
" Terlalu kejam rasanya jikalau, bapak menjadi alasan untukmu berhenti meraih impianmu."
....." Pelangi Hanani 🌹" ......
Sajak demi sajak, untaian doa demi doa Hana rapalkan ke langit. Berharap semuanya akan baik-baik saja.
Ini bukan pertama kalinya untuknya berpisah dengan keluarganya. Namun, entah kenapa kali ini rasanya jauh lebih berat, sakit bahkan sulit.
Tiga tahun yang lalu, ia juga pergi untuk pendidikan sekaligus untuk menuntaskan pertikaian di Malaysia.
Dan kini, ia juga harus pergi bahkan sejauh Mesir untuk pendidikan.
Hana tak pernah hentinya mensyukuri nikmat yang Allah berikan, nikmat yang begitu besar sampai tak dapat di kualifikasikan dengan apapun.
Bahkan ia tak penting memimpikan akan menginjak tanah para nabi, apalagi akan belajar disana.
Namun, atas izin Allah dua hari lagi ia akan pergi dan menginjakan kakinya di tanah Fir'aun bahkan untuk waktu yang lama.
Sudut bibirnya tertarik membentuk lengkungan senyuman. Netra coklat itu memandang langit biru yang cerah.
Manik matanya tak terlepas dari segala sudut kamarnya. Meja belajar sederhana, tempat tidur sederhananya, dan juga dinding-dinding kamar yang penuh dengan karyanya.
Membuatnya akan merindukan itu semuanya.
" Aku akan merindukan kalian." ucapnya.
Kini pandangan Hana tertuju pada laci lemari belajarnya, ada sesuatu yang tersimpan secara istimewa disana.
Hana beranjak, dan menghampiri meja belajarnya.
Kemudian membukanya dengan begitu lembut.
Ceklek..
Terlihatlah sebuah kotak berukuran minimalis disana.
Hana pun meraihnya, dengan senyuman yang mengembang. Ia pun beralih membukanya.
Sebuah gelang dari dengan ukiran tengah, yang bertuliskan nama Anugrah Pota Mendrofa.
" Senantiasa engkau segera memeluk Islam, Anugrah."
Setelah itu, Hana kembali menyimpan gelang itu ke kotaknya, kemudian menaruhnya kembali ke laci lemarinya.
Kini tangannya beralih menyentuh notebook ukuran sedang, yang berisikan catatan hariannya.
Hana tersenyum memandangnya, dan mengambil bolpointnya untuk menuliskan kembali catatan hariannya.
" Aku tak pernah menyangka, begini ternyata cara kerja takdir. Membawaku si gadis miskin ke tempat-tempat yang sebenarnya sangat sulit untuk kukunjungi.
Aku tak pernah berpikir sedetik pun, bahwa beginilah garis tanganku yang tercatat di Lauhul Mahfudz, hampir menyerah dengan kemiskinanku. Awalnya, keterbatasan biaya membuat rasa pesimisku lebih besar dari semangatku.
Namun kini, semua tertata dengan begitu rapi.
Bahkan ini jauh diluar ekspektasiku, pergi ke Malaysia bahkan tinggal selama tiga tahun disana.
Mungkin bagi orang lain pergi atau holiday adalah hal hal yang biaya disana. But, tidak untukku.
Menginjakkan kaki di negara itu adalah sebuah anugerah yang Allah berikan untukku. Oleh sebab itu, aku tak ingin menyiakan waktuku selama disana untuk terus berbuat kebaikan dan menegakkan kebenaran.
Aku tak pernah mengira bahwa saat berjuang disana, akan membuatku hampir kehilangan nyawaku.
Terjatuh ke jurang dan dipatuk oleh Ular, terjebak di Gost Hill, Penang. Dan terakhir di Trixie House, ya daerah tempat tinggal makhluk paling menyebalkan yang hampir saja membuatku harus mendekam dalam penjara seumur hidup, Haiko Rakses, pria aneh yang memaksaku harus memilih dua pilihan yang bahkan kedua pilihan yang ia berikan sangat buruk melebihi apapun. Menyatakan bahwa dia mencintaiku, bahkan kami baru bertemu tidak sampai satu hari anehkan ? Dan memaksaku memilih menikah dengannya.
Dengan terpaksa untuk membuatnya mau bersaksi dan membawa bukti-bukti di persidangan kedua Arga. Akupun menyetujui pilihan pertama, yaitu menikah dengan Haiko. Karena menurutku biarlah ia yang tersakiti, dan semua pertikaian dan kebohongan yang menyakiti banyak orang ini berakhir di detik ini juga.
Hampir saja, hal itu terjadi.
Well, Allah ternyata tidak mengizinkan hal itu terjadi.
Di ruang Sidang Allah membuka pintu hati Haiko dan membebaskanku dari pilihan apapun itu.
Ia dengan suka rela, mau bersaksi untuk menyatakan kebenarannya.
Btw, Haiko kayak Anugrah ya.
Bisa-bisanya jatuh hati samaku hanya dalam tempo singkat hehe.
Senantiasa kedua pria baik hati ini menemukan gadis yang jauh lebih baik dari aku untuk menjadi tempat bertukar cerita mereka, tempat saling berkasih dan juga menempuh pernikahan.
Say alhamdulillah, perjuangan dengan segenap hati kami, akhirnya tersiarkan juga.
Kini tak ada lagi kesalah pahaman antara putra dan ayah, rasa benci antara putra dan ayah, rasa kecewa terhadap sahabat, rasa dendam antara sesama sahabat, dan bahkan pertikaian antara wilayah yang satu dengan yang lain, kini sudah mendapatkan titik terangnya dengan perdamaian.
Dan, bahkan kini ketidakadilan sudah terpinjak-injak harga dirinya. Yang bersalah tetap mendapatkan hukumannya, tidak pandang bulu apapun status dan kapasitasnya.
Wah, perjuangan yang melelahkan.
Perjuangan kami ini, tidak ada apa-apa dibandingkan perjuangan saudara kita di negri Palestina, negri Syam.
Ya Rabb lindungi saudara kami yang berada di sana.
Ku aksarakan kisah tiga tahunku di Malaysia dalam lembaran catatan cinta dengan singkat, yang kini telah tersimpan rapi dalam amigdalaku.
Dan ucapkan selamat datang Mesir, akan ku ukir kisahku ditanahmu selama empat tahun dengan penuh rangkaian rasa dan juga sejuta warna pelangi.
See you Cairo, Mesir.
~ Tulis Hana dalam buku hariannya ~
Seusai menuliskan ceritanya Hana kembali meletakkan bolpointnya dan juga bukunya.
Hana kini meraih ponselnya, dan membuka galerinya.
Melihat potonya dengan sosok pemuda Protestan di Bandara, yang poto itu diambil sekitar satu tahun yang lalu saat perpisahan mereka untuk kedua kalinya.
Dan sampai saat ini, mereka belum bertemu lagi.
Hana tersenyum menatap poto itu, mengusap lembut layar ponselnya.
" Kamu adalah definisi the real pencari Tuhan, Anugrah."
Seperkian detik selanjutnya, Hana menggulir layar ponselnya. Beralih memandang poto sosok pria ambigu yang dengan kegilaannya memaksa Hana harus menikah dengannya.
Poto pertama dan mungkin terakhir dirinya dengan pria itu yang diambil pas di ruang persidangan kemarin.
Hiyakkkss.. Bibir Hana menyebik.
Mengingat betapa menyebalkan sekali pria ini, batinnya.
__ADS_1
" Dasar manusia aneh ! Pemaksa ! Maksa nikah anak-anak." upat Hana dengan senyumannya.
Setelah puas mengupat pria itu, kini tangannya beralih pada poto sosok putra bungsu Nazhanul.
Yang awalnya begitu dingin padanya, bahkan kerap kali melihat melontarkan kata-kata pedas pada Hana. Kini seiring dengan berjalannya waktu, pria itu kerap kali menuangkan kemanisannya pada Hana.
" Arga pohon pisang ! meski mengupat senyumnya tak memudar di wajahnya.
" Jika Allah menghendaki, ku ingin kau yang akan kelak menjadi Abu Darda untukku." Hana mengelus pelan layar ponselnya.
Sesuai itu, Hana pun menyimpan kembali ponselnya ke dalam sakunya.
Kini ia mulai mengemasi kembali barang-barang yang akan ia bawa terbang ke Cairo.
Besok ia sudah harus meninggalkan keluarganya, dan berangkat kembali ke Malaysia, dan akan melanjutkan penerbangan ke Mesir.
Satu persatu barang telah tertata rapi di koper coklat kepunyaannya.
Uhukkk... Uhukk... tiba-tiba saja terdengar suara batuk dari kerongkongan Tameer.
" Bapak." refleks membuat Hana menghentikan aktivitasnya, dan segera berlari menghampiri bapaknya.
Terlihatlah pria sudah berusia kepala empat itu sudah terduduk lemah di kursi ruang tamu.
" Minum dulu pak." ujar ibunya seraya memberikan segelas air hangat pada Tameer.
Tameer pun meneguknya dengan perlahan.
" Terima kasih,buk." ucapnya.
Hana menyentuh bahu Tameer.
" Bapak lagi sakit, ya ? tanya Hana khawatir.
Tameer tersenyum." Gak Han, bapak cuma batuk ringan saja kok." alibi bapaknya, tak ingin Hana khawatir.
" Tapi, dari kemarin bapak batuk terus, pak.
Bapak udah minum obat ? Gimana kalau Hana bawa bapak ke dokter ya." ujar Hana bersiap untuk membawa bapaknya.
Tameer menarik tangan putrinya, dan menyuruhnya untuk kembali duduk di sampingnya.
" Tidak nak, bapak akan sembuh kalau bapak terus melihat senyum di wajah putri bapak." ucapnya.
Membuat Hana menghela nafasnya, dan membalas senyuman pria itu." Kalau bapak gak mau berobat, sekarang bapak istirahat ke kamar ya, biar Hana yang lanjutin kerjaan bapak." titah Hana, kemudian memapah bapaknya untuk beranjak ke kamar.
" Bapak bisa jalan sendiri, nak." kata Tameer dengan tawa kecilnya.
" Udah bapak jangan bawel, sekarang bapak harus istirahat." tolak Hana.
Tameer dan istrinya hanya bisa tersenyum melihat gadis mereka yang memang keras kepalanya tak pernah hilang dari dirinya.
Sesuai Hana mengantarkan bapaknya ke kamar. Ia pun mengganti pakaiannya dengan pakaian seadanya yang layak dipakai mengemasi beras ke dalam karung.
" Met, berapa karung lagi ? tanyanya.
" Ah, sekitar empat karung lagi kak." jawab Rahmet.
Hana pun memulai pekerjaannya, tak lupa dengan melafazkan basmalah.
Sudah lama rasanya Hana tak melakukan perkejaan ini, namun bukan berarti ia tak dapat melakukannya lagi. Bahkan ia mengemasi dengan amat teliti dan juga tepat.
Hana masih penasaran dengan kondisi Tameer, sang bapak tercintanya. Yang tak hentinya mengumandangkan batuknya.
" Hm." sahut Rahmet.
" Kakak mau tanya Met, sebenarnya bapak sakit apa ?
seketika pertanyaan itu, membuat Rahmet menghentikan aktivitasnya, ia menatap lekat wajah Hana. Ingin sekali dia mengungkapkannya, tapi kedua orang mereka tidak mengizinkannya.
" Met ! Hana melambai-lambaikan tangannya pada Rahmet.
" Ah iya kak, batuk doang kak." dengan terpaksa Rahmet harus berbohong.
" Kamu gak bohongkan ? intimidasi Hana.
" Ya ya gak lah, kak.
Ohiya besok kakak jam berapa berangkatnya ? Rahmet mencoba mengalihkan pembicaraan, dengan topik yang baru, agar Hana tidak terus menghujaninya dengan pertanyaan, sebab hal itu akan membuatnya harus melakukan kebohongan yang baru lagi.
" Maafin Rahmet harus berbohong kak." batin Rahmet.
" Pagi, sekitar setengah sepuluh.
Makanya, kakak berangkat malam ini ke Medan." jawab Hana.
Rahmet pun mengangguk mengerti.
" Yaudah kak.
Biar Rahmet aja yang selesaikan semua ini, kakak packing aja barang-barang kakak." ujar Rahmet yang selalu mengerti kakaknya.
Hana pun tersenyum seraya mencubit pipi tirus Rahmet." Kakak sudah selesai packing nya.
Kita selesaikan ini sama-sama, ya."
Rahmet pun tersenyum.
Keduanya saling bersemangat untuk mengemasi beras ke dalam karung-karung berukuran dua puluh kilogram itu.
Hana tak ingin membuang-buang waktunya, ia ingin menikmati sisa-sisa waktunya di rumahnya.
Hahhh... keduanya bernafas lega setelah semuanya selesai.
" Alhamdulillah." ucap mereka serempak.
" Udah mau dzuhur Met, kamu siap-siap gih buat sholat ke Masjid, biar kakak aja yang beresin sedikit ini." ujar Hana padanya.
Tanpa aba-aba pun Rahmet beranjak dari duduknya, berdiri dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Selesai mengerjakan semuanya, Hana pun masuk kembali ke rumah.
Mata Hana kini terfokus pada secarik amplop putih diatas lemari ruang tamu mereka.
Karena penasaran, Hana pun meraihnya.
Setelah membuka amplop itu ada selembar kertas yang berisikan sesuatu yang menyayat hati Hana.
Satu persatu kalimat dalam kertas itu, Hana baca air matanya menetes tanpa seizinnya.
__ADS_1
Ia sudah mengira bahwa bapak sedang tidak baik-baik saja, ternyata benar.
Tameer di diagnosa memiliki penyakit Bronkitis, tercatat bahwa ini hasil pemeriksaan seminggu yang lalu. Itu artinya Hana belum sampai di Indonesia.
" Astaghfirullah." ucap Hana yang terkejut dengan kabar duka ini.
Dengan tangan yang bergetar menggengam surat itu, Hana pun melangkah menghampiri kedua orang tuanya yang sedang berada di kamar.
" Pak, buk Hana mau bicara." ucap Hana dengan santun.
Ibu Hana pun melangkah meraih kenop pintu.
Ceklek..
" Hana mau bicara apa, nak ?
" Kenapa ibu, sama bapak nyembunyiin ini ? tanyanya Hana menunjukkan surat yang ia genggam.
Tameer dan istrinya pun terkejut bagaimana bisa Hana mendapatkan surat itu ? tanda tanya di kepala mereka.
Tameer yang berbaring pun, berusaha untuk duduk.
Sementara ibu Hana menggenggam tangan Hana.
" Nak !
Maafkan ibu sama bapak, nak." ucap ibunya dengan begitu tulusnya.
" Hiks.. Hikss..
Kenapa kalian tega berbohong sama Hana ? Isak tangis Hana mulai terdengar.
Putri keras kepala mereka itu terduduk lemah, di lantai air matanya tak hentinya menetes.
Tameer yang tidak tahan melihat putrinya seperti iniz ia pun bangkit berdiri, dan menghampiri putrinya.
" Hana ! panggilnya dengan senyuman.
Hana mendongakkan kepalanya.
" Pak." ia langsung memeluk bapaknya.
Tameer pun mendekap putrinya, kemudian mengelus lembut pucuk kepala putrinya yang berbalut jilbab.
" Nak.
Percayalah bapak pasti akan baik-baik saja.
Selagi bapak masih melihat senyum merekah di wajah putri, dan putra bapak." Tameer mencoba menenangkan Hana.
" Sudah nak.
Jangan seperti ini, Hana harus semangat ya.
Nanti malam Hana sudah harus berangkat kan ? ujar Tameer.
Hana menggeleng." Hana gak akan pergi kemana-mana. Hana akan tetap disini ! Hana gak bisa tinggalin bapak dalam keadaan ini." bantah Hana.
" Itu artinya kamu memutuskan untuk tidak berangkat ke Mesir ? tanya Tameer, yang dijawab anggukan oleh Hana.
Tameer melepaskan pelukannya, dan menggenggam erat tangan putrinya.
" Nak.
Kamu tau ? Ada jutaan manusia yang berjuang dengan segala jeri payah untuk bisa berkelana, mencari ilmu ke negri Pyramid itu. Tapi apa ? Tak sedikit juga dari mereka yang belum Allah izinkan untuk menggali ilmu disana. Ada yang terhalang oleh biaya, ada juga yang terhalang oleh kemampuan intelektualnya.
Ya, ada yang otaknya mampu bersaing disana tapi keterbatasan biaya membuatnya mundur. Ada pula sebaliknya. Dan sekarang atas izin Allah putri bapak di beri karunia untuk menempuh pendidikan kesana dengan full beasiswa ingin mundur dengan begitu mudah ? Hm, sejak kapan putri bapak ini tidak pandai bersyukur ?
Hana menggeleng." Tap---
" Nak.
Terlalu kejam rasanya, jikalau penyakit bapak menjadi alasan untukmu berhenti meraih impianmu, nak.
Kejarlah, meski itu sejauh Mesir.
Tidak ada kebahagiaan yang jauh lebih besar bagi bapak, melainkan melihat putri bapak berjihad menggali ilmu langsung di negri para Nabi." ucap Tameer dengan begitu lembut pada putrinya.
" Iya nak.
Bapak dan ibu merestui dan meridhoi Hana untuk belajar ke Mesir." sahut ibunya yang kini ikut terduduk bersama mereka.
Tangisan Hana semakin deras mengalir, bahagia dan duka bercampur menjadi satu.
Di sisi lain ia bahagia melihat kedua orang tuanya yang mendukungnya, akan tetapi rasa sedih dihatinya melihat bapaknya terdiagnosa bronkitis membuat dadanya terasa nyeri.
" Tapi bapak janji ya, harus sembuh.
Dan harus rutin berobat." ujar Hana pada bapaknya.
" Iya nak.
Penyakit bapak baru gejala, insya Allah jika rajin ikhtiar dengan berobat atas izin Allah bapak akan sembuh.
Hanya doa Hana yang bapak butuhkan, ya.
Bapak akan jauh lebih terluka ketika putri bapak pesimis kayak tadi."
Hana terkekeh kecil mendengar perkataan bapaknya.
" Insya Allah, Hana akan berusaha semaksimal mungkin untuk bisa menyelesaikan study Hana disana.
Dan segera kembali menyandang gelar Lc." imbuh Hana.
Ketiganya saling berpelukan untuk saling mengungatkan, untuk saling memberikan kehangatan dalam bentuk dekapan.
" Rahmet janji, akan jaga ibu sama bapak, kak." sahut Rahmet yang sebenarnya sudah pulang dari masjid sejak tadi dan mendengarkan semua perbincangan mereka.
Ia pun mendekati keluarganya dan ikut menghamburkan dirinya dalam pelukan mereka.
Meski keluarga mereka miskin, kerap kali terpental oleh keadaan. Namun, tak terlintas sedikitpun di benak mereka kecewa pada Allah. Justru mereka kerap kali bersyukur dan mencoba untuk mengambil ikhtibar di seperkian detik kehidupan yang mereka hadapi.
Ya, benar-benar.
Sekecil apapun nikmat itu, akan terasa besar jika kita mensyukurinya.
Sevimli 22 June 2021
Salam hangat dari Author 💙
__ADS_1
Maaf ya sering terlambat Up hehe
Lagian emang ada yang nungguin ? ga deh kayaknya hehe