
" Tidak ada yang sulit.
Sebab, yang mustahil bisa terjadi dengan kata Kunfayakun."
......" Pelangi Hanani 🌹"......
Senja mulai menyapa, perpaduan antara jingga dan merah muda menemani gadis yang terduduk di tepi danau.
Kicauan burung pun ikut mendesir memecah keheningan sore ini.
" Aku akan berjuang besok." Ucap gadis berjilbab hijau army itu.
Ya, benar waktu mereka hanya tersisa enam hari lagi untuk mencari bukti-bukti.
Entahlah, Bukit Bintang bukanlah tempat yang dekat dari Istana Royal Pahang.
Hana juga tidak tau, akan ia berhasil sampai disana, atau justru sebaliknya.
" Tidak ada yang sulit.
Sebab yang mustahil bisa terjadi dengan kata Kunfayakun Han." Hana mencoba untuk menguatkan tekadnya.
Danau ini adalah tempat favorit Arga disaat kesedihan tengah menyelimutinya.
Sangat dirinya tengah jengah dengan keadaan.
Hana mengingat untuk pertama kalinya, pria itu menatap senduh langit dengan mata berbinar.
Hana memahami, bahwa hati pria itu sedang tidak baik-baik saja.
Hatinya pasti tercabik-cabik dengan perilaku ayahnya saat itu.
Sakit.
Bahkan seperti tertusuk ribuan belati.
Akan tetapi seiring dengan berjalannya waktu, semuanya mulai berubah. Ayahnya kembali menyayangi Arga.
Tapi sayang, itu tidak bertahan lama.
Kini Nazhanul kembali membenci Arga.
Hanya karena fitnah yang terjatuh padanya.
Bukankah itu menyakitkan ?
Hari mulai menggelap.
Senja pun mulai tenggelam.
Hana memutuskan untuk kembali ke Istana.
Ia datang kemari dengan menggunakan motor matic punya Ranti.
Ia pun menyalakan motor Ranti, dan segera melajukannya.
Sesampai di Istana.
Hana memarkirkan motornya.
Dan beranjak menuju masjid, untuk bersiap-siap sholat maghrib berjamaah.
Di teras Masjid.
Hana bertemu Sosok pemuda humoris yang berjalan bersama Ranti.
" Hai Hana !! Sapanya pada Hana.
" Rayhan." Ya, pria itu adalah Rayhan.
" Kapan sampainya ? Tanya Hana.
" Satu setengah jam yang lalu Han." Jawabnya.
Hanapun mengangguk paham." Ah udah ketemu Arga ? Tanya Hana yang di jawab gelengan kepala oleh Rayhan.
" Oh yaudah besok pagi aja Ray.
Soalnya kalau malam gini ribet urusannya." Ujar Hana pada Rayhan.
" Ya, padahal gua udah gak sabar mau ngeledek tu anak songong." Lesuh Rayhan.
Hana tersenyum sembari geleng-geleng kepala, mendengar perkataan sahabat konyol Arga ini.
" Rayhan gila !! Teriak Ranti padanya.
" Ya gak apa-apakan ?
Kapan lagi coba kita bisa ngelunjakin anak sultan hahaha.." Ucap Rayhan dengan tawanya.
Bukhhh... Ranti melemparkan tas yang berisikan mukenanya pada Rayhan.
" Aduhh...
Gila ya Ran, main lempar aja kamu !! Kesal Rayhan pada Ranti.
" Kamu yang gila !!
Bisa-bisanya teman lagi kesusahan masih mikirin hal bodoh kayak gitu." Ketus Ranti dan beranjak pergi meninggalkan Hana dan Rayhan.
Rayhan hanya tersenyum menatap Ranti yang kesal. Sementara Hana mengambil tas yang berisi mukena Ranti yang terjatuh di teras Masjid.
" Gak hilang-hilang ya otak gesrek kamu Ray." Ujar Hana dengan senyumannya.
Haha..
" Iya Han." Rayhanpun cengengesan.
Hanapun menyusul Ranti memasuki Masjid.
Untuk mengantarkan mukena Ranti.
Setelah mengantarkannya, Hana beranjak ke tempat wudhu tertutup khusus wanita.
Mengambil wudhu sebagai salah satu syarat sahnya shalat.
Setelah selesai berwudhu, Hana kembali ke Masjid mengambil shaf di dekat Ranti.
Kali ini, Rayhan yang di utus untuk menggantikan jadwal Arga sebagai petugas Adzan.
Kepingan-kepingan memory mulai berputar menghampiri Hana.
Ya, suara adzan Arga masih saja terniang-niang di benaknya.
" Biasanya Arga ni yang adzan kan Ran." Ucap Hana.
Ranti menoleh ke Hana." Sabar ya Han, semuanya pasti kembali seperti awal lagi." Ranti mencoba menenangkan Hana.
Hana tersenyum mengangguk.
" Besok aku akan pergi ke Bukit Bintang Ran.
Doakan aku ya." Hana tersenyum pada Ranti.
Berat sebenarnya Ranti membiarkan Hana pergi sendirian.
Namun, ia tau bahwa sepupunya satu itu kalau sudah bertekad tidak bisa disenggol gugat.
" Insya Allah, doaku selalu menyertai sepupu terhebatku ini." Ucapnya pada Hana.
Sholat magribpun dimulai yang imami oleh Izaz sendiri.
Keadaan sholat kali ini seperti biasa.
Namun, ada suasana yang berbeda.
Tak ada lagi sosok Arga yang selalu dinanti-nantikan suaranya untuk mengumandangkan adzan dan juga tahlil.
Seolah-olah semuanya merasa kehilangan itu.
Satu jam kemudian, waktu isya pun dimulai.
Mereka kembali ke posisi masing-masing dan melaksanakan sholat Isya berjamaah.
Masih dengan muadzin yang sama, dan imam yang sama.
Seusai sholat serta berdzikir.
Ada banyak orang yang berbincang satu sama lain keluar dari pintu masjid.
" Kami rindu suara nak Arga mengaji." Ujar para jama'ah yang masih belum mempercayai sepenuhnya tentang isu yang beredar.
Padahal Arga masih berada di sekitar Istana, ya meski di sel tahanan.
__ADS_1
Tapi ada banyak orang yang merasa kehilangannya.
" Senantiasa Allah tunjukkan kebenarannya.
Saya gak yakin nak Arga melakukan itu." Ujar salah satu dari mereka.
Pembicaraan mereka terdengar oleh Izaz, Rayhan, Hana dan juga Ranti.
Mereka berempat tersenyum dan menghampiri
bapak-bapak yang tengah berbincang itu.
" Terima kasih telah mempercayai adik saya pakci sekalian." Ujar Izaz seraya menundukkan kepalanya pada mereka.
Mereka tersenyum." Jangan khawatir nak.
Ada banyak manusia yang masih percaya bahwa Arga bukanlah pelakunya nak.
Dia pemuda yang baik, sholeh, suka menolong banyak orang dan juga bijaksana, sangat mustahil bisa melakukan hal sekeji itu. Doa kami selalu menyertai nak Arga nak." Salah satu dari mereka menepuk pundak Izaz.
" Kami akan ungkap semuanya Pakci.
Agar tidak ada lagi yang berhasil di adu domba oleh si brengsek itu." Sahut Rayhan yang juga menundukkan kepalanya.
Para bapak-bapak itu tersenyum lebar.
" Pergilah !!
Berjuanglah menegakkan kebenaran, kalian adalah generasi pencetak peradaban selanjutnya." Sambung sosok bapak yang bersarung hitam.
Izaz, Rayhan, Hana, dan Ranti mengangguk.
" Kami pamit pakci." Serempak mereka.
" Assalamu'alaikum." Ucap Hana.
" Silahkan.
Waalaikumussalam." Jawab para rombongan bapak-bapak itu.
Keempatnya kembali ke Rumah masing-masing.
Hana dan Ranti ke rumah yang sama.
Begitu juga Rayhan yang ikut bersama Izaz.
Mereka beristirahat, untuk memulihkan segalanya.
Sebab, besok mereka harus berjuang keras mencari bukti yang akan menguak semua kedzaliman Vachry.
...🍂🍂🍂...
Matahari kali ini tampak begitu terik, seolah-olah ikut mendukung perjuangan mereka berempat dalam menuntaskan semuanya.
Gumpalan awan pun tak mau kalah, tampak begitu mempesona.
Sebelum pergi ke tujuan masingmasing.
Mereka memutuskan untuk mengunjungi Arga terlebih dahulu.
Sebab, Rayhan ingin bertemu dengan sahabatnya yang sombong itu.
Izaz menatap tajam pengawal yang berjaga.
" Apa kalian menunggu tanganku yang bertindak baru kalian pergi !! Tegas Izaz padanya.
Ketiga pengawal itupun pergi mempersilakan mereka bertemu Arga.
Rayhan melihat setiap sudut ruangan redup ini.
Rasa simpatipun timbul di benaknya.
Merasa sedih, bila harus mengetahui dan melihat sahabatnya tinggal di tempat ini.
Rayhanpun menatap Arga yang berada di balik jeruji besi.
Wajahnya tampak lesuh menunduk, tak bergairah sama sekali.
" Anak sultan !! Teriak Rayhan padanya.
Arga yang mendengar suara tak asing ditelinga ya itu segera mengangkat kepalanya menoleh.
" Brengsek !! Upatnya berdiri menghampiri Rayhan.
" Kapan lo sampai ? Tanyanya.
" Kemarin sore." Jawab Rayhan.
Arga mengangguk.
" Gua gak nyangka sumpah, lo kok bersudi hati sih tinggal di sini !! Ketus Rayhan padanya.
" B*ngke lo !! Kesal Arga melihat sahabat ngeselinnya yang satu ini.
" Kemana kesombongan lo itu semua ?
Kenapa gak lo keluarin buat ngehabisin pria brengsek itu ha ?? Teriak Rayhan yang tak dapat menahan air matanya.
Arga tersenyum lirih mendengarnya.
" Gua gak bisa apa-apa Ray.
Gua bisa aja ngebunuh dia tapi lo tau apa yang ngebuat gua gak berdaya ?
Bokap gua percaya gua pengkhianat Ray." Setetes buliran hangat tercurah dari sudut matanya, saat mengingat kembali kejadian sidang pertama itu.
Semuanya ikut terhanyut mendengarkan perkataan Arga. Ikut merasakan yang tengah terjadi padanya.
" Ngapain lo ikutan nangis ha !! Biar gua aja yang nangis. jangan Cengeng lo jadi cowok !! Ketus Rayhan untuk menegarkan Arga.
" Ga, kamu tenang ya.
Hari ini kita akan berjuang bersama-sama." Ujar Hana yang tak ingin Arga terus menerus bersedih.
" Iya Ga, doakan kita ya." Sahut Ranti.
Argapun tersenyum pada mereka.
Merasa bersyukur memiliki sahabat dan juga saudara seperti mereka.
" Lo harus senyum Ga, biar keliatan tampan.
Sayang ketampanan lo di anggurin gitu aja."
Bukan Rayhan namanya kalau tidak memiliki cara untuk meledek Arga.
" Thanks Ray udah mau berjuang sejauh ini." Ucap Arga padanya.
Rayhan membalas senyuman Arga.
" Lo gak usah risau gua gak bakal minta imbalan kok, gua ikhlas ngelakuinnya."
Itukan, ada aja emang si Rayhan konyol ini ya.
Orang lagi serius juga, dia mala ngisengin.
Semua menggeleng kepala, dan mengeluarkan tawa kecil mendengar Rayhan.
" Punya bakat ngelawak sejak kapan lo ? Pertanyaan itu terlontar dari mulut Andrea.
Rayhanpun menoleh ke arahnya.
" Eh bang.
Hehe, dari aqiqahan bang.
Soalnya pas kambingnya mau dipotong eh ia nya mala ketawa mbeekk gitu bang." Ucap Rayhan asal.
" Rayhan gila !! Teriak Ranti tepat di telinga Rayhan.
" Apaan sih !!
Teriak-teriak kamu pikir lagi ada maling pake teriak segala." Protes Rayhan yang merasa telinganya sakit akibat teriakan Ranti.
Tingkah laku mereka berdua mengundang tawa di ruangan redup itu.
Iss.. Ranti berdengus kesal.
" Maaf ya Ga, Rayhan emang semakin gesrek otaknya semenjak balik dari Indo."
Rayhan hanya menatap melas gadis ngeselin seperti Ranti.
Tapi meski demikian, Ranti tetap bertahta dengan baik dihatinya.
__ADS_1
Begitu juga dengan Rayhan meski konyol, dirinya tetap berada istimewa di hati Ranti.
" Sudah-sudah jangan berantem.
Cepatlah keluar dari tempat ini, sebelum Nazhanul memergoki kalian." Ujar Robert yang takut ketika Nazhanul datang dan melihat mereka mala akan memperburuk keadaan.
" Iya, segera mungkin kalian keluarlah dari tempat ini, kalau Raja sampai tau urusannya entar mala ribet lagi." Sambung Andrea.
Mereka berempatpun memahaminya.
Dan lekas berpamitan pada mereka.
" Hari ini kamu bakal pergi Bukit Bintang Han ? Tanya Arga.
Hana mengangguk." Iya, doain aku selamat ya." Ucapnya.
Arga tersenyum, meski berat sebenarnya melepas Hana ke tempat ekstrim itu.
Namun, Arga terpaksa menyetujuinya.
Sebab, gadis yang dia cintai ini bersekukuh untuk pergi ke tempat itu.
" Keluarin semua ilmu bela diri kamu !!
Jangan di tahan.. Hajar habis-habisan mereka yang menyerang kamu ya." Ujar Arga pada Hana.
Hana tersenyum dengan deretan giginya yang rapi." Iyaiya tenang aja." Jawabnya.
" Jangan sampai terluka.
Aku gak bisa lihat satu goresan luka pun di tubuhmu." Lanjut Arga lagi.
Deg... Jantung Hana berdegub tak karuan.
Berlarian kesana kemari.
" Buaya !! Teriak Hana, yang tak ingin terlihat baperan.
" Wajah kamu kok kayak kepeting rebus gitu sih !! Cie blushing."
Astaga Arga benar-benar tidak tau malu.
Ia menggoda Hana didepan orang lain.
Hana menatap tajam Arga.
Merasa kesal dengannya.
" Hm, serasa dunia milik berdua ya." Cibir Ranti.
Hanapun memalingkan pandangannya dari Arga." Udah ah, ayok kita cabut.
Keburu siang." Ujar Hana mengalihkan perhatian.
Semuanya hanya tertawa kecil melihat tingkah aneh keduanya.
" Sudah-sudah.
Sekarang berangkatlah nak.
Sebelum Nazhanul benar-benar datang kesini." Peringatkan Abriz pada mereka.
" Iya ni, kita gak punya banyak waktu woy.
Tersisa lima hari lagi guys." Ujar Ranti pada mereka semua.
Merekapun tersadar, semakin lama mereka menarik ulur waktu. Semakin sedikit pula peluang waktu mereka.
" Baiklah.
Sekaranglah waktunya kita berangkat." Ujar Izaz.
Hana, Ranti dan Rayhan mengangguk seraya tersenyum." Siap untuk berangkat." Serempak jawab mereka.
Arga, Abriz, Andrea dan Robert ikut tersenyum.
" Selamat berjuang." Ucap Mereka berempat.
" Doakan kami menang dalam perjuangan ini." Ucap Izaz pada mereka.
" Aku berangkat ke Terengganu, Ranti dan Rayhan berangkat ke Penang.
Dan Hana yang paling ekstrim berangkat ke Bukit Bintang. Ingat tujuan masing-masing, dan selalu berhati-hati dalam bertindak.
Kita taukan ? Bagaimana liciknya si Vachry itu."
Izaz mengingatkan kembali tentang kelicikan Vachry.
Tak perlu memakan waktu yang banyak. Mereka memahami perkataan Izaz.
Detik selanjutnya.
Izaz mendekati Arga, dengan sigap Arga meraih tangan Izaz dan menyalamnya.
" Terima kasih bang.
Sudah mau melanjutkan perjuangan Arga." Ucap Arga dengan mata berbinar menahan air mata harunya.
Izaz tersenyum." Bukan melanjutkan !! Sebab kau juga masih terus berjuang saat ini." Protes Izaz padanya.
Detik selanjutnya, giliran Hana yang menghampiri Arga.
" Aku berangkat Ga." Ungkapnya.
Arga mengangguk." Hati-hati ya.
Semangat untuk berjuang, semoga menang."
Hana tersenyum." Selow-selow kita bakalan menang kok hehe." Ucap Hana cengengesan.
" Kami berangkat ya, assalamu'alaikum." Ujar Hana pada Arga.
" Eh temen terangkuh seliang lahat !! Teriak Rayhan pada Arga.
" Brengsek lo !! Maki Arga yang tak terima dengan julukan yang Rayhan lontarkan.
" Gua cabut dulu gan !!
Baik-baik lo jagain kecoak disini haha." Ucap Rayhan seraya menjauh dari Arga.
" B*ngke !! Teriak Arga yang masih terdengar oleh telinga Rayhan.
Bukan Rayhan dan Arga namanya, kalau tidak saling meledek satu sama lain.
Seusai mereka berpamitan.
Merekapun beranjak keluar dari Sel tahanan dengan segera.
Agar tidak ketahuan oleh Nazhanul.
Para pengawal itupun kembali berjaga di Sel.
" Kalian berdua fokus pada tujuan !!
Jangan mala ngedate ya." Sergah Hana pada Ranti dan Rayhan.
Ranti dan Rayhan menyebikkan bibir secara bersamaan." Apa-apaan !! Gak ada ngedate-ngedate." Jawab mereka serentak.
Keduanya saling menatap satu sama lain.
Kegugupan mulai menyelimuti diantara keduanya." Cie samaan." Goda Hana.
" Hana !! Udah ah aku mau berangkat.
Assalamu'alaikum." Kesal Ranti, ia memilih untuk beranjak terlebih dahulu.
Hana hanya tersenyum simpul melihat sepupunya yang sudah mulai salah tingkah itu.
" Ray titip Ranti ya.
Jaga dia baik-baik Ray." Ujar Hana pada Rayhan.
" Iya Han, aku bakalan jagain Ranti kok.
Aku berangkat ya Han, assalamu'alaikum." Pamit Rayhan seraya menyusul Ranti.
Bersambung...
Sevimli 7 April 2021
Salam hangat dari Author 🌹
Jangan lupa like and Votenya :)
__ADS_1