
" Bagaimana mungkin aku menikahi gadis yang sorot matanya menunjukkan cinta pada pria lain. Dan menyandang predikat anak pembunuh membuatku tidak pantas untuk bersanding dengan sosok Nusaibah binti Ka'ab sepertimu."
......" Pelangi Hanani 🌹"......
" Bagaimana bisa kau bahagia, ketika kau mengorbankan kebahagiaanmu ? Bentak Arga pada Hana.
Hana tersentak kaget mendapat bentakan dari Arga.
Detik selanjutnya, Arga tersenyum masam, menatap intens gadis berhijab purle dihadapannya.
" Aku baru menyadari bahwa wanita dihadapanku ini adalah wanita yang selalu menjadi pelangi untuk orang lain, meski itu membuatnya harus merawat luka dalam dirinya." Cetus Arga.
Kening Hana mengernyit.
Mengorbankan ? Apa perkataan Arga.
Benak Hana.
" Kau ingin dia bersaksi dan membawakan bukti itukan ? Arga mengangkat telunjuknya ke arah Haiko.
Hana terkejut, bagaimana bisa Arga tau ?
Hana mengangguk gugup.
Arga tersenyum masam.
" Kau tak perlu bersaksi disini ! Kata Arga pada Haiko.
" ARGA ! Teriak Hana.
Semua orang menatap Arga penuh kebingungan, apa yang sebenarnya ia ingin lakukan ?
" Mau lo apa sih, Ga ha ? Izaz hendak melayangkan pukulannya.
Dengan cepat, Wardah menahannya.
Arga beranjak menghampiri Haiko.
Haiko hanya menatapnya datar tanpa senyuman.
" Pergilah !!
Kau tidak perlu bersusah payah mengungkapkan kebenarannya. Dengan begitu Hana tidak perlu menikah denganmu !!
Perkataan Arga membuat semuanya terkejut.
Terutama Hana.
Bagaimana bisa Arga mengetahui itu ?
" Maksudnya ? Tanya Izaz.
" Ya, pria brengsek ini !! Arga menunjuk Haiko.
" Mau menjadi saksi di sidang putusan, dengan syarat Hana mau menikah dengannya."
Jleb... Atmosfer dalam tubuh Hana seketika berubah.
Dadanya berdegup kencang.
Bibirnya bahkan terkatup. Menatap Arga yang menatapnya dengan tatapan tajamnya.
" Nak !! Wardah menutup mulutnya terkaget.
Begitu juga Vikri, ia terkejut mendengar perkataan Arga. Bagaimana mungkin itu akan terjadi pada ponakannya ?
" Han !
Kamu udah gila ya." Ranti menghampiri Hana.
" Ti....tidakkk !!
Tii... daaak seperti itu !! Dengan mengumpulkan keberaniannya Hana terbata-bata menolak pernyataan Arga.
Hahaha...
" Sudahlah Han !
Jangan sembunyikan itu lagi. Aku sudah mengetahuinya saat kemarin handphonemu terjatuh. Dan pria ini mengirimkan pesan mengenai hal itu."
Hana tidak bisa lagi mengelak.
" Biarkan itu menjadi urusanku !! Sergah Hana.
Arga menatap angkuh Hana." Gak perlu terlihat kuat Han, kalau nyatanya kamu rapuh." Remeh Arga.
Jleb.. Perkataan Arga cukup membuat Hana tertampar.
" Aku berjuang bukan untuk dirimu !!
Aku berjuang untuk semua orang yang merasakan ketidakadilan." Tegas Hana meski air matanya terjatuh juah.
Semua yang berada di ruang sidang menatap lekat kedua anak muda yang sedang beraduh argumen itu.
Tak ada yang sama sekali mencampuri keduanya.
Mereka hanya terdiam, sebagai penonton budiman.
Arga menggelengkan kepalanya, merasa geram melihat gadis yang bernama Hana itu sangat keras kepala.
Hana berdiri, menghampiri Haiko.
" Ko, cepat berdiri dan bersaksilah untuk menyatakan kebenarannya !! Titah Hana.
Haiko hanya menatap datar Hana, dan enggan untuk berdiri. Membuat Hana merasa kesal.
" Ko !!
Kau sudah berjanji !! Hana mulai panik.
Haiko masih tak menggubris perkataan Hana.
" Dasar pecundang !! Upat Hana.
" Lebih baik jadi pecundang dari pada harus menjadi manusia yang memanfaatkan situasi untuk kepentingannya sendiri." Jawab Haiko.
Ha ? Hana tercengang.
Haiko beranjak dari duduknya, dan berjalan mendekati Arga di kursi terdakwa.
" Bagaimana mungkin aku menikahi gadis yang sorot matanya menunjukkan cinta pada pria lain ? Dan menyandang predikat anak pembunuh membuatku tidak pantas bersanding dengan Nusaibah binti Ka'ab sepertimu Han."
Arga terkejut mendengar perkataan Haiko.
Jauh dari perkiraan ternyata Haiko tak seburuk yang dipikirkan.
Hana dan Arga saling menatap, kemudian pandangan mereka beralih pada pria bernama Haiko itu.
" Ko !!
" Tenanglah Han !
Aku akan bersaksi, menyatakan semua kebenarannya.
Kamu benar Han.
Bahwa jangan pernah mencari pembenaran atas tindakan dosa yang kita lakukan. Sebab itulah, aku akan mempertanggung jawabkan perbuatan keji yang dilakukan oleh ayahku tiga tahun yang lalu."
Semua tercengang mendengar pernyataan Haiko.
Perbuatan keji apa yang dimaksudnya ?
Terutama Vachry yang terkejut melihat sosok Haiko yang memang dari segi wajah sangat mirip dengan Dev.
" Apa benar dia anak Dev ? Batin Vachry.
" Hormat saya pak Hakim ketua." Panggil Haiko dengan sopan.
" Saya Haiko Rakses dengan hati yang lapang bersedia menjadi saksi Argasyah di persidangan putusan ini."
Hakim ketua, mempersilahkan.
Begitu juga dengan Nazhanul, senyum tipis tiba di wajahnya.
Belum sempat Haiko melanjutkan perkataannya, dokter Nashrun dan Zivyapun ikut berdiri.
" Pak Hakim ketua." Panggil mereka seraya membungkukkan badannya.
" Saya Nashrun Alatas dan ummi saya Zivya juga suka rela menjadi saksi Argasyah di persidangan ini."
Senyum merekah mulai terbit di wajah orang-orang yang pro dengan Arga.
Ya, bahkan hampir dari keseluruhan yang hadir di sidang putusan ini percaya bahwa Arga bukanlah pelakunya.
Terutama Wardah.
Wanita yang sedari tadi menangis tiada henti.
Yang berani dengan lantang membela putranya.
Wajahnya yang tadinya di basahi dengan air mata dan raut kesedihan kini perlahan berganti menjadi sebuah senyuman.
Haiko tersenyum pada Hana, membuat air mata Hana yang terbendung tercurah dari kelopak matanya.
" Makasih Ko." Ucap Hana yang dibalas anggukan oleh Haiko.
Tak lama dari itu.
Muncullah sosok gadis yang sangat Arga kenali.
Kakinya mulai melangkah memasuki ruang sidang.
Ia tersenyum manis kepada Arga.
" Assalamu'alaikum." Tergema ke seluruh ruang sidang.
" Waalaikumussalam."
" Afnan."
Ya, gadis remaja itu bernama Afnan.
Yang sudah Arga anggap sebagai adiknya sendiri.
Yang selalu ia perlakukan dengan baik, selayaknya mereka memiliki hubungan darah.
Kemarin sore Rayhan dan Ranti kembali menemui Afnan. Dan memberanikan diri untuk mengungkapkan semuanya.
Meski berat menerima semuanya, Afnan dengan semangat yang menggebu-gebu bersedia menjadikan dirinya sebagai saksi di sidang putusan Arga.
Afnan membungkuk di hadapan semuanya.
" Pak Hakim ketua." Ujarnya.
" Saya Afnan Zyaa berdiri disini sebagai saksi untuk saudara Argasyah."
Arga terkejut mendengar perkataan Afnan.
" Afnan !!
Afnan tersenyum pada Arga seraya menganggukkan kepalanya. Mengisyaratkan bahwa aku bisa.
Para saksi yang telah hadir, membuat nyali Vachry menciut. Ia pun mulai panik dengan situasi ini.
Jantungnya berdetak tak karuan, getaran-getaran mulai menyelimutinya.
__ADS_1
Hakim ketua kembali mengambil ahli bicara.
Semuanya kembali di tertibkan seperti sedia kala.
Izaz pun memfungsikan Pengacaranya, agar lebih teratur untuk menyampaikannya.
Hakim ketua mempersilahkan pengacara pihak Arga berbicara.
Pengacara bernama Syamiri itupun mengangkat suara.
Cukup panjang lebar ia menjelaskan semuanya.
Mulai dari kejadian di Gost Hill, Penang. pertemuan Arga dengan tiga terdakwa lainnya.
Setelah itu barulah para saksi dimintai keterangan.
" Kepada saudara Haiko Rakses silahkan bersaksi."
Haiko pun berdiri seraya membungkukkan badannya sejenak, menghormati Hakim ketua.
Haiko membuka berkas yang ia bawakan.
" Saya Haiko Rakses putra dari seorang pembunuh bernama Dev Rakses.
Saya membawakan bukti tindakan pembunuhan yang dilakukan ayahku tiga tahun yang lalu "
Jleb.. Vachry semakin takut.
Ia berharap bukti itu tidak valid.
Namun sayang, bukti yang Haiko bawa valid sekali.
Haiko memperlihatkan surat kontrak kerja sama, bukti transfer.
" Ini surat kontrak kerja sama Ayahku dengan gubernurmu Tuan."
" Dan ini bukti transfer pembayarannya." Lanjut Haiko.
Bukti yang telah diperlihatkan ke semua hadirin di Ruang Sidang akhirnya diserahkan kepada Hakim ketua.
Dan yang terakhir, Haiko mengangkat sebuah CD yang didalamnya berisi percakapan ayahnya dengan Vachry.
Vachry hanya bisa diam tak berkutik sama sekali.
Panas dingin mulai merambat ke seluruh tubuhnya.
Nazhanul memerintahkan kepada pengawalnya mengambil sebuah leptop untuk memutar CD tersebut.
Selang beberapa menit, terputarlah rekaman percakapan antara Dev dan juga Vachry.
Tatapan tajam Nazhanul jatuh pada sosok sahabat yang ia anggap sebagai adik selama ini.
Nazhanul tak pernah menyangka bahwa Vachry, akan sanggup melakukan ini.
Rahangnya mengeras seakan-akan ingin menerkam sesuatu. Tangan Nazhanul terkepal erat, ingin melayangkan tinjuannya. Namun ia berusaha menahannya, dan meminta hakim ketua untuk kembali melanjutkan sidang.
Dapat diakui, Nazhanul memang sangat pandai mengontrol emosinya, mencerminkan bahwa memang dia sosok Raja yang profesional.
Sebab, baginya terburu-buru adalah rumus kehancuran.
Tapi sayangnya, ia juga bodoh.
Karena terburu-buru telah percaya pada Vachry yang memitnah putranya.
Pandangan Nazhanul kini berpindah pada sosok Argasyah. Bendungan air mata terlihat jelas dimatanya.
Rasa bersalah mulai menghidap dihatinya.
Tergemanya suara Hakim, membuat Nazhanul tersadar dan memalingkan wajahnya dari Arga.
" Baik.
Pernyataan saksi pertama kami terima."
" Kepada saudara-saudari Nashrun dan Zivya diminta untuk berdiri." Titah Hakim Ketua.
" Silahkan kepada saudara Nashrun dan saudari Zivya,
pernyataan kalian akan dilindungi oleh negara.
Jadi bersaksilah dengan sebenernya-benarnya saksi."
Nashrun dan Zivya pun mengangguk.
" Kejadian beberapa bulan lalu, tepat di hari Rabu tanggal 21 Februari, saya melewati daerah Gost Hill, Penang. Tanpa sengaja saya bertemu dengan mereka berdua, Hana dan Arga dalam kondisi luka-luka ditubuh berdiri di tepi jalan meminta pertolongan.
Karena merasa iba sayapun turun dan membawa mereka ke Island Hospital, rumah sakit tempat putra saya dinas, saya pun memintanya untuk memeriksa luka-luka tersebut.
Dan ya, sedari awal saya sudah yakin luka-luka mereka itu akibat hantaman, pukulan, dan juga goresan benda tajam bukan sebab, terjatuh, kecelakaan, atau lainnya."
Nashrun pun meminta umminya berhenti, agar dirinya yang melanjutkannya.
" Setelah saya periksa benar adanya luka-luka itu akibat, hantaman, pukulan, dan juga tikaman pisau tajam. Untuk lebih jelasnya saya bawakan hasil pemeriksaannya." Nashrun mengeluarkan berkas data pemeriksaan Hana dan Arga saat itu.
Setelah selesai memperlihatkannya.
Nashrun sedikit menerangkannya, untuk memperjelas lebih detail lagi.
Lagi dan lagi, kesaksian ini membuat Vachry mati kutu, seakan-akan tak bisa lagi berbuat apa-apa.
Selanjutnya, Izaz berdiri dan menunjukkan sebuah perekam yang ia ambil dari motor sport milik Arga.
" Ini rekaman bagian luar gudang tempat dimana Arga dan Hana dijebak." Ujar Izaz mengangkat sebuah Flashdisk.
Rekaman itupun terputar di layar monitor.
Memperlihatkan sebuah mobil Jeep dan mobil Pajero sport kepunyaan Vachry terpakir dihalaman gubuk.
Tak lama kemudian, keluarlah beberapa preman yang satunya berkepala pelontos, dan yang lainnya gondrong sedang tertawa ria.
Detik selanjutnya, keluarlah sosok Vachry yang membawa sebuh surat ditangan kanannya.
" Kemungkinan besar ini adalah surat kontrak palsu yang ia buat dan menjebak Arga untuk menanda tanganinya." Ujar Izaz.
" Tidak !! Itu bisa saja rekayasa kalian." Bantah Vachry.
Izaz menatap melas pria paruh baya dihadapannya itu.
" MASUK KALIAN !! Teriakan Izaz ke beberapa pria yang berada di luar ruang sidang.
Keempat pria itu adalah anak buah yang Vachry suruh untuk menjebak sekaligus memukuli Hana dan Arga di Gost Hill, Penang.
Selepas Izaz memeriksa memeriksa video yang terekam di kamera kecil terletak di motor sport Arga beberapa hari yang lalu, Izaz langsung bergegas mencari orang-orang yang terlibat dengan kejadian itu.
Bersama dengan anak buahnya, Izaz berhasil menemukan mereka dan membuat mereka mau bersaksi di sidang putusan.
Vachry terkejut melihat kedatangan anak buahnya di ruang sidang.
Padahal dirinya, sudah memerintahkan mereka untuk pergi jauh dari daerah Pahang.
" Brengsek !! Makinya.
Izaz menyunggingkan senyumnya, merasa puas melihat ekspresi gelisah dari Vachry.
" Kaget ya ?
Izaz pun mendorong keempat pria itu secara bergiliran." Cepat katakan kejadiannya !! Ketus Izaz.
Keempat pria itupun mengatakan kejadian sebenarnya, sesuai dengan faktanya.
Membuat semua orang terkejut dan rasa benci terhadap Vachry mulai menjalar dihati hadirin yang berhadir di sidang putusan kali ini.
" Ah iya aku juga membawa satu bukti lagi.
Tanda transaksi kau mengirimkan sejumlah uang dengan nominal yang banyak kepada Paman Abriz sebagai upah bayaran memitnah almarhum Uncle Hammer." Izaz memperlihatkan ponsel istri Abriz yang berisikan pesan transfer dari rekening Vachry.
Jleb... Vachry memang benar-benar kalah teka saat ini.
" Meski usia kami masih ingusan bukan berarti kami tidak bisa menyusun strategi untuk membongkar semua KEJAHATAN MU !! Teriak Izaz pada Vachry.
Nazhanul terdiam di tempat menatap lirih putranya, rasa penyesalan, bersalah berkecemuk di hatinya.
Arga memberikan senyuman tulusnya pada sang ayahnya.
" Kalau suatu saat semesta mengangkat kebenarannya, aku harap tidak ada setetes air matapun yang tercurah dari netra ayah." Perkataan Arga beberapa hari yang lalu berotasi kembali di benak Nazhanul.
Nazhanul memejamkan matanya, membuatnya menumpahkan air matanya.
" Sekali lagi aku gagal menjadi ayah." Nazhanul tertunduk lemah di lantai ruang sidang.
Seketika impian yang Vachry bangun untuk menghancurkan Nazhanul, menyusun strategi dari tiga tahun lalu, berani mengambil resiko yang fatal, berharap dendamnya terbalaskan.
Ya, terbalaskan hanya sesaat.
Dan kini, semua sirna sekejap mata.
Bukannya ia yang menang, mala justru ia yang kalah.
Ia tak tau harus berbuat apa, akan tetapi bukan Vachry namanya kalau tidak memiliki pikiran yang licik dan juga kotor.
Sementara Kasih, menatap ayahnya dengan tatapan kecewa.
Ya, Kasih adalah putri tunggal dari Vachry.
Meski Kasih berhati angkuh, bukan berarti sepenuhnya perlakuannya buruk.
Ia juga tak menyangka ayahnya bisa melakukan hal sejauh ini, tanpa ia ketahui sedikitpun.
" Ayah !! Ucapnya.
Para pengawal mendekati Nazhanul yang sedang terduduk dilantai, khawatir terjadi sesuatu padanya.
Dengan cepat, Nazhanul mengangkat tangannya sebagai tanda dirinya baik-baik saja.
" Lanjutkan sidangnya." Perintahnya.
Tatapan masih tertuju pada lantai kosong.
Dewan Hakimpun kembali memulai sidang.
Dan menertibkan dan menkondusifkan kembali hadirin sidang putusan.
Dan yang terakhir, hakim ketua mempersilahkan Afnan untuk bersuara.
Afnan pun berdiri dan menatap Arga dengan sebuah ukiran senyuman.
" Aku Afnan berasal dari Terengganu.
Aku tinggal bersama kakekku.
Aku mengenal bang Arga dua tahun yang lalu, saat ada beberapa orang yang mengacaukan daerah tempat aku tinggal. Dia yang menyelamatkan kami dari para pengacau yang tidak bertanggung jawab itu.
Aku masih ingat dengan jelas, bang Arga berlari dari motor sportnya masih mengenakan seragam sekolah ia dengan cepat menghabisi para pengacau itu.
Sejak itulah dia kami sebut dengan Hero.
Tiga kali sehari dia datang ke daerah kami untuk memastikan kami baik-baik saja. Ia menyisihkan sebagian uangnya untuk membantu kami yang kelaparan. Untuk kami yang membutuhkan, hebat sekalikan ?
Semua orang menatap haru Arga saat mendengar cerita yang Afnan sampaikan.
Mereka terpengarah pada sosok pria yang sedang duduk di kursi terdakwa menggunakan pakaian tahanan.
Apa kalian pikir dia mau mencari nama ?
Sebagian besar dari kalian pasti berpikir dia berbuat seperti itu, agar dia diangkat sebagai putra mahkota begitu bukan ? Suara Afnan tergema diseluruh sudut ruangan ini.
__ADS_1
" Tidak sama sekali.
Bahkan dia tidak mengatakan bahwa dirinya adalah seorang putra bungsu dari Raja Nazhanul.
Justru dia menyebutkan dirinya sebagai pengawal di Istana. Itu yang namanya cari nama ?
Daerahku Terengganu dan Penang selama hampir tiga tahun bermusuhan, yang dimana kami menyalahkan raja yang tidak bertanggung jawab atas rakyatnya.
Tapi kalian tau apa ?
Bang Arga dan kak Hanalah yang berhasil membuka mata hati kami bahwa kami sedang di adu domba oleh mereka."
Afnan menunjuk ke arah Robert dan Andrea duduk.
Membuat keduanya tersentak kaget.
Semua pandangan kini tertuju pada kedua orang yang berstatus anak dan ayah itu.
" Dan mereka adalah suruhan DIA." Lanjut Afnan menunjuk ke arah Vachry.
Tanpa aba-aba, para hadirin yang berada di ruang sidang yang sudah merasa sangat emosi pada Vachry, melempari Vachry dengan botol minuman yang masih berisi.
Bukhh...
Bukhhh... Lemparan yang tepat sasaran itu membuat Vachry merasakan sedikit kesakitan.
" Dasar manusia tidak berotak !!
" Dasar muka dua !!
" Dasar musuh dalam selimut !!
Cacian dan makian tak habis-habisnya mereka lontarkan pada Vachry.
" Harap tertib !! Teriak hakim utama.
" Untuk kalian yang tidak mengikuti peraturan sidang !!
Kami tidak akan segan-segan menyeret kalian keluar."
Peringatan hakim utama di indahkan oleh hadirin yang berhadir. Kemudian Hakim utama mengambil alih bicara. Dan memutuskan keputusan akhirnya.
Hana menatap Haiko yang sibuk menatap lurus ke dewan hakim.
Ia tak menyangka bahwa pria menyebalkan itu ternyata tidak seburuk yang ia pikirkan.
Haiko Rakses ternyata pria yang bertanggung jawab dan dewasa dalam tindakannya.
Tanpa sengaja, netra Haiko juga tertuju pada Hana.
Membuat pandangan mereka bertabrakan.
Hana menarik sudut bibirnya membentuk senyuman, begitu juga dengan Haiko membalasnya juga dengan seulas senyuman.
Suasana ruang sidang.
Bercampur padu menjadi satu wadah.
Kesal, benci, marah, menyesal, kecewa, merasa bersalah segala bentuk rasa menguap di dalamnya.
" Keputusan akhir di sidang putusan ini adalah dengan bukti-bukti yang tercantum yang valid serta dengan beberapa kesaksian yang memberikan pernyataan untuk keempat terdakwa yang tersangka.
Saudara Argasyah bin Nazhanul Hakim beserta Robert bin Pattinson, Andrea Abrazi bin Robert dan Abriz bin Abdillah, dinyatakan tidak bersalah."
Tok..
Tok... Dewan Hakim mengetuk palu kebanggaannya.
" Alhamdulillah." Teriak mereka bersama.
Air mata bahagia tercurah mendengar keputusan akhir dari dewan hakim.
Benar saja, yang salah tetap salah.
Bagaimana caranya pun kejahatan tetap akan terungkap.
Dan yang benar akan tetap benar.
Para hadirin sidang putusan kembali ditertibkan untuk mendengarkan keputusan hukuman yang akan dijatuhkan pada Vachry.
" Berdasarkan semua bukti dan kesaksian yang ada,
saudara Vachry bin Sanskara dinyatakan sebagai terdakwa melakukan tindak pidana tanpa hak atau melawan hukum melakukan pembunuhan berencana, pemberontakan, Pengadu dombaan wilayah, pencemaran nama baik terhadap Almarhum Hammer dan juga saudara Argasyah dan kejahatan lainnya.
Majelis hakim menjatuhkan vonis hukuman gantung pada saudara."
Tok...
Tok..Keputusan hakim telah sah dengan terketuknya palu.
Nazhanul menatap Vachry penuh dengan amarah.
Sahabat yang ia anggap sebagai adik selama ini ternyata bermuka dua.
Pantas saja, dia tak pernah dizinkan untuk turun tangan ke masyarakat, Vachry selalu saja menghalanginya ternyata ia ingin membuat rakyat membenci Nazhanul.
Nazhanul berdiri dari singgasananya, dengan tangah terkepal ia menghampiri Vachry yang tak jauh darinya.
Bukhhh.... Nazhanul melayangkan pukulannya.
Membuat Vachry tersungkur ke lantai.
" IBLIS !! Teriak Nazhanul menggelegar.
Vachry tersenyum licik dan bangkit berdiri.
" Kau pikir aku takut padamu ha ? Bentak Vachry.
Ya, bukannya dia takut.
Ia mala justru kembali membentak Nazhanul.
" B*ngsat !! Maki Nazhanul hendak melayangkan kembali pukulannya.
Namun, Vachry berhasil menangkisnya.
" AKU MELAKUKAN ITU SEMUA KARENA AKU MEMBENCIMU NAZH !! Ucap Vachry dengan lantang.
" Kau mengambil semuanya dariku !
Kasih sayang ayahku, perhatian ayahku, kejuaraanku.
Dan kau membuatku tersisih dan tak dianggap..
APA KAU TAU RASANYA BAGAIMANA HA ?
Vachry meraih kerah baju Nazhanul, membuat Nazhanul menghempaskan tangannya.
" Jauhkan tangan kotormu itu dariku !! Sergah Nazhanul tak kalah lantang.
" Aaku yang lebih dahulu mengabdi di Istana ini, tapi kau lebih menghargai dia !! Jari telunjuk Vachry mengarah pada Robert.
Ku pikir setelah aku menyingkirkan Robert, aku yang akan menduduki jabatan dan ternyata justru kau mengambil orang asing untuk DUDUK DIJABATAN ITU.
Apa kau pikir itu adil untukku ha ?
Lama aku terdiam meratapi semuanya, mendiamkan semuanya hanya akan membuatku semakin merasakan sakit. Dan akhirnya kuputuskan dengan kebencian yang menggebu aku akan balas dendam padamu !!
Sorot mata Vachry menunjukkan tersimpan banyak rasa dendam disana. Nazhanul terdiam mencerna setiap bait perkataan Vachry.
Apa benar selama ini aku tidak adil ? Benaknya.
" Kau tau aku sangat bahagia melihatmu membenci putramu sendiri. Bukan hanya itu, aku juga sangat senang melihat warga membencimu !!
Dan sampai pada titik puncaknya aku juga merasa senang melihatmu terluka dan tak berdaya membiarkan putramu berada di sel tahanan dan akan dijatuhkan hukuman mati." Pukas Vachry.
Semua orang menatapnya dengan penuh iba dan juga kebencian. Tidak pernah menyangka gubernur yang kerap kali menunjukkan kebaikan ini ternyata iblis berwajah manusia, sangat b*ngsat kelakuannya.
" Dan kebahagiaanku akan lebih sempurna lagi jika kau mati ditanganku !!
Vachry berlari mendekati keranjang buah yang didalamnya ada sebuah pisau tajam disana.
Dengan sigap Arga berlari tak peduli dengan apa saja yang menyandung kakinya.
" MATILAH KAU NAZH !! Teriak Vachry menyucukkan pisau tersebut ke tubuh Nazhanul.
" Argggg..." Teriak Arga yang merasakan tubuhnya tertusuk benda tajam itu.
Ya, benar Arga berhasil datang tepat waktu melindungi Nazhanul sang ayah tercinta.
" ARGA !! Teriak semua orang.
Wardah, Hana, Afnan,Ranti, Rayhan, Andrea, Robert, Abriz dan Izaz berlari menghampiri Arga.
Lambat laut, tubuh Arga mulai tengkulai.
Perlahan-lahan terjatuh di lantai.
Pandangannya mulai samar.
Tingkat kesadarannya mulai melemah.
Namun, senyumnya tak pernah pudar dari wajahnya.
Nazhanul memeluk tubuh Arga yang sudah mulai berlumuran darah." Putraku." Ucapnya lirih.
Deg..
Deg..Detak jantung Arga mulai tak stabil.
Wardah menangkup wajah putranya dengan kedua telapak tangannya. Dengan derai air mata, Wardah teriak histeris melihat putranya terbaring lemah di lantai.
" Nak ini bunda nak bertahanlah." Ucapnya seraya mengusap wajah putranya.
" Arga bertahan, Ga." Kompak Hana, Ranti dan Rayhan.
Sementara Izaz lebih memilih baku hantam dengan Vachry. Ia tak terima adiknya Arga di berlakukan seperti itu oleh si brengsek ini.
" Anj*ng !! Maki Izaz.
Bukh..
Bukh.. Izaz melayangkan pukulannya.
" Aaaya--ahh pan--gggil Aarga sepe--perti itu lagiii." Ucap Arga terbata ditengah nafasnya yang tersengal-sengal.
" Iya nak.
Arga putra ayah bertahanlah nak." Sahut Nazhanul.
Arga tersenyum mendengar ayahnya kembali memanggilnya dengan sebutan Putraku.
" Jika Allah tiidaa-aak satuu-kan kii-ttaa diduunn-ia.
Semo--ggga Allah menya--tuuk-an kiita di akhirat."
" Lailahaillallah." Tertutupnya mulut Arga, tertutup pulalah matanya.
" ARGA !! Teriak semua orang.
Bersambung.
Sevimli 11 April 2021
Salam hangat dari Author 🌹
__ADS_1
Jangan lupa untuk like and Votenya, tinggalin komen dong hehe
Semangat puasanya :)