Pelangi Hanani

Pelangi Hanani
Part 114 Cinta sebelah pihak


__ADS_3

" Meski rasanya sesakit ini, setidaknya aku sudah berjuang untuk perasaanku."


..... " Pelangi Hanani 🌹".....


Sebelum Anugrah pergi meninggalkan Alkan.


Alkan pun memberikan nomor ponselnya dan juga nomor ponsel saudaranya yang merupakan Mahasiswa di Al-Azhar, Mesir.


Ya, barangkali saudara Alkan bisa membantu Anugrah sesampai disana.


" Bang !


Ini nomor Alkan, dan ini nomor saudaraku, namanya Fian, bang." Alkan memberikan secarik kertas yang bertuliskan nomornya dan saudaranya.


Anugrah pun menerima kertas pemberian Alkan.


" Thanks, Kan." ucapnya.


" Iya bang.


Entar Alkan bakalan kasih tau Fian, biar dia bisa bantuin abang di Mesir." ujar Alkan berbaik hati.


Anugrah pun tersenyum, seraya menepuk pelan pundak Alkan." Semoga Tuhan membalas semua kebaikanmu."


" Abang juga, semoga niat dan rencana baik abang selalu Allah mudahkan." balas Alkan.


Setelah kalimat itu terucap, Anugrah pun pamit pulang untuk mempersiapkan keberangkatan besok hari.


" Aku balik dulu, Kan.


Semoga suatu saat Tuhan berbaik hati untuk mempertemukan kita kembali, bye." tutupnya.


" Semoga bang.


Hati-hati, bang."


Anugrah pun melangkah pergi meninggalkan Alkan, menuju parkiran.


Brumm...


Terdengarnya deruh mesin kendaraan Anugrah menandakan ia sudah melajukan mobilnya meninggalkan kampus Alkan.


Anugrah mengendarai mobilnya dengan santai, tak ingin terburu-buru. Ia ingin menikmati sisa-sisa waktunya di Florida, Amerika.


" Kalau dipikir-pikir lucu juga hidupku.


Sekolah jauh-jauh ke Canada, ke USA jurusan religi, eh ujungnya pengen ke Mesir." ucap Anugrah tak percaya.


Ia terkekeh melihat dirinya sendiri.


Dimana orang lain yang mengambil jurusan sama dengannya justru semakin mencintai agamanya.


Berbeda dengannya yang justru hatinya berpaling ke agama lain.


Itulah kehendak Allah, Ia yang kuasa.


Membolak-balik hati manusia.


Beberapa menit kemudian.


Mobil Anugrah pun mendarat di halaman Apartemennya.


Ceklek..


Anugrah keluar dari mobilnya, sesegera mungkin untuk masuk ke dalam apartement, tempat ia tinggal di USA.


" Nug ! panggilan itu menghentikan langkahnya.


Anugrah menoleh ke belakang, melihat sosok yang memanggilnya.


" Alen."


Ya, Alena yang memanggilnya.


Alena pun mendekati Anugrah.


" Nug !


Buruan kamu beresin barang kamu ! ucap Alena dengan nada khawatir.


Anugrah bingung dengan Alena, kenapa tiba-tiba menyuruhnya untuk beresin barang-barang ?


Bahkan raut wajah Alena tampak begitu panik sekaligus khawatir.


" Kamu ngomong apa sih, Len ? tanyanya.


" Kamu mau ke Mesir, kan ? Anugrah mengangguk.


Haahhh..


Alena menghembuskan nafasnya berat.


" Om William tau kalau kamu itu mau Mesir, Nug. Dan sekarang, dia lagi nyuruh anak buahnya buat hentiin kamu, Nug." jelas Alena singkat.


Ha ? Anugrah terkejut mendengar perkataan Alena. Kenapa ayahnya sampai tau, hal ini ? benaknya.


" Tunggu dulu, Len.


Ayahku gak tau masalah ini, tapi kenapa tiba-tiba aja ayahku tau masalah ini." ucap Anugrah menatap curiga.


Alena terperanjat gugup.


Melihat tatapan tajam dari Anugrah.


" Eehhh...


Itu Nug." Alena mendadak gugup.


" Kamu yang ngasih tau, Len ?


Debb...


Mata Alena melotot sempurna.


Ia tak tau harus menjawab apa sekarang.


Mulutnya terkatup, tak bergeming sama sekali.


Bahkan tubuhnya gugup untuk bergerak.


Ketakutan mulai menyelimutinya.


Melihat Alena terdiam tak memberi jawaban.


Anugrah pun mengerti bahwa ayahnya tau melalui Alena.


Hahh...


Anugrah menghela nafasnya kasar.


Mengusap kasar wajahnya.


Argggg.... pekiknya.


" Lo boleh-boleh aja jadi stalker suruhan ayah gua, Len. Tapi, bisa gak sih lo sekali aja hargai gua sebagai sahabat lo, Len ? Sekali aja lo gak usah ikut campur urusan gua ?


Seketika aksen Anugrah berubah saat berbicara dengan Alena.


Anugrah tampak kecewa berat pada Alena.


Terlihat dari raut wajahnya.


Kesedihan yang mendalam bahkan juga rasa marah sedikit memercik disana.


" Lo gak capek giniin gua terus ha?


Gua aja capek, Len ! Lo giniin terus!" bentak Anugrah.

__ADS_1


Bentakan itu membuat Alena terkejut.


Ini untuk kali keduanya Anugrah membentaknya.


" Aku gak bermaksud buat k--


" Udahlah Len.


Lo sebenarnya maunya apa sih sampai ngelakuin gini ke gua ? potong Anugrah.


"Aku lakuin ini semua karena aku cinta sama kamu, Nug ! Aku mau kamu jadi milikku ! Aku ngelakuin ini supaya ayah kamu mau nikahkan kamu sama aku." lontar Alena yang mulai terisak.


Anugrah terdiam, menatap tak percaya pada gadis yang sudah bersahabat sejak lama dengannya.


" Len !


" Apa ?


Kamu mau benci aku ? Benci aja, Nug ! sergah Alena.


Alena terduduk di lantai.


Ia sadar akan kenyataan, bahwa Anugrah tak pernah sedikitpun menoleh padanya.


Kesedihan demi kesedihan mendorong air matanya terjatuh membasahi lantai.


Anugrah menatap Alena penuh iba.


Terbesit rasa bersalah dihatinya.


Ia pun ikut duduk di sebelah Alena.


" Len ! panggilnya.


" Aku capek, Nug !


Mencintai tanpa dicintai.


Aku lelah dengan perasaan ini.


Dari dulu perasaan ini tumbuh tanpa kupinta.


Semakin lama semakin merambat, membuatku sulit untuk memusnahkannya." Lirih Alena.


" Aku selalu mencoba untuk menenangkan hatimu, tapi tetap saja, hanya ada Hana dan Hana yang ada di hatimu, Nug ! Hanya Hanani Syaufa, Nug ! teriak Alena diantara isak tangisnya.


Hikss.. Hikss...


" Aku lelah, Nug !


Anugrah pun menyentuh lembut pucuk kepala Alena. Seraya mengelusnya." Maafin gua, Len." hanya kata itu yang terlontar dari mulutnya.


" Apa kamu tidak bisa mencoba untuk membalas perasaanku, Nug ?


Anugrah terdiam tak tau harus menjawab apa.


Jika ia jujur, bisa-bisa Alena akan semakin kecewa.


" Len.


Aku yakin perlahan-lahan kamu pasti bisa musnahin perasaan itu. Aku bukan orang yang pantas untuk cintamu,Len." ucap Anugrah.


Alena tersenyum sumbang.


" Ya, lelaki pengecut kayak kamu emang gak pantes buat cintaku !


Alena menyerka air matanya, kemudian bangkit dari duduknya. Anugrah yang melihat Alena seperti itupun, ikut berdiri.


" Len ! panggilnya masih khawatir.


" Nug.


Pergilah ! Sebelum orang-orang suruhan ayahmu datang kesini." ujar Alena dengan senyuman.


Ha ? Anugrah terkejut dengan perkataan Alena. Yang tiba-tiba saja, mendukung keberangkatannya untuk menimba ilmu di Mesir.


" Aku memang kecewa dengan keputusanmu yang berniat untuk memeluk Islam, sebagai seorang umat protestan. Tapi, sebagai seorang sahabat aku tidak punya hak untuk menghentikan langkahmu untuk mencari ketenangan dan juga kedamaian." pangkas Alena.


Anugrah tersenyum lebar, mendengar pernyataan dari perempuan berambut pirang itu.


"Ternyata kamu lebih bijaksana dari dugaan ya,Len. Beruntung lelaki yang kelak akan mendapatkan hatimu."


Perkataan yang terlontar dari pemuda bermata sipit itu, membuat Alena tersenyum simpul.


" Apa kamu tidak mau menjadi lelaki beruntung itu ? tanyanya seraya mendekati Anugrah.


Anugrah terkekeh kecil.


Dan menepuk pundak Alena dengan pelan.


" Len !


Maafin aku ya, belum bisa memastikan cintamu terbalaskan." senduhnya.


" Apaan sih ! Kok jadi melow gini." Kini giliran Alena yang tertawa kecil melihat wajah Anugrah berubah senduh.


" Iya Nug.


Aku tau kok gak bakalan ada yang bisa gantiin posisi Hanani Syaufa di hati kamu. Kan dia Zainab binti Muhammadmu."


Meski pernyataan yang terlontar dari mulutnya sendiri sedikit sakit untuknya, Alena tetap berusaha untuk tegar menerima kenyataan ini.


" Udah ah.


Buruan berangkat sana ! ujarnya seraya mendorong tubuh Anugrah untuk segera pergi.


" Iyaiya bawel !


Anugrah pun berlari, bergegas menuju Apartementnya.


Untuk mengemasi barang-barangnya, dan segera pergi menuju bandara.


Ya, terpaksa Anugrah harus menginap satu malam disana. Supaya orang suruhan ayahnya, tidak mengetahui keberadaannya.


" Aku akan mencoba melupakanmu, Nug.


Meski itu sulit, aku akan berusaha keras untuk memusnahkan perasaan ini." ucap Alena.


Seusai ia melihat Anugrah masuk ke dalam Apartementnya. Alena pun melangkah pergi meninggalkan rumah Anugrah.


Tak tertahan.


Air mata Alena yang terjeda tadi, kini kembali terjatuh.


Gadis berambut pirang itu melangkah dengan membawa rasa sakit dihatinya.


Kita tak pernah tau akan kemana hati kita berlayar.


Kita juga takkan bisa memilih pada hati mana dia akan terjatuh. Sebab, mencintai adalah fitrah manusia.


Dan yang menggerakkannya di hari manusia.


Adalah Dia sang pembolak-balik hati manusia.


.


.


.


.


• Surakaya,. Turki.


Udara nan sejuk mendorong Arga dan Rayhan untuk berjogging keliling kompleks di pagi hari.


Dengan pakaian kasul, kedua pemuda itu tampak begitu tampan dengan gayanya masing-masing.

__ADS_1


" Ga !


Gua duduk dulu deh, capek gua." adu Rayhan.


Arga pun menoleh ke belakang.


" Dasar lu !


Baru juga tujuh putaran udah capek." cibir Arga.


" Gimana entar lu gendong si Ranti di pelaminan. Bisa-bisa tumbang berdua lo diatas pelaminan."


Bagi Rayhan.


Mendapatkan ledekan dari Arga adalah hal yang biasa. Telinganya sudah kebal dengan cibir-cibiran Arga.


" Yeeey.


Kalau itu mah bedalah !


Keliling Monas gendong Ranti aja sanggup gua. Apalagi cuma sampai pelaminan, itu mah gimpil!" balas Rayhan tak mau kalah.


"Haii!" sapaan itu datang dari perempuan yang tiba-tiba saja hadir diantara mereka.


Keduanya pun saling menoleh.


" Zafirah." serentak mereka.


Ya, Zafirah yang datang menghampiri mereka.


" Boleh gabungkan ? Zafirah semakin mendekati keduanya.


Rayhan memutar bola matanya melas.


Merasa enggan Zafirah ikut bergabung bersama mereka. Sementara Arga hanya menganggukkan kepalanya.


Detik selanjutnya, Arga kembali melanjutkan larinya.


Zafirah pun tak mau kalah, ia pun mengambil kesempatan ikut berlari bersama Arga.


Sudut bibir Rayhan tertarik sebelah.


Merasa bahwa Zafirah memang benar-benar gadis yang kurang rasa malunya.


Setiap harinya tak hentinya mendekati Arga. Mencari perhatian Arga dan juga ingin membuat Arga jatuh hati padanya.


Tapi sayang, di hati Arga tetap Hanalah yang terpatri disana. Rayhan sebenarnya tidak meragukan hal itu.


Hanya saja, ia tidak suka melihat perempuan yang mati-matian mengejar laki-laki.


Karena menurutnya, perempuan itu bukan mengejar tapi dikejar.


Rayhan pun bangkit dari duduknya.


Dan menghalau Zafirah.


" Lo ngapain sih, Ray ? tanya Zafirah saat langkahnya dihalangi oleh Rayhan.


" Lo gak capek apa ngejar Arga mulu ? kata Rayhan to the point.


Zafirah tersenyum manis seraya menggelengkan kepalanya." Gak ! Mala gua suka." jawabnya singkat.


Rayhan geleng kepala, tak habis pikir dengan gadis berhijab oliv itu.


" Gila lo ya !


Arga itu gak bakalan pernah bisa suka sama lo. Karena dia cuma suka dan cinta sama satu cewek." ungkap Rayhan untuk kesekian kalinya.


" Gua gak peduli, Ray !


Gua bakalan tetep kejar Arga." cetusnya serius.


" Mau sampai kapan lo ngejar dia ?


Sampai kiamat ha ?


" Sampai waktu benar-benar nyatain bahwa Arga emang bukan jodoh gua. Sampai gua benar-benar ngelihat pakai mata kepala gua sendiri dan dengar sendiri Arga ngucapin akad bukan atas nama gua.


PUAS LO ! teriak Zafirah.


" Tap---


" Biarin gua ngerasain hal sesakit ini, Ray.


Setidaknya gua udah berjuang buat perasaan gua." ucapan Zafirah dari hati yang paling dalam, mendorong air matanya mengalir membasahi pipinya.


Selepas ia mengungkapkan isi hatinya.


Zafirah menyerka air matanya, dan pergi meninggalkan Rayhan yang masih berdiri menatapnya.


Rasa bersalah pun tengah menyelimuti Rayhan.


Ia tak menyangka bahwa perkataannya ternyata, dapat melukai perasaan gadis itu.


" Zaf ! Gua gak bermaksud buat nyakitin hati lo. Gua cuma gak mau lo jadi cewek bodoh yang ngejar cowok yang gak bisa ngebalas perasaan lo."ucap Rayhan sepergian Zafirah.


Arga yang tengah asyik berlari, melihat Zafirah berlari meninggalkan mereka pun. Sedikit bingung, apa yang terjadi ? benaknya.


Arga pun menghampiri Rayhan.


Untuk menanyakan hal itu pada Rayhan.


" Ray !


Kenapa tu cewek ? tanyanya.


Rayhan pun menatap melas pria yang bertanya dihadapannya itu." Tanya aja sama orangnya sana !


ketusnya.


Rayhan pun memilih melangkah kembali ke Apartementnya tanpa menunggu Arga.


" Dih !


Main tinggal aja lo !


Tak mau ambil pusing, Arga pun kembali melanjutkan aktivitas olahraganya yang sempat tertunda tadi.


.


.


Dalam cinta. .


Tak selamanya rasa akan terbalaskan.


Terkadang ada yang beruntung mencintai dan dicintai orang yang sama. Ada pula yang hanya mencintai sebelah pihak.


Berjuang sendirian untuk cintanya.


Sudah pasti, rasanya lebih dari sekedar nyeri.


Sudah pasti, makan hati adalah makanan keseharian.


Oleh sebab itu.


Boleh-boleh saja kita mencintai siapapun.


Namun, ingat jangan sampai frekuensi cinta kita pada makhluk lebih besar daripada frekuensi cinta kita pada Pemilik Jagat Raya.


Bersambung..


Sevimli 8 Agustus 2021


Salam hangat dari Author 🌹


Janga yang lupa like and Votenya :)

__ADS_1


__ADS_2