potonya." kata Hana, kemudian mengirimkan poto plat mobil itu pada Haiko.


" Udah aku kirim.


Aku minta tolong, ya ! Setelah selesai kabarin aku ya."


" Hm, iyaiya deh.


Mau ditutup ? tanya Haiko.


" Iya, soalnya aku lagi nungguin bus.


Takut keasyikan ngobrol eh ketinggalan bus.


Aku tutup ya ?


" Hm, iya.


Hati-hati ya disana, kalau ada apa-apa hubungi gua." ujar Haiko.


" Iya, Ko.


Assalamu'alaikum." tutup Hana.


" Waalaikumussalam."


Panggilan pun berakhir.


Haahh.. Haiko menghembuskan nafasnya kasar.


Mengacak-acak rambutnya yang baru saja ia bersihkan.


" Kenapa gua belum bisa ngelupain elo sih Han ? teriaknya frustasi mengenai perasaannya, yang belum bisa seutuhnya hilang dari Hana.


Yup, tujuan Haiko ke Malang.


Selain ingin membalaskan dendam terhadap pembunuh ayahnya. ia juga ingin melupakan Hana dengan cara meninggalkan rumahnya yang berisikan kenangan dirinya bersama Hana.


Ia juga bingung.


Bisa-bisanya prinsip bertahun-tahun ia menjalani hidup tanpa jatuh cinta pada seorang gadis. Sirna seketika dengan kedatangan Hana dalam kehidupannya.


Entahlah, mungkin Hana adalah cinta pertamanya dan juga bahkan cinta terakhirnya.


Bersambung..


Sevimli 9 Juli 2021

__ADS_1


Salam hangat dari Author 🌹


Jangan lupa like and Votenya ;)


__ADS_2