
"Terkadang rasa sayang kita pada seseorang, membuat mata Kita tertutup akan fakta."
....." Pelangi Hanani 🌹 ".....
"Aku pembunuh, Han ?" ucap Hisya, menatap pisau yang ia genggam.
Hana langsung berlari mendekati Hisya, dan menjatuhkan pisau itu dari tangan Hisya.
"Nggak !
Mbak bukan pembunuh." kata Hana.
Emrin yang sudah terjatuh ke Lantai, menatap tajam ke arah Hisya.
"Ka--au telah mem-bunuhku!" Emrin terbata-bata.
"Pengawal!" panggilnya.
Mendengar teriakan Emrin, beberapa pengawal menerobos masuk ke dalam kamarnya.
"Tuan." mereka terkejut saat melihat Emrin terbaring di lantai.
"Lapor-kkkan peremm-puan mu-rrahan itu."seru Emrin pada anak buahnya, sembari menunjuk Hisya.
"Siap." dengan cepat, mereka menarik Hisya.
"Jangan bawak mbak Hisya !"teriak Hana, mencoba mempertahankan genggamannya pada Hisya.
"Kau jangan ikut campur!" ujar mereka pada Hana.
Hana tetap bersikeras menahan Hisya, agar tidak dapat dibawa oleh mereka.
Sementara Emrin, sudah tidak sadarkan diri dan bergegas di bawa ke Rumah Sakit terdekat.
Bughh...
Satu tendangan mengenai tubuh Hana.
"Hana." pekik Hisya terkejut.
"Awww." Hana merasakan sakit pada punggungnya.
"Bawa aku, jangan kalian sentuh dia." ucap Hisya pada anak buah Emrin.
Hisya menyerahkan dirinya, sebab tak ingin Hana terluka di pukuli oleh mereka.
Dengan cepat Hana bangkit."Nggak!" Hana meraih kembali tangan Hisya, dan berdiri di hadapannya.
"Mbak nggak salah!
Mbak nggak seharusnya ikut dengan mereka!" imbuh Hana, tidak setuju.
"Menyingkir lah !
Atau kau akan mati sekarang juga." ancam mereka pada Hana.
Hana berbalik ke hadapan mereka, dan menghadang mereka menyentuh Hisya.
Tanpa aba-aba, Hana langsung melayangkan pukulannya.
Bughhh..
Tepat mengenai perut anak buah Emrin.
"Kau pikir aku selemah itu." ucapnya, sudah mulai emosi.
"Kurang ajar." salah satu dari mereka datang menghampiri Hana.
Satu pukulan ia layangkan pada Hana, beruntung Hana dapat menghindarinya.
"Mbak !
Buruan pergi dari sini!" titah Hana.
Hisya masih setia menatap pisau yang ia gunakan untuk menusuk tubuh Emrin. Takut, khawatir sekaligus benci berpadu menjadi satu dalam dirinya.
"Aku pembunuh?" lirihnya.
Hana menggeleng."Nggak! Mbak bukan pembunuh."
"Buruan pergi, mbak!" kata Hana lagi.
Hisya masih terdiam, tatapannya beralih pada tangannya. Ia menatap lekat tangannya.
"Tangan ini sudah menghilangkan nyawa orang lain." ucapnya.
"Mbak !
Nggak ! Mbak nggak salah." cetus Hana, dengan cepat Hana menarik tangan Hisya dan membawanya berlari menjauhi para anak buah Emrin.
"Hey !
Mau kemana kalian ?" dengan cepat mereka mengejar Hana dan Hisya.
Hana dan Hisya berlari sekencang mungkin, menuju keluar Bangunan Trixtal Bar. Hana tak melepaskan genggamannya pada Hisya. Ia justru semakin mengeratkan nya.
Bughhh..
Terlalu sibuk berlari, sampai mereka menabrak seseorang.
"Astaghfirullah." Hana dan Hisya terkejut.
"Eh kamu!" ucap pria itu melihat Hana.
"Kamu."
"Kenapa kalian lari-larian gini ?
Kayak dikejar setan aja." ujarnya menyadari bahwa Hana dan Hisya sepertinya menghindari seseorang.
Hana dan Hisya terdiam sejenak, mengatur nafasnya yang sudah ngos-ngosan, terlalu lelah berlari.
Sampai akhirnya, Hana merasa tenang barulah ia membuka suara.
"Kita emang lagi dikejar sama anak buah ayah kamu." jawab Hana.
Sementara Hisya hanya diam menatap Hana, tidak tau apa Hana mengenal pria ini atau tidak.
"Kamu kenal dia, Han ?" tanya Hisya, Hana mengangguk.
"Kalian buat salah, makanya dikejar?" tanya Hafga penasaran.
Degg ...
Detak jantung Hana berpacu lebih cepat, terlebih lagi Hisya. Bahkan tremor menghampiri tangannya.
Melihat hal itu, Hana langsung menggenggam tangan Hisya.
"Kita it--
"Itu mereka !
Cepat tangkap!"seru salah satu anak buah Emrin, yang merupakan ketua gengnya.
Mereka pun berlari mendekati Hisya dan Hana.
Namun, Hafga langsung menghadang mereka.
__ADS_1
"Apa mau kalian ?" tanya Hafga.
"Tuan !
Kami harus menangkap perempuan ini." jawabnya.
"Atas dasar apa kalian menangkapnya?" tanya Hafga lagi.
"Tuan.
Ayah tuan, tuan Emrin sedang berada di Rumah Sakit dan kritis akibat tusukan pisau dari perempuan ini." Ia menunjuk Hisya.
Ha ? Hafga menatap ke arah Hisya.
Beberapa saat ia diam tak percaya dengan apa yang ia dengar.
Ayah krisis ?
Karena perempuan ini ?
Hafga menatap Hisya yang juga menatapnya, kedua manik mata mereka bertemu. Namun, kedua manik itu berbeda, Hafga menatap tajam Hisya, sementara Hisya menatap penuh rasa bersalah.
Hafga mendekati Hisya, namun Hana menghalangi Hafga.
"Mbak Hisya nggak bersalah." ujarnya.
"Dimana ayahku sekarang ?" tanyanya, intonasi suaranya masih terdengar datar.
"Di Rumah Sakit Abduhzen, tuan."jawab anak buah Emrin.
"Sediakan mobil!
Aku ingin pergi kesana." perintah Hafga.
Setelah mengucapkan itu, Hafga mendorong Hana untuk menjauh dari Hisya.
"Hafga!" teriak Hana.
"Kalau sampai terjadi sesuatu pada ayahku.
Kau harus bertanggung jawab untuk itu." cetus Hafga dengan tajam.
Membuat Hisya menelan saliva nya, jujur saja deguban kencang pada jantung nya membuat rasa takutnya semakin menguasainya.
"Kau tau kenapa dia melakukan itu ?
Kau tau atas dasar apa dia sampai berani melakukan itu ? Apa kau pikir ayahmu tidak berbuat salah ha ?"Hana mencerca Hafga dengan berbagai pertanyaan.
Hana bangkit, kemudian berdiri tegak di hadapan Hafga. Tak ada raut takut sedikitpun yang ia tunjukkan.
"Apapun alasannya.
Dia berhak di hukum karena sudah hampir menghilangkan nyawa ayahku." ucap Hafga tanpa ragu.
Hana menatap Hafga tak percaya, ia pikir Hafga akan berpihak pada kebenaran dan akan bertanya apa yang sebenarnya terjadi.
"Ayahmu yang b*jingan itu memang pantas mendapatkannya bahkan manusia sebejat dia memang tak layak untuk hidup." kata Hana dengan lantang.
Plak...
Satu tamparan mendarat di wajah mulus Hana.
"Bagaimana pun dia.
Dia tetap ayahku, dan kau tidak berhak untuk menghinanya."
Meski Hafga mengetahui kelakuan ayahnya yang bejat, rasa kasih sayangnya tak berkurang sedikit pun untuk ayahnya.
Hana menyentuh pipinya yang terasa panas, akibat tamparan dari Hafga.
Rasa sayang kita untuk seseorang yang terlalu berlebihan bisa membuat kita lupa akan kebenaran." cibir Hana.
Sementara Hisya, hanya terpaku diam memandang Hana yang berdebat dengan Hafga.
"Kau." Hafga menunjuk Hana, menatapnya dengan tatapan tajam, seraya mengangkat tangannya.
Beberapa saat, tatapan mereka bertemu.
Hana mencobanya untuk tetap bertahan, tidak mau kalah dengan Hafga.
"Ayahmu bersalah, Haf.
Kamu harus akui itu." ujar Hana.
Perlahan tangan Hafga turun, sejenak ia memejamkan matanya.
"Hisya melakukan itu, karena dia menyelamatkanku dari nafsu ayahmu yang bejat itu." ucap Hana, sedikit lirih.
Mendengar perkataan Hana, membuat Hafga semakin sesak, bahkan rasa sakit di bagian hatinya menglunglai tubuhnya.
"Pembunuhan memanglah dosa besar, akan tetapi ketika nyawa kita terancam apakah kita tidak punya hak untuk melakukan perlawanan ?" imbuh Hana.
Hisya bangkit menghampiri Hana, ia memeluk Hana dengan erat.
"Aku sudah cukup lelah dengan ini semua, Han."lirihnya.
"Mbak !" Hana mengusap punggung Hisya, mencoba untuk menenangkannya.
"Mbak jangan takut,ya.
Allah selalu bersama kita."
Hafga menatap kedua gadis yang sedang berpelukan itu, ada rasa kecewa tapi juga sedih di hatinya.
Kecewa karena korban dari tragedi ini adalah ayahnya, sedih karena mereka juga adalah korban dari kebejatan ayahnya.
Hisya melepaskan pelukannya, dan beralih menghampiri Hafga.
"Silahkan laporkan kasus ini.
Saya siap untuk dihakimi." ucapnya pada Hafga.
"Mbak !" panggil Hana terkejut.
"Aku akan mempertimbangkannya."jawab Hafga, kemudian pergi meninggalkan Hana dan Hisya.
" Mbak nggak salah !
Mbak nggak berhak untuk bertanggung jawab."titah Hana.
Hisya menggeleng tidak setuju, beberapa saat kemudian, datanglah anak buah Emrin menarik tangan Hisya.
"Kau harus dibawa ke pihak yang berwajib sekarang juga, manusia murahan !"ucapnya, melayangkan tatapan sinis pada Hisya.
Bughh..
Tanpa izin dari Hisya, Hana langsung mendaratkan pukulannya tepat di perut pria berstatus anak buah Emrin itu.
"Anj*ng !" upatnya.
"Mbak ayo kita pergi dari sini!" ajak Hana, menarik tangan Hisya dan membawanya pergi.
Hati Hisya menolak sebenarnya, namun tubuhnya tetap ikut bersama Hana untuk berlari dari orang-orangnya Emrin.
"Mbak kali ini kita harus benar-benar pergi dari sini."ujar Hana.
"Mana bisa, Han.
__ADS_1
Menemukan gerbang keluarnya sangat sulit."ucap Hisya, tidak yakin bisa keluar dari Trixtal Bar.
"Kita ikuti mobil Hafga, mbak." saran Hana.
"Mobil Hafga?" Hana mengangguk.
Benar saja, tidak jauh dari tempat mereka berdiri, mobil Hafga sudah bergegas ingin pergi menuju Rumah Sakit.
"Buruan mbak!" intruksi Hana.
Mereka pun berlari menuju mobil Hafga, namun sialnya para anak buah Emrin lebih dahulu menemukan mereka.
"Kalian pikir semudah itu bisa lepas dari kami ?" mereka menarik kasar Hana dan Hisya.
"Lepasin!" Hana berusaha memberontak.
Sementara Hisya, hanya bisa pasrah dengan keadaan.
Bukan karena ia menyerah melainkan, ia memang pantas untuk dihukum.
"Lepasin mbak Hisya !
Bawa saya saja."ucap Hana menyerahkan diri.
"Nggak !"protes Hisya tidak setuju.
"Saya yang bersalah, tangkap saya dan lepaskan dia."
Hafga yang mendengar keributan tidak jauh dari mobilnya pun merasa terganggu. Ia turun dan menghampiri.
"Lepaskan mereka berdua!" perintah Hafga
Serentak Hana dan Hisya menoleh ke arah Hafga
"Tapi tuan m--
"Biar itu menjadi urusanku." pangkas Hafga
"Sekarang pergilah, biarkan mereka berurusan denganku." titah Hafga
"Baik tuan."
Para anak buah Emrin pun melepaskan Hana dan Hisya kemudian pergi meninggalkan mereka bertiga
Hana menatap Hafga dengan berbagai pertanyaan. Begitu juga dengan Hisya, keningnya berkerut muncul beberapa pertanyaan di sana.
Hana tau ini belum berakhir, Hafga tidak akan dengan mudah dapat melepaskan mereka. Yang sudah dengan nyata mencelakai ayahnya. Hana memilih berdiri di hadapan Hafga
"Aku tau.
Seberapa bejatpun seorang ayah.
Di mata seorang anak, ayahnya tetap menjadi sosok panutannya. Kasih sayang seorang anak tidak akan pernah patah untuknya." Hana tersenyum simpul
"Benar." Hafga menyetujui Hana
"Termasuk dirimu, bukan?" tebak Hana
"Kau benar.
Sekeras apapun fakta membuktikan ayahku seorang manusia paling bejat. Dia tetap menjadi sosok manusia terbaik dalam hidupku." ucap Hafga, teringat akan wajah ayahnya
Hana kembali tersenyum tipis, sedangkan Hisya menunduk menatap tanah yang ia pijak dengan penuh linangan air mata. Pikirannya tengah sibuk bergelut dengan keadaan yang menyakitinya
"Sekalipun korban dari kebejatan ayahmu beribu jiwa?" Hana menatap tajam Hafga
Sesaat Hafga terdiam, menatap bangunan megah Trixtal Bar yang merupakan tempat berjalannya maksiat yang ayahnya dirikan. Dan detik selanjutnya, pandangannya beralih pada sosok gadis yang masih sibuk menundukkan kepalanya
"Benar kata Hana. Ayahku sudah menyetubuhi begitu banyak wanita bahkan juga menjadikan mereka sebagai pelacur." Hafga menyadari dalam hatinya
"Aku yakin kau juga menyadari bahwa apa yang mbak Hisya lakukan tidak salah. Ayahmu memang pantas mendapatkannya bahkan bila perlu seharusnya lebih sadis lagi yang ia dapatkan. Setidaknya dibakar hidup-hidup." ungkap Hana sorot matanya mengandung kebencian pada sosok Emrin
Hafga menatap tajam Hana "Jaga mulutmu!" bentaknya pada Hana
Hana terkekeh kecil "Kenapa? Kau lupa berapa gadis yang sudah ayahmu perkosa? Berapa wanita yang sudah ayahmu jadikan pelacur? Berapa tempat perjudian bahkan juga club malam yang ayahmu punya? Atau bagaimana dengan bisnis narkoba ayahmu?"
Bugh!
Amarah sudah tidak terbendung, Hafga melayangkan pukulannya pada Hana
"J*lang!" makinya
Melihat Hana mendapatkan pukulan, Hisya mengangkat kepalanya, terbesit rasa marah dalam dadanya
"Kau tau berapa kali ayahmu menyentuhku? Kau juga seharusnya tau bahwa ada banyak gadis yang jadi j*lang akibat ayahmu!" ujar Hisya menyunggingkan bibirnya
"Aku pikir waktu kau tau semua kebiadaban ayahmu kau akan ikut melaporkannya pada pihak berwajib, tapi ternyata aku salah. Kau tidak ada bedanya dengan ayahmu b*jingan!" upat Hisya penuh amarah
"Tuan!
"Tuan!" tiba-tiba saja, salah satu pengawal berlari menghampiri Hafga
"Ada apa?" tanya Hafga, sedikit panik melihat ekspresi pengawal yang datang menghampirinya
"Tuan Emrin kritis tuan." jawabnya
Mendengar kabar itu, kembali menambah rasa sakit di hati Hafga. Ia menatap tajam Hisya, bahkan tangannya terkepal erat
"Pembunuh!"
"Kau tetap harus dihukum." ucapnya dengan tegas pada Hisya.
Kemudian Hafga berlari dengan cepat menuju mobilnya. Sementara Hisya menjatuhkan lututnya di lantai tempat ia berdiri. Hana langsung memeluk Hisya.
"Aku hancur, Han." lirihnya.
"Mbak !
Mbak nggak boleh merasa hancur, mbak.
Selagi Allah tidak hilang dari hati, mbak."ujar Hana.
Hisya melepaskan pelukan Hana, dan menatap Hana dengan penuh air mata.
"Kenapa harus aku ?
Diantara banyaknya manusia, Han ?" ucapnya diantara isak dan tangisnya.
"Karena mbak mampu melewatinya, mbak.
Mbak kuat untuk setiap takdir yang ada.
Hidup mbak berat, tapi Allah juga kasih mbak kekuatan lebih, mbak." ungkap Hana begitu lembut pada Hisya.
"Tapi aku lelah menyikapinya, Han."
Hana langsung mendekap tubuh Hisya.
Ia tau, ada banyak luka yang Hisya dapati dalam hidupnya. Ada banyak kesulitan serta kepahitan yang kerap ia alami. Dan hebatnya, sampai detik ini Hisya masih mempu menghadapinya.
"Kita jalani sama-sama, ya mbak." ucap Hana.
Bersambung..
Sevimli 14 Desember 2021
Salam hangat dari Author amatir 🌹
__ADS_1