
" Sebab kebobrokan dari seseoranglah yang bakal paling kita ingat ketika semuanya hanya tinggal menjadi kenangan."
....... " Pelangi Hanani 🌹"........
Arga menyambar jaket silvernya dan meraih kunci motornya. Dia ingin menemani Hana pulang dari Rumah Sakit.
Ia berlari dengan cepat, ia sudah tidak sabaran menyambut Hana pulang. Dan tak lupa, dia sudah siapkan tiga bungkus Silverqueen favorit Hana.
" Hana, Iam Coming." Ucapnya sembari tersenyum.
Sudah menaiki motor sport miliknya. Tiba-tiba saja Handphone Arga berdering.
" Aywafikum minnina." Nada dering Arga.
Arga merogoh kantung celananya. Kemudian meraih Handphonenya.
Terteralah di layarnya ada panggilan dari Afnan.
" Afnan." Ucap Arga.
Ia mengangkat panggilan dari Afnan.
" Assalamu'alaikum, ada apa Afnan call abang ? Tanya Arga.
" Waalaikumussalam, bang Afnan call abang sebab keadaan kat sini kacau !! Ada beberapa pengacau dari Penang yang datang." Ujar Afnan.
" Bang cepatan kesini ya !! Tak de yang bisa tolong kami selain abang." Sambung Afnan dengan nada memohon.
" Ya, ya insya Allah tunggu kejap, abang dah nak melaju kat sana. Tolong jaga kakek ya Afnan. Jangan takut ada abang yang bakal tuntaskan semua." Ucap Arga menenangkan Afnan.
" Iye, abang hati-hati assalamu'alaikum."
" Iye, waalaikumussalam." Tutup Arga.
Arga mengeraskan rahangnya, ia tau betul ini ulah siapa. Ya, ulah siapa lagi kalau bukan Andrea.
" Berengsek kau Andrea." Maki Arga.
Ia, segera melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Yang ia inginkan saat ini sampai di Terengganu dengan cepat, agar bisa menghajar habis-habisan Andrea.
Bahkan ia lupa, tujuan awalnya yang tak ingin ketinggalan untuk menemani Hana pulang dari Rumah Sakit.
Namun, pikirannya kini hanya tertuju pada Terengganu yang keadaan kota itu sedang di ubrak-abrik Andrea.
Beberapa bungkus coklat yang telah ia beri pita tadi, tanpa sadar telah tercecer di halaman Istana.
Arga terus menerobos jalan, ia tak peduli mau itu lampu merah.
Untung saja police tidak ada. Kalau ada bisa-bisa Arga kena pasal.
Di tempat lain, ada sosok perempuan yang menantikan kedatangannya.
Berharap Arga datang dengan membawa coklat kesukaannya.
" Han, ayuk kita balik." Ujar Ranti.
" Ah, tunggu lima menit lagi ya Ran." Ucap Hana yang masih saja berharap Arga akan datang.
" Hm, iyelah." Kesal Ranti.
Akhirnya mereka menunggu selama lima menit sesuai permintaan Hana.
" Han, kamu nungguin Arga ya ? Tanya Ranti.
Hana mengangguk iya.
" Udahlah Han, kalaupun Arga gak kesini mungkin dia sibuk, dan entar di Istana kamu bakalan bisa ketemu dia." Ucap Ranti.
Hana tidak menjawab, ia memilih untuk diam sembari terus menunggu.
" Han kita mau nunggu sampai kapan ? Bahkan ini kita nunggu hal yang gak pasti sudah setengah jam." Kata Ranti sedikit kesal dengan Hana.
Hana menghembuskan nafasnya, memejamkan sejenak matanya.
" Huu, ayo kita pulang." Hana menyerah.
" Dari tadi kek." Ketus Ranti.
" Hm, maaf deh." Kata Hana.
" Kita pulang sekarang ? Tanya Izaz.
" Iya bang, yok berangkat." Jawab Hana.
Mereka akhirnya bergegas menuju keluar.
Izaz langsung menuju parkiran, mengambil mobilnya.
Hana masih saja melihat ke sekitar keliling Rumah Sakit, berharap Arga berada di sana.
" Han, udah deh jangan kayak gini !! Entar juga bakal ketemu Arga di rumah." Ujar Ranti membuyarkan pandangan Hana.
Hana tersentak kaget sekaligus malu dengan perkataan Ranti, bisa-bisa Izaz dan Rayhan salah paham lagi.
" Ranti !! " Pekik Hana.
Ranti tertawa berhasil menggoda Hana, sementara Hana memanyunkan mulutnya merasa kesal dengan Ranti.
Tiba-tiba saja Izaz menghampiri Hana dan memberikannya sebungkus Coklat.
" Nungguin Arga ya." Ucapnya tiba-tiba.
" Astaghfirullah, bang Izaz bikin kaget aja." Ucap Hana yang moodnya semakin buruk, di akibatkan tingkah aneh temannya di hari ini.
" Gak ah, siapa juga yang nungguin dia." Hindar Hana.
" Hm, iya ke ? Nah ambik ni, suka coklatkan ? " Kata Izaz menyodorkan sebungkus Coklat pada Hana.
" Loh dari mana bang Izaz tau, kalau aku suka coklat ? " Pikiran Hana mulai menerka-nerka.
" Hehe, kok abang bisa tau ? Tanya Hana.
" Abang always tengok Arga ngasih coklat ke awak, padahalkan awak tu udah manis di awal, ngapain coba makan coklat lagi." Ungkap Izaz pada Hana.
" Ha ? Hana melotot heran.
" Kasihan tau ! Coklatnya kalah manis sama wajah kamu." Ucap Izaz asal kemudian meninggalkan Hana, yang masih terdiam memandanginya.
Masih dengan mata melotot, Hana memandang heran melihat Izaz, yang sudah mulai jauh dari hadapannya.
" Bang Izaz kenapa ya ? Kok aneh gini sih.
__ADS_1
Gak abangnya, gak adeknya sama-sama suka baperin orang. Dasar kadal buntung." Upat Hana.
" Eh kok kadal buntung sih. Gak cocok !! Kan playboy berarti buaya. Hm, buaya sungai Nil kali ya yang benernya wkwk." Kekeh Hana yang terus memikirkan gelar, untuk kakak beradik itu.
" Eh kenapa aku ribet mikirin julukan buat mereka. Ah bodoh amatlah, yang penting aku dapat Coklat gratis Alhamdulillah." Hana tertawa sembari berlari menuju mobil.
Sementara Ranti, dan Rayhan masih berada di parkiran.
" Eh ada anak dara cantik ni." Ujar Rayhan melihat Ranti tengah mengikat tali sepatunya.
Ranti menaikkan sebelah mulutnya, berdelik ilfiel pada Rayhan.
" Apaan sih norak banget." Ketus Ranti masih fokus mengikat tali sepatunya.
" Jalan-jalan ke Korea Selatan. Eh aku kan mau beli Shafron ngapain ke Korsel coba." Kata Rayhan yang salah mengucapkan pantunnya.
Ranti memandang heran mahkluk aneh yang berada di depannya itu.
" Stres ni orang." Kata Ranti.
" Oke, oke. Jalan-jalan ke kota Madinah." Ucap Rayhan lagi.
Ranti masih terdiam.
" Ya elah Ran, di jawab gitu kek Cakep, gak ada feelnya banget." Ujar Rayhan.
" Bodoh!! Ketus Ranti yang tetap berada di sana, sebab sejujurnya ia ingin mendengarkan kelanjutan pantun Rayhan.
" Jalan-jalan ke kota Madinah,
ets don't forget beli Shafron.
Jello adek berkerudung merah,
sini pulangnya diantar abang tampon ." Pantun Rayhan terlontar begitu berkelas dari mulutnya.
Seketika Ranti tertawa dengan pantun gombal dari Rayhan. Ya, setelah tidak bertemu beberapa hari dengan Rayhan, akhirnya hari ini ia di buat terkekeh kembali oleh Rayhan. Namun ia mencoba menjaga imagenya.
" Buah semangka, buah kuldi.
Soryy lah ya, gak sudi." Balas Ranti sembari pergi meninggalkan Rayhan menuju mobil Izaz.
Bukannya sakit hati, justru Rayhan mala terkekeh mendengar balasan pantun dari Ranti.
" Ran, mungkin ini adalah detik-detik terakhir aku bisa buat kamu marah, berantem sama kamu, bisa lihat muka kesal kamu, dan terakhir bisa dengar omelan kamu. Seterusnya gak bakalan bisa lagi Ran, waktu aku di Malaysia hanya tinggal satu bulan lagi, tepat selesai kita melaksanakan Ujian kenaikan kelas, aku bakal balik ke Jakarta." Ucap Rayhan menatap senduh Ranti yang sudah menjauh darinya.
"Aku gak bisa lagi ketemu sama kamu, berantem sama kamu, adu argumen sama kamu, buat kamu kesal dan marah, gak bakalan bisa lagi Ran." Rayhan mengacak-acak rambutnya.
Pikirinnya mulai gusar, hatinya mulai tak terima bila nantinya ia akan berjauhan dengan Ranti.
Kaki serasa tercekat saat akan melangkah, matanya tak lepas dari sosok Ranti.
Ia tak tau akan dia bisa melewati hari tanpa adanya Ranti. Pasti bisa namun, tidak akan seseru seperti dia bertemu Ranti.
Jujur dari hati Rayhan yang paling dalam sebenarnya ia tak ingin balik ke Jakarta. Namun apalah daya, ayah Rayhan telah di tetapkan balik dinas di Jakarta, hingga sampai ayahnya pensiun. Yang mengharuskan mereka kembali ke tanah air. Mau tidak mau, Rayhan harus ikut kembali bersama keluarganya. Rayhan ingin tetap tinggal di Malaysia sampai ia lulus Aliyah nantinya.
Akan tetapi karena di Malaysia Rayhan juga tidak memiliki saudara satupun. Orang tuanya tidak mengizinkan dia tinggal sendiri di Malaysia. Dengan terpaksa Rayhan harus balik dan pindah sekolah.
" Semoga setelah aku balik ke Indonesia, akan ada waktu dan tempat yang tepat untuk mempertemukan kita kembali." Ungkap Rayhan mengembangkan senyumnya.
Rayhan meraih motor sportnya dan melaju mengikuti mobil Izaz.
Ranti yang berada di dalam mobil, sesekali menoleh ke belakang, melihat Rayhan.
" Kamu tau Ray ? Sebab kebobrokan dari seseoranglah yang bakal paling kita ingat ketika semuanya hanya tinggal menjadi kenangan." Batin Ranti yang mulai mencoba menenangkan dirinya.
Hana memandang heran Ranti, kenapa ia terus menatap ke belakang.
" Woy, gak keseleo apa tuh leher bengkok ke belakang mulu." Ledek Hana mengikuti arah pandang Ranti.
Hana melihat ada sosok Rayhan yang sedang mengemudikan motornya tepat di belakang mereka.
" Ya elah, pantesan aja fokus begitu. Ternyata ada abang sayang di belakang." Ucap Hana dengan terkekeh kecil.
Ranti tersadar, bahwa dirinya telah ketahuan memandangi Rayhan sejak tadi.
" Ih, apaan sih !! Gak ah, orang aku lihat ke Bagasi mobil kok." Ranti mencari alasan lain.
" Najis banget lihat dia." Sambungnya pura-pura tidak senang dengan Rayhan.
Hana tertawa melihat tingkah laku Ranti yang sudah ketahuan, tapi masih saja mencari alasan-alasan lain.
Bahkan Izaz yang mengemudi di depan juga ikut tertawa.
" Hahaha, emang macam tulah Ran, awal-awal benci tapi lama-lama jadi cinta." Ledek Izaz.
Ranti semakin kesal dengan dua orang yang semobil dengannya. Meraka terus menerus meledek Ranti. Tidak terima di ledek Ranti membalas mereka.
" Amboy, yang tadinya risau sangat sebab Arga tak datang, sekarang ni dah ketawa-ketawa. Hebat betullah." Ketus Ranti.
Hana membeliakkan matanya pada Ranti, bukannya marah melainkan malu jika ketahuan oleh Izaz, bahwa dirinya menunggu Arga sedari awal.
" Ranti!! Pekik Hana.
Ranti tertawa puas membalas Hana. " Hahaha satu sama !! Ujarnya.
" Bang Izaz, mak lampir kemana ya ? Tak nampak pun dari tadi ? Tanya Ranti. Yang di maksud Mak lampir adalah Kasih yang di jodohkan dengan Izaz.
" Amboy dah mulailah ni nak balas dendam." Jawab Izaz menghela nafasnya.
Ranti tertawa puas berhasil membalas mereka berdua. Ranti memang tak pernah kehabisan kata-kata untuk balik menyerang, pasti akan ada saja kalimat yang akan ia keluarkan.
Asyik berdebat satu sama lain, tak terasa mereka telah sampai di Istana.
Mereka telah di sambut hangat oleh Nazhanul, Wardah, Vicky dan juga Alesyah.
Mereka bertiga turun dari mobil, sementara Rayhan turun dari motor sportnya.
Hana memandang sekitar Istana, mencari sosok Arga, yang ia pikir tidak ke rumah sakit sebab akan menunggunya di Istana, namun sayang harapan Hana harus terpatah oleh kenyataan. Bahwa Arga tak menunggu dirinya juga di Istana.
" Sudahlah Hana !! Wake up jangan terlalu lama mimpinya. Arga tidak akan sudi menunggu kedatanganmu apalagi menemanimu pulang dari Rumah Sakit." Batin Hana yang mulai terasa sesak.
Wardah dan Nazhanul tidak melihat keberadaan Arga bersama mereka, merasa heran sebab setau mereka Arga pergi ke Rumah Sakit ingin menemani Hana pulang.
" Loh Arga katmane ? Tak nampak pula." Tanya Wardah pada mereka.
Mereka berempat terheran, bukannya sedari tadi Arga memang tidak ke rumah sakit, dan berada di Istana, pikir mereka.
" Lah, Arga bukannya di sini Bun? Sejak tadi Arga tak de pun datang kat hospital." Jawab Izaz pada bundanya.
" Iye, aunty betul abang Izaz cakap." Sambung Ranti.
__ADS_1
Hana mulai menerka-nerka sebenarnya kemana perginya Arga, apa mungkin Arga tadinya berniat untuk ke rumah sakit namun di tengah jalan terjadi sesuatu yang buruk padanya.
" Ya Allah berarti Arga tadi ke Rumah Sakit, terus sampai sekarang dia belum tiba juga. Apa mungkin terjadi sesuatu yang buruk padanya ? Hana mulai gelisah memikirkan Arga.
" Tidak nak, ia tadi izin ke rumah sakit sama Ayah dan bunda." Ucap Wardah yang mulai panik tidak melihat keberadaan putranya.
" Kejap ye, biar Izaz call Arga." Ujar Izaz menghubungi nomor Arga.
Hana berjalan menuju garasi tepat dimana motor Arga di simpan.
Belum sampai di garasi Hana berhenti tak jauh dari garasi, ia melihat ada beberapa bungkus coklat beserta pitanya tercecer di sana.
" Coklat ? Ucap Hana mengutip beberapa coklat yang tercecer.
" Ini pasti coklat yang bakalan Arga kasih ke aku. Arga kamu sebenarnya di mana sih ?
Jangan buat aku panik tolong." Kata Hana mulai panik akan kondisi Arga.
Hana kembali berlari kembali ke tempat awal.
Dengan membawa beberapa bungkus coklat itu.
Sudah panggilan ke lima Arga tak kunjung mengangkat panggilan dari Izaz.
Tuttttt... Suara panggilan tak di terima.
" Arga tak angkat call Izaz Bun, Yah." Kata Izaz .
" Astaghfirullah, kemana sebenarnya Arga ?
Apa terjadi sesuatu pada putra kita bang ? Tanya Wardah mulai resah.
" Sabar, dan tenangkan dulu diri awak. Arga tu bukan budak kecik lagi, dia tu atlet terbaik bela diri tau. Sesiapun tak sanggup lawan dia jika Allah bersamanya." Ucap Nazhanul ingin Wardah tetap tenang.
" Tapi bang !!
" Bun, Izaz yakin tak terjadi apepun yang buruk kat Arga, tenang ya Izaz bakal cari Arga." Dengan sigap Izaz menyalam kedua orang tuanya.
" Assalamu'alaikum." Pamitnya kemudian melajukan mobilnya untuk bisa menemukan Arga dengan cepat.
" Waalaikumussalam." Jawab mereka serentak.
Rayhan juga tak kalah cepat, dirinya menyusul Izaz untuk ikut menemukan Arga sahabatnya.
" Rayhan juga pamit ya Uncle, aunty nak nyari Arga juga, assalamu'alaikum." Ujar Rayhan.
" Waalaikumussalam." Jawab mereka lagi bersamaan.
Hana masih bergelud dengan pikirannya.
Ia fokus pada tempat yang selalu Arga kunjungi.
" Apa mungkin taman ? Eh gak mungkin deh coklatnya di tinggalin gini aja. Apa mungkin Terengganu ? Ha Terengganu ? " Kota itu terlintas di benak Hana.
" Ya, aku yakin Arga pasti kesana dan telah terjadi sesuatu disana." Ucap Hana yang spontan membuat semuanya terkaget dengan ucapan Hana.
" Kamu yakin apa sih Han ? Tanya Ranti penasaran.
Wardah menghampiri Hana.
" Kamu tau nak kemana Arga biasanya pergi ? Tanyanya.
Hana tersenyum hangat pada Wardah.
" Insya Allah Aunty, sejauh ini yang Hana tau, tempat yang paling sering Arga kunjungi itu Terengganu Aunty, disana ada banyak orang yang Arga bantu, baik dari segi materi, perhatian dan juga tenaga." Jawab Hana.
" Bahkan ada salah satu keluarga disana yang telah menganggap Arga sebagai keluarganya.
Aunty gak taukan ? Ada banyak kebaikan yang telah Arga lakukan untuk penduduk Terengganu. Arga suka tolong mereka yang butuh pertolongan." Hana terus bercerita mengenai Arga.
" Dan aku yakin kalian juga gak taukan ? Apa yang tengah terjadi disana ? Tanya Hana.
" Ape yang sebetulnya terjadi kat sane nak? " Kali ini Nazhanul yang bersuara.
" Hm, kat Terengganu sudah beberapa tahun belakangan ini, ada beberapa orang yang tak bertanggung jawab tengah mengacau kat sane, semuanya di obrak-abrik. Bahkan penduduk sekitar di tindas secara langsung." Kata Hana.
Ia menghela nafas sejenak." Maafkan aku Arga, aku akan sedikit cerita tentang kebenaran yang selama ini kita tutupi dan yang sepatutnya Ayahmu tau." Batin Hana.
" Bukan hanya itu, mereka juga mengadu domba antara penduduk Terengganu dan juga penduduk Penang." Semua terkejut mendengar penjelasan Hana, sebab Hana yang baru saja setahun di Malaysia sudah tau banyak mengenai tempat itu. Sementara mereka yang tinggal telah lama di Malaysia tidak tau menau mengenai hal itu.
" Dari mana kamu tau mengenai hal itu ? Tanya Nazhanul.
" Aku mengetahuinya dengan caraku sendiri, bermula dari aku sering membuntutinya Arga ke Terengganu, dan saat sampai di sanalah aku melihat dengan mata kepalaku sendiri apa yang sebenarnya terjadi." Ujar Hana.
" Haha, maaf Uncle semuanya tak sebaik yang kau dengar. Semua yang diceritakan orang kepercayaan mu padamu mengenai daerah-daerah Malaysia ini tidaklah sepenuhnya benar.
" Kau beruntung Uncle, Allah menganugerahkan Putra sehebat Arga padamu. Yang jiwa tanggung jawabnya sangat besar,yang di dalam dirinya terdapat banyak kebaikan, pemberani, selalu berusaha menegakkan kebenaran. Berkorban demi kemaslahatan penduduk Malaysia, dan dia tak pernah pantang menyerah.
Dan kau tau Uncle ? Dia melakukan itu semua ikhlas tanpa mengharapkan harta apalagi tahta darimu Uncle, kau gagal Uncle menjadi seorang pemimpin dan juga menjadi ayah yang baik." Ucap Hana dengan berani.
" Hehe sudahlah terlalu sulit mengilustrasikan semua yang terbaik pada diri Arga." Ucap Hana lagi tanpa terasa buliran hangat ikut menemani ucapannya.
Begitu juga dengan Nazhanul, Wardah dan yang lain ikut hanyut dengan semua penjelasan Hana mengenai Arga.
" Uncle ku mohon jangan lagi berdiam diri di Istana ini dan hanya mendengarkan semua cerita palsu orang kepercayaanmu itu !! Cobalah turun langsung ke lapangan. Agar kau tau derita rakyatmu." Tegas Hana pada Nazhanul.
Mendengar semua perkataan Hana, membuat Nazhanul tersadar betapa pengecutnya diri sebagai pemimpin sekaligus menjadi ayah, semua yang Hana katakan benar adanya. Seharusnya sebagai pemimpin ia tidak hanya berdiam diri di Istana, melainkan datang melakukan kunjungan ke setiap sudut daerah-daerah Malaysia. Untuk melihat keadaan rakyatnya. Memberikan ketenangan, ketentraman, dan kedamaian untuk rakyatnya.
Mensejahterakan rakyatnya, sebisa mungkin menganyomi Rakyatnya bukannya mendzaliminya.
Nazhanul tertunduk lemas, menyadari dirinya telah gagal menjadi pemimpin sekaligus menjadi ayah.
Satu demi satu bulir air mata lolos dari matanya.
" Maafkan aku rakyatku, aku gagal menjadi pemimpin dan maafkan aku putraku aku gagal menjadi ayahmu." Ucapnya sembari meneteskan air mata.
" Berdirilah Uncle, susul Arga ini adalah waktu yang tepat untukmu mengawali dan membenahi kesalahanmu." Tutur Hana pada Nazhanul.
Nazhanul mengangkat wajahnya menoleh ke Hana, dan detik selanjutnya ia tersenyum mengangguk setuju pada Hana.
" Wardah, abang akan susul putra terhebat kita, assalamu'alaikum." Ucapnya pamit pada Wardah
" Hati-hati bang Waalaikumussalam." Jawab Wardah.
Detik selanjutnya ia tersenyum pada Hana, sembari berkata." Hana terima kasih telah menyadarkan Uncle akan tugas Uncle." Kata Nazhanul pada Hana.
"Sudah kewajiban Hana Uncle, semangat !! Jawab Hana menyemangati Nazhanul.
Nazhanul tersenyum, detik selanjutnya ia berlari cepat menuju dimana motor sportnya di simpan.
Hallo guys, maafin aku suka telat Up ya 🙏🏻
__ADS_1
Sevimli 1 November 2020
Salam hangat dari Author 🌹