
" Dendam, benci adalah prosa yang dapat mengubah watak baik menjadi buruk."
......" Pelangi Hanani 🌹"......
Setelah beberapa menit berlalu, Nazhanul akhirnya sampai di lokasi Terengganu.
Ya, ia melihat tempat itu sangat kacau, ada beberapa warga yang tengah kesakitan, ada beberapa juga yang berlarian menghindari serangan dari para pengacau.
Nazhanul menghampiri mereka, akan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
Ia tak tau akankah warga sekitar akan memarahinya, atau justru memakinya.
Sebab sudah sejauh ini, Nazhanul tak pernah turun tangan menganyomi Rakyatnya.
" Assalamu'alaikum." Ucap Nazhanul.
Warga yang mendengar ada seseorang mengucapkan salam, menoleh melihat Nazhanul.
" Waalaikum." Belum sempurna mereka menjawab salam Nazhanul, mereka terkejut melihat sosok pemimpin yang menurut mereka, tak bertanggung jawab sama sekali.
" Kau !! Untuk apa kau datang ha." Ucap salah satunya, yang mulai tak bisa mengontrol diri.
Nazhanul menghela nafas, sesuai dengan dugaannya, bahwa dirinya takkan di sambut baik oleh rakyatnya
" Saya datang kat sini, nak tengok apa yang sebenarnya terjadi." Ucap Nazhanul dengan tegas.
Mereka tertawa mendengar perkataan Nazhanul, kenapa baru sekarang ia datang melihat rakyatnya. Kemana dia selama dua tahun belakangan ini ?
" Hahaha, sudah kau tengok ? Baguskan ?
Sesuai dengan nafsumu !! Ucapnya lagi pada Nazhanul.
Ada sosok perempuan tua, datang menghampiri Nazhanul, kemudian berlutut dihadapannya.
Nazhanul sentak kaget dengan kelakuan perempuan tua dihadapannya.
" Astaghfirullah, berdiri mak ci !! Jangan lakukan ini." Ujar Nazhanul.
Nenek rentang usia itu menagis di hadapannya, sembari menggenggam tangan Nazhanul.
" Nak, kemana saja kau selama ini ?? Kenapa baru sekarang kau datang !! Kau tau keadaan kami ? Kau tau betapa hancurnya kami berkeping-keping. Betapa sengsaranya kami ?
Ucapnya terisak.
" Kau tak taukan ? Bagaimana mereka mengobrak-abrik rumah kami satu-satunya. Kau tau ? Betapa menderitanya kami di tanah kami sendiri.
Negara kita sudah merdeka ? Tapi kenapa kami masih saja seperti tawanan penjajah.
Apa yang membuatmu buta sehingga tak dapat melihat duka rakyatmu ? Apa yang membuatmu tuli sehingga kau tak mendengar suara penderitaan kami ? Kenapa kau baru bangun sekarang nak ? Ucap perempuan tua, yang kini tertunduk lemah di hadapannya.
Nazhanul merasa bersalah pada rakyatnya. ia merasa bodoh kenapa selama dua tahun terakhir ini tak pernah melihat kondisi Rakyatnya. Ia hanya mempercayakan semuanya pada petinggi di Istana, yang selalu memberi kabar bahwa semua daerah yang berada di negara Malaysia, baik-baik saja dan tak merasa kekurangan sedikitpun.
"Kalau saja waktu bisa ku putar kembali, ingin rasanya aku berada di sini setiap saat." Batin Nazhanul.
" Percayalah Makci. Perihal ini saya tak tau sedikitpun." Jawabnya sembari mengangkat perempuan tua itu.
" Saya mengaku salah kepada kalian semua, sebab dua tahun belakangan ini, saya sangat jarang mengunjungi kalian, dan saya hanya mempercayakan urusan ini kepada orang kepercayaan saya, termasuk untuk pasongan pangan juga dia yang mengurus." Ungkap Nazhanul dengan jujur.
" Dia cakap semua daerah-daerah di Malaysia dalam keadaan kondisi baik-baik saja. Tak de kekacauan sikitpun.
Tapi saya memang bodoh hanya dengan ucapan dan sedikit bukti, saya telah percaya bahwa kalian dalam keadaan baik-baik saja. Yang padahal kenyataannya kalian sangat menderitanya atas kebungkamanku." Sambung Nazhanul yang kali ini tak dapat menahan air matanya.
Semua warga yang mendengar perkataan Nazhanul dengan seksama, kini mulai sedikit paham. Bahwa ada seseorang yang ingin membuat buruk Nazhanul di mata mereka.
" Saya minta maaf telah berbuat dzalim terhadap kalian, silahkan kalian berikan hukuman apapun pada Saya !! Saya takkan menolak untuk itu." Ujar Nazhanul yang berlutut memohon maaf pada mereka.
" Uncle berdirilah !! Ucap salah satu pemuda yang maju menghampiri Nazhanul.
Semua mata tertuju padanya.
" Semua bukan salah Uncle, kemungkinan besarnya adalah orang kepercayaan Uncle sedang membuat propaganda di belakang Uncle." Ucapnya pada Nazhanul.
Nazhanul mulai berpikir, bahwa apa yang dikatakan anak muda ini, benar juga.
" Semua belum terlambat Uncle, masih ada waktu untuk menghancurkan propagandanya. Dan ini merupakan tanggung jawab terbesar Uncle." Ucapnya lagi sembari tersenyum hangat padanya.
Entah dari mana datangnya mata angin, seketika semua warga yang tadinya kesal pada Nazhanul, kini menghampirinya dengan sebuah senyuman.
" Bangkitlah pemimpin kami !! Segeralah selesaikan semuanya, kami bersamamu." Ucap mereka.
Nazhanul tersenyum haru, melihat kehangatan dan dukungan yang diberi rakyatnya.
" Terima kasih." Ucapnya tulus dengan air matanya.
Tiba-tiba saja ada sosok pria yang seumuran dengannya datang memukul wajah tampannya.
Bukhh..
Semua terkejut dengan tindakan pria itu.
Begitu juga dengan Nazhanul tersentak kaget mendapat serangan tiba-tiba.
" Hey, apa yang awak buat ni ? Ucap perempuan tua itu panik atas tindakannya.
" Kau bodoh !! Membiarkan kami membencimu selama dua tahun ini yang disebabkan bukan merupakan kesalahan mu." Ucap pria yang memukul Nazhanul.
" You Verry stupid Nazhanul." Ucapnya lagi dengan sedikit tertawa.
Semua yang awalnya panik, kini lega.
" Ya Allah, aku pikir tadi nak bertumbuklah tu." Ucap salah satu dari mereka.
Nazhanul ikut tertawa. Detik selanjutnya ia teringat pada putranya.
" Ohiye, kalian ade tengok anak lelaki berparas tampan datang Kat sini ? Tanya Nazhanul.
" Tampan ? Tanya mereka kembali.
" Iye, tinggi, lumayan putih, dan satu lagi ia gunakan jaket silver." Jelas Nazhanul.
" Arga bukan ? Tanya anak muda itu.
" Iye betul." Jawab Nazhanul dengan cepat.
" Oh Arga." Warga beroh ria, setelah tau yang dimaksud Nazhanul adalah Arga.
Ya, siapa yang tak kenal sosok Arga di wilayah ini ? Sosok anak muda yang selalu membantu mereka, yang selalu berusaha menjamin ketentraman mereka dari pengacau. Yang sudah seperti pemimpin muda bagi mereka.
" Astaghfirullah, Arga tadi kat sane tengah hentikan pengacau." Jawab perempuan tua itu memposisikan tangannya di tempat mana Arga sedang bertikai.
Nazhanul tersetak." Pengacau ?? Die sendiri ke ? Tanya Nazhanul yang mulai panik.
Perempuan itu mengangguk iya.
Dengan sigap Nazhanul meninggalkan mereka, dan berlari menuju lokasi Arga saat ini.
__ADS_1
Semua bingung dengan Nazhanul yang kelihatan panik. Ketika tau Arga sedang bertarung melawan pengacau.
" Arga bukannya pengawal Istana ye ? Mereka bertanya-tanya satu sama lain.
Karena penasaran, mereka mengikuti Nazhanul Hakim.
Sesampai di lokasi, Nazhanul melihat sosok pemuda yang bertarung, dengan sosok pemuda yang kelihatannya berketurunan Inggris.
Bukhh..
Bukhhh.. Suara perkelahian mereka.
" Berengsek !! Maki Arga.
" Haha, kau jauh lebih biadap !! Balas Andrea.
Sembari memaki satu sama lain, mereka tetap mengajungkan pukulan masing-masing.
" Kau memang tak punya nyali. Yang hanya taunya membuat onar saja, kau tak ada bedanya dengan sampah ! Sama-sama menjijikkan." Ujar Arga berludah di hadapan Andrea.
" Haha, dan kau tak lebih rendah dari sekedar bangkai !! Sama-sama kotor dan rendah." Andrea tak mau kalah dengan Arga.
Bukhh...
Bukhh.. Saling beraduh kekuatan.
Bisa di bilang Andrea adalah lawan yang tangguh, tapi bukan berarti ia bisa dengan mudah mengalahkan Arga.
Bukhh.. Arga melayangkan pukulannya tepat di perut Andrea.
Andrea tersungkur ke tanah.
Brakk...
" Hahah, hanya segitu kemampuanmu ha ? Hina Arga.
Andrea menatap tajam Arga.
Dari kejauhan ada sosok pria yang tersenyum lebar, melihat pukulan yang di keluarkan Arga begitu tepat sasaran. Bukan hanya ia, warga juga ada bersamanya.
" Putraku." Satu kata itu lolos dari bibirnya.
Satu kata itu berhasil membuat warga bingung. Dan mulai berkecemuk dengan pikiran mereka.
" Putraku ? Berarti nak Arga putra Nazhanul." Ucap salah satu dari mereka.
Arga menoleh ke sumber suara. Ia, tak menyangka bahwa kini ayahnya berada disini.
Arga menahan salivahnya, terkejut melihat sosok ayahnya.
" Ayah." Ucap Arga.
Dengan sigap Andrea mengambil kesempatan menendang Arga dari bawah.
Bukhh... Arga terjatuh.
Andrea tersenyum kecut.
" Arga." Teriak Nazhanul berlari menghampiri Arga.
" Bangun nak !! Nazhanul mengangkat tubuh putranya.
" Its oke ayah, tendangan dia tak berasa sama sekalipun." Jawab Arga terkekeh.
Sorot mata Nazhanul kini tertuju pada Andrea.
Nazhanul hendak memukul Andrea, namun terhenti oleh teriakan pria yang sangat ia kenali.
" Jangan berani menyentuh putraku." Ujarnya.
Ya, dia ayahnya Andrea merupakan sosok teman lama Nazhanul, eh lebih tepatnya mantan.
Pria itu adalah Robert.
Nazhanul menghela nafasnya kasar.
" Aku tidak akan menyentuh putramu." Ucap Nazhanul.
Andrea tersenyum sinis, sementara Robert tertawa lantang.
" Hahah, ya ya kau memang tak perlu menyentuhnya.
Ucapan Roebrt terjeda beberapa detik.
" Sebab selama ini kau telah menghancurkan kehidupan putraku, bahkan tanpa kau sentuh sedikitpun !! Ungkap Robert dengan penekanan.
Jleb, rasa bersalah di hati Nazhanulpun mulai tiba, ia tertunduk diam. Tak menjawab sedikitpun.
Arga yang melihat ayahnya seperti itu, langsung memeluk bahu ayahnya. Untuk menguatkannya.
" Ayah, tidak bersalah. Tertunduk lemah seperti ini tak berhak, ada pada diri seorang ayah dan pemimpin yang berwibawa seperti ayah." Ucapnya.
" Bangun ayah, dia mungkin adalah sahabat di hati ayah. Namun jangan lupakan bahwa dia adalah penyiksa Rakyat ayah di kehidupan nyata." Pungkas Arga.
Nazhanul tertegun, mendengar perkataan bijak dari putranya. Ia menatap binar wajah putranya.
Kemudian detik selanjutnya ia berdiri, dan menghampiri Robert. Merasa apa yang di ucapkan Arga merupakan kebenaran yang harus di laksanakan.
" Jangan pernah berani berlaku kriminal di wilayah kekuasaanku !! Ucap Nazhanul dengan tegas.
Robert dan Andrea terkejut mendengar perkataan Nazhanul. Yang awalnya Robert mengira bahwa Nazhanulpun tidak akan berani melawannya.
" Hahah, akhirnya Raja bengis kembali !! Cercahnya.
" Shit Up Robert !! Berhenti menindas Rakyatku !! Urusanmu denganku bukan dengan mereka, jadi jangan jadi pengecut !!
Aku lawan yang seharusnya kau hadapi !! Ketus Nazhanul dengan sorot mata elangnya.
Robert tertawa lagi." Sejak kapan kau peduli pada orang lain ? Ledeknya.
Bukannya yang kau pedulikan hanya ambisimu terhadap kekuasaan ha !! Ucap Robert dengan lantang.
" Sudahlah jangan banyak cakap pengecut !! Kata Nazhanul dan detik selanjutnya melayangkan pukulannya di wajah Robert.
Bukhh...
Andrea terkejut dan tak terima ayahnya di pukul oleh Nazhanul.
" Beraninya kau !! Andrea hendak memukul Nazhanul namun, terhenti oleh tangan Arga yang menahannya.
" Kau !! Sorot mata amarah tampak jelas di mata Andrea.
" Jangan ikut campur urusan mereka !! Biarkan mereka menyelesaikannya. Dan urusanmu denganku. Mari kita selesaikan dengan tuntas tanpa sisa." Ujar Arga pada Andrea.
Tanpa aba-aba Andrea langsung melemparkan tendangannya pada perut Arga.
__ADS_1
Bukhh...
" Mamp*s kau !! Ucap Andrea.
Arga terkekeh." Lumayan buat pemanasan." Ledeknya.
Andrea semakin emosi mendengar Arga meremehkannya.
Kemudian kembali melayangkan pukulannya pada Arga.
Bukhh...
Bukhh..
Ya, kali ini ada dua pasang yang sedang bertarung.
Sosok ayah melawan ayah lainnya.
Kemudian Sosok Putra melawan putra lainnya.
Sudah bisa di tebak, bahwa kemampuan bela diri Nazhanul jauh lebih baik dari pada Robert. Pastinya pertarungan kali ini akan berpihak pada Nazhanul.
Begitu juga dengan Arga kemampuan bela dirinya juga lebih baik dari Andrea. pertarungan kali inipun akan di menangkan olehnya.
Ya, buah memang jatuh tak jauh dari pohonnya bukan ? Begitulah pribahasa yang tepat untuk Nazhanul dan Arga.
Kini mereka merasa lelah satu sama lain.
Saling beraduh nafas satu sama lain, Arga menghampiri ayahnya kemudian mengajukan jempol pada Ayahnya. Seolah-olah mengatakan bahwa ayahnya hebat.
Nazhanul tersenyum melihat putranya.
" Kau juga hebat nak !! Semua yang ada di dalam diri ayah secara tidak sadar terturun pada dirimu." Ucap Nazhanul memegang kepala Arga.
Sementara di sisi lain, ada Roberrt dan Andrea yang terkapar lemah.
" Kau baik-baik saja ayah ? Tanya Andrea pada Robert.
" Ya, aku baik-baik saja." Jawabnya sedikit meringis kesakitan.
Nazhanul dan Arga menghampiri mereka, dan mengulurkan tangan untuk membantu mereka berdiri, Namun dengan angkuhnya mereka justru menolak uluran tangan itu.
" Berdirilah." Ucap Nazhanul sembari mengulurkan tangannya.
" Aku tidak butuh !! Jawab Robert dengan lantang.
" Ingat ini belum berakhir !! Kata Robert yang seakan-akan memberi peringatan pada Nazhanul.
Nazhanul dan Arga tersenyum. Dan menganggukkan kepala.
" Baiklah, bilapun masanya tu tiba. Aku sedia menantinya." Ujar Nazhanul.
Robert dan Andrea pergi meninggalkan mereka, meski dengan tertatih. Robert tetap bersikap angkuh pada Nazhanul.
Warga yang sedari tadi menyaksikan mereka, akhirnya datang menghampiri.
" Hm, jadi nak Arga ini Putra Raja ye ? Tanya warga.
Arga menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sebab bingung harus menjawab apa, kini identitas yang selama ini, ia sembunyikan dari warga terbongkar juga.
" Hehehe, iya pakci Nazhanul Hakim adalah ayah Arga." Jawabnya.
Bukannya mereka menunjukkan mimik wajah yang marah, sebab Arga tak jujur pada mereka. Mala justru senyuman manis merekat di wajah mereka.
" Masya Allah, saya salut kat awak !! Ada banyak anak Raja yang memamerkan kedudukannya agar ingin di pandang hormat oleh orang lain. Sementara awak justru tak ingin memamerkannya. Tapi dengan jiwa bijaksana yang awak miliki selayaknya pemimpin, awak berhasil membuat kami hormat dan kagum padamu Argasyah putra Raja Nazhanul Hakim." Ucap pemuda yang bernama Sameer.
Nazhanul tersenyum bangga pada putranya.
" Atas izin Allah, kau memang layak menerima pujian itu nak." Tutur Nazhanul.
Arga tersenyum kepada semua orang yang berada disana.
" Kalian sudah taukan kalau ini bukan salah ayahku ? Tanya Arga.
Warga mengangguk iya." Iya nak, maafkan kami telah berperasangka buruk dan sempat membenci ayahmu." Ucap Mereka.
" Alhamdulillah, satu urusan telah selesai. Tinggal urusan yang lainnya. Setelah itu aku akan hancurkan kau pengkhianat." Terlintas sosok pengkhianat di benak Arga.
" Baiklah saya akan suruh beberapa orang untuk memperbaiki semua kekacauan ini.
Insya Allah untuk kedepannya saya akan lebih seringa lagi berkunjung kat sini dan berusaha menganyomi lebih baik lagi rakyatku." Kata Nazhanul yang berusaha mewujudkannya.
" Terima kasih Raja." Ucap mereka.
" Baiklah, silahkan kembali ke rumah kalian masing-masing, saya akan hadirkan satu pengawal untuk satu rumah."
Semua warga senang mendengar perkataan Nazhanul, detik selanjutnya mereka berlalu meninggalkan Nazhanul dan Arga dengan senyuman serta salam.
" Kami semua pamit Pakci, Arga, assalamu'alaikum." Ucap Sameer mewakilkan mereka semua.
" Silahkan, waalaikumussalam." Jawab Nazhanul serentak dengan Arga.
Kini tinggal Nazhanul dan Arga.
Mereka berdua tersenyum satu sama lain.
" Ayah jom kita balik ! Bunda pasti cemas." Ajak Arga.
" Jom." Jawab Nazhanul.
Mereka melangkah keluar, menuju tempat di mana motor sport mereka berada.
Arga melihat ayahnya menaiki motor sport kepunyaan ayahnya.
" Wah, ayah datang dengan mengendarai ini ? Tanya Arga, sudah sekian lama ia, tak melihat ayahnya menggunakan motor sport.
" Iya, mau balapan ? Ajak Nazhanul.
Arga tersenyum." Jom, siapa takut." Ajakan Nazhanul di terima oleh Arga.
Mereka mengendarai motor sportnya masing-masing, dalam hitungan terakhir mereka melajukannya dengan kecepatan tinggi. Selayaknya balapan sungguhan, sosok ayah dan anak itu tak mau kalah satu sama lain. Kini posisi Arga berada di depan Nazhanul.
" Haha, Arga mau di lawan !! Ujar Arga.
Nazhanul tertawa melihat putranya yang sifatnya begitu mirip dengannya.
" Aku menyesal ya Rabb, telah menyia-nyiakan anugrahMu selama dua tahun ini." Ucap Nazhanul.
Ya,mereka berdua kelihatan seperti bukan ayah dan anak, melainkan seperti sosok sahabat yang sedang balapan di MotoGP.
Sejauh dan selama apapun anak berselisih dengan orang tuanya, akan ada waktu dan tempat yang tepat untuk memecahkan perselisihan itu.
Itulah yang terjadi pada Nazhanul dan Arga.
Atas izin Allah hubungan mereka kembali membaik.
__ADS_1
Sevimli, 3 Oktober 2020
Salam hangat dari Author 🌹