
" Apa aku terlalu egois ?
Takut kehilanganmu yang merupakan cinta keduaku ?
......" Pelangi Hanani 🌹"......
Seusai menceritakan semuanya, Arga dan pembunuhan bayaran yang bernama Abriz itupun berdamai dengan sebuah pelukan.
" Saye mohon maaf atas segala tindak kekerasan saye terhadap pak ci." Ujar Arga dengan penuh penyesalan.
Abriz menggeleng, tidak membenarkan Arga bersalah." Tak, Pakci yang punya pasal semua ni, oleh sebab tu izinkan Pakci untuk ikut perbaiki semuanya."
Rayhan tersenyum melihat dua lelaki yang tadinya, saling melukai kini keduanya saling menghangatkan satu sama lain.
" Ohiye, Pakci tau ke ape yang akan direncanakan die kedepannye ? Tanya Arga.
Abriz mengangguk iya, detik selanjutnya Abriz pun menceritakan rencana selanjutnya yang akan dilakukan oleh si pengkhianat itu.
Ya, tentunya rencana yang tak kalah licik dari rencana sebelumnya.
" BRENGSEK.." Upat Arga yang mulai emosi saat mendengar rencana yang bakal dijalankan oleh pengkhianat itu.
" Ga, ga tenangin diri Lo !! Peringatkan Rayhan.
" Hm, serahkan semuanya sama Allah Ga.
Gua yakin kok Om Nazh gak bakalan mudah percaya sama semuanya yang kalau gak di lihat secara langsung di depan matanya." Rayhan mencoba menenangkan Arga.
Arga memejamkan matanya, mencoba menenangkan dirinya dan mensurutkan emosinya.
" Ya Allah, kepalan apa lagi yang bakalan disuguhkan padaku !! Ucap Arga mengacak rambutnya frustasi.
Rayhan menepuk pundak pria berparas tampan itu, untuk memberikannya support.
" Lo itu orang hebat, hal-hal begini mah gak mempan buat kesombongan Lo luntur." Ya, disituasi apapun Rayhan tidak pernah lupa meledek Arga.
Arga menatap ketus sahabatnya itu.
" Brengsek Lo." Makinya.
Pikiran Arga kini tengah kacau, perasaan menduga-duga ikut menyelimuti hatinya.
Ya, akankah ayahnya kembali menjadi sosok yang dingin padanya ?
Akankah dirinya akan kembali tersisihkan ?
Tak dianggap atau bahkan akan lebih parah dari hal itu ?
" Pakci akan balik dua hari lagi kat Malay." Ujar Abriz pada mereka.
Rayhan mengangguk setuju, sementara Arga menatap datar Abriz.
Abriz mendekati Arga, dan menepuk pundaknya." Pakci rase, awak balik kat Malay secepatnye sebelum semunye semakin kacau."
Sarannya pada Arga.
Saran Abriz itu jugalah yang lebih mendominasi pikiran Arga.
Ya, dari dua hari yang lalu ia selalu gelisah memikirkan tanah kelahirannya.
" Iye Pakci, lusa saye balik kat Malay." Jawab Arga dengan matang.
Abrizpun tersenyum setuju pada Arga dan Rayhan.
Detik selanjutnya ia izin pamit pada keduanya.
Sebab, ia ingin menjemput istri dan anaknya yang sedang berbelanja di Mall.
" Pakci pamit dulu ye nak jemput putri dan istri."
Meski dengan keadaan terluka ia berusaha untuk tidak menunjukkan rasa sakitnya.
Arga merasa bersalah atas luka-luka yang ia ciptakan pada pria itu.
Ya, bagaimana lagi ?
Kalau sudah emosi yang bertindak, maka tak akan ada kata ampun untuk menghentikannya.
" Pakci biar kite orang je, yang jemput makci dan putri Pakci." Arga menawarkan bantuan padanya.
Abriz tersenyum, memahami Arga merasa bersalah padanya.
Ya, terlihat dari sorot matanya.
" Tak pe nak, Pakci boleh bawa kereta jemput mereka, sekarang ni awak baliklah rehatkan diri.." Abriz menjeda ucapannya, dan beralih pada Rayhan.
" Nak, terima kasih telah membuka hati saya.
Untuk tidak buta akan kebenaran, usahakanlah nak dirimu selalu bersama Arga. Kamu orang yang tepat untuk menemaninya berjuang dalam menenggak kembali tugu kebenaran.
Pemikiranmu yang dewasa itu sangat dibutuhkan dalam perjuangannya." Ujarnya pada Rayhan dengan sepenuh hatinya.
Rayhan tersenyum simpul. Ya, ia tidak bisa menjalankan saran dari Abriz.
Sebab, kini dan seterusnya Rayhan akan berada di Indonesia.
Ya, itu artinya Rayhan tidak akan bisa bersama dan menemani Arga dalam keadaan apapun secara tatap muka secara langsung.
Rayhan tak tau harus menjawab apa, ia hanya memilih tersenyum seraya mengangguk pelan.
" Arga kena kontrol emosi ye, jangan sampai emosi mu melenyapkanmu, Pakci balik assalamu'alaikum." Sebelum Abriz balik ia memberikan sedikit nasihat pada mereka.
" Waalaikumussalam Pakci." Jawab mereka serentak dengan seulas senyuman dan anggukkan.
Abrizpun melajukan mobilnya meninggalkan rumah lama yang menjadi tempat tinggalnya di Indonesia.
Ia sengaja memilih rumah itu, agar tidak banyak orang yang tau keberadaannya.
Ya, tempatnya sepi.
Hanya ada sekitar tiga rumah di daerah rumahnya ini.
Itupun masih berbentuk rumah klasik.
Arga dan Rayhan pun tersenyum, seraya saling mendekat untuk memberi kehangatan dalam bentuk pelukan.
Keduanya larut dalam keharuan.
Ya, merasa henyak dengan yang terjadi hari ini.
Kedua telapak tangan dari masing-masing mereka menepuk punggung satu sama lain.
Saling memberi ketegaran.
Namun, ritmik nada tepukan tangan itu perlahan memelan, ketika mereka merasakan ada hal yang aneh di antara mereka berdua.
" Brengsek !! Cetus keduanya dan serentak saling mendorong melepaskan pelukan.
Menoleh ke kanan dan kiri, adakah orang yang melihat atau tidak.
Beruntung tidak ada orang yang melihat.
" Tercemar tubuh gua disentuh najis ainiyah kayak Lo !! Ledek Arga.
" Minggir Lo !! Yang ada badan gua yang ternodai kena najis Mughallaza !! Ketus Rayhan yang bergedik geli dan berlalu meninggalkan Arga.
" Sialan !! Bisa-bisanya gua ngelakuin hal serendah ini." Upat Arga menggerutui kebodohannya.
Rayhan pun meraih motornya.
Dan menyalakan mesinnya.
" Eh ogeb !! Lo mau balik gak ? Tanya Rayhan.
" B*ngke Lo !! Argapun beranjak dari duduknya.
Rayhan bukannya menaiki kursi mengemudi, ia justru menempati kursi boncengan.
" Maksud Lo gua yang dalam keadaan gak stabil gini gua yang bawak gitu ? Tanya Arg dengan tatapan tajamnya.
Rayhan hanya mengangguk bodoh amat dengan derita Arga.
" Teman gak ngotak Lo !!
Teman macam apa Lo !! Upat Arga.
Detik selanjutnya dengan kekesalannya, Arga pun melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Tak peduli dengan nasib Rayhan di boncengan.
Bruumm....
" Astaghfirullah...
Lo kalau balap kayak tadi gua loncat ni Ga !! Ancam Rayhan.
__ADS_1
" Lo mau loncat ?
" Gua serius."
" Yaudah loncat aja !!
Bagus dong biar gua gak ada beban." Jawab Arga tanpa sungkan.
" Pala Lo beban, ini kan motor gua ogeb !! Ungkit Rayhan.
Arga tak lagi membalas perkataan Rayhan, sebab tak ingin memperpanjang debat yang unfaedah baginya.
Terus menancapkan kelajuan motornya.
Agar bisa secepat mungkin sampai di rumah Rayhan.
.
.
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di kediaman Rayhan.
Memarkirkan motornya di halaman rumah Rayhan.
Seusai itu Arga pun langsung memasuki rumah Rayhan, tanpa sungkan mendahului Rayhan.
" Woy !!
Seenak jidat banget Lo markir motornya di sini !!
" Ga !! Letak di garasi woy !! Teriak Rayhan.
Namun, Arga tak menggubris perkataan Rayhan, terus melangkah." Nanggung banget sih kalau kerja." Mau tidak mau Rayhan lah yang memasukkan motornya kembali ke Garasi.
Selanjutnya Rayhan menyusul Arga, untuk melihat apa yang sebenarnya hendak dilakukan sahabatnya itu.
.
.
Rayhan melangkah menuju taman belakang, tempat mereka berempat ngedutay.
" Arga !! Teriak Rayhan.
Namun, Arga tak ia temukan disana.
" Eh Ray !!
Udah sampai ? Arga mana Ray ? Tanya Hana.
Rayhan melihat sekitar taman, yang tidak memperlihatkan orang yang ia cari.
" Arga gak ada kesini ya ?
Hana dan Ranti menggeleng." Gak Ray, bukannya tadi bareng kamu ya ? Tanya Ranti.
Rayhan mengangguk, kemudian berlari menuju kamar tamu yang ditempati Arga.
Hana yang melihat Rayhan berlari juga ikut menyusul, begitu juga dengan Ranti.
Sesampai di kamar tamu, ya terlihatlah sosok pria yang tubuh ideal itu tengah mengemas kembali pakaiannya ke koper.
" Lo mau cabut sekarang, Ga ? Tanya Rayhan mendekati Arga.
Arga menoleh kearah Rayhan.
Mengangguk seolah setuju dengan pertanyaan Rayhan.
" Lo gak mau nunggu dua hari lagi atau gak satu hari lagi ?
Arga menggeleng." Gak Ray, gua rasa lebih baik gua balik hari ini juga. Biar gua cepat ngelarin semua permasalahan ini."
Hana mengernyitkan keningnya.
Bingung dengan permasalahan yang Arga maksud.
Emang ada masalah baru, pikirnya.
Karena penasaran Hanapun memilih ikut masuk ke Kamar itu.
" Hm, emang ada masalah apa Ga, Ray ?
Rayhan dan Arga menatap Hana bersamaan.
Seolah kedua mata mereka yang berinteraksi sedang berdiskusi untuk menjawab pertanyaan Hana.
Arga mengangguk pada Rayhan, memberi kode untuk memberi tahukan semuanya pada Hana.
Rayhan pun menceritakan kejadiannya.
Mulai dari awal sampai akhir sangat detail tidak tersisa sedikitpun.
" Astaghfirullah, kan aku udah bilang kemarin Ga. Kamu jangan tanda tangani kertas itu." Teriak Hana pada Arga.
" Terus aku biarin leher kamu di penggal sama dia gitu ? Arga mulai mendekati Hana.
Hana mundur beberapa langkah untuk menjauh dari Arga." Iya biarin dia menggal kepalaku.
Kamu sama paman Nazh baru aja baikan, Ga.
Dan ini Paman Nazh akan kembali lagi bersikap kutub sama kamu, Ga. Karena salah paham !!
Hana mulai terisak, buliran-buliran hangat mulai membendung dimatanya.
Menjeda beberapa detik ucapannya.
Dan ya, memenjamkan matanya. Yang kemudia berhasil menerjunkan buliran-buliran hangat itu.
" Aku gak mau lihat kamu sama paman Nazh saling dingin satu sama lain. Aku gak mau kamu gak dianggap samanya !! Aku gak mau kamu terasa asing lagi di Istana Ga !!
Kenapa kamu nanda tangani kertas itu Ga !!
Biarin aja dia menggal kepalaku Ga.
Biarin jangan pedulikan aku." Hana benar-benar merasa bersalah atas kejadian ini.
Sebab Arga menolong dirinya waktu di Penang, dan menandatangani surat itu.
Membuat Arga kembali pada fase dibenci oleh ayahnya sendiri karena kebusukan penjilat itu.
Hana menunduk dilantai bewarna putih itu.
Meletakkan kedua telapak tangannya di lantai.
Menatap lantai dengan derai air matanya.
Ranti yang melihat Hana seperti itu.
Langsung menggenggam tubuh Hana.
" Han, kamu gak boleh gini." Kata Ranti mencoba menenangkan Hana.
Hana menggeleng." Aku yang salah Ran, aku emang selalu buat masalah. Ga, kenapa kamu gak biarin dia menggal kepalaku. Biarin dia ngabisin aku dan kamu jangan nanda tangani kertas itu...
Hikss..Hikss..hikksss.. Kaa-muuu bodoh Ga !!
Ucap Hana yang mulai sesenggukan.
Ranti memeluk Hana untuk memberikan kekuatan padanya.
Arga menatap Hana sendu.
Ikut bersedih melihat sosok Hana menangis di hadapannya dan karena dirinya.
Arga mendekati Hana dan ikut duduk dihadapannya.
Hana menatap lekat Arga yang juga menatapnya." Cinta pertamaku telah Allah ambil dalam perjuangan ini, dan aku tak ingin Allah mengambil kembali cinta keduaku dalam perjuangan ini." Jawab Arga dengan senyumannya.
Arga menjeda sejenak ucapannya.
Mata yang mulai berkaca-kaca itu, menarik tuas sudut bibirnya untuk tersenyum. Dan menghamburkan nafasnya.
" Apa aku terlalu egois ? Karena tak ingin kehilanganmu yang merupakan cinta keduaku?" Lanjut Arga.
Rayhan dan Ranti menatap Arga amat lekat.
Mencari kebenaran dari sudut matanya.
Ya, tak terdapat sedikit kebohongan di sana.
Hana melepaskan pelukan Ranti.
Dan kembali menatap Arga yang tersenyum manis padanya.
__ADS_1
Tak dapat dipungkiri.
Degupan kencang, pada dentuman jantung Hanapun tiba.
Sekujur tubuh Hana juga seketika ikut terpaku pada perkataan Arga.
Tangannya mulai bergetar, bahkan lidah Hana keluh untuk mengucap satu katapun.
" Astaghfirullah, perasaan apa ini.
Hana jangan baper Han." Gumam Hana dalam hatinya.
Kemudian Hana melemparkan pandangan ke arah lain.
Ia tak ingin jantungnya semakin dekat dengan kata copot. Meski salah tingkah, Hana tetap berusaha mencoba untuk merilekskan dirinya.
Dan menormalkan kembali detak jantungnya.
" Aaa-kkuuu mau ke toilet." Ujarnya dan beranjak berdiri dari duduknya.
Rayhan dan Ranti yang mengira bakalan ada drama Korea yang bakal terjadi antara Hana dan Arga.
Menatap satu sama lain.
Ets maksudnya drama yang saling nyatain perasaan satu sama lain ya, bukan yang lainnya.
" Ya, kok mala pergi Han."
" Kirain bakalan nonton drakor gratis tadinya."
Penonton kecewa..
Arga yang menatap Hana juga ikut menatap heran, tak percaya Hana mengabaikannya.
Yang sudah dengan amat pede tanpa gengsi nyatain perasaannya ke Hana.
" Astaga gua nyatain perasaan gua, tapi mala dicabein gini." Ucap Arga kecewa.
" Kacangin !! Sergah Ranti.
Bukhhh... Kepala Hana terantuk pada dinding kamar.
Ya, salah tingkah membuatnya tidak fokus pada jalannya.
" Hana." Arga langsung menghampiri Hana.
Begitu juga dengan Ranti, sementara Rayhan Mala justru tertawa.
Wftwfft.....
" Astaghfirullah, saltingnya gitu amat Han." Ledek Rayhan.
Ranti melotot tajam ke arah Rayhan.
Dan segera menghampirinya.
Ranti meraih bantal guling di kasur empuk itu.
Bukhhh..
Ya, benar saja itu suara pukulan bantal yang Ranti layangkan pada Rayhan.
" Aww, gila ya ni cewek !!
Main timpuk gua aja Lo." Protes Rayhan yang tak terima dengan Ranti.
" Elo yang gila !! Bisa-bisanya Lo ketawa di saat orang lain kesakitan." Teriak Ranti tepat di telinga Rayhan.
Hana yang merasa kepalanya kesakitan pun, segera beranjak pergi sebelum Arga lebih mendekat padanya.
" Han, Han !!
Kamu kenapa sih ? Tanya Arga mengikuti langkah Hana.
Sementara Ranti dan Rayhan masih saja berdebat." Kurang kuat Lo teriaknya !! Sekalian pake toak biar gendang telinga gua pecah." Kesal Rayhan padanya.
" Bodoh amat..
Wak amat aja gak peduli." Rantipun memilih menyusul Hana.
" Idih, dasar cewek bar-bar, Mak Lampir." Teriak Rayhan yang masih dapat di dengar Ranti.
" Bodoh !!!
Amattttt......
.
.
Ya, benar saja Hana memang hendak ke toilet untuk mensterilkan detak jantungnya.
Sebelum sampai tempat tujuan, Arga terlebih dahulu berada di depan toilet.
Dan menghalau Hana dengan tangannya.
" Ih, awas aku mau ke toilet."
" Ikut." Ucap Arga.
Hana mengernyitkan keningnya.
Ha ? Maksudnya ikut dengan Hana ke toilet, gila bisa-bisanya Arga buat permintaan bodoh itu.
" Ih, kamu udah gila ya ?
Ngapain ikut ke toilet." Protes Hana.
" Situ juga ngapain ke toilet ? Tanya balik Arga.
" Ha ? Dasar gila !!
Ya, aku ke toilet, mau pipis lah.
Pergi sana, kamu gak boleh ikut, kan kamu cowok haram hukumnya." Usir Hana.
" Yaudah sini aku halalin biar gak haram lagi." Ujar Arga sembari mengedipkan matanya pada Hana.
Deg...Detak jantung Hana mulai tak stabil.
Dengan cepat Hana menarik nafasnya dan membuangnya perlahan.
" Buaya !! Pergi sana." Usir Hana kembali.
" Jangan ngacoh deh, Rayhan gak melihara buaya loh disini."
Hana sudah semakin kesal dengan pria dihadapannya ini." Arga pohon pisang sekebon yang terhormat aku mohon pergi ya, aku udah gak tahan lagi ni, emang kamu mau aku ngeluarin disini."
" Yaudah keluarin aja." Jawab Arga tanpa sungkan.
Hana mengerang keras giginya.
" ARGA KAMU ITU COWOK JADI GAK BOLEH IKUT SAMA AKU, KARENA AKU CEWEK...
Kecuali tadi kamu cewek, baru gak masalah." Teriak Hana yang sudah amat kesal dengan Arga.
Arga tersenyum puas.
" Emang toilet cuma buat cewek doang ? Siapa juga yang mau ikut kamu ke toilet cewek." Ya, Arga emang paling bisa mengeles.
" Tadi kamu bilang mau ikut aku."
" Tadi yang mana ? Tanya Arga yang mulai beranjak dari pintu toilet.
Hana menatap sengit Arga, ingin sekali Hana membogem pria ini dengan tangannya.
Menyebalkan...
Ya, pria ini memang menyebalkan..
" Ih, dasar KUTUB !! Ketus Hana dan langsung saja masuk ke dalam toilet.
Bukhh... Hana menghempaskan pintu toilet dengan keras.
" Hahaha.... Tawa Arga yang senang membuat Hana kesal.
" Dasar cewek aneh." Ujarnya meninggalkan Hana.
Bersambung..
Sevimli 23 Februari 2021
Salam hangat dari Author 🌹
__ADS_1
Ets, jangan lupa ninggalin like dan Votenya ya :)