Pelangi Hanani

Pelangi Hanani
Part 53 Kemarahan William ( Ayah Anugrah )


__ADS_3

" Yakinlah semua telah digariskan dalam takdir yang takkan pernah tertukar.


Dan yang perlu di ingat juga bahwa masalah telah rapi tertakar. Oleh sebab itu jangan terputus dari rahmat Allah."


...... " Pelangi Hanani 🌹"......


Sepuluh jam perjalanan telah berlalu, tersisa setengah jam lagi Anugrah akan sampai di Tanah kelahirannya.


Laut Sibolga yang begitu luas ini, menghubungkan Kota Sibolga dengan Kota Nias.


Udara segar penuh kesejukan pagi ini, menjadi awal yang baik untuk Anugrah.


Pemuda bermata sipit itu tengah memandang laut, dari sudut jendela kapal yang dibiarkan terbuka, agar udara pagi dapat menyambut hangat para penumpang.


Anugrah tersenyum simpul melirik jam tangan, yang melingkar di pergelangan tangannya.


Sekitar lima menit lagi kapal yang ia tumpangi akan mendarat di Pelabuhan Gunung Sitoli.


Anugrah melipat kedua tangannya, meletakkan di dadanya. Membiarkan angin menyelimuti tubuhnya.


Gemuruh air laut, serta kicauan burung-burung yang berterbangan ikut menambah nuansa keindahan alam Gunung Sitoli.


Tepat pukul 07.30 Wib, Kapal telah berlabuh di Pelabuhan Gunung Sitoli, Nias.


" Akhirnya sampai juga." Ucap Anugrah lega.


Ia sudah tidak sabar merebahkan tubuhnya yang lelah di kasur empuknya.


Ya, tentu saja Anugrah bukanlah tipe orang yang nyaman tertidur ketika berada di perjalanan.


Ia lebih memilih membuka matanya, memandangi setiap perjalanan yang ia lewati.


Sebab menurutnya perjalanan sekecil apapun itu, harus tersimpan rapi dalam ingatannya.


You are my baby... Dering handphone Anugrah.


" Haahh." Anugrah menghela nafas." Pasti Ayah yang nelpon." Ia tau betul siapa yang sedang menghubunginya.


Anugrah merogoh sakunya, meraih Handphonenya.


" Ayah William." Benar saja terterah di layar handphonenya.


" Hallo Ayah." Sapa Anugrah mengangkat panggilan Ayahnya.


" Sudah sampai ? Tanya Ayahnya.


" Iya, baru juga sampai Yah." Jawab Anugrah terus berjalan beralih menuju kapal barang, untuk mengambil motornya.


" Bagus, Jeef dan John sudah menunggu mu di Pelabuhan pulang bersama mereka." Ujarnya pada Anugrah.


Anugrah memutar matanya malas." Ya ampun ayah !! Aku ini bukan putra kecilmu lagi, Anugrah udah dewasa ayah. Anugrah bisa pulang sendiri tanpa bantuan mereka." Protesnya pada William.


" Sudah jangan banyak bicara, lakukan saja apa yang ayah katakan." Tekan William.


Anugrah merasa kesal dengan semua tekanan yang diberi ayahnya." Hm, terserahlah Yah, Anugrah capek."


Anugrah memutuskan panggilan Ayahnya.


" Entahlah Tuhan, entah kapan aku terlepas dari kekangan ini." Anugrah menghela nafasnya gusar.


Benar saja, William selalu saja memaksakan kehendaknya pada anak-anaknya.


Mulai dari masalah pendidikan, sampai masalah bersosialisasi.


Hal itulah yang membuat Anugrah terkadang malas untuk berada di rumahnya.


Ia lebih memilih berada di luar, sebab ia sedikit bebas untuk menghirup kelegaan tanpa keterpaksaan.


" Pak, motor saya." Ucap Anugrah pada security.


" Oh sebentar nak." Ucapnya mengambil motor Anugrah.


Beberapa detik kemudian." Ini nak." Berikannya pada Anugrah.


" Terima kasih Pak." Kata Anugrah dengan sopan.


Anugrah meraih motornya, kemudian mendorongnya keluar dari Pelabuhan.


Ya, tentu saja di depan sana para anak buah ayahnya, sudah siap siaga menjemputnya.


" Silahkan masuk nak." Ujar Jeef membukakan pintu mobil.


Anugrah menggeleng sembari menaiki motornya." Tidak usah pak, sayakan bawak motor, jadi saya naik ini aja." Tolak Anugrah.


" Tapi nak, nan...


" Sudah Pak, saya jalan duluan." Potong Anugrah melajukan motornya.


Kalau sudah seperti itu, merekapun tak bisa berkata dan berbuat apa-apa lagi.


" Nak Anugrah ini, mau membuat Tuan William marah saja." Ucap Jeef.


" Sudahlah Jeef biarin saja, kasihan juga nak Anugrah terus-menerus di kekang." John tau betul bahwa Anugrah sebenarnya muak terus saja di kekang seperti ini.


Merekapun memasuki mobil, dan melajukannya mengikuti motor Anugrah.


Setelah beberapa menit, Anugrah akhirnya mendarat juga di Rumahnya.


Ya, rumah Aesthetic bernuansa modern, berlantaikan dua, dengan ukiran Jepara di setiap relief tiang rumahnya.


Berbentuk geometris atau lebih tepatnya kubus. Dan atapnya berbentuk datar di temani dengan jendela berbentuk persegi dengan bingkai sederhana. Yang cukup nyaman melindungi kaca jendela.


Dengan teras yang minimalist serta dilengkapi bangku jepara mini ditata dengan rapi. Dengan Garasi motor dan mobil di sebelah kanan.


Bukan hanya itu, Rumah Anugrah juga di lengkapi taman minimalist, dengan bagian tanah yang di lapisi rumput serta sedikit bebatuan kecil yang di tata rapi.


Ada beberapa pohon serta sayuran hidroponik yang juga tertata rapi di tamannya. Dan juga di lengkapi tanaman bunga yang beragam, tersusun rapi. Menambah nuansa keindahan rumahnya.


Desain arsitektur rumah Anugrah, merupakan desain arsitektur serta desain Interior Ayahnya sendiri yang merupakan seorang Arsitek.


Ya, tentu saja.


Ayahnya mengaplikasikan ilmunya untuk menciptakan keindahan di kehidupan rumah tangganya.


Anugrah menongkatkan motornya di Garasi.


Melangkah menyentuh kenop pintu.

__ADS_1


" Aku sampai." Ucapnya membuka pintu tanpa memberi salam.


Ya, jujur saja Anugrah sangat malas untuk mengucapkan salam.


Di dalam rumah sudah ada William yang terduduk di Sofa, menatap tajam Anugrah dengan beberapa buku Islam di tangannya.


Bukhh.. William melemparkan buku itu ke Anugrah.


Anugrah terkejut melihat ayahnya, bukannya menyambutnya dengan baik, mala justru bersikap kasar padanya.


Anugrah mengutip buku-buku yang berserakan di lantai.


Ia membeliakkan matanya, tak kalah terkejut ketika melihat buku yang di lempar ayahnya, adalah buku-buku Islami kepunyaannya.


" Astaga bagaimana bisa ayah mendapat buku-buku ini. Mati aku !!


Apa karena ini aku di suruh pulang." Batin Anugrah.


Seusai Anugrah mengutip buku-buku itu, ia berdiri meraih tangan ayahnya untuk menyalimnya.


Plakk..


Belum sempat Anugrah menyalam tangan ayahnya, satu tamparan keras mendarat di wajah tampannya.


"Anak kurang ajar!" upat William.


"Ayah." ucap Anugrah, menyentuh pipinya yang terasa panas.


Dengan emosi yang memuncak, William mencengkram erat tangan Anugrah.


"Punya pangkat apa kau sampai berani mendudukkan buku-buku Islam ini di rumah ha? Siapa yang mengajarimu sampai berani selancang ini?"


Anugrah mencoba menjelaskan pada ayahnya." Ayah, dengarkan aku sebentar saja!"


William masih saja mencengkram tangan Anugrah.


" Apa kau tau ?


Ayahku mati karena aku melakukan hal yang sama dengan yang kau lakukan sekarang ini.


Dan aku sangat menyesali itu Anugrah.


Apa kau ingin aku juga mati karena hal yang sama ha?"


William mengingat betul apa terjadi dengan ayahnya saat ia mulai dekat dengan hal-hal berbaur Islam.


"Jangan jadi anak durhaka Anugrah !!


Protestan adalah identitas Keluarga kita. Agama ini melekat selalu secara turun temurun di keluarga kita. Cukup Protestan Anugrah!" ucap William dengan intonasi penekanan.


"Agama itu bukan warisan ayah !! Agama adalah kepercayaan batin mengenai keberadaan Tuhan. Dan batin takkan pernah bisa dimanipulasi. Setiap manusia berhak menentukan keyakinannya masing-masing ayah." Anugrah tak mau kalah.


"Kalau agama adalah warisan lantas bagaimana dengan Nabi Ibrahim yang berkeyakinan tauhid sementara ayahnya menyembah berhala?"


William terdiam mendengar perkataan Anugrah.


"Izinkan aku mencari kedamaian melalui Islam, ayah! Sejenak saja kumohon!" pinta Anugrah dengan lirih.


Sejenak hati William luluh, namun rasa penyesalannya pada ayahnya lebih mendominasi hatinya.


"Baiklah dengan jawabanmu itu telah memutuskan. Bahwa aku akan mengirimmu ke Canada !! Disana kau akan mendapat bimbingan rohani. Agar protestan kembali melekat pada hatimu. Dan Islam takkan pernah lagi mencuci otakmu.


Anugrah menggeleng.


William semakin memanas." Karena kau bukan anak kecil lagi seharusnya tidak mempermainkan agama."


" Aku tidak mempermainkannya ayah !! Islam tidak mencuci otakku.


Aku hanya ingin mencari kebenaran yang haqiqi. Hatiku juga ingin menelusuri kedamaian ayah.Dan hal itu aku dapat dalam Islam ayah." Anugrah mulai melerai cengkraman ayahnya.


" Diam kau !! Lima hari lagi aku akan mengirimmu ke Canada !! Kau akan mendapat kedamaian yang sebenarnya disana." William tidak main-main dengan keputusannya.


" Kedamaian kata ayah ?


Ha-ha-ha...Anugrah tertawa nyaring.


" Tidak ada kedamaian dalam keterpaksaan ayah ! Tegas Anugrah melepaskan cengkraman William, kemudian berlalu meninggalkan William.


" Anak kurang ajar !! Mau kemana kau.


Besok kau akan di baktis kembali, ingat itu." Teriak William.


Anugrah tak menggubris perkataan William lagi.


Ia meraih motornya, melajukannya dengan kecepatan tinggi, meninggalkan rumah yang baru saja ia hampiri.


" Loh kok Nak Anugrah pergi lagi ? Jeef terheran melihat kepergian Anugrah.


" Iya ya Jeef baru juga sampai." Ucap John.


Karena penasaran merekapun memasuki rumah majikannya.


Untuk mencari tau kejadian sebenarnya.


Anugrah menggasfull motornya.


" Argggghhhhh." Teriaknya Frustasi.


" Tuhan kenapa takdirku serumit ini ha ?


Kenapa aku tidak terlahir sebagai muslim Tuhan ? Upatnya tak terima dengan takdirnya.


" Apa kau marah Tuhan ? Karena aku telah jatuh cinta pada Islam ? Suara Anugrah menyatukan dengan suara motornya.


Bahkan terdengar jelas oleh pengendara lain yang berada di sebelahnya.


" Dek jangan ribut kenapa ? Sakit tau telinga dengarnya." Protes bapak-bapak di sebelahnya.


Anugrah tak menggubrisnya, ia semakin menancapkan gasnya.


Hanya ada satu tempat yang ingin ia tujuh.


Ya, Masjid yang berada di dekat Laut gunung si Toli.


Sesampai Anugrah di tempat tujuannya, ia memposisikan dirinya duduk di teras masjid, memandang laut yang bergelayut dengan ombaknya.


Anugrah mengacak rambutnya.

__ADS_1


" Arghhh." Teriaknya.


" Bagaimana bisa ayah bisa mendapatkan buku itu, padahal aku sudah menyimpannya di dalam laci lemari ku." Anugrah masih bingung bagaimana cara ayahnya menemukan bukunya.


" Tuhannn kenapa engkau titipkan semesta yang seperti ini kepada ku ?


" Kenapa Engkau mempersempit jalanku menuju hidayah Allah." Teriak Anugrah dengan keras.


Anugrah menatap miris ke arah laut,


ah lebih tepatnya menatap miris kehidupan


yang ia jalani.


Anugrah menenggelamkan wajahnya di kedua sisi lututnya.


Sejenak membiarkan dirinya dengan posisi seperti itu, berharap mendapat sedikit ketenangan.


" Nak, mau sholat ? Tanya Nazir masjid menepuk bahu Anugrah.


Anugrah mengangkat kepalanya.


" Eh gak pak, saya hanya numpang istirahat disini." Jawab Anugrah.


Nazir masjid itupun tersenyum, ia menatap lekat wajah Anugrah yang tampaknya sedang di rundung masalah.


" Nak kalau kita punya masalah, maka datanglah kepada Allah. Curahkan semuanya di sujudmu, insyaAllah dengan melaksanakan sholat hatimu akan sedikit tenang." Nazir masjid itu ikut duduk di sebelah Anugrah.


Anugrah tersenyum simpul, lagi-lagi dirinya dianggap muslim oleh seseorang.


" Kalau saya bisa sudah saya lakukan Pak." Jawab Anugrah.


Nazir masjid kembali tersenyum." Pasti bisa nak, kenapa tidak bisa ? Bersegeralah berwudhu." Ujarnya.


Anugrah menggeleng." Saya Protestan Pak." Ucapnya dengan mata menahan cairan bening.


Nazir masjid sedikit terkejut mendengar perkataan Anugrah. Ia tak menyangka bahwa pemuda di sebelahnya merupakan pemuda Protestan.


" Maaf nak, bapak tidak tau kalau kamu Protestan." Ucapnya sembari menangkupkan kedua tangannya.


" Tidak apa-apa Pak, hal itu sudah biasa saya dapatkan." Ya, memang benar.


Banyak yang bertemu Anugrah di pertemuan pertama mengira bahwa dirinya muslim.


Termasuk salah satunya Hana.


Ya, dilihat dari fisik Anugrah yang bermimikkan wajah blasteran China-Nias.


Serta cara berpakaian yang rapi dan bersih, ia lebih condong terlihat seperti pemuda Islam.


" Hm, kalau kamu punya masalah maka berserahlah kepada Tuhan. Ceritakan semuanya kepadaNya."


" Ia yang membuat kehidupan kita.


Bila kamu merasa takdirmu begitu berat untuk di jalani. Maka yakinlah bahwa Tuhan mempercayai kamu cukup hebat untuk melewatinya." Tuturnya dengan baik pada Anugrah.


Anugrah terperangah mendengar perkataan Nazir masjid itu. Hatinya sedikit terketuk mendengarnya.


" Yakinlah semua telah di gariskan dalam takdir yang takkan pernah tertukar.


Dan yang perlu di ingat juga bahwa masalah juga sudah rapi tertakar. Oleh sebab itu jangan terputus dari rahmat Tuhan nak." Ucap menepuk bahu Anugrah dan beranjak pergi, melanjutkan aktivitasnya membersihkan halaman Masjid.


Hati Anugrah sedikit tenang, dan ada kedamaian yang ia dapatkan saat mendengar perkataan yang begitu mengetuk hati dari Nazir masjid itu.


" Terima kasih Pak atas nasehatnya, doakan saya Pak, di permudah Allah melangkah menggapai hidayah-Nya." Teriak Anugrah.


Nazir masjid itu tersenyum haru mendengar perkataan Anugrah." Allahumma aamiin, senantiasa Allah Jabah nak."


Seusai Anugrah mendengar perkataan dari Nazir masjid, ia beranjak pergi melajukan kembali motornya menuju ke sebuah tempat.


Ya, tempat yang ia tujuh adalah rumah mamanya. Ayah dan mamanya tidak bercerai secara resmi akan tetapi, mereka memutuskan untuk berpisah rumah.


Motornya berhenti di sebuah rumah berwarna hijau toska.


Yang di kelilingi penuh dengan taman bunga.


Anugrah meraih kenop pintu dan membukanya." Mama, Anugrah datang." Ucapnya.


Wanita dengan balutan jilbab motif bunga-bunga itupun menghampiri sang putra yang ia rindukan.


" Putraku." Ia memeluk erat putranya meleapakan segala kerinduan yang menyesakkan dada.


Anugrah membalas pelukan Mamanya.


" Anugrah kangen mama." Ucapnya dengan lirih.


" Mama juga kangen kamu nak."Mamanya menangkup wajah anaknya.


" Ma, Anugrah capek ma." Katanya dengan lemah.


Mamanya berpikir bahwa putranya pasti lelah karena perjalanan yang cukup jauh.


" Astaghfirullah, mama lupa perjalanan kamu pasti cukup melelahkan untuk putra mama yang satu ini." Ujarnya menuntun Anugrah duduk di sofa.


Anugrah menggeleng tidak membenarkan perkataan mamanya." Capek yang Anugrah maksud bukan itu mah." Lirihnya.


Suara Anugrah yang terdengar lirih itu membuat Kanaya sang mama tercintanya khawatir." Apa yang terjadi padamu nak ? Apa kamu sedang bermasalah di sekolah ?


Anugrah menggeleng." Tidak mah, anakmu ini adalah murid berprestasi yang baik hati, jadi tidak mungkin membuat onar di sekolah." Ucapnya dengan deretan giginya.


Kanaya tertawa melihat tingkah pede putranya." Putra mamah ini memang pedenya luar biasa." Mencubit pipi Anugrah.


" Ceritakan semuanya pada mamah, kamu punya sandaran untuk bersandar nak.


Pundak mamah selalu ada untukmu, telinga mamah selalu sedia mendengar keluh kesahmu, tangan mamah always sedia memberi kehangatan untukmu nak." Ucap Kanaya dengan senyuman tulusnya.


Anugrah terhenyak dengan perkataan Kanaya, ia kembali merebahkan tubuhnya pada pelukan Kanaya.


Ia memeluk dengan erat mama tercintanya.


Merasakan kehangatan dan kedamaian yang di berikan mamanya.


Kanaya membiarkan putranya dengan posisi ini, ia tau betul bahwa Putranya tengah di permainan oleh semesta.


Bersambung....


Sevimli 8 Desember 2020

__ADS_1


Salam hangat dari Author 🌹


__ADS_2