Pelangi Hanani

Pelangi Hanani
Part 75 Pertanda dari Allah


__ADS_3

" Berada di jalan kebenaran jauh lebih baik meski harus terjungkal, terbanting dan nyawa hampir melayang.


Dari pada berada di jalan keburukan yang hanya menjanjikan kesenangan sementara."


......" Pelangi Hanani 🌹"......


Tak membutuhkan waktu yang panjang.


Akhirnya mereka mendarat di rumah Rayhan.


Ya, rumah yang berlantaikan dua bernuansakan rumah Marken khas Belanda. Ya, tiang-tiangnya terbuat dari kayu jati asli.


Yang didominasi dengan warna coklat muda.


Disisi kanan halaman diselimuti dengan batako berbentuk segi enam, sementara sisa halaman seperempatnya, dilengkapi dengan rerumputan hijau.


Dan ada banyak warna yang memukau dari berbagai kelopak bunga Hortensia.


Bunga yang indah, namun menyimpan racun yang berbahaya.


Dan juga disempurnakan dengan berbagai macam bunga dan tanaman lainnya.


Hana tersenyum lebar memandang rumah milik keluarga Rayhan.


Ya, di Jakarta Selatan.


Ternyata masih ada rumah yang mendedikasikan antara modern dengan klasik.


" Masya Allah, ini rumah kamu Ray ? Tanya Hana yang terpukau dengan rumah Rayhan.


Rayhan mengangguk." Iy....


" Gak, rumah bokapnya." Potong Arga yang berjalan melewati mereka berdua.


" Hm, iya rumah bokap gua."


Hana hanya tersenyum, sembari tetap menatap rumah Rayhan yang tampak memikat hati.


Sementara Ranti ikut menyusul Arga memasuki rumah Rayhan.


" Udah ah ngelihatnya.


Buruan masuk." Ujar Rayhan pada Hana.


" Ah iya Ray." Jawab Hana yang mengikuti langkah Rayhan.


Sesampai di dalam Rayhan pun menunjukkan kamar yang akan mereka bertiga tempati.


Ya, Hana dan Ranti di kamar yang sama yaitu kamar tamu.


Sementara Arga, berada di kamar tamu yang bersebelahan dengan kamar Rayhan.


Mereka bertiga pun, mengemas barang-barang mereka agar tertata rapi dan baik.


Meski, mereka hanya tinggal selama dua hari di sini, Rayhan telah melengkapi semuanya untuk menyambut mereka.


Seusai mengantarkan mereka bertiga ke kamar tamu. Rayhan pun beranjak ke dapur.


Untuk meminta bantuan Bik Misfa agar membuatkan mereka cemilan dan Minuman.


" Bik Fa, Ray minta tolong buatin minuman sama cemilan buat teman Ray ya." Ujarnya pada Bik Misfa.


" Ohiya den, siap den." Bik Misfa pun segera melakukan yang diminta Rayhan.


Rayhan pun mengajak mereka untuk bersantai di taman pekarangan belakang.


Ya, tempat yang tepat untuk berdutay..


Mereka berempat pun, duduk di bangku taman yang berdemensi lingkaran.


Bik Misfapun datang masih dengan celemek yang melekat pada tubuhnya.


Ia membawa beberapa cemilan ringan dan juga Jus Jeruk yang tampak segar menggoda.


" Silahkan den." Ucapnya pada mereka bertiga.


" Terima kasih Bik." Rayhan pun menghidangkannya.


" Hai Bik, saya Hana." Sapa Hana pada Bik Misfa.


" Wah non cakep bener non, panggil aja Bik Fa."


Bik Misfa tersenyum hangat pada Hana.


Rantipun ikut menyusul." Hallo Bi Fa, saya Ranti.Cewek paling ahli dalam berdebat." Dengan pedenya Ranti memperkenalkan diri.


Rayhan dan Arga saling tatap, menautkan sebelah bibirnya. Tidak setuju dengan perkataan Ranti.


" Berdebat ? Hah..."


" Berdebat ? Duel mulut iya.


Namanya mulut Lo kurang vaksin K." Cibir Rayhan pada Ranti.


" Vaksin K, apaan Ray ? Sahut Arga.


" Vaksin Kalem." Ledek Rayhan.


Semuanya tertawa dengan julukan yang Rayhan beri pada Ranti.


Ya, memang benar mulut Ranti butuh Vaksin Kalem, supaya mulutnya berhenti ngerecos bagai keran bocor 30 cm.


Ranti mengangkat sebelah mulutnya, merasa kesal karena jadi bahan tawa.


" Biarin, daripada sok Jaim." Katanya sembari menyambar jus jeruk buatan bik Misfa.


Hana menggeleng melihat Ranti yang memang tak bisa menjaga imagenya di depan orang baru.


" Hehe...


Maafin kita ya Bik Fa, yang bobroknya gak bisa ditoleransi." Ucap Hana yang merasa segan pada Bik Misfa.


" Ya Allah non, kagak ape-ape..


Mala justru bibi senang kalian gak sok-sok kalem tapi apa adanya."


Ya, benar saja lebih baik menunjukkan diri apa adanya kan ? Daripada berpura-pura sok cool hehe..


" Yaudah bik Fa, masih ada kerjaan di dapur.


Bik Fa tinggal dulu ya.." Bik Misfa pun permisi pergi ke dapur untuk melanjutkan pekerjaannya.


Mereka bertiga pun ikut menyusul Ranti, meneguk jus jeruk buatan Bik Misfa.


" Gila, jus buatan bik Misfa enak banget.


Seger gitu di tenggorokan." Jujur Ranti yang menghabiskan jus jeruk hanya sekali teguk.


" Elo muji ? Apa emang kehausan." Arga geleng-geleng kepala melihat tingkah Ranti.


" Hehe...


Dua-duanya.." Jawabnya cengengesan.


Detik selanjutnya mereka pun mencicipi cemilan buatan Bik Misfa yang tak kalah enak dari jus buatannya.


Kreekkk..Ranti memakan keripik kentang buk Misfa.


" Gila, gila...


Gua harus belajar banyak dari bik Misfa untuk urusan dapur, biar gua bisa ikut Master Chef woy.." Teriak Ranti dengan mulut yang masih mengunyah.


Hana menarik tangan Ranti." Ran, pelan-pelan..


Kamu ini lagi makan apa mau pidato sih, kalau lagi makan itu kalem dong. Kalau pun lagi berjamaah gini di selingi dengan perbincangan tapi ya, perbincangan yang berfaedah." Hana memperingatkan Ranti.


Ranti hanya tersenyum cengengesan, mendapat teguran dari Hana.


Ya, bukan Ranti namanya kalau mulutnya bisa diam...

__ADS_1


" Dengar itu !! Sambung Rayhan..


You are my Hero... Tiba-tiba ponsel Rayhan berbunyi.


" Siapa yang telpon ya." Rayhan segera mengambil ponselnya dari saku kemejanya.


Mama.. Ya, mamanya yang menghubunginya.


Rayhanpun mengangkat panggilan mamanya.


" Siapa Ray ? Tanya Arga.


" Nyokap gua."


" Assalamu'alaikum ma, ada apa ? Tanya Rayhan.


" Waalaikumussalam Ray, ini mama mau bilang tolong kamu ke ATM sebentar, mama kirimin uang buat gaji ART kita, soalnya kemarin mama lupa buat nitipinnya ke kamu, ini udah jatuh tempo buat gajian mereka." Pinta mamanya pada Rayhan.


" Ohiyaiya mi, entar Rayhan bakal ambil kok." Jawab Rayhan dengan lembut.


" Alhamdulillah, yaudah mama cuma mau bilang itu.


Makasih ya Ray, assalamu'alaikum." Ucap mamanya Ray menutup panggilannya.


" Iya ma, waalaikumussalam." Jawabnya.


Hana, Ranti yang sudah merasa khawatir takut mamanya marah karena mereka menumpang di rumah Rayhan pun, langsung memandang Rayhan.


" Kalian berdua, kenapa ngelihatin gua ? Tanya Rayhan.


" Mama elo marah kita nginap disini ? Tanya Ranti balik.


" Ha ?


Apaan sih, gak lah."


" Terus mama kamu ngomong apa tadi Ray ? Kali ini Hana yang bertanya.


" Ah itu Han, gua disuruh buat jemput uang di ATM buat gaji ART, udah jatuh tempo soalnya." Jawab Rayhan pada Hana.


Haaahhh... Hana dan Ranti bernafas lega.


Bersyukur ternyata mamanya Rayhan tidak marah.


" Alhamdulillah.." Ucap mereka serempak, seraya mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Rayhan dan Arga, mengerut bingung melihat tingkah kedua gadis persepupuan itu.


" Kalian kedua kenapa sih ? Aneh banget."


" Gak kenapa hehe.." Lagi-lagi kedua gadis ini serempak menjawab.


" Hm, yaudah deh.


Ga, kawani gua ke ATM yuk." Ajak Rayhan pada Arga.


Arga menggeleng cepat." Ogah ah, elo sendiri aja, gua capek." Tolak Arga mentah-mentah.


" Ah parah banget elo mah..


Han bujukin Arga, biar dia mau nemenin aku."


Pinta Rayhan pada Hana.


Hanapun bingung harus menuruti permintaan Rayhan atau tidak.


Ia menoleh kearah Arga seraya mengembangkan senyumnya.


" Hm Arga temenin Rayhan ya." Pinta Hana padanya.


Dengan pasrah akhirnya Arga menuruti Hana.


" Hm, kalau bukan Hana yang minta, malas banget gua." Celetuk Arga dan beranjak dari bangkunya.


" Jurus paling manjur.


Arga dan Rayhan pun bergegas ke halaman depan.


Arga tanpa sungkan langsung meraih gagang pintu mobil Rayhan.


" Woy kita naik motor aja..


Biar cepat, kalau naik mobil keburu lumutan gua nungguinnya..


Macet banget soalnya." Kata Rayhan pada Arga, sembari ke garasi mengeluarkan motor sportnya.


Arga pun berbalik mengikuti Rayhan.


Motor sport Rayhan, tak kalah keren dari motor sport Arga, ya warna putih mendominasi motornya.


" Hm, boleh juga motor Lo." Arga menatap motor sport Rayhan.


" Iya dong, emang sultan doang yang boleh punya motor sport.. Gua juga boleh kali, udah buruan naik." Ujarnya pada Arga.


Arga mendekat pada Rayhan." Gua aja yang bawa, elo gua boncengin." Tolaknya pada Rayhan.


" Gak, gua gak mau motor gua masuk siskamling entar." Rayhan juga menolak permintaan Arga.


" Siskamling pala Lo !!


Sepele banget Lo sama gua."


" Udah buruan naik."


Argapun akhirnya mengalah, dan naik di bangku boncengan.


Rayhan pun melajukan motornya dengan lihai serta dengan kecepatan sedang.


Arga yang berada di boncengan memilih memainkan ponselnya.


Tak lama kemudian, motor mereka telah mendarat di salah satu ATM BCA terdekat.


Rayhan pun menongkatkan motornya diparkiran.


Tepp...


" Udah sampai ? Tanya Arga melirik sekitarnya, mencari keberadaan gedung ATM.


" Entu." Jawab Rayhan jari telunjuknya menunjuk gedung ATM.


" Oh, yaudah gua nunggu di.." Arga menjeda perkataannya, mencari tempat yang tepat untuk menunggu Rayhan..


" Nah, di depan Indomaret itu ya." Lanjut Arga yang melihat Indomaret terdekat.


Rayhan pun mengangguk, seraya melangkah menunju gedung ATM.


Begitu juga Arga beranjak menuju Indomaret.


Argapun memasuki Indomaret tersebut, untuk membeli Good day kesukaannya.


Seusai membayar belanjaannya, Arga pun keluar dengan satu botol Good day dan Luwak White Coffe.


Arga memilih duduk di kursi pengunjung, yang telah disediakan pihak Indomaret di depan toko mereka.


Setelah beberapa menit kemudian Rayhan pun menghampiri Arga.


" Ga ayuk !! Ujarnya.


" Oh, udah selesai ? Arga langsung menyodorkan Luwak White Coffe ke Rayhan.


Rayhan pun menerima dengan senang hati.


" Thanks bro." Jawabnya meraih botol minuman itu.


Detik selanjutnya Rayhan fokus pada sosok pria yang berada di hadapannya.


Ya, sosok lelaki yang familiar.


Pikiran Rayhan terus berotasi, mengingat-ingat kembali siapa pria yang ada di hadapannya.

__ADS_1


Setelah pria itu sedikit menjauh, barulah Rayhan ingat, bahwa pria itu merupakan salah satu target dalam pencarian Arga.


" Ga, ga !!


" Hm..


" Ga..


Arga masih sibuk dengan ponselnya.


" Arga entu !! Entu pria idaman yang elo cariin !!


Ujar Rayhan pada Arga.


" Idih, gila Lo !!


Lo pikir gua homo apa." Ketus Arga yang masih sibuk dengan ponselnya.


" Bukan itu maksud gua...


Itu buronan mertua." Jawab Rayhan lagi masih menatap punggung pria itu.


" Elo kenapa sih Ray ?


Ngomong jelas dikit kenapa.." Arga benar-benar tidak paham apa yang Rayhan maksud.


" Itu Ga, bapak-bapak pembunuh." Rayhan menunjuk ke arah Pria itu.


Haahh.. Arga menghembuskan nafasnya.


" Omongan Lo gak ada bedanya tau gak sama pelajaran fisika !!


Sama-sama buat otak orang traveling..


Mumet orang buat ngertiin nya." Celetuk Arga yang akhirnya melihat apa yang Rayhan maksud.


Deg.. Jantung Arga berdetak tak stabil.


" Pembunuh bayaran.." Ya, pria itu yang sedari tadi Rayhan maksud.


Petak... Arga memukul kepala Rayhan.


" Elo kok gak ngomong dari tadi." Arga segera mengejar pria itu.


" Gila ya ni orang, main pukul pala orang aja." Keluh Rayhan.


Rayhan pun mengikuti langkah Arga.


" Ya salah elo jugalah ngapain gak mau ngerespon gua cepat." Teriaknya.


Pria yang mereka kejar, sudah mulai menyalakan mesin motornya. Dan melajukannya.


" Brengsek..." Upat Arga, kemudian Arga berlari ke arah Rayhan.


" Sini kunci Lo." Pinta pada Rayhan.


Rayhanpun mengeluarkan kuncinya dari sakunya jaketnya, tanpa aba-aba Arga langsung merempas kuncinya.


Astaghfirullah... Ucap Rayhan terkejut.


" Buruan Lo naik." Teriaknya pada Rayhan.


Dengan muka melas akhirnya Rayhanpun naik di bangku boncengan.


Brummm....


Dengan sigap Arga melajukan motor ya, pastinya dengan kecepatan tinggi.


" Astaghfirullah, Lo kalau mau mati jangan ngajak-ngajak, Ga." Ujar Rayhan.


" Lo gak usah berasa Marquez, Ga !!


Marquez yang master aja bisa jatuh, apalagi elo yang bukan apa-apa !! Teriaknya lagi pada Arga.


Tak merespon Rayhan, Arga justru semakin menambah kecepatannya.


" Arga ogeb !! Gua belum mau mati !! Gua juga belum raih cita-cita bahagiain orang tua..


Gua belum kawin woy !! Gua juga belum buat Rayhan junior.. Lo kalau mau mati jangan ngajak-ngajak gua syeitan !! Upat Rayhan yang sudah khawatir di boncengan.


Arga tak mendengar sama sekali upatan Rayhan, ia terus menerobos dengan cepat.


Ya, fokus mengejar pembunuh bayaran itu.


" Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku ya Allah..


Ya Allah, jin apa yang sedang merasuki teman hamba ini ya Allah..


Kalau kamu jin yang baik tolonglah keluar segera.. Kasihan tubuhmu.


Terlalu mulia untuk memasuki tubuh sehina temanku ini Jin." Ungkap Rayhan tanpa beban.


" B*ngke !! Lo kira gua senajis itu." Maki Arga yang tak terima dengan ucapan Rayhan.


" Tu kan bener, keluar ya kamu Jin..


Atau biar aku bacain ayat kursi.."


Perasaan Arga yang sudah bercampur aduk, sebagai teman bukannya Rayhan menenangkannya justru dia semakin membuat Arga kesal.


" Awas aja Lo ya Ray !! Setelah urusan ini kelar gua bunuh Lo." Kata Arga tanpa mengurangi sedikitpun kecepatan motornya.


" Allahumma Laka sumtu wabika amantu..."


" Lo mau buka puasa apa mau ngeruqyah orang sih ? Tanya Arga padanya.


Huhhh.. Rayhan bernafas lega.


" Alhamdulillah teman gua udah sadar, terima kasih Jin telah keluar dari tubuh sombong ini." Katanya dengan lega.


Seakan-akan Arga memang sedang kerasukan pikirnya.


" B*ngke, gak ngotak Lo !!


Gua gak kerasukan Dajjal !! Upat Arga pada Rayhan.


Tak ingin lagi berdebat dengan Rayhan ogeb, Argapun kembali melajukan motornya, mengejar motor Pria yang menjadi target dalam pencariannya.


" Aku percaya Allah selalu memudahkan langkahku untuk menuntaskan permasalahan ini, ya ini salah satu pertanda nya.


Sejauh apapun aku berkelana yang kutemui tetap mereka para kurdil-kurdil brengsek ini." Batin Arga tengah merasakan pertanda.


Ya, ini untuk keempat kalinya.


Arga kembali bertemu dengan sosok pemitnah bayaran itu.


Ia berharap segera bisa menuntaskan semuanya tanpa sisa.


Benar bukan ?


Jikalau kita berada di jalan kebenaran.


Biar pun terjungkal, terseruduk bahkan terbanting bahkan nyawa hampir melayang.


Jauh lebih baik dari pada berada di jalan kelicikan, kecurangan, yang selalu memperurtakan hawa nafsu.


Hanya ada beberapa anak Raja yang memiliki sikap sebijaksana Arga ini.


Kebanyakan dari mereka terkadang bisanya hanya memamerkan tahta, kuasa dan jabatan yang di genggam orang tuanya.


Benarlah Arga adalah definisi penegak kebenaran yang pasti.


Bersambung...


Sevimli 17 Februari 2021


Salam hangat dari Author 🌹


Jangan lupa like and Votenya :)

__ADS_1


__ADS_2