Pelangi Hanani

Pelangi Hanani
Part 119 Sanju Zafirah


__ADS_3

Jgn lupa like and Votenya.


Dan jangan lupa baca karyaku Selaksa Rasa ya :)


" Wanita punya takaran sempurnanya masing-masing. Punya kelebihan dan kekurangan. Dan akan terlihat sempurna ketika sempurna dengan caranya sendiri."


..... " Pelangi Hanani 🌹".....


Sakarya, Turki.


Zafirah tengah berdiri di depan cendela Apartemennya. Menatap langit yang menurunkan gerimis kecilnya.


Senyum simpul terbit diwajahnya.


Teringat sesuatu yang menyakitkan hatinya.


" Kenapa setiap kali aku jatuh cinta, pasti lelaki yang membuat hatiku terjatuh itu adalah lelaki yang mencintaimu, Han." ucapnya mengingat kenyataan pahit itu.


Sebulan yang lalu, ia bertemu dengan Rayhan.


Bermula dari Rayhan yang penasaran dengan sahabat Zafirah, yang bernama sama dengan Hana yang juga merupakan sahabatnya.


Siapa sangka.


Sahabat Rayhan yang bernama Hana itu adalah orang yang sama dengan sahabat Zafirah.


Ya, Zafirah.


Sanju Zafirah, sahabat Hana sejak Tsanawiyah.


Sanju sengaja memakai nama Zafirah di Turki, untuk mendapatkan kesan yang berbeda di sana.


Kini Sanju, meraih ponselnya.


Membuka fitur galeri, melihat potonya bersama Hana di sana. Mereka berdua tampak bahagia di poto itu, masih menggunakan seragam Tsanawiyah berlatarkan Sekolah Mata Uli.


" Kenapa kau selalu beruntung dalam hal percintaan, Han ? ujarnya pada poto itu.


Rasa sakit menyelinap masuk di relung hatinya.


Bahkan rasa benci mulai pada sahabatnya, mulai berbenih di hatinya.


" Aku benci kamu, Han !


Kenapa harus kamu perempuan itu, Han !


Parrr....


Sanju membanting keras ponselnya ke lantai.


" Aku benci kamu, Han !


BENCI ! teriaknya histeris di dalam kamar.


...***...


Arga yang sibuk dengan proposalnya, tak lagi menghiraukan kedatangan Rayhan di Apartemennya.


" Woy ! ujar Rayhan.


Arga masih tak menoleh, matanya masih sibuk memandang layar leptop dan jari jemarinya, sibuk menyentuh keyboard leptop.


Rayhan pun geleng kepala melihat sahabatnya itu. Kalau sudah belajar sedetik saja takkan bisa diganggu.


" Ga !


Lo udah taukan, kalau Zafirah untuk sahabatnya Hana ? tanya Rayhan padanya.


Pertanyaan itu berhasil membuyarkan kefokusan Arga. Ia menoleh pada Rayhan dan menggelengkan kepalanya.


" Gak, Ray." jawabnya.


" Hm, oke biar gua kasih tau.


Zafirah itu adalah sahabat tsanawiyah nya Hana, nama lengkapnya itu Sanju Zafirah, biasanya Hana manggilnya Sanju, tapi si Zafirah kalau di Turki make nama Zafirah bukan Sanju." jelas Rayhan singkat.


" Oh gitu, iya deh." hanya jawaban ini yang keluar dari mulut Arga.


" Lo ngertikan maksud pembicaraan gua ? Rayhan menatap sengit Arga.


" Iya, lo ngasih tau kalau mereka sahabatan.


Udah selesaikan ?


Rayhan menatap tak percaya Arga.


Bisa-bisanya, si manusia pintar ini tidak mengerti maksud pembicaraannya.


" Lo punya otak sebenarnya dipake buat apaan sih ? Ngerjain segala bentuk proposal, persentase lo bisa dengan nilai tinggi.


Lah, ini lo gak ngerti maksud gua apaan ngasih tau lo masalah ini ? Arga geleng kepala.


" Emang apaan ? tanyanya.


" Si Zafirah itu suka sama lo, sementara lo suka sama sahabatnya. Gua yakin persoalan ini bakalan buat persahabatan mereka renggang. Itu maksud gua bego!" upat Rayhan.


Arga pun mencerna kata-kata yang Rayhan lontarkan. Benar juga, kenapa dia gak kepikiran kesana.


"Bener juga ya, Ray.


Kalau untuk masalah Zafirah sih, gua gak masalah. Tapi, Hana ? Lo tau sendiri Hana orangnya gimana. Selalu ngorbanin perasaannya demi kebahagiaan orang lain." kata Arga tengah memikirkan Hana.


Rayhan setuju dengan Arga.


Mereka kenal betul sifat seorang Hanani Syaufa. Yang kerap kali mementingkan kebahagiaan orang lain, dari pada kebahagiaannya sendiri.


" Saran gua, Ga.


Lo bicarain baik-baik deh ke si Zafirah.


Kasih dia pengertian, dan lo juga jangan pernah ngasih dia harapan sedikit pun biar dia itu gak ngarep sama lo."


Kening Arga mengernyit.


" Dih apaan !


Gua gak pernah ngasih dia harapan, Ray.


Lo tau sendiri gua gimana ke cewek ?

__ADS_1


Kulkas berjalan kalau kata mereka mah, gua kan bakalan cair kalau sama Hana doang." jujur Arga meluruskan semuanya.


Rayhan juga berpikir seperti apa yang Arga katakan, sikap Arga memang sangat dingin ke cewek lain kecuali Hana. Bahkan dia juga tak pernah memberikan harapan sedikit pun pada Zafirah. Justru Zafirah lah yang pantang mundur mengejar Arga.


" Yaudah, Ga.


Lo coba aja saran gua tadi.


Kalau gak berhasil yaudah, yang pentingkan lo udah kasih tau dia." instruksi Rayhan pada Arga.


Arga pun mengangguk." Iya deh, entar gua bicarain baik-baik sama dia."


Rayhan pun menghamburkan dirinya diatas kasur Arga, sementara Arga kembali melanjutkan menyiapkan proposalnya.


" Hadeh..


Rebahan emang paling nikmat tak tertandingi."


kata Rayhan memenjamkan matanya.


" Dasar pemuda malas !


Gimana mau sukses kalau kerjaan lo molor terus ! cibir Arga.


" Ye, gak molor molor amat juga."


" Dikit ada posisi pw, langsung dah rebahan.


Dasar !


Rayhan tak menanggapi cibiran dari Arga, ia tetap melanjutkan rebahannya. Dan memasang aerphonnya untuk mendengarkan musik.


Dari pada mendengarkan celotehan Arga pikirnya.


...🍂🍂🍂...


Siang harinya.


Arga pun mengajak Sanju ke Taman, Kampus mereka. Untuk membicarakan mengenai proposal penelitian yang akan kelas mereka lakukan.


Dengan kemeja batik, celana keper putihnya.


Serta kacamata hitam menambah nuansa ketampanannya.


Sanju yang sudah menunggu dari tadi pun tersenyum, melihat sosok yang ia tunggu datang juga.


" Udah lama ? tanya Arga.


" Gak terlalu, sih." jawab Sanju.


" Yaudah, kita langsung mulai aja." ujar Arga.


Sanju pun mengangguk.


Diskusi di antara keduanya pun berjalan dengan baik. Arga menerangkan satu persatu point yang ada di proposal itu pada Sanju.


Kekaguman Sanju pun mulai bertambah, ketika Arga menerangkan dengan begitu berkarisma.


Mata Sanju tak hentinya fokus pada wajah Arga, bahkan tak berkedip sedetik pun.


" Selesai." ucap Arga, seraya menepuk jarinya.


" Ha ? Sanju tersadar saat tepukan jari Arga berbunyi.


Sanju tersenyum nyengir, menganggukkan kepalanya.


" Iya paham." jawabnya, pura-pura paham.


Biar gak keliatan bodoh di depan Arga.


Arga pun tersenyum simpul.


" Baguslah."


Hening.


Tak ada yang saling berbicara.


Padahal sebenarnya, ada banyak hal yang ingin Sanju ungkapkan.


" Zaf ! panggil Arga, memecah keheningan.


Sanju menoleh." Iya, Ga."


" Lo kenal Hanani Syaufa ? tanya Arga.


Degg..


Dentuman keras seketika tiba di dada Sanju.


Kenapa Arga menanyakan hal Hana, benaknya.


" Kenal, dia sahabat Tsanawiyah aku."


" Hm, lo udah tau kan kalau dia adalah gadis yang mengambil alih hati gua." ungkap Arga dengan jujur.


Sakit.


Satu kata yang tengah menghampiri hati Sanju.


Bagaimana tidak ? Pria yang ia cintai secara terang-terangan mengungkapkan bahwa dirinya mencintai orang lain. Denyutan nyeri mulai melirik hatinya Sanju.


" Kenapa kamu harus sejujur ini, Ga ? batin Sanju menyentuh dadanya yang terasa nyeri.


" Iya." hanya itu yang terucap dari bibirnya.


" Baguslah.


Gua berharap lo bisa bersikap dewasa dalam menyikapi hal ini." cetus Arga dengan senyumnya.


Sanju menarik nafasnya, dan menghelanya perlahan.


" Kenapa ya ? Setiap kali aku jatuh cinta, pasti lelaki itu adalah orang yang mencintai sahabatku. Gak adil banget rasanya." ucap Sanju, dengan senyum masamnya.


Mendengar perkataan Sanju, membuat Arga mengulum senyumnya.


" Cinta itu gak bisa ditebak kemana jatuhnya.


Terkadang ia terjatuh pada orang yang tepat dan terkadang juga terjatuh pada orang yang salah. Akan tetapi, kita bisa menentukan jalannya antara berlanjut atau tidak." imbuh Arga.

__ADS_1


Tiga detik Arga menjeda ucapannya, bangkit dari duduknya. Mengedarkan pandangannya pada gumpalan awan yang berserat.


" Sanju Zafirah.


Lo telah salah menjatuhkan hati, Zaf.


Gua bukan orang yang tepat untuk lo melabuhkan hati." Sejenak Arga menatap Sanju, kemudian kembali menatap awan.


" Gua gak bisa menjadi manusia yang diselimuti rasa bersalah, karena gak bisa balas perasaan seseorang. Gua yakin bahwa lo mampu memusnahkan perasaan itu. Meski itu berat bahkan sulit sekali, tapi gua yakin lo pasti bisa, Zaf."


Perkataan Arga semakin membuat dada Sanju sesak, hatinya terasa teriris saat Arga menyuruhnya untuk menyerah dengan perasaannya. Dia pikir melenyapkan perasaan itu semudah melenyapkan kutu di rambut.


Mata Sanju mulai berkaca-kaca tengah terbendung air mata di sana.


" Kamu pikir semudah itu, Ga ?


Kalau aku bisa sudah ku lakukan dari dulu."


Sanju berdiri, mendekati Arga.


" Dan kalau bisa juga, aku juga gak mau jatuh cinta sama kamu karena rasanya sesakit ini !


Dulu Anugrah, dia orang yang berhasil membuatku terjatuh tapi apa ? Dia juga mencintai Hana.


Hatiku sakit, bahkan remuk sampai tak berbentuk. Dan aku menyerah dengan perasaanku. Dan sekarang kamu !


Sanju menunjuk Arga dengan jari telunjuknya.


" Kamu juga mencintai Hana.


Apa aku harus selalu mengalah ? Apa aku selalu harus menyerah dengan perasaanku ?


Tidak bisakah untuk kali ini, aku yang menang ?


Tidak bisa untuk kali ini aja, aku merasakan bagaimana rasanya cinta dari orang yang aku cintai ha ?


Sanju tak dapat lagi menahan air matanya.


Tertumpah ruah begitu saja.


Ia jongkok di hadapan Arga, tak tahan lagi dengan keadaan sakit ini.


Arga pun menatap iba, gadis yang tengah menangis di hadapannya itu. Tak tau harus melakukan apa. Ia takut jika membuka suara mala membuat Sanju bertambah terisak.


" Apa Hana sesempurna itu ?


Sampai semua pria sempurna juga mencintainya ? Terkagum padanya ?


Sanju menatap tajam Arga, yang memalingkan wajahnya dari Sanju. Ia tengah menanti jawaban dari Arga.


" Hana memang gadis sempurna.


Bukan hanya wajahnya yang cantik, tapi juga hatinya melampaui kecantikan. Tak ada gadis sesempurna dirinya." kata Arga terang-terangan pada Sanju.


Sanju tersenyum smirk, mendengar sahabatnya di puji oleh pria yang ia cintai.


" Zaf ! Arga menatap Zafirah seraya tersenyum pada gadis itu.


" Setiap perempuan punya takaran sempurnanya masing-masing. Ada kelebihan dan juga kekurangannya pula masing-masing.


Namun, apa yang membuat perempuan itu tampak begitu sempurna ?


Tangisan Sanju mulai mereda, ia menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Arga.


" Ia sempurna dengan caranya sendiri.


Tanpa menjadi orang lain, tanpa memaksakan diri mengikuti standar kecantikan dan kesempurnaan orang lain. Ya, apa adanya bahasa ringannya." ucap Arga.


Sanju mulai menyadari bahwa perkataan Arga memang benar. Selama ini dia selalu berusaha tampil baik, bahkan berubah hanya karena ingin dilirik oleh Arga. Namun sayang, ternyata Arga sama sekali tak meliriknya.


" Zaf !


Gua harap, jangan hanya karena perasaan lo.


Persahabatan yang berjalan selama 6 tahun, yang udah lo dan Hana bina bubar hanya karena permasalahan ini, Zaf." cetus Arga, masih dengan nada selownya.


Zafirah menggeleng, tidak setuju dengan perkataan Arga.


" Gak !


Gua udah capek ngalah terus !


Gua udah capek selalu ngorbanin perasaan !


Gua yakin Hana pasti ikhlasin lo ke gua !


sergah Sanju, dengan sorot mata elangnya.


Arga menatap tak percaya Sanju.


Ia sudah berusaha untuk berbicara baik-baik dengan gadis ini. Namun, gadis ini masih saja keras kepala untuk mempertahankan perasaannya, yang akan membawanya pada kekecewaan.


" Capek ?


Lo bakalan lebih capek lagi kalau tetep berharap sama orang yang ga cinta sama lo.


Lo bakalan jauh lebih sakit, kalau lo masih bertahan sama orang yang gak pernah ngerasain apa-apa ke lo, Zaf." bentak Arga, menatap Sanju tajam.


Melihat tatapan itu, membuat Sanju menundukkan kepalanya. Tangannya bahkan bergetar hebat saat mendapat bentakan dari Arga.


" Gua cuma pengen lo jatuh di lubang yang sama, Zaf ! Karena itu bakalan buat lo susah buat sembuh dari luka yang berulang-ulang lo hampiri." tutup Arga.


" Gua gak bisa, Ga !


Gak bisa ! kata Sanju, masih meneteskan air matanya.


Arga sudah muak melihat Sanju yang masih saja, tak mau mengindahkan perkataannya.


Ia pun melangkah dengan cepat meninggalkan Sanju yang masih menunduk di sana.


Sanju pun menatap punggung Arga yang mulai menjauh darinya. Tangisnya semakin pecah saat.


Arghhh !! teriak Sanju kesal sekaligus benci dengan keadaan ini.


" Kali ini, aku gak mau nyerah.


Aku akan membuatmu berketuk lutut padaku, Arga ! Kita lihat saja nanti." ia tersenyum smirk mengingat rencana yang akan dibuat besok.


Bersambung.

__ADS_1


Sevimli 22 Agustus 2021


Salam hangat dari Author 🌹


__ADS_2