Pelangi Hanani

Pelangi Hanani
Part 113 Pencarian agama


__ADS_3

" Untuk kita yang Allah pilih sebagai muslim sejak lahir, itu artinya Allah telah percakapan kita sebagai penghuni surgaNya kelak. Oleh sebab itu, teruslah melakukan kebajikan sampai akhir hayat."


..... " Pelangi Hanani 🌹".....


Akhir-akhir ini Sanju selalu curhat mengenai pria yang tengah memikat hatinya. Tak kenal waktu ia menghubungi Hana, hanya untuk menceritakan bagaimana hari-hari yang ia lewati bersama pria itu.


" Assalamu'alaikum, Han." ucap Sanju ketika panggilannya di terima oleh Hana.


" Waalaikumussalam." jawab Hana di sebrang telpon.


" Han, aku senang banget tau." ucap Sanju kegirangan.


Mendengar nada girang dari Sanju, senyum di bibir Hana pun terbit.


" Emang senang kenapa sih ? tanya Hana.


" Cowok yang aku suka nerima bekal yang aku siapin buatnya." jawab Sanju.


Hana pun mengangguk mengerti.


" Alhamdulillah, ada kemajuan dong hehe." Hana ikut senang mendengarnya.


" Tapiii---


" Tapi apa, San ? tanya Hana.


" Kata temennya, sudah ada gadis yang menduduki hatinya, bahkan gadis itu sangat sempurna." jawab Sanju lesuh.


Hana pun menggeleng, tidak setuju jika Sanju harus putus asa untuk menahlukkan pria yang ia sukai.


" Denger, San.


Selagi janur kuning melengkung, kamu masih punya kesempatan untuk menahlukkan hati pria itu.


Ya, dengan cara cintai dulu Penciptanya baru deh, dengan mudah Allah bakalan kasih hambaNya untuk kamu, San. Semangat !! Hana menyemangati Sanju.


Sanju pun tersenyum, benar kata Hana.


Selagi pria yang dia sukai belum menikah, tiada sesiapapun yang berhak menghalangi cintanya.


Inilah alasan Sanju senang bercerita dengan Hana.


Sebab, Hana selalu mendengarkannya dengan baik.


Dan, bahkan selalu mensupport nya untuk hal positif.


" Makasih ya, Han.


Kamu emang temen aku yang paling the best." ucapnya haru.


" Iya sama-sama.


By the way, gak kerasa ya San, kita udah setahun aja kuliah di negri orang." ungkap Hana seolah tak menyangka.


" Iya Han, bener.


Aku juga gak nyangka nemuin cinta di langit Turki."


Senyum Sanju begitu menawan, kala mengingat sosok pria yang tengah mengisi hatinya.


" Hm, bucin !


Belajar yang bener, entar kalau udah lulus baru deh fokus ke cinta-cintaan." cibiran Hana.


Sanju terkekeh kecil mendengar perkataan Hana.


Merasa tersinggung sih, tapi ya gimana ?


Apa yang dikatakan Hana itu ada benarnya.


" Hm, mentang-mentang cinta pertama dan terakhirnya Anugrah, yang lain mah gak bakalan ke lirik dah sama Hanani Syaufa." ledek Sanju.


Mendengar nama Anugrah, membuat Hana tersenyum simpul. Kilas memory kembali menyeruak, terakhir kalinya ia berkomunikasi dengan Anugrah adalah setahun yang lalu. Dimana ia benar-benar melepas perasaannya pada Anugrah.


Begitu juga dengan Anugrah, menerima dengan lapang dada keputusan Hana, dan menyatakan bahwa mereka berdua hanya akan menjadi teman sampai kapanpun.


" Ehem...


Cie yang kepikiran ! suara Sanju menyadarkan Hana dari lamunannya.


" Apaan sih, San !


Perasaan kami benar-benar sudah berakhir lama, San.


Aku sadar bahwa tidak sepantasnya aku menjatuhkan hatiku, pada dia yang tak menganggap Allah sebagai Tuhannya." ungkap Hana.


Ranti pun mengerutkan keningnya.


" Tapi, Anugrah bersedia menjadi mualaf Han."


" Senantiasa Allah memudahkan jalannya, San."


" Hm, yaudah deh Han.


Aku doain yang terbaik untuk kalian berdua." ujar Sanju..


Hana pun tersenyum simpul..


" Oh ya, udah dulu ya, San.


Aku mau berangkat kajian ni." ucap Hana pada Sanju.


" Ahiya Han.


Semangat , assalamu'alaikum." tutur Sanju.


" Kamu juga, San.


Waalaikumussalam."


Hana pun menutup panggilannya.


Hana pun meraih tas slingbadnya, dan segera pergi menuju ke Masjid dekat asramanya, yang sedang mengadakan kajian rutin, setiap minggunya.


" Sa !


Buruan berangkat ! teriak Hana pada Raisa.

__ADS_1


Raisa pun keluar dari kamarnya.


Dan bergegas menghampiri Hana.


" Kuy !


Nima katanya gak ikut katanya, lagi gak enak badan." ujar Raisa.


Hana pun mengangguk paham.


" Oh yaudah.


Kita berangkat sama anak yang lain, biar ramai."


" Iya, Han."


Keduanya pun bergegas turun ke lantai bawah, untuk menemui yang lainnya. Agar berangkat bersama ke Masjid Amru bin Ash. Ya, masjid yang terletak tidak jauh dari Kampus Al Azhar.


Tak lama kemudian, mereka pun berangkat.


Pergi bersama-sama untuk mendengarkan pengajian.


Ya, salah satu hal terampuh untuk menambah stamina iman ialah dengan memperbanyak mendengar kajian. Untuk menambahkan wawasan bagi kita yang awam ini. So, kalau bisa sering-seringlah datang ke Pengajian untuk menambah wawasan kita mengenai Islam lebih luas.


.


.


.


• Florida, Amerika.


Anugrah tengah duduk di salah satu Taman, Kampus Alkan. Ia berharap bertemu kembali dengan Alkan, sebelum kepergiannya ke Mesir.


Sudah sekitar dua jam Anugrah berdiam diri menunggu kedatangan Alkan.


Namun, tak kunjung ia temui juga.


Anugrah berdiri, berjalan kesana kemari melirik ke kanan dan kiri. Mencari sosok lelaki yang ia tunggu.


" Tuhan !


Pertemukan aku dengan dia." ucapnya.


Tiba-tiba saja Anugrah merasa ada seseorang yang menyentuh bahunya.


" Siapa sih ? ia pun menoleh." Alkan." ucapnya saat melihat sosok Alkan yang menyentuh bahunya.


" Bang Anugrah.


Kok bisa ada disini ? tanya Alkan.


Anugrah pun tersenyum." Mau ketemu kamu." jawabnya.


Alkan pun mengajak Anugrah duduk, untuk lebih rileks mengobrol satu sama lain.


" Gimana kabar, bang ? tanya Alkan.


" Alhamdulillah, sehat." jawab Anugrah dengan santai.


Alkan terkekeh kecil saat mendengar lafadz hamdalah terucap dari bibir Anugrah.


" Kenapa kau tertawa ?


" Bang Anugrah tadi ngucap hamdalah lo, sadar ga ?


" Hm, glady bersih buat jadi mualaf entar." jawabnya sedikit terkekeh.


" Ada-ada aja bang Anugrah, mah."


Beberapa detik kemudian, keheningan mengambil ahli diantara mereka, keduanya terdiam dengan pikirannya masing-masing.


Dan pada akhirnya, Anugrah pun membuka suara, memecah keheningan.


" Kan ! panggilnya.


Alkan menoleh." Iya, bang." sahutnya.


" Aku mau ke Mesir.


Doain ya, lancar." ucapnya.


Mata Alkan melotot sempurna saat ucapan itu keluar dari mulut Anugrah.


Mesir ? untuk apa ? Benak Alkan.


" Mesir ?


Mau ngunjungi keluarga abang yang disana, ya ? tebak Alkan, akan tetapi Anugrah menggeleng.


" Gak.


Mau nuntut ilmu." ralatnya.


Kening Alkan mengernyit, masih bingung dengan Anugrah. Kenapa tiba-tiba mau ke Mesir ?


Menuntut ilmu ? Bukannya di Florida, dia juga tengah menempuh pendidikan.


Dalam benak, Alkan bertanya-tanya.


Menatap lekat-lekat pria di sebelahnya, tengah mencari jawaban.


" Bukannya, disini abang juga nuntut ilmu ? tanyanya.


" Iya, ilmu dunia.


Kalau ke Mesir ilmu akhirat." jawabnya dengan mantap.


Kini Alkan pun sedikit mengerti, meski masih ada saja pertanyaan yang tercokol di kepalanya.


" Kenapa harus sejauh Mesir, bang ? tanya lagi.


Pandangan Anugrah kini beralih pada langit yang biru, yang tengah diselimuti puluhan burung.


Dengan senyuman yang merekah di wajahnya.


Ia pun mulai membuka mulutnya.

__ADS_1


" Mesir merupakan tempat peradaban manusia yang ada di alam semesta ini. Dan disana, ada Al Azhar yang merupakan wadah pendidikan Islam yang memiliki sejarah nyata, dengan dinamika ciri khasnya berbeda dengan yang lain.


Al Azhar sendiri juga merupakan bibit unggul dalam sistem pendidikan. Bahkan sudah memasuki ranah internasional. Bahkan menurut beberapa ilmuwan sejak berdirinya 973 M, Al-Azhar telah menjadi bagian terpenting dalam pembentukan karakter generasi muda yang beragama Islam untuk memiliki wawasan agama yang luas." jelas Anugrah tanpa sungkan pada Alkan.


Sejenak Anugrah menjeda ucapannya.


Melipat tangan diatas dada, kemudian tersenyum.


"Aku ingin mengenal lebih luas lagi seluk beluk Islam, lebih dekat lagi dengan Islam, lebih mencintai Islam dengan sesungguh-sungguhnya cinta. Agar niatku lebih tertata rapi lagi untuk memeluknya. Dan aku yakin, Mesir adalah tempat yang cocok untukku melakukan semuanya." sambung Anugrah.


Alkan pun tersenyum seraya mengangguk.


" Setelah semua tujuanmu tercapai,akankah engkau memeluk Islam, bang ?


Anugrah menggelengkan kepalanya.


" Untuk hal itu, biarkan Tuhan yang menentukan.


Tapi, kalau ditanya dimana lidah ini akan mengucapkan kalimat syahadat. Aku ingin Baitul maqdis yang menjadi saksi pertama untuk keislamanku." ungkap Anugrah tanpa ragu.


Sudut bibir Alkan melengkung membentuk senyuman.


" Bagaimana dengan keluarga abang ? tanyanya.


Pertanyaan itu berhasil mengguncang batin Anugrah.Sejenak Anugrah terdiam, benar saja. Sejauh apapun dirinya berkelana, ayahnya takkan tinggal diam begitu saja.


Sudah pasti anak buahnya tengah memata-matainya, bahkan sampai ke Amerika.


" Kalau untuk sejauh Mesir.


Aku yakin langkah mereka berat untuk kesana." jawabnya mencoba yakin sepenuh hati.


Alkan pun semakin mengembang senyumnya.


" Aku iri padamu, bang. Hatimu begitu mulia sampai punya tekad sekeren itu." ucapnya respect pada Anugrah.


Perkataan itu bukannya membuat Anugrah senang. Ia justru tertunduk diam, seraya menatap lantai tanah yang terurai dedaunan disana.


"Justru aku yang iri padamu, Kan!


Kamu memiliki nikmat yang bahkan sampai detik ini tak pernah sama sekali kugapai." ungkapnya.


Terdengar santai, namun maknanya begitu dalam.


"Islam ?terka Alkan.


Anugrah mengangguk, sembari memangut senyumnya.


"Benar, aku belum menyandang gelar sebagai salah satu umatnya nabi Muhammad."


"Suatu saat Allah akan izinkan engkau untuk merasakannya, bang. A takes a long time memang, tapi itu pasti bang, semangat bang!" ujar Alkan, menyemangati Anugrah.


" Yups.


Beruntunglah kalian, yang Allah pilih sebagai muslim sejak lahir. Sebab, membuka mata hati untuk suatu kebenaran itu bukanlah hal yang mudah. Hal itu sudah ku alami sejak dulu sampai sekarang. Dan maha suci Allah ia telah memilihku sebagai manusia yang terketuk hatinya akan cahaya Islam. Itu adalah anugerah terbesar untukku."


Tanpa izin dari Anugrah, Alkan langsung memeluk Anugrah, menepuk pelan punggung Anugrah.


" Senantiasa selalu dalam lindungan Allah, bang."


Anugrah pun melakukan hal yang sama.


" Aamiin.


Kau juga, Kan." balasnya.


Keduanya saling tersenyum, berpelukan satu sama lain, menyalurkan kehangatan dalam bentuk dekapan.


Anugrah merasa beruntung dipertemukan dengan pemuda seperti Alkan. Pemikirannya sangat terbuka perihal agama, tidak terlalu kaku dan asyik untuk diajak diskusi. Itulah hal yang paling Anugrah senangi darinya. Karena orang-orang seperti Anugrah ini, membutuhkan orang seperti Alkan untuk membimbingnya. Meski jarang bertemu, akan tetapi setiap kali bertemu Anugrah selalu bertanya banyak hal mengenai Islam pada Alkan.


Begitu juga dengan Alkan.


Bertemu dengan sosok Anugrah, membuatnya banyak belajar lagi mengenai hakikat kehidupan.


Ya, sudah sepantasnya sebagai manusia yang beragama muslim sejak lahir kita mensyukuri nikmat terbesar itu.


Diantara banyaknya, manusia di muka bumi ini.


Allah dengan berbaik hati memilih kita sebagai hambaNya.


Semua agama baik pada dasarnya.


Akan tetapi, diantara yang baik ada yang terbaik. Oleh sebab itu, teruslah belajar dan memperdalam ilmu agama.


Sebab, dengan ilmu agama yang kita peroleh, kita semakin tau mana yang benar dan mana yang salah, insya Allah semakin banyaknya pengetahuan kita mengenai agama kita. Kita akan semakin dekat dengan Tuhan kita.


Jangan malas untuk terus belajar !


Alkasalu dawun, Hamasah.


Ada beberapa hal di dunia ini yang tampaknya mudah, akan tetapi sebenarnya sangat sulit.


Salah satunya adalah menentukan jalan kebenaran yang akan kita jalani dalam kehidupan, ya kata lainnya adalah menentukan agama.


Kalau saja, kita bukan manusia yang Allah pilih muslim sejak lahir. Belum, tentu hati kita terketuk memeluk Islam seperti mualaf lainnya. Oleh sebab itu, Islam adalah nikmat yang terbesar yang Allah anugerahkan untuk kita.


Ketika Allah memilih kita sebagai umatnya nabi Muhammad, itu artinya Allah telah percayakan kita sebagai manusia yang kelak akan menempati surgaNya.


Banyak diantara manusia, yang sedang berada di fase pencarian kebenaran, berpindah agama. Dari agama yang satu ke agama yang lain. Orang-orang yang seperti itu bukan tengah mempermainkan agama, melainkan hatinya tengah sibuk mencari-cari kebenaran untuk jawaban dari keraguannya.


Tak sedikit diantara mereka yang menjadi Atheis, atau bahkan memiliki agama namun, menganut paham agnostik.


Namun, orang-orang yang open minded tentang agama. Dia takkan memilih untuk menjadi Atheis apalagi menganut paham agnostik.


Sebab, yang ia cari adalah sebuah kebenaran.


Mereka belajar terus menerus mencari ekstensi kehidupannya, dimanakah letak kebenaran tersebut.


Agama mana yang paling sempurna ajarannya akan mereka temukan dari hasil pencariannya.


Sampai pada akhirnya, merekapun menentukan pilihan nya dalam beragama.


Dan ya, tak sedikit diantara mereka pula memutuskan untuk memeluk Islam.


Bersambung...


Sevimli, 02 Agustus 2021

__ADS_1


Salam hangat dari Author 🌹


Jangan lupa like and Votenya :)


__ADS_2