Pelangi Hanani

Pelangi Hanani
Part 80 Fitnah pada Arga


__ADS_3

" Penyesalan memang kerap kali datangnya belakangan, namun akan lebih buruk jika penyesalan itu tidak dijadikan sebagai cambuk untuk kita memperbaiki segalanya."


......" Pelangi Hanani 🌹"......


Keesokan harinya, Andrea mengajak Arga bertemu di sebuah Caffe yang tidak dekat dengan Istana.


Ia juga tak lupa membawa Robert dan Abriz menemaninya.


Tujuannya ingin bertemu dengan Arga tidak lain dan tidak bukan untuk meminta maaf sekaligus akan ikut membantu Arga menghancurkan semua recana busuk si pengkhianat itu.


Aywafikum minnina.... Ponsel Arga berbunyi.


Terterah ada nomor baru yang sedang menghubunginya.


Arga mengangkat panggilan." Hallo, ini dengan siapa ya ? Tanya Arga.


" Gua Andrea."


" Ngapain Lo hubungin gua ? Tanya Arga degan nada kutubnya.


" Gua mau ngajak Lo ketemuan di Caffe dream high, gua mau omongin masalah penting."


Arga mengerutkan keningnya, merasa heran dengan ajakan Andrea.


" Waktu gua terlalu terbuang sia-sia buat ketemuan sama lo !! To the poin lewat sini aja, lo mau ngomongin apa ?


Haahhh..Andrea mencoba menahan emosinya dari pria sombong yang tengah mengobrol dengannya.


" Gua udah tau semua kelicikan pejabat pengkhianat itu. Makanya gua ngajakin lo ketemuan, buat bantuin lo gagalin rencana si brengsek itu." Jelas Andrea dengan sedikit bentakan.


Hahaha... Terdengar suara tawa Arga.


" Dari kemarin kemana aja Lo ?


And last sorry, gua gak butuh bantuan Lo..


Gua bisa menyelesaikan semuanya sendiri." Tolak Arga mentah-mentah.


Andrea mengerang keras rahangnya, menyikapi keangkuhan seorang Arga memang tak pernah ada habisnya.


" Lo keturunan iblis kali ya, songong banget jadi makhluk. Gua tau ilmu bela diri lo terlampau tinggi. Tapi bisa gak sih keangkuhan lo minggirin dikit !! Lo gak bakalan bisa nyelesaikan permasalahan besar ini sendiri." Tegas Andrea pada Arga.


Sejenak Arga terdiam dan mulutnya terkatup, matanya tak berkedip sedetikpun.


Merasa sedikit banyaknya, perkataan Andrea memang benar.


Bahkan Sultan Muhammad Al Fatih yang kuat saja masih membutuhkan pasukan untuk membantunya.


" Baiklah, sepuluh menit lagi gua nyamperin Lo disana." Arga menuruti permintaan Andrea, dan menutup panggilan dari Andrea.


Dengan cepat Arga menyambar jaket hitamnya, kemudian meraih kunci motornya.


Arga keluar dari Istana, melewati beberapa pejabat disana yang sedang mengobrol di Taman Istana.


Mereka menatap sinis bahkan tajam ke arah Arga.


Meski demikian, Arga tetap melemparkan senyuman kepada mereka.


Arga mempercepat langkahnya, tak menghiraukan tatapan tajam yang tertuju ke arahnya.


Biarlah mereka seperti itu, sebab mereka tidak tau kebenaran ya.


Sesampai di garasi. Argapun meraih motornya dan selanjutnya melajukannya.


Setelah sepuluh menit berlalu, Arga tepat waktu tiba di Caffe.


Matanya tengah mencari-cari sosok Andrea yang mengajaknya bertemu.


Andrea yang melihat Arga melambaikan tangan ke atas, untuk memberitau Arga bahwa mereka di sebelah sudut kanan Caffe.


Ya, agar mereka lebih leluasa membahas hal penting dan terhindar dari orang-orang.


" Ga." Panggil Andrea.


Argapun menoleh, dan segera menghampiri Andrea.


Pastinya Andrea di temani Robert ayahnya dan juga Abriz.


" Pakci." Kata Arga yang melihat keberadaan Abriz.


Argapun menarik kursinya untuk ikut bergabung.


" Lo cuma punya waktu lima belas menit." Ketus Arga pada Andrea.


Andrea menatap tajam Arga." Gua udah tau semuanya. Mulai dari permasalahan bokap gua sampai permasalahan keluarga Jihan.."


" Bagus deh kalau Lo udah tau."


" Gua sama bokap gua minta maaf ke Lo plus terutama bokap Lo." Kata Andrea dengan tulus.


Arga memandang Andrea curiga.


" Lo gak lagi bersandiwarakan ?


Lagi dan lagi Arga masih belum percaya pada Andrea." Gua gak punya waktu buat beradu akting depan Lo. Gak ada untungnya sama gua."


" Kali aja Lo sama pengkhianat itu lagi rencanin sesuatu." Cibir Arga.


Andrea sedikit emosi dengan respon Arga, tanpa sadar mengepalkan tangannya.


Berniat melayangkannya pukulan pada Arga.


Namun, dengan cepat sang ayah menghentikannya. " Lo." Teriak Andrea, dengan kepalan tangan yang hampir mengenai wajah Arga.


" Andrea berhenti !! Tahan emosimu nak." Robert menurunkan tangan Andrea dari hadapan Arga.


Dengan terpaksa Andreapun mendengarkan ayahnya.


Arga hanya tersenyum kecut memandang anak dan ayah dihadapannya ini.


" Nak Arga." Panggil Robert mulai mendekati Arga.


Tanpa merasa sungkan, Robert langsung berlutut di hadapan Arga.


Atas semua penyesalan yang telah ia perbuat selama tiga tahun ini.


" Ayah jangan lakukan itu." Titah Andrea pada ayahnya.


Dengan penuh linangan air mata yang mendasari hatinya, Robert menangkupkan kedua tangannya di hadapan Arga.


Ia tau harus bagaimana menebus segala kesalahan yang ia perbuat pada Nazhanul dan keluarga Istana.


" Nak, beritau Uncle bagaimana harus menebus segala dosa yang telah ku perbuat nak ?


Apapun itu nak akan kulakukan nak." Ucap Robert dengan lirih.


" Ayah jangan lakukan ini !! Berdirilah yah." Andrea mencoba membuat ayahnya bangkit dari berlurutnya.


Arga menatap intens Robert, merasa kali ini Robert memang benar-benar menyesali perbuatannya. Dan tulus untuk meminta maaf.


Dapat dilihat dari sorot matanya, ya cairan hangat tak berhentinya terjatuh.


Bahkan tundukkannya di hadapan Arga juga bukan seperti sandiwara.


" Uncle Robert sepertinya benar-benar menyesali perbuatannya. Apa benar mereka sedang tidak bersandiwara." Tanda tanya timbul dalam benak Arga.


Argapun meraih kedua tangan Robert.


" Uncle berdirilah." Ujarnya.


Arga menarik sudut bibirnya membentuk lengkungan bulan sabit.


" Arga paham semua yang Unlce lakukan bukanlah sebuah kesengajaan." Arga menggenggam kedua tangan Robert.


" Yang terbaik saat ini, perlahan Allah telah membukakan jalan pintu kebenaran untuk bergema.


Penyesalan memang kerap kali datangnya belakangan. Namun, akan lebih buruk lagi jika penyesalan itu tidak menjadi cambuk untuk kita memperbaiki segalanya."


Robert tersenyum haru mendengar perkataan Arga.


Melihat Arga membuatnya teringat pada sosok Nazhanul, sahabat yang telah ia khianati.


Hanya karena kesalahpahaman.


Kebijaksanaan Arga, kebaikannya, paras rupawannya bahkan keahlian bela dirinya tak beda jauh dari sosok Nazhanul.


Jika Arga seumuran dengan Nazhanul, maka pantaslah mereka disandingkan sebagai anak kembar.

__ADS_1


Robert menepuk pundak Arga.


" Nak, Nazhanul memang layak mempunyai putra sehebat dirimu nak..


Kau dengan sahabatku itu tidak ada bedanya."


" Sahabat ? Tanya Arga dengan nada sedikit mencibir.


Andrea menatap tajam Arga.


Bisa-bisanya dia masih membahas hal itu.


Robert tertunduk mengingat bahwa dirinya pernah mengatakan bahwa Nazhanul adalah musuhnya.


" Apa aku tidak pantas dimaafkan oleh ayahmu Nak ? Masih dengan tatapan menunduknya Robert.


Arga menggeleng." Ah come onlah uncle.


Aku hanya bercanda hehe."


Robert mengangkat kepalanya, menoleh Arga.


" Hm, temani Uncle untuk bertemu ayahmu nak, bolehkan ? Pinta Robert.


Arga mengangguk." Boleh dong."


Andrea ikut tersenyum menatap Arga.


Merasa apa yang dilakukan ayahnya benar.


Bahwa Arga memang pemuda yang baik hati.


Jarang sekali pemuda sebijaksana Arga, benaknya.


" Elo ngapain ngelihatin gua ? Ketus Arga.


Iri Lo ngelihat wajah gua yang tampan high class ini." Jangan lupa cara bicara angkuhnya sosok Arga Nazhanul Hakim.


Membuat Andrea memalingkan tatapannya.


" CIH NAJIS !! Andrea bergedik kesal.


Pede banget Lo, muka pasaran gitu aja Lo banggain." Cercah Andrea tak mau kalah.


" Yakin Lo ha ?


Andrea hanya memutar malas matanya.


Merasa eneg dengan pemuda angkuh dihadapannya.


Robert yang melihat putranya dan Argapun, geleng-geleng tak mengerti.


Tiap kali bertemu, pasti keduanya bertengkar.


" Sudah-sudah sekarang ayo kita duduk.


Kita pesan makanan biar kita makan dulu, setelah itu kita lanjutin obrolan membahas masalah rencana kedepannya." Robert mencoba menenangkan keduanya.


Andreapun mengalah, menuruti permintaan ayahnya.


Begitu juga Arga, merasa apa yang dikatakan Robert ada benarnya.


Arga menarik kursi sebelah kanan, ia ingin diposisi itu.


Disaat yang bersamaan ada sosok tangan yang lain, yang juga menarik kursi yang Arga tarik.


" Tangan gua yang luan narik." Kata Arga.


" Lo kan belum duduk, berarti bukan lo yang duluan." Tolak Andrea.


Arga tak mau kalah, begitu juga dengan Andrea.


Keduanya saling menarik bangku itu satu sama lain. Ya, seperti anak kecil yang memperbutkan mainan.


" Lepas ga tangan lo !!


Atau mau gua patahin." Ancam Arga.


Andrea hanya merespon ancaman Arga dengan ekspresi datar." Lo kira gua takut." Masih mempertahankan tangannya pada kursi.


Robert dan Abriz bingung melihat keduanya.


Dibilang dewasa, tingkahnya kayak anak kecil.


" Astaghfirullah.." Ucap Robert dan Abriz bersamaan.


" Kalian berdua ini seperti anak kecil saja.


Masih ada kursi yang lain yang bisa di duduki, kenapa mesti memperebutkan satu kursi ha ?


Kali ini Abriz yang angkat bicara.


Keduanya menatap tajam satu sama lain.


" Lo yang duduk disitu."


" Gua mau duduk di kursi ini." Tolak Andrea.


Abriz pun beranjak dari kursinya, dan meraih daun telinga keduanya. Dan memberikan imunisasi manual.


Kkkk...


" Aduh aduh, pakci sakit-sakit." Keluh Arga.


" Aduh, paman apaan sih sakit tau."


" Masih mau berantam juga ? Sini biar pakci tarik lagi telinganya sampai kebawah." Ancam Abriz pada mereka.


" Dia yang salah."


" Lo yang salah."


Oh Tuhan, mereka berdua masih saja bertengkar.


Ganteng sih, tapi sukanya tengkar kayak bocah cilik.


" Astaghfirullah, kalian ini usianya udah berapa sih ? Masih 6 tahun ya ? Pantesan kayak anak kecil yang ga tau apa-apa." Cibir Abriz.


" Cepetan kalian berdua saling minta maaf." Perintah Abriz pada keduanya.


Masih diposisi awal, keduanya enggan bergerak untuk melakukan hal yang diperintahkan oleh Abriz.


Abriz kesal melihat kedua bocah dihadapannya.


Tanpa aba-aba Abriz langsung meraih tangan keduanya, kemudian menyatukannya.


" Nah, sekarang ngomong maaf." Ujarnya pada keduanya.


Keduanya saling bergedik geli, seraya menatap tajam satu sama lain." Apaan sih paman."


Dengan cepat pula Arga menarik tangannya.


" Sorry ya, agama gua melarang buat nyentuh najis Mughallaza kayak Lo." Ketus Arga dengan angkuh.


" B*ANGSAT !! Upat Andrea yang geram pada Arga yang seenak jidatnya mengatakan Andrea najis Mughallaza wkwk.


Dengan tangan terkepal Andrea hendak melayangkan pukulan pada Arga.


Tapi tiba-tiba ada sosok pria yang seumuran ayah mereka datang menghampiri.


" Arga." Panggilnya.


Sentak Arga menoleh ke sosok yang memanggil namanya.


Begitu juga Robert, Andrea dan Abriz.


" Ayah."


Ya, pria itu adalah Nazhanul yang datang bersama pejabat kebanggaannya, ah lebih tepatnya si pengkhianat Cumlaude.


Nazhanul menatap Arga dengan penuh amarah, begitu juga ia menatap Robert, Andrea dan Abriz bergantian.


Dengan cepat Arga menghampiri ayahnya.


Ia takut situasi ini membuat ayahnya bertambah salah paham padanya.


" Ayah." Kata Arga hendak meraih tangan Nazhanul. Namun, dengan cepat Nazh menepis tangan Arga.

__ADS_1


Arga tersentak kaget pada ayahnya.


" Ayah biar Arga jelasin.


Ini bukan seperti yang ayah lihat." Arga mencoba menyakinkan Nazhanul.


Namun, bukannya memberikan Arga kesempatan. Ia mala justru menghampiri Robert.


Pukk...


Pukk.. Nazhanul bertepuk tangan pada Robert.


" Selamat Robert, kau telah berhasil membuat putraku berkhianat padaku." Ucapnya dengan nada sedikit meninggi.


" Nazh dengarkan aku !! Robert mencoba menjelaskan semuanya.


HAHAHA....


" Kau ingin jelaskan padaku bahwa kau menang dariku ? Karena telah memperbudak putraku untuk balas dendam begitu ?


Kau ingin buktikan bahwa kau lebih pintar dariku, karena telah membuat persengkokolan sebesar ini."


Ucapan Nazhanul membuat orang-orang yang berada di Caffe sepontan menghentikan aktivitas makannya.


Pandangan para pengunjung Caffe kini terfokus pada Raja mereka yang baru kali ini menginjakkan kaki di Caffe ini.


Itupun bukan untuk menikmati Caffe, melainkan memergoki putranya.


" Eh itukan Raja Nazhanul." Ujar mereka.


" Eh iya benar, tapi ada apa ya.


Kok ribut-ribut gitu sih." Sahut yang lainnya.


Arga mendekati ayahnya.


Dan menangkupkan kedua tangannya.


" Ayah !! Percayalah ini semua fitnah ayah.


Dengarkan Arga ayah." Mohon Arga pada Nazhanul.


Mata Nazhanul mulai memerah, buliran hangat mulai terbendung disana.


Ia menatap senduh putranya.


Kecewa sekaligus marah melihat sosok putra yang ia besarkan bisa berkhianat seperti ini padanya, benaknya.


Arga berlutut dihadapan Nazhanul, masih menangkupkan kedua tangannya.


" Yah, apa hati ayah juga berkata bahwa Arga pengkhianat ? Tanyanya lirih.


Nazhanul terdiam, sebab hatinya yakin bahwa putranya bukanlah pengkhianat.


Namun, bukti-bukti yang ada menguak pada kenyataan bahwa putranya Arga telah berkhianat padanya.


Kesesakan mulai menghampiri keduanya.


Sama-sama tersakiti.


Sama-sama merasakan keperihan yang sama.


Nazhanul ikut terduduk lemah dihadapan Arga.


" Apa salah ayah padamu ?


Sehingga kau sanggup melakukan ini pada ayahmu nak." Air mata Nazhanul tertumpah ruah begitu saja.


Arga menggeleng." Ayah Arga gak melakukan pengkhianatan ini yah. Percayalah semuanya hanya fitnah yah." Protes Arga.


" Apa karena ayah telah berlaku tidak adil padamu selama hampir 3 tahun belakangan ini ? Tidak menganggapmu ? Tidak menghargaimu ? Menghinamu ? Mencemoohkanmu ? Hikss....Hikss....


Jawab Arga !! Bentak Nazhanul seraya mencengkram pundak Arga.


Robert, dan Abriz mendekati mereka berdua. Mencoba menjelaskan semuanya,


mereka tak ingin Nazhanul percaya pada kebohongan yang sedang dipermainkan si pengkhianat itu.


Berbeda halnya dengan Andrea, ia justru menghampiri pejabat itu.


" Selamat rencanamu telah berhasil." Sindir Andrea.


Membuat pejabat itu tersenyum masam padanya." Sudah kukatakan jangan pernah main-main denganku !!


HAHAHA...


" Pasti kau bahagiakan ?


" Tentu saja."


Andrea sudah sangat muak melihat sosok pengkhianat ini.


Bukhhh.. Andrea menerjunkan pukulannya tepat di wajah pengkhianat ini.


" Kau." Teriak Pejabat tak terima dengan pukulan Andrea.


" Aku berharap semoga segala kejahatan yang kau buat balasannya akan terimbas pada putra atau putrimu kedepannya." Sergah Andrea.


Detik selanjutnya, Andrea menarik kasar tangan pengkhianat itu. Dan menyeretnya kehadapan Nazhanul Hakim.


" Lepaskan tanganku bocah kurang ajar !! Mencoba melepaskan diri dari Andrea.


" DIAM KAU !! Bentak Andrea yang sudah diselimuti emosi.


Sesampai di hadapan Nazhanul, Andreapun mendorong kasar pengkhianat itu.


Bukhh... Pengkhianat itu terpental di tanah.


Arga, Abriz, Nazhanul,dan Robert sentak kaget melihatnya tergeletak di tanah.


" Untuk tuan Nazh yang terhormat !!


DENGARKAN SAYA BAIK-BAIK.


ADA HAL YANG HARUS ANDA KETAHUI, BAHWA PENGKHIANAT SESUNGGUHNYA BUKANLAH PUTRA ANDA, MELAINKAN DIA PEJABAT YANG ANDA BANGGA-BANGGAKAN !! Tunjuk Andrea kearah pejabat itu.


Nazhanul terkejut dengan perkataan yang Andrea lontarkan.


Bagaimana mungkin ?


Pejabat yang selalu setia menemaninya di keadaan apapun, baik dulu dan sekarang.


Adalah orang yang mengkhianatinya.


Bahkan Nazhanul pernah diselamatkan olehnya.


Nazhanul berdiri dari duduknya.


Kemudian mendekati Andrea, menatap Andrea dengan tatapan penuh tanda tanya.


" Atas dasar apa kau berani mengatakan


bahwa dia berkhianat padaku ? Tanya Andrea.


Hahaha... Andrea tertawa renyah.


" JAWAB PERTANYAANKU !! Bentak Nazhanul dengan tatapan elangnya.


" Hebat sekali !!


Kalau untuk BAJINGAN ini hatimu masih ragu !!


Tapi untuk putramu sendiri kau dengan lantang menancapkan pada lisanmu bahwa dia pengkhianat !!


" KAU MEMANG AYAH BRENGSEK !! Ketus Andrea.


Deg... Perkataan Andrea seolah-olah seperti belatih tajam yang mencabik-cabik hatinya.


Bersambung......


Sevimli 7 Maret 2021


Salam hangat dari Author 🌹


Jangan lupa like and Votenya ya :)


Plus follow Ig Author ya untuk yang bersudi hati wkwk

__ADS_1


@andinidalimunthe__


__ADS_2