Pelangi Hanani

Pelangi Hanani
Part 128 Bertemu dengan Hafga


__ADS_3

" Tidak ada yang salah dalam mempercayai seorang ayah, namun kita juga perlu menyelidiki kepercayaan tersebut."


..... " Pelangi Hanani 🌹".....


Goresan sandykala telah mewarnai cakrawala.


Gemahan takbir dari Masjidil Aqsha terdengar begitu syahdu di telinga.


Dua pemuda dengan paras rupawan nya, tengah berjalan menuju pintu gerbang Masjidil Aqsha.


" Nug !" panggil


Anugrah menoleh pada Fian.


" Lo mau ikutan salat ?" tanya Fian.


" Iyaa, meski aku belum syahadat." jawab Anugrah.


Belum syahadat ?


Benar.


Meski Anugrah sudah hampir dua bulan tinggal di Masjidil Aqsha, ia belum kunjung mengucapkan kalimat syahadat.


Entah apa yang sedang ia tunggu.


Entah apa hal yang membuatnya sampai menunda keislamannya.


Setelah selesai berwudhu


mereka pun segera memasuki Masjid, dan mengambil posisi di saf yang kosong.


Kalimat takbir yang berkumandang dari lisan iman, selaras dengan bunyian tembakan dari zionisme Israel.


Duarrrr !!


Duarrr !!


Meski suara hantaman yang mengancam nyawa itu terdengar pilu di telinga para jamaah salat isya. Mereka tetap khusyuk melaksanakannya.


Seusia salat berjamaah.


Anugrah dan Fian, kembali pulang ke tempat pengungsian.


Anugrah terduduk di kursi teras rumah abah Ahmad. Menatap tinggi menara Aqsha yang menjulang tinggi mencakar langit.


Netra coklatnya tengah menumpuk cairan bening, rasa haru dan sendu berpadu dalam hatinya.


" Kopi Nug !" ujar Fian, membawa dua cangkir kopi buatannya.


Anugrah menoleh dan meraih cangkir yang berisikan kopi pemberian Fian.


" Thanks, Yan." ucapnya.


Haapss...


Secara bersamaan kedua pemuda itu meminum kopinya.


" Nug !


Mau sampai kapan lo kayak gini ?" tanya Fian, keningnya berkerut.


" Gini gimana ?" tanya Anugrah, balik.


" Hm, lo sadar ga sih Nug ?


Lo ibadah terus tapi, lo belum ngucap kalimat syahadat, Nug."


Anugrah tersenyum simpul.


Benar saja, sudah sejauh ini mulutnya belum kunjung bersyahadat.


Bukan karena ia tak lancar untuk melafadzkannya, bahkan bisa jadi sangat lancar.


Namun, entah apa yang terjadi.


Sampai membuat ia, memutuskan hal ini.


" Gua bakalan syahadat kok sebelum detik kematian gua, tenang aja." jawab Anugrah.


" Hm, serah lo deh Nug !"


Fian pun melangkah keluar Masjid, disusul oleh Anugrah di belakangnya.


Namun, sebelum langkah ketiga mereka melangkah.


Dorrt...


Tembakan dari zionis Israel terdengar dekat dengan keberadaan mereka.


" Dih !


Gila, hampir aja." pekik Fian, terkejut.


Sementara Anugrah langsung berlari keluar.


Pandangannya tertuju pada sosok anak lelaki yang sedang bersembunyi dibalik tong besar untuk menghindari serangan Israel.


" Wey Nug !


Lo mau kemana ?" tanya Fian, ia pun segera menyusul Anugrah.


Anugrah mendekati anak lelaki itu.


" Dik !" panggil Anugrah.


Anak lelaki itu menoleh pada Anugrah.


Matanya berkaca-kaca, tangannya gemetaran hebat tengah di selimuti rasa ketakutan.


" Nug !" panggil Fian.


Anugrah berjongkok di hadapannya.


Menyentuh kepala anak lelaki itu.


Fian melihat Anugrah bersama dengan anak lelaki itu, ikut mendekat.


" Jangan takut ya !


Allah selalu melindungi hambaNya." ujar Anugrah.


Anak lelaki mengangguk pelan, seraya menggenggam tangan Anugrah.


Anugrah bisa merasakan getaran hebat pada genggaman tangan itu.


" Biar kakak antar pulang, ya." ujar Anugrah dengan senyuman.


" Rumah kamu sebelah mana ?" tanya Fian.


Anak lelaki itu menunjukkan ke arah selatan dari tempat mereka berdiri.


" Kamu masih bisa berdiri ?" tanya Anugrah, anak lelaki itu mengangguk.


" Ya sudah, mari."


Anugrah tidak melepaskan genggaman tangannya pada anak lelaki itu, ia mensejajarkan langkah mereka. Begitu juga dengan Fian, ia ikut melangkah di samping mereka.


Anugrah dan Fian pun melangkah menuju ke tempat yang di tunjukkan oleh anak lelaki itu.


...🍂🍂🍂...


• Mesir


Arga dan Rayhan sudah berada di Alexandria, Mesir.


Tengah mencari keberadaan Trixtal Bar, berharap segera mungkin bertemu dengan Hana.


" Ray !" panggil Arga.


" Iya, gua udah liat lokasinya.


Sekitar lima jam dari sini."


" Lama juga, ya."


" Ya, gitu deh."


" Yaudah deh, buruan gerak jangan buang-buang waktu."


Arga melangkah menuju mobilnya.


Rayhan yang ditinggal pun mengejar langkah Arga.


" Main tinggal aja, ni orang." upat Rayhan.

__ADS_1


Sementara sosok yang mereka cari, kini tengah sibuk membersihkan pekarangan Trixtal Bar.


" Mbak !" panggil Hana.


Hisya menoleh padanya." Ada apa ?"


Hana pun meletakkan teko air diatas meja Taman. Kemudian mendekati Hisya, yang sedang sibuk mengguntingi rerumputan.


" Kita kabur, yuk !" ajak Hana.


Mata Hisya melotot sempurna, terkejut mendengar ajakan Hana.


Petakkk..


Hisya memukul pelan kepala Hana.


" Kau pikir semudah itu." ketusnya.


" Hana gak mau lagi mbak ngawani si tua bangka itu main judi, bau alkohol mbak !" curahan hati Hana.


Benar saja.


Sudah beberapa kali, Hana menemani Emrin bermain judi bersama teman-temannya.


Bahkan Emrin sudah beberapa kali, hampir menodai Hana, beruntung Hana bisa menghindari nya.


Hisya tersenyum tipis, mendengarkan curahan hati Hana.


" Baru segitu saja kau sudah mengeluh.


Bagaimana dengan aku ?" sindir Hisya.


Hana terdiam sejenak, menatap gadis yang berada di hadapannya.


" Mbak !"


" Dimana Tuhan mu ?


Kenapa Dia tidak menolong dirimu ?"


Ha ? Hana terkejut dengan Hisya.


Lagi dan lagi Hisya selalu menyalahkan Tuhan dalam takdir yang sedang mereka jalani.


Hana meraih tangan Hisya dan menggenggamnya.


" Mau sampai kapan mbak membenci Tuhan mbak ? Mau sampai kapan mbak terus menerus menyalahkan Tuhan atas takdir yang mbak jalani ?"


Hisya kembali tersenyum tipis menanggapi perkataan Hana.


" Selamanya." ucapnya, kemudian menghempaskan tangan Hana, agar lepas dari tangannya.


" Astaghfirullah, mbak !" pekik Hana terkejut.


" Percayalah mbak !


Kita punya porsi ujian hidup masing-masing, mbak, hanya saja skenario jalan takdir kita yang berbeda halaman, mbak." ucap Hana sedikit berteriak.


Hisya pun melangkah pergi meninggalkan Hana menuju dapur. Hana tak tinggal diam, ia pergi menyusul Hisya.


" Mbak !" panggil Hana berteriak.


" Jangan pernah membenci Tuhan, mbak."


" Mbak !" Hisya tak menghiraukan panggilan Hana.


Tiba-tiba saja.


Hana merasa ada yang mengikuti langkahnya dari belakang.


Hana pun membalikkan badannya, memeriksa siapa yang mengikutinya.


" Gak ada.


Tapi, aku merasa ada yang mengikuti langkahku."


Hana pun mulai berjaga-jaga, dan terus berhati-hati. Setelah memastikan tidak ada yang mengikutinya, Hana kembali melajukan langkahnya.


" Siapa gadis cantik itu ?" ucap seorang pria yang bersembunyi di balik tiang pondasi Trixtal Bar.


Karena penasaran, ia pun berlari mengikuti langkah Hana.


Hana kembali merasa ada yang mengikuti langkahnya. Semakin membuatnya penasaran akan sosok yang mengikutinya.


" Aku harus tau siapa yang mengikutiku."


Hana pun tersenyum tipis, dan mulai menjalankan apa yang ada di kepalanya.


Hana berjalan menuju toilet perempuan, dan pria itu masih mengikuti langkah Hana.


Hana pun masuk ke dalam toilet.


Dan menutup pintunya.


Gubrak..


" Sit !


Dia ke toilet lagi."


" Eh mas Hafga." ucap salah satu wanita yang baru keluar dari toilet.


Pria yang mengikuti Hana dibuat terkejut dengan wanita itu.


" Mas Hafga, ngapain disini ?" tanya wanita ini, seraya menatap Hafga dengan intimidasi.


" Eeee itu.." Hafga, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, merasa bingung harus menjawab apa.


" Mau ngintip ya ?"


Dasar anak bapak sama aja !" ketus wanita ini.


Mata Hafga terbelalak mendengar tuduhan yang tidak beralasan dari wanita ini.


" Anak sama bapak sama aja ?


Maksudnya ?" Hafga mulai bingung.


" Maksud mbak apa, ya ?"


" Udahlah, gak usah pura-pura gak tau."


" Gila lo !"


" Gua kesini ngiku--- "


Hafga menjeda ucapannya, kalau dia memberitahu bahwa dia tengah menguntit seorang wanita, bisa-bisa dia ketahuan.


" Hm, yaudah mas.


Dari pada ngintip gini, mending mas sewa perempuan aja buat memenuhi *****, mas itu."


Setelah mengucapkan perkataan pedas itu, wanita ini pergi meninggalkan Hafga.


" Anjir !


Dikira gua penjahat kelamin apa."


" Woy !


Gua masih perjaka kali, gua gak bakal mau ngesex sebelum nikah." teriak Hafga, tidak terima dengan perkataan wanita itu.


Hana yang berada dalam toilet pun mulai menyadari sesuatu.


" Hafga ?


Apa mungkin ini yang dimaksud bi Lasmi anak dari Emrin." tebak Hana.


" Dia berbeda dengan ayahnya.


Ayahnya b*jingan, anaknya ternyata manusia punya otak." ucap Hana.


Setelah mengetahui bahwa Hafga bukanlah pria haus ***, Hana pun memberanikan diri untuk keluar dari toilet.


Ceklek..


Pintu toilet terbuka.


Hafga yang panik, segera mencari tempat untuk bisa bersembunyi.


Hana yang menyadari akan hal itu pun, tersenyum tipis.


" Gak usah sembunyi !


Saya tau kamu ngikutin saya, kan ?"

__ADS_1


" Mampus !


Ni cewek ternyata sadar kalau gua ikutin."


" Udahlah, keluar aja !


Kayak main petak umpet aja."


Akhirnya, Hafga pun keluar dari persembunyiannya, dan memberanikan diri untuk berhadapan dengan Hana.


Pandangan mereka kini, bertemu.


Senyuman yang Hana layangkan, berhasil membuat degupan kencang di dada Hafga.


" Mampus !


Jantung gua mau copot rasanya." batin Hafga.


Hana menangkupkan tangannya.


" Hanani Syaufa, panggil aja Hana." ucapnya memperkenalkan diri.


Hafga terkejut, tidak menyangka bahwa gadis yang berada di hadapannya seramah ini.


" Hafga Omar." ia juga memperkenalkan dirinya.


Hana kembali memposisikan tangannya normal.


" Kamu anaknya tuan Emrin ?" tanya Hana.


Hafga mengangguk." Iya, bener." jawabnya.


" Kamu tau apa yang sedang ayahmu perbuat di bangunan besar ini ?" tanya Hana lagi.


Hafga mengangguk." Ayahku sedang menjalankan bisnis perhotelan nya, disini." jawabnya.


" Perhotelan ?" ulang Hana, Hafga mengangguk.


" Ternyata anaknya tidak tau menahu apa yang sedang ayahnya perbuat."


" Lo nginap disini ?" tanya Hafga.


" Kamu beneran gak tau ini tempat apa ?" bukannya menjawab, Hana justru bertanya.


" Beneran gak tau apa sih ?


Kan gua udah ngomong kalau ayah gua disini lagi menjalankan bisnis perhotelan nya, ya ini hotel lah."


Hana tersenyum tipis, mendengar jawaban Hafga yang masih kekeuh dengan jawaban yang sebenarnya salah itu.


" Coba sesekali kamu search di google.


Trixtal Bar itu tempat apa, biar kamu tau apa yang terjadi di tempat ini." ucap Hana dengan tegas padanya.


" Bokap gua gak ngizinin gua ngorek-ngorek informasi Trixtal Bar." ungkap Hafga, jujur.


" Nggak boleh ?" tanya Hana, Hafga mengangguk.


" Pantesan kamu gak tau tempat ini sebenarnya. Dan lebih anehnya kamu gak penasaran dengan apa yang terjadi di tempat ini. Dan atas alasan apa ayahmu tidak memperbolehkan mu mencari informasi terkait Trixtal Bar, ini."


" Gua gak pernah meragukan ayah gua.


Gua percaya kok semua yang dia ucapkan ke gua adalah perkataan jujur."


Hana salut dengan Hafga, yang mempercayai seorang ayah sekuat itu. Namun sayangnya, ayahnya sedang tidak jujur padanya.


" Aku salut denganmu.


Memang seperti itulah seharusnya seorang anak." Hafga mengangguk setuju dengan Hana.


" Tapi sayangnya, ayahmu sedang tidak jujur padamu dan tengah menyembunyikan sesuatu yang besar padamu." lanjut Hana.


Hana pun tersenyum, tiga detik kemudian ia melangkah meninggalkan Hafga.


" Maksud lo apa ?


Ayah gua pernah nyembunyiin hal sekecil apapun dari gua. Jangan fitnah lo !" teriaknya tidak terima dengan Hana.


Hana terus berjalan menuju kamar tempat ia tinggal. Namun, belum sampai sana Hana ditarik oleh dua pria berotot secara paksa dan kasar.


" Ikut kami."


" Lepasin !


Beraninya kalian menyentuhku !"


" Diam kau !"


" Kau yang diam !


Singkirkan tangan kalian dari ku!" teriak Hana, mulai diselimuti amarah.


Tak punya pilihan lain, salah satu pria berotot itu pun menyumpal mulut Hana dengan serbet.


Berhasil membuat Hana tidak berteriak lagi.


" Emmmmm...."


" Makanya jadi anak gadis itu jangan sok kuat.


Merasa paling pemberani, melawan tuan Emrin.


Kamu itu cuma gadis kecil, nak !"


Hana melototkan matanya, menatap tajam pria berotot yang sedang mentertawakannya.


" Emmmmm.." hanya terdengar suara itu dari mulut Hana yang tersumpal.


Dengan sekuat tenaga Hana menahan dirinya, untuk tidak bisa ditarik oleh kedua pria berotot itu.


" Kau mau kami berlaku lembut atau kasar ?


Kalau mau lembut kau harus lemaskan badanmu, jika tidak tetaplah seperti ini, dan kami akan menggeret mu secara kasar."


Hana tetap menahan dirinya dengan sekuat tenaga, agar kedua pria berotot ini tidak dapat membawanya.


" Oke.


Ini pilihanmu."


Kedua pria itu pun menyeret Hana secara paksa bahkan juga tak memperdulikan tubuh Hana.


" Emmmmmm.."


Baru separuh perjalanan, Hana merasakan sakit di sekujur tubuhnya yang terseret kasar di lantai.


" Ya Allah, kuatkan hamba." batin Hana.


Hana yang merasakan sakit pada tubuhnya terus beristighfar dalam hatinya seraya meminta pertolongan Allah.


Sementara kedua pria berotot ini, tertawa diatas penderitaan Hana.


Ting..


Sebuah notifikasi masuk ke dalam ponsel salah satu dari mereka.


Pria itu pun membukanya.


Dan ternyata ada sebuah pesan dari Emrin.


" Apa yang tuan bilang ?"


" Kata tuan seret gadis ini mengeluarkan Trixtal Bar." jawab pria yang memegang ponsel.


Hana terkejut mendengarnya, ini saja rasanya badannya sudah remuk, apalagi sampai mengelilingi bangunan ini. Bisa jadi, badannya lumpuh.


" Emmmm.." mata Hana mulai berkaca-kaca, tengah memohon kepada kedua pria berotot itu, untuk tidak melakukan hal itu.


Kedua pria itu pun menatap Hana,terbesit rasa iba di hati mereka.


" Kasihan juga dia bro."


" Udahlah, dari pada kita di pecat."


Mereka pun melaksanakan tugas sesuai instruksi Emrin.


Hana hanya bisa pasrah dengan keadaan.


Berharap ada pertolongan yang datang.


Bersambung.


Sevimli, 5 November 2021


Salam hangat dari Author

__ADS_1


__ADS_2