
" Tingkat kelicikanmu yang luar biasa itu patut di apresiasi, dan membuatmu mendapat gelar Pengkhianat Caumlade."
......" Pelangi Hanani 🌹".......
Seusai anak buahnya mengambil surat yang ia maksud, kemudian anak buahnya menyerahkannya kepadanya.
Ia tak ingin melepaskan Hana yang sekarang ini menjadi tawanan, langsung saja dia menyuruh Arga menandatangani surat yang berisikan, bahwa Argalah yang bersekongkol dengan Robert dan juga pembunuhan bayaran itu alias Salim.
" Cepat berikan kepada dia, agar dia menandatangani surat itu." Titahnya pada anak buahnya.
" Baik Bos." Ucap anak buahnya sembari memberikan surat dan pulpen pada Arga.
Arga meraih surat dan pulpen itu, dan membaca isi surat tersebut.
Arga terkejut membaca isi surat yang menyatakan dirinya mengontrak Robert dan juga Salim untuk menghancurkan Ayahnya.
Ya, semua pertikaian dan pengkhianatan yang Pejabat itu lakukan, ingin dia manipulasi.
Seakan-akan Argalah yang merencanakan semuanya.
Seketika emosi Arga mendidih, rahangnya mengeras dengan geram, sorot mata elangnya menunjukkan bahwa ia ingin menghabisi Pejabat itu saat ini juga.
" Kau!! Teriak Arga melayangkan surat itu ke arah si Pejabat.
" Biadab !! Kau akan ku habisi sekarang juga." Ucapnya seraya mendekati Pejabat itu.
Dengan cepat Pejabat itu kembali memainkan pisaunya di leher Hana.
" Sebelum kau menghabisiku, aku akan terlebih dahulu menghabisi nyawa gadis ini." Ancamnya pada Arga.
Seketika langkah Arga terhenti, kepalan tangannya semakin erat, emosinya semakin membara, rahangnya semakin mengerang keras.
Ingin sekali dia menghabisi pengkhianat ini dengan tangannya sendiri saat ini juga, namun semuanya tertahan saat ia menyadari ancamannya yang akan membahayakan Hana.
" Arga jangan hiraukan aku !! Jangan tanda tangani surat itu Ga." Ucap Hana menggelengkan kepalanya pada Arga.
Arga menatap intens Hana yang kini berada di genggaman Pejabat.
" Tidak Han, aku tidak ingin kau terluka lagi." Ucapnya dengan senduh dan setetes air mata lolos dari matanya.
Ya, dua pilihan yang saat ini di suguhkan padanya amatlah berat.
Antara dia akan kehilangan kepercayaan Ayahnya lagi atau ia akan kehilangan Hana, sosok gadis yang berhasil mengubahnya dan telah menempati hatinya saat ini.
Rasa sesak semakin menyelimuti hatinya, pikirannya kini berantakan, langkah kini tercekat seakan-akan kedua pilihan itu tak membuatnya berdaya saat ini.
Amarah yang berkobar sejak tadi seharusnya sudah ia luapkan sekarang, tapi sebisa mungkin ia berusaha menahan amarahnya. Untuk tidak bertindak gegabah yang hasilnya nanti akan membahayakan Hana.
Arga kembali memungut surat yang ia lemparkan tadi, dengan berat hati akhirnya menyerah dengan keadaan.
Ia menanda tangani surat itu dengan berat hati. Hana terus berteriak pada Arga untuk tidak menandatangani surat itu.
" Arga jangan bodoh ! Jangan tanda tangani surat itu.
" Arga jangan pikirkan aku, aku akan baik-baik saja." Teriak Hana padanya mencoba tetap tersenyum, berpura-pura menunjukkan bahwa dia tidak apa-apa dengan luka kecil itu.
" Arga, kau baru saja mendapatkan kepercayaan Ayahmu kembali. Jangan sampai kau kehilangannya lagi." Teriak Hana lagi, terus mencoba menyakinkan Arga untuk tidak menandatangani surat itu.
" Hahaha berteriaklah sesuka mu, dia takkan dengarkan kau cakap apapun." Cibir Pejabat itu.
" Uncle kenapa kau sedendam ini ha ?
Kalaupun kau dendam kau tak berhak bawak Arga kat problem kau ni." Teriak Hana dengan keras pada pejabat itu.
" Kau tau kenapa aku buat rencan ni ?
Hana menatap tajam pejabat itu.
" Aku lakukan ni, sebab aku nak Nazhanul lebih menderita ketika tau bahwa putranya inilah yang berkhianat padanya." Jawabnya dengan tatapan devilnya.
Seusai Arga menandatangani surat itu, ia menyerahkannya kepada anak buah pejabat itu.
" Ambil ini." Ucapnya.
Kemudian ia mendekati pejabat itu, untuk menagih janjinya setelah menandatangani surat itu, pejabat itu akan melepaskan Hana.
" Suratnya sudah ku tanda tangani, sekarang lepaskan Hana Penjilat." Ucap Arga dengan emosi.
Bukannya menggrubis perkataan Arga, pejabat itu, mala justru tertawa penuh kemenangan.
" Hahaha, bodoh ! Kau pikir aku akan melepaskannya dengan mudah.
" Tidak akan, hey kalian semua cepat hajar dia." Titahnya pada anak buahnya.
Arga semakin mengeram emosi telah dipermainkan oleh Pejabat berengsek ini.
Arga tersenyum masam mendengar dia menyuruh anak buahnya untuk menyerang Arga, yang bahkan kemampuannya jauh di bawah Arga.
" Dasar bodoh !! Kau menyuruh anak kucing melawan singa hahaha." Ucap Arga menyepelekan mereka.
Bukannya merasa bodoh, Pejabat itu justru kembali mengancam Arga.
" Aku tidak bodoh bocah ingusan. Kau tidak lihat kekasihmu ini masih ada di genggamanku.
" Jika kau berani melawan satu pukulan saja, pisau ini akan memenggal kepala gadis ini." Ancamnya pada Arga.
Hana menggelengkan kepalanya,
ia tak ingin Arga terluka hanya karena ingin menyelamatkannya.
" Arga jangan !! Teriaknya.
" Uncle ku mohon jangan sakitin Arga." Hana memohon pada pejabat itu.
Semangat berkelahi Arga yang tadinya riuh, akhirnya kini terpatah.
Lagi dan lagi Pejabat berengsek itu berhasil memanfaatkan keadaan.
Kalau saja ini tidak menyangkut nyawa Hana, sejak tadi Arga akan mendapat gelar sebagai pembunuh.
Namun ia tak berdaya, jujur saja hatinya melemah saat melihat Hana terluka.
Arga tertunduk pasrah.
" Kau memang pantas di gelar pengkhianat Cumlaude, otakmu yang biadab itu memang sangat licik." Teriak Arga padanya.
" Hahaha, cepat pukul dia, buat dia tidak berdaya sedikitpun." Titahnya pada anak buahnya.
" Arga, ku mohon pergilah dari sini.
Jangan pedulikan aku, Ga." Ucap Hana dengan lirih padanya.
Hana tak dapat lagi menahan cairan bening yang terbendung di matanya, agar Ia kelihatan tegar di hadapan Arga.
Namun ia tak sekuat itu, cairan bening itu akhirnya tertumpah di wajahnya.
Bukhh...
Bukhhh
Bukhh...
Hahahahaha. Suara pukulan itu bersatu padu dengan tawa para lelaki berengsek itu.
" Arga, Arga ku mohon pergilah hiks...hiks..hikss." Ucap Hana dengan tangisannya.
Arga menoleh kearah Hana, dan mencoba tetap tersenyum. Sebab ia tak ingin Hana mengkhawatirkannya.
Bukhh.. Bukhh..
Satu demi satu pukulan keras itu mendarat di wajah tampan Arga.
Yang menyebabkan luka di sudut bibirnya.
Darah segar mengalir di bibirnya.
__ADS_1
Yang membuat tangis Hana semakin pecah.
" Arga-- aa ku mohon jangan bodoh !! Lawan mereka Ga !! Kau tak selemah itu." Teriak Hana yang mulai terisak.
Arga tersenyum pada Hana. Detik selanjutnya Arga membuka mulutnya.
" Aku tak ingin kau terluka Han, kau terlalu berharga, sesiapapun takkan ku biarkan melukaimu." Ujar Arga berusaha terlihat tegar meski kini dirinya dibalut luka parah.
Arga hanya diam saja, pasrah menerima semua pukulan yang di berikan keempat anak buahnya.
Kemudian Pukulan itu beralih, turun tepat di bagian perut Arga.
Bukhh..
Bukhhh..
Bukh.. Tendangan serta pukulan yang membanjiri tubuh Arga membuat Arga tersungkur ke lantai.
" Arga." Teriak Hana yang melihat kini kondisi Arga penuh dengan luka serta darahnya.
" Uncle ku mohon hentikan. Jangan sakitin Arga Uncle." Mohon Hana dengan lirih padanya.
Pejabat itu tak menggubris Hana.
" Cepat berikan lagi pukulan pada perutnya, agar dia sama sekali tak berdaya. Kalau bisa buat dia sangat sulit untuk melangkahkan kakinya.
Hana yang mendengar perkataan Pejabat itu, semakin naik pitam, ingin sekali menghajar Pejabat ini tanpa ampun, tapi tangan dan kaki Hana yang masih terikat menghalangi dirinya.
Apa boleh buat, tak bisa menghajar Pejabat itu, akhirnya dengan geramnya Hana meludahi pejabat itu.
" Cuih, dasar kau Iblis." Ujar Hana sembari meludahi wajah pejabat itu.
Tak terima di ludahi oleh Hana, pejabat itupun menampar Hana.
Plakk..
" Berani sekali kau meludahiku." Teriaknya pada Hana.
Bukannya mala takut Hana justru kembali mendaratkan ludahnya di wajah Pejabat itu.
" Cuih, aku tak pernah takut dengan iblis sepertimu." Jawab Hana dengan lantang padanya.
Arga tersenyum melihat Hana, bangga dengan keberanian yang dimiliki Hana.
Sementara Pejabat itu semakin emosi dengan Hana, ia kembali menghujani Hana dengan tamparan keras.
Plak..
Plakkk...
" Dasar Iblis." Teriak Hana kembali padanya.
" Dasar kurang ajar kau, cepat kalian hajar kembali dia." Titahnya dengan keras pada anak buahnya.
Tanpa menjawab keempat anak buahnya kembali meraih tubuh Arga, dan menghajarnya sampai babak belur.
Bukhh...
Bukhhh..
Bukhh..
Serangan yang bertubi-tubi menghujani Arga, membuatnya kini terbaring tak berdaya di lantai gubuk itu, tubuhnya penuh dengan luka yang bisa dibilang parah, bahkan sekujur badannya kini dilumuri darah.
Ha-ha-ha. Tawa mereka bersama melihat Arga yang di sekujur badannya di penuhi luka.
" Arga." Tangis Hana mulai pecah.
" Kalian semua memang Iblis." Teriak Hana pada mereka.
" Ini akibat yang kalian tanggung, sebab berani mencampuri urusanku." Ujarnya pada Hana.
Kemudian ia mendorong Hana dengan kasar ke dinding, sampai kepala Hana terbentur ke dinding.
" Aww." Rintih Hana.
Mereka terus mentertawakan nasib Hana dan Arga.
" Jom kita pergi dari sini, biarkan mereka mati kutu di sini." Ujarnya pada anak buahnya.
" Jomlah bos." Ucap anak buahnya.
Merekapun keluar meninggalkan gubuk itu.
Tiba-tiba saja si kepala pelontos menghampiri Hana.
" Hey, kau tadi cakap aku botakkan." Ucapnya pada Hana.
" Baiklah ini hadiah untukmu." Sambung seraya memberikan Hana seekor katak.
Detik selanjutnya ia pergi dengan tawanya.
" Dasar botak, bodoh." Ledek Hana.
" Kau pikir aku takut dengan hewan ini." Ya, benar saja katak bukanlah hewan yang menakutkan untuk Hana.
Hana kembali fokus pada Arga.
Mencoba untuk menghampirinya walau dengan cara menyeret tubuhnya yang telah terikat.
" Arga." Sedikit demi sedikit Hana mulai mendekati Arga.
" Kenapa kau sebodoh ini ha ?
Kenapa kau tidak melawan mereka ?"
Hana terus mengupat.
Jarak Arga dengan Hana kini hanya dua langkah saja.
Masih terbaring lemah dilantai, Hana terus mengupat Arga.
" Kau memang lemah sekali !!
Melawan empat anak kucing saja kau tidak mampu, Ga.
"Haha Kau kalah jauh dari aku, Ga." Ucap Hana dengan tawa yang dibuat-buat.
" Arga, ayo bicara.
Jangan membuat aku khawatir Arga." Ucap Hana dengan lirih.
" Kenapa kau melakukan ini ha ? Biarkan saja dia menghabisiku. Jangan pedulikan aku Arga."
" Arga, kau harus bangun. Kita masih punya waktu untuk memberantas pengkhianat itu, kita masih bisa menyelamatkan ayahmu."
Berkali-kali Hana melontarkan kata-kata pada Arga, namun Arga tak kunjung menyahutnya.
" Arga, aku akan selalu ada untukmu." Ucap Hana.
" Ku mohon bangunlah." Ujar Hana dengan tangisnya.
Perkataan Hana " aku akan selalu ada untukmu." Seakan-akan seperti magnet yang melekat di telinga Arga.
Mata Arga terbuka, pandangan pertamanya tertuju pada gadis yang kini menangis di hadapannya.
Dengan samar-samar ia melihat Hana menangis khawatir dengan keadaannya.
Lengkungan senyumannya timbul diwajahnya.
" Hey ga-dis an-eh, ken--aapa kau menangis." Ujarnya sedikit terbata pada Hana.
Hana terkejut mendengar suara Arga.
" Arga."
__ADS_1
" Alhamdulillah, aku kira kamu tadi udah mati." Ucapnya dengan asal.
Arga meletotkan kedua bolah matanya, mendengar perkataan Hana membuatnya kesal.
" Apa ? Jadi ini ceritanya kamu doain aku mati cepat gitu ? Tanya Arga dengan nada kesalnya.
" Eh bukan gitu maksud aku, tadi aku itu ngeledek kamu habis-habisan, tapi kamu sama sekali gak ngelawan, ya aku khawatir." Ucap Hana dengan jujur.
Arga tersenyum lebar.
" Aku kuat tidak seperti si Anugrah yang cengeng itu." Dalam kondisi lemah seperti kesombongan Arga sama sekali tidak meluntur sedikitpun.
" Ya Allah dalam kondisi lemah seperti ini, keangkuhannya bahkan tidak berkurang sedikitpun." Ucap Hana dalam hati.
" Dasar sombong." Ketus Hana.
Arga tertawa, detik selanjutnya pandangannya fokus pada leher dan juga kening Hana.
" Han, leher dan kepalamu terluka." Ucapnya dengan khawatir.
" Eh, aku gak apa-apa kok.
Yang ada kamu yang terluka. Lihat sekujur tubuhmu di penuhi luka dan darah, Ga." Ucap Hana dengan lirih.
" Ha-ha-ha, akukan sudah bilang kalau aku ini kuat, luka macam ni benda kecik je." Lagi-lagi Arga menyombongkan dirinya.
Hana hanya memasang wajah masamnya pada Arga, merasa kesal dengan pria angkuh dihadapannya.
Arga mencoba bangkit untuk membukakan ikatan pada kaki dan tangan Hana.
" Awwhh." Arga merintih merasa sakit pada perutnya ketika hendak bangkit.
" Arga kamu mau ngapain." Tanya Hana yang khawatir.
" Ya, mau buka ikatan di tangan dan kaki kamu lah." Jawab Arga singkat.
" Tapi kamu kesakitan gitu, gak usah dipaksa deh." Ujar Hana.
" Udah diem. Aku bisa kok." Ucap Arga pada Hana.
Walau rasanya bangkit untuk duduk saja, Arga merasa kesakitan tetap saja ia akan melakukannya.
Agar ia bisa segera melepaskan ikatan yang mengekang Hana itu.
Satu persatu tali itu berhasil Arga lepaskan.
" Arga jangan dipaksa ga, nanti kamu terluka." Ujar Hana padanya.
" Udah diem deh, jangan banyak bicara nurut aja." Titah Arga padanya.
Tinggal satu ikatan, dan akhirnya Arga berhasil membuka ikatan terakhir itu.
" Alhamdulillah." Ucapnya.
Hana yang kini sudah dengan bebas menggerakkan kaki dan tangannya, ikut menyusul Arga mengucapkan hamdalah.
" Alhamdulillah, terima kasih Arga." Ucapnya.
Arga membalas senyuman Hana.
" Sama-sama."
" Arga, ayok kita segera pergi dari sini. Dan mengobati semua lukamu." Ucap Hana.
Tiba-tiba saja luka di leher Hana membuat Hana merasakan sakitnya.
" Aww."
Arga menoleh kearah Hana.
" Han, kau tidak apa-apa ? Tanyanya khawatir.
Hana menggeleng tidak, walau sebenarnya terasa sakit ia tetap berusaha biasa saja di depan Arga.
" Han, jangan bohongi aku." Tekan Arga.
" Tidak, aku baik-baik saja. Lukamu yang seharusnya kau khawatirkan bukan aku."
" Mari ku papah, aku tau kau pasti belum bisa berjalan dengan baik." Kata Hana padanya sembari mengulurkan tangannya.
" Ya Allah maafkan hamba, kali ini harus bersentuhan dengan laki-laki yang bukan mahrom hamba." Ucap Hana dengan pelan akan tetapi masih bisa di dengar Arga.
Arga tak menerima uluran tangan Hana, sebab ia tak ingin membuat Hana menyentuhnya.
Ia berkali-kali mencoba untuk berdiri, namun tetap saja tidak bisa.
Hana yang melihat Arga seperti itu, tidak dapat menahan diri lagi.
Iapun menarik tangan Arga dan meletakkannya di pundaknya.
" Han, apa yang kau lakukan ? " Tanya Arga padanya.
" Udah diam deh, jangan banyak bicara nurut aja." Kata-kata yang Arga ucap sebelum kini kembali Hana ucapkan.
" Aish budak ni." Kesal Arga pada Hana.
Walau badan Arga cukup berat, Hana tetap berusaha memapahnya keluar.
Setidaknya sampai di luar gubuk ini saja, dia sudah merasa lega.
" Kamu kelihatan kurus gini, tapi berat juga ya." Ucap Hana pada Arga.
" Ye, berat darimana kamunya aja yang lemah." Ledek Arga.
" Hm, dasar gak tau diri udah dipapah gini juga masih ngeledek orang." Kesal Hana pada Arga.
Arga tertawa melihat ekspresi kesal Hana.
" Bodoh amat." Ucap Arga.
" Arga patung.
Arga nyebelin." Teriak Arga dan menjatuhkan Arga ke lantai saat sampai keluar gubuk.
" Aduh, kamu kejam banget sih." Ucap Arga.
" Bodoh amat." Balas Hana menjulurkan lidahnya.
" Awas kau ya." Ancam Arga.
Hana memperhatikan di sekeliling daerah itu, sama sekali tidak ada orangnya yang melewat, bahkan hanya ada beberapa mobil yang melintas.
Arga masih terduduk lemah.
Pusat perhatian Hana tertuju pada Motor sport Arga.
Yang harganya bisa membangun sebuah rumah bahkan tak berguna sama sekali, untuk saat ini.
Sebab, Arga tak berdaya untuk mengendarai, begitu juga dengan Hana yang sama sekali tak bisa mengemudikan motor yang pakai Kopling.
" Motor tak gune." Ucap Hana sembari menendang motor Arga.
Arga yang melihat motornya ditendang Hanapun berteriak.
" Oy, kamu apa-apa sih,
seenak jidat banget nendang motor sport aku." Ketus Arga pada Hana.
" Motor ini cocoknya di buang ke laut !! Percuma mahal kalau sama sekali gak berguna." Ketus Hana balik.
" Dasar kau !! Udah ah malas banget ngomong sama cewek aneh kek kau." Ucap Arga.
" Ye, aku juga ogah bicara sama cowok patung kek kamu." Balas Hana tak mau kalah dari Arga.
Ya, bukannya mereka kompak untuk memikirkan bagaimana cara agar bisa segera pulang, mereka mala justru mempertengkarkan hal-hal yang sebenarnya tak perlu untuk di debatkan.
__ADS_1
Sevimli 17 November 2020.
Salam hangat dari Author 🌹