
Guys jangan lupa mampir di karya baruku Selaksa Rasa ya :)
" Bagaimana bisa aku melupakan wanita yang kuanggap Zainab binti Muhammadku.
Bahkan dalam pejaman mataku wajahnya hadir berseri.
Aku yakin jika namaku yang tertulis di Lauhul Mahfudznya. Sesukar apapun awalnya Allah akan mudahkan akhirnya. Namun, jika bukan namaku yang tersemat disana. Aku yakin Allah punya cara terindah untuk menyembuhkan lukaku."
..... " Pelangi Hanani 🌹".....
Sungai Nil.
Kedua pemuda berkurta putih itu tengah asyik berbincang ditepian sungai Nil.
Siulan burung yang berbunyi disekitar mereka.
Tak menghalau keduanya untuk fokus pada pembicaraan.
" By the way, bukannya cewek yang lo suka kuliah di Al-Azhar, Nug ? tanya Fian pada Anugrah.
Anugrah tersenyum, sembari mengangguk menjawab pertanyaan Fian.
" Yaudah nunggu apalagi ?
Buruan kita cari ! ajak Fian antusias.
" Gak perlu, Yan." tolak Anugrah.
Kening Fianpun mengerut, hampir membuat kedua alisnya menyatu. Bingung dengan Anugrah yang menolak ajakannya.
" Loh, kenapa ? Lo udah gak suka ke dia ?
Anugrah mengalihkan pandangannya, pada sungai Nil yang terbentang luas dihadapannya.
" Bagaimana bisa aku melupakan wanita yang kuanggap Zainab binti Muhammadku.
Bahkan dalam pejaman mataku, wajahnya hadir berseri." senyum Anugrah kian melebar beberapa senti.
" Aku yakin jika namaku yang tertulis di Lauhul Mahfudznya. Sesukar apapun awalnya, Allah akan mudahkan akhirnya.
Namun, jika bukan namaku yang tersemat disana. Allah punya cara terindah untuk menyembuhkan lukaku." ucap Anugrah dengan lapang dada.
Fian tersenyum kagum mendengar perkataan yang tampak begitu tulus terucap dari lisan Anugrah.
" Untuk saat ini, aku berjuang menggapai dua kalimat syahadat, setelahnya aku akan berjuang mendapatkannya.
Biarkan Allah yang mengatur pertemuan kami, karena Allah lah yang mengatur, yang punya kendali atas langit dan bumi." tutup Anugrah dengan senyumannya.
" Gua salut sama lo, Nug.
Lo Protestan, tapi jiwa lo Islam banget tau." puji Fian padanya.
Anugrah hanya menyimpulkan senyumnya, tak tau harus menyikapi apa pujian Fian.
Anugrah melirik jam tangan yang melingkar dipergelangan tangannya, sudah menunjukkan pukul setengah sembilan pagi.
" Yan !
Temenin gua bentar ke Perpustakaan kampusmu dong." ujar Anugrah.
" Mau ngapain ? tanya Fian.
" Mau ngopi !
Ya, mau baca bukulah." jawab Anugrah.
" Oh mau baca.
Yaudah gua temenin, buruan ! ajak Anugrah antusias.
Anugrah pun tersenyum, mengikuti langkah Fian yang akan membawanya pergi ke Perpustakaan kampusnya.
Bughhh..
Tiba-tiba saja Anugrah menabrak tanpa sengaja seorang gadis yang berselisih arah dengannya.
" Ah, Iam sorry.
Ana--
ucapan Anugrah tercekat di tenggorokan, saat melihat sosok gadis yang ia tabrak.
" Astaghfirullah, ampuni dosa hamba." Gumam Hana pelan.
" Its oke, no problem." ucap Hana selanjutnya pada pria itu.
" Hana ! panggil Anugrah.
Ya, Hanani Syaufa.
Gadis yang kerap kali memenuhinya pikirannya.
Gadis yang mampu menutup hatinya untuk wanita lain. Gadis yang ia harapkan menjadi Zainab binti Muhammadnya. Namun, juga gadis yang menolaknya sebagai Abu Ash.
Anugrah pun tersenyum menatap wajah gadis yang sejak lama ia rindukan. Kini rindu itu tengah terkelupas hanya dalam beberapa menit.
" Anugrah." Hana menutup mulutnya, terkejut dengan kehadiran sosok Anugrah dihadapannya.
Kedua netra bening itu saling menatap satu sama lain, bahkan hembusan angin tak dapat mengedipkan mata mereka.
Fian pun melirik gadis yang berhasil menghentikan langkah Anugrah.
.
" Ini dia yang namanya Hana.
Masya Allah, emang beneran cakep sih orangnya." batin Fian.
Detik selanjutnya, Hana pun memalingkan pandangannya." Astaghfirullah." ucapnya beristighfar, sadar akan apa yang ia lakukan.
Ia menyentuh dadanya yang kini berdegup kencang.
Tak ingin berlama dengan keadaan ini.
Dengan cepat, Hana pun melangkah pergi.
Anugrah tak tinggal diam, ia pun mengejar Hana.
" Han !
Tidak bisakah kita berbicara sebentar ? tanyanya penuh harap pada Hana.
__ADS_1
Langkah Hana terhenti, akalnya tengah bereaksi, memikirkan jawaban untuk ajakan Anugrah.
Hahhh...
Helaan nafas Hana terdengar ditelinga.
Hana membalikkan tubuhnya, dan mengangguk." Iya." jawabnya singkat.
Anugrah pun mengajak Hana untuk mengobrol di tepian sungai Nil. Keduanya tengah memandang bentangan sungai Nil yang menjadi saksi bisu sejarah Firaun dan juga bagaimana hebat Nabi Musa yang atas izin Allah dapat meruntuhkan kesombongan Firaun.
Sementara Fian, memilih menunggu mereka dibangku taman.
Keheningan tengah membersamai mereka.
Tak ada sepatah katapun yang keluar, meski ada banyak hal yang ingin diungkapkan. Namun, sayang semuanya tercekat di tenggorokan.
" Mmm, Han." akhirnya Anugrah memecah keheningan.
" Iya." sahut Hana.
" Gimana kabar kamu ? tanya Anugrah canggung.
" Alhamdulillah, sehat. Kamu ?
" Syukurlah, aku sehat juga." jawab. Anugrah.
" Ohiya, bukannya kamu kuliah di Amerika ?
Kenapa bisa ada disini ? tanya Hana penasaran.
Seketika pertanyaan Hana berhasil membuat senyuman Anugrah berubah, dari yang manis menjadi masam.
" Aku melarikan diri dari Amerika."
" Terus memilih Mesir, sebagai pelariannya ?
Mendengar perkataan Hana, membuat Anugrah menatap tak percaya gadis itu.
Apa Hana benar-benar tidak percaya, bahwa Anugrah memang benar tengah berjuang untuk menggapai dua kalimat syahadat.
" Bukan pelarian melainkan, menjadikan pilihan.
Mesir negeri para Nabi, tak sepantasnya dijadikan sebagai pelarian." kata Anugrah dengan sopan.
Hana menganggukkan kepalanya.
" Pilihan untuk menimba ilmu ? tanya Hana lagi.
" Apalagi kalau bukan itu." jawab Anugrah, menatap lekat Hana yang enggan menatapnya.
" Gimana kuliahnya ? tanya Anugrah, tak punya topik lain.
" Alhamdulillah, lancar." jawab Hana.
" Ahiya, gimana dengan keluarga kamu ?
Apa mereka tidak mengetahui kepergianmu ?
" Panjang ceritanya, singkatnya aku selamat dengan perjuangan di Mesir, dua tahun yang lalu, Han." jawab Anugrah.
Hana pun mengangguk mengerti dengan jawaban singkat itu.
Keheningan kembali mengambil alih keadaan.
Keduanya kembali diam, dengan pikirannya masing-masing.
" Han.
Kamu tau siapa yang mendorongku sampai berani melangkah sejauh ini ? ujar Anugrah.
Kening Hana berkerut, sedikit penasaran dengan perkataan Anugrah.
" Siapa ? tanya Hana antusias.
" Nabi Musa.
Aku belajar dari kisah keberanian Nabi Musa untuk meruntuhkan kesombongan Firaun.
Keberanian untuk menegakkan agama Allah.
Firaun itu sangat berkuasa pada masanya, segalanya ia miliki, bahkan karena sombongnya ia menyebutkan bahwa dirinya sebagai Tuhan.
Ada banyak manusia saat itu yang percaya dengan Firaun namun, tidak dengan Nabi Musa ia justru orang pertama yang menentang ayah angkatnya itu.
Begitu juga dengan diriku ini, yang memberanikan diri untuk melangkah sejauh ini.
Tak tau bagaimana akhirnya, namun aku yakin Allah akan izinkan aku mengikrarkan syahadat sebelum kematianku tiba." ucap Anugrah dengan tekad yang bulat.
Hana menatap lekat Anugrah beberapa detik, terbesit rasa kagum di dalam hati.
Ternyata sudah sejauh ini, ilmu agama Anugrah, Pikir Hana.
Hana pun memalingkan tatapannya dari Anugrah.
" Kamu masih umat Protestan ? tanya Hana, yang dijawab anggukan oleh Anugrah.
Hana pun melemparkan senyumannya.
Meski sedikit canggung.
" Senantiasa Allah segera meringankan lisanmu untuk bersyahadat, Anugrah." kata Hana.
" Aamiin." seru Anugrah.
Beberapa detik, senyap menemani mereka.
Hanya terdengar suara beriak sungai Nil.
Entahlah..
Ini pertemuan pertama mereka setelah berpisah tiga tahun lamanya.
Mungkin keduanya tengah dilindung canggung, atau mungkin ada yang sedang menjaga perasaannya.
" Apa kau sudah menemukan Abu Dardamu, Han ? tanya Anugrah tiba-tiba.
Pertanyaan itu sentak membuat Hana terkejut.
Matanya melotot, bahkan ia tengah menelan salivanya.
" Kenapa Anugrah menanyakan hal ini ? benaknya.
__ADS_1
" Han ! panggil Anugrah lagi.
Hana pun menggeleng kepalanya.
" Jangan membahas hal yang tak penting untuk dibahas." jawabnya singkat, tak ingin memperpanjang pembahasan.
Anugrahpun tersenyum, jawaban Hana itu seperti memberikannya setitik harapan.
Bahwa ia yakin, masih ada namanya di celah hati Hana, meski itu hanya kecil dimensinya.
" Kalau kamu nikah undang aku, ya." kata Anugrah, melirik Hana dengan senyumannya.
" Insya Allah, kalau saatnya tiba." jawab Hana.
Hana menatap Anugrah yang juga menatapnya.
Entahlah, apa perasaan Hana terhadap Anugrah, benar-benar sudah hilang ?
Atau ini hanya bentuk refleks dari pertemuan pertama mereka.
" Aku masih melihat rasa itu dimatamu, Han.
Meski hanya secuil." ucap Anugrah, namun hanya tertahan didalam hati.
" Mm, aku jalan dulu.
Sampai ketemu lagi ya, Grah." pamit Hana bergegas meninggalkan Anugrah.
" Iya, hati-hati Han.
Sampai jumpa." jawab Anugrah.
Hana pun berjalan meninggalkan Anugrah yang masih setia menatapnya.
Tatapan yang sama seperti diawal pertemuan.
Senyuman yang sama di awal pertengkaran.
" Nug ! suara Fian menyadarkan Anugrah.
Fian menghampiri Anugrah, ia tau apa yang tengah dirasakan Anugrah.
" Itu yang namanya Hana ? tanyanya memastikan.
Anugrah mengangguk saja, tatapannya masih tertuju pada gadis berhijab armi itu.
" Lo masih ngarepin dia jadi Zainab lo ?
Anugrah melirik sinis Fian yang bertanya padanya. Sudah tau jawabannya kenapa masih bertanya.
Tatapan Anugrah membuat Fian mengerti bahwa pria Protestan itu masih berharap lebih pada gadis itu.
" Nug !
Ada saatnya seseorang yang kita cintai hanya bisa kita tatap, namun tak bisa kita jadikan teman seatap." ucap Fian, sembari menepuk pelan pundak Anugrah.
" Kalau lo udah lelah.
Berhenti aja, Nug ! Jangan diterusin karena rasa sakit itu takkan pernah bisa tertahan."
Fian pun melangkah, meninggalkan Anugrah sendirian di tepian sungai Nil.
Bukankah seharusnya keadaan seperti ini, seorang sahabat harus berada di sampingnya.
Kenapa Fian, mala justru meninggalkannya ?
Bukannya Fian sahabat yang buruk.
Meninggalkan Anugrah sendirian disana.
Ia hanya ingin memberi Anugrah waktu untuk menenangkan dirinya, berdamai dengan dirinya sendiri, agar Anugrah dapat mengambil keputusan yang bijak untuk persoalan hatinya.
Anugrah tersenyum simpul, pandangan matanya kini tertuju pada bentangan sungai Nil yang mengalir tenang.
Gemuruh di hatinya kian menderas.
Detak jantung yang kian berdentum keras, menggelitik sekujur tubuhnya.
Pertemuan pertama yang tak pernah disangka sebelumnya, dan juga perasaan sakit yang tak pernah terduga.
Tak ada manis-manisnya pertemuan mereka kali ini, hanya ada kalimat-kalimat yang terdengar datar yang terucap dari bibir Hana.
" Apa aku terlalu berharap kepada manusia ? ucap Anugrah pada hembusan angin yang berhembus.
" Apa perasaanku yang terlalu melambung tinggi ini, membuatku menutup mata hingga tak dapat melihat kenyataan ?
Terus berharap pada ketidakpastian yang nyata ? Terus menanamkan rasa pada tanah yang tak tersisa lahannya ?
Anugrah memilih duduk di tepian sungai Nil.
Tak peduli dengan orang yang berlalu lalang melihatnya disana.
Ia menyentuh dadanya yang terasa sedikit sesak. Meramasnya dengan jari jemarinya, agar rasa sesak itu hilang dari dadanya.
" Nug !
Kamu harus move on !
Mungkin benar Hana bukanlah Zainab binti Muhammadmu ! Ia hanya sebatas pelangi yang takkan pernah bisa kau gapai ! ucap Anugrah berusaha menegarkan dirinya.
Anugrah pun bangkit dari duduknya, melangkah kakinya dengan penuh semangat.
" Dunia bukan tentang cinta melulu, Anugrah !
Sadarlah, jangan mencintai makhluk melebihi cintamu kepada Tuhan.
Mulutmu belum kunjung berikrar syahadat, tapi kau sudah sibuk menyatakan cinta kepada sesama makhluk ! Anugrah sadar ! Sadar !
Sembari melangkah, Anugrah tak hentinya menampar dirinya dengan kata-katanya sendiri.
Kini, ia tersadar bahwa mungkin hari ini Allah mempertemukan dirinya dengan Hana. Untuk menyadarkan nya. Bahwa cinta yang terbit sebelum adanya pernikahan adalah sebuah ujian untuknya.
Pada dasarnya cinta memang sebuah fitrah manusia. Oleh sebab itu, butuh iman untuk mengendalikannya. Agar tak sampai terjerumus ke dalam fitnah.
Bersambung..
Sevimli, 19 Agustus 2021
Salam hangat dari Author 🌹
Jgn lupa like and Votenya :)
__ADS_1