
" Kamu adalah definisi pencari Tuhan yang paling nyata."
..." Pelangi Hanani 🌹"...
Masih tertunduk pasrah dilantai Bandara, Hana menyesali semua perkataannya yang pernah menyakiti Anugrah..
Cairan bening yang terus mengalir, tak membuat pandangannya berhenti mencari sosok Anugrah..
" Terminal keberangkatan." kata itu terlintas di benaknya..
Bodoh...
Bukannya tadi Sanju mengatakan bahwa dirinya dan Anugrah berada di Terminal keberangkatan..
" Terminal keberangkatan, ya..
Kau memang bodoh Hana, kenapa kau tidak mengingatnya." upat Hana menggerutui kebodohannya.
Dengan cepat Hana berlari menuju Terminal keberangkatan..
Tak peduli dengan kerumunan, ia menerobosnya.
Hana terus melangkahkan kakinya..
Bahkan dengan nafasnya tak beraturan, sembari menyerka air matanya yang tak berhenti menetes..
Sesampai di terminal keberangkatan..
Hana mengedarkan pandangannya ke seluruh sisi tempat itu, mencari teliti setiap pemuda yang ada di sana.
Bahkan sesekali Hana tak segan untuk menyapa mereka. Barangkali satu diantara mereka adalah Anugrah..
" Anugrah." Panggilnya.
Namun, sayang hasilnya nihil.
Tak ada satupun diantara mereka merupakan pria yang ia cari.
Hana semakin pasrah dengan keadaan,
seolah-olah takdir memang tak mengizinkan dirinya bertemu dengan Anugrah untuk terakhir kalinya.
Hana kembali tertunduk lemah di lantai bandara.
Tak peduli dengan kotornya lantai itu..
Tangisnya semakin pecah, yang membuatnya semakin terisak.
Bahkan membuat orang-orang di sekitarnya merasa heran sekaligus ibah dengan tangisannya..
Hikss....Hikss..Hiksss....
" Untuk terakhir kalinya aku mohon izinkan aku bertemu dengannya." ucap Hana dengan linangan air mata..
" Nak, berdirilah lantai ini kotor nak." kata salah satu dari orang yang berada di sana.
Hana tak menggubris perkataannya, ia justru menenggelamkan wajahnya diantara dua lututnya sembari mengucapkan kalimat Istighfar..
Ia tersadar, dirinya sudah terlalu berbuat jauh sampai seperti ini..
" Astaghfirullah...
Astaghfirullah...
Astaghfirullah..."
Kemudian Hana mengangkat kembali wajahnya. Mencoba mengatur nafasnya, sembari menenangkan dirinya..
Hana berpikir mungkin memang benar mungkin ia takkan pernah lagi bertemu dengan sosok pemuda yang kerap di sapa Anugrah itu.
" Anugrah !! teriak Hana untuk terkahir kalinya untuk melepaskan semua kesesakan di dadanya.
Sontak saja, ada sosok pemuda yang berbalik mencari asal suara itu.
Ya, bagaimana tidak ?
Teriakan gadis itu sangat ia kenali, bahkan sangat sering terniang-niang di telinganya.
Ia beranjak pergi dari duduknya, melangkah kaki mencari gadis yang mempunyai suara itu.
" Hana !!
Suara itu punya Hana." yakinnya, sorot matanya sibuk mencari.
Sanju yang melihat Anugrah melangkah pergi di detik-detik keberangkatannya, langsung menegurnya..
" Nug, jadwal keberangkatanmu sebentar lagi ! Jangan pergi lagi."
Anugrah tak menggubris teguran Sanju, ia terus melangkah.
" Permisi mbak.." ujar Anugrah melewati kerumunan.
" Itu pasti Hana, aku yakin." yakin Anugrah dengan mantap.
Anugrah terus mencari, berharap suara itu kembali berderuh.
Bahkan sesekali Anugrah tak segan, menegur wanita-wanita berhijab yang berada disana.
Ada sosok gadis berhijab coklat susu, dari belakang jujur saja postur tubuhnya sedikit mirip dengan Hana.
Anugrah tersenyum, meski sedikit ragu.
Tapi secuil keyakinan bahwa itu Hana terlintas di benaknya.
" Hana."
panggilnya sembari mendekati gadis itu.
" Hanani Syaufa." panggilnya lagi.
Namun, sayang gadis itu tidak berbalik.
Untuk memastikannya, Anugrah memutuskan melihat wajah gadis itu.
Jlebb..
Anugrah kecewa gadis itu ternyata bukan Hana.
Gadis yang di pandangi Anugrah itupun merasa heran dengannya.
" Maaf ya, kenapa kamu Mandangin saya ya ?
" Ah, maaf mbak.
Saya pikir mbak teman saya." ucapnya.
" Ohiyaiya, gak apa-apa."
Beruntung gadis ini memaklumi Anugrah.
" Haahhh.." Anugrah menghela nafasnya kasar.
lagi-lagi takdir mempermainkannya.
Keyakinan Anugrah untuk bisa bertemu Hana mulai menghilang.
" Memang benar, takdir takkan pernah sudi mengizinkan aku bertemu lagi dengan gadis sesempurna dirimu, Han."
Anugrah beranjak pergi dari tempat itu.
Belum sempat Anugrah melangkah, kini pandangannya fokus pada gadis yang tertunduk di lantai bandara.
" Kenapa gadis itu melakukan hal sebodoh itu di tempat umum seperti ini.
Hm, mungkin dia tidak sanggup melihat kekasihnya pergi jauh." Anugrah kembali melangkah.
Namun, ada hal yang membuat Anugrah kembali menatap gadis itu.
Ya, tas selempang yang dipakai gadis itu mirip dengan tas selempang Hana.
" Tas itu !!
Kenapa mirip tas Hana." penasaran, Anugrah mendekati gadis itu.
" Mbak-mbak...
Kalau mau duduk di kursi terminal aja mbak.
Jangan disini ! Entar mbak di sangka orang gila lagi." ujar Anugrah pada gadis ini.
__ADS_1
Jlebb..
Suara itu, suara yang sudah amat lama tak terdengar di telinga Hana.
Suara bariton yang pernah meledeknya, suara yang amat ia rindukan bersama kenangannya.
" Anugrah." batin Hana.
Hana mendongakkan kepalanya, untuk melihat sosok yang empunya suara.
Deg..
Pandangan mereka kini saling beraduh,
saling menatap dengan kerinduan.
Jantung keduanya sama-sama berdegup kencang, kaki mereka berdua bergetar hebat..
" Anugrah."
" Hana." ucap mereka bersamaan.
Ya, gadis yang Anugrah sebut bodoh itu adalah Hana. Dan lelaki dengan suara bariton itu adalah Anugrah.
Hiks...hikss...hikss
Tangis Hana semakin pecah melihat sosok pemuda, yang sudah satu setengah tahun lebih tak pernah ia temui.
Yang pernah memintanya menjadi temannya namun Hana menolaknya. Pemuda yang berjuang melawan takdirnya. Pemuda yang memintanya menjadi Zainab.
Seulas senyuman merekat lebar di wajah Anugrah. Ia ikut duduk bersama Hana.
" Jangan nangis entar orang ngira aku mau jual kamu ke om-om loh." ledeknya..
Hana tertawa mendengar ledekan Anugrah.
" Biarin."
Anugrah tersenyum sembari beranjak pergi dari sisi Hana, membuat Hana bingung dengannya.
Hana ikut beranjak dari duduknya, dan menghampiri Anugrah.
" Apa perkataanku yang lalu salahnya begitu fatal ? Sampai kamu gak mau menoleh ke arah ku. Bahkan untuk sekian lama kita tidak bertemu, untuk sekedar menanyakan kabarku saja kau tak Sudi."
Ucapan Hana berhasil membuat langkah Anugrah berhenti.
" Aku malu Han bertemu kamu, aku kalah, aku lari dari perjuangan menjemput hidayah Allah.
Takdir menang Han. Aku belum berhasil memeluk Islam." ungkapnya, tanpa menoleh pada Hana.
Hana menggeleng tidak setuju dengan Anugrah.
" Kamu gak kalah, apalagi lari !!
Justru takdir yang kalah dari perjuangan kamu.
Kamu hebat Grah. Tapi, kamu tau apa hal yang lebih menyedihkan dari perjuangan ? Menyerah dan berhenti di tengah jalan."
Anugrah berbalik, kembali menghadap Hana.
Melayangkan senyuman tulusnya.
" Jangan biarkan aku berjuang sendiri Han !!
Apa kamu tidak mau menjadi Zainab binti Muhammadku ?
Yang setia menunggu Abul Ash mengucapkan dua kalimat syahadat. Dan berjuang menemaninya menjemput hidayah Allah."
Ini untuk kedua kalinya Anugrah meminta hal ini pada Hana.
Hana menggeleng berat, sembari tersenyum ramah.
" Kamu adalah definisi pencari Tuhan yang paling nyata. Aku salut padamu Anugrah.
Maaf aku belum berhasil menjadi sosok Zainab binti Muhammad untukmu."
Perkataan Hana berhasil menarik ulur perasaan Anugrah. Lagi dan lagi, Anugrah mendapat penolakan.
Anugrah mengangguk, seraya mengulas senyumannya.
" Mungkin kamu memang bukanlah Zainab binti Muhammadku.Tapi, satu hal yang pasti Han, kamu telah berhasil menjadi sebuah pelangi untukku, terima kasih Han."
" Semoga kamu menemukan orang yang tepat untuk menjadi Abu Dardamu, Han." meski berat, kali ini, Anugrah benar-benar ikhlas.
Membuat dada Hana semakin sesak, merasakan nyeri di dadannya. Air matanya yang sedari tadi terbendung, akhirnya tertumpah hanya dengan satu kedipan.
" Maaf, Grah." ucap Hana dibalik isak tangisnya.
Anugrah menggeleng." Untuk apa ?
" Untuk tamparan satu setengah tahun yang lalu." jawabnya mengingat kejadian itu.
Anugrah tertawa kecil. " Ha-ha-ha, udah deh, gak usah diingat lagi.
Dari kejauhan ada sepasang mata yang melihat mereka berdua.
" Aku tau kamu masih bertahta di hati Hana, Nug." Sanju berucap tegar.
Kini keheningan kembali menyelimuti mereka berdua. Ini pertemuan pertama mereka setelah sekian lama tak bertemu, canggung untuk saling berbicara.
" Dua puluh lima menit lagi." kata Anugrah melirik jam ditangannya.
Hana paham dengan maksud Anugrah.
" Kenapa gak bilang kalau mau pergi ?
Bahkan sejauh Canada ? Tanya Hana.
Anugrah menggelengkan kepalanya.
" Aku gak mau kamu nangis terus-terusan mikirin aku." opininya dengan penuh percaya diri.
" Pede !! Hana dengan tawa kecilnya.
" Han, tetap doain aku ya.
Untuk terus berjuang menggapai Islam, meski itu sangat rumit." pintanya pada Hana.
Hana mengangguk iya." Insya Allah, serumit apapun itu jika kuasa Allah yang berkehendak, tidak akan ada yang menghalanginya."
Anugrah tersenyum mendengar perkataan Hana. Ia menatap intens wajah gadis yang amat lama tak ia pandang.
Senyum manis dari gadis itu bahkan mampu mengobati luka seseorang yang memandangnya. Begitu juga dengan ucapannya, selalu menjadi penyejuk hati.
Anugrah tak mengira bahwa takdir tak sekejam yang ia pikirkan. Bahkan takdir kini memberinya kesempatan untuk bertemu gadis yang amat ia cintai.
Hana mengambil tas selempangnya,
meraih buku yang berjudul
" Sirah Nabawiyah." berniat untuk memberikannya pada Anugrah.
" Nah." Sodorkannya pada Anugrah.
Anugrah melirik buku yang Hana sodorkan.
" Sirah Nabawiyah." bacanya.
Hana mengangguk.
" Bawalah untuk bekalmu di Canada." ungkap Hana, yang di balas dengan senyuman oleh Anugrah.
" Terima Kasih Han."
" Jangan sampai ketahuan lagi." cibir Hana.
Kata-kata Hana membuat Anugrah mengerti, sekaligus bingung bagaimana bisa Hana tau bahwa ia ketahuan oleh ayahnya.
" Tau darimana ? Sanju ?
" Iya, aku juga bisa berada di terminal keberangkatan ini karena dia."
Anugrah baru menyadari bahwa Hana bukannya di Malaysia, kenapa bisa berada di sini.
" Eh tunggu deh bukannya kamu di Malay Han ? Kok bisa disini ? tanyanya.
" Hm, aku baru sampai dua puluh menit yang lalu." jawab Hana.
Anugrah tak menyangka bahwa rencana Tuhan begitu cantik sedemikian rupa. Untuk mempertemukan mereka.
__ADS_1
" Kamu sadar gak Han ?
Kalau rencana Tuhan untuk mempertemukan kita begitu keren."
Ya, benar saja mereka bertemu di Bandara tanpa saling merencanakan.
Bahkan mereka tak mengetahui satu sama lain.
" Iya benar, Allah itu memang maha Kuasa, yang kekuasaannya gak bisa dijangkau apapun." ucap Hana menatap ke depan.
" Teman ?
Tawaran pertemanan Anugrah untuk ketiga kalinya pada Hana.
Hana tersenyum, bukan menyerah dengan prinsip yang ia jalankan bertahun-tahun.
Melainkan ia tau bahwa Anugrah berhak di rangkul dalam ikatan pertemanan, untuk semakin membuat hatinya cinta pada Islam.
" Teman." terima Hana.
Anugrah tersenyum, merasa bahwa hari ini adalah keberuntungannya.
Ia bertemu dengan sosok gadis yang ia rindukan, dan sekaligus berhasil menjadi temannya.
" Terima kasih." ucap Anugrah yang dibalas dengan senyuman oleh Hana.
Kini rindu yang terbendung di antara mereka akhirnya terkuak.
Pertemuan pertama ini membuat mereka meluapkan segala kesesakan yang ada
di dada.
Sampai akhirnya terdengarlah pengumuman keberangkatan ke Canada untuk terakhir kalinya.
Sanju dan Kanaya menghampiri Anugrah.
Sanju langsung memeluk Hana, meluapkan rindunya.
" Hana aku kangen banget sama kamu."
" Aku juga kangen, San." Hana membalas pelukan Sanju.
" Kamu pasti Hanani ya ? tanya Kanaya.
Ya, Anugrah selalu bercerita mengenai sosok Hana padanya. Hana melepaskan pelukan Sanju. Kemudian Hana beralih menyalim tangannya Kanaya.
" Iya tante."
" Hm, terima kasih sudah menjadi seorang yang berarti untuk anak saya." ucapan Kanaya
membuatmu Hana bingung.
Bagaimana bisa Kanaya mengatakan Anugrah anaknya sementara kepalanya berbalut hijab.
" Anak ? tanya Hana bingung, memandang Anugrah dan Kanaya bergantian.
" Iya nak, saya memang berbeda keyakinan dengan ayahnya Anugrah." jawabnya membuat Hana memahami hal tersebut.
Hana baru tau, kalau Anugrah memiliki ibu yang berkeyakinan sama dengannya.
" Hehe, gak kok tante.
Hana cuma teman biasa untuk Anugrah."
Kanaya tersenyum." Senang bertemu dengan mu, nak."
" Senang juga bertemu tante." Hana membalas senyuman Kanaya.
Selanjutnya, Kanaya menarik tangan Anugrah.
Untuk berangkat ke Pesawatnya.
" Mari nak, sudah waktunya kamu berangkat !! instruksinya pada Anugrah..
Berat..
Ya, rasanya sangat berat Anugrah untuk melangkah.
Bahkan sejauh Canada..
Ini akan menjadi pertemuan pertama kalinya diantara mereka, setelah sekian lama mereka berpisah dan mungkin ini kali terakhirnya pertemuan diantara mereka setelah Anugrah berangkat ke Canada nantinya.
Entahlah, ia berharap Tuhan berbaik hati padanya, untuk mempertemukannya lagi dengan Hana suatu saat nanti.
Anugrah pasrah dengan takdirnya.
Baru saja ia bertemu dengan Hana, keadaan langsung memisahkan mereka kembali.
" Terima kasih telah berperan dalam perjuangan ku menjemput hidayah Allah ini Han. Semoga takdir mempertemukan kita kembali dengan raga yang sama, meski dengan rasa yang tak lagi sama. Aku pamit Han."
Kata terakhir yang terucap dari mulut Anugrah yang tampak begitu berat itu, terpaksa terucap dari mulutnya.
Hana berusaha keras untuk menahan air matanya, seraya memberikan senyuman terbaiknya.
" Dan senantiasa dengan iman dan keyakinan yang sama. Fii amanillah, Grah safe flight."
Anugrah tersenyum seraya mengaminkan perkataan Hana." See you Pelangi ku."
" Di Canada buruan cari pengganti aku ya !!
Biar kamu gak ngejomblo sampai lapuk." ledeknya di sisa-sisa waktu pertemuan mereka.
Anugrah tertawa, Sanju dan Kanaya juga tertawa.
" Gak usah ngeledek, kamu juga jomblo akut." balas Anugrah yang membuat Hana tertawa.
" Tingkat kepercayaan diriku memang sangat tinggi Han, tapi tidak untuk itu." lanjutnya, dengan jujur.
Kanaya dan Sanju yang mengetahui bahwa Anugrah sangat mencintai Hana, bisa memahami hal itu.
Anugrah melambaikan tangannya pada Hana, sembari memberikan senyuman terbaiknya.
Begitu juga dengan Hana membalas dengan senyuman termanisnya.
Kini Anugrah mulai menjauh dari Hana, ia mulai memasuki area penerbangan.
Hana masih mematung memandang punggung Anugrah yang perlahan-lahan tak terlihat lagi olehnya.
Ini untuk kedua kalinya mereka berpisah.
Perpisahan pertama di SMA N I Mata Uli, dan ini kali keduanya di Bandara Kualanamu.
Bukan perpisahan yang menyedihkan, melainkan perpisahan yang berkesan baik-baik saja.
Anugrah atau Hana sendiri merasa sedikit tenang, dengan perpisahan yang berkesan manis terjalin di antara mereka.
Namun tak terpungkiri, kepergian Anugrah masih meninggalkan sedikit rasa sakit di hati Hana.
Hana kembali tertunduk, masih menatap ke arah area penerbangan.
Masih belum ikhlas sepenuhnya dengan kepergian Anugrah.
Di tambah lagi, Hana mengetahui bahwa Ayahnya Anugrah sangat tidak mengizinkan Anugrah dengan keputusannya.
Hati Hana semakin sesak, melihat betapa kejamnya takdir yang mempersulit Anugrah melafadzkan dua kalimat syahadat..
" Rabb, izinkan Anugrah untuk memeluk agama Mu." ucap Hana.
Dari kejauhan ada sepasang mata lelaki, yang sedari tadi melihat Hana, bahkan ia mengikuti Hana, mulai dari berangkat sampai Hana berada di terminal keberangkatan ini.
Hatinya juga merasa sakit melihat gadis itu terisak seperti itu.
Dengan keberanian diri, ia akhirnya memutuskan untuk menghampiri Hana.
Sesampai di hadapan Hana, ia mengeluarkan coklat dari tasnya." Coklat." sodorkannya pada Hana.
Suara itu.
Coklat itu membuat Hana teringat seseorang..
Bersambung...
Sevimli 2 Januari 2020
Salam hangat dari Author 🌹
Baik-baik di Canada ya untuk Anugrah :)
Jangan lupa like, and Votenya ya teman-teman online :)
__ADS_1