Pelangi Hanani

Pelangi Hanani
Part 62 Saling Meluapkan Luka


__ADS_3

" Kalau saja aku hal untukmu, maka bukan hanya sekedar telinga yang aku pinjamkan untuk mendengarkan kepiluhanmu, melainkan aku juga akan titipkan bahuku untukmu menyandarkan segala beban keperihan."


..." Pelangi Hanani 🌹"...


Hana merasa suara pria tidak asing di telinganya.


Suara itu bahkan sangat ia kenali.


" Arga." Batinnya.


Hana, menoleh ke asal suara.


Satu ekspresi wajah Hana saat ini, terkejut dengan pemandangan di hadapannya.


Pria itu tersenyum padanya dengan sebungkus Coklatnya.


" Arga, kamu !! Pikirannya mulai menerka bagaimana bisa Arga berada di sini.


" Bingung ya ? Tanyanya yang di balas anggukkan oleh Hana.


" Tau gak kenapa belakangan ini aku sering hilang ? " Bukannya menjawab, ia mala justru menanyakan hal baru pada Hana.


Hana menggeleng, tak dapat lagi bersuara.


Sebab, masih syok melihat Arga.


" Itu karena aku sibuk mengurus liburan aku ke Indo, ya Paspor, Visa, dan lainnya." Jawabnya.


Benar saja, selama beberapa hari ini Anugrah bukanlah sibuk mengurus Terengganu atau Penang, melainkan dirinya tengah sibuk mempersiapkan keberangkatannya ke Indo.


Ia sengaja tidak menjawab pertanyaan Ranti dan Sanju di taman waktu itu, karena dia masih gengsi untuk berbaikan pada Hana.


Hana mengerutkan keningnya, bukannya pria di hadapannya ini mengatakan bahwa dia tidak jadi ke Indonesia, kenapa sekarang mala sudah mendarat di sini.


" Katanya gak jadi ke Indo !! Tapi sekarang kok mala ke sini ? Dasar pembohong !! Ketus Hana padanya.


Arga ikut terduduk bersama Hana." Kapan ? Emang ada ?


" Eehhh aad...


Hana tengah berpikir mengingat-ingat kejadian waktu ia mengajak Arga kembali.


Sedetik, dua detik sampai bepuluh detik Hana mengingat kalimat bahwa Arga tidak jadi ke Indonesia.


Namun, tak kunjung menemukannya.


" Hm, kemarin yang di taman kami tanya,


kamukan gak jawab !! Itu artinya kamu gak jadi berangkatnya." Hana tidak ingin kalah darinya.


Arga terkekeh kecil." Yang pastinya aku gak bohongkan."


Hana menyebikkan bibirnya, merasa kesal meski Arga memang benar..


" Nih coklatnya." Hana menggeleng sembari menyerka air matanya.


Arga terhenyak melihat Hana sampai menangis seperti ini, di lantai bandara hanya karena kepergian Anugrah.


" Apa sedalam itu perasaan Hana pada Anugrah ? " Pikirnya.


Hiks...hiks...hikss..


" Anugrah udah pergi jauh, Ga..


Kasihan, dia harus hidup dalam keterpaksaan, dia selalu saja terkekang, tak ada kebebasan yang berpihak padanya." Kata-kata itu terlontar dari bibir Hana bercampur aduk dengan suara tangisannya.


Arga tak tau harus melakukan apa, kalau saja Hana halal untuknya, saat ini juga ia ingin mendekap erat gadis itu untuk menyalurkan kehangatan.


Atau bahkan mengorbankan bahunya menjadi sandaran untuk Hana.


" Han, aku bahkan tak mampu melihat sesetes cairan bening mengalir dari sudut matamu. Jangan seperti ini Han..."


Seketika Hana tertegun mendengar kalimat itu terlontar dari mulut Arga..


Hana menatap tak percaya pada Arga.


Begitu juga dengan Arga ia menatap intens Hana.


Kini mereka saling menatap satu sama lain,


Arga menerbitkan senyum manisnya.


" Kau tau Han ?


Kalau saja aku halal untukmu..


Maka bukan hanya telinga yang aku pinjamkan untuk mendengarkan kepiluhanmu, melainkan aku juga akan pinjamkan bahuku untukmu menyandarkan segala beban keperihan." Ucap Arga dengan tulus pada Hana.


Jantung Hana kini berdetak tak karuan, tubuhnya seakan-akan tersengat listrik yang membuat aliran darah berhenti mengalir..


Please Arga !! Jangan buat jantungku lepas dari tempatnya..


Jujur saja Hana sangat senang mendengar perkataan manis itu terucap dari mulut Arga.


Namun, Hana kembali teringat bahwa pria di depannya ini perubahan moodnya sangat cepat berganti..


Sebentar lagi juga dia akan meledek Hana.


Bersikap cuek padanya.


Hana menyinggungkan senyumnya..


Dan mengalihkan pandangannya pada yang lain.


" Buaya !! Lontar Hana membuat Arga melotot sempurna.


" Jangan ngacok deh, mana ada buaya di Bandara." Alibi Arga yang sebenarnya tau maksud Hana.


" Ada !! Di sebelah aku." Ketusnya.


" Aku lebih suka panggilan pohon pisang dari kamu, atau Arga patung, atau juga Arga kutub."


Hana tak menggubris perkataan Arga, pandangannya tetap lurus pada area penerbangan..


Arga mengikuti arah pandangan Hana.


Ya, Arga tau saat ini hanya ada Anugrah dalam benak Hana.


Meski rasanya sakit, Arga mencoba untuk berpura-pura baik-baik saja.


" Luapkan semua kesesakan didadamu !!


Jangan dibendung, menangislah..


Tapi satu hal yang kamu perlu tau, bahwa perpisahan diantara kalian hanyalah sebuah kepergian bukan kematian." Ujar Arga pada Hana.


Jlebb... Mendengar kata-kata Arga itu membuat Hana seperti tertampar keras, benar saja kenapa bisa Hana sampai menangis sesenggukan seperti ini di tempat umum lagi.


Memalukan !!


Menyedihkan !!


Dasar Hana bodoh !! " Upat Hana dalam hatinya.


Dengan cepat Hana menyerka air matanya, kemudian mengatur nafasnya kembali.


Arga tersenyum melihat Hana mendengarkan perkataannya.


" Sakitkan ?? Itu baru kepergian gimana kematian." Ya, tentu saja Arga bahkan pernah mengalami titik terberat itu.


Hana terhenyak mendengar perkataan Arga, ia tau bahwa Arga pernah mengalami perpisahan sebuah kematian.


Arga mengingat kembali kejadian yang tengah menimpa Jihan, sebelum kematiannya.

__ADS_1


Dada Arga terasa sesak, hatinya seperti tercabik-cabik, seperti tertusuk berulang-ulang oleh belatih..


Mata Arga mulai membendung cairan hangat, yang bahkan hanya sekali kedipan bisa tertumpah ruah..


Hana yang melihat Arga seperti itu, merasakan bahwa sedingin-dinginnya Arga.


Sekuat-kuatnya Arga di hadapan musuhnya..


Justru Argalah yang banyak mengubur luka pada dirinya..


Sempat di benci ayahnya karena sebuah kesalahpahaman..


Sampai tak diinginkan kehadirannya oleh ayahnya..


Kehilangan sahabat.


Sekaligus cinta pertamanya..


Bukankah itu luka yang cukup dalam ?


Ingin sekali Hana merangkul tubuh itu, ingin sekali Hana memberikan kehangatan dalam bentuk pelukan untuk pria yang selalu membuatnya kesal itu..


Namun, Hana sadar bahwa dirinya bukanlah seseorang yang halal untuk Arga..


" Arga, if you want to get something..


You must lost something..


La tahzan, innallaha ma' ana." Ucap Hana mencoba menguatkan Arga.


Membuatmu Arga mengedipkan matanya..


Benar saja, buliran-buliran hangat menetes dari matanya yang sejak tadi ia tahan.


Hekss...heh..heehh..


" Jihan..


Jihan maafkan aku belum bisa membuktikan dirimu dan keluargamu tidak bersalah.."


Hana terdiam membisu mendengar nama Jihan yang Arga sebutkan..


Ia tau bahwa tak seorangpun bisa menggeser posisi Jihan di hati Arga..


" Han, sadarlah !! Jangan berharap lebih.


Nanti kau yang akan tersakiti.." Batin Hana.


" Kau Ga ? Ada hal yang paling menyakitkan dalam bab kehilangan.


Ya, kehilangan kepercayaan Allah." Kata Hana yang berhasil mencoblos relung hati Arga.


Arga tersadar bahwa ia sudah terlampau jauh dalam bab mencintai, sampai sangat sulit untuknya menerima kenyataan bahwa yang ia cintai telah lama pergi dari dunia ini.


Arga menyerka air matanya, dan tak ingin ada sisa sedikitpun.


Ya, serasa dunia milik mereka berdua.


Tanpa malu mereka menangis di bandara..


Tak memperdulikan orang-orang yang berlalu-lalang di Bandara..


Dan juga tak peduli dengan banyaknya sorotan mata yang mengekspos mereka.


Mungkin banyak orang yang mengira bahwa mereka sepasang kekasih, yang akan berpisah jauh nantinya.


Oleh karenanya mereka berdua menangis secara bergantian. . .


" Ga, doakan yang terbaik untuk Jihan.


Dan teruslah berusaha untuk menyakinkan dunia bahwa Jihan dan keluarganya tidak bersalah..


Mana ni Arga yang katanya kuat ?


Mana ni Arga yang selalu percaya diri bisa mengalahkan ribuan penjahat ?


Rindu ni di remehin sama dia." Ucap Hana dengan tawa kecilnya..


Arga ikut tertawa mendengar perkataan Hana.. Benar saja Arga yang biasanya selalu mengagungkan kepandaiannya dalam bela diri, kini justru menangis karena seorang wanita.


" He-he-he..


Terima kasih Han, seharusnya aku yang berusaha menguatkanmu. Eh ini mala kebalik justru kamu yang berusaha menguatkan aku."


Ujar Arga dengan senyuman.


" Its no problem..


Don't worry !! Kitakan teman." Kata Hana dengan deretan giginya.


Arga mengangguk." Teman." Meski hatinya telah menyimpan rasa pada Hana.


Bukh.. Tiba-tiba ada seorang perempuan melayangkan bantal leher pada Hana.


Membuat Hana dan Arga terkejut.


" Aduh, siapa sih yang ngelempar ini ?


Gila tu orang." Upat Hana.


" Eh tunggu Han, itu bukannya bantal leher punya kamu ya ?


Hana melirik bantal leher itu.


Benar itu punya Hana..


Hana bisa menebak siapa yang melemparkan itu padanya.


" Rantiiii...." Teriak Hana.


Ya, siapa lagi kalau bukan sepupunya itu.


Hana melihat sekelilingnya untuk mencari keberadaan Ranti, tanpa sepenuhnya Hana mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya.


Sepupunya itu sudah hadir di sebelahnya.


" Apa ? Kata Ranti dengan kesal..


Dengan cepat Hana memukulkan bantal itu pada Ranti..


Bukhh... " Rasakan !!


" Ha-ha-ha."


Arga tertawa lepas melihat kedua gadis yang berstatus sepupu itu..


Konyol..


sangat konyol, berantam di Bandara cekh..


Ranti meraih bantal leher itu." Habis kamu nyebelin sih. Main pergi aja, capek tau gak nyari kamu !!


Aku itu udah kek orang gila nyariin kamu kesana-kemari..


Aku khawatir kamu kenapa-kenapa Han." Jujur Ranti pada Hana.


Hana langsung menghamburkan tubuhnya pada Ranti, memberikan pelukan terhangat untuk sepupu terbaiknya.


" Maaf telah membuatmu khawatir, dan terima kasih telah mengkhawatirkan aku." Hana bersyukur memiliki sepupunya seperti Ranti, meski terkadang menjengkelkan tapi Hana tau bahwa Ranti sangat menyayanginya.


Ranti membalas pelukannya." Maaf untuk layangan bantalnya." Ucapnya yang mengundang tawa di antara mereka.


Arga tersenyum." Boleh ikutan meluk gak ? Candanya.

__ADS_1


" Gak !! Dengan serentak Hana dan Ranti menolak.


" Hehe, fix canda doang."


Kehangatan menyelimuti mereka bertiga,


selesai tangis, tebitlah tawa.


Seusai kesedihan, bermula lah kebahagiaan.


Semuanya telah terkemas rapi olehNya.


Boleh saja kita bersedih karena kehilangan, namun jangan sampai berlarut-larut..


Sebab dalam kehilangan, hal yang paling menyakitkan adalah ketika kita kehilangan kepercayaan Allah.


Allah yang maha segalanya..


Yang mempunyai kekuasaan langit dan bumi.


Kalau kita sudah kehilangan kepercayaan Allah ? Lantas hendak kemana lagi kita mengaduhkan segala kesesakan di dada.


Hendak kemana lagi kita meminta pertolongan ?


Tak apa kita kehilangan seseorang, asal kita menemukan Allah.


Indah bukan ?


Seusai mereka meluapkan segala kesesakan di dada. Mereka memutuskan untuk pulang ke kampung halaman Hana, menggunakan jasa travel.


" Han, kita naik travel aja ya ke Labuhan batu." Ujar Ranti.


" Hm, gak naik kereta api aja ? Usul Arga.


" Hm, kayaknya naik Travel aja deh, biar gak ribet. Kalau naik kereta apikan ribet ngurus tiketnya." Kali ini Hana membuka suara.


" Iya benar juga kata Hana." Susul Ranti.


Argapun sepemikiran dengan mereka.


" Yaudah buruan, pesan Taxi travelnya." Kata Arga pada Hana.


Ranti yang baru menyadari keberadaan Arga, langsung diselimuti banyak pertanyaan di jidatnya.


" Eh tunggu, kok Arga bisa disini ha ?


Arga tersenyum sinis." Iyalah, Arga mau kemana aja bisa."


Ranti dan Hana menaikkan sebelah mulutnya.


Merasa malas menanggapi kesombongan pria ini. " Kejap sombong, kejap kutub, kejap hangat. Apelah !! Ujar Ranti.


Hana manggut-manggut setuju dengan perkataan Ranti.


Sementara Arga hanya mengedikkan bahunya. Merasa tak peduli dengan cibiran mereka.


" Udah deh, buruan pesan Taxinya." Ujar Arga.


Dengan malas Hanapun, memesan Taxi travel untuk mereka..


Seusai memesan Taxi travel mereka memutuskan beristirahat di sebuah Caffe sekitar dekat Bandara.


Waktu sudah semakin gelap, matahari pun mulai menggelap.


Sang Senjapun tiba dilangit sore..


Ada ketenangan yang didapatkan saat memandanginya.


Ya, Senja menyatukan dua perbedaan.


Senja menjadi penghujung hari sekaligus pengawal malam.


Namun, ada kalanya perbedaan mengubah cinta menjadi luka.


Ya, terkadang ada lingkar perbedaan yang sangat sulit untuk disatukan.


Hana, Ranti, dan Arga memutuskan menikmati senja di Caffe yang mereka kunjungi. Sembari menunggu datangnya Taxi pesanan mereka.


" Indah ya." Ujar Hana.


" Ya, indah sekali Han." Susul Ranti yang juga menatap senja kala sore itu.


Arga tersenyum." Selayaknya senja yang menyatukan dua perbedaan, antara hari dengan malam.


Hebatkan bukan ?


Hana tersenyum mendengar perkataan Arga.


" Benar, bukan seperti air dan minyak yang tak dapat menyatu." Perkataan Hana seolah-olah membuat hati Arga tergores.


Apa Hana mengatakan hal itu, tidak lain dan tidak bukan. Bertujuan untuk menyadarkan Arga bahwa dirinya dengan Hana tak dapat menyatu.


Entahlah, Arga tak tau pasti apa maksud dari perkataan Hana itu.


Satu hal yang saat ini tengah ia usahakan.


Ingin mengikis perasaannya pada Hana.


Sebab, ia tau semakin dalam perasaanya pada Hana. Akan semakin dalam pula luka yang dia rasakan.


Waktu memasuki magribh.


Adzan Maghribpun berkumandang..


Membuatmu umat Islam meninggalkan segala aktivitasnya.


Hana, Ranti dan Arga memutuskan untuk mencari Masjid terdekat dari keberadaan mereka.


Ya, mereka sedikit merasa lucu dengan barang bawaan mereka.


Bukan sedikit yang mereka bawa, ada koper berisi, ada juga tas selempang.


Serta bungkusan oleh-oleh yang mereka bawak.


" Gini amat ya pulang kampung." Keluh Ranti dengan barang bawaannya.


Hana tertawa melihatnya." Udah nikmatin aja."


Arga juga ikut tertawa, bukan hanya menertawakan mereka berdua tetapi juga dirinya. Yang juga sama-sama memiliki beban barang yang cukup banyak.


Kalau bisa dibilang sih, persiapan mereka selayaknya persiapan tinggal setahun di Indonesia wkwk.


Sesampai di Masjid merekapun memasukkan barang-barangnya ke dalam masjid.


Bukannya apa-apa, meski bawaan mereka bukan merupakan bongkahan berlian.


Namun, menjaganya juga perlu diperhatikan.


Ini untuk pertama kalinya, Arga ke daerah Sumatera Utara.


Sebab, kalau Arga liburan ke Indonesia.


Tujuannya bukanlah Sumatera Utara, melainkan Wilayah DKI Jakarta, Jabar, dan juga terkahir ia liburan di Indonesia di daerah Lombok...


Arga tersenyum merasa kagum, ternyata suara Imam masjid yang mereka datangin, tidak kalah jauh dari suaranya.


Merdu, bahkan iramanya sangat terdengar sejuk di telinga.


Bahkan jika dilihat dari fisik, imam sholat Maghrib mereka di Masjid itu tampak tak jauh dari usia Arga..


Arga semakin tertarik dengan wilayah Sumatera Utara ini.


Sevimli 4 Januari 2021

__ADS_1


Salam hangat dari Author 🌹


__ADS_2