
Aku minta maaf yang sebesar-besarnya kepada para pembaca cerita Pelangi Hanani, karena udah lama banget ga update 🙏🏻
....." Pelangi Hanani 🌹"...
Seusai berbincang dengan bi Lasmi, mereka pun masuk ke Ruangan bawah tanah.
"Hana!" panggil Arga, melihat sosok Hana berdiri memandangi buku yang berada di genggamannya.
Suara itu terdengar tak asing di telinga Hana.
Ia lekas menoleh untuk melihat sosok yang memanggilnya.
"Arga!" ternyata benar, suara itu dari pria yang memiliki hatinya.
"Assalamu'alaikum, Hana!" sapa Rayhan.
"Rayhan! Waalaikumussalam." jawab Hana.
Arga dan Rayhan tersenyum sembari melangkah mendekati Hana. Berbeda dengan Hana yang masih terdiam menatap dua pria yang tiba-tiba saja hadir di depan matanya.
"Assalamu'alaikum." ucap Arga.
"Wa-alaikumussalam." jawab Hana terbata.
"Apa kabar?" tanya Arga, berhasil memunculkan degupan pada jantung Hana.
"Aaa--al-hamdulillah, baik.
Kamu kok bisa sampai disini?" tanya Hana penasaran.
"Mau cerita singkat atau panjang?" Arga mengembangkan senyumnya.
"Serius Arga!" kata Hana.
Mendengarkan dan melihat raut kesal di wajah Hana, semakin membuat Arga mengembangkan senyumnya, namun senyumnya seketika luntur saat mengingat sesuatu.
"Seharusnya aku yang tanya, Han.
Kenapa kau nyembunyiin hal sebesar ini?
Kau merasa jagoan? Paling kuat?" Arga menatap tajam Hana.
"Aku tidak ingin merepotkan siapapun!" tukas Hana.
"Justru jika kau menyembunyikannya, kau akan semakin merepotkan orang lain." cibir Arga.
Hana tersenyum kecil mendapatkan cibir dari mulut pedas Arga. Ia setuju dengan Arga, memang benar dirinya selalu saja menyembunyikan hal besar dari orang lain. Bahkan kerap kali mengorbankan dirinya.
"Ga!
Ada sesuatu hal yang membuatku tak bisa menceritakannya." ungkap Hana.
"Apa?" bukan Arga yang bertanya, melainkan Rayhan.
"Aku tidak ingin melibatkan banyak orang, sebab aku takut semuanya akan semakin kacau." jawab Hana berterus terang.
"Sekarang bukannya sudah kacau?" Arga melirik Hana dengan tajam."Sekarang waktu yang tepat untuk kita pergi dari sini." instruksi Arga.
"Tidak bisa!" tolak Hana, menggeleng kepalanya.
Kening Arga dan Rayhan serentak berkerut, bingung dengan tolakan Hana.
"Apa tempat ini membuatmu nyaman?" tanya Arga.
Hana menggeleng."Bukan itu, tapi--
"Tapi apa?" Arga semakin mendekat pada Hana.
"Kita harus bebaskan temanku dulu." kata Hana.
"Teman? Gadis pel*cur itu?" tebak Arga.
"Berhenti menyebutnya pel*cur!
Dia bukan wanita seperti itu!" protes Hana, tidak terima Hisya dilebeli pel*cur.
"Terserahlah!
Kenapa kita harus membebaskannya?
Apa yang terjadi dengannya?" tanya Arga.
"Iya, Han." sahut Rayhan yang juga penasaran.
Hana menarik nafasnya sejenak, kemudian membuangnya untuk merilekskan dirinya.
"Han! panggil Arga.
"Dia berada di penjara." beberapa detik Hana menjeda ucapannya. Pedih bila mengingat kejadian yang menimpa Hisya.
Air mata Hana mulai menetes satu demi satu.
Arga dan Rayhan semakin penasaran melihat Hana yang menitihkan air mata.
"Apa yang terjadi? Sampai dia harus berada di jeruji besi." tanya Arga.
Hana tak dapat lagi menutupi apapun, ia pun menceritakan semuanya.
"Hisya bukanlah wanita murahan yang haus akan harta. Dia terjebak di antara rumitnya kehidupan.
Beberapa tahun lalu, ada sesuatu hal yang mengharuskan keluarganya kehilangan pekerjaan bahkan juga kepercayaan banyak orang. Ayahnya difitnah secara keji, dan bukan hanya itu, mereka juga mengalami kecelakaan, menewaskan ayah, ibu dan juga 2 adiknya. Hanya tersisa Hisya seorang yang selamat. Dan kalian tau kecelakaan itu juga adalah sebuah rencana dari orang yang sama dengan yang memitnah ayah Hisya." Hana tersenyum tipis mengingat betapa bencinya Hisya pada orang itu.
Mendengar cerita Hana mengenai gadis bernama Hisya itu, mengingat Arga akan seseorang.
__ADS_1
"Jihan." satu nama lolos dari mulut Arga, berhasil mengundang perhatian Hana dan Rayhan.
"Jihan?" ulang Hana.
"Kisahnya hampir sama dengan kisah Jihan." sambung Rayhan perpendapat.
Arga terdiam sejenak, kenangan lama kembali berputar di kepalanya. Sosok gadis pertama yang bertahta di hatinya yang bahkan sangat sulit ia lupakan. Hana menatap Arga, ia mengerti bahwa pria itu sedang bertengkar dengan pikirannya.
"Arga!" panggil Rayhan, berhasil membuyarkan Arga.
"Jihan sudah meninggal, jadi mustahil itu Jihan." ucapnya.
Hana tau dari sorot mata Arga, menunjukkan bahwa Arga juga berharap Jihan masih hidup.
"Lanjutkan ceritamu!" ujar Arga.
Hana pun memalingkan wajahnya, dan kembali bercerita.
"Selepas kejadian kecelakaan itu, Hisya tinggal bersama pamannya. Hidupnya awalnya baik-baik saja, namun berbeda ketika pamannya sudah meninggal dunia." Hana lanjut bercerita mengenai Hisya.
Rayhan dan Arga tetap tenang mendengarkan cerita Hana mengenai gadis malang itu.
"Bibi dan sepupunya tak lagi merawatnya, bahkan bibinya tanpa bekas kasihan, bibinya menjual Hisya pada Emrin, manusia b*adab itu!" Hana paling benci dengan pria bernama Emrin itu.
"Hisya?" nama yang tidak asing bagi Arga.
Keningnya berkerut memikirkan nama Hisya.
"Dan sekarang, Hisya tengah di penjara karena menolongku dari keb*adaban Emrin." lanjut Hana.
"Maksudnya Emrin mau memperkosamu?" mata Arga menunjukkan amarah. Ia tak rela seseorang bertindak seperti itu padanya.
Hana mengangguk membenarkan perkataan Arga.
"Kenapa tidak para perempuan ini yang melayaninya?"
Jari telunjuk Arga mengarah pada para gadis PSK itu.
"Arga! teriak Hana.
Mereka bukan pelayan nafsu birahi baj*ngan itu!"
Hana tak terima.
"Bukankah mereka bekerja itu hal itu?" tanya Rayhan.
Hana menggeleng kepalanya, tidak setuju.
"Mereka melakukan semuanya dengan terpaksa.
Kau tau apa penyebabnya? Uang!" Hana tersenyum tipis.
"Masih banyak pekerjaan yang halal!" sanggah Arga.
"Kalian orang kaya! Hidup kalian terjamin!
Tidak akan pernah mengerti bagaimana kerasnya dunia ini! Kalian tidak pernah tau bagaimana sulitnya mencari pekerjaan di masa ini!" cibir Hana.
Arga dan Rayhan terdiam menatap Hana.
"Mereka hanya korban dari kekejaman dunia.
Para gadis malang yang orang tuanya memiliki hutang pada Emrin dipaksa untuk bekerja disini." ungkap Hana, ia menatap satu-persatu gadis itu, dengan linangan air mata.
"Bahkan ada yang menjadi tulang punggung keluarganya. Ya, terkadang kita tak pernah tau sedalam apa luka seseorang, sekeras apapun hidup seseorang, seberat apapun beban seseorang. Kita hanya melihat apa yang terlihat pada sampul depannya. Mereka wanita bermarwah bukan murah!"
Hana berjalan menghampiri gadis yang sedang menatapnya dengan senyuman. Bahkan sudut bibir Hana tertarik dengan sempurna membentuk senyuman.
"Terima kasih, kamu yang baik hati Han." ucap mereka, seraya memeluk Hana.
Arga dan Rayhan juga ikut tersenyum, sosok Hana lagi dan lagi mampu membuat mereka memahami hal baru.
"Kau memang gadis yang berbeda!" puji Arga.
Hana tersenyum ramah pada pria yang memujinya itu.
"So, dimana gadis bernama Hisya itu?" tanya Rayhan.
Hana melepaskan pelukannya, kembali menghadap Arga dan Rayhan.
"Di penjara Alexandria." jawab Hana.
"Antarkan kami kesana!" pinta Arga.
Hana pun mengangguk, dan lekas melangkahkan kakinya.
"Kita akan tuntaskan semuanya." ujar Arga dengan penuh tanggung jawab, Hana mengangguk percaya bahwa apapun yang terjadi Allah akan bantu mereka.
Tak mau membuang waktu, ketiga anak muda itu bergerak dengan gesit menuju lokasi tahanan kota Alexandria.
Bip.. Bip..
Ya, jangan heran dimana pun Arga berada, soal kendaraan sudah pasti tersedia.
"Mobil siapa?" gumam Hana pelan, namun masih terdengar ke telinga Arga.
"Argalah." sahut Rayhan.
"Hm,iya lupa. Ada sultan disini." ucap Hana, melirik Arga.
"Gua bukan sultan!" protes Arga.
"Terus apa? Kain kafan?" ketus Hana.
__ADS_1
Mata Arga melotot sempurna."Kain kafan pula!"
"Iyelah! Sombong sangat!"
Rayhan menggelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan kedua temannya itu. Meski memiliki rasa yang sama, tetap saja keduanya selalu bertengkar.
"Korang ni kan.
Kalau dah jumpe selalu nak tangkar je!
Boleh tak sekali je tak bertengkar?"
ucap Rayhan beraksen melayu.
Arga melirik Rayhan dengan singkat, kemudian beralih pada kaca yang memperlihatkan Hana di belakang.
"Hana tu punya pasal!"
"Ha? Saye? Awak tu yang punya pasal!" Hana tak terima.
"Awak!"
"Awak!"
Keduanya masih berdebat dengan perbincangan yang tak penting, membuat Rayhan merasa kesal.
"Dah dah! Kau berdua bisa diam tak?" teriak Rayhan.
Barulah mereka menghentikan perdebatan.
"Daripada kalian bertengkar gak jelas gini!
Mendingan kita mikirin cara gimana keluarin Hisya dengan cepat!" Rayhan mencoba membuat keduanya mengerti bahwa ini bukan waktu yang tepat untuk mereka bertengkar.
Hana dan Arga terdiam sejenak, membenarkan perkataan Rayhan bahwa ini bukan saatnya untuk bertengkar. Melainkan bekerja sama untuk menuntaskan masalah sebesar ini.
Arga kembali fokus menyetir mobilnya.
Hana sibuk dengan urusannya, begitu juga dengan Rayhan.
Sekitar lima menit kemudian, mereka pun sampai di tahanan Alexandria.
"Ini tempatnya?" tanya Arga, yang dijawab anggukan oleh Hana.
Arga pun mematikan mesin, dan keluar dari mobilnya dan disusul oleh Rayhan.
"Buruan keluar!" ketusnya pada Hana.
"Ish! sabarlah!" timpal Hana, seraya membuka pintu untuk keluar dari mobil.
"Amboy! Korang ni tak habis-habis." cibir Rayhan.
"Sebenarnya, moment kayak gini yang gua kengenin." batin Arga.
"Astaghfirullah, Hana stop please!" Hana mencoba menahan dirinya, untuk tidak melanjutkan pertengkaran ini.
Hana pun melangkahkan kakinya menuju ruang Kepolisian Alexandria. Melihat Hana melangkah, Arga dan Rayhan pun ikut menyusul.
"Jeruji besi tahanan 36." ujar Hana, ia segera menghampiri petugas yang piket untuk meminta izin mengunjungi tahanan.
Anehnya, tiba-tiba saja Arga merasakan degupan kencang pada jantungnya. Seolah tengah ada sesuatu yang menyesakkan dadanya.
"Kok gua jadi deg-degan gini?" gumam Arga.
"Kenapa, Ga?" sahut Rayhan.
"Ah, gak Ray. Gua penasaran aja sama ni gadis." kata Arga, jujur dari benaknya.
"Dari pada penasaran, buruan deh lo samperin." ucap Rayhan, seraya menepuk pundak Arga pelan.
Arga pun mengangguk, segera mempercepat langkahnya untuk menuntaskan rasa penasarannya.
"Hisya. Jihan Alhisya ?" benak Arga.
"Tapi, Jihan sudah meninggal." Arga tengah menerka-nerka siapa sebenarnya gadis itu.
Mereka pun sampai di tempat Hisya berada.
Tiga anak muda sedang berdiri tepat di hadapan Hisya.
"Hana!" panggil Hisya.
Hana tersenyum menyambut panggilan dari Hisya.
Petugas pun membuka jeruji besi, dan memanggil Hisya untuk diizinkan menghampiri tamunya.
"Tahanan 36, atas nama Hisya silahkan keluar!" instruksinya pada Hisya.
Hisya pun tersenyum diperbolehkan keluar untuk menghampiri tamunya.
"Hisya!" panggil Hana dengan girang.
"Hana." hal yang sama dilakukan Hisya.
Keduanya langsung menghamburkan diri untuk berpelukan. Tapi, tiba-tiba sosok Arga yang terlihat di mata Hisya membuatnya sentak terkejut.
"Kamu!"
Bersambung....
Sevimli 22 Februari 2022
Salam hangat dari Author 🌹
__ADS_1