Pelangi Hanani

Pelangi Hanani
Part 86 Berjuang lebih keras


__ADS_3

" Jangan khawatir.


Aku akan menyibak tirai fitnah yang telah terjatuh padamu.


Akan kubungkam semesta yang menyudutkanmu.


Kau bukan pengkhianat kebenaran.


Justru kau pejuang kebenaran.


Meski nyawaku kian bertarung, itu takkan menjadi pengubur tekadku untuk meluluh lantakkan kedzaliman."


......" Pelangi Hanani 🌹 "......


Di depan Istana Royal Pahang sudah di kerumuni oleh beberapa Wartawan, yang ingin meliput masalah kasus yang sedang terjadi di Istana.


Pengawal berusaha sebisa mungkin untuk menghadang mereka, agar tidak bisa memasuki daerah Istana.


" Pakci izinkan kami menemui Raja !!


Seru salah satu dari mereka, yang tak digubris oleh Para pengawal.


" Selamat siang Pakci, maaf sebelumnya


bolehkah kami meminta izin masuk menemui Raja untuk mengklarifikasi mengenai rumor atau isu yang beredar ?


Wartawan itu kembali meminta izin dengan sopan.


" Maaf untuk yang tidak berkepentingan tidak diizinkan untuk masuk..


Silahkan pergi sekarang juga." Tolak pengawal.


Salah satu dari cameramen sudah mengaktifkan kameranya, otomatis yang sudah tersambung ke beberapa stasiun televisi.


" Baik pemirsa saya Anifa bersama beberapa rekan kerja saya sedang berada di Istana Kesultanan Royal Pahang, kami ingin memewancarai Raja Nazhanul mengenai isu-isu yang beredar saat ini.


Ya, kita semua sudah tau bukan ?


Putra Raja Nazhanul telah melakukan tindak pengkhianatan terhadap ayahnya sendiri.


Untuk saat ini kami belum menemukan fakta detailnya, sebab kami belum dizinkan untuk masuk pemirsa." Ucap wanita bernama Anifa itu di kamera.


" Izinkan kami untuk masuk." Sorak mereka.


Kebisinganpun mulai terdengar ke dalam Istana.


Membuat sosok Nazhanul bangkit dari kursinya, dan segera berjalan menuju gerbang Istana.


" Kenapa kebisingan ini terjadi ? Tanya Nazhanul pada Ketua pengawal.


" Maaf tuan, diluar Istana sudah ada beberapa wartawan yang ingin bertemu dengan tuan mereka ingin mengorek informasi mengenai kasus yang sedang menimpa nak Arga." Jawabnya dengan menunduk.


Nazhanul memenjamkan matanya..


Seraya menghembuskan nafasnya..


Huhhh...


Iapun melangkah menghampiri para wartawan itu. Dan ya, Vachry yang melihat Nazhanulpun melangkah menuju gerbang pun tersenyum lebar.


" Ini belum seberapa Nazh.


Tunggu garis finish nya." Ujarnya dengan penuh kemenangan.


Kemudian ia mengikuti langkah Nazhanul.


Sesampainya di gerbang.


Tampaklah para pengawal sedang menghalau para wartawan yang sedang berusaha memasuki Istana.


" Biarkan kami masuk !!


Berikan kami pintu !!


Jangan halau kami untuk mencari kebenaran !!


Teriak mereka dengan kencang.


" Apa yang kalian inginkan ?


Suara bariton Nazhanul membuat semuanya terdiam dan terfokus padanya.


" Raja Nazhanul."


Nazhanul mendekati mereka, memberikan kode pada pengawalnya untuk memberinya jalan menghampiri para wartawan itu.


" Kalian ingin bertemu aku bukan ?


Apa yang kalian inginkan ? Mencari sebuah informasi kemudian informasi itu kalian buat menjadi sebuah isu yang nantinya akan menguntungkan kalian sebagai wartawan ?


Perkataan Nazhanul membuat para wartawan itu terdiam dan menunduk.


" Hanya ada beberapa wartawan yang dapat memanusiakan tingkah lakunya, selebihnya adalah penjilat !! Sergah Nazhanul dengan nada sedikit meninggi.


Ia menatap satu persatu wajah para wartawan itu dengan tatapan tajamnya.


Senyum sungging terbit di wajahnya.


Benar saja, tak semua wartawan dapat membuat berita yang memang the real condition, ada beberapa yang tak bertanggung jawab hanya demi kepuasan materi ia rela membuat dan mencetak berita yang isinya telah terpadu hoax.


" Kenapa kalian terdiam ?


Aku sekarang disini, silahkan kalian wawancara saya !! Ujar Nazhanul pada mereka.


Tak ada satupun yang bergeming, semuanya tampak begitu gugup menghadapi Nazhanul.


Sampai pada akhirnya, salah satu pemuda diantara mereka ada yang memberanikan diri.


" Maaf sebelumnya tuan.


Saya hanya ingin tuan mengklarifikasi mengenai kasus yang telah beredar." Ucapnya pada Nazhanul.


Nazhanul menatapnya lekat, mencari sebuah kejujuran dari tatapan pemuda itu.


" Kalian ingin aku mengklarifikasikannya ? Tanyanya.


Semua wartawan itu mengangguk, kecuali pemuda berani itu.


" Iya tuan, anda adalah pemimpin negara ini sudah sepatutnya anda membuka suara mengenai apapun yang terjadi di Istana. Karena sedikit banyaknya yang terjadi di Istana juga merupakan tanggungjawab bersama." Ia menjeda beberapa detik ucapannya, kemudian ia tersenyum.


Dan mendekati Nazhanul." Kami hanya ingin mencari informasi agar kami tidak terjadi kesalahpahaman, tenanglah berita yang tercetak adalah berita the real condition."


Ia menundukkan kepalanya pada Nazhanul.


Nazhanul tersenyum, cukup terkesan pemuda ini ternyata memiliki nyali yang cukup tinggi.


" Baiklah aku akan klarifikasi sesingkat mungkin, agar tidak memakan waktu lama.


Benar putra bungsuku Argasyah telah terbukti berkhianat padaku, dengan bukti-bukti yang ada. Dan bukan hanya itu, semua anggota yang juga bekerja sama dengannya juga sedang bersamanya mendekam di Penjara.." Jujur Nazhanul, semua wartawan mengarah microfonnya pada Nazhanul, begitu juga dengan kamera sudah aktif terhubung dengan beberapa siaran televisi.


" Bukankah pelaku Pengkhianat akan dijatuhkan hukuman gantung ?


" Apakah tuan akan tetap melakukan hukuman gantung pada putra anda sendiri ? Sambung yang lainnya.


Pertanyaan yang mereka lemparkan pada Nazhanul, membuatnya terdiam membisu.


Senyum lirihpun timbul di wajahnya.


Entahlah, sangat sakit rasanya bila ia harus menjawab pertanyaan menyakitkan itu.


" Ya Allah, tunjukkanlah kebenarannya." Batin Nazhanul.


" Itu pasti sebuah hal yang sangat berat bukan tuan ? Karena itu pasti sangat menyakitkan."


Ucapan dari gadis ini membuat Nazhanul tersenyum masam.


" Hukum tetap akan tegak lurus ke depan dan berlaku untuk siapapun, tidak peduli apapun keturunannya, apapun jabatannya.


Yang bersalah tetap di dihukum." Jawab Nazhanul.


" Dengan kata lain putra bungsu anda yang bernama Arga, akan dijatuhkan hukuman gantung oleh dirimu sendiri, seperti itukan." Sahut pemuda itu.


Nazhanul mengangguk." Iya." Ucapnya yang sedang berusaha profesional dalam kepemimpinan.


Meski ini hal yang sulit, namun Nazhanul mencoba untuk tegar.


Semuanya tersenyum bangga sekaligus terharu melihat Nazhanul.


Mereka pasti tau.


Berat.

__ADS_1


Ya, sangat berat menjadi Nazhanul.


Di satu sisi ia harus bersikap tegas dan adil dalam kepemimpinannya.


Di sisi lain, ia harus menahan rasa pedih melihat nasib putranya berujung seperti ini.


" Kami bangga padamu tuan.


Kau adalah pemimpin yang tegas.." Sahut mereka pada Nazhanul.


Nazhanul terpaksa mengembangkan senyumnya, agar terlihat baik-baik saja.


" Ada lagi yang ingin kalian tanyakan ? Tanya Nazhanul kembali pada mereka.


Mereka menggeleng, merasa sudah cukup untuk kasus ini.


" Tidak tuan, sekali lagi kami ucapkan terimakasih tuan.


Telah mengizinkan kami untuk mengekspor kasus ini."


" Hm iya sekarang kalian boleh bubar !! Ujar Nazhanul.


Para wartawanpun mulai menyimpan alat-alat mereka.


" Tapi ingat jangan ada satu huruf yang tertambah di kasus itu jika nanti dicetak." Tambah Nazhanul, seraya mulai melangkah meninggalkan mereka.


" Siap tuan." Jawab mereka.


Perlahan-lahan merekapun meninggalkan Istana Royal Pahang.


Mereka tersenyum lega, akhirnya telah tuntas menguakkan kisah yang sedang perbincangan saat ini.


.


.


.


Keesokan harinya.


Matahari tampak begitu seri.


Dengan penuh kehangatan ia menyinari bumi, kilau cahayapun dapat menembus pentilasi rongga-rongga ruang sel tahanan.


Hana dan Ranti mengajak Izaz mengunjungi Arga di Sel tahanan.


Izaz yang juga berniat mengunjungi Argapun setuju dan ikut bersama mereka.


Izaz melangkah terlebih dahulu dari Hana dan Ranti.


" Apa kita gak pamitan ke Uncle dulu bang ? Hana ragu untuk melangkah tanpa izin dari Nazhanul.


Izaz menghentikan langkahnya.


" Udah gak usah !!


Entar ribet urusannya." Jawab Izaz yang tak ingin mempersulit situasi.


Dan melanjutkan langkahnya.


" Tapiii...


" Udah ayok Hana, jangan banyak bicara lagi." Potong Ranti menarik tangan Hana untuk segera pergi ke Sel tahanan.


Setelah tiba di Sel tahanan.


Para penjaga Sel tahananpun langsung menghadang mereka bertiga.


" Jangan larang kami masuk ke dalam !! Tukad Izaz dengan tatapan tajamnya.


" Maaf !! Sesuai peraturan kalian harus meminta izin ke penguasa terlebih dahulu." Tolaknya.


Bukhhh.. Tanpa aba-aba Izaz langsung melayangkan tendangannya.


" Bang Izaz !! Refleks Hana dan Ranti terkejut.


" Ayok buruan masuk !! Ajak Izaz yang memasuki sel tahanan, tanpa memperdulikan penjaga Sel tahanan.


Hana dan Rantipun terpaksa harus mengikuti langkah Izaz. Agar tidak membuang-buang waktu.


Abriz, Arga , Andrea, dan Robert melihat ketiga di hadapan mereka terkejut.


" Bang Izaz."


" Bagaimana kau menemukan kertasnya ? Tanya Abriz padanya.


Izaz menggelengkan kepalanya dengan wajah lesuhnya. Membuat semuanya semakin down.


Terutama Arga, ia hanya terdiam menanggapi nasibnya ke depan.


" Sudahlah mungkin ini goresan takdir yang telah Allah gariskan untukku." Ucapnya seraya menerbitkan senyumnya.


" Apa istriku tidak menemukannya ? Tanya Abriz lagi.


Izaz menggeleng." Sebelum aku sampai di rumahmu, Pakci Vachry telah sampai terlebih dahulu dan merampas kertas itu serta merobeknya." Penjelasan Izaz membuat semuanya mengeram kesal.


" Manusia satu itu memang titisan Dajjal !! Upat Andrea yang sudah mulai emosi.


" Andrea kendalikan dirimu !! Peringatkan Robert padanya.


Sittt.... Andrea mencoba menahan dirinya.


" Tapi tenanglah, aku mempunyai ini yang bisa dijadikan bukti." Izaz memperlihatkan ponsel yang diberikan oleh istri Abriz.


" Ponsel Zivya.


Apa dia memberikannya padamu ? Tanya Abriz menatap ponsel lama milik istrinya.


Izaz mengangguk." Ya, bibi memberikannya pada ku, sebab dia tau kita membutuhkan pesan bukti transfer tiga tahun lalu, yang masih tersimpan di dalam ponsel ini." Jawab Izaz dengan senyumannya.


Membuat semuanya sedikit lega.


Haahhh...


" Alhamdulillah." Refleks mereka serentak mengucap syukur.


" Kita tidak boleh anggap semuanya remeh, kita harus berhati-hati.


Sebab, setiap dinding Istana ini memiliki daun telinga yang tajam." Ujar Hana pada mereka semua.


Ya, benar.


Semuanya paham, apa yang dimaksud Hana adalah mata-mata Vachry banyak yang sedang menstalker mereka semua.


Semuanya mengangguk paham.


" Simpan ini baik-baik bang Zaz, bila perlu masukkan ke dalam sebuah kotak lalu kubur, agar mereka tidak dapat menemukannya." Saran Hana pada Izaz.


Izaz mengangguk setuju.


Detik selanjutnya, Hana menghampiri Abriz.


" Uncle, apa tidak ada lagi yang bisa kita jadikan bukti ? Tanya Hana.


Abriz mencoba mengingat-ingat kembali kejadian tiga tahun lalu.


Beberapa detik selanjutnya ia menggeleng, belum terlintas apapun di benaknya.


" Apa kejadian ini tidak ada kaitannya dengan kecelakaan keluarga Jihan ?


Pertanyaan Hana membuat semuanya tercengang.


Dan memori tiga tahun lalu berotasi kembali dalam ingatan Abriz.


" Ada, ya ada aku baru mengingatnya." Jawaban Abriz membuat semuanya penasaran.


" Ceritakan kronologisnya uncle." Ujar Hana padanya.


Abriz memulai ceritakannya.


" Kecelakaan yang terjadi bukan murni terjadi.


Melainkan semuanya terjadi karena rencana yang telah dilakukan Vachry." Semuanya terkejut mendengarnya.


Tiga tahun lamanya, baru ini mereka mengetahui kejadian sebenarnya.


Seketika pitam Arga menaik, darahnya mendidih, amarahnya mulai menggelegar.


" B*JINGAN !! Upatnya.


Ya, rasanya ingin sekali dia membunuh lelaki brengsek yang telah menghilangkan nyawa gadis yang ia cintai, bahkan juga keluarga gadis itu.

__ADS_1


Arga meraih kerah leher Abriz dengan penuh amarah.


" Kenapa kau tidak memberitauku ha brengsek !! Bentak Arga pada Abriz.


Hana melihat Arga diselimuti dengan amarah.


Bahkan tatapannya penuh dengan kebencian.


" Arga kontrol diri !!


Jangan sampai syeitan menguasai diri." Ujarnya pada Arga.


" Arga !!


" Arga tenangkan pikiranmu !!


Biarkan melanjutkan kronologisnya." Kata Izaz seraya menarik Arga dari Abriz.


" Siapa-siapa yang terlibat didalam kecelakaan ini uncle ? Tanya Hana mengintimidasi.


" Dev Rakses, ya Rakses yang diperintahkan Vachry untuk menabrak mobil yang dikemudikan Hammer."


" Dev Rakses." Ucap mereka serentak.


" Ya, Rakses adalah salah satu manusia yang terkenal dengan keahliannya dalam membunuh orang tanpa menyentuhnya, ya seperti inilah.


Keahliannya dalam mengemudi, keterampilannya menggunakan senjata-senjata tajam patut diapresiasi.


Dan ia juga sangat ahli dalam menyembunyikan semua bukti-bukti.


Bahkan ia sudah melakukan pembunuhan sudah lebih dari tiga puluh kali." Abriz menceritakan tentang Rakses sosok pembunuh bayaran sesungguhnya.


" Buset dah tiga puluh kali.


Dijadiin apa tu manusia yang dibunuh semua.


Dijadiin KFC kali ya." Ucap Ranti.


Semua memandang tajam Ranti, bisa-bisanya bercanda disituasi serius ini.


" Iyeiye mon maaf dah." Ucapnya.


" Uncle !


Apa kau tau dimana keberadaan pakci Rakses itu kah ? Tanya Hana penuh harap bahwa Abriz tau, begitu juga semuanya menunggu jawaban Abriz dengan penuh harapan.


Abriz menggeleng, membuat semuanya lesuh dan harapannya yang adapun mulai meredup.


" Yang aku tau hanya keberadaan tempat tinggalnya." Lanjut Abriz.


Semuanya kembali mengangkat wajahnya, penuh harap pada Abriz.


" Dimana uncle ? Tanya Hana.


" Seingatku dia tinggal di Bukit Bintang, Kuala lumpur. Namun rumahnya berdekatan dengan lokasi bangunan bersejarah Pudu Jail, sebab tempat itu sangat strategis untuk orang-orang sepertinya. Sepi, sangat jarang sekali untuk dikunjungi." Jawab Abriz mengingat betapa ekstrim alamat rumah Rakses.


" Baiklah aku yang akan pergi kesana." Hana menawarkan dirinya untuk pergi kesana.


" Gak." Serempak Arga, Izaz dan Ranti menolaknya.


" Aku akan tetap pergi kesana." Ujar Hana lagi.


" Han gak usah sok jagoan deh !! Ketus Ranti.


" Biar abang yang pergi kesana ya, Hana disini saja ya." Pinta Izaz.


Hana menggeleng, masih tetap pada pendiriannya." Aku akan tetap pergi."


Arga menggeleng." Kalau kamu pergi, itu artinya perjuangan kita akan benar-benar berakhir." Ucap Arga memalingkan wajahnya dari Hana.


Hana tersenyum simpul mendengarkannya.


" Perjuangan kita belum berakhir, Ga !!


Pukas Hana pada Arga.


Namun, Arga masih memalingkan wajahnya.


" Kamu tau apa yang menyakitkan dari berjuang ? Menyerah dan berhenti di tengah jalan. Ya, dan ku tau dalam hidup Arga tak pernah mengenal aksara itu.


Jangan khawatir, aku akan menyibak tirai fitnah yang terjatuh padamu. Akan kubungkam semesta yg menyudutkanmu.


Kau bukan pengkhianat kebenaran, justru kau pejuang kebenaran.


Meski nyawaku kian bertarung.


Itu takkan menjadi pengubur tekadku untuk meluluh lantakkan kedzaliman." Untaian kata ini terucap dari bibir gadis bernama Hana.


Semua tersenyum mendengarnya.


Terutama Arga.


Ya, rasa bangga, haru menjadi satu padu.


Hana adalah satu-satunya gadis yang berhati renjana.


Yang betul-betul rela mempertaruhkan dirinya untuk menegakkan kebenaran.


Bukan untuk mencari popularitas semata.


Melainkan, ikhlas karena Allah taa'la.


" Ini perjuangan kita bersama.


Apapun yang terjadi, kita semua harus tetap lumpuhkan terus racikan kedzaliman.


Meski terlihat berat, bukan berarti kita tidak bisa berbuat." Lanjut Hana dengan senyuman.


" Kamu yakin akan pergi sendiri Han ? Tanya Izaz pada Hana.


Hana mengangguk." Iya bang, Hana pergi sendirian. Abang pergilah kumpulkan para warga Terengganu beritahukan mereka tentang kebenarannya." Ujar Hana pada Izaz.


Kemudian Hana beralih pada Ranti.


" Dan untuk Ranti pergilah ke Penang bersama Rayhan untuk memberitahukan semuanya agar kedua daerah yang mulai kembali berseteru itu kembali bersatu seperti semula." Kata Hana pada Ranti.


Izaz dan Ranti mengangguk iya.


" Baik Han." Jawab Izaz.


" Berarti aku nunggu Rayhan dong." Ucap Ranti.


Hana mengangguk." Iya Ran, besok atau lusa Rayhan insya Allah sudah sampai di Malay."


Semuanya tersenyum lebar, memantapkan diri untuk menuntaskan semuanya.


" Kali ini kita harus berjuang lebih keras.


Lebih kuat lagi, sebab ini adalah titik mula dari tegaknya kebenaran." Ujar Izaz pada semuanya.


Arga, Andrea, Abriz dan Robert tanpa tersadar keempatnya menitihkan air mata.


Air mata bahagia, melihat dua wanita dan satu pemuda yang berjuang keras mencari bukti untuk menyatakan mereka tidak bersalah.


" Kalian adalah generasi penerus pejuang sesungguhnya. Semesta akan mencatat kalian sebagai sejarah yang kelak akan dikenang sepanjang masa." Ucap Robert pada mereka bertiga.


" Terima kasih telah berjuang keras sejauh ini.


Terima kasih bertahan selama ini.


Bertahanlah, sampai syurga menjadi pelabuhan terakhir dari perjuangan kita." Ujar Hana.


Rantipun mendekati Hana, dan mendekapnya dengan erat." Proud of you Han, terima kasih telah mengajarkanku menjadi wanita kuat."


Robertpun tak tinggal diam ia menggenggam erat tangan putranya.


Begitu juga dengan Izaz ia menggenggam tangan Arga, seraya berkata.


" Allah bersama kita, jangan risau."


Abriz tersenyum melihat pemandangan yang mengharukan dihadapannya.


Membuatnya teringat pada putrinya, yang sudah dua hari tak ia temui.


" Aku merindukan putriku." Ucapnya tersenyum.


Bersambung...


Sevimli, 4 April 2021


Salam hangat dari Author 🌹

__ADS_1


Jangan lupa like dan Votenya :)


__ADS_2