Pelangi Hanani

Pelangi Hanani
Part 73 Supir Mulia.


__ADS_3

" Karena tak ada yang lebih mulia, dari pada


menjadi sebanyak-banyaknya manfaat.


......" Pelangi Hanani 🌹"......


Seminggu telah berlalu.


Rayhan sudah mendarat di Ibu kota,


tepat pukul 07.00 dini hari.


Ya, kota kelahirannya.


Tempat ia pertama kalinya menghembuskan nafasnya. Dan menghirup oksigen.


Senang.


Bisa kembali menginjakkan kakinya kembali.


Sekian purnama ia tak memandang tegaknya Monas berdiri akhirnya. Kini terpampang nyata di hadapannya.


" Alhamdulillah.


I am come back Indonesia." Teriaknya pada benda mati yang bergelar Monas itu.


Rayhan kembali ke tanah air bersama kedua orangtuanya.


Akan tetapi, sesuai sampai di Jakarta.


Orang tuanya langsung berangkat ke Bogor untuk urusan bisnis mereka.


Rayhan pun harus pulang ke rumahnya sendiri.


Daripada di rumah sendirian, Rayhan lebih memilih berjalan-jalan di sekitar kota tua Jakarta.


Untuk meluapkan kerinduannya pada kota Betawi ini.


Rayhan meraih handphonenya untuk menghubungi sosok pemuda yang kerap ia gelar dengan sahabat.


" Gua hubungi Arga dulu deh." Ujarnya menghubungi nomor Arga.


Aywafikum minnina... Panggilan berhasil masuk.


Arga merogoh kantongnya.


Untuk mengambil handphonenya yang berdering.


" Siapa sih ? Pagi-pagi gini udah main nelpon gua aja."


Arga melihat di layar ponselnya, terterah Rayhan Belatung sedang menghubunginya.


" Rayhan ogeb ternyata." Arga menggeser tombol hijau dilayar handphonenya.


" Ngapain Lo nelpon gua ? Ketus Arga.


Rayhan tertawa kecil." Hehe, ketus amat Lo.


Assalamu'alaikum dulu kek."


" Waalaikumussalam.


Buruan Lo ngomong sebelum gua matiin." Ancam Arga.


" Ye, pms amat mbak.


Gua mau bilang, gua udah nyampe Jakarta ni.


Kapan Lo kesini ngujungi gua ? Tanya Rayhan.


" Idih pede amat Lo !!


Siapa juga yang mau ngujungi Lo ?


Gak berkualitas banget waktu gua dibuang sia-sia buat ngujungi Lo ! Sergah Arga.


Rayhan hanya tertawa kecil menanggapi perkataan Arga.


Sebab, dia tau bahwa itu hanyalah bercanda.


" Bacot Lo !! Kabari gua kalau mau ke sini biar Lo gak nyasar." Kata Rayhan.


" Hm, tenang Lo.


Otak gua jenius kali ngalahin GPS lagi.


Jadi gak perlu minta bantuan Lo." Jawab Arga dengan sombong via telepon.


Rayhan hanya tersenyum masam, mendengar kesombongan yang tak pernah pudar dari diri Sahabatnya itu.


" Iya deh iya.


Elo jangan lupa ya bawak Hana sama Ranti kemari !! Ujar Rayhan mengingatkan Arga.


" Hm, kalau Ranti aja cepat banget otak Lo nyambar !! Giliran hafalan hadis amnesia Lo langsung." Ledek Arga pada Rayhan.


Rayhan menautkan sebelah bibirnya." Ya, gak keseringan kali. Sesekali kan gak apa-apa."


Alibi Rayhan padanya.


" Eleh, sesekali.


Lo cuma mau bicarain ini doangkan ? Gak ada yang lain ?


" Iyaiya, gak sabaran banget sih Lo !! Mau cepat nutup aja." Protes Rayhan.


" Lo amnesia apa ogeb sih ?


Gua tinggal di rumah orang mana mungkin seenak jidat gua di sini." Celetuk Arga yang kesal dengan Rayhan.


Haha... Rayhan tertawa ria.


" Sibuk bantu calon mertua kan Lo." Cibir Rayhan.


Membuang Arga salah tingkah.


" Diam Lo !! Daripada Lo punya camer kagak di pdktin, kurang kreatif Lo." Ledek Arga tak mau kalah.


Rayhan terdiam sejenak.


Merasa apa yang dikatakan Arga benar adanya.


" Ah udah.


Ketinggian banget pembahasan kita.


Camer-camer apaan ! Calon merana haha."


"Sialan Lo.


Udah deh gua tutup bye..


Assalamu'alaikum." Arga memutuskan panggilan sebelah pihak.


" Ye, main putusin aja ni anak.


Waalaikumussalam." Balas Rayhan.


Detik selanjutnya Rayhanpun memilih bergegas ke Masjid kebanggaan Jakarta, ya masjid apalagi kalau bukan Masjid Istiqlal.


Untuk melaksanakan sholat dhuha, yang memang sudah biasa ia lakukan setiap harinya.


.


.


Argapun menghampiri kedua gadis yang sedang sibuk berbincang di bangku pekarangan rumah Hana.


Dengan dua tiket pesawat yang tergenggam


di tangannya.


" Ni, buat kalian berdua." Ujarnya.


Hana dan Ranti meraih tiket yang Arga berikan.


Terteralah tiket pesawat KNO-KSO atas nama mereka berdua.


" Maksudnya, Lo mau ngirim kita berdua ke Jakarta ?


Eh jangan ngadi-ngadi Lo !! Protes Ranti.


" Ini untuk apa Ga ? Tanya Hana dengan penasaran.


" Apaan sih Lo !! IQ Lo berapa sih ?


Ogeb bener jadi orang." Ledek Arga pada Ranti.


" Sembarangan Lo.


Terus Lo ngapain kasih kita beginian ha ?


Gua tau kalau gua sama Hana ini cantik, tapi maaf ni ye kita gak berminat buat dikirim ke Jakarta jadi artis disana." Ucap Ranti ngasal.


" Hahaha..." Arga terkekeh mendengarnya.


" Pede banget Lo !!


Tampang ke Lo jadi artis ? Dapat peran figuran yang ada Lo peranin."

__ADS_1


Ranti menautkan sebelah bibirnya berdengus kesal melihat Arga.


Sementara Hana hanya tersenyum simpul.


" Sudah-sudah.


Gak usah berbelit-belit deh Ga.


Sebenarnya maksud tiket ini apa ? Tanya Hana to the poin.


Arga menetralkan tawanya." Itu tiket buat kalian ke Jakarta. Buat ikut sama aku ngujungi Rayhan di sana." Jawab Arga.


Mendengar nama Rayhan, Ranti repleks tersenyum ria." Rayhan ? Katanya.


" Iya, senangkan Lo."


Ranti berusaha menata wajah agar kelihatan biasa saja.


" Gak kok, biasa aja." Elaknya.


" Entar kalau kita ke Jakarta, nginepnya dimana ? Tanya Hana dengan polos.


Arga tertawa mendengar pertanyaan Hana.


Bisa-bisanya pertanyaan yang sudah jelas jawabannya di rumah Rayhan, masih saja Hana tanyakan.


" Di hotel." Tipu Arga.


" Loh, kok di hotel.


Gak mau ah, mendingan gak usah." Tolak Hana masih belum tau jawabannya.


" Huuhh..


Di rumah Rayhan dong Hanani Syaufa.


Apa fungsinya coba rumah dia di Jakarta ?


Hana yang baru taupun, manggut-manggut mengerti.


" Hehe, suka lupa kalau Rayhan orang Jakarta asli." Ucap Hana cengengesan.


" Hm, kalau sama Anugrah gak pernah lupakan ? Lontar Ranti.


Membuat Hana tersentak kaget.


Dan hanya tersenyum simpul.


" Ran, please ya.


Gak usah repot-repot nyebutin namanya.


Kita itu cuma temenan gak lebih."


Rantipun memutar bola matanya melas.


" What ever." Ungkapnya sembari melangkah masuk ke rumah Hana.


Hana tak mau ambil pusing, dirinya pun bergegas masuk ke rumah untuk mengambil air menyiram tanaman.


" Eh jangan lupa besok pagi kita berangkat ke KNO." Teriak Arga pada mereka.


Arga hanya menggeleng tidak mengerti dengan mood kedua gadis yang bersepupuan itu.


" Hm, bener deh.


Cewek emang susah di tebak moodnya."


Menghubungi nomor ayahnya untuk meminta izin pergi ke Jakarta.


Panggilan Arga berhasil masuk.


" Assalamu'alaikum Ayah." Salam Arga padanya.


" Hm, waalaikumussalam." Jawab Ayahnya dengan datar.


Arga yang mendengar nada suara ayahnya berbeda dari sebelumnya pun bingung.


Apa jangan-jangan ayahnya sedang tidak sehat.


Pikir Arga.


" Ayah sehatkan ? Tanya Arga.


" Iya, awak nak cakap ape ?


Cepat sikit, saye tak de masa layan awak." Ucapnya ayahnya yang cukup menohok hati Arga.


" Ayah kenape ye ? Lain sikit cara cakap tu." Tanya Arga.


" Saye cakap !! Saya tak de masa nak layan awak. Cepatlah cakap ape yang nak awak cakap."


Dah lah, Arga cuma nak izin pergi kat Jakarta.


Tempat Rayhan." Katanya.


" Ye silahkan." Jawab Nazhanul.


" Ayah tak rindu Arga ke ? Tanya Arga dengan tatapan berkaca-kaca.


Cukup lama Nazhanul tak menjawab pertanyaan Arga.


Begitu juga Arga hanya berdiam menunggu jawaban ayahnya.


" Dah lah, kalau tak de lagi yang nak awak bincang kan.


Saye tutup, assalamu'alaikum." Nazhanul benar-benar menutup panggilannya.


" Ayah !!


Waalaikumussalam."


Tanda tanya mulai menyelimuti pikiran Arga.


Tak mengerti kenapa ayahnya bisa sedingin ini padanya.


" Aku salah apa coba ?


Kok ayah sedingin ini ke aku ?


Benar saja, dalam waktu yang singkat sikap Nazhanul bisa berubah drastis ke Arga.


Ternyata jarak yang cukup membentang luas di antara mereka, tak membuat Nazhanul tenggelam dalam kerinduan.


Mala justru, membuatnya kembali seperti membenci Arga.


Entahlah, rasa ingin pulang ke Malaypun.


Timbul dalam benak Arga.


Resah.


Ya, satu kata yang kini menghantuinya.


Resah akan sikap ayahnya yang tampaknya seperti marah pada Arga.


Argapun berpikir keras apa yang sebenarnya terjadi di sana, selama ia berada di Indonesia.


Pengkhianat.


Ya, itu yang terlintas di benaknya.


" Apa ini ulah si pengkhianat brengsek itu ?


Haaa.... Arga menghembuskan nafasnya kasar.


" Kenapa ya selalu saja.


Orang-orang brengsek bisa dengan mudah jalanin rencananya." Arga mulai letih memikirkannya.


" Sebaiknya aku percepat pulang ke Malay.


Ini gak boleh di biarin lama-lama." Argapun memasukkan kembali handphonenya ke kantongnya, kemudian melangkah menuju rumah Hana.


.


.


Malam harinya.


Hana dan Ranti sibuk Packing barang-barang untuk mereka bawa selama berpergian ke Jakarta.


Hanya beberapa stel baju dan jilbab serta barang keperluan lainnya.


Keasyikan Packing tetiba sebuah kotak terjatuh dari laci lemari Hana.


Ya, kotak yang berisikan gelang dari Anugrah.


Gelang yang sudah setengah tahun tidak ia kenakan lagi.


Hana meriah kotak yang sudah terbuka dan memperlihatkan gelang dari pemuda Protestan itu.


Hana tersenyum.


" Anugrah Pota Mendrofa." Ucapnya menggenggam gelang itu.


" Senantiasa lisanmu segera melafadzkan dua kalimat syahadat." Harap Hana dengan sungguh.


Ranti yang melihat Hana seperti itu hanya bisa diam dan tersenyum simpul.

__ADS_1


Ya, benar bagaimanapun.


Anugrah adalah orang baik meski bukan seorang muslim.


Dia tak pantas untuk di benci.


" Han, udah selesai ? Tanya Ranti membuyarkan lamunan Hana.


" Ah iya Ran, udah." Jawab Hana.


Sesuai Packing merekapun memilih mengistirahatkan tubuhnya.


Agar kembali feet esok hari, untuk mengahadapi hari yang melelahkan lagi nantinya.


Di tempat lain, ada sosok Arga yang masih sibuk dengan pikirannya yang berkecamuk tanpa tepi.


Tak lagi fokus untuk perjalanan besok hari.


Dari pada melamun tak jelas.


Arga memilih ke kamar mandi, untuk mengambil wudhu melaksanakan qiyamullail.


Untuk menenangkan hatinya yang berantakan.


...🍂🍂🍂...


Pagi harinya.


Arga, Hana dan Ranti telah siap untuk berangkat.


Meski dengan pikirannya yang berantakan, Arga tetap berusaha terlihat baik-baik saja.


Agar tidak membuat mereka khawatir.


Taxi travel mereka sudah tiba di depan.


" Ibu, bapak Hana pamit dulu ya.


Sama Arga, dan Ranti." Izinnya pada kedua orang tuanya.


" Iya nak.


Hati-hati ya nak, jangan jauh-jauh dari mereka berdua."


" Aunty, uncle Kita pamit ya."


" Iya Aunty, uncle Arga izin bawak mereka ke Jakarta ya." Pinta Arga pada kedua orang tua Hana.


" Iya nak.


Jaga mereka baik-baik ya. Jangan tinggalin mereka berdua disana." Ujar ibu Hana.


" Uncle percaya sama kamu.


Jangan kecewakan Uncle dan Aunty." Sambung Bapak Hana.


Arga mengangguk tersenyum, menerima tanggung jawab.


" Met, abang pamit dulu ya."


" Iya bang. Jaga baik-baik tu kedua kakak Rahmet."


" Siip.." Arga menunjukkan jempolnya pada Rahmet.


" Assalamu'alaikum." Pamit mereka bersamaan.


" Waalaikumussalam."


Mereka bertiga pun melangkah memasuki mobil.


Tinn... Klakson supir travel yang mulai melajukan mobilnya.


Hana masih menatap keluarganya dari jendela yang mulai jauh dari pandangannya.


Merasa seperti pertama kalinya berpisah dengan keluarganya.


Padahal dirinya sudah setahun lebih berpisah dengan keluarganya.


" Kita cuma tiga hari kok di sana.


Entar balik lagi kesini." Kata Arga yang melihat mimik sedih di wajah Hana.


" Hm." Jawab Hana singkat.


Hana segera beristighfar untuk menenangkan dirinya.


Sembari membaca novel yang sengaja ia bawa untuk menemani perjalanannya.


Ranti sendiri sibuk dengan earphone mendengar musik kesukaannya.


Begitu juga dengan Arga jarinya di sibukkan dengan Handphonenya.


Mengecek perkembangan di Penang dan juga Terengganu.


Meski berada di Indonesia, Arga tak ingin melepaskan tanggung jawab kedua daerah itu begitu saja.


Ia akan terus memantaunya.


Bahkan Arga juga masih memikirkan cara bagaimana untuk memperlihatkan semua kebusukan pengkhianat itu pada Ayahnya.


Meski rasanya saat ini sulit, namun Arga tak ingin mundur.


Ia tetap memaksimalkan usahanya untuk menegakkan kebenaran.


Ia ingin menampilkan satu persatu wajah-wajah pengkhianat itu.


Mulai dari pemitnah bayaran, Robert, Abrazi dan suku pemuka si Pengkhianat Cumlaude.


Arga tak ingin melewatkan satu orangpun, atau bahkan satu kesempatanpun.


Stay by step yang Arga lakukan, ia yakin setiap usaha yang dilakukan secara totalitas takkan pernah berpaling dari hasil memuaskan.


" Allah sebaik-baik pelindung.


Biarpun nantinya nyawaku melayang dalam perjuangan menegakkan kebenaran ini.


Aku ikhlas ya Allah." Ucap Arga dengan tulus.


Hana yang tak sengaja mendengar perkataan Arga, langsung membuatnya berpaling dari Novelnya ke arah Arga.


" Apa arti dari ucapan Arga tadi ya ? Batin Hana.


Ingin bertanya, namun Hana mengurungkan niatnya.


Sebab, tak ingin terlihat kepo dengan urusan Arga.


Detik selanjutnya Hana kembali membaca Novelnya.


Perjalanan dari rumah Hana menuju KNO cukup memakan waktu yang lama.


Ya, sekitar enam sampai tujuh jam.


Untung saja, travel yang mereka tumpangi ini, supirnya ahli dalam melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.


Ya, meski sudah terlihat sedikit tua.


Namun, tampilan selalu tampil muda.


Sepanjang perjalanan, pak supir mengajak mereka berbincang bersama. Untuk menghidupkan suasana yang mulai redup.


Ya, perbincangan yang cukup bermanfaat.


Supir travel ini ternyata dahulu adalah seorang masimis di salah satu perusahaan negara.


Namun, ia memilih pensiun dini.


Sebab, merasa lebih baik ia berhenti dari pekerjaan, yang selalu membuatnya terjebak dalam kecurangan.


Dari pada nantinya ia di paksa berbuat curang.


Ia lebih memilih berhenti dan memutuskan untuk menjadi seorang supir travel dengan menggunakan mobilnya sendiri.


" Buat apa kita bekerja di tempat yang bergengsi namun, harus masuk dalam lingkaran dosa.


Lebih baik kita bekerja di tempat tak bergengsi tapi berada dalam kebaikan dan bermanfaat untuk diri kita dan orang lain.


Karena tak ada yang lebih mulia dari pada menjadi sebanyak-banyaknya manfaat." Ucap supir travel itu dengan senyumannya.


Hana dan Arga tertegun mendengar perkataan dari sang supir itu.


Bahkan Ranti yang tadinya sibuk dengan musiknya. Melepaskan earphonenya untuk mendengarkan perkataan Supir itu.


Ia juga ikut tertegun mendengarnya.


Kagum.


Ya, kagum melihat sosok jujur dan taat seperti Supir travel yang bernama Pak Zaid ini.


Di sudut lain ada banyak orang yang mendambakan pekerjaan yang bergengsi itu.


Namun, dirinya dengan lapang dada melepaskan pekerjaan itu sebab, tak ingin melanggar perintah Allah.


Sungguh mulia orang-orang yang mau meninggalkan hal duniawi demi hal akhirat.


Masya Allah...


Sevimli 11 Februari 2021


Salam hangat dari Author 🌹

__ADS_1


__ADS_2