Pelangi Hanani

Pelangi Hanani
Part 79 Tak ada kepercayaan


__ADS_3

" Ketegaran Rasulullah adalah contoh nyata untuk mu ketika berada di fase jatuh-sejatuhnya agar tidak menyerah."


......" Pelangi Hanani 🌹"......


Alam Indonesia tampak begitu mempesona dari ketinggian.


Ya, Indonesia memang dapat dikatakan surga dunia. Mulai dari Sabang sampai Merauke, terbentang luas keindahan panorama ciptaan Tuhan disana.


Dapat membuat putra bungsu Raja itu menarik senyumnya.


Usai dua jam lewat lima belas menit.


Akhirnya, pesawat mendarat di Bandara Kualalumpur.


Setelah hampir sebulan Arga tak menghirup oksigen di negri ini, kini ia kembali kepangkuan ibu kota kelahirannya.


" Alhamdulillah.."


Huhhh.. Arga menghembuskan nafasnya pasrah.


Ya, pasrah akan apa yang nantinya ia hadapi.


" Ya Allah, Engkau yang Maha mengetahui.


Dan Engkau sebaik-baiknya pelindung." Tawakkal Arga.


Pria itu menarik handle kopernya dan menyeretnya ikut berjalan bersamanya.


Sesampai di luar gedung bandara, Arga pun memesan Taxi online.


Sembari menunggu Taxinya datang.


Arga memilih untuk ke Musholla sejenak.


Mumpung waktu dhuha ada, ia pun menyegerakannya.


Sujud.


Adalah cara mengetahui seberapa dekat kita dengan sang Pencipta.


Ya, dengan sujudlah kita akan semakin dekat dengan Allah.


Maka jangan heran jika ada orang yang larut dalam sujudnya, itu artinya ia sedang merindukan Rabbnya.


Dan jangan lupa satu hal, ketika sujudlah kita dianjurkan untuk meminta kepada Allah Subhanahu Wata'ala.


" Assalamu'alaikum Warahmatullah." Salam Arga bergantian ke kanan dan kiri mengakhiri sholatnya.


Seusai sholat, Argapun memilih berdzikir dengan beberapa kalimat yang memuji Allah.


Dan ya, ia menutupnya dengan doa sholat dhuha.


Selang beberapa waktu ia pun selesai dengan urusan ibadahnya.


Tenang.


Menyelimuti hati pemuda berparas tampan itu.


Meski, dirinya kini tengah terombang-ambing dengan asrar gelisah.


Namun, ia tetap percayakan semuanya pada Rabbnya.


Taxi Arga kini mendarat tepat di hadapannya.


" Nak Arga ye ? Tanyanya keluar dari Taxi.


Arga mengangguk." Iya Pak."


" Ah, silahkan." Ujar supir Taxi itu sembari membukakan pintu.


Arga pun memasuki mobil Taxi tersebut.


Di sepanjang perjalanan, Arga kini disibukkan dengan pertengkaran antara hati dan pikirannya.


Hati berkata semua akan baik-baik saja.


Namun, pikirannya mengatakan ini adalah awal dari titik guncangan perjuangannya.


Entahlah, ia tak ada badai apa yang akan menerjangnya.


Setelah memakan dua puluh menit perjalanan, akhirnya ia sampai di Istana.


Arga mengeluarkan beberapa lembar Ringgit dari dompetnya dan memberikannya pada supir taxi itu.


" Thank you, Pakci." Ucapnya.


" Your Wellcome nak."


Detik selanjutnya, Arga memandang lekat Istana kepunyaan Ayahnya itu.


Bangunan yang menjulang cukup tinggi, dengan khas Melayu kebangsaan.


Ia memejamkan matanya sejenak seraya menarik nafas perlahan dan kemudian membuangnya perlahan-lahan.


Seraya deruh nafas berhembus, terbuka pulalah pejaman matanya.


" Bismillah." Ucapnya memulai langkahnya masuk ke Gerbang utama Istana.


Para pengawal pun yang melihat kedatangan Arga, langsung saja membukakan pintu untuknya.


" Terima kasih Pakci. "


Para pengawal itu tersenyum dan mengangguk sebagai jawabannya.


Setapak demi setapak, Arga mulai memasuki halaman Istana, kemudian beralih memasuki bangunan Istana.


Ya, tak di sangka.


Anggota Kerajaan telah menyambutnya tepat di pintu Istana.


Membuat Arga membeliakkan matanya.


Detak jantungnya kini berdegup kencang.


Kakinya mulai gemetar..


Rasa kekhawatiran yang sejak tadi menyelimutinya.


Ternyata menjadi kenyataan.


Meski demikian, Arga melangkah mendekatinya Nazhanul, untuk mengecup tangannya.


Belum sempat Arga meraih tangan Ayahnya.


Nazhanul langsung mengangkat tangannya dan bergegas pergi tanpa sedikitpun menoleh ke arah Arga.


Deg... Membuat hati Arga nyeri seperti tertusuk pisau tajam.


Arga menatap lamat punggung ayahnya, yang mulai menjauh dari hadapannya.


Tak ada kehangatan menyambut kepulangannya.


Bahkan seulasan senyumanpun tak tertata untuknya.


Wardah memandang senduh wajah putranya.


Yang matanya mulai berkaca-kaca.


Bahkan koper ia genggam sejak tadi di tangan kirinya kini tersungkur di lantai.


Brak...


" Nak." Wardah mendekati putranya.


Arga menoleh ke arah bundanya." Bun, ape Arga bakal di benci lagi ? Ape Arga akan kehilangan kepercayaan ayah lagi ? "

__ADS_1


Pertanyaan ini lolos dari bibirnya.


Wardah menggengam tangan putranya, seraya menggeleng tidak membenarkannya.


" Tak, Arga tak salah.


Arga takkan di benci nak, ayah pasti selalu percaye kat Arga ye.


Jangan risaukan pasal tu ye nak." Jawab Wardah mencoba menenangkan putranya.


Arga menghembuskan nafasnya gusar.


" Tapi kenape ayah bersikap macam tu Bun ? Tanya Arga.


" Hehe, biaselah nak.


Jangan lupekan bahwa ayahmu itu seorang Raja nak." Wardah tak ingin membuat Arga khawatir.


Arga tak bergeming lagi, ia hanya terdiam.


Menatap penuh arti, wajah teduh Bundanya.


Buliran hangat mulai colos dari matanya.


" Hey, kenape nangis pula ? Wardah mengusap air mata putranya.


" Hm, Bunda tau Arga pasti rindu sangat kat bunda kan ? Uluh-uluh putra bungsu bunda satu ini memang tak bisa jauh dari bunda."


Lagi dan lagi Wardah berusaha menenangkan Arga.


Wardah pun menggengam tangan putranya, untuk mengajaknya segera mengemasi barang-barangnya di kamar.


Arga hanya mengikut Bundanya, dan ya mulutnya kelu bahkan terkatup tak berani mengucapkan sepatah katapun.


Seusai mengenai barangnya, Wardah membawakan makanan untuk putranya.


Ia tau bahwa putranya itu pasti lapar, karena sudah melewati perjalanan panjang.


" Ini bunda bawain makanan." Ujarnya pada Arga.


Arga menggeleng." Arga belum lapar Bun." Tolaknya.


" Makanlah sikit, biar Arga semangat sikit." Bujuk Wardah padanya.


Lagi-lagi Arga menolak permintaan Bundanya.


Ini untuk kali pertamanya ia enggan menuruti permintaan Bundanya.


Wardah membelai lembut rambut putranya.


" Nak, Bunda percaya Arga itu anak bunda yang baik."


Perkataan Wardah berhasil membuat Arga menatapnya intens." Bun, ape ade yang memberitau ayah bahwa Arga adalah dalang di balik semua pertikaian dan pengkhianatan ini ?


Tanya Arga to the poin.


Dengan berat hati, Wardah mengangguk.


" Iya nak, ada orang yang meletakkan surat kat bilik ayah. Yang isinya sebuah kontrak kerja sama kamu dengan mereka para pengkhianat." Jujur Wardah padanya.


Arga terpakur lemah, tatapannya tertuju pada lantai yang kosong.


Semua kekhawatirannya kini menjadi kenyataan.


Air matanya kini berbondong-bondong meluapkan kesesakan di hatinya.


" Nak, Bunda percaya bahwa itu semua pasti bohong !! Bunda kenal putra bunda tak seperti yang tertera di kertas itu.


Bunda tau itu pasti Fitnah, sabar ya nak jangan berkecil hati Bunda akan yakinkan ayah bahwa semua itu adalah fitnah nak.


Jangan khawatir ya nak." Ujar Wardah dan memeluk Arga.


Arga hanya terdiam senduh dalam pelukan Bundanya. Menangis tanpa suara adalah hal yang ia lakukan saat ini dalam pelukan sang Bunda.


Arga melepaskan pelukan Bundanya.


Dengan cepat Wardah menggeleng.


" Tak nak, ayah tak membenci Arga percayalah pada Bunda nak.


" Padahal Arga ingin menegakkan kebenaran.


Tapi kenapa ya Tuhan selalu saja mempersulit Arga melakukannya.


Apa Tuhan lebih suka kedzaliman berkepanjangan dan berdiri tegak ?


Arga sudah mulai menyerah dengan keadaan.


" Nak, Arga tak boleh cakap macam tu.


Tuhan itu Maha benar sudah pasti menyukai yang benar.


Tuhan tau Arga adalah hambaNya yang teguh dalam menjalankan amanat ini."


Wardah menjeda beberapa detik ucapannya, kemudian menggengam tangan putranya.


" Nabi Muhammad saja, manusia mulia pilihan Allah. Dalam menegakkan kebenaran kerap kali terombang-ambing keadaan.


Tapi apakah Rasulullah menyerah ?


Tidak nak, bahkan memikirkan menyerah saja sedetikpun tak pernah Beliau lakukan.


Contoh beliau nak. Insya Allah Arga akan senantiasa mengerti apa dibalik semua tujuan dari Asrar yang masih belum terkuak jawabannya ini nak.


Walatahinu wa la tahzanu antumul a' laun.


Aplikasikan firman ini dalam kehidupan mu nak insya Allah Arga takkan pernah berada di titik menyerah.


Arga putra terbaik Bunda. Bahkan semua Bunda yang ada kat dunia ni.


Iri terhadap Bunda, sebab Bunda punya putra terbaik yang tak mereka miliki.


Ridho bunda selalu menyertai Arga." Nasehat Wardah membuat Arga sedikit tenang dari kegelisahannya dan kesedihannya.


Ia memeluk Bundanya erat." Terima kasih Bunda untuk segala baswara yang Bunda tuangkan pada Arga."


" Berjanjilah untuk tidak menyerah." Ujar Bundanya.


Dalam tangisannya Arga mengangguk menuruti permintaan sang bunda tercintanya.


" Sekarang makan ya, bunda suapin." Arga mengangguk tak menolak lagi.


Sementara di ruangan lain.


Sosok Nazhanul terduduk di kursi kebanggaannya.


Memegang keningnya yang kini tengah berkecemuk.


Amarah..


Kecewa kini mengsinggahsana di hatinya.


" Ya Allah, apa benar putraku melakukan semua hal buruk ini ?


" Apa benar putraku mengkhianatiku ?


Entahlah sulit rasanya menerima semua ini.


Kalau memang benar dia melakukan ini semua ? Atas dasar apa dia melakukannya.


Apa karena harta dan tahta.


Ya Allah, kalau saja aku tau harta dan tahta adalah sebuah hal yang membuatku menjadi musuh untuk anakku.


Lebih baik rasanya aku menjadi seorang pemulung saja." Buliran hangat menetes dari matanya.

__ADS_1


.


.


.


Di ruang bawah tanah si pengkhianat sesungguhnya tengah tertawa ria bersama anak-anak buahnya.


" Akhirnya puncak dari tujuan kita hampir tercapai.


Ini yang aku inginkan, membuat Nazhanul hancur baik secara batin dan juga raga."


HAHAHAH.... Bunyi tawa mereka yang hanya bisa di dengar oleh mereka sendiri.


Sebab, ruang bawah tanah sangat kedap suara.


" Robert dan Abriz benar-benar bodoh mau saja aku tipu dengan segala rekayasa yang ku mainkan..


Awalnya Robert ia sangat bodoh..


Dia membenci dan balas dendam pada Nazhanul yang tak punya salah sama sekali padanya.


Dua tahun lalu,saat ia menghubungiku dan memintaku menyampaikan pesan pada Nazh untuk izin ke hospital sebab, istri mau melahirkan. Tapi dengan kecerdasan otakku agar dia tersingkir dari Istana karena kemauannya sendiri karena aku yakin sampai kapanpun Nazh takkan pernah mengeluarkannya. Dan aku pun tak benar-benar memberi tau Nazh atas pesan yang ia sampaikan.


HAHAHA... Dan akhirnya Nazh tak mengizinkannya pergi dari Medan pertempuran.


Dan siapa sangka ternyata Tuhan berpihak padaku, ia membuat hubungan kedua sahabat itu retak berkeping-keping..


Dengan kematian yang di alami Andhara saat melahirkan.. Tuhan memang baik pada manusia jahat sepertiku.


Dan ya, si Abriz bodoh itu. Dia percaya bahwa Nazh melakukan diskriminasi terhadap kaumnnya.


Dengan amat mudah aku memperdayainya dan memanfaatkan situasi istrinya yang membutuhkan dana untuk melahirkan.


Akhirnya ia mau ku perintah untuk menebar fitnah bahwa dia adalah suruhan Aziz untuk membunuh Nazh....


Dan pada akhirnya Aziz di campakkan secara tidak hormat dari Istana.


Wah, rencanaku ternyata sangat di perlancar Tuhan, terima kasih Tuhan."


Hahaha.... Tawa mereka semakin pecah.


Tanpa di sangka ada tiga sosok lelaki yang sedari tadi berada di balik pintu ruang bawah tanah mendengarkan percakapan mereka.


Ya, lelaki itu adalah Robert, Andrea putranya, dan Abriz.


Ketiga lelaki yang telah dimanfaatkan oleh pengkhianat Cumlaude itu.


Abriz menyandarkan tubuhnya pada tembok, menyesali perbuatannya.


Robert terduduk lemah, lututnya kini menyentuh lantai.


Dalam diamnya cairan bening menghiasi wajahnya.


" Ayah." Andrea ikut tertunduk mengusap air matanya.


" Nazh tidak bersalah nak." Ucapnya menyesal.


Andrea mengangguk." Iya yah, kita harus memperbaiki segalanya, sebelum terlambat."


" Nazh maafkan aku !!


Aku menyesal telah berbuat sebrengsek ini padamu." Ucapnya menggurutui kesalahannya.


" Yah, lebih baik sekarang kita menggagalkan semua rencana si brengsek itu."


Andrea mengingat kembali kata-kata Arga saat di rumah sakit, mengenai bahwa Raja tak seburuk yang di bicarakan mereka.


Dan semoga di saat Andrea mengetahui semua kebenaran. Ia akan berpihak pada kebenaran.


" Ternyata Arga benar, Uncle Nazh hanya korban dari pria brengsek ini." Tanpa aba-aba Andrea melangkah menghampiri mereka.


Bukhhh.. Andrea langsung menendang pintu ruang bawah tanah itu.


" Andrea." Teriak Robert.


Membuat mereka yang berada di sana terkejut menganga.


Bukhh... Andrea langsung melayangkan pukulannya, membuat pengkhianat itu tersungkur ke lantai.


" B*NGSATT " Makinya.


" Kurang ajar." Pengkhianat itu berusaha bangkit untuk membalas Andrea.


Bukhhh..


Dengan cepat Andrea kembali menendangnya.


" Kau memang BR*NGSEK !!


Hanya karena kekuasaan kau sanggup melakukan hal kotor ini."


Robert menghampiri putranya. Dan disusul Abriz. " Andrea." Panggil Robert.


HAHAHA...


" Bagus kalian ternyata sudah berada disini.


Dengan begitu aku tidak perlu repot-repot untuk menjelajahi panjang lebar lagi dari awal." Ujarnya dengan tatapan liciknya.


Robert mendekatinya." Aku tak pernah tau ternyata di balik keindahan kata-katamu ada terselubung manik-manik kelicikan disana.


Aku tak pernah tau, ternyata harta dan tahta menjatuhkanmu serendah ini.


Hm, beruntung Tuhan memberitau ku sekarang, dari pada sama sekali tidak memberitau ku.


Percayalah Tuhan tau kapan detik kehancuran penjahat sepertimu akan tiba.


Terima kasih telah mengajarkanku arti dari sebuah kebohongan, pengkhianatan dan juga keserakahan." Kali ini Robert tak ingin mengotori tangannya, ia lebih memilih mengutarakan kata-kata ini.


" Ayo nak, kita pergi." Ajaknya pada Andrea.


" Tapi ayah, biarkan aku menghabisinya." Tolak Andrea.


" Sudahlah nak, justru dengan kau menghabisinya, kau mala akan menutupi kebenaran.


Sekarang lebih baik kita balik, berdamai dengan keadaan." Andrea yang sudah emosi pun terpaksa menuruti permintaan ayahnya.


Robert dan Andreapun beranjak meninggalkan ruang bawah tanah itu.


Sementara Abriz, tak ingin pergi terlebih dahulu.


" Percayalah bang, ape yang abang lakukan ni takkan pernah membuat abang berada dalam ketenangan.


Rasa bersalah pasti selalu menghantui abang.


Percayalah bang, akhiri semuanya sebelum terlambat." Ucap Abriz sebelum meninggalkan Ruangan itu.


.


.


Kata demi kata yang mereka tuturkan, membuat hati Pengkhianat itu di rundung dilema.


Kebencian, dan dendam membuatnya menjadi pria brengsek ini.


" Argghhhh... Teriaknya kacau.


" Kalau saja Nazh berlaku adil padaku maka ini tidak akan terjadi." Ujarnya masih dengan dendam dalam hati.


Bersambung...


Sevimli 2 Maret 2021


Salam hangat dari Author 🌹

__ADS_1


Jangan lupa untuk like and Votenya :)


__ADS_2