Pelangi Hanani

Pelangi Hanani
Part 59 Si Kulkas dua pintu


__ADS_3

" Apa tanpa ketersengajan aku udah nitipin luka ke hatimu ?


Apa tanpa sadar aku udah layangkan jarum yang menusuk relung hatimu ?


......" Pelangi Hanani 🌹"......


Arga menghampiri Hana dan Ranti yang tengah mematung melihatnya.


" Nak ikut or tak ? Tawarnya tanpa melihat mereka.


Dengan kesal Ranti menjawab " Gak butuh."


Menarik tangan Hana menjauh dari pria satu itu.


Hana menatap heran perubahan pada diri Arga.


Arga masih tak bergeming, tangannya sibuk memainkan handphonenya.


Hari mulai gelap, bukan karena waktu semakin sore melainkan awan hitam mulai memancarkan kemenangannya.


Taxi yang mereka sudah tunggu sedari tadi tak kunjung tiba juga.


" Han,Taxinya kok belum datang juga sih ?


Dari tadi loh kita nungguin di sini." Keluh Ranti.


Hana menghela nafas." Aku juga bingung Ran, kok belum tiba juga sih."


Arga yang melihat mereka dari kejauhan, datang menghampiri.


" Tawaranku tadi masih berlaku.


Sebelum berakhir jangan sia-siakan." Ucapnya.


Hana dan Ranti masih berdiam diri, tak menggubris penawaran angkuhnya.


Serttt...


Hujan mulai turun membasahi bumi.


Hana dan Ranti masih saja berdiri bingung menatap hujan yang datang mengguyur.


" Ya, gimana dong Ran ?


Ranti hanya mengedikkan bahunya, tak tau harus berbuat apa.


Kemudian Hana menengadahkan tangannya, sembari membaca doa ketika turun hujan.


" Allahumma Shoyyiban Nafi'an."


Arga menghela nafasnya, membuka kaca mobilnya, terlihatlah dua gadis bodoh yang sedari tadi menunggu Taxi yang tak kunjung datang.


Hujan semakin deras, pantulan curahannya membasahi kaki para peteduh stasiun pasar seni.


" Mandi hujan seru juga Ran." Ujar Hana kegirangan.


Ranti memutar malas bola matanya." Iya seru, terus ni barang mau dikemanakan ? Unjuk Ranti pada Hana.


Hana menepuk kepalanya baru sadar bahwa mereka sedang memiliki beban belanjaan mereka.


Tanpa berpikir panjang Arga melajukan mobilnya dan menepikannya tepat dihadapan mereka berdua.


Sstttt....


" Cepat naik !!


Kalian mau nunggu sampe hujannya berhenti ? Atau kalian mau jadi penghuni di stasiun ini ?


Tapi dilihat-lihat sih, kalian berdua emang cocok jadi penghuni stasiun ini ! Ledek Arga.


Ranti mengangkat tangan kanannya, berniat menampol kepala Arga, tapi aksinya dihentikan oleh Hana." Han, apa-apaan sih ??


Jangan hentikan aku untuk memberi pelajaran pada manusia angkuh satu ini !!


Arga masih memasang muka sok coolnya hanya menyunggingkan senyumnya.


" Udah Ran, gak usah diladeni.


Kasihan tangan kamu entar ketularan virus arogan dari dia." Hana menatap sinis ke arah Arga.


Arga yang mendengar perkataan Hana barusan, tak mau kalah ia juga menatap Hana dengan tatapan tajam." Udah deh gak usah bacot !! Cepetan masuk, entar yang ada aku lagi yang di marahin sama Uncle Vikri.


Hana memutar melas matanya.


Enggan melangkah masuk, tetap berdiam diri ditempat.


" Ran, mendingan kita ikut dia aja deh."Ajak Ranti menyerah.


Hana menggeleng tidak setuju dengan Ranti.


" Gak !! Aku nunggu Taxi aja." Jawab Hana.


" Dasar keras kepala !! Upat Arga.


" Biarin !!


Arga menyunggingkan senyumnya." Udah Ran, kalau dia gak mau kita tinggalin aja."


" Gak deh, aku nunggu Taxi bareng Hana aja." Jawabnya.


Arga tak habis pikir dengan keras kepala kedua gadis di hadapannya." Terserah !!


Arga langsung melajukan mobilnya tak peduli lagi dengan mereka berdua.


Percikan dari mobilnya Arga mengenali mereka berdua.


Cakkk...


" Astaghfirullah." Hana terkejut.


" Dasar Arga Ferguso !! Teriak Ranti.


Hana tak menyangka Arga bisa bersikap seperti itu padanya dan Ranti.


Pandangan Hana tak luput dari lajuan mobil Arga yang sudah menjauh dari mereka.


" Kamu kok berubah jadi gini sih ? Ucap Hana matanya mulai berbinar membendung air mata.


Ranti mengelus pundak Hana." Udah Han, gak usah repot-repot mikirin si kutub itu."


Hana berpura-pura senyum untuk menutupi apa yang saat ini ia tengah rasakan.


Dibawah guyuran hujan deras mereka berdua masih menunggu ketidakjelasan dari Taxi online tersebut.


Sampai akhirnya datanglah sebuah panggilan.


Aywafikum minnina....


Hana segera melihat handphonenya.


Tertera nomor baru disana.


" Siapa yang telpon Han ? " Hana mengedikkan bahunya tidak tau siapa yang menghubunginya.


Hana mengangkat panggilan tersebut.


" *Assalamu'alaikum nak, maaf ye ini Pakci Taxi yang awak pesan tadi."


" Waalaikumussalam Ah Pakci, kenapa lama sangat ye ?


Kita orang dah tunggu dari tadi Pakci.


" Maaf nak, istri Pakci masuk hospital.


Sebab tu tak dapat datang Kat sane*."


Hana memahami apa yang sedang menimpa supir tadi itu." *Innalilahi, ah iya Pakci tak pe.


Kite orang bisa naik angkutan lain. Lekas sembuh untuk istri Pakci."


" Aamiin, terima kasih nak, bapak tutup dulu ya assalamu'alaikum."

__ADS_1


" Iya Pakci Waalaikumussalam."


Ranti yang sedikit mendengar percakapan mereka menunduk lemah, berarti selama dua jam mereka menunggu hal yang sia-sia.


" Astaga, selama dua jam aku nunggu hal bodoh kekgini." Kesal Ranti.


" Ran, kamu gak boleh gitu.


Bapak itu sedang dilanda musibah jadi kita harus memakluminya. Kita gak bisa pediksi apa yang bakal terjadi sama kita kedepannya. Seharusnya kita mendoakan istrinya bukan mala mengupatnya." Tegas Hana pada Ranti.


Ranti segera menimpuk kepalanya.


" Astaghfirullah, Maafkan hamba ya Allah."


" Maaf Han, aku tadi kesel aja, bukan itu sebenarnya yang ada dihati ku kok."


Hana tersenyum." Iya, aku tau kok kamu lagi kesal, lain kali jangan gitu lagi ya."


Ranti mengangguk iya, sembari mengembangkan senyumnya.


Ia merasa senang memiliki sepupu yang selalu saja mengingatkannya pada kebaikan.


Hujan mulai sedikit redah, Hana dan Ranti memutuskan untuk naik angkutan umum saja.


Tak berselang beberapa menit, ada sebuah mobil sport yang berhenti tepat di depan Hana dan Ranti.


Hana dan Ranti saling tatap, sedang memikirkan hal yang sama yakni, siapa sih yang punya mobil.


Keluarlah sosok pemuda dengan kemeja coklat serta celana sirwalkul hitam.


Serta kacamata yang melekat pada matanya.


" Hana !!


Ranti !! Panggilnya.


" Rayhan." Ucap Hana dan Ranti bersamaan.


Rayhan tersenyum memandang wajah gadis yang beberapa hari ini telah menghantui pikirannya, dan juga menguasai hatinya.


" Lagi nunggu Taxi or jemputan ?


" Lagi nunggu bus Ray." Jawab Hana, sementara Ranti masih saja diam mematung melihat sosok Rayhan di hadapannya.


" Ah, biasanya bus kalau jam segini gak ada Han, sekitar dua jam lagi baru ada deh." Ujar Rayhan yang melihat jam melilit di tangannya.


" Haaa..." Hana menghela nafasnya berat.


" Hm kenapa hari ini sangat kacau sekali ya Ran." Keluh Hana.


Ranti tak menggubris perkataan Hana, pandangannya masih fokus pada Rayhan.


Hana yang merasa tak di sahut oleh Ranti, akhirnya menoleh ke arahnya.


" Astaghfirullah, pantesan aja gak nyahut.


Eh ternyata fokus mandangin Rayhan mulu."Protes Hana.


Ranti langsung membuang asal mukanya, merasa gugup sekaligus malu ketahuan tengah memandang lamat Rayhan.


" Apaan sih Han, siapa juga yang mandang pecahan botol satu ini." Elak Ranti.


Rayhanpun tertawa." Hahaha, biasalah Han namanya juga orang ganteng.


Udah jadi formalitas digituin." Ucap Rayhan dengan pedenya.


Ranti menyebikkan bibirnya, merasa kesal dengan pria pede tingkat jagat raya dihadapannya ini.


" Kenapa ya kalau orang yang mukanya pas-pasan selalu saja sok kecakepan." Ledek Ranti.


Hanapun mulai menggoda Ranti." Rayhan ganteng kok, banget malahan."


Rayhan membusungkan dadanya, agar terlihat gagah dengan ketampanannya.


Ranti membeliakkan matanya, tak percaya dengan gadis yang berstatus sepupunya ini.


Bisa-bisanya dia lebih membela Rayhan dari pada dirinya.


Hana dan Rayhan kompak tertawa melihat wajah kesal dari Ranti.


" Ganteng doang !! Bobroknya kebangetan." Ledek Ranti, sembari melangkah pergi meninggalkan kedua orang yang menyebalkan itu.


" Eh, Ran mau kemana itu bukan mau jalan pulangloh." Hana mengikuti langkah Ranti.


" Udah kalian ikut bareng aku aja. Aku juga sekalian mau samperin Arga." Ajak Rayhan pada mereka.


" Ran, ikut Rayhan aja yuk.Kamu kan mau pulang dari tadi." Ajak Hana." Udah ayok Ran." Hana menarik tangan Ranti tanpa menggubris jawabannya.


Ranti yang memang sedari tadi bosan menunggu, akhirnya pasrah ikut dengan mereka.


" Gak apa-apakan kami ikut bareng kamu Ray ? Tanya Hana yang dijawab gelengan oleh Rayhan.


" Udah buruan masuk, pintunya udah kebuka kok." Rayhan masuk ke bangku kemudi.


Hana dan Ranti juga menyusul masuk di bangku belakang." Terima kasih Ray." Ucap Hana, sementara Ranti hanya memasang muka melasnya.


" Gak usah sungkan gitu Han, kitakan teman." Rayhan mengemudikan mobilnya.


Sepanjang perjalanan keheningan menyelimuti mereka, tak ada percakapan sedikitpun.


Hana yang sibuk dengan ponselnya, begitu juga dengan Ranti.


Sementara Rayhan fokus mengemudi, sesekali melirik Ranti, dari kaca mobilnya.


" Ekhem." Rayhan berdehem memecah keheningan.


" Kamu lusa pulang ke Indo ya Han ? Tanyanya.


" Iya Ray, Ranti juga ikut." Jawabnya.


" Oh, safe flight ya Han. Kirim salam sana monas, udah lama gak kesana." Ucap Rayhan.


Hana tertawa kecil." Apaan sih Ray, rumah aku itu di bagian Sumatera Utara kali.


Iya kali ada Monas disana."


" Ya, kali aja kamu punya ilmu batin." Rayhan memang selalu saja ngomong ngelantur tak jelas arahnya.


" Haha, ada-ada saja kamu Ray.


Ohiya kamu kapan balek ke Jakarta ? Tanyaa Hana balik.


" Sebulan lagi Han, setelah urusanku disini selesai semua.


" Ah, berarti sebentar lagi ya Ray."


Ranti yang mendengar Rayhan akan meninggalkan Malaysia sebulan lagi, merasa sedikit sedih, ia menatap teduh punggung Rayhan di depan. Merasa tak ikhlas untuk kepergian Rayhan.


" Ray, harus ya kamu pergi dari Malay." Batin Ranti.


" Eh Ran, kok diam mulu sih ?


Lagi sariawan ya." Tegur Rayhan.


Ranti melempar pandangannya ke arah lain.


" Puasa bicara." Ketusnya.


" Tadi kayaknya kamu ngoceh mulu deh Ran, kenapa sekarang diam-diam bae." Hana mulai meledek Ranti.


" Ih Hana, terserah akulah." Ketus Ranti lagi.


Rayhan tersenyum." Udah deh, aku sebulan lagi loh di Malay.


Masa iya kita musuhuhan mulu !! Kita baikan ya gak usah ketean." Ujar Rayhan pada Ranti.


Ranti tersentak dengan ucapan Rayhan.


Seraya berpikir bahwa apa yang diucapkan Rayhan benar.


Seharusnya Ranti memberi kesan terbaik diakhir-akhir pertemuan mereka.

__ADS_1


" Bener tu Ran." Sahut Hana.


" Hm, iya kita baikan." Jawabnya masih dengan nada sedikit ketus.


Selang beberapa menit kemudian, dengan kecepatan tinggi yang Rayhan lajukan.


Akhirnya mereka sampai di Istana Nazhanul Hakim.


Di halaman Istana, mobil Arga telah rapi tertepi.


Hana, Ranti, dan Rayhan turun dari mobil.


Menatap lekat mobil Lamborghini yang sangat jarang di pakai oleh pihak Istana.


" Arga makai mobil ini ? Tanya Rayhan, sebab ia tau itu mobil kepunyaan Arga yang sangat jarang ia gunakan.


" Iya Ray." Jawab Hana.


" Tumben banget tuh anak makai mobil."


" Hm, yaudah buruan kita masuk aja.


Kamukan mau ketemu Argakan."


" Ah, iya Han." Merekapun bergegas memasuki wilayah Istana.


Rayhan, Ranti dan Hana mencari keberadaan Arga di dalam namun hasilnya nihil.


Hanapun teringat pada satu tempat yang sangat sering Arga temui.


" Lah, kok gak ada ya."


" Iya, para pelayan juga bilang kalau Arga gak ada ke Istana."


" Hm, aku tau deh Arga kemana." Ucap Hana sembari beranjak menuju Taman.


" Ya, tungguin dong Han.


Kita ikut." Ucap Rayhan seraya mengikuti langkah Hana.


" Aish, menyebalkan !!


Pulang-pulang bukannya langsung rebahan, mala nyari si kutub." Upat Ranti.


Sesampai di Taman, benar saja tebakan Hana tepat sasaran.


Terlihat Arga yang sedang termenung, menatap intens ke langit.


" Ah, itu Arga." Kata Rayhan.


" Cie, hafal banget si tempat nongkrong si Kutub." Ranti gantian membalas Hana.


Hana hanya menyebikkan bibirnya." Gak kok."


Merekapun menghampiri Arga.


" Woy bro." Sapa Rayhan yang menyadarkan Arga dari lamunannya.


" Ray, bikin kaget aja." Menatap Rayhan dan beralih pada Hana dan Ranti.


" Ha-ha-ha, santai aja kali."


Arga memutar matanya melas, sudah menebak bahwa Rayhan pasti bertemu dengannya untuk meminta bantuan.


" Gua males bantu loh." Ucapnya.


" Hm, tau aja loh Ha-ha-ha.


Please dong temenin plus bantuin gua ngurus semua keperluan perpindahan gua ke Indo." Mohon Rayhan padanya.


" Elu ya !!


Kapan emang ??


Rayhan tersenyum." Satu hari lagi."


Arga yang mendengar jawaban Rayhan langsung menggeleng." Gak, gua gak bisa


satu hari lagi gua ada jadwal." Tolaknya.


Rayhan, Hana dan Ranti mengerut heran dengan kata " Jadwal " yang terlontar dari mulut Arga.


" Ada Jadwal apaan lu ? Tanya Rayhan.


Arga tengah sibuk berpikir untuk mencari jawaban dari pertanyaan jadwalnya.


" Eehhh...


Eehh itu jadwal ke Terengganu..


Iya, elu taukan di sana belum kondusif sepenuhnya." Elaknya pada Rayhan.


Rayhan menatap tajam Arga." Elu gak lagi bohongkan ? Ucapnya curiga.


" Yaaa, yaaa gaklah."


" Hm parah banget elu mah."


Hana merasa ada yang tengah di sembunyikan Arga, terlihat dari dia sedikit berpikir untuk menjawab pertanyaan Rayhan.


Ditambah lagi, Hana sudah tau bahwa Terengganu saat ini masih dalam keadaan kondusif dan baik.


" Arga lagi nyembunyiin apa ya ? Kok dia gugup gitu jawabnya. Apalagikan Terengganu masih kondusif gak ada masalah.


Arga kenapa ya ? " Hana tengah sibuk berdebat dengan pikirannya.


" Hm, udah selesai ngomongnya ?


Gua masuk dulu deh, males banget di sini,


serasa lapisan ozon semakin menipis." Kata Arga menatap sinis Hana, sembari beranjak dari Taman.


Jleb...


Jantung Hana seperti tersengat tegangan listrik rendah..


Perkataan Arga seolah-olah mengatakan bahwa dia membawa aura buruk untuknya.


Rayhan menatap bingung Arga." Woy, elu kesambet apaan ? Kok sifat kulkas dua pintu elu balik lagi ?


" Cih, dasar Kutub Selatan." Ketus Ranti.


Hana hanya menatap teduh punggung Arga yang menjauh dari mereka.


" Apa tanpa ketersengajan aku udah nitipin luka ke hati kamu ya, Ga ?


Apa tanpa sadar aku udah layangkan jarum yang menusuk relung hatimu, Ga ?


Kalau iya, tolong beri tau aku !!


Jangan bisuin aku kayak gini." Kata-kata itu tak mampu beranjak dari hati Hana.


Ranti yang mulai melihat Hana, menatap teduh Arga, langsung menarik tangannya untuk pergi ke rumahnya.


" Han, ayok !!


Ray, kita Luan ya, assalamu'alaikum." Ucap Ranti.


" Ah, iya Ran, waalaikumussalam.


Gua juga balik ya Ran, Han." Jawab Rayhan yang dijawab anggukkan oleh Ranti.


Ranti membawa pergi Hana ke rumahnya, ia tak ingin Hana terus menerus menatap ke angkuhan manusia kutub satu itu.


Yang suhu moodnya berubah-rubah setiap detiknya...


Bersambung..


Sevimli 31 Desember 2020


Salam hangat dari Author 🌹

__ADS_1


Wah akhir tahun ni ✨


__ADS_2