
" Meski aku tak seberuntung Abdul Ash yang memiliki Zainab, tapi aku juga tak kalah beruntung memiliki Pelangi seperti mu.
Ya, Pelangi Hanani.
Aku titip rindu lewat surah Al Anbiya ya." Ujar Anugrah.
" Abu Darda zaman sekarang kalah oleh Abdul Ash zaman sekarang." Kata Arga yang mulai menyerah dengan perasaannya.
......" Pelangi Hanani 🌹"......
Waktu menjelang magrib, Hana, Ranti dan ibunya sudah on time di atas sejadah.
Untuk melaksanakan sholat maghrib berjamaah di rumah.
Sementara, Arga, Rahmet dan Tameer pergi ke Masjid untuk berjamaah di sana.
Karena memang ya, untuk laki-laki sangat di anjurkan berjamaah di masjid, bahkan hampir terbilang wajib.
.
.
.
Seusai mereka melaksanakan Sholat magribh dan isya. Mereka makan bersama dengan begitu hikmat.
Makan diselingi dengan perbincangan kecil, sebab saat makan bersama Rasulullah menganjurkan untuk menyelinginya dengan bincang-bincang kecil.
Seusai makan, yang perempuan membersihkan dan membereskan semua nya. Sementara Tameer memilih menonton televisi bersama Rahmet.
Dan Arga sendiri sibuk dengan ponselnya.
Tengah melihat perkembangan di Penang dan Terengganu melalui informasi-informasi kenalannya di sana.
Untuk sejauh ini, kondisinya masih kondusif.
Meski sesekali ada pengacau yang datang.
Akan tetapi, masih dapat di atasi mereka.
Arga tersenyum, bersyukur tidak yang terlalu perlu di khawatirkan.
" Alhamdulillah, kondisinya masih kondusif."
Ucapnya.
Antassalam....Dering handphone Arga.
Tiba-tiba saja ada panggilan yang masuk.
" Abang Izaz." Ya, Izaz yang menghubunginya.
Arga menggeser tombol hijau di layar handphonenya.
" Assalamu'alaikum bang." Salam Arga.
" Waalaikumussalam, ape kabar adek abang ni ha ? " Tanya Izaz.
" Alhamdulillah sehat, abang dengan orang ayah, bunda sehat ke ?
" Alhamdulillah sehat kite orang semua kat sini. Bunda tu dah setengah mati rindu kat awak." Jujur Izaz apa adanya.
Mata Argapun mulai berkaca-kaca.
Bila mengingat perihal bundanya.
" Hm, Argapun same rindu sangat dekat bunda, bunda kat mane bang ? Tanyanya.
" Bunda dah tidur, esok abang call lagi.
Baru bincang kat bunda ye."
Arga tersenyum." Hm, tak pelah esok kalau abang lupa call Arga, biar Arga pula yang call abang. Sekalian nak bincang dekat ayah juga.
Ah iye bang, ayah tak bezypun minggu nikan ?
Kalau bezy, takut ganggu pula."
Izaz menggeleng." Tak, ayah bezy sikit je.
Ngurus pasal Terengganu."
Arga mengerutkan keningnya, penasaran dengan perkataan Izaz." Pasal Terengganu ?
Ada ape hal bang, kat sane ?
" Biasalah, problem kecik je.
Ada pengacau kat sane semalam."
Arga pun berpikir ini pasti ulah Andrea, si lelaki pengacau.
Arga mengeraskan rahangnya, merasa kesal dengan Andrea.
" Ini pasti ulah kau kan Lelaki pengacau.
Lihat aja entar, kalau gua dah pulang ke Malay. Mencium udara segar saja kau takkan ku izinkan." Batin Arga.
Izaz yang didiamkan Arga beberapa detik merasa heran." Woy Ga, dah tidur ke ape ? Senyap je." Tegur Izaz membuat Arga tersadar.
" Ah, tak bang.
Arga tengah pikir tadi, macam mane ye ? Boleh pengacau tu kat Terengganu."
" Hm, *itu jugalah yang buat abang risau.
Kalau die kacau dekat Istana tak pe.
Ini pula, kacau warga. Amboy dahlah bikin geram je..
Tapi Arga tak payah pikirlah, semua dah selesaipun. Warga tu memang patut angkat jempol kat mereka. Berani pula lawan pengacau tu. Salut abang tengoknya*." Ya, benar akhir-akhir ini warga memang berani melawan mereka.
Sebab, Arga pun selalu kasih dorongan pada mereka. Supaya tak takut dengan para pengacau itu.
" Wah, alhamdulilah kalau macam tu bang.
Senang Arga dengarnye." Kata Arga dengan senyuman, meski ia sudah terlebih dahulu tau kejadian disana, lewat kenalan dekatnya.
" Alhamdulillah, dahlah dah malam sangat ni,
abang tutup ye, jangan tidur lambat sangat ingat tau.Titip salam kat Hana dan Ranti ye." Ujar Izaz yang melirik jam dinding di tembok kamarnya.
" Hehe siap laksanakan komandan.
Nanti Arga sampaikan kat mereka, assalamu'alaikum abang saye yang handsome." Tutup Arga dengan manis.
" Amboy, waalaikumussalam adek manis."
Balas Izaz seraya menutup panggilan.
Ya, meski mereka memiliki karakter yang berbeda, tapi mereka selalu bisa saling melengkapi perbedaan tersebut.
Walaupun, untuk urusan cinta Izaz selalu kalah. Sebab, keduanya selalu saja mencintai gadis yang sama.
Tak membuat Izaz membenci apalagi dendam pada Arga adiknya.
Izaz itu sangat lapang dalam hal mengikhlaskan, tak pernah menuntut apapun soal hati.
Sebab dia yakin, bahwa Allah pasti datangkan sosok perempuan yang memang benar-benar di peruntukan untuknya.
Argapun merebahkan tubuhnya di kasur Rahmet. Masih terngiang-ngiang perkataan Ranti mengenai cinta tulus yang di sampaikan kepadanya.
" Apa yang Ranti omongin emang bener.
Kalau emang perasaan ku ini dari Allah, ia gak bakal buat aku gelisah, merasakan sakit berulang-ulang kali. Dan justru cinta ini bakalan buat aku selalu ingin dekat dengan Allah. Semakin bertaqwa, iman tidak pasang surut.
__ADS_1
Aku gak mau cinta ini, nafsu belaka saja.
Aku akan usaha membuktikan bahwa cinta ku terhadap Allah lebih besar dari pada cintaku terhadap sesama manusia." Ungkap Arga menyakinkan hatinya.
Seusai bergelud dengan pikirannya, Arga memutuskan mendengar murattal dengan menggunakan earphone kepunyaannya.
Berselang untuk memurajah hafalannya.
Sementara Ranti tengah sibuk dengan gamenya. Dan Hana memilih keluar rumah
untuk menatap langit malam.
" Indah." Ucap Hana memandang awan malam.
" Di Canada kalau gini malam atau siang ya ?
Mengingat sosok Anugrah.
" Astaghfirullah, Hana kamu gak boleh gini terus. Biarin Anugrah pergi dari ingatan kamu sejauh seperti dia pergi ke Canada." Hana mulai menyadari bahwa apa yang tengah dia rasakan saat ini salah.
" Entahlah, aku tidak mengerti perasaan ku saat ini berlabuh pada siapa.
Kalau dengan Anugrah, jujur aku belum bisa sepenuhnya ngilangin perasaan ini.
Dan dengan Arga aku juga mulai merasa nyaman dengan nya. Entahlah jantungku juga berpacu dengan cepat kala dia tengah mengeluarkan sikap hangatnya..
Ya Allah, Engkau sang Maha cinta.
Yang membolak-balikkan hati setiap hambaMu.
Hamba mohon jangan biarkan hamba terjerat dengan cinta yang salah.
Cukup kepada Mu lah cinta hamba yang paling besar bukan kepada hambaMu." Hana melontarkan permohonan itu dengan sepenuh hatinya.
Angin malam yang berhembus sepoian, membuat udara malam semakin dingin.
Hana yang masih berada di luar merasakan dinginnya malam, membuatnya mendekap tubuhnya dengan kedua tangannya.
" Hm, kalau udara dingin gini mah enak.
Coba kalau Arga yang dingin beh, makan hati yang ada hehe." Kata Hana mengingat sikap kutub Arga yang suka berubah setiap waktu.
Cukup lama Hana berada di luar, membuatnya sudah tidak tahan dengan dinginnya malam, Hana pun melangkah masuk ke rumah.
Dan menuju kamarnya, merebahkan tubuhnya pada kasur empuknya yang sudah di tiduri Ranti terlebih dahulu.
Hana pun ikut terlelap di sebelah Ranti.
...🍂🍂🍂...
Pagi kali tampak begitu cerah.
Matahari bersemu terang memancarkan pesonanya.
Burung-burung pun ikut menari di cakrawala.
Seraya bersiul bersama.
Seusai sarapan bersama.
Tak ada kegiatan berat yang mereka lakukan di pagi ini. Hanya sekedar bersih-bersih pekarangan.
Seperti mencabut rumput, menyapu dan mengurus bunga-bunga yang ada.
Aywafikum minnina.... Tiba-tiba saja dering handphone Hana berbunyi.
" Siapa ya ? Pikir Hana.
Hanapun menyuci tangannya.
Kemudian merogoh kantungnya, meraih Handphonenya.
Dan terteralah ada panggilan masuk dari nomor baru.
" Siapa yang telpon Han ? Tanya Ranti.
Hana memilih tidak mengangkatnya.
" Pagi-pagi buta udah ganggu orang aja." Protes Hana.
Aywafikum minnina... handphone Hana berdering kembali.
" Ih, ini siapa sih ? Reseh banget." Kesal Hana.
Ranti menggeleng tidak mengerti dengan sepupunya." Ya elah, gimana mau tau kalau kamunya aja gak ngangkat ! Cepetan coba angkat dulu. Siapa tau penting." Saran Ranti padanya.
Arga yang melihat handphonen Hana di panggil seperti itu.
Juga ikut berpikir." Siapa ya yang nelpon Hana ?
Akhirnya, Hana pun mengikuti saran Ranti.
Menggeser tombol hijau di layar handphonenya.
" Assalamu'alaikum, maaf ini dengan siapa ya ? Tanya Hana.
" Siapa ya ? Ujar Pria itu di sebrang telpon.
Ya, suara bariton khas yang dia miliki.
Membuat Hana bisa menebak siapa dirinya.
" Anugrah." Ya, siapa lagi kalau bukan Anugrah.
Membuat Arga tersentak kaget mendengarnya.
" Hehe, apa kabar ? Tanyanya.
" Eehh, alhamdulilah baik, kamu ?
" Aku gak tau deh dibilang baik juga gak, dibilang buruk juga gak hehe." Tawa Anugrah yang tidak mengerti dengan keadaannya.
Hana menggeleng." Pasti baik kok, kamu aja yang terlalu memikirkan yang gak penting."
Anugrah tersenyum." Siapa bilang gak penting ? Penting banget malahan." Protesnya.
Hana mengerut tidak mengerti." Penting banget ?
" Iya, kan mikirin kamu masa depan aku." Jujur Anugrah padanya.
Membuat Hana tersenyum simpul, ya debaran di hati Hana masih saja timbul namun, tak sekencang dulu.
" Anugrah ! Please omongin yang urgent !!
Pinta Hana padanya.
Anugrah tertawa di sebrang telpon.
" Iyaiya, aku mau bilang ni.
Kalau aku nitipin rindu ke kamu lewat Surah Yusuf ayat 4." Perkataan Anugrah membuat Hana melotot sempurna.
" Surah Yusuf ayat 4 ? Kamu udah baca kisah Nabi Yusuf ?
" Udah, ah iya tapi kayaknya gak mungkin deh.
Soalnya kan aku bukan seorang yang halal untuk kamu. Jadi gak bisa deh nitipin rindu Lewat Surah Yusuf." Lagi-lagi Hana dibuat tercengang dengan ucapan Anugrah.
Hana berpikir sesuatu bukannya Anugrah tinggal di Canada asrama ya ?
Gimana caranya dia bisa belajar kisah Nabi Yusuf.
" Kamu lagi dimana ? Tanya Hana.
" Lagi di gereja." Jujurnya pada Hana.
__ADS_1
Hana tersentak kaget, mendengar jawaban Anugrah. Bisa-bisanya pria ini ngomongin kisah Islami di gereja.
" Astaghfirullah, terus kenapa kamu bahas kisah islami ? Entar ada yang dengar gimana ? Kata Hana dengan nada sedikit panik.
Anugrah terkekeh kecil.
" He-he-he, gak bakalan deh.
Ah iya, aku jadi suka ni sama kisah cinta Nabi Yusuf dengan Zulaikha." Tuturnya pada Hana.
" Bagaimana dengan kisah cinta Abdul Ash dengan Zainab binti Muhammad ? Spontan Hana menanyakan hal ini.
" Itu tetap yang terfavorit, karenakan the real life akulah Abdul Ash di masa sekarang."
Anugrah menjeda beberapa detik ucapannya.
Menarik nafasnya, kemudian menghembuskannya perlahan.
Arga yang mendengar pembicaraan mereka via telepon itu, memilih pergi masuk ke rumah Hana.
" Meski aku tak seberuntung Abdul Ash yang memiliki Zainab di sisinya." Lanjut Anugrah yang berhasil mencolos hati Hana.
Seketika mata Hana mulai berkaca-kaca, bibirnya terkatup. Ingin berbicara namun, semuanya tercekat di tenggorokan.
Keheningan beberapa detik menghigapi mereka.Kemudian dengan susah payah Hana merilekskan dirinya. Dan mencoba kembali berbicara.
" Maaf, aku bukan orang yang tepat untuk menjadi Zainab binti Muhammad mu." Ungkap Hana dengan senyum pilunya.
Anugrah tersenyum hampa." Ini keempat kalinya, kamu menolaknya Han..
Sudahlah, jangan membuat aku seolah-olah memaksamu menjadi Zainabku hehe.." Ucap Anugrah berusaha tegar.
Hana tau benar, bahwa Anugrah sangat menginginkan dirinya menjadi Zainab untuk Anugrah.
Namun, sayang hati kecil Hana menolak akan hal itu. Ada alasan tertentu yang ia pegang teguh.
" Sekali lagi maaf, Grah."
" Gak perlu minta maaf, kamu tau Han ?
Meski aku tak seberuntung Abdul Ash.
Aku juga beruntung kok punya pelangi."
Hana tak mengerti maksud perkataan Anugrah. " Pelangi ?
Anugrah mengangguk." Ya, pelangi itu kamu.
Lebih tepatnya Pelangi Hanani." Ujarnya di sebrang telpon.
Anugrah lagi berhasil membuat detak jantung Hana berdegub tak karuan. Senyum simpul terbit di wajah Hana.
" Sudah dapat pengganti ku disana ? Tanya Hana padanya.
Arga tersenyum hampa." Sudah ku bilang Han, aku bahkan ragu jikalau ada perempuan yang mampu menggeser posisi mu di hatiku."
Jujur Anugrah padanya.
" Cobalah dulu, bagaimana bisa kalau kamu belum mencoba berusaha."
" Hm entahlah, ahiya Han soal rindu tadi aku titipkan di surah Al Anbiya ya ayat delapan sembilan. Soalnya di antara kita belum ada ikatan pernikahan.
.
.
" Excuse me." Ucap seseorang yang tiba-tiba berada di belakang Anugrah.
Anugrah pun menoleh, dan benar saja ternyata orang itu adalah guru Psikolog di sekolahnya.
" Han, udah dulu ya.
Jangan lupa di baca surahnya, bye." Tutup Anugrah.
Hana yang merasa terjadi sesuatu pada Anugrah pun merasa sedikit cemas.
" Iyaaa.."
" Anugrah kenapa ya ?
Keknya tadi ada suara perempuan, apa dia ketahuan sama gurunya." Benak Hana.
Back to Anugrah..
" Who allow you use phone ? Tanyanya pada Anugrah.
( Siapa yang mengizinkan mu menggunakan handphone ).
Arga menelan salivanya, merasa kaget ketahuan oleh gurunya.
" Sorry Miss, but its break time.
Any problem ? If using phone now ? Tanya Anugrah kembali.
( Maaf Bu, tapi ini jam istirahat.
Apa ada masalah ? jika menggunakan handphone sekarang ? )
Guru Psikolog itu pun terdiam, dan membenarkan bahwa tidak ada masalah menggunakan handphone di jam istirahat.
Ia pun, berlalu meninggalkan Anugrah.
Namun, Anugrah penasaran dengan sosok guru Psikolog yang terkenal killer itu.
Anugrah mengikuti langkahnya.
" Excuse me Miss." Teriak Anugrah yang tidak di gubris oleh guru Psikolognya.
" Please listen to me Miss !!
Please look at me Miss !! Teriak Arga padanya sembari tetap mengejarnya.
.
.
Di Indonesia..
Sosok Arga kini menatap keluar jendela, sembari mendudukkan punggungnya di kursi yang terbuat dari rotan.
Senyumnya tetap mengembang, meski luka lagi-lagi mendarat di hatinya.
Baru kali ini, dia mengalami cinta serumit ini.
Ini untuk kali keduanya hatinya terjatuh.
Tapi ini untuk kali pertamanya juga cinta keduanya membuatnya sepiluh ini.
" Mungkin memang benar kalau masa dulu kisah Abu Darda dengan Abdul Ash berbeda zaman bahkan berbeda cerita.
Tapi sekarang ada kisah yang seperti kisah Abu Darda yang bersaing dengan kisah yang seperti kisah Abdul Ash.
Dan ya, ternyata kisah yang seperti kisah Abu Darda yang kalah oleh kisah yang seperti kisah Abdul Ash.." Ujarnya pada langit yang membisu itu.
" Ya, Abu Dardanya adalah aku.
Dan Abdul Ashnya adalah Anugrah.
Aku kalah dari Anugrah.." Ucap Arga dengan lirih yang mulai menyerah dengan perasaannya.
Bersambung...
Sevimli 25 Januari 2021
Dalam hangat dari Author 🌹
__ADS_1
Jangan lupa like and Votenya ya :)